Jika ada orang yang menanyakan ke Anda, apakah Anda memiliki alamat e-mail, apa yang Anda rasakan saat itu? apakah Anda dengan enteng langsung menyebut, “oh, di sini… pokoknya @anu.com lah”, dengan enteng. Atau anda hanya mengernyitkan dahi sambil tersenyum pasrah,”… wah maaf saya tidak punya alamat email…”

Kepemilikan alamat email saat ini terdengar sebagai sesuatu yang generik, sudah lumrah, terutama bagi generasi yang lahir tahun 70-an dan sesudahnya. Kadang-kadang sampai kita merasa aneh jika ?hare gene’ ada orang yang belum punya alamat email.

Dalam tingkat yang sangat sederhana, kondisi ini menunjukan betapa teknologi internet mulai berpengaruh terhadap cara hidup dan trend yang ada di sekitar kita. Walaupun demikian, penggunaan teknologi internet belum banyak berpengaruh terhadap perilaku belanja konsumen, terutama dalam hal memanfaatkan fitur-fitur belanja online. Alasannya memang macam-macam, tetapi yang utama karena takut kartu kredit atau rekening bank-nya dibobol oleh hacker, atau takut menjadi korban penipuan. Maklum, transaksi online hanya mempertemukan pedagang dan pembeli dalam dunia maya.

Tetapi ada suatu pertanyaan menarik yang diajukan kepada saya baru-baru ini oleh kawan-kawan dari sebuah jaringan retail, yaitu manfaat apa yang kita dapatkan apabila kita sebagai penjual menyediakan fitur penjualan on-line?

Terus terang ini pertanyaan sederhana tapi visinya cukup jauh ke depan. Jujur saja, kalau secara kasat mata saja, paling tinggi manfaat yang kita dapatkan melalui fitur penjualan online paling banyak kita terlihat lebih modern dan trendy. Mengikuti perkembangan jaman istilahnya. Tetapi yang repot, memang kalau kita ingin menghubungkan antara investasi untuk fitur penjualan secara online dengan peningkatan penjualan. Apalagi omzet, wah memang masing jauh untuk rata-rata bisnis retail di Indonesia. Bahkan juga untuk ukuran kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya sekalipun.

Jika demikian datanya, apakah artinya di Indonesia menawarkan jasa via internet ini kurang bermanfaat? Apakah kita sebaiknya melupakan fasilitas internet bagi usaha kita? Ternyata tidak, karena masih banyak manfaat yang bisa kita dapat, misalnya seperti kemampuan mengenal pelanggan dengan lebih jauh.
Jadi apakah dengan fitur ini kita sama sekali tidak bisa mendapatkan manfaat lebih?

Nah, di sini yang lebih menarik. Apabila kita melihat dari sudut pandang marketing yang lebih luas, ternyata ada manfaat lain yang bias kita peroleh, selain hanya berharap pada peningkatan sales. Yang pertama, dengan menjual secara online, anda justru bisa mengetahui secara lebih detail siapa pelanggan anda. Loh, kok bisa?

Ya, karena fitur penjualan secara online ini memungkinkan kita untuk mensyaratkan calon pelanggan untuk mengisi data diri selengkap mungkin. Dan enaknya lagi, pelanggan sendiri yang memasukkan datanya ke dalam database kita, sementara kita hanya menyediakan infrastrukturnya. Hemat waktu dan tenaga, walaupun tetap perlu modal.

Yang kedua, selain data identitas pelanggan, kita bisa langsung mengintegrasikan data tersebut dengan kebutuhan dan jenis produk atau layanan yang dibeli oleh pelanggan. Sehingga kita memiliki gambaran profil pelanggan kita, yaitu siapa mereka, apa yang dibutuhkan dan kapan mereka membelinya.

Manfaatnya dengan memiliki data-data ini adalah kita bisa lebih cepat melakukan analisa pasar dan membuat rencana pemasaran ke depan.

Masalahnya sekarang, kita kan sudah tadi barier yang menyebabkan pelanggan tidak mau atau ragu-ragu memanfaatkan fitur penjualan secara online. Tentunya, bagaimana caranya supaya mereka mau menggunakan fitur tersebut? Jawabannya sederhana: mereka harus dipaksa! Cara memaksanya dapat dengan melakukan penjualan produk atau layanan-layanan yang paling diminati secara eksklusif hanya melalui penjualan online. Atau memberikan insentif berupa bonus atau discount misalnya.

Maskapai penerbangan Air Asia misalnya, dapat menjadi salah satu contoh “pemaksa” yang berhasil melakukan penjualan produknya melalui jalur online. Bertentangan dengan kebiasaan maskapai penerbangan yang memperluas jaringan penjualan melalui agen-agen, tiket Air Asia justru hanya dapat dipesan melalui internet, atau call centre.

Nah sebagai tambahan, hal yang tidak boleh dilupakan adalah sebelum membuka fitur penjualan secara online, kita harus mengkaji kesesuaian antara karakter produk dengan habit penggunaan internet konsumen kita. Agar tidak terjadi gap yang terlalu menyulitkan konsumen untuk mengakses produk kita. Demikian diskusi kita kali ini, jadi untuk saat ini kita sebenarnya dapat memanfaatkan fitur penjualan online tidak hanya sebagai sales tool semata, melainkan juga sebagai data base tool.

Inu Machfud R
BMI Research Jakarta�

(//mbs)

Iklan