Oleh:
MUSTAFA KAMAL ROKAN

TAK bisa terbantahkan, saat ini hampir semua transaksi perdagangan yang kita lakukan adalah dengan menggunakan uang kertas atau biasa disebut dengan fiat money. Mata uang ini menjadi pilihan disebabkan “kemudahan” dan “kepraktisan” dalam menggunakannya. Seseorang hanya membawa secarik kertas yang tipis yang dengan mudah diselipkan di kantong atau dompet dan siap digunakan sesuai kebutuhan atau keinginan kita. Lebih penting dari itu, kemudahan sekaligus kelemahannya, mata uang kertas tidak memerlukan kepemilikan logam berharga sebagai (underlying).

Penggunaan uang kertas tidak hanya dalam transaksi lokal (domestik), namun saat ini, hampir semua negara menggunakan uang jenis ini sebagai alat tukar. Alat tukar ini juga yang paling banyak digunakan dalam perdagangan internasional. Namun begitu, tidak semua negara menggunakan fiat money lokal untuk urusan transaksi internasional. Biasanya mereka menggunakan uang yang relatif kuat seperti dolar, yen, euro dan sebagainya. Dan sesungguhnya inilah “emberio” terjadinya hegemoni mata uang tertentu dalam perdagangan dunia internasional, bahkan terjadi “penjajahan” satu negara (baca: negara adiyaya dan maju) kepada negara berkembang (baca: negara miskin).

Melihat Kestabilan Mata Uang
Untuk melihat sebuah mata uang itu stabil atau tidak, maka lebih baik kita melihat kriteria atau ukuran apa yang digunakan sehingga kita dapat “menghukum” bahwa mata uang tertentu lebih stabil. Meminjam kriteria Mishkin yang dikutip M. Lutfi (2007) dalam bukunya “Gold Dinar” bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat dijadikan ukuran sebuah mata uang dianggap stabil atau tidak. Namun dalam tulisan ini hanya dilihat dari dua aspek saja yakni stabilitas secara internal dan stabilitas secara eksternal.

Tak dapat disangkal bahwa sebuah mata uang dianggap stabil dan kuat jika mata uang tersebut mempunyai tingkat kestabilan yang memadai (stability). Menurutnya, stabilitas suatu mata uang dapat dilihat dari dua (2) arah yaitu secara internal dan eksternal. Secara internal, mata uang dianggap stabil harus dilihat dari hubungannya dengan harga barang. Dalam hal ini, tingkat inflasi sangat sering dikaitkan dengan keberadaan uang dengan barang dan jasa yang tersedia. Dan dari sinilah kita dapat melihat tingkatan inflasi dari sebuah mata uang.

Dalam melihat faktor ini (stabilitas internal), mari kita lihat perbandingan antara mata uang emas (dinar-dirham) dengan mata uang kertas (fiat money). Dari beberapa hasil kajian menunjukkan bahwa mata uang kertas sangat mudah mengalami inflasi, hal ini disebabkan tingginya tingkat uang yang beredar di pasar dengan barang yang tersedia. Krisis yang terjadi saat ini juga merupakan “saham besar” dari sistem mata uang kertas. Amerika Serikat misalnya, sebagai pemilik mata uang dolar telah mengalami inflasi secara terus menerus awal tahun 1980-an dan terus berfluktuasi hingga saat ini.

Sedangkan mata uang dinar dan dirham terlihat sangat stabil. Tingkat kestabilan mata uang dinar dirham telah teruji semenjak dari pra-Islam, sampai saat ini. Dengankata lain, tingkat inflasi setelah 1400 tahun adalah nol. Bayangkan, harga ayam pada masa Rasulullah Saw. misalnya 1 dirham dan sekarang juga masih sekitar 1 dirham. Pengakuan terhadap tingkat kestabilan emas sebagai alat tukar (uang) sangat diyakini sebagai faktor kuat yang bisa menjaga perekonomian berada dalam jalurnya. Bahkan, Greenspan Gubernur the Fed (Bank Sental AS) meyakini dan menegaskan peran emas dalam menstabilkan perekonomian.

Sedangkan inflasi sangat mudah dan rentan terjadi pada fiat money. Sebagai ilustrasi sederhana dapat kita kemukakan. Jika seseorang meminjam uang sebanyak Rp. 1.000.000,- dan ia berjanji akan mengembalikannya  jumlah yang sama sepuluh tahun akan datang. Maka, besar kemungkinan orang tersebut sulit memberikan pinjaman, sebab uang sejumlah Rp. 1000.000,- pada sepuluh tahun akan datang tidak sama sudah sangat berkurang nilainya.

Dalam hal ini menarik kita simak hasil penelitian M. Luthfi Hamidi “Gold Dinar” tentang tingkat apresiasi emas yang telah terbukti dalam sejarah mata uang. Pada tahun 1800 misalnya, harga emas per satu troy sons setara dengan 19,39 dolar AS, sementara pada tahun 2004, satu troy ons senilai 455,757. Ini menunjukkan, setelah dua abad lebih (200 tahun) emas mengalami apresiasi yang luar biasa yakni sebesar 2.250 persen terhadap dolar.

Dalam data terakhir (akhir tahun 2008) nilai tukar dinar emas telah melampaui Rp. 1,35 juta per koin dan merupakan angka tertinggi sepanjang tahun 2008. Dengan demikian dinar emas mengalami apresiasi sebesar 22,7 persen. Bahkan sejak dinar pertama kali dicetak dan diedarkan di Indonesia akhir tahun 2000 lalu terlihat besarnya apresiasi nilai koin emas, dan total apresiasi dinar dalam kurun delapan tahun ini adalah 237,5 persen (Republika/16/1).

Emas Sebagai “Measure” Dalam Hukum Islam

Berdasarkan beberapa data singkat di atas, sebagai salah satu hikmah yang bisa digali bahwa pantas saja Allah Swt.dan RasulNya menetapkan emas dan perak menjadi “measure” dalam menentukan dan menetapkan kewajiban zakat bagi orang mukmin dan batas maksimal jumlah untuk menetapkan hukum pidana. Dalam hukum zakat ada yang disebut dengan nisabsebagai batas nominal diwajibkannya seseorang berzakat adalah dengan ukuran emas dan perak. Demikian juga penetapan ukuran pencurian dengan bilangan emas yakni melebihi emas sebesar seperempat  dinar. “Tangan itu wajib dipotong, (apabila mencuri) seperempat  dinar atau lebih.” (HR. Imam Bukhari, dari Aisyah). Dalam hadis lain disebutkan “Bahwa di dalam (pembunuhan) jiwa itu terdapat diyat berupa 100 unta terhadap pemilik emas (ada kewajiban) sebanyak 1.000 dinar.”

Penetapan emas sebagai ukuran dalam menetapkan kewajiban (misalnya Zakat) ataupun hukuman (pidana) adalah salah satu hikmah terbesar dari tidak depresiasinya emas dalam lintas zaman. Sungguh, sangat adil dan ilmiah syariat Islam yang diturunkan kepada kita. Wallahua’lam.

Penulis adalah Dosen Hukum Bisnis Fak. Syariah IAIN SU dan STIH Graha Kirana serta Arbiter Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) Sumatera Utara