BANYAK orang mengira bahwa pembicaraan ringan atau basa-basi tidak  memberi banyak keuntungan. Padahal dengan pembicaraan seperti ini akan membuka banyak kesempatan baik dalam karier.

Penelitian yang dilakukan Stanford Universitas School of Businnes terhadap alumni masternya ini mungkin bisa jadi contoh menarik.

Dari penelitian yang dilakukan sepuluh tahun  setelah mereka lulus kuliah, didapat hasil bahwa nilai kelulusan tidak berpengaruh terhadap kesuksesan mereka di dunia kerja. Justru keahlian dalam berkomunikasilah yang membuat mereka bisa mengembangkan karier.

Menurut penulis buku The Fine Art of Small Talk, Debra Fine, pembicaraan ringan bisa menjadi awal dari sebuah langkah besar. Yang paling penting, keahlian dalam berbicara seperti ini bisa dipelajari.

Membentuk grup

Menurut Fine, hal pertama yang harus disiapkan sebelum melakukan pembicaraan di sebuah pertemuan ialah, siapkan tiga topik yang bisa menjadi beban pembicaraan. Bacalah surat kabar agar mengetahui berita yang sedang hangat dibicarakan.

“Jika sebelumnya Anda sudah mengenal tuan rumah atau penyelenggara acara, maka cobalah untuk mengingat apa pun tentang dirinya, bisa hobi atau hal-hal yang menarik perhatiannya,” kata Fine seperti dikutip dari Careerbuilder.com

Masuk dalam sebuah grup

Minum, jika Anda datang saat sudah terbentuk banyak grup, carilah grup berisi tiga orang atau lebih yang terlihat senang dengan pembicaraan  yang mereka lakukan. Berdirilah agak ke tepi, dan saat mereka menyadari kehadiran Anda, mulailah memperkenalkan diri.

Jangan takut kalau Anda akan didiamkan karena mereka pasti akan menyapa Anda dengan ramah. Begitu pula jika ada orang baru yang akan masuk, segera sapa orang tersebut. Ini penting agar grup semakin besar, dan semakin banyak orang yang Anda kenal.

Namun, jika Anda ingin memulai sebuah grup, saran dari Fine bisa dicoba. Setelah mengucapkan salam saat bertemu seseorang, tapi anda tak yakin kalau ia ingat nama Anda, coba strategi ini. Katakan, “Inge Kusuma kan? Saya Linda Karisa, yang bertemu di pertemuan X”.

Senyumlah dan jangan lupa untuk bersalaman setiap kali bertemu  dan berbincang dengan seseorang. Jangan lupa untuk mengingat nama mereka dan menggunakannya dalam percakapan.

“Jika tak tahu ingin memulai dengan topik apa, coba mulai dengan membicarakan  soal makanan atau apa pun yang berhubungan dengan acara tersebut,” ujar RoAne.

Yang harus diingat, janganlah asal berbicara. “Jangan percaya dengan saran yang mengatakan ajukan pertanyaan apa saja karena setiap orang senang membicarakan diri mereka. Kalau ini Anda ajukan, maka Anda akan dicap sebagai kehidupan pribadi orang lain,” saran RoAne.

Jangan pula sibuk memikirkan apa yang akan Anda katakan setelah lawan bicara selesai berbicara. Cukup dengarkan saja apa yang diucapkannya karena ini akan membimbing Anda pada hal yang ingin dia bicarakan. Anda tinggal meneruskan apa yang ingin dibicarakannya dan akhirnya Anda akan terlihat pada pembicaraan yang bermanfaat.

“Ceritakan pula pengalaman Anda tentang peristiwa yang sedang dibicarakan. Ajukan pertanyaan, tapi pertanyaan yang sopan,” tegasnya.

Yang pasti, networking yang Anda lakukan akan membangun sebuah bisnis yang bagus. Tapi tentu saja, Anda tak mungkin langsung membicarakan bisnis dalam pertemuan pertama. Maka itulah, saat pertama kali jangan menganggap seseorang sebagai klien potensial melainkan sebagai teman baru.

Salam perpisahan

Setelah berhasil menciptakan percakapan yang menyenangkan, satu lagi tahap yang penting ialah bagaimana Anda mengucapkan salam perpisahan atau berpamitan dengan sebuah grup atau seseorang.

Banyak cara yang bisa dicoba. Pertama, setelah lawan bicara selesai berbicara, Anda bisa langsung mengucapkan kata-kata yang seolah menyimpulkan pembicaraan tersebut. Misalnya Anda bisa mengatakan, “Wah, saya baru tahu semua hal itu. Untung saya bertemu Anda hari ini.” Setelah mengucapkan hal tersebut, langsung sodorkan tangan Anda sebagai bertanda bahwa anda ingin mengakhiri pembicaraan.

Cara lainnya dengan mengatakan,” Seru sekali berbicara dengan Anda, tapi pasti Anda ingin bertemu dengan teman-teman yang lain bukan. Jadi saya pamit dulu ya.” Setelah itu silakan bertukar kartu nama. Kemudian, carilah grup yang lain yang jauh dari orang tersebut agar ia tidak merasa bahwa Anda “menelantarkannya”.

Jika Anda sungkan untuk meninggalkan lawan bicara seorang diri, ajak dia untuk mencari orang atau grup yang lain untuk bergabung. Kenalkan ia kepada teman-teman Anda. Tentu ini bisa menciptakan pandangan positifnya terhadap Anda.

“Yang pasti, jangan pernah menampakkan bahasa tubuh yang negatif atau tidak menyenangkan pada lawan bicara. Anda tak akan tahu ke depannya. Bisa jadi Anda akan membutuhkan bantuannya kelak,” tandas RoAne.

Iklan