KOMPETISI selalu diartikan berbeda oleh tiap orang. Beberapa enggan melakukannya. Sebagian lagi melakukannya dengan cara yang tidak sehat. Namun, tak sedikit melakukannya dengan cara baik.

Dalam dunia kerja dan bisnis, kompetisi diciptakan oleh orang-orang yang mempunyai kekuasaan. Kompetisi antarkaryawan diciptakan oleh atasan atau budaya perusahaan. Lain halnya dengan kompetisi antarperusahaan yang diciptakan pasar atau konsumen.

Dalam sebuah perusahaan yang mengutamakan kompetisi, budaya bersaing sering kali diciptakan untuk mendapatkan hasil kerja yang terbaik dari masing-masing karyawan. Selama kompetisi berjalan dengan baik, hal tersebut memang mampu meningkatkan kinerja karyawan.

Namun, bagi sebagian karyawan,budaya kompetisi ini bisa memengaruhi mereka untuk bersaing dengan cara yang tidak sehat. Semangat untuk berkompetisi perusahaan sudah pasti menginginkan karyawannya bekerja seoptimal mungkin. Jika karyawan berada dalam kondisi yang nyaman, mereka umumnya khawatir kalau karyawan hanya memberikan yang baik, bukan yang terbaik yang bisa mereka berikan.

Karena itulah, banyak perusahaan memakai berbagai strategi agar karyawan mau mengeluarkan segala daya pikir, kreativitas, dan kerja keras mereka bagi perusahaan. Cara yang umumnya ditempuh adalah dengan memberikan bonus berupa materi atau penghargaan tertentu bagi karyawan teladan yang sudah berkontribusi banyak bagi perusahaan. Dengan strategi seperti ini, diharapkan semua karyawan akan berlomba-lomba untuk berkompetisi menjadi yang terbaik.

Menurut Laurent Duperval dari Duperval Consulting, cara seperti ini akan memberi dampak positif bagi kedua belah pihak.

“Kompetisi di tempat kerja adalah hal yang positif. Kompetisi yang sehat seperti ini akan memacu tiap karyawan untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan,” sebut Duperval, seperti dikutip careerbuilder.com.

Yang menjadi masalah, jika kompetisi ini membuat karyawan menjadi lupa diri. Mereka hanya ingin memenangkan persaingan dengan segala cara, hingga melupakan usaha untuk meningkatkan kemampuan diri.

“Saat karyawan hanya ingin memenangkan persaingan tanpa memberikan hasil positif bagi kemajuan perusahaan, maka kompetisi tersebut sudah tidak sehat,” ujarnya.

Kondisi lainnya yang bisa memicu kompetisi sehat ialah karyawan yang selalu diberi kesempatan mencicipi pengalaman baru. Duperval juga yakin bahwa sistem yang menerapkan pemberian hukuman daripada memberikan penghargaan tidak akan efektif untuk meningkatkan motivasi dan semangat kerja karyawan.

“Jika Anda menjual produk yang hanya mampu dibeli oleh 10 perusahaan dan Anda memiliki 10 orang penjual, setidaknya ada lima orang yang tidak akan menang. Di sisi lain, jika produk tersebut bisa dijual ke seribu perusahaan, tapi tenaga penjualnya hanya mampu menjualnya ke 50 perusahaan, maka semua orang bisa saja menang. Mereka yang bekerja lebih baik, maka akan bisa menjual lebih banyak. Dengan lingkungan yang kompetitif, mungkin saja karyawan bisa menjual ke 60 perusahaan dibanding 50 perusahaan. Dengan begitu, semuanya akan menang,” sebutnya.

Tantangan untuk orang yang tepat Dalam lingkungan yang normal, sebuah kompetisi akan melahirkan karyawan yang paling berprestasi bagi perusahaan. Namun, bagi sebagian karyawan, Duperval memperingatkan bahwa kompetisi bukanlah cara yang tepat untuk memotivasi mereka.

“Beberapa orang ada yang tidak tahan dengan yang namanya kompetisi. Beberapa akan menjadi agresif, sedangkan sebagian malah jadi tidak produktif. Karyawan seperti ini tidak cocok jika ditempatkan dalam kondisi kompetitif,” ucap Duperval.

Sebagai gantinya, perusahaan harus mencari cara lain untuk meningkatkan motivasi karyawan tersebut atau justru menciptakan hukuman bagi mereka yang berperilaku buruk. Holly Green, ahli manajemen dan personality assessment juga menekankan pentingnya peran atasan atau perusahaan dalam sebuah kondisi kompetisi. Jika kompetisi yang sehat berubah menjadi kompetisi yang buruk, itu artinya ada yang salah dengan bentuk kompetisi yang dibangun.

“Jika kompetisi mulai tidak sehat, itu artinya atasan tidak menghiraukan tanggung jawab yang sudah diberikan kepada timnya. Padahal, anggota tim tetap membutuhkan bimbingan dan pengawasan dari atasan,” ujarnya.

Kemungkinan terburuk Menurut Duperval, atasan bisa saja tidak mengetahui dampak kompetisi yang tidak sehat terhadap karyawan. Bayangkan jika ada karyawan yang mengetahui bahwa pendapatannya berpengaruh terhadap ‘kekalahannya’ dalam kompetisi, bisa saja hal ini mengundang rasa cemburu atau perkelahian secara fisik antarkaryawan.

Tentu saja, tidak semua karyawan menanggapi sebuah kompetisi dengan cara yang “menyeramkan”. Yang pasti, untuk bisa bertahan dalam kondisi apa pun,Anda harus bisa menggunakan kesuksesan rekan kerja sebagai motivasi Anda untuk melakukan yang terbaik, bukan demi memenangi kompetisi, tapi demi kebanggaan dan rasa percaya pada diri sendiri.