James Burke, CEO Johnson & Johnson  menceriterakan pengalamannnya pada saat awal bergabung di Johnson & Johnson sebelum menjadi CEO. Ia membuat “prestasi” yang mengesankan ketika ia mengembangkan produk baru. Perusahaan rugi satu juta dolar ! Produk barunya gagal total di pasaran. Ia merasa yakin, bahwa ia akan dipecat.   Pimpinan  perusahaan pada waktu itu, Jenderal Johnson,  memanggilnya dan berkata,” Saya tahu anda kehilangan satu juta dolar, karena produk itu”. “Ya pak, itu benar” jawab Burke.  Kemudian Jenderal Johnson bangkit dari duduknya dan menyalaminya, seraya berkata , “ Saya hanya ingin mengucapkan selamat. Bisnis penuh dengan pengambilan keputusan, dan jika anda tidak membuat kesalahan anda tidak pernah gagal.”   Dia kemudian mengatakan lebih lanjut kepada Burke, bahwa pekerjaan yang paling sulit yang pernah dialaminya adalah menyuruh orang membuat keputusan. Ia menambahkan , jika Burke mengulangi kesalahan yang sama tentu saj ia akan memecatnya. Kemudian ia berkata, “ Saya berharap anda membuat lebih banyak keputusan lagi, dan nanti anda menemukan, bahwa  lebih banyak kegagalan  dibanding sukses”.

Cerita di atas menggambarkan salah satu peran manajer yang sangat sulit adalah peran sebagai pengambil keputusan. Orang-orang yang menyadari bahwa mengambil keputusan merupakan peran yang diembannya akan menapak karir lebih tinggi.

Peran pengambil keputusan yang harus diemban seorang manajer mempunyai beberapa aspek. Pertama adalah peran sebagi entrepreneur, yang mencari peluang dan inisiator untuk memulai program-program yang memberikan dampak perubahn positif bagi perusahaan. Kedua, adalah peran sebagai disturbance handler, yang bertanggungjawab untuk melakukan tindakan koreksi pada saat perusahaan mengalami kesulitan, terutama dalam kondisi kritis dan tak terduga. Hal ini dilakukan Burke ketika Johnson & Johnson menghadapi krisis dalam tragedi Tylenol beracun. Ketiga, peran sebagai resources allocator, yang bertanggungjawab mengalokasikan sumber daya untuk berbagi kepentingan. Keempat, perannya sebagai negosiator, yang bertanggungjawab untuk mewakili perusahaan dalam berbagai proses negosiasi, baik dalam kaitannya dengan karyawan internal maupun dalam suatu negosiasi antar  organisasi.

Peran lain dari seorang manajer adalah peran interpersonal dan peran informasional. Dalam peran interpersonal meliputi peran sebagai figurehead, sebagai leader, dan sebagai liasion.  Peran sebagai figurehead menempatkannya  sebagai  pemimpin simbolis yang mewakili perusahaan dalam acara-acara resmi, sosial, dan legal.  Peran sebagai leader mengharuskannya untuk memimpin, mengarahkan, dan memotivasi bawahan.  Sedangkan perannya sebagai liaison menuntutnya untuk membentuk jejaring (network) dengan pihak internal, maupun ekstrenal organisasi.

Peran informasional mensyaratkan manajer untuk melaksanakan tiga fungsi yaitu memantau (monitoring), disseminator, dan spokesperson. Dalam monitoring manajerdiharapkan untukmereview informasi dari kalangan internal maupun eksternal. Sebagai disseminator, manajer wajib untuk mendistribusikan informasi dari pihak eksternal maupun dari level manajemen  yang lebih tinggi.  Di samping itu manajer juga harus bertindak sebagai  sopekes person yang menyampaikan informasi kepada pihak di luar perusahaan.

Berbagai peran untuk manajer di atas, tampaknya tidak mungkin dituangkan dalam job description. Tetapi peran tersebut  harus tetap diemban dengan baik, sehingga dibutuhkan penghayatan peran (role awareness).

Peran Dalam Organisasi

Dunia ini adalah panggung sandiwara. Tiap orang harus memerankan apa yang telah digariskan oleh sang sutradara. Ungkapan ini sering kita dengar, juga dalam lagu. Dalam sebuah   masyarakat tiap individu memang harus mempunyai peran tertentu, tetapi tentu saja bukan sebuah sandiwara.

Masyarakat sering diandaikan sebagai sebuah struktur. Tiap-tiap orang mempunyai  posisi dalam struktur itu yang disebut status sosial. Dalam suatu status sosial tersimpan sebuah peran sosial (social role) yang berisi harapan-harapan masyarakat bagiamana sebaiknya bertingkah laku yang “benar” bagi seseorang yang berada dalam posisi tersebut.  Seorang guru harus bertindak sebagai seorang tokoh teladan bagi murid-muridnya. Seorang tokoh agama harus menjadi ‘penjaga’ nilai-nilai agama.  Sehingga seorang individu harus bertingkah laku seperti rambu-rambu  telah di desain oleh “sutradara” yang bernama masyarakat.

Masyarakat adalah sebuah organisasi yang besar dengan batas-batas struktur yang tipis. Sementara perusahaan  merupakan organisasi yang ketat strukturnya. Selain mempunyai struktur yang dapat “digambar”, posisi masing-masing indvidu dideskripsikan secara jelas dalam sebuah jabatan.  Namun job description terlalu sempit untuk mengatur seluruh tingkah laku yang berkaitan dengan perannya dalam organisasi, karena di samping struktur formal yang nampak, sebenarnya seorang individu juga berada dalam struktur informal.

Seorang karyawan mempunyai persepsi tertentu dengan perannya (role perception), yang merupakan sudut pandang seseorang mengenai bagaimana ia harus bersikap dan bertingkah laku dalam suatu situasi. Sementara organisasi dan kelompok mempunyai harapan-harapan tertentu bagaimana seharusnya  seorang pemegang peran bersikap dan bertingkahlaku (role expectation).

Persepsi peran sangat dipengaruhi oleh latar belakang individu pemegang peran, dan tidak selalu selaras dengan role expectation dari perusahaan. Harapan perusahaan ini tersirat dari “psychological contract”.

Role perception yang bersifat individual ini harus diselaraskan terlebih dahulu  role expectation perusahaan, agar tidak timbul ketidakjelasan  peran (role ambiguity). Kemudian ditanamkanpenghayatan peran (role awareness) bagi SDM organisasi. <Male Emporium>