Ketika sedang berjalan-jalan di mal saya mencoba mampir di kedai kopi yang sangat terkenal, meskipun saya tahu harga kopi yang di tawarkan disitu jauh melebihi harga kopi biasa, kemudian saya memesan kopi dan sedikit makanan. saya perhatikan orang-orang di sekitar saya sangat asyik menikmati obrolan mereka dengan berbagai gaya dan ekspresinya, ada beberapa yang menyendiri ditemani laptop terlihat cukup serius menatap laptopnya. Sepertinya semua orang asyik dengan dunia-nya masing-masing. Setelah selesai minum kopi saya keluar dengan gaya. Pikir saya asyik juga nih ngobrol disini, nyaman, gaya dan cukup meningkatkan gengsi, meskipun harus merogoh kocek lebih dalam.
.
Starbucks, itulah nama kedai kopi tersebut. Dan saya yakin setiap orang yang masuk dan keluar dari Starbucks punya pengalaman tersendiri dalam merasakan suasananya. Point tersebut-lah yang di jual oleh Howard Schultz, pemilik Starbucks. Customer Experience.
.
Dalam 15 tahun Starbucks sukses membiakan jumlah gerainya hingga 100 kali lipat lebih !, Starbucks adalah hasil imajinasi Howard Schultz tentang Customer Experience. Ide bisnis kopinya terbersit pada tahun 1983 ketika ia sedang bersantai di kota Milan, Italia. Dia lalu membayangkan sebuah kedai dimana kopi yang nikmat hanyalah sebagian dari seluruh experience yang diberikan.
.
Dalam imajinasi Schultz, pelanggan harus mendapatkan pengalaman sangat bagus sejak melangkah masuk kedalam kedai. Mulanya Schultz mendirikan kedai bernama Il Giornale untuk mewujudkan ide Customers Experince tadi. Bisnis tersebut sukses, setahun kemudian ia membeli Starbucks dengan harga 3,8 juta dollar dan menjabat sebagai CEO.
.
Lagi-lagi kekuatan mewujudkan ide-lah yang membuat bisnis seseorang berbeda dengan bisnis yang lainnya. Kalau hanya sekedar kopi siapapun bisa menjualnya, namun tidak demikian dengan pengalaman yang didapatkan ketika duduk di kedai kopi tersebut dan merasakan suasananya. Itulah Jiwa dari sebuah bisnis yang tidak bisa dimiliki oleh kedai kopi manapun.
.
Dalam buku Blue Ocean Strategi karya Prof. W. Chan Kim, sebuah bisnis yang sukses harus memiliki 3 kriteria : Fokus, Divergensi (membuat perbedaan) dan Motto. Starbucks fokus pada bisnis kopinya dengan membuat perbedaan dari bisnis kopi yang lainnya, bukan hanya menjual kopi tapi menjual pengalaman dan suasana ketika sedang menikmati kopi, konsumen harus mendapatkan pengalaman yang unik begitu melangkahkan kakinya ke dalam kedai, berada didalamnya, dan keluar meniggalkan kedai, semuanya harus berkesan.
.
Ditengah persaingan bisnis saat ini yang “Super Kompetitif” menurut saya menjalankan bisnis haruslah kreatif untuk dapat survive dan berkembang. Setiap orang bisa membuat dan meniru kopi yang disajikan Starbucks, tapi hanya Starbucks-lah yang tahu bagaimana membuat sistem yang canggih untuk memasarkan kopi hingga di tingkat dunia.
.
Nama Starbucks sendiri pada awalnya lebih merupakan toko kopi ketimbang sebuah kedai yang didirikan oleh tiga sekawan-Sigel, Bowker dan Baldwin-di Pike Place Market, Seattle, Amerika Serikat pada tahun 1971. Toko kopi ini menjual biji kopi, baik yang utuh maupun yang telah digiling halus. Sepuluh tahun kemudian, Howard Schultz-waktu itu ia seorang marketing pada perusahaan Per-stop (produsen peralatan dapur) datang ke Seattle untuk mengunjungi Starbucks yang banyak membeli alat pembuat kopi. Dia sangat terkesan pada toko tesebut, setelah berhasil membujuk pemiliknya untuk diangkat jadi marketing-sampai akhirnya Schultz diangkat jadi direktur marketing dan operasional tahun 1982.
.
Kemudian Starbucks di akuisisi oleh Schultz, usai akuisisi pria kelahiran tahun 1952 ini segera mengubah model bisnis Starbucks dari penggilingan kopi menjadi espresso bergaya Italia, yang kemudian terkenal sebagai penyedia kopi terbaik di seluruh dunia. Kecepatan perkembangan kedai kopi, dari minuman instan yang murah menjadi sebuah budaya kedai kopi premium nan mewah sungguh sebuah fenomenal.
.
Salah satu letak kehebatan seorang pemasar adalah dia “mampu melihat sebelum orang lain melihat”. Jika hanya menjual kopi Starbucks tidak akan memiliki gerai yang tersebar di seluruh dunia.
.
Tahun 1992 Starbucks sudah Go Public dan menjual 2,1 juta saham seharga 17 dollar per lembar. Saat itu Starbucks memiliki 125 gerai dan 2.000 karyawan. Tahun 2002 jumlah gerainya mencapai 5.700 buah dan tersebar di 28 negara. Starbucks mempekerjakan 60.000 pegawai, menghasilkan penjualan sebesar 2,6 milyar dollar, dan tumbuh 20% per tahun.
.
Menurut Schultz, tidak ada rahasia terselubung di balik Starbucks. Produk Starbucks tidak dipatenkan sehingga bisa ditiru orang. “Tapi Anda tidak dapat meniru ‘jiwa’ dari sebuah bisnis”. Schultz mengundurkan diri sebagai CEO pada tahun 2000. Shultz lalu menjadi Chairman dan Chief of Global Strategi supaya lebih fokus dalam mengembangkan Starbucks.
.
Dengan memiliki lebih dari 5.700 gerai yang tersebar di 28 negara, bisnis tersebut pastilah bisnis yang sangat sukses. Tapi untuk Howard Schultz peluang dan ide-ide baru tak akan pernah habis, bahkan untuk sebuah bisnis yang sudah mendunia. Inovasi apa lagi yang akan dihasilkan Starbucks ?.
.
Hasilnya, dalam kurun waktu 15 tahun (sejak go public) , Starbucks berhasil mengembangkan jumlah gerainya hingga 100 kali lipat lebih!. Tahun 2007 Starbucks memiliki lebih dari 13.000 kedai yang beroperasi di 39 negara dan mempekerjakan 139.000 karyawan.

Setiap orang memiliki potensi yang sangat luar biasa, apapun latar belakangnya. Terdapat banyak gagasan baru yang tak terbatas jumlahnya. Miliaran orang yang menawarkan jasa atau produk tapi hanya beberapa orang saja yang tahu cara membangun sistem usaha yang hebat.

Dan Howard Schultz adalah contoh dari sekian banyak orang yang tahu bagaimana membangun sistem usaha yang hebat.

Apapun yang Anda lakukan Anda harus tahu caranya, Jika tidak tahu caranya bisa dipastikan Anda tidak akan berhasil.

Pelajarilah caranya, kemudian bertindaklah untuk mewujudkan ide Anda, dan Never Give Up!,

Sukses juga untuk Anda !!…

Sumber :http://e-infonet.blogspot.com

Iklan