Oleh: AZHARI AKMAL TARIGAN*

Beberapa hari yang lalu, Waspada memuat berita dengan judul, “Pertumbuhan Nasabah Bank Syari’ah Menyedihkan.” (Waspada, 30 Januari 09). Pernyataan ini berdasarkan informasi yang diberikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia, Siti Fadjrijah. Kendatipun ada kenaikan tetapi sangat lamban. Bayangkan, jumlah nasabah perbankan syari’ah naik tipis dari 2007 sebanyak 2,845 juta rekening menjadi 3,799 juta rekening hingga 2008. Sedangkan untuk nasabah pembiayaan, keadaannya tidak jauh berbeda. Penyaluran kredit (pembiayaan) bank syari’ah hanya naik sedikit dari 512 ribu nasabah di 2007 menjadi 589 ribu nasabah di November 2008. Di sampan itu, sampai sekarang pangsa pasar bank Syari’ah baru mencapai 2,08% dengan total asset 47 triliun. Sedangkan target pemerintah adalah 5 % dengan total asset 90 Triliun. Jumlah minimal inipun agaknya sulit terpenuhi dalam waktu dekat. Ironis memang, di sebuah Negara yang penduduknya mayoritas muslim, pangsa pasar bank syari’ah yang terserap baru sedikit. Berangkat dari kondisi yang menyedihkan inilah tampaknya BI merasa perlu menggelar Festifat Ekonomi Syari’ah (FES) yang kedua di Jakarta. Festifal yang akan berlangsung dari tanggal 4-8 Februari yang akan menampilkan multi jasa bank Syari’ah, pembiayaan investasi dan sebagainya. Tidak tanggungtanggung, mimpi yang ingin dibangun adalah Indonesia Bisa Lebih Sejahtera lewat ekonomi syari’ah. Tentu saja harapannya, dengan Festifal Ekonomi Syari’ah, akselerasi pengembangan perbankan syari’ah bisa dipacu. Sejauh mana efektifitasnya, waktu tentu akan menjawab. Begitu seriusnya BI Pusat – juga BI di daerah, mendorong perkembangan perbankan syari’ah, tampaknya semangat ini tidak diikuti praktisi perbankan di daerah, khususnya di Medan Sumatera Utara. Saya tidak punya data pertumbuhan nasabah bank syari’ah di Sumut begitu juga dengan pertumbuhan pembiayaannya. Namun setidaknya, data nasional sebagaimana yang diajukan Deputi Gubernur BI layak untuk kita jadikan acuan. Itu artinya, perbankan syari’ah di daerah juga jalan di tempat. Sepanjang yang saya ikuti, berkenaan dengan perkembangan perbankan syari’ah di Sumatera Utara sejak tahun 1990-an, nyata jelas bahwa ada pergeseran yang signifikan dalam pengembangan perbankan syari’ah. Jika pada tahun 1990-an sampai tahun 2000 awal, pengembangan bank syari’ah cukup massif, melibatkan semua unsur kekuatan, sekarang ini suasana kebersamaan itu tidak ditemukan lagi. Pada masa awal perkembangan bank syari’ah di Sumut, penulis melihat adanya semangat kebersamaan yang terjalin secara sinergis dan harmonis antara lembaga perbankan syari’ah, perguruan tinggi, ulama dan lembaga ekonomi riil masyarakat sampai kepada organisasi remaja masjid. Pemerintah Propinsi di bawah kepemimpinan H. Rizal Nurdin juga mendukung sepenuhnya, sehingga kita bisa menyelenggarakan kegiatan Festifal ekonomi Syari’ah yang akhirnya menginspirasi pusat. Hasilnya, kegiatan ekonomi syari’ah tumbuh subur di Medan. Namun suasana itu tidak terasa sama sekali sekarang ini. Artinya, ada yang hilang dari gerakan ekonomi syari’ah di Sumut. Beberapa catatan yang perlu dikemukakan: Pertama, Absennya Mujahid Al-Iqtishad Saya ingin mengatakan jika pada masa awal, pimpinan cabang perbankan syari’ah dan karyawannya tidak saja sebagai “bankir” tetapi juga menjadi Mujahid al-Iqtishad. Artinya mereka tidak hanya berdiam dikantor, tetapi terus berjuang bagaimana mensosialisasikan ekonomi dan perbankan syari’ah ke masyarakat. Mereka sadar, menjadi kepala cabang atau menjadi karyawan bank syari’ah tidak cukup hanya berdiam diri menunggu nasabah di kantor . Tetapi harus bergerak, masuk ke simpul-simpul masyarakat. Membangun komunikasi dengan PT Islam dan ormas keagamaan. Saya khawatir, jangan-jangan mereka telah kehilangan etos mujahid sehingga jihad al-iqtishad (berjihad) menjadi tak penting lagi. Sejatinya, jihad adalah kata kunci dalam pengembangan ekonomi syari’ah. Berbeda halnya dengan bank-bank konvensional. Mereka tidak perlu lagi berjuang “mati-matian” untuk turun ke akar rumput. Mereka cukup meningkatkan promosinya dengan menambah hadiah yang menarik, nasabah akan berduyun-duyun datang ke bank tersebut. Bank syari’ah sangat berbeda. Kedua, Berkurangnya PeranPerguruan Tinggi Sejarah perkembangan bank syari’ah di Sumut sejak tahun 1990-an tidak dapat dilepaskan dari peran IAIN-SU Medan, khususnya Fakultas Syari’ah. Tidak berlebihan jika disebut, perbankan syari’ah di Sumut “berhutang budi” dengan IAIN-SU Medan. Lewat FKEBI (Forum Kajian Perbankan dan Ekonomi Islam) sejak dipimpin Prof. Dr. H. M. Yasir Nasution sampai dinakhodai Dr. Amiur Nuruddin, ekonomi dan perbankan Islam terus menerus disuarakan lewat berbagai forum. Apakah lewat seminar, diskusi terbatas sampai mimbar-mimbar masjid. Pada saat itu, jalinan kerjasama antara perbankan syari’ah dengan FKEBI berjalan sangat harmonis. Saat ini suasananya benar-benar berubah. Kalaupun ada kerjasama dengan perguruan tinggi sifatnya hanya terbatas. Misalnya, beberapa praktisi perbankan syari’ah diminta bantuannya untuk mengajar di Fakultas Syariah, baik pada jurusan ekonomi Islam ataupun pada D3 Manajemen Perbankan dan Keuangan Islam. Bentuk kerjasama yang lain, mahasiswa Fak. Syari’ah diperkenankan untuk magang di bank syari’ah. Hanya sebatas inilah bentuk kerja sama. Kalaupun ada tambahannya, paling-paling masalah sistem penggajian dan pembiayaan. Nyaris kita tidak menemukan bentuk kerja sama yang lebih strategis dan berjangak panjang. Misalnya merumuskan cetak biru strategi pengembangan syari’ah di Sumut. Bahkan ironisnya, perbankan syari’ah merasa dalam kondisi yang aman. Sehingga mereka tidak perlu lagi bantuan perguruan tinggi. Pada hal di sinilah akar masalahnya. Masalah terbesar dalam sosialisasi ekonomi syari’ah di Sumut adalah menggeser paradigma berpikir ummat. Rendahnya respon mereka terhadap bank syari’ah sebenarnya dibentuk oleh pemahaman keagamaan yang mereka anut selama ini. Sebagian masyarakat masih memiliki pemahaman bahwa Islam hanya sebatas ibadah saja sedangkan ekonomi masalah lain. Membangun kesadaran berekonomi syari’ah yang diawali dengan pemahaman yang tepat tentang Islam, bukanlah pekerjaan mudah. Sampai di sini peranan perguruan tinggi Islam khususnya IAIN-SU, mutlak penting. Saya mendapat kesan, praktisi perbankan syari’ah di Sumut tidak menyadari kenyataan ini. Bahkan lebih dari itu, mereka merasa tidak perlu bersusah payah mengucurkan dana sosialisasi pengembangan karena merasa sudah berada di zonya nyaman. Ketiga, Bank Syari’ah tidak bersatu Pada mulanya, di Sumut hanya ada dua institusi perbankan Syari’ah; Bank Syari’ah Mandiri dan Bank Mu’amalat Indonesia. paling-paling ditambah dengan BPRS dan Ahad Net (MLM Syari’ah). Kemudian muncul pula BNI Syari’ah. Yang menarik bagi saya, bersama IAIN dan FKEBI, kerjasama dalam rangka sosialisasi dapat kita laksanakan dengan baik. Terkesan Bank Syari’ah kendati bersaing memperebutkan pangsa pasar, namun mereka tetap bisa bekerja sama. Ketika bank Syari’ah di Sumut tumbuh bak cendewan di musim hujan, kerjasama malah tidak terbangun kendati mereka berada dalam payung Asbisindo. Semuanya berjalan sendiri-sendiri. Benar bahwa lembaga perbankan adalah lembaga bisnis. Kompetesi menjadi tak terhindarkan. Namun ada yang terlupakan. Bank syari’ah membawa panji Islam. Nilai-nilai agama harus tetap menjadi payung segala aktifitas. Jangan sempat bank syari’ah malah menggunakan cara-cara sekuler, bersaing tidak sehat dan saling menegasikan. Merasa lebih syari’ah padahal tidak sama sekali. Cara-cara seperti ini menurut saya, bukan malah saling menguatkan, tetapi sebaliknya saling melemahkan. Saya menyarankan, seluruh kekuatan ekonomi Islam Sumut, apakah BI, MUI, FKEBI-IAIN-SU, lembaga perbankan dan sector riil harus kembali duduk bersama. Kita perlu merumuskan langkah-langkah strategis dalam mengembangkan ekonomi syari’ah yang telah lama mati. Sosialisasi ekonomi syari’ah tidak sepenuhnya dapat menggunakan kacamata rasional seperti yang dimotori BI dan Pemda. Ekonomi syari’ah memiliki dimensi spiritual, teologis dan moral. Untuk itu kebersamaan antar lembaga strategis menjadi keniscayaan. Intinya, semangat jihad harus kita tumbuhkan pada diri kita, apakah praktisi perbankan, pemerhati, ulama, ustaz, dan sebagainya. Jika kita tidak melakukan apapun, percayalah, bank syari’ah di Sumut akan jalan ditempat. *Penulis dalah Dosen Fak. Syari’ah IAIN-SU.

Sumber : http://www.waspada.co.id

Iklan