Oleh: Rhenald Kasali

Belum banyak yang mengenal nama Erick. Ia masuk tahun lalu ke Republika. Belum sempat satu tahun dipegangnya, Republika sudah bakal kelihatan untung Rp 1 Milyard tahun ini, padahal tahun lalu masih rugi sampai 7 milyar. Ia akan mengembangkan Republika di 11 daerah di Indonesia.

Erick Thohir menjadi tamu Bedah Bisnis Rhenald Kasali di radio M97FM, Senin 13 Agustus 2001. Dio bawah ini adalah bagian dari wawancara Rhenald Kasali dengan Erick. Seperti biasa Rhenald didampingi oleh Febrira Ghalib alias Ifeb, penyiar tetap di M97FM.

Saya kira banyak yang bertanya siapa itu Erick Thohir. Banyak bisnis yang digelutinya, dan yang paling menonjol belakangan ini adalah Anda menjadi investor Republika.Benar bagitu Pak Erick?
Alhamdulillah begitu Pak
Bisa diceritakan latar belakangnya Pak? Anda pernah cerita pada saya bahwa pada suatu tanggal tertentu tiba-tiba ada tiga opportunity yang timbul, bisa diceritakan?
Kalau tidak salah itu terjadi tanggal 18 oktober 2000. Kebetulan di atas meja kantor saya itu ada tiga proposal dan kebetulan tiga-tiganya mengenai media.
Apa saja proposal itu ?
Waktu itu ada Majalah Golf Digest, Videotron, lalu ada Republika. Sesuai dengan background saya di advertising dan marketing, saya bertemu dengan partner saya dan berceritatentang hal ini. Buat saya ini temptation, dan menarik karena datang pada saat yang bersamaan. Mungkin ini sudah jalan dari Yang di Atas buat saya, mengapa tidak saya coba. Selama ini, sudah 8 tahun saya di industri dan pertambangan, jauh dari apa yang saya pelajari di masa kuliah.
Sekolahnya apa?
Saya ambil Advertising, masternya marketing
Setelah kuliah masuk ke bisnis apa?
Bagian keuangan di Bisnis ertambangan. Tapi ini yang paling menarik dalam hidup: kadang-kadang kita mempraktekkan apa yang bukan kita pelajari di sekolah. Tetapi bagi saya kuncinya adalah kalau kita bisa commite dalam hal apapun, kita bisa kasih effort kita yang terbaik. Saya kira selalu ada jalan.
Pertambangannya di bidang apa?
Kapur dan Batubara
Di?
Batubara di sawahlunto dan Riau. Kapurnya ada di Freeport dan Newmont
Bagaimana ceritanya Anda bisa masuk ke bisnis kapur dan batubara?

Sebenarnya ketika itu saya sedang membantu o rang tua di bisnis restoran Hanamasha. Lalu dua teman dekat saya mengajak bisnis sendiri. Lalu saya minta izin kepada orang tua.
Langsung jalan?
Orang tua menyetujui selama masih di luar core bisnis keluarga. Saya diizinkan dan dipinjamkan uang, tanpa bunga lagi.
Usia berapa Anda melakukan itu?
Usia 23
Masuk sendirian atau sama teman?
Kebetulan kedua teman saya background-nya finance dan mereka cita-citanya ingin menjadi Industriawan
Berkembang?
Alhamdulillah
Selain batubara, tadi Anda cerita bisnis keluarga Hanamasa, anda terlibat sebagai apa?
Tahun 1993 waktu itu Hanamasa sedang ada masalah dengan partner, karena kurang transparasi. Ketika saya dating dari luar negeri orang tua minta saya bantu dulu karena sedang ada problem.
Bagaimana ceritanya?
Setelah menjadi manager 6 bulan, saya melihat keadaannya kurang baik di dalamnya. Terjadi mark-up, barang pada satu supplier sehingga harganya tidak kompetitif, apalagi restauran itu kan untungnya sen-senan.
Katanya marginnya gede?
Tidak juga, paling cuma beberapa belas persen untungnya.
Jadi Anda membenahi manajemennya?
Pertama sih culture dari pada company: Kita mesti percaya, kalau mau hidup enak, kita harus kerja bersama-sama. Lalu saya usulkan teamwork. Kita coba. Lalu membetulkan purchasing dan keuangan. Terakhir saya kembangkan system. Di Hanamasa kan tidak perlu memasak, kita hanya sediakan bahan baku dan kita konsentrasi di quality control, bumbu sabu-sabu dan yakiniku. Alhamdulillah selama 2 tahun pertama pembenahan system telah selesai. Hasilnya kita kita bisa lihat: Hanamasa membukan cabang ke 11 di Medan, padahal tahun 1993 cabangnya cuma dua, sempat menjadi empat tapi kemudian tutup lagi.
Itu yang pertama di luar Jawa ? di Jawa dimana saja?
Di Surabaya, Bandung, Bogor lalu Jakarta. Di Jakarta saja sudah 7 cabang sekarang
Jadi modalnya dari sana, pengalaman kerja beranjak dari sana?
Sebenarnya pengalaman kerja saya modalnya dari sana, karena basis restoran sangat bagus, kita harus teliti dan detail. Alhamdulillah setelah itu saya bergabung dengan partner yang lain.
Butuh berapa lama memperbaiki semua ini?
Selama 8 bulan, penerapan system 2 tahun
Itu kerja sendiri atau minta bantuan yang lain?
Teamwork, kecuali business plant-nya
Berapa asset hanamasa saat ini?
Kalau asset saya tidak ingat, tetapi kalau sales sekarang hampir mencapai sampai 20 milyar.
Kta sudah bicara tentang latar belakang, mulai dari bisnis restoran lalu masuk ke pertambangan. Kemudian tiba-tiba ada 3 buah proposal, apakah Anda memutuskan untuk mengambil ketiga-tiganya

Saya melihatnya memang agak ngeri. Tapi, saya melihat media ke depan bahwa media menjadi complement satu dengan yang lainnya. Saya tidak percaya bahwa TV, radio, majalah akan mati. Masing-masing media punya karakter dan komunitasnya sendiri-sendiri. Contoh TV dan Koran. TV mempunyai jangkauan yang lebih luas tapi sulit untuk didokumentasikan, koran bisa dikliping.
Itu tadi TV dan Koran. Bagaimana dengan Radio?
Saya rasa sama. Saya melihat Radio sekarang digunakan sebagai jaringan untuk TV. Kan,kita tidak bisa nonton TV di mobil, jadi lebih afdol dengar radio. Jadi, langkah berikutnya adalah multimedia. Sekarang sudah ada koran ,majalah ,videotron. Radio sudah ada Radio one
Setelah radio, langkah berikutnya apa?
Ya, tentu TV station. Tapi kembali kita melihat dari sisi bisnisnya, visible atau tidak.Kita mesti passion. Bila ada momentum bisnisnya, kita mesti manfaatkan. Contohnya Republika, di tahun 2000 rugi Rp 7 milyar, tahun ini kita tutup buku insya Allah untung Rp 1 milyar. Bagi kami, ini miracle: hanya dalam waktu 8 bulan!
Media is capital intensive, karena itu saya tetap mengusahakan Republika harus listing dan harus right issue kembali. Kita sangat membutuhkan dana untuk pengembangan Republika di 11 daerah. Kami akan mengembangkan Koran dearah Republika dengan bekerjasama dengan pengusaha lokal. Kami memasok berita dari pusat, dan daerah mencari berita lokal. Korannya tetap terbit dengan nama Republika. Kerjsama seperti akan lebih efisien.
Pemain daerahnya siapa?
Pengusaha lokal baik, yang sudah punya brand lokal bahkan yang belum punya brand lokal. Sistemnya seperti franchise tetapi tidak ada fee di depan, atau lebih tepat disebut joint venture.
Kenapa mesti 11, tidak 12 ?
Yang visible baru 11
Anda nggak takut compate dengan Jawa Pos ?
Saya rasa tidak. Alasannya begini: Kompas, koran besar, namanya bisa nationally tetapi ada nggak willing Kompas untuk membangun networking bersama pengusaha daerah bersama-sama memiliki Kompas sebagai satu PT baru gitu di daerah dan dia berani mengorbankan brand Kompas?

Iklan