Banyak orang yang bisa memasak dengan enak, tapi hanya sedikit yang bisa menjual makanannya sendiri. Rully termasuk yang langka itu. Ia menceritakan perjalanan panjangnya dari awal sampai membuka cabang CMM di kota Padang, kota asal bagi banyak jenis makanan yang enak-enak. Ia menceritakan semua itu kepada Rhenald Kasali pada acara Bedah Bisnis di Radio M97FM, 23 Juli lalu. Seeprti biasa Rhenald ditemani oleh Ifeb alias Febrira Ghalib, penyiar tetap apda radio itu.

Berapa omset sebulan?
Seluruhnya, alhamdulillah, antara Rp 600-700 juta sebulan

Konon kabarnya kalau bisnis makanan marginnya 50% sampai 100% ?
Nggak. Itu kan orang yang ngomong. Kalo warung atau tempat yang nggak perlu sewa mungkin bisa 50 %. Kita bikin usaha, namanya usaha makanan, margin rangenya itu antara 10-20%

Nggak ada rencana IPO?
Belum. Saya franchise.

Sekarang sudah berapa cabang Cwie Mie?
Cwie mie sama Rully’s itu kita ada tujuh, tiga adalah franchise

Dimana aja tuh ?
Jakarta satu, Padang satu, dan Yogya Satu .

Jadi orang padang itu sudah suka Cwie mie?
Itulah yang saya surprise sekali.,Saya tahu bahwa Padang adalah gudangnya makanan, makanan di sana saya anggap enak, dan laku dijual dimana-mana. Kebetulan kenalan saya di sana mau buka Cwie Mie Malang di sana. Setelah saya cek lokasinya , saya setuju buka di sana.

Sudah mulai?
Hampir satu bulan. Penjualannya saya anggap luar biasa.

Seberapa luarbiasanya?
Untuk ukuran warung jangan dibandingkan Mcdonald dan Pizza Hut. Mungkin bisa Rp 8-10 juta per hari. Begini Pak Rhenald, biasanya mereka membuka warung di pasar atau di ruko. Saya beda, di sana ada tanah 1800 meter persegi. Saya kasih taman. Bangunannya dari batang kelapa dan batu bata. Suasananya adem dan kesannya dingin. Lighting kalau malam itu indah sekali. Jadi betul-betul berbeda dengan Kentucky yang ber-AC. Orang betul-betul niat untuk masuk ke sana. Begitu coba, ternyata mereka suka

Kalau saya berminat franchise, apa cukup saya kirim proposal?
Nggak. Datang saja ke tempat saya, ngobrol-ngobrol dengan saya

Jadi dilihat dulu, bisa dipercaya nggak nih orang?
Ya, bisnis adalah trust. Misalnya orangnya doing bisnis nggak. Atau hanya punya duit tapi konsentrasi nggak ke situ, saya nggak mau, nanti jalannya setengah-setengah.

Harus menyiapkan uang berapa sih orang bisa franchise?
Kalau yang namanya food court concept itu dananya tidak begitu besar, Rp 20 juta di luar sewa tempat. Itu modal kerja sudah termasuk equipment sederhana.

Sederhana maksudnya seperti apa?
Misalnya panci stainless steel itu harganya mahal, kita pakai panci biasa. Lebih murah dan tidak mengubah rasa.

Berapa lama kira-kira bisa kembali modal di satu food court?
Nggak lebih dari setahun. Kalau dalam setahun nggak balik modal, berarti ada something wrong.

Bagaimana Cwie Mie bisa diterima dimana-mana apakah ada adjustment terhadap taste?
Betul, tapi basic-nya nggak.Misalnya soal mie, yang enak itu belum tentu yang halus, lembut dan sebagainya. Sebelum saya membuka restaurant ini saya sudah melakukan survey dan riset di rumah. Saya undang orang Chinese, Betawi, Malang, Padang, untuk memilih mie yang paling disukai, ternyata hasilnya yang sekarang ini. Dan itu saya pertahankan sampai sekarang.

Jadi, mie-nya bikin sendiri ?
Iya lah. Kebetulan saya pernah kerja di Indofood, saya banyak kenal temen-temen di sana, mereka juga share knowledge lah, saya selalu tanya, dan saya punya equipmentnya

Coba ceritakan sedikit latar belakang Anda, kelihatannya menarik?
Saya SMA di Malang. Teman-teman mau jadi dokter, insinyur. Pokoknya jadi sarjana doctorandus. Yang milih ke perhotelan itu sedikit sekali, mungkin hanya 1%, termasuk saya.. Saya masuk ke National Hotel Institute Bandung.. Teman saya ngasih saran lebih baik masuk ke bagian makanan, karena koki gajinya gede, akhirnya saya masuk kesitu.

Sebelumnya anda tidak hobby masak?
O, tidak. Waktu kecil saya suka masak nasi goreng, rujak cingur, ibu saya kebetulan punya warung(kantin). Di stadion, kantinnya, ibu saya yang pegang. Kadang-kadang kalau nggak ada pembantunya, saya jualan. Saya bikin rujak di situ.

Tadi latar belakangnya sebagai koki. Sekarang pengalaman kerjanya sebagai apa saja?
Saya pernah kerja di hotel. Pertama, sebagai cook helper tahun 70-an, ketika itu senior sering ngerjain anak baru seperti saya. Disuruh ngupas kentang satu atau dua karung. Lalu di Hilton jadi cook. Trus saya balik lagi sekolah, sampai suatu saat saya inging menjadi raja kecil, saya nggak mau kerja di hotel jadi cook aja, saya ingin menjadi manager waktu itu, setelah selesai sekolah saya menjadi food and bavarage manager di hotel Kemang selanjutnya saya kerja dengan Pak Bob Sadino.

Karena Bob Sadino sering ke Hotel Kemang atau Anda yang sering ke Kemchick?
Saya yang datang ke Kemchick. Lalu saya ngobrol-ngobrol-lah. Saya menjadi Asisten Manager Supermarket, tapi disini tugasnya nggak jelas, karena saya nggak ngerti tugas di supermarket. Background saya itu cook, maka saya olah itu daging. Daging yang segitu banyak akhirnya saya bumbuin, dan saya namain food ready to cook atau apalah itu. Ketika itu Hero dan semacamnya belum ada. Adanya hanya di Kemchick. Di supermarket belum ada salad saya sudah jual salad, jadi saya berjasa lah terhadap pak Bob itu.

Setelah 8 tahun kerja, cukuplah, waktu itu ada lowongan Operation Manager di Burger King, di situ saya mulai belajar franchise. Saya memegang Operation Manager itu 2 s/d 3 tahun. Setelah itu saya pindah ke Indofood. Kurumayan Rudolf restaurant itu ada 10 outlet, di situ saya pegang operationnya 2 tahun lebih. Kalau nggak salah, saya keluar lagi, trus saya kerja sama Rini Suwandi (sekarang Memperindag) untuk pegang bakery café, itu franchise juga di Amerika selama 2 tahun.

Jadi di Obongpang bakery café itu terakhir? Kenapa terus mendirikan Cwie mie?
Begini Pak. Sejak awal kerja saya melihat bahwa saya tidak mempunyai dana pensiun. Saya nggak punya apa-apa. Saya masih dipakai karena saya masih kuat,sehat, tapi setelah itu what next? Saya nggak punya apa-apa. Saya melihat teman-teman yang lain hanya menghabiskan hasil sisa-sisa keuangan mereka. Setahun di Kemchick saya buka Hoka-Hoka Bento. Saya di bagian produksinya. Setelah itu saya keluar, saya bikin usaha sendiri yang saya namakan modif frozen food. Saya bikin sukiyaki di-packaging, yakiniku di-packaging, torinoteba.

Kemudian saya punya teman India. Dia saya suruh telepon ke instansi pemerintah dan lainnya, waktu itu Dharma Wanita lagi ngetrend. Kemudian saya bilang ke dia bahwa saya ada demonstrasi gratis, kita ada perusahaan dari Jepang, kita mau demo masak gratis ke tempat ibu. Kebetulan waktu itu ada arisan, pesertanya 100 orang. Tapi saya hanya punya 30 pack. Akhirnya berbutan.

Jadi konsep jualannya adalah saya telepon ibu-ibu Dharma Wanita, kita dating ke sana, akhirnya mereka beli. Begitu juga saya lakukan dengan Cwie Mie ini, sambil mikirin next-nya bagaimana ?

Jadi Anda masih kerja pada saat membangun Cwie Mie?
Ya, saya masih kerja, artinya saya nggak mau gambling. Kalau misalnya saya gagal disitu, saya masih ada income. Tapi saya tahu, di tempat kerja, future nya kurang menjanjikan, artinya saya harus doing something, saya harus bertahan, makanya saya bikin steak dan Cwie mie itu.

Iklan