Manusia menjalani hidup dengan berbagai kecenderungan dan hasrat. Kduanya merupakan software penting bagi manusia yang telah dianugrahkan oleh Allah SWT sehingga perlu adanya keseimbangan antara berbagai aktifitas.

Manusia mempunyai rencana dan cita-cita. “Cita-cita adalah keinginan yang tidak terbatas“, demikian ungkapan Asy-syahid Imam Hasan Al-Bana dan cita-cita tersebut harus direalisasikan secara adil, proporsional dan seimbang. Istilah keseimbangan biasa diartikan dengan istilah “Tawazun” yang berasal dari kata “Al-waznu (=keseimbangan, pelurusan dan kesungguhan) dan istilah “At-tanazu” (=ketertarikan, hasrat, merindukan atau condong pada sesuatu). Jadi tawazun bisa diartikan “memberikan sesuatu haknya tanpa ada penambahan dan pengurangan” (Aqil Musa, 2001:1)

Ibnu Jauzi mengomentarinya :”Betapa sulitnya melanggengkan qiyamulail sambil mewujudkan pola sifat wara dan tetap mengeluti dunia ilmu dengan mengarang, menulis dan berkreasi. Betapa menyesalnya ketika aku tidk mampu menyempatkan dri berkholwat menyendiri bermunajat kepada Allah karena disbukan oleh urusan mengajar dan berbaur dengan sesama manusia. Betapa lemahnya nilai wara ketika bercampur dengan mencari nafkah untuk berkeluarga. padahal aku telah merelakan tersiksa karenanya..”

Seorang Aktifis gimana bisa skala prioritas.
Aktifis sebagai seseorang yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan suatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya. mereka selektif dalam memilih organisasi, bukan sekedar mencari kegiatan semata tapi didlaamnya harus ada nilai yang bisa memperkokoh pribadinya. lalu seimbangakan berbagai aktifitas sesuai dengan skala prioritasnya dengan berbagai kecenderungan :

  • Kecenderungan menutut ilmu, seorang aktifis harus menjaga keseimbangan antara semangat menuntut ilmu dengan menyucikan hati. sebab bila tidak seimbang bisa menyebabkan jiwa ekstrim, pemberontak dan terlalu percaya diri sehingga akan melupakan konsep spiritual. Sebaliknya terlalu tekun untuk menghaluskan hati akan mewarisi sifat penakut dan malas bahkan merasa puas dengan apa yang diterimanya.
  • Kecendrungan beribadah dengan aktifitas sehari-hari. sangat riskan aktifis tidak pernah mengkaji ilmu agama dan menyepelekan ibadah sehingga berakibat hatinya hampa.
  • kecenderungan berorganisasi tetapi melupakan hak-hak orang disekeliling kita. keluarga harus dipenuhi haknya untuk mendapat perhatian dan keluarga bisa dijadikan sebagai motivator dan alat kontrol keseimbangan aktifitas kita.
  • kecenderungan akan popularitas dengan keharusan tanpil sebagai pemimpin, hal ini berkaitan dengan nilai keikhlasan dalam berorganisasi.

Beberapa kaidah bagi seorng aktifis :
pertama, persipan pribadi yang jelas visi dan misi dalam berorganisasi dengan modal seperti : proaktif, displin dalam komitmen, selalu menghatur strategi, mau mengoreksi dan dikoreksi, tegas dan banyak aksi, bisa menjadi contoh prilaku, bertanggungjawab dan optimis serta memahami agama dengan baik.
kedua, memahami kemampuan dan keterbatasan sendiri (kemmpuan inteletual dan emosional perlu dibina dengan melakukan sesuatu sesuai dengan batas kemapuan)
ketiga, optimalkan pengunaan waktu dan cita-cita tinggi (permasalahan awal dari ketidakmampuan adlah buruknya manajemen waktu dan rendhnya dorongan berprestasi, rasa puas dan cukup dengan kondisi keimanan dan kualitas diri)
keempat, mengetahui skala prioritas (mengetahui urutan maal dan prioritas serta mengklasifikasikan berbagai masalah sehingga terhindar dari ketidakteraturan kegitan)
kelima, tidak terburu-buru menghadapi sesuatu segera terwujud. (harus dibedakan antara tergesa-gesa dan semangat, militansi dan etos kerja)
keenam, melihat secara utuh persolan( setiap orang menginginkan keseimbangan dalam hidupnya, ia harus menyelmatkan akalnya dari cara pandang sempit sebab akan melemahkan fungsi akal sendiri, mematikan daya kreatifitas manusia, menyeret kejalan latah serta menghalang untuk memperoleh manfaat orang lain)

Seorang aktifis bila digambarkan seekor elang maka kepakan sayapnya adalah cermin kekhusuan, paduan antara keseriusan, kerja keras, kesungguhan dan konsentrasi yang mendlam. Tak ada ruang kosong antara idealisme dan realisme karena ujung tali kedunya telah tersimpul oleh ikatan thumuh. thumuh mereka telah menjelma menjadi padang luas yang kelelahan mengitarinya. “Bila jiwa itu besar, raga akan lelah mengikuti kehndaknya” Ibnu jauzi mengingatkan ” sesunguhnya ada sebagin kaum yang tidak rela pad dirinya, kecuali harus mencpai seluruh keutaman, mereka bersungguh-sungguh dalam setiap ilmu, ibadah, sabar dn istiqomah. ketika fisik telah lelah, maka semnaagt yang ad dihati merekalah yang menggnatikanya dan mereka saling berlomba dalam hal itu”

Referensi :
Manajemen tawazun dalam kehidupan muslim, Muhamamad bin Hasan bin aqil Musa, Al-Itishom, Jakarta, 2001.
Fiqih prioritas urustan amal yang terpenting dari yang terpenting, Dr Yusuf Qordhowi, Gema Insani press, jakarta, 2000.
Sabili no 5 th VIII, tanggal 23 agustus 2000
Al-Izzah no 20 th II, agustus 2001