Eksistensi Public Relations

Public Relations di Mullenium III

Millenium III dan teknologi sangat berpengaruh terhadap public relations. Profesional PR dapat menjadi ahli di bidang teknologi komunikasi baru dan memimpin pemikiran tersebut. Atau sebaliknya, kehilangan peluang ini dan diambil oleh yang lainnya.

Makin mengglobalkan suatu merk dagang  akan membuat merk dagang tersebut dalam posisi terancam. Ini akan disebabkan oleh gerakan konsumen yang akan memanfatakan teknologi internet mengubah peranan media tradisional.

Transformasi Media

Ditandai dengan pemanfaatan internet Home Page, pencetakan interaktif dan komunikasi tanpa label berupa pemanfaatan teknologi digital merupakan keharusan untuk diikuti.

Sebagai suatu profesi, public relations sifatnya akuisitif  yang berusaha memperoleh sesuatu, oleh karena public relations dapat diaplikasikan untuk berbagai macam organisasi, maka para praktisi public relations harus belajar dari semua pihak.

Perubahan Peran Public Relations

Untuk mengebangkan public relations sangat bergantung kepada para profesionalnya sendiri. Dengan tumbuhnya ekonomi global, terbentang suatu hamparan luas untuk memajukan profesi public relations. Jika tidak sanggup memanfaatkannya maka akan dimbil alih oleh profesional lainnya.

Salah satu cara untuk mengambil peluang ini adalah dengan cara meningkatkan keterampilan masing-masing. Teknik-teknik baru dalam public realations harus mampu dipelajari dan coba dipraktekan dengan beberapa adaptasi.

Pendidikan Public Relations

Pelaksanaan strategi komunikasi, memerlukan dukungan dari departemen public relations suatu perusahaan, yaitu sumber manusianya harus disiapkan. Untuk itu program pendidikan merupakan syarat mutlak sebelum program komunikasi lainnya.

Obyektif dari pendidikan public relations adalah:

–          Pemahaman prinsip-prinsip PR

–          Peningkatan keterampilan dalam penanganan aktfitas PR

–          Pengembangan dalam manajemen PR

PR di akhir tahun 1996

Menutup tahun 1996 akan lebih baik jika dengan instrospeksi ke dalam. Maksudnya, setiap praktisi PR mengevaluasi sejauh mana program-program PR yang telah dilaksanakan mencapai sasaran. Jika terjadi deviasi, hendaknya bisa dipakai untuk perbaikan tahun mendatang.

Suatu evaluasi kegiatan akan lebih mantap jika dilakukan melalui penelitian, baik melalui diskusi group fokus maupun penelitian lapangan.

Diskusi group fokus dipimpin oleh seorang moderator membahas citra perusahaan seperti dilihat oleh konsumen, kelompok atau masyarakat.

Sementara penelitian di lapangan dapat melalui wawancara langsung atau dengan kuesioner.

Hasil riset akan berguna untuk rancangan tahun mendatang, bahkan akan membuktikan sejauh mana perubahan persepsi masyarakat terhadap perusahaan.

PR Partai Politik dan Pemilu

Secara sepintas semua partai melakukan kegiatan promosi partainya masing-masing, namun tidak semua melakukan apa yang disebut pendekatan public relation. Bahkan yang menggunakan kegiatan public relations pun, terlihat adanya perbedaan yang cukup bervariasi dalam kualitasnya.

Suatu hal yang bisa dipastikan adalah tidak mudah untuk menentukan stakeholders suatu partai. Masalah ini bertambah repot dengan adanya masa yang mengambang dan kelompok remaja yang baru saja memilih.

Masalah lain yang harus dijaga dari segi public relations adalah keharusan untuk menjaga kode etik. Jangan lupa bahwa berkampanye pada dasarnya adalah berkomunikasi. Sedangkan komunikasi itu sendiri merupakan prinsip dasar dari public relations mengenal kode etik.

Dalam kaitan ini, kejujuran, tranparansi dan mengemukakan apa adanya harus dijadikan basis dalam kampanye pemilu. Sayangnya dalam berpolitik selalu menghalalkan berbagai cara. Hal ini merupakan suatau tantangan para praktisi public relations untuk memperjuangkan agar etika selalu dijaga dan dihormati.