Sebuah pertanyaan yang wajar kalau kita lihat banyaknya kesimpangsiuran dalam stnadarisasi bisnis yang etis dan sempat menjadi isu berkepanjangan diakhir tahun 1960-an sampai tahun 1970-an di Amerika Serikat (Rogene A. Buchholz, Business environment and public policy, implication for management, prentice-hall Inc, 1982 :82-100)

Bagi para pengusaha sendiri, hanya etika bisnis yang akan atau sudah dijadikan peraturan atau undang-undang yang emnarik karena hal itu dapat menimbulkan ancaman (threats) atau kesempatan (opportunity) bagi kehidupan bisnis mereka.

Midian Simanjuntak (Kompas, 16 Sepetember 1989, h.5) membagi Prilaku bisnis yang tidak etis kedalam 5 kelompok objek atau sasaran pengusaha : pembeli dan penjual, kompetitor, pejabat government, assets dan lingkungan.

Pembeli dan penjual

Berbagai prilaku yang dapat dianggap tidak etis terhadap customers (pihak pembeli maupun penjual terhadap suatu perusahaan) adalah sebagai berikut :

  1. Diskriminsasi harga (Price discrimination)
  2. Penjualan suatu barang yang dikaitkan dengan penjualan barang lain yang sebenarnya tidak termasuk suatu kesatuan (Tying arrangement/contract)
  3. Mengenakan persyaratan perjanjian dengan pembeli yang menyatakan bahwa pembeli tidak akan membeli barang yang serupa dari kompetitor penjual. (Exclusive dealing)
  4. Penetapan harga eceran minimm oleh produsen kepada pengecer (Price fixing) atau penetapan harga jual kembali kepada pembelinya (Resale price maintenance) atau produsen membatasi daerah penjualan penyalurnya sehingga diantara sesama penyalurnya tdiak erjadi kompetisi (Territorial restriction)
  5. Praktik dagang yang menyesatkan atau menipu pembeli (Deceptive trade practices)

Kompetitor

Pada dasarnya tindakan yang tidak etis terhadap kompetitor dimaksudkan untuk mendapatkan posisi monopoli/monopsoni dengan ciri-ciri : perusahaan dengan monopoli akan mendapatkan keuntungan yang abnormal tinggi dengan harga jual tinggi dibanding dengan adanya kompetitor, kemampuan mendikte pasar yang dilakukan sekelompok atau satu perusahaan, keinginan untuk menguasai pasar dengan fair competition bukan free competition, selain prilaku tidak etis untuk menghancurkan kompetitor seperti :

1. Dumping. Tindakan dumping dimaksudkan untuk merebut pasangsa pasar melalui penjualan dengan harga yang sangat rendah, biasanya dibawah biaya pokok. Perusahaan seperti ini bersedia menderita rugi untuk periode tertentu samapai mendapat pangsa pasar, akibatnya kompetitor lemah akan terdepak dari arena bisnis, setelah kompetitor hilang barulah meningkatkan harga yang abnormal. Berlangsungnya perang harga (price wars) atau berubah menjadi kompetisi gorok leher (cut throat competition) dalam sautu industri merupakan gejala yang mengandung praktik dumping yang tidak etis ini.

2. Concerted activities by competitors yaitu aksi bersama dari beberapa perusahaan yang sebanarnya konpetitor. Misalnya pertukaran informasi harga. Prialku ini semodel dengan group boycott yakni kelompok pembeli/penjual bersepakat untuk menolak untuk menuual kepada atau mebeli dari seseorang atau kelompok orang. Bentuk ekstrim lainnya seperti kartel.

3. Interlocking directorates. Seseorang menjadi anggota direksi dari dua atau lebih perushaan besar yang merupakan competitor, besar sekali kemungkinan perushaan itu secara bersama memiliimkemampuan berprilaku seperti monopolis/monopsonis.

Pejabat government

Perilaku tidak etis terhadap para perilaku pejabat government ini ialah penyogokan dan kolaborasi. (Bersambung)