Dalam bekerja di sebuah Gudang, meskipun penuh dengan ‘naluriah’ dan ‘insting’, beberapa kali saya menginginkan tahapan ideal dengan mensinkronkan dengan teori-teori yang berlaku di bidang logistik. Salah satu teori yang ada di bidang logistik adalah Supply Chain Management (SCM). Jadi meski bekerja pada daerah yang penuh dengan penerapan dan praktek, bukan berarti teori dilupakan.

Salah satu dari definisi dari SCM adalah perencanaan dan pengelolaan semua kegiatan dan sumber yang terlibat dalam pengadaan, konversi, dan semua kegiatan Manajemen Logistik. Penting, hal ini juga mencakup koordinasi dan kolaborasi dengan mitra saluran, yang dapat pemasok, perantara, pihak ketiga penyedia layanan, dan pelanggan. Pada dasarnya, Supply Chain Management terintegrasi dan permintaan manajemen di dalam dan di seluruh perusahaan.

Beberapa bacaan membedakan manajemen logistik (logistic management) dengan SCM, ada yang mengatakan manajemen logistik adalah bagian dari SCM, ada juga yang mengatakan manajemen logistik dan SCM bisa memiliki daerah yang beririsan, buat saya SCM menerangkan secara utuh manajemen logistik, bisa dibilang pembaruan dari manajemen logistik sendiri.

Elemen dari SCM

Supplier Relationship Management, Internal Supply Chain Management, dan Customer Relationship Management. Jika Manajemen Logistik mungkin banyak bermain pada daerah Internal Chain Management. Pembahasan setiap elemen dari SCM dan hubungannya dengan kegiatan pergudangan lebih asyik kalau dibahas pada postingan lain deh.

Performance SCM

Pengukuran SCM dapat dilihat melalui beberapa hal :  Siklus persediaan, DPMO (Defect per million Order),  Rasio Produktifitas (biaya, jumlah pekerja, dll), Waktu pengerjaan, Ketersediaan informasi, Pelayanan pelanggan. Dalam beberapa hal, performance memang harus dalam bentuk kuantitatif, jika performance berada dalam tingkatan kualitatif, maka citra dari performance kuantitatif itulah yang harus dibangun. Semisal : pelayanan pelanggan, dalam melayani seorang customer service gudang harus melakukan dalam waktu secepat mungkin dan melakukan skala prioritas terhadap complain yang dilayani. Dalam pelayanan cepat, dan komunikasi tepat maka konsumen akan merasakan kualitas yang baik atau setidaknya muncul image atau citra bahwa ada usaha melakukan pelayanan seoptimal mungkin.

Kesulitan SCM

SCM memiliki sejumlah batasan yang menyebabkan beberapa perusahaan atau daerah di Indonesia sulit menerapkannya. Contoh sederhana saja mengenai ketersediaan bahan dari pemasok. Gudang sulit mendapatkan kiriman barang dalam jumlah dan waktu yang tepat. Jika memesan barang 300, sementara kapasitas mobil pemasok adalah 200, maka pemasok akan menunggu pesanan masuk lagi dari gudang sejumlah 100, agar bisa mengirim pas sejumlah 2 mobil ke gudang. Waktu tunggu diperlama maka estimasi produksi terganggu dan output tidak tepat sesuai peramalan. Menjadi fantasi saya bagaimana luar negeri mengatasi masalah-masalah sederhana seperti ini, masalah kecil yang membuat SCM tidak bisa dilakukan secara utuh.

Sumber : http://romailprincipe.wordpress.com/

Iklan