Tulisan dari ‘RESENSI BUKU’ Kategori

KONSEP PRILAKU INDIVIDU DALAM ORGANISASI


PENDAHULUAN

Setiap usaha untuk mengetahui mengapa orang berperilaku seperti yang dilakukannya dalam organisasi, memerlukan pemahaman tentang perbedaan individu. Manajer memerlukan waktu untuk mengambil keputusan tentang kecocokan antara individu, tugas pekerjaan, dan efektifitas. Penilaian seperti itu lazimnya dipengaruhi oleh karakteristik manajer dan bawahannya. Pengambilan keputusan tentang siapa akan melaksanakan tugas apa dengan cara tertentu tanpa mengetahui perilaku dapat menimbulkan persoalan jangka panjang yang tak dapat diubah lagi.Setiap pegawai mempunyai perbedaan dalam banyak hal. Seorang manajer harus mengetahui perbedaan tersebut mempengaruhi perilaku dan prestasi bawahannya.

Dennan begitu para menejer harus mampu memuaskan kebutuhan individu untuk proses pemberian motivasi (dorongan) kepada para pegawai agar mereka mau dan suka bekerja sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Menjadi seorang pemimpin harus bersiap terjun dalam setiap masalah yang ada dalam organisasi,sehingga setiap masalah dapat terencana dan mampu diselesaikan dengan baik.

Menejer dikategorikan sebagai pemecah masalah dalam organisasinya dengan itu menejer hatus mampu mengambil keputusan secara tepat dan akurat,sehingga menghasilkan keputusan yang berbobot yang bisa diterima dan diakui bawahan. Ini biasanya merupakan keseimbangan antara disiplin yang harus ditegakkan dan sikap manusiawi terhadap bawahan. Keputusan yang demikian ini juga dinamakan keputusan yang mendasarkan diri pada relasi sesama.

Menejer berperan penting dalam terbentuknya tim yang kokoh pada organisasi yang akan memajukan organisasi tersebut sehinggan tujuan organisasi dapat tercapai dengan hasil yang direncanakan.Terbetuknya tim yang kokoh harus memiliki dasar yang penting dalam setiap anggota organisasi yaitu kepercayaan yang harus di bangun dalam sebuah tim yang bersumber dari beberapa arah.kesepakatan dibuat untuk mengatur perilaku seseorang maupun sekelompok orang agar tercipta harmoni dalam rangka mencapai tujuan bersama. Kerja sama dan dukungan untuk membangun komitment di dalam sebuah tim kerja, karena kita semua percaya bahwa tidak ada satupun manusia yang sempurna.

Untuk menggenggam tugas dalam memahami variabel individu,memotivasi,pengambilan keputusan dan membangun tim yang kokoh diperlukan seorang menejer yang memiliki kecerdasan transformasional yang menguasai kecerdasan intelektual,kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang tinggi agar organisai tersebut terus berkembang dan menghasilkan perencanaan baru serta karya yang baru.

 MEMAHAMI  INDIVIDU DALAM ORGANISASI

Homo homini socius bahwa manusia adalah makhluk sosial. Psikologi adalah studi tentang perilaku manusia. Psikologi sosial membahas bagaimana individu/kelompok dapat mempengaruhi dan mengubah perilaku orang lain. Psikologi keorganisasian secara khusus membahas perilaku manusia dalam lingkungan keorganisasian dan meneliti pengaruh organisasi terhadap individu dan pengaruh individu terhadap organisasi. Sosiologi berusaha memberikan arti dan menguraikan perilaku kelompok dan berusaha keras mengembangkan perumusan tentang sikap manusia, interaksi sosialnya, dan kebudayaannya. Antropologi memberikan pengetahuan dan konsep yang luas tentang kebudayaan manusia, bagaimana perilaku sosial, teknis, dan keluarga. 

Keith Davis dan John W Newstrom (1993) : empat asumsi dasar memahami  manusia :

  1. Perbedaan individu, manusia dilahirkan membawa keunikan masing-masing. Dengan memahami perilaku tertentu seseorang, kita akan memahami dan mencari variable penyebab perbedaan prestasi individu. Variabel yang mempengaruhi perilaku individu a.l. : a)variable fisiologis (fisik dan mental), b)variable psikologis (persepsi, sikap, kepribadian, belajar, motivasi), c)variable lingkungan (keluarga, kebudayaan, kelas sosial). Gibson, dkk tentang perilaku individu : (a)perilaku timbul karena ada stimulus atau motivasi, (b)perilaku diarahkan kepada tujuan, (c)perilaku yang terarah pada tujuan dapat terganggu oleh frustasi, konflik, dan kecemasan.
  2. Orang seutuhnya, seorang manusia perlu dilihat secara utuh, bukan sepotong-sepotong, karena dapat menyesatkan pandangan orang terhadapnya.
  3. Perilaku termotivasi, sebab mengapa seorang karyawan bekerja lebih baik daripada karyawan lain? Gibson, dkk : a.l. sebab beda kemampuan, naluri, imbalan intrinsik, dan ekstrinsik, tingkat aspirasi dan latar belakang seseorang. Campbell dkk (1970) : motivasi berkaitan dengan (a)arah perilaku, (b)kekuatan respon, setelah memilih mengikuti tindakan tertentu, (c)ketahanan perilaku, berapa lama terus-menerus berperilaku tertentu.
  4. Martabat/nilai manusia, unsur manusia perlu dibedakan dari unsur lain. Miftah Thoha : perbedaan karakteristik manusia, beda pengetahuan, kemampuan, kebutuhan, kepercayaan, pengalaman, pengharapan, dll.

Masalah yang paling vital dalam organisasi yang menjadi tantangan manajer adalah : manusia dan perilakunya. Tiga pendekatan dalam memahami terjadinya perilaku :

1.      Pendekatan Kognitif

Pengenalan cenderung bersifat individual. Sumber teori = Psikologi. Littlejohn (1992)  : kaitan antara stimuli (S) yang berfungsi sebagai masukan (input) dan jawaban/respon (R) berupa perilaku yang berfungsi sebagai keluaran (output), ada pemrosesan informasi. Miftah Thoha (1983) :  perilaku tersusun secara teratur. Ada rangsangan/pemrosesan untuk mengetahui/mengenal (cognition), lalu dijawab dengan perilaku.

2.  Pendekatan Kepuasan

Adanya faktor dalam diri yang menguatkan (energize), mengarahkan (direct), mendukung (sustain), dan menghentikan (stop) perilaku.

Abraham H. Maslow, teori hierarki kebutuhan : a)manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda yang ingin dipenuhinya, b)kebutuhan yang mendesak dipenuhi lebih dulu, itulah yang menyebabkan orang berperilaku, c)kebutuhan yang sudah terpenuhi tidak lagi menjadi pendorong perilaku. Dikenal dengan 5 jenjang kebutuhan :

  1. kebutuhan fisiologis (makan, minum, tempat tinggal, seks, dll)
  2. keselamatan dan keamanan  
  3. afiliasi, sosial, dan cinta
  4. Penghargaan/status
  5. Aktualisasi diri.

Catatan penting dalam teori ini : a)asumsi, manusia mempunyai kebutuhan untuk berkembang dan maju, b)adanya kebutuhan tingkat tinggi, yaitu Penghargaan dan Aktualisasi Diri, c)kebutuhan yang belum dipenuhi sama sekali dapat menimbulkan kesulitan bagi manajer, berupa frustasi, konflik, dan tekanan intern.

3.  Pendekatan Psikoanalitik

Pendekatan ini menunjukkan bahwa perilaku manusia dikuasai kepribadian dan personalianya.

a. Einstein : mengapa dasar pembawaan halus dan gerak hati manusia dapat menimbulkan perilaku agresif?  karena keterbatasan pengendalian dirinya?

b. Sigmund Freud (pelopor psiko-analis) : menjawab surat Einstein : manusia mempunyai naluri/instict yang mudah menyulut semangat berperang, naluri untuk menghancurkan, ada 2 pendorong kehidupan manusia : (1)Eros = naluri untuk hidup, kecenderungan untuk bersatu, penjagaan diri, seks, dan cinta. (2)Thanatos = harapan kematian yang menghimpun manusia ke arah kehancuran. Ada mekanisme pertahanan untuk menyesuaikan keinginan sebagai kenyataan eksternal dan nilai-nilai internal (kesadaran). 3 unsur yang menimbulkan konflik (a)id (das-es) : mendasarkan pada kesenangan, tidak rasional, impulsive, condong pada apa yang dirasa baik, (b)ego (das-ich) : logika, yang mungkin/tak mungkin, patut/tidak, jalan tengah, (c)superego (das-uberich) : alam ketidaksadaran manusia, hati nurani, moral, nilai-nilai individu, condong pada yang dirasa benar.

c. Gibson dkk : sikap adalah kesiap-siagaan mental yang diorganisasi dengan pengalaman, tanggapan orang lain, objek dan lain-lain yang bersifat tetap dan berubah, tergantung tingkat pemahaman terhadap lingkungan. Sikap menentukan perilaku sebab sikap berhubungan dengan persepsi, kepribadian, belajar, dan motivasi. Kepribadian dipengaruhi faktor budaya dan sosial; (1)kepribadian adalah keseluruhan yang terorganisasi bila tidak maka individu tidak mempunyai arti, (2)pola-pola kepribadian dapat diamati dan diukur, (3)kepribadian memiliki dasar biologis yang berkembang dan berubah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan budaya, (4)kepribadian punya segi-segi yang dangkal (ingin menguasai) dan inti yang lebih dalam (sentimen, perasaan wewenang), (5)kepribadian mencakup ciri yang umum dan khas, tiap orang berbeda tapi ada hal-hal yang sama.

d. Porter / Samovar : isi dan pengembangan sikap dipengaruhi kepercayaan & nilai-nilai yang dianut.

e. Solomon E Asch : semua sikap bersumber pada organisasi kognitif, yaitu informasi dan pengetahuan yang dimiliki seseorang. Sikap pada seseorang/sesuatu tergantung “citra” kita pada itu. Citra diperoleh dari sumber-sumber informasi.

f. Leon Festinger : Disonansi Kognitif : suatu keadaan bila terjadi ketidaksesuaian antara komponen kognitif dan komponen perilaku, yaitu suatu bentuk yang tidak konsisten dan tidak disenangi sehingga orang itu mengurangi disonansi untuk mengembalikan ke keadaan semula. Kesenjangan antara sikap dan perilaku adalah karena tidak ada konsistensi antara sikap yang tersembunyi dan perilaku yang  terbuka.

g. Russel G Geen (1976) ingin menjawab, bagaimana orang bereaksi terhadap tekanan hidup, mengatasi, dan apa yang terjadi bila penyelesaian itu tidak efektif. Kepribadian adalah seperangkat perilaku yang membentuk karakter respon seseorang terhadap situasi dan waktu tertentu.

h. Salvatore R Maddi (1980) : Kepribadian adalah ciri yang relatif mantap, kecenderungan dan perangai yang dibentuk dari faktor keturunan, lingkungan, sos-bud. Kekuatan-kekuatan yang membentuk kepribadian :

  1. keturunan
  2. kebudayaan
  3. hubungan keluarga
  4. kelas sosial, kelompok dll.

Tiga pendekatan Teori Kepribadian :

a)  Pendekatan Ciri (Traits)

Gordon Allport (1966), ciri (traits) adalah kecenderungan yang dapat diduga, mengarahkan perilaku individu pada konsistensi dan khas, sifat menetap dengan jangkauan umum dan luas, bagian yang membentuk kepribadian, petunjuk jalan tindakan, dan sumber keunikan. 3 asumsi ciri : (1)membuat berbagai stimulus (S) berfungsi sama, (2)penyebab perilaku dan alat menjelaskan/mengurai perilaku, (3)pembentukan ciri terpisah secara kultural

b)   Pendekatan Psikodinamik

yaitu teori Sigmund Freud tentang id, ego, dan superego. Kepribadian dibentuk dari pengalaman ketika kecil, proses mental sehingga 3 unsur itu menyusun. Konflik membentuk 3 unsur itu maka konflik membentuk kepribadian.

c)   Pendekatan Humanistik

Carl Rogers (1977) : harus mendengar apa yang dikatakan orang lain mengenai diri kita, mempersepsikan dunia dan kekuatan yang mempengaruhi, kemudian mengaktualisasi diri sebagai usaha terus-menerus mewujudkan potensi dengan cara berpusat pada masalah, kreatif, demokratis, mengadakan hubungan pribadi, dan menerima orang lain apa adanya. Kelemahannya : condong ke individualis.

Dua faktor penghubung kepribadian dan perilaku:

1. Locus of control (tempat pengendalian)

Rotter : seseorang menguasai nasib diri sendiri, dikendalikan oleh kekuatan dalam diri sendiri disebut : orang internalizer. Mereka yang dikendalikan dari luar disebut : externalizer. Sifat orang internalizer lahir karena : tidak merasa ditekan orang lain, perilaku berpusat pada pekerjaan, berprestasi tinggi, tidak emosional.

2. Androginy  (konsep kejantanan & kewanitaan)

Sandra L Bem (1974) : sifat jantan = ambisi, percaya diri, dll. Sifat wanita = kasih sayang, lemah lembut dll. Sifat netral =jujur, bahagia, dll. Androgini adalah mereka yang mendapat nilai tinggi secara bersamaan pada dimensi jantan/wanita. Sifat orang androgini : lebih bebas, mengenali dirinya, suka membantu.

Spence dan Helmreich (1978) : orang androgini = harga diri tinggi, pandai bergaul, orientasi pada hasil tinggi.Sedang Davis & Newstrom : peran adalah pola tindakan yang diharapkan dari budaya tsb seseorang atau pola perilaku yang diharapkan pada posisi tertentu yang mencerminkan hak, kewajiban, dan tanggung jawab posisi.

Role set = pelbagai peran yang berbeda-beda. Role conflict = konflik peran yang menyebabkan emosi dan keraguan dalam melangkah. Szilagyi (1977) : ketepatan persepsi peran dapat mempengaruhi penentuan hasil karya dalam organisasi.

 MOTIVASI INDIVIDU

Berbagai pendapat dari para ahli mengenai motivasi yang dapat disimpulkan sebagai berikut; Motivasi adalah dorongan untuk berbuat sesuatu (drive) didalam memenuhi kebutuhan. Keinginan pencapaian dalam memenuhi kebutuhan tersebut tergantung dari kekuatan motifnya. Motif dengan kekuatan yang besar akan menentukan perilaku individu. Dengan kata lain motif adalah kebutuhan, dorongan, atau impuls yang menentukan perilaku seseorang.Disadari bahwa tingkat kepuasan individu manusia berbeda-beda, begitu pula  dengan tingkat kebutuhan manusia juga berlainan, hal ini perlu dipahami oleh seorang wirausaha didalam memotivasi pekerjanya. Disamping itupula seorang wirausaha perlu mengenali kekuatan motif diri sendiri sehingga dapat menjaga kesimbangan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dari penjelasan dan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa seorang wirausaha sebagai pemimpin dalam usahanya, harus memahami tentang motivasi. Pekerjaan seorang pemimpin yang paling penting antarlain adalah, bagaimana dia bisa memotivasi  orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pencapaian tujuan inilah yang menjadi patokan atau ukuran keberhasilan bagi seorang wirausaha.

Seorang wirausaha harus memahami betul bagaimana cara memotivasi pekerja dan mengenal motivasi diri sendiri sehingga menghasilkan perilaku positif yang membuahkan output/hasil kerja meningkat yang pada akhirnya tujuan yang ditetapkan tercapai.

Dikalangan para praktisi manajemen telah lama diketahui bahwa masalah motivasi bukanlah masalah yang mudah, baik memahami apalagi menerapkannya. Karena berbagai alasan dan pertimbangan. Akan tetapi yang jelas bahwa dengan motivasi yang tepat para individu bawahan atau pengikut akan terdorong untuk berbuat semaksimal mungkin dalam pekejaannya. Inilah inti pekerjaan seorang wirausaha sebenarnya, selain memahami bisnis yang dilakukannya,  Iapun harus memahami perlakuan motivasi apa yang tepat bagi   para pengikutnya sehingga kinerja dapat meningkat

Suatu hal penting dalam motivasi  yang perlu diperhatikan   bagi seorang wirausaha yaitu model motivasi yang mengkaitkan antara imbalan dan prestasi. Model tersebut didasari atas berbagai model motivasi yang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan-kelebihan dari model yang ada oleh para ilmuwan digabungkan menjadi satu model.

Menurut Sondang P. Siagian (2005: hal. 293-294). Tampaknya ada kesepakatan dikalangan para pakar, bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengkaitkan imbalan dengan prestasi kerja seorang karyawan.

Model ini menggambarkan bahwa motivasi seseorang  dipengaruhi berbagai faktor , baik bersifat internal maupun eksternal sebagai berikut;

1.  Faktor Internal

Bagi seorang wirausaha faktor ini merupakan pengenal motivasi diri pribadi, bagaimana individu tersebut mempunyai dorongan untuk usaha lalu motif apa yang dominan dalam memilih untuk menjadi wirausaha.

Dalam teori ini dkenalkan  2 kebutuhan atau motif yang perlu diketahui yaitu:

1.Fisiologis.

Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan dasar manusia berupa; sandang, pangan dan papan. Kebutuhan ini merupakan faktor yang paling mendasar, bahwa seseorang yang memilih menjadi wirausaha atau pekerja pertama kali adalah didorong oleh kebutuhan dasar yang menjadi tuntutan hidupnya. Tinggal bagaimana tuntutan kualitas dari kebutuhan tersebut terpenuhi, karena masing-masing individu berbeda dalam memenuhi kebutuhan dasar itu.

Ada individu cukup puas dengan apa yang dihasilkan dan menerima dengan kualitas minimum, namun banyak individu lainnya tidak puas  dengan kualitas kebutuhan dasar yang diterimanya dan menginginkan peningkatan dan perubahan. Banyak penelitian dari para ahli perilaku menunjukkan bahwa, tingginya tujuan yang ingin dicapai berkorelasi secara signifikan dengan kebutuhan dasar yang ingin dicapai. Kita sering melihat dalam kehidupan sehari-hari yang ditemui, bahwa  seaorang pekerja atau wirausaha yang cukup puas dengan apa yang diterimanya maka orang tersebut tidak mempunyai keinginan untuk menetapkan tujuan hidup yang lebih tinggi. Tidak ada keinginan untuk meningkatkan kemampuan, tidak mempunyai  kreatifitas dan inovasi yang tinggi dalam bekerja atau berusaha.

2. Psikologis

Selain kebutuhan fsiologis, seorang wirausaha juga perlu mengenal kebutuhan psikologis yang menjadi penyebab meningkatnya prestasi individu. Yang pada dasarnya bahwa individu setelah terpenuhi akan kebutuhan fsiologis maka seseorang akan menuntut akan kebutuhan yang lain  dalam hal ini kebutuhan psiologis seperti;

  • Kebutuhan akan kasih sayang, seseorang yang sudah terpenuhi akan kebutuhan dasar diatas, maka individu tersebut membutuhkan jalinan kasih sayang dengan keluarga maupun membentuk keluarga bagi yang belum berkeluarga.
  • Kebutuhan mempertahankan diri,  tuntutan kebutuhan ini berkaitan dengan mempertahankan harga diri seperti  untuk tidak dipermalukan, kehilangan muka serta mempertahankan prestise.
  • Kebutuhan memperkuat diri, kebutuhan ini berkaitan dengan tuntutan individu akan pengembangan diri, menaikan prestise dan mendapat pengakuan diri, serta memuaskan diri dengan dapat menguasai orang lain.

Kebutuhan-kebutuhan yang diuraikan diatas harus dipahami benar bagi seorang manajer atau wirausaha, hal ini berguna dalam motivasi diri sendiri maupun memotivasi orang lain.

2.   Faktor Eksternal.

Teori ini menjelaskan faktor-faktor yang dikendalikan melalui pengaruh yang dipunyai oleh seorang manajer atau wirausaha yang berupa imbalan-imbalan sebagai berikut:

  • Gaji
  • Kondisi kerja
  • Penghargaan
  • Jenjang karier
  • Tanggung jawab

Bahwa seseorang pekerja termotivasi untuk bekerja lebih baik tergantung dari faktor yang dikendalikan oleh seorang pemimpin perusahaan atau seorang wirausaha dan interaksi positif antar dua faktor tersebut yang pada umumnya menghasilkan tingkat motivasi yang tinggi.

Teori motivasi eksternal tidak mengabaikan teori motivasi internal, tetapi justru mengembangkannya. Teori motivasi eksternal menjelaskan kekuatan yang ada didalam individu yang dipengaruhi factor-faktor intern yang dikendalikan oleh manajer atau seorang wirausaha berupa imbalan-imbalan seperti diuraikan diatas.

Manajer perlu memahami dan mengenal motivasi eksternal untuk mendapat tanggapan positif dari karyawannya. Tanggapan yang positif ini menunjukkan bahwa bawahan-bawahannya sedang bekerja demi kemajuan organisasi. Seorang manajer dapat mempergunakan motivasi eksternal yang positif maupun yang negatif. Motivasi posiif memberikan imbalan-imbalan berupa penghargaan untuk pelaksanaan kerja yang baik. Motivasi negatif memperlakukan hukuman bila pelaksanaan kerja tidak baik. Keduanya dapat dilakukakan oleh pimpinan perusahaan. Teori McGregor dan Herzberg akan membantu menjelaskan teori motivasi eksternal berikut ini.

Teori X dan teori Y McGregor

Teori motivasi yang menggabungkan motivasi internal dan motivasi eksternal dikembangkan oleh Douglas McGregor, Ia seorang psikolog sosial Amerika, dalam proyek risertnya meneliti tentang motivasi dan perilaku umum tentang anggota organisasi, telah merumuskan perbedaan dua teori dasar mengenai perilaku manusia. Kedua teori itu disebut dengan nama teori X dan teori Y.

Teori tradisional mengenai kehidupan organisasi banyak diarahkan dan dikendalikan atas dasar teori X adalah:

  1. Rata-rata para pekerja itu malas, tidak suka bekerja dan akan menghindar bila dapat.
  2. Karena pada dasarnya tidak suka bekerja, maka harus dipaksa, dkendalikan, diperlakukan dengan hukuman, dan diarahkan untuk pencapaian tujuan organisasi
  3. Rata-rata pekerja lebih senang dibimbing, berusaha menghindari tanggung jawab, mempunyai ambisi yang kecil, keamanan drnya diatas segala-galanya.

Teori X ini masih banyak digunakan dalam organisasi-organisasi, karena para manajer percaya bahwa anggapan-anggapan itu benar, dan banyak sifat-sifat yang dapat diamati dari perilaku manusia sesuai dengan anggapa-anggapan tersebut. Namun teori X tidak dapat menjawab seluruh fakta yang ada yang terjadi dalam organisasi. Oleh karena itu McGregor  menjawabnya dengan teori Y, yang dinyatakan lebih realistis. Menurut teori Y  kodrat perilaku manusia tidak sesuai dengan anggapan teori X. Mereka berperilaku seperti anggapan teori X karena mereka memperoleh perlakuan tertentu dalam oganisasi.

Angapan-anggapan teori Y adalah:

  1. Usaha phisik dan mental yang dilakukan manusia dalam bekerja adalah kodrat manusia, sama halnya dengan bermain atau beristrirahat.
  2. Rata-rata manusia bersedia belajar, dalam kondisi yang layak , tidak hanya menerima tetapi mencari tanggung jawab.
  3. Ada kemampuan yang besar dalam kecerdikan, kreatifitas, dan daya imajinasi dalam memecahkan masalah-maslah dalam organisasi yang secara luas tersebar pasa seluruh karyawan.
  4. Pengendalian ekstern dan hukuman bukan satu-satunya untuk mengerahkan usaha pencapaian tujuan organisasi.
  5. keterikatan pada tujuan organisasi adalah fungsi pengharagaan yang diterima karena prestasinya dalam pencapaian tujuan tersebut.
  6. organisasi seharusnya memberikan kemungkinan orang untuk mewujudkan potensinya, dan tidak digunakan sebagian.

Anggapan-anggapan  teori Y ini dapat lebih mengarahkan tercapainya  motivasi yang lebih tinggi dan menaikkan kemungkinan kebutuhan individu dan tercapainya tujuan organisasi. Dasar utama teori Y adalah integrasi dan kerjasama. Dengan integrasi, para karyawan dapat mencapai tujuan mereka sendiri melalui sumbangannya dalam pencapaian tujuan organisasi dimana dia mengikat diri.

Perlu dipahami, bahwa motivasi eksternal seharusnya cukup fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan setiap keunikan orang dalam organisasi. Para karyawan seharusnya tidak untuk cocok dengan satu teori yang kaku atau pandangan manajer atau pimpinan perusahaan. Hal ini belaku juga pada penerapan teori X dan teori Y yang dicetuskan McGregor.

Pendekatan-pendekatan terhadap Motivasi.

Motivasi dapat dipandang sebagai suatu proses psikologi dasar yang terdiri atas berbagai kebutuhan, dorongan dan tujuan. Pendekatan hubungan manusia tradisional pada umumnya tidak menyadari pentingnya proses hubungan ini. Pandangan tersebut didasarkan pada 3 asumsi berikut ini:

  1. Personalia terutama dimotivasi secara ekonomis, perasaan aman serta kondisi kerja yang baik.
  2. Pemenuhan ketiga hal itu akan mempunyai pengaruh positif pada semangat kerja mereka.
  3. Ada korelasi positif antara semangat kerja dan produktivitas.

Dengan tiga asumsi ini, masalah motivasional yang dihadapi manajer relatif mudah dipecahkan dan diselesaikan. Semua hal yang harus dilakukan manajemen menyangkut rencana-rencana insentif moneter, jaminan keamanan, dan pengaturan kondisi kerja secara baik; semangat kerja akan meningkat dan produktivitas maksimum akan tercapai. Banyak ahli hubungan manusia, psikologi industri dan teknisi industri mendukung pendekatan ini, dan kemudian para personalia manajer mengimplementasikan dalam praktek.

Dalam kenyataannya, pendekatan hubungan manusia tradisional tidak sepenuhnya berjalan dalam praktek. Telah terbukti pendekatan ini terlalu sederhana untuk dapat memecahkan masalah masalah motivasional yang kompleks yang dihadapi manajemen. Ketiga asumsi menjadi tidak valid atas dasar pembuktian melalui pengalaman dan penelitian. Motivasi manusia jauh lebih kompleks dan berbeda dari pendekatan ekonomik, keamanan dan kondisi kerja yang disarankan. Pendekatan tradisional hanya mengungkapkan permukaan masalah motivasi yang sangat kompleks. Ada sejumlah variabel-variabel internal dan lingkungan yang mempengaruhi motivasi untuk bekerja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ON MISSION AND LEADERSHIP


 

  • Author : The Drucker Foundation
  • Editor : Frances Hesselbein and Rob Johnton
  • Publisher : Jossey-Bass
  • Published Year : 2002
  • Pages : 200 pages

On Mission and Leadership adalah buku karya Frances Hesselbein dan Rob Johnton yang secara khusus menggali tentang peran vital misi dalam kepemimpinan. Sebagai bagian dari Leader to Leader Guide, yang merupakan inspirasi dan informasi dari para pemikir terkenal, buku ini menghadirkan para pemikir top tentang kepemimpinan yang memberi inspirasi, visi dan manajemen yang fokus pada misi.

Menurut Hesselbein (2002), saat ini para pemimpin, baik di bidang bisnis, sektor nirlaba, maupun pemerintahan, belajar untuk berbicara dengan istilah yang dapat diketahui secara umum. Istilah ini adalah istilah yang terkait dengan visi (VISION), nilai (VALUS) dan misi (MISSION) organisasi, tentang strategi yang berdasarkan ketiga hal tersebut, tentang pelayanan kebutuhan konsumen; apapun tujuan, produk atau pelayanan yang diberikan oleh organisasi tersebut.

Keunggulan Dari Kepemimpinan (Warren Bennis)

Modal intelektual adalah asset suatu organisasi. Seorang pekerja yang berpengetahuan akan mencari arti dan tujuan, iklim kepercayaan, ras optimis dan hasil dari apa yang dikerjakannya. Untuk mempertahankan dan memberi motivasi kepada pekerja senacam ini, tidak hanya diperlukan kemampuan teknis, pemikiran strategis dan kecakapan dari seorang pemimpin; tetapi juga diperlukan kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengolah bakat. Selain itu juga diperlukan pertimbangan dan karakter yang baik dari seorang pimpinan.

Atribut Seorang Pemimpin Yang Berkualitas;

  1. Kecakapan Teknis, yaitu mengerti tentang bisnis dan memahami salah satu bidang.
  2. Kecakapan Konseptual, kemampuan untuk berpikir abstrak atau strategis.
  3. Track Record, mengetahui secara pasti mengenai hasil yang dicapai.
  4. Keterampilan Pribadi, mencakup pada kemampuan untuk berkomunikasi, memotivasi dan mendelegasikan.
  5. Citarasa, kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengoleh bakat.
  6. Pertimbangan, kemampuan untuk mengambil keputusan yang sulit berdasarkan data yang tidak lengkap dalam waktu singkat.
  7. Karakter, kualitas yang menyatakan siapa diri kita.

 

Karakter seorang pemimpin yang efektif harus dapat memenuhi harapan karyawannya. Oleh sebab itu pemimpin harus mempunyai ;

  1. Tujuan yang jelas, pemimpin yang efektif akan memberikan semangat, pandangan ke depan dan arti dalam proses menentukan tujuan perusahaan.
  2. Membangkitkan dan mempertahankan kepercayaan, faktor-faktor yang membangun kepercayaan, baik dalam pekerjaan, kerjasama, maupun pertemanan adalah : kompetensi, kesetiaan, perhatian, keterusterangan dan harmoni.
  3. Mengembangkan harapan, harapan memadukan keteguhan seseorang dan kemampuan untuk menggunakan perangkat yang dimiliki untuk mencapai tujuannya. Optimisme yang sangat besar, yang membantu membangkitkan kekuatan dan komitmen yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi. Pemimpin yang penuh harapan akan memiliki pernyataan seperti :
  • Saya berpikir bagaimana caranya untuk keluar dari kemacetan.
  • Saya bekerja denga penuh semangat untuk mencapai tujuan.
  • Pengalaman memimpin yang saya peroleh telah mempersiapkan untuk mampu menghadapi masa depan.
  • Banyak cara untuk menyelesaikan masalah tetapi tidak meninggalkannya.

4. Memperoleh hasil, seorang pemimpin yang realistis akan menggunakan waktu dan sumber daya yang dimiliki untuk mendapatkan hasil.

Pemimpin yang berorientasi kepada hasil, berharap dapat mencapai sesuatu yang besar, dan menyadari bahwa mereka membutuhkan bantuan orang lain. Mereka akan membawa semangat, kekuatan besar, toleransi terhadap resiko. Dan pemimpin yang baik percaya bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk memberikan kesempatan bagi seseorang untuk tumbuh dan menciptakan lingkungan yang membuat orang tetap belajar.

Kecerdasan Emosional Seorang Pemimpin (Daniel Goleman)

Bagi seorang pemimpin yang sukses, kecerdasan emosional merupakan hal yang penting dari pada IQ atau keterampilan teknik. Yang termasuk dalam kecerdasan emosional adalah kepedulian terhadap diri sendiri, kemampuan untuk mengelola emosi dan desakan hati, kemampuan untuk memotivasi orang lain, kemampuan untuk memperlihatkan empati dan kemampuan untuk menjaga hubungan. Seorang pemimpin yang sukses memilih untuk memberi penghargan terhadap karyawannya berdasarkan kecerdasan emosi yang mereka miliki. Mereka juga berusaha untuk mengembangkan kecerdasan emosional karyawan dalam rangka meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan, kemampuan untuk melihat jangka panjang dan serangkaian perilaku produktif lainnya.

 

Ada lima demensi kecerdasan emosional yang merupakan dasar kecakapan kepemimpinan :

1. Kesadaran terhadap diri sendiri, yaitu kemampuan kepemimpinan yang didasari oleh kesadaran terhadap diri sendiri adalah kepercayaan diri, sehingga dapat memimpin dengan tegas, dengan kekuatan dimana hal itu merupakan sumber keberanian dalam kepemimpinan

2. Mengelola emosi, pemimpin yang efektif belajar bagaimana mengatasi perasaan, terutama tiga perasaan besar yaitu kemarahan, kegelisahan, kesedihan dan merasa tidak memiliki kemampuan. Mengelola emosi adalah persoalan pengendalian dorongan hati seseorang, dan hal itu merupakan ketrampilan hidup.

3. Memberi motivasi, mempunyai kemampuan memberikan motivasi berupa optimisme dengan melihat kebelakang sebagai kekuatan untuk melakukan perubahan dan selalu mencoba lagi.

4. Menunjukkan empati, empati merupakan dasar untuk mengatasi perbedaan yang ada di dalam tenaga kerja. Empati juga merupakan hal yang sangat diperlukan dalam memberi latihan yang efektif dalam mengembangkan orang lain. Empati adalah salah satu kunci dari ketrampilan kepemimpinan.

5. Menjaga hubungan, berpikir positif, menyelesaikan konflik, memahami arti hubungan, dengan kata lain, terampil dalam berhubungan dengan orang lain merupakan sesuatu yang memiliki kekuatan besar dalam memaksakan potensi dari sebuah tim.

Permasalahan Dengan Kerendahan Hati (Patrick Lencioni)

Seorang pemimpin yang tidak mampu menyatakan dirinya dan kurang memiliki karisma dapat mengalami kegagalan dalam menghasilkan kepercayaan. Seorang pemimpin berkarisma yang yakin bahwa dirinya lebih penting dari orang ain, secara perlahan akan kehilangan pengikut. Untuk menghasilkan kesetiaan dan kegairahan, seorang pemimpin perlu merangkaiakan hati dengan karisma. Kedua hal itu dapat dikembangkan melalui refleksi, umpan balik dan penekanan pada ketulusan.

Pemimpin yang karismatik yang mau duduk bersama masyarakatnya dan berdiskusi tentang naik-turunnya gaya kepemimpinan mereka, kemungkinan besar akan menjadi rendah hati oleh pengalamanpengalamannya. Tetapi karena mereka terbuk dan memasyarakat mereka akan lebih suka untuk mempertahankan sisi karismatiknya. Proses untuk menjadi rendah hati yang diketahui public dapat meningkatkan kemampuan seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin yang karismatik karena hal itu menunjukkan keinginan untuk ketulusan.

Misi Sebagai Prinsip Dalam Organisasi (C. William Pollard)

Seorang pemimpin harus mampu mengkomunikasikan misi organisasinya kepada semua bagian yang ada dalam organisasinya. Misi merupakan titik referensi, pedoman dan sumber pengharapan pada masamasa perubahan. Jika dihubungkan dengan nilai-nilai manusia, akan memberikan tujuan dan arti kepada mereka yang memenuhi misi dan memberikan dorongan bagi kreativitas, produktivitas dan kualitas dalam pekerjaan serta pengembangan pribadi.

Banyak yang mengatakan bahwa pemimpin saat ini harus belajar untuk memprakarsai dengan cepat dan melakukan perubahan terus menerus melalui tindakan nyata. Perubahan semacam ini adalah kenyataan dalam hidup. Masalahnya orang yang memperbaiki organisasi tidak dipersiapkan untuk menghadapi perubahan yang cepat dan terus menerus. Dalam ketiadaan misi yang berarti dan tujuan yang melebihi perubahan dan memasukkan unsur perhatian serta memberdayakan orang, perubahan dapat membawa ketidaksinambungan, ketidaktepatan dan kemerosotan akhlak.

Dapatkah organisasi menjadi komunitas moral untuk membantu pembentukan karakter manusia dan perilaku masyarakat? Dapatkah misi menjadi prinsip dalam pengelolaan organisasi? seorang pemimpin harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, merupakan tugas pertama. Tugas pokok adalah menomorsatukan misi perubahan dan yang lebih penting adalah menghidupkan misi tersebut.

Seni Kepemimpinan Chaordic (Dee Hock)

Tanggung jawab utama seorang pemimpin adalah mengatur karakter, integritas, kerendahan hati, pengetahuan, kata-kata dan tindakan yang dimilikinya. Menyangkal pemikiran bahwa manajemen adalah suatu latihan bagi kekuasaan atas bawahan, kepemimpinan chaordic didasari atas dukungan yaitu, suatu respons yang bersifat suka rela terhadap tujuan yang jelas dan membangun dan memaksakan penerapan prinsip-prinsip etika.

Seorang pemimpin yang choardic memusatkan perhatiannya keatas, kesamping dan kebawah dengan sama baik. Mereka tidak mendekte; mereka mengubah kondisi-kondisi yang menghalangi munculnya sinergi dan penyempurnaan.

Kepemimpinan sejati dan perilaku yang membesarkan hati memiliki kecenderungan kearah yang lebih baik sedangkan tirani atau manajemen yang mendominasi dan perilaku yang memaksa memeliki kecenderungan kearah yang buruk.

Manusia bukanlah sesuatu untuk dimanipulasi, dimasukkan kedalam kotak dan diberi label kemudian dibeli dan terjual. Mereka bukanlah sumber daya manusia. Mereka adalah manusia yang mengisi keutuhan dunia yang berputar, tidak terbatas sampai kita mempelajari konsep pemimpin dan pengikut dengan kacamata baru. Kita harus mempelajari konsep tentang atasan dan bawahan dengan rasa skiptis yang lebih besar. Kita harus mempelajari keadaan organisasi yang membutuhkan perbedaan-perbedaan semacam itu dengan kesadaran yang benar-benar berbeda. Itulah sebenarnya yang dimaksud kepemimpinan yang dilakukan oleh setiap orang. Kepemimpnan choardic yang berada didalam, diatas, disekitar dan dibawah, yang sangat diperlukan oleh dunia ini dan yang tidak dapat diberikan oleh era indusri dan manajemen yang mendominasi.

Pengelolaan Yang Hati -Hati (Henry Mintzberg)

Pengelolaan yang hati-hati mengandung pemahaman bahwa seorang pemimpin bukanlah merupakan jumlah total dari organisasi. Pengelolaan yang hati-hati melibatkan tindakan yang memberikan inspiraasi, mendorong dan memampukan orang lain dengan membangun budaya keterbukaan, kepercayaan, kebersatuan dan daya. Pemimpin yang hati-hati tidak menonol, tetapi menarik dan interaktif. Mereka memelihara organisasinya dan menghabiskan waktu lebih banyak untuk mencegah timbulnya masalah dari pada mengatasi masalah. Merekamemasukkan nilainilai dan secara perlahan membawa perubahan yang sangat besar dimana semua orang ikut bertanggungjawab dan pada saat yang sama menjaga agar semuanya berjalan lancar, suatu peningkatan alami berjalan terus.

Mempertahankan Misi Organisasi (David M. Lawrence)

Dalam menghadapi tantangan persaingan dengan tetap mempertahankan misi sosialnya, ada 8 pelajaran yang diperoleh Kaiser Permante untuk organisasinya yang berdasarkan misi yaitu :

  1. Menerapkan prinsip bisnis agar memperoleh kondisi yang baik;
  2. Menurunkan biaya dengan cara meningkatkan kualitas secara terus menerus;
  3. Menyusun arah strategis berdasarkan misi organisasi;
  4. Melibatkan tenaga kerja dan bersikap terbuka terhada ide-ode baru;
  5. Meluruskan struktur dan jalur perintah;
  6. Mendorong inovasi dan fleksibilitas;
  7. Bekerja sama dengan pihak-pihak terkait;
  8. Mengintegrasikan pelayanan.

Menutup Jurang Pemisah Strategi Antargenerasi (Christopher Barlett)

Model manajemen lama yang dibangun disekitar strategi, struktur dan sistem harus diganti dengan model manajemen baru yang didasarkan pada tujuan, proses dan manusia. Sumber daya yang langka saat ini adalah pengetahuan dan keahlian dibandingkan dengan kelangkaan sumber dana dimasa lalu. Salah satu tugas dari seorang pemimpin adalah mendekati, memotivasi dan memelihara orang-orang yang ingin melakukan sesuatu yang berarti. Daripada mendasarkan organisasi pada hierarki penugasan dan tanggungjawab, akan lebih baik bila organisasi dibangun dengan tiga inti proses, yaitu:

  1. Insiatif usaha dari bawah ke atas;
  2. Menghubungkan dan meningkatkan asset dalam upaya mengembangkan, menyebarkan dan menerapkan inisiatif dan pengetahuan;
  3. Memperbarui diri sendiri secara terus menerus.

Membangun Merek Kepemimpinan (Dave Ulrich)

Model umum atribut kepemimpinan hanya memberikan nilai yang tidak berarti. Merek kepemimpinan, keunggulan bersaing, terjadi pada saat pemimpin di setiap tingkat organisasi mengerti dengan jelas hasil-hasil utama yang diinginkan, kemudian mengembangkan pendekatan konsisten untuk mencapai hasil-hasil tersebut dan membangun atribut-atribut yang mendukung pencapaian hasil-hasil tersebut. Ini dapat berhasil jika atributatribut yang benar secara strategis dikaitkan dengan hasil-hasil yang diinginkan. Pelatihan kepemimpinan, penetapan kerja, input balik 360 derajat dan pemberian pelatihan harus difokuskan kepada atribut-atribut dan hasilhasil yang ingin dicapai.

Mengapa Visi Menjadi Hal Yang Penting (Robert Knowling)

Knowling memperdebatkan bahwa visi dan nilai-nilai membentuk perilaku organisasi dan mencetuskan tindakan strategis. Ia mengajukan langkah-langkah untuk menetapkan, mengartikulasikan dan menyebarkan visi dan nilai-nilai, yaitu:

  1. Menilai organisasi, industri dan sector ekonomi,
  2. Berbicara kepada karyawan baru,
  3. Mencocokkan atribut-atribut dan usaha dengan hasil-hasil
  4. Berhubungan dengan pelanggan, mitra kerja, dan karyawan garda depan.
  5. Memimpin perubahan.

Kondisi-kondisi yang dapat merusak perubahan, yaitu :

  1. Meremehkan Budaya. Budaya menentukan bagaimana orang-orang bekerja sama dan bagaimana respons mereka terhadap perubahan. Tidak ada pemimpin yang dapat berhasil tanpa mengenali dan membentuk norma-norma dalam kerja;
  2. Menyatakan kemenangan. Apabila tidak bekerja untuk peningkatan yang sistematik dan kontinyu, organisasi akan segera kembali kebentuk semula. Kemenangan yang sejati seperti visi yang dipaksakan, tidak pernah benar-benar tercapai;
  3. Membiarkan orang lain menarik nafas. Mengajak orang mau ikut dalam perubahan dan memberkan respons akan kegagalan. Kemudian menciptakan struktur dan proses berjalan untuk membuat perubahan menjadi dari bisnis;
  4. Mendelagasikan proses perubahan. Seorang pemimpin harus berjalan diruang terbuka, menelepon dan menunjukkan keberadaannya secara fisik dan emosional. Dan, proses perubahan dimulai dari diri pemimpin, bagaimana pemimpin memimpin rapat, mengelola jadwal-jadwal dan membagi informasi;
  5. Mempercayai tekanan Diri Sendiri. Merupakan hal yangmudak untuk tergoda akan kesuksesan. Setiap pemimpin menerima laporan yang baik dari lapangan. Kurangi berita-berita yang baik dan perhatikan keraguan yang ada pada diri pemimpin. Kesuksesan pribadi dan organisasi, keduanya berbahaya dan akan berlalu dengan cepat.

 

 

 

 

BERPIKIR SISTEM: SUATU PENDEKATAN HOLISTIK PENELITIAN


GambarPenelitian  adalah “suatu kegiatan yang menghasilkan pengetahuan. Berpikir Kesisteman merupakan pendekatan holistik untuk penyelidikan. Hal ini dapat dipahami sebagai filsafat kontemporer. Kadang-kadang para pendukungnya merujuk kepada sistem berpikir sebagai “paradigma baru pemikiran kontemporer. Dalam menerangkan Struktur revolusi pengetahuan, Kunn mendefinisikan paradigma sebagai apa yang anggota komunitas ilmiah terdiri dari orang-orang yang berbagi paradigma 3) jika sistem pemikiran filosofis milik masyarakat, wajar pertanyaan harus ditujukan pada masalah: Apakah filsafat berpikir sistem?

Domain Filsafat dalam Berpikir Sistem

Berpikir  sistem menurut DC Philiphs adalah Pemikiran sistem dilabeli sebagai “filsafat mendiskreditkan” 4) Di sisi lain, Fenwick Inggris menyatakan berpikir  kesisteman akan jatuh ke dalam filsafat yang dikenal sebagai realisme ilmiah. Yang tidak diragukan lagi bahwa berpikir sistem menggunakan metode ilmiah sebagai inquiry, tapi ini tidak berarti bahwa berpikir sistem ini identik dengan metode ilmiah dalam hal ini adalah kira-kira analog dengan kasus pragmatisme dan ilmiah. Sebagai soal fakta, pemikiran sistem adalah “sebuah counter untuk saintisme, 7) di mana saintisme dalam perwujudan konkrit dari filsafat realisme ilmiah. 8) Dua ciri khas dari berpikir kesisteman  sungguh bertentangan  dengan label realisme ilmiah, yaitu pendekatan holistik dan pandangan  metafisika. Holisme seperti kita akan dijelaskan lebih lanjut, tidak hanya ontologis, tetapi epistemologis dan aksiologis juga. Pandangan holistik ini menyediakan dasar metafisik berpikir sistem. Metafisik ini sistem domain yang ciri berpikir sebagai “meta-ilmu” perceraian dari realisme ilmiah, serta holistik dari ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Realisme ilmiah metafisika membenci dan menolak gagasan holisme sebagai sesuatu yang unik dan asli yang tidak setuju konvensional analisis ilmiah. Di sisi lain, pendukung berpikir sistem berbicara blak-blakan sebagai “antitesis generik ke Realisme ilmiah memiliki banyak nama lain, antara lain  adalah positivisme logis, Konsep berpikir sistem  itu sendiri masih dalam proses pendewasaan dan perkembangan. Pada saat ini, yang terbaik yang bisa diusahakan adalah memberi label Thinking System sebagai”seorang maverick (orang/ organisasi yang tidak profesional) dari pandangan filosofis dalam upaya ilmiah

Sifat-sifat Berpikir Sistem

Setiap aliran pemikiran tertuju pada  tiga pertanyaan dasar filosofis dan dibangun dengan jawaban filsafat. Setiap filosofis utama dapat dibedakan dengan menelusuri tiga kali lipat pembukaan filosofis, Pertanyaan pertama adalah: apa dan berapa banyak yang ingin kita ketahui? Jawaban atas pertanyaan ini tergantung pada ontologi, yaitu, dengan teori yang ada. Kedua, metode apa yang lakukan untuk  kita memperoleh pengetahuan? Jawaban atas pertanyaan ini tergantung pada epistemologi, atau teori pengetahuan. Akhirnya, apa gunanya  pengetahuan bagi manusia? Pertanyaan ini dijawab oleh aksiologi.

Inti utama dari pemikiran sistem, consepts Teori Sistem Umum, atau salah satu anggota yang berbeda dari serangkaian konsep-konsep yang terkandung dalam Teori Sistem Umum, adalah teori sistem terbuka. Konsep sistem terbuka telah banyak digunakan dan diterapkan pada berbagai bidang dan subject matter. Sepanjang penelitian kami, pandangan dasar penyelidikan ini, kita berurusan dengan sistem terbuka. Atau diungkapkan secara berbeda, kita melihat masalah dari sudut pandang berpikir sistem.

Aspek Ontologis dalam Berpikir Sistem

Masalah ontologis dapat dimasukkan ke dalam tiga kata: “ What is there?”(Apa yang ada?). Para ahli teori sistem menjawab: system adalah setiap eksistensi tidak dapat berdiri sendiri tetapi berkaitan dengan dengan eksistensi lain secara tertib dan teratur. Para ahli teori sistem mempunyai nilai pengandaian tertentu, yaitu keteraturan, dan non-keacakan .Oleh karena itu, tujuan dari penyelidikan untuk membawa ke permukaan menjadi pola ini. Pertanyaan tentang ” Apa dan berapa banyak yang kita ingin tahu?.  Berapa banyak yang kita ingin tahu? Kita ingin tahu tentang sifat-sifat yang berada di bawah penyelidikan, tidak hanya properti milik sendiri, tetapi lingkungan hidup serta dampak lingkungan pada manusia.

Berpikir  Sistem  

menyelidiki kesamaan bentuk dari konsep-konsep, hukum-hukum, dan model-model dalam berbagai bidang, dan membantu dalam pengalihan dari satu bidang ke lainnya;

(1)   mendorong pengembangan model-model teori yang memadai dalam bidang-bidang yang tidak memilikinya;

(2)   memperkecil penggandaan upaya-upaya teori dalam bidang-bidang berbeda;

(3)   menggalakan kesatuan sains melalui peningkatan komunikasi di antara spesialis.

Sebagaimana kita melihatnya, Riset Sistem Umum adalah kegiatan menyempurnakan Teori Sistem Umum pada dasarnya adalah logika sistem-sistem, yang memberikan suatu kerangka a priori untuk diterapkan pada beragam disiplin dan riset ilmiah. Arah kedua dari gerakan sistem-sistem adalah menyangkut aplikasi logika sistem-sistem. Ada dua cara logika sistem-sistem diterapkan: Pertama, diterapkan langsung pada suatu disiplin atau riset ilmiah tertentu, misalnya ancangan sistem-sistem terhadap teori pemasaran. Dalam penerapan ini, teori pemasaran menerapkan konsep holisme untuk menjelaskan kesalingterkaitan di antara komponen-komponennya. Tidak ada hal baru apa pun dalam arti teori, kecuali penjelasan teorinya menjadi lebih tertib ketika ia disajikan dalam kerangka sistem-sistem. Hampir semua ilmu perilaku dan sosial bisa memanfaatkan penerapan logika sistem-sistem dalam menjelaskan dan menampilkan teori-teori mereka secara lebih tertib. Penerapan macam ini akan disebut ancangan atau pendekatan sistem. Ancangan sistem bisa diartikan sebagai penerapan logika sistem-sistem pada bidang-bidang atau riset ilmiah khusus dengan maksud menjelaskan atau menampilkan kesalingterkaitan di antara komponen-komponen dari teori disiplin itu, atau komponen-komponen dari masalah risetnya.

Penerapan lain dari logika sistem berhubungan dengan metode-metode penelitian tertentu, atau dalam perkataan “strategi riset.” Contoh-contoh dari penerapan macam ini adalah analisis sistem dan riset operasi. Analisis sistem pada dasarnya adalah suatu metode penyelidikan atau strategi riset dalam menghadapi masalah-masalah pilihan di dalam ketidakpastian. Lebih spesifiknya, analisis sistem adalah suatu analisis ekonomi yang berkaitan dengan pemilihan alternatif dalam mencapai sasaran tertentu. Jelas, pendekatan sistem dan analisis sistem sangat berbeda dalam proses-proses dan sasaran-sasaran mereka. Hasil dari penerapan ancangan system terhadap masalah adalah penjelasan dan penampilan yang tertib dari kesalingterkaitan antara komponen-komponen masalah itu. Ancangan system tidak menghasilkan solusi apa pun dalam memecahkan masalah itu. Di sisi lain, analisis sistem memang menyelesaikan masalah itu, yaitu dengan memilih jalur tindakan yang terbaik. Dalam hal ini, sebagaimana kita akan jabarkan lebih lanjut, analisis sistem memiliki suatu nilai prediktif.

D.C Phillips secara sengit menyerang buku karya Philip H. Coombs berjudul The World Educational Crisis: A Systems Analysis sebagai suatu prototipe penerapan analisis sistem yang tidak menghasilkan solusi sama sekali. Sebenarnya, Coombs menerapkan ancangan sistem terhadap analisisnya, di mana dia menggunakan logika sistem dalam menggambarkan dan menampilkan kesalingterkaitan antara komponen-komponen dari permasalahan pendidikan. Dipandang dari segi ini, The World Educational Crisis adalah sebuah buku yang tanpa tandingan tentang sifat permasalahan pendidikan. Namun, penyalahgunaan istilah analisis sistem bukannya pendekatan sistem, telah membawa buku ini ke fokus kontroversi.

Analisis sistem dan riset operasi bisa dikategorikan sebagai metode-metode penyelidikan. Metode, meminjam batasan dari Paul Tillich, adalah cara sistematis melakukan sesuatu, khususnya dalam memperoleh pengetahuan. Metode terkait dengan teknik-teknik, di mana kita bisa membayangkan metode sebagai strategi penyelidikan, dan juga teknik-teknik adalah taktik-taktiknya. Teknik-teknik, mengikuti Abraham Kaplan, adalah prosedur-prosedur khusus yang digunakan dalam suatu ilmu tertentu, khususnya tautan-tautan penyelidikan dalam ilmu itu.

Analisis sistem dan riset operasi sebagai metode-metode penyelidikan terkait dengan beberapa teknik. Analisis system menggunakan teknik-teknik analisis manfaat-biaya dan keefektifan-biaya. Riset operasi berkaitan dengan teknik-teknik teori permainan, pemrograman linier, teori mengantri, dan simulasi Monte Carlo. Teknik-teknik ini sama sekali tidak baru. Teknik analisis manfaat-biaya yang dipuji sebagai “salah satu tulisan terobosan paling orisinal dalam seluruh sejarah ilmu ekonomi” diperkenalkan oleh Dupuit seawall 1844. Teori mengantri dikembangkan oleh Johannsen pada 1907. Teknik-teknik ini diletakkan di bawah payung pemikiran sistem tidak berdasarkan pada asal mereka tetapi pada kaitan mereka dengan metode-metode khusus yang dikembangkan di bawah pengaruh konsep sistem. Tentu, ada juga teknik-teknik baru yang diluncurkan oleh berpikir seperti PERT dan CPM. Bahkan, disiplin-disiplin ilmiah baru muncul di bawah bendera holism. Cybernetics diciptakan oleh Norbert Wiener pada 1948. Dalam tahun yang sama Claude Shannon menerbitkan sebuah artikel berjudul “A Mathematical Theory of Communication” yang menandai permulaan teori informasi.

PPBS adalah penerapan para analis system terhadap manajemen modern. Pokok bahasan PPBS adalah bidang manajemen, khususnya mengenai fungsi-fungsi perencanaan, pemrograman, dan penganggaran. Metode penyelidikan dalam hal ini adalah analisis system, dan di bawah payung pemikiran system, PPBS juga menerapkan ancangan system. Fungsi perencanaan, pemrograman, dan penganggaran, dipandang di bawah wawasan system ini, sehingga menjadi saling terkait sehingga membentuk suatu system terpadu.

Tipologi pemikiran system yang sedang dikemukakan tidaklah lengkap. Ia tidak dimaksudkan sebagai suatu daftar, melainkan memberikan kerangka, anggota-anggota mana dari himpunan kategori tertentu dari nomenklatur system kita bisa dilekatkan. Paling tidak, ia bermaksud untuk memperjelas perbedaan antara pendekatan system, analisis system, analisis keefektivan-biaya, analisis manfaat-biaya, PPBS dan sebagainya

fungsi dari teori dari sistem yang terbuka sebagai sebuah penelitian logis. Dalam pengerjaannya banyak perdebatan dialamatkan pada Sistem Teori Umum dapat menjadi jelas. Sebuah teori dalam bidang ilmu pengetahuan dapat didefinisikan sebagai “sekumpulan gagasan (konsep) yang saling berhubungan, definisi-devinisi, dan dalil-dalil yang memberikan sebuah gambaran fenomena yang sistematis dengan ketentuan yang berhubungan antar variabel, dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi/meramalkan fenomena, jika Sistem Teori Umum itu adalah sebuah teori ilmu pengetahuan kemudian Sistem Teori Umum ini seharusnya memiliki sebuah kemampuan untuk memprediksi. Sistem Teori Umum adalah ilmu pengetahuan faktanya bahwa penelitian dalam membangun konsep dari Sistem Teori Umum diperlakukan dalam gaya ilmu pengetahuan. Dalil diperoleh dari Sistem Teori Umum, sebagai contoh milik sistem terbuka, menyajikan sebuah penelitian logis dan bukan sebuah dasar pengambilan kesimpulan, sebagai latihan secara umum dalam penelitian ilmiah. Jadi, percobaan Philips untuk mencemarkan Sistem Teori Umum sebagai sebuah filsafat yang tidak dipercaya karena caranya tidak terprediksi dari sistem teori dirinya sendiri bertentangan. Tentu, seseorang mungkin berargumen, bagaimana bisa kita membuat prediksi dari sebuah penelitian yang logis, penelitian yang logis itu sendiri, adalah sebuah alat dari penelitian yang tidak memiliki subjek masalah dari dirinya sendiri. Itu adalah hal yang sama dengan pendekatan sistem, yang menunjukkan cara melihat kedalam penyelidikan, yang mendasari sebuah sudut pandang logika. Pendekatan sistem adalah pokok yang membingungkan dengan sistem analisis, yang dalam pertentangan memiliki kemampuan untuk memprediksi, meskipun memiliki pengertian yang terbatas.

Sejarah Kejadian Penting dalam berpikir sistem

   Berfikir sistem mempunyai sebuah sejarah panjang, hal itu telah di dikelompokkan dari Ibn Khaldun kepada Kepala putih. Bagaimanapun, kita akan membatasi diri kita hanya pada sudut pandang sejarah dari sistem pemikiran modern, perpindahan yang dianut pada Sistem Teori Umum dan Sistem Penelitian Umum.

            Sejarah berawal pada seminar filsafat Charles Morris di Universitas Chicago tahun 1937, dimana Ludwig von Bertalanffy mengenalkan untuk pertama kalinya konsep Sistem Teori Umum. Konsep tersebut telah di publikasikan sebagai Sistem Teori Umum: Pondasi, Pembangunan, Penerapan  dan menjadi Alkitab dari pergerakan berpikir sistem  modern. Untuk sambutan pertama kali tidak ada keberanian, sebagai penampakan Bertalanffy, dan semenjak dia takut pada apa yang Gauss sebut dengan “Teriakan Boetician” konsep tersebut kemudian diletakkan dalam lukisannya. Pecahnya perang dunia ke II mendorong berkembangnya berpikir sistem.

Pada tahun 1939, pada pecahnya perang Eropa, dimana awal dari sebuah organisasi penelitian operasional Inggris Menghadapi pecahnya perang, menejemen Militer Inggris menyebut atas ilmuwan mereka untuk menerapkan ilmu pengetahuan ilmiah dalam alokasi penelitian yang langka untuk operasi militer yang berbeda. Tim ilmuwan ini adalah tim penelitian operasional itu terdiri dari sejumlah pengacara, ahli sosial,  ahli matematika, ahli astronomi, dan juga pertahanan. Meskipun perbedaan latar belakang mereka mucul sebuah pola yang umum: adalah ketaatan terhadap konsep sistem dan penelitian ilmiah, yang memperagakan bahwa mesin dan manusia menerima untuk anilisis yang rasional Operasi penelitian telah dipuji untuk menjadi pemenang perang di negeri Inggris, dan pada akhirnya setelah Amerika serikat mengikuti pinangannya, kampanye pulau di Pasific. Peperangan di utara Atlantik dan yang lain Menurut dugaan orang operasi penelitian menyebrangi Atlantik mengikuti James Bryant Connant, kemudian juru bicara dari Komite Pertahanan Nasional, yang menjadi sadar dengan operasi penelitian selama dia mengunjungi Inggris  pada musim gugur tahun 1940

            Pendekatan khusus sebagai Masyarakat Penelitian Operasional dari Negeri Inggris meletakkan definisi operasi penelitian untuk membangun sebuah model ilmiah dari sistem, faktor undang-undang tidak berbadan hukum seperti kesempatan dan resiko, dengan yang untuk memprediksikan dan membandingkan hasil dari pilihan keputusan, strategi dan kontrol, Beberapa orang Saudara kandung kemudian tangkai dari pendekatan yang asli, telah diterapkan pada bidang yang berbeda, dan dikoinkan dengan nama baru. PPBS telah diinisialkan oleh Papan Produksi Perang di akhir 1942, tentu tanpa tehnik orang yang berpengalaman  Analisis sistem, yang menyediakan dasar analitik dari PPBS, yang akhirnya sempurna oleh ilmuwan RAND, sekitar 1950 Jaringan dunia maya telah diperkenalkan oleh Norbert Wiener pada tahun 1948

Tipologi berpikir sistem

            Pergerakan sistem dapat dikenali dengan dua bagian: (1) Penelitian lebih lanjut dalam sistem alam dalam berkaitan dengan kesempurnaan Sistem Teori Umum yang paling mewah menghasilkan sistem yang logis, dan (2) Penerapan dari Sistem logis untuk disiplin ilmiah yang berbeda dan  penelitian. Sistem logika diterapkan pada bidang ekonomi, pemasaran, sosiologi, psikologi, pendidikan, sampai pada topik kontroversial seperti “ Bagaimana Analisis sistem diterapkan untuk memilih seorang suami?” dalam David Reuben Buku penjualan terbaik “ Setiap Wanita Bisa Disiplin ilmiah baru seperti Cybernetik dan Teori Informasi telah dikembangkan dalam sistem kerangka kerja. Strategi penelitian baru, sebagai contoh sistem analisis dan operasi penelitian  sebagus beberapa tehnik seperti PERT   dibangkitkan dalam payung kerangka berpikir. Secara pemahaman, itu sering terjadi pada sekolah yang baru muncul dari pemikiran, banyak kekacauan yang telah muncul pada alam kesatuan ilmiah. Efektivitas harga terkadang dikacaukan dengan sistem analisis. Pendekatan sistem dikacaukan dengan sistem analisis. Lebih samarnya adalah hubungan diantara pendekatan sistem, sistem analisis, dan PPBS. Apa perbedaan antara operasi penelitian dan sistem analisis?

            Untuk menyelesaikan masalah, kita telah mencoba untuk mengembangkan sebuah tipologi dari berpikir sistem; sebuah permintaan dari sistem konsep dan penerapannya. Sebagai sentuhan lebih cepat, pergerakan sistem dapat dikategorikan kedalam dua arah. Pertama adalah penelitian lebih lanjut dalam sistem alam, simpelnya disebut Sistem Penelitian Umum. Masyarkat untuk Sistem Penelitian Umum telah dilembagakan pada tahun 1954  Objektifitas terbesar dari masyarakat ini adalah pada:

Logika Metafisika Berpikir Sistem

Ciri dasar yang membedakan pemikiran sistem dari pemikiran sejaman lainnya adalah logika metafisikanya. Holism, yang memberikan dasar ontologi dan epistemologinya, menghasilkan logika sistem sebagai landasan metafisikanya. Sangat menarik menyejajarkan logika metafisika. Hegel dan logika pemikiran sistem, sebenarnya tidak hanya berasal dari konsep holism yang sama, tetapi juga sangat analog dalam sifat dengan logika dialektik Hegel. Dari sudut pandang ini, pemikiran sistem bisa dipandang sebagai suatu meta-sains, suatu titik tolak yang sama dimiliki oleh para pembela pemikiran sistem.

Sebelum berlanjut menjabarkan sifat dari logika sistem, perlu untuk menjelaskan kedudukan metafisika dalam ranah ilmiah. Metafisika ilmiah adalah suatu masalah abadi terhadap filsafat ilmu. Awal abad ke-19, misalnya dalam karya Auguste Comte, sampai para pemikir modern seperti Karl Popper, Arthur Eddington, dan James Jean, gagasan metafisika menyiratkan mengejar suatu tempat yang diakui dalam penyelidikan ilmiah. Bertrand Russell mengatakannya : ada suatu paradoks yang solusi intelektualnya mungkin ditemukan kelak, atau sama mungkinnya, tiada solusi mungkin ada. Faktanya adalah bahwa sains memainkan dua peran sangat berbeda: di satu sisi sebagai metafisika, di sisi lain sebagai akal sehat terdidik.”

Pertanyaan dasarnya: Apakah suatu metafisika ilmiah? Pearson berdalil bahwa ini tidak hanya mungkin tapi juga sah. Dia menerangkan bahwa: Tidak boleh disangka bahwa sains untuk sejenak menyangkal keberadaan sejumlah masalah yang hingga kini telah digolongkan sebagai filsafat atau metafisik. Sebaliknya, ia mengakui bahwa beragam fenomena fisika dan biologi mengarah langsung pada permasalahan ini. Tetapi ia menegaskan bahwa metode-metode yang hingga kini diterapkan pada masalah-masalah ini telah sia-sia, karena mereka tidak ilmiah.

Mengingat pernyataan ini, akar masalahnya terletak pada sifat dari bagaimana penyelidikan metafisika itu dilakukan. Jika masalah metafisika itu dipecahkan secara ilmiah, yakni, jika metode-metode ilmiah secara ketat diterapkan dalam penyelidikan itu, maka hasil-hasil temuan itu secara ilmiah terabsahkan. Dan inilah dalil dasar dari para teoriwan sistem. Bahkan, kata mereka, holism sesuai dengan penyelidikan ilmiah. Teori Sistem Umum, tegas Bertalanffy, adalah penjelajahan ilmiah atas keseluruhan-keseluruhan dan kesatuan yang, belum begitu lama silam, dianggap pemikiran-pemikiran metafisik yang melampaui batas-batas sains.

Sebagaimana disinggung sebelumnya, dasar metafisik dari pemikiran sistem adalah logika sistem. Boulding telah mendaftar sembilan tingkat sistem mulai yang paling sederhana sampai pada fenomena sistem paling kompleks. Jenjang sistem menurut Boulding adalah sbb.:

  1. Struktur statis—penataan planet-planet dalam tatasurya
  2. Sistem dinamis sederhana—kebanyakan mesin dan kebanyakan fisika Newton
  3. Sistem cybernetic—mekanisme control, seperti thermostat
  4. Sistem terbuka—struktur yang berlangsung-sendiri, seperti sebuah sel
  5. Sistem sosial genetic—pembagian kerja, termasuk subsistem, seperti sebuah tumbuhan
  6. Sistem hewan—mencakup kesadaran-diri dan mobilitas, juga subsistem-subsistem terkhusus untuk menerima dan mengolah informasi dari dunia luar
  7. Sistem manusia—mencakup kapasitas bagi kesadaran-diri, dan penggunaan simbolisme untuk menyampaikan ide-ide
  8. Organisasi-organisasi social—manusia sebagai subsistem di dalam organisasi yang lebih besar, atau sistem
  9. Sistem-sistem transendental—alternatif dan hal yang tak bisa diketahui yang masih perluk ditemukan.

Ciri-ciri sistem memberikan dasar logis dari sistem itu. Para teoriwan sistem percaya bahwa logika sistem bisa digunakan sebagai suatu logika penyelidikan. Ada pola-pola serupa di antara makhluk-makhluk hidup yang hidup, tumbuh, matang, dan akhirnya mati. Para teoriwan sistem, menurut Boulding, bersukacita mengetahui, misalnya, bahwa dalam semua pola pertumbuhan ada unsur-unsur sama yang penting, seperti nukleasi (pembentukan inti), penyesuaian struktur dalam bagian-bagian sistemnya, hasil yang berkurang terhadap skala, dan kurva-kurva ogive. Sebaliknya, para pemikir nonsistem, mengesampingkan fakta-fakta ini. Namun, dari kesembilan tingkat sistem itu hanya beberapa telah sesuai dengan penyelidikan ilmiah. Salah satu arah dari gerakan pemikiran sistem adalah berurusan dengan kajian-kajian sistem-sistem ini. Boulding menyatakan bahwa pengetahuan kita saat ini umumnya tidak memadai untuk membangun model-model ilmiah melebihi tingkat sistem dinamis (tingkat 2). Usaha-usaha baru difokuskan kepada kajian tingkat 3 dan 4, dan melebihi tingkat keempat bahkan benih-benih dari model-model teoritis belum ditemukan. Salah satu ciri penting dari teori sistem umum adalah logika sistem terbuka.

 Logika sistem terbuka sangat banyak gunanya dan terbukti berguna dalam penerapannya pada berbagai organisme hidup. Bahkan, logika sistem terbuka berguna sebagai suatu dasar penyelidikan kita dalam kajian ini. Sudut-sudut pandang kita atas teori-teori organisasi modern, metode-metode Pengembangan Organisasi, dan PPBS, pada dasarnya gagasan sistem terbuka. Berbeda dari suatu sistem tertutup, sebuah sistem terbuka berinteraksi dengan lingkungannya. Kita akan lebih dulu menilik sifat-sifat sistem terbuka dan melangkah lebih jauh pada penjabaran logika sistem terbuka sebagai suatu logika penyelidikan.

Ciri-Ciri Sistem Terbuka

Sistem terbuka bisa ditandai oleh sifat-sifat berikut ini:

(1)   masukan: sistem terbuka memasukkan energi dari lingkungan luar;

(2)   ubahan (through-put): proses mengubah energi yang tersedia bagi sistem itu;

(3)   keluaran: energi yang dikeluarkan ke lingkungan setelah masukan diolah menjadi keluaran;

(4)   siklus peristiwa-peristiwa: kegiatan-kegiatan bertukar energy mempunyai pola siklus. Dalam mengubah masukan menjadi keluaran proses itu sendiri mengalami beberapa tahap siklus keluaran seketika sebelum mencapai bentuk akhir keluaran. Misalnya, dalam sistem pendidikan di sekolah dasar, siswa barunya diubah ke kelas dua dalam tahun pertama, yang kemudian diubah ke kelas tiga dalam tahun berikutnya, dan seterusnya. Di sisi lain, siswa baru itu memasuki sistem pendidikan itu setiap tahun ajaran yang memungkinkan kelangsungan proses perubahan di dalam sistem itu.

(5)   entropi negatif: proses menetralkan proses entropi untuk bertahan hidup. Proses entropi adalah hukum universal yang berlaku pada semua makhluk hidup yang bergerak ke arah kekacauan atau kematian. Sistem terbuka menyimpan energi dengan mengimpor energi lebih daripada yang perlu untuk dikeluarkan, dan memakai energi ini dalam masa krisis

(6)   cybernetic dan teleologis (kajian maksud): ciri-ciri perilaku bermakna dari sistemnya dan mekanisme umpan-balik data untuk mengontrol perilaku ini dari sistemnya selama waktu krisis. Suatu keadaan tetap bukanlah suatu kesetimbangan sejati, suatu pertukaran energi terus-menerus berjalan dalam suatu macam kesetimbangan dinamis yang berbeda;

(7)   diferensiasi: adalah ciri yang, selama proses pertumbuhan, bergerak ke arah diferensiasi dan pengembangan; dan

(8)   equifinality (ekuifinalitas): adalah kemampuan sistem itu untuk mencapai keadaan akhir dari kondisi-kondisi awal berbeda dan dengan beragam jalan.

Tak diragukan, hubungan masukan-keluaran telah terbukti sangat berguna sebagai suatu alat untuk memandang dan menganalisis fenomena kompleks. Logika sistem terbukalah, harus saya katakan, yang membawa perhatian pada kegunaan pemikiran sistem di dalam ranah ilmiah masa ini.

Sistem Analisis dan Metode Ilmiah

Banyak kontroversi telah muncul apakah analisis sistem tidak ilmiah. untuk memenuhi predikat ilmiah, suatu kegiatan di quiry harus menerapkan metode ilmiah dan kemampuan untuk memprediksi. Analisis sistem, sangat erat terkait dengan ilmu-ilmu sosial. Ini membawa kita ke kontroversi lain yang menyangkut metode ilmu-ilmu sosial. Atau lebih tepatnya metode ilmu-ilmu sosial: pengakuan dan domain pluralitas.

Analisis sistem pengetahuan ilmiah yang berlaku dalam proses dalam menghasilkan alternatif, menentukan hubungan sebab dan akibat, dan mendefinisikan kriteria untuk memilih tindakan. Penelitian ilmiah diterapkan  menghasilkan dua alternatif mengenai rasio murid guru, daripada untuk tujuan membandingkan efektivitas kedua alternatif harus mengukur kinerja murid, dan percobaan yang berkaitan dengan hasil pengukuran. Ilmiah diterapkan pada analisis langkah-langkah lain juga. Dalam menentukan kriteria efektivitas menggunakan matriks multi dimensi misalnya politik, ekonomi, sosiologis, pendidikan, setiap dampak harus didasarkan pada bukti ilmiah. Dalam analisis sistem umum dapat digambarkan sebagai penyelidikan ilmiah dalam terang kepatuhan terhadap pengetahuan ilmiah dan penelitian ilmiah.

Namun kepatuhan terhadap metode ilmiah adalah prototipe ideal analisis sistem. Praktis, banyak penyimpangan terjadi, hasil yang tidak terlalu luarbiasa dalam berurusan dengan fenomena sosial, seperti yang berhubungan dengan masalah measurment, menunjukkan bahwa proposisi yang berkaitan dengan efek menyebabkan fenomena sosial negara “berorientasi pernyataan”. Misalnya teori marqian menegaskan bahwa organisasi dari alat-alat produksi menentukan fitur masyarakat. Tapi tekad macam apa? Macam apa yang tepat hubungan sebab dan akibat tidak ada? Tak perlu dikatakan, hubungan ini tidak dapat dinyatakan dalam linear, persamaan kuadrat atau eksponensial kebajikan yang beruntung prosessed oleh ilmu alam.

Selain itu kepatuhan terhadap metode ilmiah, apakah analisis sistem membuat prediksi? Seperti sebelumnya, analisis sistem adalah strategi penelitian atau metode penyelidikan. Ini masalah alokasi sumber daya. Hasil dari proses analisis sistem adalah solusi untuk masalah masing-masing. Fungsi prediksi teori ilmiah pada dasarnya adalah hal yang sama, Pertanyaan yang ditujukan oleh analisis sistem sebagai berikut: bagaimana kita dapat mengembangkan tindakan saja untuk mencapai tujuan tertentu yang paling ekonomis? Jelas bahwa dari analisis sistem mengharapkan jawaban yang pasti, dalam pengertian ini, analisis sistem tidak menghasilkan prediksi.

Analisis sistem berbeda dari pendekatan sistem dalam hal ini: kasus pendekatan sistem, proses berkaitan dengan penerapan sistem logika dalam menggambarkan fenomena. Harus ada pendekatan sistem bukan merupakan ramalan tetapi deskripsi materi subjek yang diteliti. Ini adalah cara sistematis fokus pada keterkaitan antara bagian-bagian itu yang merupakan keseluruhan yang utuh.

Metode ilmiah adalah proses verifikasi. Sebuah proposisi demikian diterima sebagai secara ilmiah benar hanya setelah telah diverifikasi. Atau dengan kata lain, kebenaran ilmiah diverifikasi sinonim dengan kebenaran. Pertanyaannya adalah: Apakah perlu bahwa sistem prediksi analisis ilmiah dapat diverifikasi sebagai sah? Jawaban alasan berikut. Pertama-tama kita bisa kembali ke historial perdebatan tentang filsafat matematika antara pandangan Kant dan pandangan positivis logis. Kant menyatakan bahwa matematika adalah “pengetahuan sintetik apriori, yang menyiratkan bahwa matematika tergantung pada fenomena, dan dengan demikian, proposisi 2 + 2 = 4 jika itu benar, harus didasarkan pada verifikasi. Di sisi lain, positivis logis berpendapat bahwa matematika adalah analitis. Wittgenstein menegaskan bahwa logika proposisi kebenaran atau kepalsuan dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia luar.

Setuju dengan sudut pandang positivis logis yang berkaitan dengan analisis sistem. Prediksi yang diberikan oleh sistem proses analisis. Kebajikan dari derivasi logis dan karena itu tidak perlu verifikasi. Berbicara secara numerik, misalnya kita tidak perlu membuktikan dengan temuan empiris untuk membuktikan bahwa 1 / 3 kurang dari 1 / 2. Oleh karena itu, jika menurut definisi tentang efektivitas dinyatakan bahwa alternatif yang memiliki paling tidak rasio effectivenes biaya yang paling efektif, maka alternatif dengan ratio 1 / 3 lebih efektif daripada alternatif lain dengan rasio 1 / 2. Tak perlu dikatakan, para tautologi berlaku secara sah kriteria kualitatif juga, seperti kasus pengukuran multidimensi program-program sosial. Matematika oleh itu sangat alam, hanyalah sebuah bentuk sifat lebih logika.

Kritik Berpikir Sistem

Abraham Kaplan, yang conceives ilmiah empirism sebagai bracing, antiseptik udara, dan dari diharapkan kelonggaran, berpikir sistem untuk melakukan dosa reifikasi. yang paling serius datang dari sudut pandang methological, PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU

  •  Perencanaan PSB
  •  Pelaksanaan PSB
  •  Pengelompokan dan

   penempatan peserta

   didik di kelas  

. Ernest-Nagel panji menuduh berpikir sistem, “keseluruhan lebih daripada jumlah bagian-bagian itu”, menjadi ambigu, metaforis, dan samar-samar. Richard Von Mises menganggapnya sebagai pseudo kalimat yang akan berarti dan sepele. Baik Nagel dan Von Mises berpendapat bahwa meskipun ada alasan-alasan praktis atau psikologis untuk penggunaan holisme di berbagai bidang pengetahuan, tetapi “perluasan cakupan masalah tidak mengarah di luar sains positif”. Rollo Handy serangan pemikiran sistem di dalamnya adalah metode analogi.

Penemuan suatu analogi antara perilaku manusia dan perilaku beberapa sistem lainnya (baik komputer, sistem tata surya, sistem meteorologi, dll). Membuat beberapa inquirers cukup yakin bahwa langkah maju yang revolusioner baik telah diambil atau kira-kira yang akan diambil. Namun, seperti yang sering terjadi, enthousiasm awal saya diikuti oleh kekecewaan.

Ida. R. hoos mempertimbangkan tidak hanya isomorphisms daripada lelah aksioma tentang penerapan universal matematika; sehingga 2 + 2 = 4 berlaku apakah anak ayam, keju soat atau tata surya ar dalam pertimbangan. Camouflages analogi dangkal ini perbedaan-perbedaan penting yang dapat mengakibatkan kesimpulan yang salah. Selain itu, kepatuhan terhadap gagasan analitik irreducibility dapat menghambat kemajuan.

DC Phillips sistem Biaya memikirkan kekurangan historycism, tuduhan yang sama disuarakan oleh Frederick C. Mosher pada perkembangan PPBS. Phillips menunjukkan lebih lanjut kekurangan sistem pemikiran dalam kegagalan untuk mendefinisikan dengan tepat apa yang dimaksud dengan sistem, dalam ketidakjelasan atas apa yang akan dimasukkan dalam teori sistem, dan dalam kegagalan Teori Sistem Umum sebagai teori ilmiah karena ini tidak memiliki kemampuan prediktif.

C. gerejawan Barat – salah satu pendukung sistem dibedakan menambahkan beberapa titik lain diartikulasikan oleh pemikiran sistem debat. Pertama-tama, mereka mengklaim bahwa pendekatan sistem untuk pemecahan masalah tidak efisien, pendekatan terbaik adalah untuk mengidentifikasi masalah secara langsung titik-titik. Kedua, keberatan lain yang diajukan oleh para humanis yang mengklaim bahwa sistem yang adalah orang-orang dan dengan demikian pendekatan mendasar pada sistem terdiri dari pertama melihat nilai-nilai kemanusiaan, seperti kebebasan, martabat, privasi. Ketiga, anti-perencana menantang aksiologis sudut pandang sistem pemikiran untuk perencanaan sistem masa depan. Anti-perencana percaya bahwa setiap upaya untuk menghasilkan perencanaan rasional masa depan entah bodoh atau berbahaya atau benar-benar jahat. Pendekatan yang benar pada sistem adalah hidup dalam sistem, untuk mengalami dan tidak pernah mengubahnya dengan beberapa megah skema atau model matematika.

KESIMPULAN:

Tidak bisa didebat bahwa berpikir sistem telah sangat populer dan diterima secara luas. Bagaimanapun penggunaanya masih membingungkan, jika kita menerima ajaran ini tanpa mengetahui dasarnya, dan yang penting jika kita menerapkan konsep tanpa menyadari kebaikannya dan kekurangannya. kemudian setelah melakukan survei perspektif tentang berpikir kesisteman kita dihadapkan pada pertanyaan mendasar dimana sudut pandang kita?.

Mengarah pada masalah ini kita akan membatasi diri  pada isu filosofi berpikir sistem,alasan-alasan teknis berpikir kesisteman dan asal usulnya seperti analisis sistem dan PBBS telah dieksplorasi dimana-mana. Dengan penuh harapan setelah beberapa isu filosofi diklarifikasi kita akan megapresiasi lebih baik tentang berpikir kesisteman dan aplikasinya.

Pertama, Berpikir sistem adalah sitem ligika, meskipun logika ini menyerap metafisika sejauh ini ditujukan untuk penelitian yang cermat dari ilmu pengetahuan untuk tidak ada alasan menolak keberadaannya dalam ranah ilmiah, logika dari sistem sebagai suatu metateori atau logika apriori harus divalidasi secara empiris sebelum diterima secara ilmu pengetahuan ilmiah yang benar. Selanjutnya verifikasi harus dilakukan dalam penerapan konsep umum sampai aplikasi secara khusus. Bukan hal  mendasar sebagai jaminan seluruh sistem terbuka mempunyai karakteristik yang sama berpengaruh nyata. Katz dan Khan menyatakan fakta bahwa diskusi tentang karakteristik umum dari sistem terbuka tidak membutakan pada perbedaan antara sistem biologi dan sosial.

Kedua, aplikasi dari konsep sistem akan dibuktikan berguna jika dikombinasi dengan usaha-usaha menganalisa melalui investigasi. Sistem Logika memberikan kerangka yang berguna sebagai usaha-usaha analisis dilakukan pada basis parsial  yang dianggap perlu. Pendekatan otomistik tidak bisa diacuhkan, tetapi hasil analis sebagai kerangka dalam konteks sistemik akan memberikan gambaran seluruh masalah.

Ketiga, Philips dan Mosher bahwa berpikir sistem kekurangan dilihat dari sejarah. Usaha yang serius pada prosedur dan pengembangan konseptualnya dalam perspektif sebagai kondisi untuk berpikir sistem ilmiah, yang lebih penting berpikir sistem sebagai sudut pandang  harus didefinisikan dengan jelas untuk mengklarifikasi persamaan persamaan dan perbedaan perbedaan pola berpikir yang memilki proses fitur yang sama, sebagai contoh strukturalisme. Selanjutnya ketidakjelasan dalam berpikir sistem,

Keempat, Berpikir sistem gagal sebagai teori ilmiah karena gagal menetapkan secara tepat apa yang dimaksud dengan sistem.sekali lagi harus ditekankan bahwa berpikir sistemtidak mempunyai masalah pokok pada dirinya sendiri, teori sistem general bukan teori ilmiah pada hal biasa  berarti menyimpulkan hipotesis yang digunakan dan memvalidasi prediksi termasuk sistem logika. Pendekatan sistem dari aplikasi logika suatu sistem menjadi masalah pokok yang spesifik dibawah investigasi. Sistem dapat didefinisikan tujuan dari investigasi. Sistem dapat didefinisikan secara khusus, misalnya sistem pendidikan dilihat dari managerial, pembelajaran, dalam beberapa pandangan sistem dapat dipakai sebagai dasar kebutuhan untuk menganalisa, membangun model, memecahkan masalah dan sebagainya. Secara  sederhana definisi sistem  dari Webter’s Dictionary” Sistem is an agregation assemblage of object united by some form or regular interaction or interdependence.(Sistem adalah kumpulan dari kesatuan objek yang membentuk interaksi regular atau saling ketergantungan)

 

 

Kelima, pendekatan sistem tidak efesien karena berkenaan dengan masalah untuk mengidentifikasi secara lansung pokok masalah. Jawaban dari tuduhan ini tergantung pada masalah-masalah yang alami, jika masalah ini adalah ruang dan kita ingin memecahkannya pada masalah basis tambahan mungkin pendekatan kesisteman yang tidak dipertimbangkan bisa digunakan.Tetapi jika masalahnya mendasar dan saling berhubungan, cara yang sepakat dengan masalah tidak hanya menghasilkan pengukuran remedial untuk menyembuhkan gejala sehingga pendekatan kesisteman mungkin bermanfaat.

Keenam, model kesisteman humanis bisa diakomodasi sebagai kerangka berpikir kesisteman. Teori modern  organisasi misal sistesa manajemen ilmiah dan teori hubungan manusia, keduanya dibawah payung berpikir kesisteman, bisa dilakukan dengan menghargai nilai-nilai kemanusiaan dalam membangun kesisteman. Variabel kemanusiaan seperti: kebebasan, kemuliaan, privasi, bisa didasarkan sebagai input kesisteman atau lingkungan kesisteman. Dan variabel non kemanusiaan.

Ketujuh, masalah determinis dan non determinis sama tuanya dengan kewarganagaraan manusia, dan tidak ada jawaban tunggal dari suatu pertanyaan, adalah teka-teki kehidupan alam, bagaimanapun usaha-usaha merencanakan kesisteman ke depan dikendalikan secara ilmiah. Tidak ada alasan mengabaikan masalah manusia, misalnya masalah yang ditimbulkan oleh pengutuban teknologi dan humanis. Segalanya harus untuk keselamatan manusia dari pembusukan, tetapi usaha determinis yang ekstrim.

Akhirnya, menurut James Schelesinger menandai analisis sistem, dalam memorandom untuk subcommitee on National Security and internatioanl Operation, april 1968, dia menyatakan satu dari dua setengahnya adalah (sorak sorai) analisis sitem.

Dia mengenali dan menekankan keterbatasan analisis sistem ini, dengan mengatakan sikapnya tentang analisis sistem, dengan penuh harapan, perubahan sistem akan memberikan proses menuju sikap ilmiah sehingga pada saatnya untuk merevisi  the cheer upward sementara mengakui adanya lingkaran kebenaran, tuduhan Rollo Handy tentang berpikir sistem yang mempunyai tendensi imperialistik meliputi bidang-bidang yang sangat besar.

Sikap yang ditunjukkan Earnest Nagel-dibedakan antara positivist logis yang menantang legalitas dari berpikir kesisteman: sikap menyeluruh sebagai dasar berpikir kesisteman dalam komunitas ilmiah mungkin terjamin. Berpikir kesisteman saat ini masih sudut pandang dari satu doktrin meskipun di masa depan mungkin berkembang menjadi sebuah doktrin. Kenyataannya konsep kesisteman masih tahapan embrio menjadi batasan ilmu pengetahuan, ungkapan berbahaya oleh Von Mises: Bahwa meskipun tidak ada kekurangan dari motif psikologi dan alasan yang bijaksana untuk penggunaan konsep secara keseluruhan dari berbagai ilmu pengetahuan tapi dilihat sebagai sebuah model misalnya dalil metafisika. Konsep tambahan yaitu berguna dalam berbagai tempat, sebagai ide valid yang absolut sebagai sumber yang mendasari ilmu pengetahuan. Dengan penuh harapan, doktrin berpikir kesisteman akan menjadi dasar dari latar belakang ilmu pengetahuan  dari metafisika. Asas ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam berpikir kesisteman akan bertahan dalam komunitas ilmu pengetahuan.

 

 

TEORI SISTEM TERBUKA DAN TERTUTUP DALAM ORGANISASI


GambarPendahuluan

Berbagai permasalahan besar dan kompleks yang dihadapi pemerintah atau masyarakat baik yang menyangkut masalah Agama, Politik, Ekonomi, Social, Budaya, Pertahanan, Keamanan, dan sebagainya, bila diperhatikan secara seksama masalahnya memang selalu saling terkait satu sama lain atau tidak ada yang berdiri sendiri. Demikian pula berbagai masalah yang terjadi di luar negeri, ternyata langsung ataupun tidak langsung juga mempunyai pengaruh dengan masalah dalam negeri, apalagi dalam era globalisasi ini. Contoh-contoh yang menunjukkan bahwa berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan itu saling terkait atau berhubungan satu sama lain, memang banyak sekali. Salah satu contoh misalnya dalam masalah bidang pendidikan, ternyata sangat terkait dengan masalah kesejahteraan, lapangan kerja, kependudukan, industry, ekonomi, Teknologi, transfortasi dan lain-lain.

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Dalam menghadapi lingkungan yang semakin komplek terutama pada era globalisasi yang berdampak terhadap meningkatnya tuntutan kemampuan bersaing bagi setiap bangsa atau Negara agar dapat tetap bertahan atau lebih maju, maka kemampuan pendidkan dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah serta kemampuan manajerial yang efektif bagi setiap pimpinan atau manajer dari suatu organisasi yang besar, menjadi suatu tuntutan yang harus dikuasai dengan baik.

Dengan menyadari bahwa setiap masalah itu tidak berdiri sendiri dan selalu terkait dengan atau berhubungan dengan masalah lain, maka berarti jika kita memecahkan masalah yang satu pasti akan berdampak terhadap masalah yang lain. Sebagai contoh misalnya kita lihat bahwa upaya untuk menekan harga kendaraan agar agar dapat terjangkau oleh banyak orang, pada gilirannya akan meningkatkan jumlah kendaraan di jalan raya dan jika hal ini tidak diikuti dengan penambahan ruas jalan maka kemacetan lalu lintas akan semakin parah.

Mengingat hampir tidak ada suatu masalah yang berdiri sendiri, maka semua pimpinan atau manajer yang bertanggung jawab dalam suatu organisasi diharapkan perlu menggunakan pendekatan yang menyeluruh dalam proses pengambilan keputusan terutama dalam menentukan tujuan, mengalokasikan sumber daya, dan membuat perencanaan. Proses pengambilan keputusan yang dilakukan harus memperhatikan semua faktor yang terkait dan keputusan yang diambil harus ditekankan kepada upaya untuk mencapai kinerja dari keseluruhan (sistem) organisasi bukan hanya kinerja dari salah satu bagiannya. Peter Senge (1990) berkaitan dengan masalah ini pernah mengingatkan bahwa kita harus melihat hutannya jangan hanya pohon ke pohon. Artinya dalam menghadapi suatu persoalan kita jangan hanya memperhatikan detailnya tetapi juga kedudukan persoalannya dalam persepektif yang lebih luas. Dalam hal ini pendekatan sistem merupakan suatu metodologi yang akan dapat menjawab kebutuhan tersebut.

Pada perkembangannya Maning perdana menteri Kanada menulis tentang ‘’Pendekatan Sistem’’ dan dalam platform politiknya menyatakan : Sebuah hubungan timbal balik ada di antara semua elemen dan para pemilih dari masyarakat. Faktor-faktor yang utama dalam masalah-masalah umum, kebijakan-kebijakan, keputusan-keputusan, dan program-program haruslah selalu dipertimbangkan dan dievaluasi sebagai ketergantungan antar komponen dari seluruh sistem.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, pada makalah ini kami hanya akan membahas masalah perkembangan filosofi, dan teori sistem dalam perspektif keilmuan.

Sejarah Perkembangan Teori Sistem

Kata Sistem dalam maknanya di sini, memiliki sejarah panjang yang dapat ditelusuri kembali ke Plato (Philebus), Aristoteles (Politik) dan Euclid (Unsur). Sistem pada saat itu berarti “total”, “orang banyak” atau “serikat” pada zaman kuno, karena berasal dari kata kerja sunìstemi, menyatukan, menempatkan bersama-sama. “Sistem” berarti “sesuatu untuk melihat”. Dalam filsafat, sebelum Descartes, tidak ada kata “sistem”. Plato tidak memiliki “sistem”. Aristoteles tidak memiliki “sistem”.[1]  Pada abad ke-19 yang pertama kali mengembangkan konsep “sistem” dalam ilmu alam adalah fisikawan Perancis Nicolas Leonard Sadi Carnot yang belajar termodinamika. Pada tahun 1824 ia mempelajari sistem yang ia sebut substansi kerja, yaitu struktur uap air, di mesin uap, dalam hal kemampuan sistem untuk melakukan pekerjaan ketika panas diterapkan untuk itu. Substansi kerja dapat dimasukkan ke dalam kontak dengan baik boiler, reservoir dingin (aliran air dingin), atau piston (yang diterima oleh tubuh pekerja dapat melakukan pekerjaan dengan mendorong di atasnya). Pada tahun 1850, fisikawan Jerman Rudolf Clausius umum gambar ini untuk memasukkan konsep lingkungan dan mulai menggunakan “Struktur yang bekerja” istilah tersebut mengacu ke sistem.

Salah satu pelopor dari teori sistem umum adalah ahli biologi Ludwig von Bertalanffy. Pada 1945 ia memperkenalkan model, prinsip, dan hukum yang berlaku bagi sistem umum atau subclass mereka, terlepas dari jenis khusus mereka, sifat dari unsur-unsur komponen mereka, dan hubungan atau ‘kekuatan’ di antara mereka. Perkembangan yang signifikan dengan konsep sistem dilakukan oleh Norbert Wiener dan Ross Ashby yang memelopori penggunaan matematika untuk mempelajari sistem. Pada 1980-an sistem adaptif kompleks jangka diciptakan di Santa Fe Institute interdisipliner oleh John H. Holland, Murray Gell-Mann dan lainnya.[2]

Teori Sistem  umum hadir pertama kali di dahului dengan adanya teori cibernatika, sistem keteknikan dan bidang pengetahuan yang saling berhubungan. Pengertian sistem mempunyai sejarah panjang, walaupun kondisi sistem tidak mengutamakan sejarah dari pengertian yang meliputi banyak nama dan ilustrasi. Nicolas dari cusa’s Deludo globy, Bertalanffy dan Hermann Hasse’s Glasperlenspiel yang mengamati bahwa pengerjaan dunia di refleksikan dalam sebuah desain yang cakap dan permainan yang abstrak. Menurut Kohler sebuah  teori sistem dimaksudkan untuk lebih mengerjakan sifat yang paling umum seperti properti organik daripada sistem organik untuk satu derajat, permintaan ini dipenuhi dengan teori sistem terbuka.

Kemampuan mengerjakan disebabkan oleh berbagai perkembangan teoritis baru, epistemologis, matematis dan lain–lain. Dalam hubungannya dengan pekerjaan eksperimen pada metabolisme dan pertumbuhan pada satu sisi dan sebuah usaha untuk mengkongkretkan sebuah program organismik pada sisi yang lain, teori sistem terbuka adalah sebuah lanjutan berdasar pada fakta yang biasa bahwa organisme adalah suatu sistem terbuka. Seiring dengan perkembangan waktu keberadaan teori sistem  mulai di perhitungkan, kemudian ada usaha untuk menginterpretasikan ilmu pengetahuan dan teori yang sebelumnya belum pernah dilakukan, dan generalisasi yang lebih tinggi daripada yang terdapat pada ilmu pengetahuan khusus. Teori Sistem  umum ditanggapi sebagai sebuah trend rahasia dalam berbagai disiplin. Teori sistem sering diidentikkan dengan teori cybernatika dan control, hal ini tentu saja tidak benar. Sebab Cybernatika adalah berpikir kesisteman yang beranggapan bahwa manusia dan masyarakat  dapat dipahami melalui kajian terhadap pesan fasilitas komunikasinya. Pemahaman akan peran umpan balik dan dampaknya merupakan titik sentral dari pembahasan teori sistem, Konsep kotak hitam (black box) dan negative fedd back yang  dapat digunakan untuk memahami dan memperbaiki suatu sistem yang kompleks seperti organisasi, banyak dibahas dalam ilmu ini. Cybernatika merupakan sebuah bagian dari sebuah teori  sistem  umum dan sistem merupakan kasus spesial yang penting dari teori sistim.

Tinjauan Umum Teori Sistem
Upaya mendeskripsikan, menjelaskan dan memprediksi perilaku organisasi umumnya berasal dari teori sistem. Seorang biolog Ludwig von Bertalanffy menyatakan bahwa teori sistem dapat dianalogikan dengan sistem yang ada pada organisme. Organisme sel itu terdiri atas sel-sel, dan sel-sel membentuk suatu molekul. Tiap bagian yang ada membentuk sistem yang terintegrasi dan terdiri dari struktur yang saling bergantungan dan bekerja secara harmonis. Tiap molekul tahu tugas masing-masing dan harus dapat bekerjasama serta memenuhi aturan yang ada. Hukum keteraturan merupakan konsep yang bersifat menyeluruh. Ide tentang keteraturan merupakan ide dasar dalam memahami dan menganalisis situasi yang kompleks.

Teori sistem memiliki dua konsep dasar yaitu pertama, konsep subsistem yang melihat hubungan antar bagian sebagai hubungan sebab akibat. Konsep kedua memandang sebab jamak (multiple causation) sebagai hubungan yang saling berkaitan yakni tiap bagian merupakan kompleks (kumpulan) yang tiap faktornya saling berkaitan.[3]

Teori Sistem Sosial; Teori Peran, Konsep Peranan dan hubungannya dengan Teori Sistem Sosial. Ada dua pola sistem yakni open system (sistem terbuka) dan closed system (sistem tertutup) dalam konteks hubungan organisasi dengan lingkungan eksternal. Suatu sistem adalah “terbuka”, jika mempunyai transaksi dengan lingkungan mana ia berada. Transaksi antara suatu organisasi dengan lingkungannya mencakup “input” dan “output”. Input biasanya dalam bentuk informasi, energi, uang, pegawai, material dan perlengkapan yang diterima organisasi dari lingkungannya. Output organisasi pada lingkungannya dapat berbentuk macam-macam tergantung pada sifat organisasi[4] Hubungan pada tiap aspek input dan output yang ada di sekolah dengan lingkungan yang lebih luas merupakan suatu interaksi yang membentuk siklus yang tiada akhir.

Konsep input-output sering disebut sebagai model linear, yaitu teori yang menjelaskan bagaimana sistem dapat dijelaskan dalam konteks dunia nyata. Suatu teori yang beranjak dari konsep umum ke khusus yang tampak logis, rasional dan teratur berupaya untuk mencari jawaban terhadap upaya menghubungkan nilai input dan nilai output sehingga menghasilkan efisiensi biaya. Dalam konteks sekolah, siswa dan guru berupaya mencapai tujuan formal sekolah dengan keyakinan, tujuan dan harapan. Mereka akan mematuhi hukum, aturan dan disiplin agar dapat mempertahankan diri daripada memikirkan komitmen yang tidak jelas. Pendekatan lain dalam memahami organisasi sekolah dan perilaku anggotanya adalah dengan berfokus pada apa yang sebenarnya terjadi. Hal ini berpusat pada proses yang terjadi di dalam yaitu sistem organisasi yang dipandang sebagai sistem total dari konteks yang menggambarkan seluruh pola yang ada.  Organisasi sebagai sistem yang menciptakan dan menjaga lingkungan didalamnya memuat interaksi manusia yang kompleks (baik antar individu maupun dalam kelompok). Organisasi sekolah, misalnya, harus dipandang sebagai hubungan antara perilaku manusia dan konteksnya. Dengan demikian, perilaku organisasi difokuskan pada sekolah sebagai suatu sistem.

Andrew Halpin dan Don Croft meneliti tentang iklim sekolah yang berfokus pada karakteristik internal organisasi sekolah yang seakan terpisah dari pengaruh lingkungan. Hal ini akan memudahkan peneliti karena memisahkan unsur lingkungan sekolah dengan konteks yang lebih luas.

Organisasi dengan sistem terbuka dapat digambarkan seperti fenomena nyala api lilin, sinar yang dipancarkannya akan memengaruhi kondisi lingkungan di sekelilingnya. Daniel Griffiths mengatakan bahwa organisasi (sistem) berada dalam lingkungan (suprasistem) yang didalamnya memuat pula sub sistem (perangkat administrasi dalam organisasi). Batasan antar sub sistem dibuat dengan garis putus-putus yang berarti antar bagian dapat saling menembus (permeable). Antara subsistem yang terlibat dapat saling mempengaruhi lewat hubungan yang interaktif dan adaptif antar komponen. Masalah yang terjadi pada satu bagian dapat menjadi ancaman terhadap fungsi keseluruhan. Adapun karakteristik dari sistem tertutup adalah adanya kecenderungan yang kuat untuk bergerak mencapai suatu keseimbangan dan entropi yang statis. Sifat ini menunjukkan adanya kebekuan atau tepatnya keseimbangan yang beku. Istilah entropi aslinya dipergunakan dalam ilmu-ilmu fisika. Ia mempunyai pengertian dipergunakan pada setiap sistem yang tertutup dengan tidak adanya potensi berikutnya untuk membangkitkan daya kerja atau usaha transformasi[5]

Teori Peran
Erving Goffman menganalogikan situasi kehidupan sehari-hari dengan peran di panggung ketika menganalisis perilaku interpersonal manusia dalam organisasi. Tiap organisasi harus mengartikan peran individu yang terlibat yang dipengaruhi oleh interaksi dinamis dengan orang lain. Seperti aktor dan penonton, peran yang dijalani oleh pimpinan, misalnya dibentuk oleh harapan atasannya dan juga oleh kehadiran orang lain. Kehadiran orang lain (direktur dan orang lain) bertujuan untuk mengontrol situasi dan organisasi agar orang-orang yang terlibat berperilaku seragam (conform).
Adapun beberapa istilah mengenai peran ini sebagai berikut;

  1. Peran adalah konsep psikologis tentang perilaku yang timbul dalam interaksi dengan manusia lain. Tiap posisi membawa harapan tertentu bagi pelaku dan organisasi lain.
  2. Deskripsi peran, yaitu perilaku aktual yang ditunjukkan. Lebih tepat lagi berkaitan dengan lagi persepsi seseorang tentang perilaku yang harus dijalankan.
  3. Peran preskriptif merupakan ide abstrak tentang norma umum yang terdapat dalam budaya tentang peran yang diharapkan.
  4. Harapan peran, yaitu harapan orang lain terhadap peran yang harus dijalankan orang lain, misalnya guru terhadap kepala sekolah, kepala sekolah terhadap guru. Jika mereka berinteraksi artinya mereka memiliki harapan peran yang saling melengkapi (bersifat komplementer).
  5. Persepsi peran, merupakan persepsi yang dimiliki seseorang terhadap peran yang seharusnya dilakukan orang lain.
  6. Peran manifes (nyata) dan peran laten, hal ini berasal dari kenyataan bahwa seseorang mempunyai lebih dari satu peran. Peran manifes merupakan peran yang ditunjukkan, lainnya akan menjadi peran laten.
  7. Konflik peran. Hal ini dapat terjadi dan merupakan sumber dari kinerja yang tidak baik. Contoh nyata dari konflik peran yaitu dua orang tidak mampu untuk membangun hubungan yang memuaskan secara timbal balik. Hal ini bisa berasal dari banyak sebab, yang menimbulkan kebingungan antara harapan peran dan persepsi peran. Konflik peran juga dapat terjadi pada individu yang sama: harapan peran berkonflik dengan kebutuhan pribadi misalnya konflik peran pada kepala sekolah .
  8. Ambiguitas peran. Hal ini dapat terjadi ketika preskripsi peran mengandung elemen yang kontradiktif atau kabur.

Sebagai contoh hal ini dapat dilihat pada perbedaan kerja antara bidang administrasi dan supervisi. Supervisor sering merasa memiliki otoritas hirarki di atas guru. Mereka terkadang harus melawan perannya saat harus melatih dan menghilangkan otoritasnya terhadap guru. Konflik peran dapat menimbulkan tekanan dan ketidakpastian, yaitu suatu ketidakkonsistenan dalam perilaku. Hal ini berdampak pada perilaku yang tidak bisa diprediksi dan tidak bisa diantisipasi terutama bila terjadi tekanan atau konflik interpersonal. Orang yang berada pada situasi ini akan menjadi tidak mampu menghadapi situasi tersebut. Menghadapi situasi yang demikian kadang dilakukan dengan penghindaran, misalnya menghindari diskusi dengan obrolan-obrolan biasa yang tidak penting.

Trend dalam Teori Sistem

            Ketika hal baru di serukan sebagai sesuatu yang revolusioner banyak orang memakai istilah ini untuk menandai perkembangan ilmu pengetahuan.Revolusi adalah proses menjebol tatanan lama sampai ke akar-akarnya, kemudian menggantinya dengan tatanan yang baru. Begitu juga yang di maksud dengan revolusi ilmu pengetahuan  atau revolusi sains muncul jika paradigma yang lama mengalami krisis dan akhirnya orang mencampakkannya serta mencita-gunakan paradigma yang baru yang sekiranya lebih rasional dan logis.

Menurut pendapat Kuhn revolusi ilmu pengetahuan ditentukan  oleh adanya paradigma yang mengakibatkan perubahan konsep, sehingga ilmu pun terus berubah. Peran paradigma dalam perkembangan ilmu penetahuan sangat  penting, karena paradigma itulah yang menjiwai sebuah konsep. Dalam hal ini masalah sistem merupakan hal yang penting dalam pembatasan masalah pada prosedur analisis ilmu pengetahuan. Aplikasi prosedur analisis tergantung pada dua kondisi yang pertama interaksi antara bagian yang tidak ada atau cukup lemah untuk dibiarkan dalam tujuan penelitian tertentu. Yang kedua dalam hubungannya dengan menerangkan perilaku bagian haruslah linier.

 Teori Sistem  Klasik

Teori Sistem Klasik menambahkan  matematika klasik seperti kalkulus dengan tujuan untuk menyatakan prinsip yang digunakan pada sistem umum atau sub kelas yang ditentukan  (misalnya, sistem tertutup dan sistem terbuka), untuk menyediakan teknik dalam penelitian dan deskripsi, serta untuk menerapkan kasus-kasus konkret Karena sifat umum dari deskripsi tersebut. sehingga dapat dinyatakan bahwa sifat formal tertentu akan berlaku untuk setiap entitas sistem   ( sistem terbuka, atau sistem hirarkis, dll). Berbagai teori pendukungpun bermunculan untuk melengkapi pengaplikasian teori sistem umum antara lain : Teori Bagian, Teori Set, Teori Grafik, Teori Jaringan, Cibernetika, Teori Informasi, Teori Automata, Teori Permainan, Teori Keputusan, dan Teori Pengantrian.

Arti Teori Sistem Umum

Ilmu modern dikarakterkan oleh spesialisasinya yang pernah meningkat, diharuskan dengan banyaknya jumlah data, kompleksitas tehnik dan struktur teoritis di semua bidang. Pada acara ini, kita merumuskan disiplin ilmu baru yang disebut “Teori Sistem Umum”. Pemikiran teori ini mengenai pembangunan model teoritis model kesisteman yang dasarnya terletak  diantara teori umum matematika murni dan teori disiplin ilmu tertentu. Pada teori sistem umum, subjek masalahnya adalah pada perumusan dan derivasi prinsip-prinsip yang valid untuk “sistem” secara umum. Arti disiplin ini dapat dikondisikan sebagai berikut : Fisika dihubungkan dengan sistem level-level generalitas yang berbeda. Ini diperluas dari sistem yang agak khusus, seperti yang diaplikasikan oleh insinyur pada konstruksi jembatan atau mesin, pada hukum khusus disiplin ilmu fisika seperti mekanik atau optik; pada hukum generalitas besar seperti prinsip termodinamika yang diaplikasikan pada sistem yang berbeda sifatnya secara intrisik, mekanik, kalorik, kimia atau yang lain. Dengan mendefinisikan konsep sistem, kita akan tahu bahwa model, prinsip dan hukum yang ada itu diaplikasikan pada sistem yang digeneralkan yang mengabaikan jenis, elemen dan “kekuatan” khusus yang terlibat.

Tujuan Teori Sistem Umum

Teori sistem umum merupakan keseluruhan yang sampai sekarang masih dianggap sebagai konsep yang semimetafisik dan tidak jelas. Dalam bentuk yang berelaborasi ini akan menjadi disiplin logis matematika secara formal tetapi dapat di aplikasikan pada berbagai ilmu empiris karena berhubungan dengan ‘’keseluruhan yang teroganisir’’ ini akan menjadi signifikasi yang hampir sama dengan yang dimiliki teori probabilitas untuk ilmu yang berhubungan dengan ‘’peristiwa kesempatan’’ yang berikutnya juga adalah disiplin matematika formal yang dapat diaplikasikan pada bidang yang paling berbeda, seperti termodinamika, percobaan biologi dan medis, genetik, statistik asuransi hidup dan sebagainya. Indikasi tujuan teori sistem umum, adalah sebagai berikut :

1. Ada tendensi umum melalui integrasi dalam berbagai ilmu alam dan sosial.

2. Beberapa integrasi nampaknya menjadi pusat dalam teori sistem umum.

3. Menjadi sarana penting untuk membidik pada teori yang tepat dalam bidang  ilmu pengetahuan nonfisik

4. Mengembangkan prinsip kesatuan yang dijalankan secara vertikal melalui universalnya ilmu individu, teori ini membawa kita lebih dekat pada tujuan kesatuan ilmu.

5. Lebih mengarah pada dibutuhkannya integrasi dalam pendidikan ilmiah.

 Sistem Terbuka dan Sistem Tertutup

Fisika konvensional hanya berkenaan  dengan sistem tertutup,  yang terisolasi terhadap lingkungan. Dalam teori kimia fisis dijelaskan reaksi-reaksi, rata-rata dan kesetimbangan kimia yang ditetapkan dalam bejana tertutup dimana sejumlah reaktan dijadikan satu. Hukum termodinamika menyatakan bahwa hukum tersebut hanya diterapkan pada sistem tertutup saja. Sedangkan setiap organisme yang hidup pada dasarnya merupakan sistem yang terbuka. Mereka mempertahankan diri dalam sebuah pemasukan dan pengeluaran yang berkesinambungan, pembangunan dan kerusakan komponen-komponen, tidak pernah selama hidupnya berada dalam kesetimbangan kimiawi dan termodinamis, tapi tetap berada dalam sebuah keadaan tetap yang berbeda jauh dengan keadaan sebelumnya. Perumusan fisika yang terjadi tidak dapat dipakai oleh organisme hidup dengan sistem terbuka dan keadaan tetap, dan kita juga bisa menduga bahwa karakteristik sistem kehidupan yang beraneka ragam berlawanan asas dalam pandangan hukum-hukum fisika yang merupakan sebuah konsekuensi dari fakta ini.

Hubungan Sebab Akibat dan Teleologi

Tujuan ilmu pengetahuan sepertinya menjadi analitis yaitu pemecahan realitas menjadi unit-unit yang lebih kecil dan isolasi deretan hubungan sebab akibat yang inidvidualis. Karakteristik ilmu pengetahuan modern yang dipolakan menjadi unit-unit yang dapat dijauhkan dari hubungan sebab akibat telah terbukti tidak mencukupi, oleh sebab itu realitas dalam semua bidang ilmu pengetahuan, gagasan seperti keseluruhan, holistik, organisme, gestalt dan sebagainya, semuanya menandakan bahwa kita harus berfikir dalam terminologi sistem-sistem elemen dalam interaksi satu sama lain.

Sama halnya, gagasan teologi , terlihat seperti di luar jangkauan ilmu pengetahuan dan menjadi tempat bermain bagi hal-hal yang misterius, supranatural, asing bagi pengalihan ilmu pengetahuan , pemusatan pikiran bagi para peneliti yang percuma pada alam yang diatur oleh hukum-hukum yang tidak jelas tujuannya

Teleologi merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan. Dalam arti umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah. Dalam bidang lain, teleologi merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi tujuan dan “kebijaksanaan” objektif di luar manusia.

 Beberapa Konsep Sistem.

Konsep sistem menyatakan bahwa sebuah sistem dapat ditetapkan sebagai sekumpulan elemen atau unsur yang berdiri di dalam interrelasi. Sistem dapat ditetapkan secara matematis dengan berbagai cara. Sebagai ilustrasi, dapat dipilih sistem dari persamaan-persamaan diferensial simultan. Tak ada pembicaraan masalah finalitas yang mendetail, tetapi dapat disampaikan tipe finalitas, antara lain :

1. Teleologi statis, berarti bahwa persesuaian berguna bagi tujuan tertentu.

2. Teleologi dinamis, berarti kelangsungan proses-proses.

Ada tiga prasyarat untuk keberadaan isomorfik dalam bidang dan ilmu pengetahuan yang berbeda, yaitu adanya analogis-analogis, homologis, dan penjelasan. Analogis secara ilmiah mungkin kurang bermanfaat, namun homologis sebaliknya seringkali menghadirkan model-model bernilai, sehingga secara luas dapat diterapkan dalam fisika. Sementara secara filsafat, bentuk teori sistem umum dalam  perkembangannya akan menggantikan apa yang dikenal dengan teori kategori.

 Kesatuan dalam Ilmu Pengetahuan

Selanjutnya seluruh hasil utama penyajian sebagai Kesatuan Ilmu Pengetahuan dapat kita rangkum sebagai berikut :

1. Analisis prinsip sistem umum memperlihatkan banyak konsep yang merupakan hasil     dari definisi sistem atau hasil kondisi sistem tertentu.

2. Investigasi ini merupakan prasyarat bermanfaat yang berkaitan dengan masalah nyata     dalam ilmu pengetahuan.

3. Investigasi sama pentingnya dengan filsafat ilmu pengetahuan.

4. Fakta bahwa prinsip-prinsip diterapkan dalam sistem secara umum.

Dari sudut pandang kita, Kesatuan dalam Ilmu Pengetahuan memang terbukti nyata pada saat yang sama juga merupakan aspek yang lebih kentara. Realita dalam gagasan modern merupakan suatu urutan hirarkhis yang besar dari entitas terorganisir, mencakup seluruh tingkat dari sistem fisika, kimia hingga biologi. Penjelasan teori sistem umum pada masa yang akan datang, akan menjadi langkah utama terhadap penyatuan ilmu pengetahuan, dan akan memainkan peranan sama dengan logika Aristoteles dalam ilmu pengetahuan antiquiti. Dalam ilmu pengetahuan modern, interaksi dinamis menjadi suatu masalah besar dalam seluruh bidang realita dan prinsip-prinsip umumnya harus ditetapkan dengan teori sistem.

Metode-metode dalam Penelitian Sistem Umum

Metode-metode Penelitian Sistem Umum, sebagaimana digarisbawahi oleh Ashby (1958) terdapat dua metode dalam studi sistem :

1. Metode pertama bersifat empiriko-intuitif, metode ini dikembangkan oleh Von Bartalanffy dan rekan-rekannya, dengan obyek amatannya yaitu zoologi dan psikologi. Metode ini dengan mengamati berbagai sistim yang terjadi dalam dunia yang diamati kemudian membuat pernyataan mengenai keteraturan yang telah diamati. Metode ini memiliki keunggulan yaitu mendekati dengan realita dan dapat dengan mudah diilustrasikan atau dijelaskan dengan contoh-contoh yang diambil dari bidang ilmu pengetahuan individual.

2. Metode kedua mempelajari serangkaian dengan metode deduktif, metode ini mempelajari serangkaian sistim yang dapat mungkin dan kemudian mengurangi rangkaian tersebut menjadi ukuran yang dikehendaki. Metode ini diikuti oleh Ashby (1958). yang meneliti tentang konsep fundamental mesin dan menjawab pertanyaan dengan menyatakan kondisi internal dan kondisi lingkungannya akan menentukan kondisi selanjutnya yang akan ada. Jika variabel bersifat berkelanjutan, definisi ini berkoresponden dengan deskripsi suatu system dinamis oleh serangkaian persamaan diferensial dengan waktu sebagai veriabel bebas.

Teori Sistem Terbuka

Teori sistem terbuka merupakan generalisasi yang penting dari teori fisik kinetik dan thermodinamik. Teori ini telah menghasilkan suatu prinsip dan wawasan baru seperti misalnya prinsip equifinalitas, generalisasi prinsip thermodinamik kedua, peningkatan keteraturan yang mungkin dalam sistem terbuka terjadinya fenomena periodis, overshoot dan kesalahan permulaan dan lain-lain. Konsep sistem terbuka menemukan aplikasinya dalam ilmu pengetahuan tentang bumi, geomorphologi dan meteorologi dengan memberikan suatu perbandingan terperinci dari suatu konsep meteorologis dan konsep organismik Bertalanffy dalam bidang biologi.

Organisme yang dianggap sebagai Sitem Fisik

Organisme sebagai sistem terbuka. Dengan memperhatikan organisme sebagai keseluruhan, ia menampakkan ciri-ciri sama dengan ciri sistem pada keseimbangan menurut Zwaardemaker. Menururt pendapat Hopkins , “Hidup adalah satu keseimbangan dinamis di dalam sistem polyfasik”. Oleh karena itu dibutuhkan definisi dari apa yang disebut keseimbangan tidak berubah. Jelas, prinsip-prinsip umum seperti yang sedang dikembangkan tak dapat memberikan penjelasan rinci tentang permasalahan tersebut, namun dapat menunjukkan dasar-dasar fisik umum dari ciri kehidupan yang hakiki, termasuk pengaturan diri metabolisme dan penetapan dalam perubahan komponen-komponen. Ciri-ciri umum sistem-sistem kimia terbuka, menunjukkan bahwa, ekuilibria nyata pada sistem tertutup dan ekuilibria tidak bergerak pada sistem-sistem terbuka memperlihatkan kesamaan tertentu. Sistem tertutup harus mempertahankan keadaan seimbang bebas waktu yang ditetapkan oleh maksimum entropy dan minimum bebas energi, dimana rasio antara dua fase tetap konstan.

Model Sistem Terbuka.

Ada suatu perbedaan yang fundamental antara organisme yang hidup dan organisme yang mati. Biasanya kita tidak memiliki kesulitan dalam membedakan antara organisme hidup dan obyek yang mati. Dalam makluk hidup, proses kimia dan fisik yang tidak terbatas jumlahnya sangat “teratur/terarah”, sehingga memungkinkan suatu sistem yang hidup untuk bertahan, tumbuh, berkembang, dan bereproduksi.

Pada bagian ini akan kita bahas mengenai mesin hidup dan keterbatasannya. Pada abad tujuh belas, ketika Descartes mengenalkan konsep hewan sebagai mesin, diperkenalkan pula mesin uap dan thermodinamik yang menghasilkan adanya pandangan bahwa organisme dianggap sebagai mesin pemanas, sehingga menghasilkan gagasan perhitungan kalori dan hal-hal lainnya. Namun demikian organisme bukanlah suatu mesin pemanas yang mengubah energi bahan bakar menjadi panas dan kemudian menjadi energi mekanik. Organisme adalah suatu mesin chemodinamik yang secara langsung mengubah energi bahan bakar menjadi kerja yang efektif, yang merupakan suatu fakta bahwa teori tindakan otot ini didasarkan. Selanjutnya, mesin yang dapat mengatur sendiri kemudian dikenalkan, seperti thermostat. Sehingga organisme menjadi suatu mesin cibernetik, yang merupakan penjelasan dari homeostatis dan fenomena yang berkaitan.

Terlepas dari keberhasilannya model mesin organisme memiliki kesulitan dan keterbatasan sebagai berikut :

1. Ada keraguan mengenai asal mula mesin khususnya dalam pemikiran fisik. Descartes lama tidak masalah karena mesin hewannya merupakan ciptaan Tuhan, namun bagaimanakah mesin-mesin tersebut terjadi dialam semesta yang merupakan kejadian psiko-kimia yang tidak langsung?

2. Ada suatu masalah mengenai keteraturan setelah terjadi gangguan arbitrer. Masalah akan timbul mengenai pengaturan dan perbaikan setelah terjadi gangguan arbiter, mesin yang memperbaiki sendiri mungkin dapat dibenarkan dari sudut teori automata modern tapi dapatkah suatu mesin hidup, katakan suatu embrio atau otak dapat diprogram untuk melakukan perbaikan sendiri setelah mengalami ganguan?

3. Struktur organisme organisme hidup melakukan pertukaran komponen secara terus menerus melalui metabolisme, hal ini tidak bisa dilakukan oleh mesin dengan bahan bakarnya.

Beberapa Aspek Teori Sistem dalam Biologi.

Menurut pendapat umum, terdapat perbedaan mendasar antara “fakta-fakta yang diamati” di satu pihak yang merupakan landasan kuat ilmu pengetahuan yang tak dapat dipertanyakan yang dikumpulkan dalam sejumlah jurnal ilmiah yang tercetak dan “hanya teori” di pihak lain yang merupakan produk spekulasi. Ada empat model yang mendasari di bidang metabolisme kuantitatif yakni model-model organisme sebagai sistem terbuka, keadaan tetap homeostatis, alometri, dan yang disebut sebagai model pertumbuhan Bertalanffy. Model-model tersebut digunakan agak lebih luas dan dapat menggambarkan kerangka konseptual dan juga kerangka yang lain. Adapun aspek-aspek teori sistem dalam biologi meliputi :

1. Teori-teori tentang sistem-sistem terbuka, feedback, allometry dan pertumbuhan      dikupas dalam hubungannya dengan aplikasi-aplikasi eksperimentalnya.

2. Sistem terbuka dan feedback berlaku luas untuk fenomena di dalam fisiologi dan      memberikan perluasan-perluasan hakiki teori fisika.

3. Persamaan allometriks memberikan hubungan memungkinkan paling sederhana antara     ukuran tubuh dengan proses-proses metabolik.

4. Hubungan antara ukuran tubuh dengan tingkat metabolis mungkin terjadi : a. pada     jaringan atau species yang berbeda, b. pada perubahan kondisi fisiologis, c. pada     desain eksperimental yang berbeda.

5. Dependensi ukuran total metabolisme pada mamalia berada di bawah kondisi-kondisi     basal berbeda.

6. Dengan mempergunakan model Bertalanffy persamaan pertumbuhan menjadi sangat     sederhana.

7. Variasi-variasi musiman tingkat-tingkat metabolis dan tingkat-tingkat pertumbuhan      nampaknya menunjukkan saling kecocokan.

Konsep Sistem pada Ilmu Pengetahuan Manusia

Adanya pandangan dasar dunia sebagai organisasi dengan ditandai timbulnya paket disiplin ilmu baru seperti ciberkinetik, teori informasi, teori sistem general, teori permainan, keputusan, antrian, pada penerapan praktek, sistem analisis, sistem keteknikan, operasi penelitian dan lain-lain. Oleh karena itu munculnya sejumlah trend konsepsi baru mendatang perlu dipertimbangkan dan didorong oleh pandangan bahwa model robot adalah pandangan kenyataan empiris yang berbahaya terhadap ‘’keteknikan tingkah laku’’. Dalam penerapannya konsep robot sering di aplikasikan secara tertutup dan terbuka dan untuk lebih memahami tentang konsep robot ada beberapa prinsip tentang konsep yang dapat disampaikan sebagai berikut :

1. Satu tuntunan konsep yaitu skema respon-stimulus / rangsangan (skema S-R) perilaku     hewan dan manusia, dianggap sebagai respon terhadap rangsangan yang datang dari     luar.

2. Environmentalism menyatakan (menurut skema S-R) perilaku dan kepribadian     dibentuk oleh pengaruh dari luar.

3. Prinsip keseimbangan menurut formula Freud merupakan ‘’prinsip stabilitas‘’ tentang     pemeliharaan keseimbangan homeostatis.

4.Prinsip ekonomi, menurut faedahnya dan harus dilalui secara ekonomis yaitu    pengeluaran minimum energi mental atau vita.

Konsep dan teori ditunjukkan oleh pendekatan sistem modern terus dikenalkan di sosiologi, seperti konsep sistem umum, umpan balik, informasi, komunikasi, dan lain-lain. Ahli teori fungsional telah menemukan bermacam-macam ekspresi seperti yang dipresentasikan oleh Parsons, Merton, dan teorisi lainnya. Sementara para sejarawan berkeyakinan bahwa ilmu adalah sebuah nomothetik penting yang mengagumkan.

Teori Sistem Umum dalam Psikologi dan Psikiatri

Beberapa tahun terakhir ini, konsep “sistem” telah mencapai peningkatan pengaruh dalam psikologi dan psikiatri. G.W. Allport mengakhiri re-edisi klasiknya dengan “kepribadian sebagai sistem”, Karl Menninger mendasarkan sistem psikiatrinya pada teori sistem umum dan biologi organismik, bahkan Rapaport mengatakan ”popularitas itu seperti epidemik dalam psikologi sistem terbuka”.

Konsep “molar” pada orgnisme psikofisika sebagai sistem yang kontras dengan konsepsinya yang hanya sebagai unit “molekular”, seperti refleks, sensasi, pusat otak, dorongan, respon penguat, ancaman, faktor, dan lain-lain. Psikopatologi jelas menunjukkan bahwa disfungsi mental lebih merupakan gangguan sistem daripada sebagai hilangnya fungsi tunggal. Tanpa stimuli eksternal, organisme bukanlah sistem yang pasif tetapi merupakan sistem aktif secara intrinsik. Sementara pada evolusi dan perkembangan, mekanisme reaktif nampak menjadi sangat mengganggu aktivitas ritmitik lokomotor yang primitif. Teori sistem dalam psikologi dan psikiatri bukanlah penemuan baru, dan jika memiliki perasaan de javu seharusnya tidak mengkontradiksikannya dan bermaksud hanya menunjukkan bahwa konsep sistem dalam bidang ini bukan spekulasi. Pandangan dunia ilmiah hanya dapat disinggung pada uraian sebagai brikut :

1.  Konsep sistem menyediakan kerangka teoritis yang netral secara psikofisik. Istilah fisik dan psikofisik, seperti potensi, transmisi kimia pada sinapsis, jaringan neural, dan sebagainya tidak dapat diaplikasikan pada fenomena mental, dan nosi psikologis juga kurang diaplikasikan pada fenomena fisik.

2. Dualisme Cartesian antara masalah dan pikiran tidak benar di antara cahaya       pengalaman fenomenologis langsung dan riset modern di berbagai bidang.

3. Masalah keinginan bebas atau penentuan juga menerima arti baru dan pasti. Ini      merupakan masalah pseudo yang dihasilkan dari kebingungan level pengalaman yang      berbeda pada epistemologi dan metafisika.

4. Tanggung jawab selalu dinilai dalam kerangka nilai simbolik seperti yang diterima      dalam masyarakat di bawah kondisi yang diberikan.

 Relativitas Katagori.

Hipotesis yang ditawarkan oleh Whofr tentang proses kognitif seluruh manusia memiliki struktur logika biasa yang bekerja sebelumnya dan struktur komunikasi secara bebas melalui bahasa adalah merupakan sebuah kesalahan. Sementara menurut tesis aliran Kant, ada bentuk intuisi, ruang dan waktu, dan katagori intelek, seperti substansi, kauslitas dan lainya yang melibatkan universal untuk menjadi bersifat rasional. Karena itu sains, yang berdasarkan katagori-katagori ini sama universal.Menurut Von Uexkull, setiap makhluk hidup memisahkan diri dari keanekaragaman obyek-obyek di sekelilingnya, sejumlah kecil karakteristik yang menyebabkan reaksi dan ansembelnya membentuk ”sekeliling”-nya (umwelt).

Ada alasan yang sangat mendasar mengapa representasi mental alam selalu mencerminkan aspek-aspek atau perspektif realitas. Pemikiran Bertalanffy, paling tidak dalam oksidental dalam bahasa manusia, pada prinsipnya merupakan makna lawan. Seperti yang dimiliki Heraclidtus, Bertalanffy sedang berfikir panas dan dingin, hitam dan putih, siang dan malam, hidup dan mati, dijadikan dan menjadikan. Jadi kategori pengalaman dan pemikiran Bertalanffy nampak ditentukan oleh pertama faktor biologi dan kultural, kedua ikatan manusia yang diikuti oleh proses antropomopisasi gambaran dunia, ketiga walaupun deantropomopis pengetahuan hanya mencerminkan aspek-aspek tertentu atau masalah realitas, keempat setiap aspek itu relatif kebenarannya, hal ini menunjukkan batasan dan kemuliaan pengetahuan manusia.

Berdasarkan uraian di atas Teori Sistem Umum sebagai sebuah trend rahasia dalam berbagai disiplin ilmu tidak muncul begitu saja tetapi melalui perjalanan yang panjang dengan bantahan-bantahan yang muncul dan bersifat menentang karena pada waktu itu ilmu fisika dan kimia dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan ilmu sosial. Masalah sistem itu penting dalam pembatasan masalah pada prosedur analisis ilmu pengetahuan. Hal ini seharusnya diungkapkan pertama kali berawal dari ilmu-ilmu metafisik dan pertama kali diperkenalkan oleh Von Bertalanffy melalui bukunya General System Theory pada tahun 1928 dan merupakan awal konsep untuk memandang dan memecahkan masalah secara integral dan holistik. Memecahkan masalah hanya dengan satu ilmu pada waktu itu sudah tidak memadai, sehingga General System Theory sangat populer dan diakui oleh dunia Teori sistem umum juga sering diidentifikasi dengan teori cibernetika, sebagai sebuah teori pengendalian mekanis dalam tehnologi dan alam, didirikan pada pengertian informasi dan feedback. Isomorfisme dalam Ilmu Pengetahuan, bermaksud menunjukkan tujuan umum dan beberapa konsep umum dari teori sistem umum. Pada kasus yang sederhana, tujuan isomorfisme telah dapat dilihat seperti pada hukum eksponensial maupun hukum logistik. Ada tiga prasyarat untuk keberadaan isomorfik dalam bidang dan ilmu pengetahuan yang berbeda, yaitu adanya analogis-analogis, homologis, dan penjelasan. Sementara model organisme sebagai sistem terbuka telah terbukti bermanfaat dalam penjelmaan dan perumusan matematika berbagai fenomena hidup. Model ini juga menghasilkan masalah-masalah alam yang fundamental. Di sisi lain, teori sistem dalam psikologi dan psikiatri bukanlah penemuan baru yang harus dikontradiksikan. Konsep sistem adalah pembalikan teori robotik secara radikal. Dalam kondisi tertentu sistem terbuka mendekati suatu kondisi yang bebas waktu yang disebut sebagai kondisi tetap/mantap.

  • Perspektif Klasik[6]

Teori-teori organisasi klasik adalah teori yang berkembang di khir abad ke- 18, yang pada peroide yang sering disebut Revolusi Industri. Berdasarkan pengamaan yang ada, perkembangan teori organisasi tidak lepas dari faktor lingkungan., yang meliputi aspek teknologi, sistem politik, sistem sosial, sistem budaya,dn demografi (persebaran penduduk). Terutama yang paling mendasar di sini adalah teknologi. Ini dapat dibuktikan dari proses lahirnya perspektif klasik. Perspektif ini berkembang pada periode perubahan teknologi di masa Revolusi Industri, yaitu di mulai di Inggris pada abad ke- 18.pda masa ini lah apa yang disebut ”organisasi” dalam pengertian modern muali berkembang. Revolusi Industri sendiri dapat diartikan sebagai titik pertama dalam sejarah dimana manusia mulai mengenal mesin, dlam pengertian mesin produksi yang melakukan yang mampu melakukan pekerjaan repetitif secara otomtis.

Menurut Hatch, pada periode klasik terdapat dua kelompok besar ahli pemikir organisai. Pertama, pemikir-pemikir aliran sosiologis yang mencoba mndeskripsikan dan menganalisis struktur organisasi dan peran-peran didalamnya. Dan yang kedua, pemikir-pemikir aliran administrasi dan manajemen yang lebih menitikberatkan pada masalah-masalah praktis yang dihadapidalam mengelola organisasi.

Berikut ini adalah kontribusi dari masing-masing tokoh tersebut.

Max Weber, Ahli Sosiologi, Jerman, untuk pertama klainya ia mengkaji organisai pemerintahan secara mendalam. Weber mendasarkan pemikiran birokrasinya pada konspe otoritas formal yang impersonal, objektif, dan rasional. Birokrasi semacam ini dijalankan dengan aturan-aturan dan prosedur bki, melalui bentuk-bentuk kontrol legalistik. Pengaruhnya terhadap teori terutama adalah pada aspek organisai publik, yang oleh tokoh-tokoh sebelumnya tidak dikemas dalam pemikiran tersendiri.

Frederick W. Taylor, Ahli Mnajemen, AS, gagasan terpenting dari taylor adalah penerapan prinsip-prinsip ”ilmiah” dlam melakukan pekerjaan dan mengontrol pekerja. Taylor menggunakan metode induktif, yaitu menciptakan suatu prinsip umum dari pengamatan terhadap kasus-kasus khusus. Pemikiran ini terutama dituangkannya dalam principe of scientific management.

  • Perspektif Modern

Perspektif Klasik, sebagaimana  dpat kita cermati dari tokoh-tokohnya, terbagi menjadi dua pemikiran besar, yaitu pemikiran yang menekankan pencapaian efisiensi dan efektivitas organisasi dan liran yang menekankan kebutuhan sosial dan psikologis manusia. Teori organisasi disini berhadapan dengan suatu masalaha klasik, bahwa organisasi modern dapat menolong manusia utnuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan secar efisien dan efektif, tetapi pada suatu ketika dapat ”memperbudak” manusia yang menciptakannya.

Melalu pesrpektif modern, fokus perdebatan berpindah dari aspek internal (efisiensi versus humanisme) pada aspek eksternal (hubungan organisasi dan lingkungan). Organisasi tidak lagi dilihat sebagai unti yang berdiri sendiri, melainkan terkait dengan apa yang disebut lngkungan. Jadi, di satu sisi, teori-teori organisasi perspektif modern adalah kelanjutan dari pemikiran-pemikiran era klasik. Namun dilihat dari sisi yang lain, mereka berbeda. Inspirasi utama mereka adalah keteraturan dan cara kerja alam (nature), khususnya aspek biologis. Sementara itu, pemikir-pemikir klasik umum terinspirasi oleh aspek fisika.

Dari sisi ilmu fisika, pemikiran Newton melihat bahwa alam semesta dapat diasumsikan sebuah mesin, seperti jam raksasa, yang bekerja melalui prinsip-prinsip keteraturan tertentu sehingga tidak terjadi kekacauan atau tabrakan satu sama lain. Gagasan keteraturan ini dikembangkan oleh pemikir-pemikir klsik dengan metafora organisasi sebagai ”mesin” yang harus bekerja secara efektif dan efisien.

Sebaliknya, para pemikir di era modern mengamati keteraturan lain yang dianggap lebih dinamis, yaitu keteraturan makhluk hidup atau dunia hayati. Mereka menamakannya teori keteraturan organik. Ludwig von Bertalanffy, seorang ahli biofisologi Jerman, mengambil konsep ”organisme” yang dikembangkan ahli-ahli biologi untuk diterapkan pada semua jenis ”sistem” secara umum. Inilah petak dasar dari pemikirn perspektif modern.

Di sisi lain, hingg pasa taraf tertentu, basis pemikiran modernis ternyata cenderung menghasilkan pa yang disebut ”rekayasa sosial” (social engineering). Terutama di negara-negara berkembang, dimana para ahli atau negarawan acap kali merombak ”sistem” yang sudah ada, dengan asumsi unsur-unsur pembentuknya tidak terkait dalam suatu interrelasi yang ideal, dan menciptakan ”sistem” baru yang lebih unggul.

  • Perspektif Post-Modern

Kecenderungan pemikir-pemikir post-modern adalah membalikkan asumsi-asumsi dasar dari pemikir-pemikir sebelumnya. Hal yang paling mendasar dalah ”keteraturan”. Baik pendekatan klasik maupun modern mendasarkan gagasan-gagasannya pada konsep keteraturan. Bedanya pemikir klasik mengambl gagasan keteraturan dari mekanisme alam semesta (fisika), sementara pemikir modern dari keteraturan organik makhluk hidup (biologi). Namun, inilah yng berbeda, perspektif post-modern mereka sengaja mengabaikn konsep keteraturan itu, termasuk dalam teori organisasi. Tujuannya adalah memperlihatkan realitas yang lebih kompleks, dimana kebenaran yang satu bersanding dengan kebenran yang lain meskipun keduanya tidak sama.

Pokok-pokok pemikiran dibawah ini adalah ”asumsi-asumi” yang mendasari pemikiran para ahli organisasi dan administrasi sejak jaman klasik sampai modern. Asumsi-asumsi inilah yang akan dibongkar oeh pemikir dri post-modern.

  1. Kemajuan atau pertumbuhan adalah sesuatu yang tanpa batas. Baik pendekatan klasik      maupun modern pada dasarnya tidak mengasumsikan adanya batas-batas tertentu bagi    perkembangan organisasi.
  2. Kebenaran adalah universal, sehingga rancangan yang berlaku pada satu kasus dapat     diterapkan pada kasus lain.
  3. Kebutuhan dan hasrat manusia pada dasarnya sama dan dapat di objektivitasi.
  4. Hierarki dan ketidakseimbangan kekuasaan dalam organisasi adalah alamiah.                  Dalam banyak hal apalagi bagi kita yang negara berkembang belum bisa diduga seperti apa kondisi dan penyesuaian-penyesuaian yng dilakukan organisasi terhadap kondisi pasca industri tersebut. Hanya saja beberapa ciri yang dapat diidentifikasi muli sekarang adalah:
  1. Penciptaan pengetahuan dan pengguna informasi maki penting. Pekerja sektor               manufaktur berkurang, sementara sektor jasa meningkat.
  2. Batas-batas organisasi dan lingkungan cenderung makin susah untuk dipertahankan.
  3. Batas-batas antara unit-unit atau departemen dalam suatu organisasi juga cenderung       makin kabur.
  4. Kehidupan organsisasi ditandai oleh ketidakpastian yang makin besar.

Jika dibatasi pada organisasi bisnis, perubhan yang terjadi dalam masyarakat pasca industri ada alam tiga hal penting berikut.

  1. Sistem produksi, harus menyesuaikan dengan perubahan-perubahan selera pasar yang   berlangsung cepat.
  2. Pasar domestik tidak memadai, harus ada internsionalisasi memasuki pasar-pasar              baru diluar negeri.
  3. Inovasi menjadi sagat penting, dimana riset dan pengembangan tidak jarang akan              sangat menentukan kelangsungan dan perkembangan perusahaan.

Dengan latar belakang perubahan-perubahan pasca-industri tersebut, dapat dipahami bahwa proyek pemikiran post-moernisme itu sendiri merupakan antisipasi terhadap pola pikir masyarakat yang secara radikaltelah berubah. Empat asumsi yang dikemukakan tersebutmenjelaskan beberapa haldari sustu pandang post modernis.

Kesimpulan

Sistem Teori merupakan suatu konsep dasar yang menjelaskan hubungan sistematis suatu fenomena dengan cara merinci suatu hubungan sebab – akibat yang terjadi. Di kehidupan sehari-hari istilah sistem teori sering dihubungkan dengan praktik, sistem teori kadang-kadang tidak mudah dipahami karena sifatnya cenderung abstrak. Memahami pemikiran secara abstrak barangkali bukan tugas yang mudah. Namun, sesuatu yang sulit bukan berarti tidak berguna. Seorang ahli mengatakan, tidak ada yang lebih praktis daripada teori yang bermanfaat, artinya, dengan menguasai suatu teori secara baik seseorang akan lebih mudah menangani hal-hal praktis yang berkaitan dengan ilmu dilapangan. Dibelakang setiap sistem teori terdapat asumsi-asumsi yang membentuk sudut pandang suatu teori biasanya asumsi tersebut berpola objektif dan subjektif. Maksudnya, realita secara objektif dapat diukur, dinilai, dan diperbandingkan, dengan satu sama lain. Sedangkan pola subjektif mengasumsikan lebih kepada perorangan yang dapat berfikir berbeda-beda pada suatu objek yang sama.

Dari pemikiran Bertalanffy tentang hal tersebut di atas jelas Bertalanffy mengemukakan pemikirannya tentang General System Theory yang telah berjasa dalam menghilangkan jurang pemisah antara ilmu-ilmu eksak dengan ilmu sosial. Masyarakat dunia semakin sadar bahwa dibutuhkan kesatuan dalam ilmu pengetahuan untuk mengatasi permasalahan yang muncul di belahan dunia manapun.

Refrensi

http://id.shvoong.com/humanities/history/2288480-sejarah-penemuan sistem/#ixzz2NIvbCY5B

http://www.bsu.edu/classes/flint/systems.html

Ludwig Von Bertalanffy (1968) “General System theory : Foundations, Development, Applications”, Resvised Edition, Goerge Braziller New York

Marshall McLuhan dalam: McLuhan:…. Ed Hot & Cool oleh Gerald Emanuel Stearn Sebuah   Buku meterai diterbitkan oleh The New American Library, New York, 1967

Owens, Robert G., Organizational Behavior in Education, Third Edition (New Jersey: Prentice-Hall Inc, 1987)

Thoha, Miftah, Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008).

Wexley, Kenneth N., dan Yukl Gary A, Perilaku Organisasi dan Psikologi Personalia, Cet. II, Penerj. Muh. Shobaruddin, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003)


[1] Marshall McLuhan dalam: McLuhan:…. Ed Hot & Cool oleh Gerald Emanuel Stearn Sebuah   Buku meterai diterbitkan oleh The New American Library, New York, 1967, hal 288.

[2] http://id.shvoong.com/humanities/history/2288480-sejarah-penemuan sistem/#ixzz2NIvbCY5B

[3] Owens, Robert G., Organizational Behavior in Education, Third Edition (New Jersey: Prentice-Hall Inc, 1987), h. 76

[4] Wexley, Kenneth N., dan Yukl Gary A, Perilaku Organisasi dan Psikologi Personalia, Cet. II, Penerj. Muh. Shobaruddin, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003),h. 54

[5] Thoha, Miftah, Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008). h. 34

 

PEMBIAYAAN PENDIDIKAN EKONOMI, PENDIDIKAN DAN EKONOMI PENDIDIKAN


Definisi Ekonomi Pendidikan

Ekonomi didefinisikan oleh P. Samuelson (1961) sebagai suatu kegiatan tentang bagaimana manusia dan masyarakat memilih, dengan atau tanpa menggunakan uang, untuk memanfaatkan sumber daya produksi yang langka untuk menghasilkan barang dan mendistribusikannya untuk kebutuhan konsumsi, sekarang dan masa yang akan datang, oleh sekelompok orang atau masyarakat”. Intinya : ekonomi adalah kegiatan mengenai produksi dan distribusi segala sumber daya yang langka baik barang maupun jasa yang dibutuhkan oleh manusia.

Dengan dua kata kunci yaitu (1) Kelangkaan (scarcity) dan (2) Kebutuhan (needs). Pendidikan, menurut Webster’s New World dictionary (1962), adalah “Suatu proses pelatihan dan pengembangan pengetahuan, keterampilan, pikiran, watak dan lain-lain, khususnya melalui sekolah formal. Kegiatan pendidikan menyangkut produksi dan distribusi pengetahuan baik di lembaga reguler maupun non reguler”. Karena mayoritas kegiatan tersebut berlangsung di lembaga pengajaran seperti sekolah swasta dan negeri.

Berdasarkan definisi ekonomi dan pendidikan, maka ekonomi pendidikan adalah “Suatu kegiatan mengenai bagiamana manusia dan masyarakat memilih, dengan atau tanpa uang, untuk memanfaatkan sumber daya produktif yang langka untuk menciptakan berbagai jenis pelatihan, pengembangan pengetahuan, keterampilan, pikiran, watak, dan lain-lain, terutama melalui sekolah formal dalam suatu jangka waktu dan mendistribusikannya, sekarang dan kelak, di kalangan masyarakat”. Intinya, ekonomi pendidikan berkaitan dengan :

  1. Proses pelaksanaan pendidikan
  2. Distribusi pendidikan di kalangan individudan kelompok yang memerlukan
  3. Biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat atau individu untuk kegiatan pendidikan, dan jenis kegiatan apa yang dibutuhkan.

 Masalah-Masalah Pokok Ekonomi Pendidikan

Karena proses pendidikan melibatkan penggunaan sejumlah sumber daya yang langka, timbulah sejumlah permasalahan yang jawabannya harus dipandang dari sudut analisa ekonom. Untuk dapat menemukan solusi yang memadai, diperlukan Pemikiran-pemikiran Ekonom dan kerja sama dari para ahli pendidikan, sosiologi, psikologi dan sebagainya. Terdapat lima pokok permasalahan yang berkaitan dengan persoalan ini, yaitu :

  1. Identifikasi dan pengukuran nilai-nilai ekonomi pendidikan. Dalam hal ini, meliputi bagaimana perhitungan atau estimasi dari biaya pendidikan yang dikeluarkan dan keuntungan pendidikan yang diperoleh.
  2. Alokasi sumber daya dalam pendidikan, Proses pendidikan meliputi hasil keluaran proses pendidikan dari penetapan sejumlah input dalam pendidikan.
  3. Gaji guru, Disesuaikan dengan tingkat dan faktor penentu kemampuan yang dimilikinya.
  4. Anggaran/Keuangan pendidikan, Siapakah yang harus membayar pendidikan ? Apakah pemerintah harus menduk ung pendidikan di sektor pemerintah adan swasta ? Jika ya, Pada level yang yang mana pemerintah harus mengambil bagiannya ? Jika ada subsidi, apakah harus diberikan pada lembaga pendidikannya atau pada peserta didiknya ?
  5. Perencanaan pendidikan, Meliputi pembahasan perencanaan pelaksanaan pendidikan yang masuk akal, berbagai macam pendekatan terhadap perencanaan, dan beberapa makro dan mikro dari model perencanaan yang tersedia/disediakan.

Thomas H. jones (1985:3), mengatakan bahwa “The economics of education deals with relationship between educational spending and the well-being of society as a whole or certainly social group”. Ada hal yang perlu diperhatikan, yaitu pada tatanan filosofis bahwa pendidikan itu merupakan lembaga non profit, oleh karena itu kegiatan ekonomi yang bersifat ekploitatif dengan menempatkan kegiatan pendidikan sebagi lahan yang menghasilkan nilai dengan uang adalah salah (Elchanan Cohn,1979).

Pendidikan, Human Investment dan Modal Manusia.

Pendidikan mempunyai peranan penting dalam peningkatan sumber daya manusia. Pendidikan mempengaruhi secara penuh pertumbuhan ekonomi bangsa. Hal ini bukan saja karena pendidikan akan berpengaruh terhdap produktivitas, tetapi juga berpengaruh terhadap fertilitas(angka kelahiran) masyarakat. Dengan pendidikan menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam meghadapi perubahan-perubahan dalam kehidupan. Jadi, pada umumnya pendidikan diakuai sebagai investasi sumber daya manusia. Pendidikan memberikan sumbangan yang besar terhadap perkembangan kehidupan sosial ekonomi melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, kecakapan, sikap serta produktivitas.

Dalam hubungannya dengan biaya dan manfaat, pendidikan dapat dipandang sebagai salah satu investasi (human investment) dalam hal ini, proses pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan merupakan suatu bentuk konsumsi semata, akan tetapi merupakan suatu investasi. Hal yang sama diungkapakan pula oleh Mark Blaug (1976:19) yang menyatakan bahwa :

“…. A good case can now be made for the view that educational expenditure does partake to a surprising degree of the nature of investment in enhanced future output. To that extent, the consquences of education in the sense of skills embodied in people may be viewed as human capital, which is not to say that people themselves are being treated capital. In other word, the maintenance and improvement of skills may be seen as investment in human beings, but the resources devoted to maintaining and increasing the stock of human beings remain consumption by virtue of the abolition of slavery”.

Oleh karena itu, pendidikan merupakan suatu investasi yang berguna bukan saja untuk perorangan atau individu saja, tetapi juga merupakan investasi untuk masyarakat yang mana dengan pendidikan sesungguhnya dapat memberikan suatu kontribusi yang substansial untuk hidup yang lebih baik di masa yang akan datang. Hal ini, secara langsung dapat disimpulkan bahwa proses pendidikan sangat erat kaitannya dengan suatu konsep yang disebut dengan human capital. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Jones (1985:4) yang menyatakan bahwa “The people have certain skills, habit, and knowledge, which they sell to employers in the form of their wage salaried labor, and which can be expected to provide them a flow of income over their lifetimes. Furthermore, human capital can be analogized in some respects to physical capital because both are used together to produce a stream of income over some period of years”.

Bank Dunia dengan program internasionalnya telah menetapkan kepercayaan terhadap peranan investasi sumber daya manusia bagi pertumbuhan ekonomi (World Development Report, 1980) kepercayaan ini didasarkan atas studi yang dilakukan pada akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an. Sumbangan pendidikan untuk menunjang pertumbuhan ini semakin kuat setelah memperhitungkan efek pendidikan dan bentuk investasi fisik lainnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari segi teori ekonomi pendidikan, khususnya pendekatan human capital, aspek pembiayaan dipandang sebagai bagian dari investasi pendidikan yang menentukan taraf produktivitas individu maupun kelompok. Pada gilirannya taraf produktivitas ini mempengaruhi taraf perolehan (earning) seseorang atau kelompok yang pada akhirnya berkontribusi terhadap kecepatan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan.

Jika dicermati, bahwa pendidikan berfungsi untuk memberikan kemampuan pada seseorang agar mampu berperan dalam kehidupannya kelak, sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfat bagi hidupnya. Bila berbicara mengenai investasi manusia, jelas tidak boleh lepas dari fungsi pendidikan.Adam Smith dan Alfred Marshall (dalam Knezvich, 1975:539) mengemukakan keyakinannya bahwa  “the most valuable of all capital is that invested in human beings”.

SDM (Human Capital) : Kompetensi : – personal

                                      o Skill

                                          o Social (kerjasama)

 

 

 

Jadi : biaya akan bermakna apabila tercipta kualitas (mutu) pendidikan berharga dilihat dari sudut pandang ekonomi : bahwa semakin tinggi ilmu semakin tinggi pendapatan. (sedangkan barang makin lama makin berkurang nilainya (depresiasi) keuntungan dari pendidikan dapat digolongkan menjadi 2, yaitu  :

-       Functional benefit : keuntungan yang dapat menghasilkan

-       Emotional benefit : hanya untuk kepuasan, dalam kaitannya dengan SDM, pendidikan tidak hanya untuk mendaptakan ijazah dan gelar, tetapi adanya perubahan tingkah laku yang mempunyai Nilai Ekonomis dalam kehidupannya.

 

D. Biaya Pendidikan

Biaya dalam pendidikan meliputi biaya langsung dan biaya tidak langsung. Hal tersebut sesuai dengan pendapat R. Johns, Edgar L. Morphet dan Kern Alexander (1983:45) yang menyatakan bahwa “Education has both private and sicoal cost, which may be both direct and indirect, direct cost are incurred for tuition, fees, books, room andboard. In a public school, the majority of these costs are subsuned by the public treasury and thus become social costs. Indirect costs of education are embodied in the earnings which are forgone bay all persons of working age, but forgeno earnings are also a cost to societ, a reduction in the total productivity of the nation”.

Biaya langsung terdiri dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan pengajaran dan kegiatan belajar siswa. Kebanyakan biaya langsung berasal dari sistem persekolahan sendiri seperti SPP, dan Sumbangan Orang Tua murid untuk pendidikan atau yang dikeluarkan sendiri oleh siswa untuk membeli perlengkapan dalam melaksanakan proses pendidikannya, seperti biaya buku, peralatan dan uang saku. Sedangkan biaya tidak langsung berupa keuntungan yang hilang dalam bentuk kesempatan yang hilang dan dikorbankan oleh siswa selama belajar (Cohn,1979; Thomas Jone,1985; Alan Thomas, 1976. dalam Nanang Fattah 2000,23). Menurut Cohn (1979:62), biaya pendidikan dapat dikategorikan sebagai berikut :

a)    Biaya langsung, yaitu biaya yang dikeluarkan secara langsung untuk membiyai penyelenggaraaan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, seperti gaji guru, pegawai non edukatif, buku-buku pelajaran dana bahan perlengkapan lainnya. Hal ini berpengaruh pada hasil pendidikan berupa nilai pengorbanan untuk penyelenggaraan kegiatan-kegiatan tersebut.

b)    Biaya tak langsung (Indirect cost), yaitu meliputi hilangnya pendapatan peserta didik karena sedang mengikuti pendidikan. Bisa juga berupa keuntungan yang hilang (earning forgone) dalam bentuk biaya kesempatan yang hilang (opportunity cost) yang dikorbankan oleh siswa selama belajar. Bentuk-bentuk dan beberapa kategori dari biaya pendidikan masyarakat dan swasta menurut R. Johns, Edgar L. Morphet dan Kern Alexander (1983:45),yaitu :

Direct Cost

Indirect cost

  1. 1.     Social

-     Salaries of teacher, administrators and nonprofesional personnel

-     Books, supplies and equipment

-     Transportation

-     Room anf board

-     Scholarship and other subsidies to students

-     Capital expenditure

 

  1. 2.     Private

-     Tuition and fees

-     Books, suplies and equipment

-     Extra travel

-     Room and board

 

1. Social

- Earning forgone

 

2.Private

- Earning forgone

 

 

Sedangkan menurut Elchanan C (1979:62), menyebutkan bahwa : “Direct cost have received by far the bulk of attention, perhaps because the consequences of such costs are directly and strongly felt by the tax payer and, of course, because statistics on direct school outlays are readily available (or estimable), where as indirect cost must be imputed. The majority of direct cost are incured by the school systems themselves”.

c) Private Costs dan Social Costs

Private cost adalah biaya yang dikeluarkan keluarga untuk membiayai sekolah anaknya dan termasuk didalamnya opportunity cost.

Social cost sebagai biaya publik, yaitu sejumlah biaya yang dibayar masyarakat untuk pembiayaan sekolah.

d) Monetary dan Non Monetary cost

Monetary cost dapat berupa biaya langsung atau biaya tidak langsung, yang mungkin dibayar masyarakat ataupun oleh perorangan. Dengan kata lain Monetary cost adalah nilai pengorbanan yang terwujud dalam pengeluaran uang.

Non Monetary cost adalah nilai pengorbanan yang tidak diwujudkan dengan pengeluaran uang sepeti biaya yang diperhitungkan dimana seorang siswa tidak mengambil kesempatan waktu senggangnya untuk bersenang-senang tetapi digunakan untuk membaca buku.

Perhitungan biaya dalam pendidikan akan ditentukan oleh unsur-unsur tersebut yang didasarkan pula pada perhitungan biaya yang nyata sesuai dengan kegiatan menurut jenis dan volumenya. Dalam konsep pembiayaan pendidikan ada dua hal penting yang perlu dikaji dan dianalisis yaitu biaya pendidikan secara keseluruhan dan biaya satuan per siswa. Biaya satuan ditingkat sekolah merupakan biaya pendidikan tingkat sekolah, baik yang bersumber dari pemerintah, orang tua dan masyarakat yang dikeluarkan untuk penyelenggraan pendidikan dalam satu tahun pelajaran. Hal tersebut, dipertegas pula oleh Howard R. bowen (1981:1) yang menyebutkan “Cost usually appear in the form of expenditures of money. Similarly, costs of colleges and universities are usuallymoney payments to acquire the resources needed to operate the institutions”.

Biaya satuan per murid merupakan ukuran yang menggambarkan seberapa besar uang yang dialokasikan ke sekolah-sekolah secara efektif untuk kepentingan murid dalam menempuh pendidikan. Hal ini ditekankan pula oleh Howard R. bowen (1981:4) yang menyebutkan bahwa “What passed as cost per unit was computed simply by adding up total institutional expenditures for all purposes and dividing by the number of students”. Dengan menganalisis biaya satuan, memungkinkan untuk mengetahui efesiensi dalam penggunaan sumber-sumber di sekolah, keuntungan dari investasi pendidikan, dan pemerataan pengeluaran masyarakat. Dalam hal biaya nyata dalam suatu pendidikan, Howard R. bowen (1981:2), berpendapat bahwa “The real cost, however, lie beneath the money payments. The products of outcomes of higher education are obtained through the use of scarce resources. The real cost of higher education, then, consists of benefits that might have been realized from these resources, but were sacrified, because these resources were committed to higher education”.

Disamping biaya yang nyata, Howard R. Bowen (1981:3), juga menjelaskan biaya keseluruhan (unit cost) yang menyatakan bahwa :“All that needed is to add up all expenditures-making sure to include only the costs that are properly allocated to the year inquestion. But, even when adjusted for changes in the value of the dollar, this total is not meaningful for comparisons over time or among institutions unless it is related to the number of units service rendered”.

Oleh karena itu, perencanan program biaya sekolah harus komprehensif dan melibatkan pembuat keputusan yang kritis menyangkut bidang pokok:

  1. Program pendidikan yang didanai.
  2. Sistem pajak yang digunakan untuk membiayai program tersebut.
  3. Sistem alokasi dana negara untuk wilayah atau daerah persekolahan.

Dalam menetapkan biaya pendidikan yang diperlukan, harus disusun perencanaan pembiayaan pendidikan. Maka, suatu proyeksi biaya pendidikan yang didasarkan atas kebutuhan dalam kaitannya dengan pembiayaan pendidikan di tingkat negara, yaitu dengan membuat alternatif proyeksi pendidikan sekurang-kurangnya 5-6 tahun mendatang Alternatif proyeksi biaya pendidikan harus bedasarkan pada asumsi-asumsi:

  1. Kecepatan rasio pertumbuhan.
  2. Jumlah imigrasi ke negara.
  3. Tipe program pendidikan untuk target populasi dengan perbedaan kebutuhan.
  4. Perbedaan biaya untuk tipe yang berbeda program pendidikan.
  5. Jumlah siswa yang mungkin akan pindah dari sekolah
  6. Perbedaan biaya yang dibutuhkan berdasarkan pada jarang atau padatnya penduduk.
  7. Tingkat kualitas pendidikan.
  8. Kekuatan memperoleh uang.

Seperti yang telah dikemukakan diatas, bahwa pembiayaan pada suatu persekolahan terpusat pada penyaluran keuangan dan sumber-sumber pendapatan lainnya untuk pendidikan. Dimana, distribusi atau penyaluran tersebut mencakup dua kategori yaitu bagaimana uang itu diperoleh dan bagaimana dibelanjakan agar proses pendidikan dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.Aspek penting lain yang perlu dikaji adalah peraturan perundang-undangan pendidikan, perkembangan historis pemerintah pusat, kecenderungan termasuk masa yang akan datang.

Oleh karena itu, dalam menetapkan biaya pendidikan perlu di dukung dengan data dan informasi mengenai siapa yang harus dididik, berapa jumlah yang harus dididik, tujuan dan sasaran apa yang ingin dicapai, program pendidikan apa yang akan dilakukan sebagai suatu usaha dalam mencapai tujuan dan sasaran tersebut.

Bank Dunia (1998) dalam buku Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah, menyarankan bahwa dalam jangka pendek, pembiayaan pendidikan seyogyanya diarahkan untuk melanjutkan investasi yang telah dilaksanakan di masa lalu, dan juga untuk melindungi kelompok masyarakat miskin dari dampak krisis. Dalam jangka menengah dan jangka panjang, perhatian seyogyanya diarahkan kepada pencapian pendidikan dasar yang menyeluruh dan persiapan untuk desentralisasi.

Menurut Thomas H. Jones dalam bukunya “Introduction to School Finance; Technique and Social Policy”(1985:250), mengungkapkan tentang prinsip-prinsip atau model pembiayaan pendidikan yang diberlakukan oleh pemerintah, yaitu :

  1. Flat Grant, model ini mendistribusikan dana-dana negara bagian tanpa mempertimbangkan jumlah uang yang berhasil dikumpulkan oleh pajak lokal atau pembagian sama rata.
  2. Full State Funding, model ini pembiayaan ditanggung sepenuhnya oleh negara yaitu menghapus semua perbedaan lokal, baik dalam pembelanjaan maupun dalam perolehan pajak.
  3. The Foundation Plan, model inio ditekankan pada patokan tarif pajak property minimum dan tingkat pembelanjaan minimum untuk setiap distrik sekolah lokal di negara bagian.
  4. Guaranteed Tax Base, model ini merupakan matching plan, dimana negara membayar presentase tertentu dari total biaya pendidikan yang diinginkan oleh setiap distrik sekolah.
  5. Percentage Equalizing, model ini merupakan bentuk dari Guaranteed Tax Base, dimana negara menjamin untuk memadukan tingkat-tingkat pembelanjaan tahun pertama di distrik lokal dengan penerimaan dari suymber-sumber negara dan match berada pada suatu rasio variabel.
  6. Power Equalizing, model ini memerintahkan distrik-distrik yang sangat kaya untuk membayarkan sebagian pajak sekolah yang mereka pungut ke kantong pemerintah negara bagian.

 

Mengukur Manfaat Biaya Pendidikan (Cost Benefit Analysis)

Manfaat biaya pendidikan oleh para ahli pendidikan sering disebut dengan Cost Benefit Analysis, yaitu rasio antara keuntungan financial sebagai hasil pendidikan (biasanya diukur dengan penghasilan) dengan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan. (Nanang F., 2000:38). Sedangkan Mark Blaug dalam Economics of education (1976:121) mengatakan bahwa : Cost benefit analysis as a technique for evaluating public investment projects that compete actually or potentially with similar projects in the private sector: that is, the market mechandism generates prices for the activity in question which can be used to translate the benefits of the public project into term directly comparable to its costs”.

Coombs dan Hallak (1972:255) dalam bukunya yang berjudul Managing Educational Cost, menyebutkan bahwa :“Cost benefit as the relationship between the inputs and resulting benefit that accrue thereafter. It use to measure of external productivity”.

Psacharopoulos, (1987:397), dalam bukunya Economics of Education, menyebutkan hal senada dengan Mark Blaug, yaitu :“Cost benefit analysisis to compare the opportunity cost of a project with the expected benefit, measured in the terms of the additions to income that will accrue in the future as a result of the investment”.

Dalam mengukur manfaat biaya pendidikan berdasar kepada konsep biaya pendidikan sifatnya lebih kompleks dari keuntungan, karena komponen-komponen biaya terdiri dari lembaga jenis dan sifatnya. Biaya pendidikan bukan hanya berbentuk uang atau rupiah, tetapi juga dalam bentuk biaya kesempatan. Biaya kesempatan (income forgone) yaitu potensi pendapatan bagi seorang siswa selama ia mengikuti pelajaran atau menyelesaikan studi. Dengan demikian, biaya keseluruhan (C) selama di tingkat persekolahan terdiri dari biaya langsung (L) dan biaya tidak langsung (K). Dalam rumusannya digambarkan sebagai berikut :

C = L + K

Biaya pendidikan merupakan dasar empiris untuk memberikan gambaran karakteristik keuangan sekolah (Nanang Fattah,2000:25). Analisis efisiensi keuangan sekolah dalam pemanfaatansumber-sumber keuangan sekolah dan hasil sekolah dapat dilakukan dengan cara menganalisis biaya satuan per siswa. Biaya satuan per siswa adalah biaya rata-rata per siswa yang dihitung dari total pengeluaran sekolah dibagi seluruh siswa yang ada di sekolah dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan untuk menghitung biaya per siswa, menurut Howard R. bowen (1981:12), menyatakan bahwa “The cost per student unit results from three societal decisions that reflect the combined influence of the many persons and public authorities who control the flow of funds to higher education. These theree decisionspertain to : the total amount to be spent on higher education, the number of units of service to be provided, and the level of quality”.

Dalam menentukan biaya satuan, menurut Nanang Fattah (2000:26) terdapat dua pendekatan, yaitu pendekatan makro dan pendekatan mikro. Pendekatan makro mendasarkan perhitungan pada keseluruhan jumlah pengeluaran pendidikan yang diterima dari berbagai sumber dana kemudian dibagi jumlah murid. Pendekatan mikro mendasarkan perhitungan biaya berdasarkan alokasi pengeluaran per komponen pendidikan yang digunakan oleh murid atau menganalisis biaya pendidikan berdasarkan pengeluaran total (total cost) dan jumlah biaya satuan (unit cost) menurut jenis dan tingkat pendidikannya. Dalam pendekatan makro, terdapat karakteristik pendidikan yang mempengaruhi biaya, yaitu :

  1. Skala gaji guru dan jam terbang mengajar
  2. Penataran dan latihan pra jabatan
  3. Pengelompokan siswa di sekolah dan di dalam kelas
  4. Sistem evaluasi
  5. Supervisi pendidikan

Dalam pendekatan mikro, perhitungan satuan biaya pendidikan dapat menggunakan formula sebagai berikut :

 

 

Dengan mengetahui besarnya biaya satuan per siswa menurut jenjang dan jenis pendidikan berguna untuk menilai berbagai alternatif kebijakan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.Dalam mengukur manfaat pendidikan, Nanang Fattah (2000 :28), mengemukakan bahwa keuntungan pendidikan tidak selalu dapat diukur dengan standar nilai ekonomi dan uang. Hal ini disebabkan manfaat pendidikan, di samping memiliki nilai ekonomi, juga memiliki nilai sosial.

Dalam pengukuran dampak pendidikan terhadap keuntungan ekonomi atau pendapatan seseorang dari produktivitas yang dimilikinya, memerlukan asumsi-asumsi. Asumsi bahwa produktivitas seseorang dianggap merupakan fungsi dari keahlian dan keterampilan yang diperoleh dari pendidikan.Sedangkan Elchanan C (1979:30), menjelaskan bahwa : “According to the dualist (or segmentists), the connection between education and income, is not related to worker productivity per se, but rahter to some key characteristics that distinguish workers who are admitted to the primary labor market from those who are not so fortunate. In the screening hypothesis, education and income are related, albeit not because of changes in productivity but rahter due to the use by employers of educational credentials as a selection device”.

Ukuran hasil pendidikan kita gabungkan dengan data biaya pendidikan dapat menjadi ukuran efisiensi eksternal. Ada empat kategori yang dapat dijadikan indikator dalam menentukan tingkat keberhasilan pendidikan yaitu :

  1. Dapat tidaknya seorang lulusan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.
  2. Dapat tidaknya seseorang memperoleh pekerjaan
  3. Besarnya penghasilan/gaji yang diterima
  4. Sikap perilaku dalam konteks sosial, budaya dan politik.

Menurut Elchanan C (1979:37), dalam mengukur manfaat dari pendidikan terdiri dari 3 (tiga) pendekatan, yaitu : 1) The simple corelation aproach, 2) The residual approach, and 3). The returns to education approach.

 

F. Efisiensi Pendidikan (Cost Effectiveness Analysis)

Istilah efisiensi pendidikan menggambarkan hubungan antara input (masukan) dan output (keluaran) dari suatu pelaksanaan proses pendidikan.

Coombs dan Hallak (1972:255), berpendapat bahwa “cost effectivenessas the relationship between the inputs and corresponding immediate educational outputs of any educational process. It is to measure of internal efisiensi”. Sedangkan Mark Blaug, (1976:121) berpendapat bahwa cost effectivenessis the appropriate evaluation technique in such all cases”.

Efisiensi pendidikan menurut Nanang Fattah (2000 :35) artinya memiliki kaitan antara pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang terbatas sehingga mencapai optimalisasi yang tinggi. Dalam biaya pendidikan, efesiensi hanya akan ditentukan oleh ketepatan di dalam mendayagunakan anggaran pendidikan dengan memberikan prioritas pada faktor-faktor input pendidikan yang dapat memacu pencapaian prestasi belajar siswa. Untuk mengetahui efesiensi biaya pendidikan biasanya digunakan metode analisis keefektifan biaya (cost effectiveness Analysis) yang memperhitungkan besarnya kontribusi setiap masukan pendidikan terhadap efektivitas pencapaian tujuan pendidikan atau prestasi belajar.Upaya efisiensi dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Kedua konsep tersebut satu sama lain erat kaitannya.

Efisiensi internal dapat dinilai melalui suatu sistem pendidikan yang menghasilkan output yang diharapkan dengan biaya minimum. Dapat pula dinyatakan bahwa dengan input yang tertentu dapat memaksimalkan output yang diharapkan. Output acapkali diukur dengan indikator-indikator seperti angka kohort, yaitu proporsi siswa yang dapat bertahan sampai akhir putaran pendidikan, pengetahuan keilmuan, keterampilan, ketaatan kepada norma-norma perilaku social. Karena dengan alasan inilah persoalan-persoalan mutu pendidikan biasanya dibahas dengan memperhatikan efisiensi internal dari system pendidikan.Untuk menilai efisiensi internal dapat dilakukan dengan cara membandingkan antara seleksi di dalam putaran-putaran pendidikan dan seleksi diantara putaran pendidikan. Tingginya angka retensi di dalam putaran-putaran pendidikan merupakan indikator yang diperlukan untuk mengetahui efisiensi internal.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengukur efisiensi internal adalah sebagai berikut :

1. Rata-rata lama belajar (Average study time)

Metode ini digunakan untuk mengetahui berapa lama seorang lulusan menggunakan waktu belajarnya dengan cara menggunakan statistik kohort (kelompok belajar). Cara penghitungannya adalah jumlah waktu yang dihabiskan lulusan dalam suatu kohort dibagi dengan jumlah lulusan dalam kohort tersebut.

Contoh : Jika di suatu SLTP hanya terdapat tiga orang lulusan masing-masing menghabiskan waktu 3, 4 dan 5 tahun, maka lama belajar rata-rata adalah : 4

Artinya : rata-rata waktu belajar seorang lulusan ialah 4 tahun, setahun lebih lama dari waktu ideal belajar untuk tingkat SLTP, maka semakin besar rata-rata waktu belajar, waktu semakin tidak efisien.

2. Rasio Input – Output (Input-Output Ratio (IOR) merupakan perbandingan antara jumlah murid yang lulus dengan murid yang masuk awal dengan memperhatikan waktu yang seharusnya ditentukan untuk lulus. Artinya, membandingkan antara tingkat masukan dengan tingkat keluaran.Sedangkan Efesiensi eksternal, sering dihubungkan dengan metode cost benefit analysis. Efisiensi eksternal dihubungkan dengan situasi makro yairtu pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan social sebagai dampak dari hasil pendidikan.Pada tingkat makro bahwa individu yang berpendidikan cenderung lebih baik memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dan kesehatan yang baik.Analisis efisiensi eksternal berguna untuk menentukan kebijakan dalam pengalokasian biaya atau distribusi anggaran kepada seluruh sub-sub sektor pendidikan. Efisiensi eksternal juga merupakan pengakuan sosial terhadap lulusan atau hasil pendidikan.

Dalam menganalisis efisiensi eksternal, dalam bidang pendidikan dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu :

  1. Keuntungan perorangan (private rate of return), yaitu perbandingan keuntungan pendidikan kepada individu dengan biaya pendidikan dari individu yang bersangkutan.
  2. Keuntungan masyarakat (social rate of return), yaitu perbandingan keuntungan pendidikan kepada masyarakat dengan biaya pendidikan masyarakat Jadi, efisiensi eksternal pendidikan meliputi tingkat balik ekonomi dan investasi pendidikan pada umumnya, alokasi pembiayaan bagi jenis dan jenjang pendidikan.

Untuk menentukan keputusan apakah suatu program pendidikan yang telah dibiayai itu memberikan tingkat balik dapat dihitung dengan menggunakan formulasi berikut :

 

Net profit merupakan keuntungan bersih dari suatu kegiatan usaha yang diproleh dari pendapatan kotor setelah dikurangi pajak dan biaya-biaya operasional. Sedangkan total asset merupakan biaya investasi keseluruhan yang dikorbankan untuk membiayai suatu kegiatan. Apabila ROI rata-rata sepanjang masa kegiatan atau proyek diperoleh lebih rendah dari tingkat balik yang dibutuhkan berarti investasi tersebut tidak layak;Sebaliknya jika rata-rata nilai proyek lebih tinggi dari tingkat balik yang dibutuhkan berarti investasi tersebut layak. Sedangkan Internal Rate of Return (IRR) dapat dihitung dengan :

 

IRR = NetProfit + Depresiasi

 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa efisiensi internal dan efisiensi eksternal mempunyai kaitan yang sangat erat. Kedua aspek tersebut saling melengkapi satu sama lain dalam menentukan efisiensi system pendidikan secara keseluruhan (Cohn, 1979; Mingat Tan, 1988, dalam Nanang Fattah, 2000:40).Secara konseptual efisiensi pendidikan meliputi cost-efectiveness dan cost benefit. Cost effectiveness dikaitkan dengan perbandingan biaya input pendidikan dan efektivitasnya dalam mendukung hasil- hasil belajar.

Efisiensi internal atau cost effectiveness sangat bergantung pada dua faktor utama yaitu :

1. Faktor institusional

2. Faktor manajerial

Dalam analisanya dapat juga digunakan metode RoR (Rate of Return) atau tingkat kembali, dimana membandingkan keuntungan moneter dengan biaya pelaksanaan program, yang mencakup perhitungan perkiraan biaya-biaya.

Rumusannya adalah :

 

 

Pedoman yang perlu diperhatikan setelahmelakukan perhitungan tersebut adalah :

  1. Jika RoR-nya lebih besar dari investasi, maka proyek tersebut layak dilaksanakan.
  2. Jika RoR-nya lebih kecil dari investasi, maka sebaiknya proyek tersebut jangan dilaksanakan
  3. Jika RoR-nya = 0, maka proyek tersebut tidak untung dan tidak rugi (Break Event Point).

Sedangkan cost benefit dikaitkan dengan analisis keuntungan atas investasi pendidikan dari pembentukan kemampuan, sikap, keterampilan. Terdapat dua hal penting dalam hal investasi tersebut, yaitu :

  1. Investasi hendaknya menghasilkan kemampuan yang memiliki nilai ekonomi di luar intrinsiknya.
  2. Nilai guna dari kemampuan Karena keuntungan tersebut bukan dalam bentuk uang, maka diperlukan penyesuaian cara-cara dalam memperhitungkannya, yaitu dengan cara menentukan nilainya berdasarkan atas biaya perbandingan pengeluaran untuk barang-barang yang tidak dapat dipasarkan.

Hal ini dapat dinyatakan secara simbolis, sebagaimana formula Zymelman (1975) sebagai berikut :

 

 
 

Bt = Bp + BnP

 

Bt : jumlah keuntungan

BnP : Ct –Bp

Bp : Keuntungan bukan moneter

Ct : Jumlah biaya

 

 

 

 

 

 

 

Atau dapat dihitung dengan NPV (Net Present Value), yaitu rasio nilai yang akan datang/sekarang terhadap tingkat keuntungan. Persamaan yang dipakai adalah sebagai berikut :

 

 Keterangan :

TR : Total Revenue

TC : Total Cost

FV : Future Value (rasio nilai yang akan datang)

R   : Tingkat Keuntungan

T   : Waktu (tahun) dalam periode tertentu Kriteria-Kriteria aturan keputusan untuk investasi.

Upaya-upaya dalam meningkatkan efisiensi pembiayaan pendidikan perlu diarahkan pada hal-hal pokok berikut ini :

  1. Pemerataan kesempatan memasuki sekolah (equality of access).
  2. Pemerataan untuk bertahan di sekolah (equality of survival)
  3. Pemerataan kesempatan untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar (equality of output)
  4. Pemerataan kesempatan menikmati manfaat pendidikan dalam kehidupan masyarakat (equality of outcome)

Konsep peningkatan efisiensi pembiayaan pendidikan akan mempunyai makna jika dihubungkan dengan konsep efisiensi, baik secara internal maupun secara eksternal.

 Bentuk Biaya Pendidikan Lainnya

Dengan mengkuantitaskan produksi pendidikan, jumlah hasil ujian dapat dihitung dengan menghitung secara sederhana jumlah anak didik yang mencapai suatu standar pendidikan dan juga dapat mempertimbangkan kapasitas produksi dalam pengertian jumlah guru, jumlah kelas, jumlah kehadiran, dan jumlah peserta didik. Dengan demikian dapat dihitung biaya per lulusan, biaya menurut tingkatan pendidikan yang dicapai, biaya unit per anak didik, biaya rata-rata kehadiran sehari-hari, biaya modal per kelas, dan biaya rata-rata per kelas.

  1. Biaya per Lulusan, yaitu, perbandingan antara keseluruhan biaya untuk sekelompok peserta didik dengan jumlah yang lulus.Pekerjaan ini tidak mudah, karenanya orang lebih menyederhanakan dengan memperkirakan jumlah rata-rata mereka yang lulus selama jangka waktu tertentu dengan membandingkan jumlah biaya pendidikan yang dihitung dari biaya rata-rata peserta didik.
  2. Rata-rata biaya kehadiran sehari-hari yaitu dihitung dengan Recurrent Cost (biaya berulang) dibagi dengan jumlah peserta didik yang hadir setiap hari (yaitu rata-rata setiap hari).
  3. Biaya Modal per Tempat Untuk keperluan proyeksi dalam menganggarkan biaya modal maka perlu dihitung biaya modal per tempat, yaitu dengan menghitung jumlah biaya pendirian dan perlengkapan permulaan dibagi dengan jumlah tempat yang tersedia.
  4. Biaya Rata-rata per Kelas Yaitu dengan menghitung rasio antara biaya keseluruhan dengan jumlah kelas yang ada.
  5. Recurrent Cost per rata-rata pendidik Pengajar memiliki kedudukan yang penting dalam proses belajar mengajar. Hampir 65% atau 70% dari recurrent cost digunakan untuk gaji guru. Karena itu, dengan menghitung biaya berulang per rata-rata pendidik, dapat dikaitkan dengan tingkat pelayanan.

Kesimpulan

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa  pendidikan merupakan investasi pada sumber daya manusia. Ekonomi pendidikan merupakan suatu kegiatan mengenai bagiamana manusia dan masyarakat memilih, dengan atau tanpa uang, untuk memanfaatkan sumber daya produktif yang langka untuk menciptakan berbagai jenis pelatihan, pengembangan pengetahuan, keterampilan, pikiran, watak, dan lain-lain, terutama melalui sekolah formal dalam suatu jangka waktu dan mendistribusikannya, sekarang dan kelak, di kalangan masyarakat. Intinya, ekonomi pendidikan berkaitan dengan Proses pelaksanaan pendidikan, distribusi pendidikan di kalangan individu dan kelompok yang memerlukan serta biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat atau individu untuk kegiatan pendidikan, dan jenis kegiatan apa yang dibutuhkan.

Ekonomi pendidikan diperlukan karena proses pendidikan melibatkan penggunaan sejumlah sumber daya yang langka dan jawabannya harus dipandang dari sudut analisa ekonomi meskipun secara ekonomi pendidikan merupakan lembaga non profit.

Biaya pendidikan dikategorikan sebagai biaya langsung dan biaya tidak langsung. Sedangkan manfaat biaya pendidikan diukur dengan cost benefit analysis. Sedangkan efisiensi biaya pendidikan diukur dengan ROI, IRR, ROR, dan NPV.

 

 

Samuelso, Paul A., Economics, 11th Edition, McGraw-Hill Book Co., New York,

Pendidikan dan Kemiskinan


Kemiskinan merupakan masalah global, sering dihubungkan dengan kebutuhan, kesulitan dan kekurangan di berbagai keadaan hidup. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Istilah “negara berkembang” biasanya digunakan untuk merujuk kepada negara-negara yang “miskin”.
Kemiskinan merupakan hal yang kompleks. Kemiskinan berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia. Kemiskinan muncul karena sumber daya manusia yang tidak berkualitas, begitu pula sebaliknya. Membangun pengertian kemiskinan bukanlah perkara yang mudah karena kemiskinan mencakup berbagai macam dimensi.

Dimensi kemiskinan dapat diidentifikasi menurut ekonomi, sosial, politik. Kemiskinan secara ekonomi dapat diartikan sebagai kekurangan sumber daya yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan. Kemiskinan ini dapat diukur secara langsung dengan menetapkan persediaan sumber daya yang tersedia dan membandingkannya dengan ukuran baku. Kemiskinan sosial dapat diartikan sebagai kekurangan jaringan sosial dan struktur sosial yang mendukung untuk mendapatkan kesempatan agar produktivitas seseorang meningkat. Kemiskinan sosial dibedakan berdasarkan faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi. Sedangkan kemiskinan politik menekankan pada akses terhadap kekuasaan. Kekuasaan yang dimaksud mencakup tatanan sistem sosial yang dapat menentukan alokasi sumber daya untuk kepentingan sekelompok orang atau tatanan sistem sosial yang menentukan alokasi penggunaan sumber daya.

Terdapat beberapa teori yang telah dielaborasi berkaitan dengan kemiskinan. Secara ringkas, teori-teori tersebut dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu dan teori yang mengarah pada struktur sosial.
Teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu merupakan teori tentang pilihan, harapan, sikap, motivasi dan human capital. Secara keseluruhan, teori ini tersajikan dalam teori ekonomi neoklasik, yang berasumsi bahwa manusia bebas mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dengan tersedianya pilihan-pilihan. Teori perilaku, singkatnya, meyakini bahwa sikap individu yang tidak produktif telah melahirkan lahirnya kemiskinan.

Teori kedua adalah teori strukturalis yang diwakili oleh teori kelompok marxis. Yaitu bahwa hambatan-hambatan struktural yang sistemik telah menciptakan ketidaksamaan dalam kesempatan, dan berkelanjutannya penindasan terhadap kelompok miskin oleh kelompok kapitalis. Teori struktural melihat bahwa kondisi miskinlah yang mengakibatkan perilaku tertentu pada setiap individu, yaitu, munculnya sikap individu yang tidak produktif merupakan akibat dari adaptasi dengan keadaan miskin.

Selain dua teori di atas, terdapat pula teori yang tidak memihak. Teori yang paling terkenal adalah teori mengenai budaya miskin. Teori ini mengatakan bahwa gambaran budaya kelompok kelas bawah, khususnya pada orientasi untuk masa sekarang dan tidak adanya penundaan atas kepuasan, mengekalkan kemiskinan di kalangan mereka dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pendidikan dan Kemiskinan

Pada umumnya, permasalahan mengenai pendidikan dan kemiskinan di negara berkembang hampir serupa. Umumnya, negara-negara ini menghadapi dilema; apakah pertumbuhan ekonomi yang lebih dahulu dipacu ataukah pendidikan yang lebih baik. Persoalan ini sukar dijawab, sehingga ia lebih merupakan sebuah lingkaran setan (vicious circle)
Keterkaitan kemiskinan dengan pendidikan sangat besar karena pendidikan memberikan kemampuan untuk berkembang lewat penguasaan ilmu dan keterampilan. Pendidikan juga menanamkan kesadaran akan pentingnya martabat manusia. Mendidik dan memberikan pengetahuan berarti menggapai masa depan. Hal tersebut seharusnya menjadi semangat untuk terus melakukan upaya mencerdaskan bangsa. Tidak terkecuali, keadilan dalam memperoleh pendidikan harus diperjuangkan dan seharusnya pemerintah berada di garda terdepan untuk mewujudkannya. Penduduk miskin dalam konteks pendidikan sosial mempunyai kaitan terhadap upaya pemberdayaan, partisipasi, demokratisasi, dan kepercayaan diri, maupun kemandirian. Pendidikan nonformal perlu mendapatkan prioritas utama dalam mengatasi kebodohan, keterbelakangan, dan ketertinggalan sosial ekonominya. Pendidikan informal dalam rangka pendidikan sosial dengan sasaran orang miskin selaku kepala keluarga (individu) dan anggota masyarakat tidak lepas dari konsep learning society adult education experience yang berupa pendidikan luar sekolah, kursus keterampilan, penyuluhan, pendidikan dan latihan, penataran atau bimbingan, dan latihan indonesia hari ini masih merupakan akibat dari sisa-sisa penjajahan. Dalam rangka melanggengkan kekuasaan, pemerintah kolonial Belanda tidak memberikan porsi kepada rakyat jelata Indonesia untuk memperoleh akses pendidikan yang memadai. Pendidikan hanya ditujukan kepada rakyat Indonesia yang mampu menunjukkan loyalitas kepada Belanda. Kenyataan seperti inilah yang kemudian menciptakan feodalisme baru pasca feodalisme pemerintah kolonial. Struktur masyarakat yang ada hanyalah struktur yang didominasi oleh golongan borjuasi birokrasi. Struktur feodal borjuis ini kemudian melembaga. Anak-anak kaum borjuis menjadi borjuis di kemudian hari, sementara anak-anak miskin tetap bergelut dalam kejelataan.

Sesuai dengan UUD 1945, rakyat Indonesia tidak lagi terstruktur dalam kelas yang didasarkan pada sistem feodal atau borjuasi (setidaknya dalam teori/termaktub dalam undang-undang, walaupun pada kenyataannya tidak demikian). Sistem pendidikan nasional yang dirumuskan pemerintah masih cenderung menciptakan ketimpangan struktur masyarakat seperti yang terlihat dalam praktek pendidikan masyarakat kolonial. Maka jangan heran kalau kemudian muncul kritikan terhadap model pendidikan. Ivan Illich misalnya, melucuti kemapanan sekolah yang menurutnya hanya mempertajam ketimpangan masyarakat. Pada saat ini memang sangat disadari bahwa sebagian besar porsi pendidikan – terutama pendidikan bermutu – hanya dapat diakses oleh kalangan the have. Dalam kenyataan yang demikian maka kecil harapan bagi rakyat miskin untuk dapat mengakses pendidikan, apalagi pendidikan bermutu. Mereka akan tetap bergulat dalam kemelaratan.

Kemiskinan yang dihadapi, membuat mereka akan terbelenggu dalam kebudayaan kemelaratan (culture of poverty), Paulo Freire dengan tegas menyatakan bahwa pada akhirnya penduduk yang miskin terjebak dalam kebudayaan bisu (culture of silence). Kebudayaan bisu ini membentuk pandangan hidup si miskin baik dalam memandang tata nilai, sikap mental dan tingkah laku yang pasrah, karena mereka sendiri sudah tidak peduli lagi terhadap kemiskinan yang mereka alami. Keadaan ini membuat rakyat miskin seakan-akan orang bisu yang tidak mempunyai apa-apa.

Di bidang pendidikan, salah satu masalah kunci adalah tingginya angka putus sekolah di masyarakat miskin pada saat mereka melanjutkan pendidikan dari SD ke SMP. Yang menjadi masalah utama adalah kurangnya akses masyarakat miskin untuk melanjutkan dari SMP ataupun SMK, baik bersifat fisik maupun finansial. Akses finansial terbatas akibat tingginya biaya menciptakan halangan bagi pendidikan masyarakat miskin pada tingkat pendidikan menengah pertama.

Investasi di bidang pendidikan harus dilakukan dengan fokus pada perbaikan akses dan keterjangkauan sekolah menengah serta pelatihan ketrampilan bagi masyarakat miskin, sambil terus meningkatkan mutu dan efisiensi sekolah dasar. Investasi dibidang ini janganlah meniru model perbankkan ketika pra krisis1998, hari ini kita menyaksikan berbagai sekolah baru tumbuh yang tentu saja harus diiringi dengan semangat membangun karakter bangsa menjadi lebih maju tidak semata-mata menjadikan sekolah sebagai ajang bisnis/komersil karena jika ini terjadi, kita hanya menunggu waktu sekolah-sekolah di negeri ini collaps satu-persatu.

 

analisa jabatan


Analisis jabatan menurut Dale Yoder (1981:210) diartikan sebagai prosedur melalui fakta-fakta yang berhubungan dengan setiap jabatan yang diperoleh dan dicatat secara sistematis. Biasa disebut studi jabatan yang mempengaruhi tugas-tugas, proses-proses, tanggungjawab dan kebutuhan kepegawaian yang diselidiki. Analisis jabatan harus dibedakan dengan analisis kerja yang menitik beratkan pada karakteristik pegawai, penggunaan ujian fisik, tes-tes, wawancara dan prosedur lainnya untuk tujuan tersebut.Tahap-tahap dasar.

ada lima tahap dasar analisis jabatan yang dikemukakan oleh Anderew J. Dubrin (1982:29) yaitu :

  • Tahap 1. pengumpulan latar belakang informasi.
  • Tahap 2. Pemilihan kedudukan yang refresentatif
  • Tahap 3. pengumpulan data analisis jabatan
  • Tahap 4. pengembangan deskripsi jabatan
  • Tahap 5. Pengembangan spesifikasi jabatanTujuan analisis jabatan
  • menentukan kuantifkasi yang diperlukan pemegang jabatan.
  • melengkapi bimbingan dalam seleksi dan penarikan pegawai
  • mengevaluasi kebutuhan pegawai untuk pemindahan atau promosi jabatan.
  • menetapkan kebutuhan untuk program pelatihan.
  • menentukan tingkat upah, gaji, dan pemeliharaan administrasi upah dan gaji.
  • mempertimbangkan keadilan dari jasa yang kurang puas terhadap pernyataan yang diberikan.
  • menetapkan tanggungjawab, pertanggungjawaban dan autoritas.
  • menetapkan tuntutan yang esensial dalam penetapan standar produksi
  • melengkapi clues untuk peningkatan metode dan penyederhaan kerja.

TEKNIK ANALISIS DATA


Analisis Data
Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setalah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokan data berdasarkan varibael dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan, untuk penelitian yang tidak merumuskan hipotesis, langkah terakhir tidak dilakukan. 
teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik. ada dua macam statistik yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian yaitu statistik deskriptif dan staistik inferensial. statistik inferensial meliputi statistik parametris dan staistik non-parametris 

A. Keterkaitan antara masalah, tujuan dan hipotesis, serta metode analisis data

Latar belakang masalah yang baik mengandung 3 hal:

  1. Penelaah/pembahasan mengenai literatur maupun hasil penelitian lain yang relevan dengan masalah yang ingin diteliti.
  2. Penjelasan mengapa peneliti menganggap nidh/topik tersebut penting untuk dipelajari/diteliti.
  3. Manfaat hasil penelitian bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan aplikasinya dalam praktik.
Perumusan tujuan penelitian dimaksudkan untuk membantu peneliti dalam memfokuskan jenis data dan atau informasi yang harus dikumpulkan. Formulasi tujuan penelitian dapat berupa pernyataan ataupun hipotesis.
Hipotesis adalah suatu pernyataan sementara mengenai ada tidaknya hubungan antara dua / lebih variabel/ fenomena yang diteliti. Apabila tujuan peneliti dirumuskan dalam bentuk hipotesis, perlu diperhatikan bahwa hipotesis tersebut harus:
  1. Menggambarkan hubungan atau perbedaan yang diharapkan antara variabel yang diteliti.
  2. Dapat diuji secara statistik
  3. Memberikan alasan / rasionalisasi yang didasarkan pada suatu teori/ hasil-hasil penelitian relevan sebelumnya.
  4. Dirumuskan sesingkat mungkin dan jelas
Masalah penelitian Tujuan Penelitian Hipotesis
  1. Apakah ada pengaruh pemberian pelayanan konseling pada siswa terhadap perilaku siswa di sekolah
  2. Apakah ada perbedaan antara prestasi belajar siswa SMU yang mengikuti bimbingan tes dengan yang tidak mengikuti bimbingan tes 1. Untuk melihat pengaruh pemberian pelayanan konseling pada siswa terhadap perilaku siswa di sekolah
  3. Untuk meneliti ada tidaknya perbedaan prestasi belajar antara siswa SMU yang mengikuti bimbingan tes yang tidak 1. Pemberian pelayanan konseling kepada siswa berpengaruh positif terhadap perilaku siswa disekolah
  4. Keikutsertaan siswa SMU bimbingan tes meningkatkan prestasi belajar siswa yang bersangkutan
Hipotesis yang menyatakan tidak adanya hubungan atau tidak adanya perbedaan antara variabel yang diteliti disebut Hipotesis Null (Ho).  Hipotesis yang menyatakan adanya hubungan dan perbedaan antara variabel yang diteliti atau kebalikan dari pernyataan dalam Hipotesis Null disebut Hipotesis Alternatif (Hi)
Contoh :
Hipotesis Null (Ho)
  • Pemberian pelayanan konseling kepada siswa tidak mempengaruhi perilaku siswa di Sekolah. Hipotesis Alternatif (Hi)
  • Pemberian pelayanan konseling kepada siswa berpengaruh positif terhadap perilaku siswa di Sekolah.
Apabila tujuan penelitian dan atau hipotesis telah dirumuskan, maka langkah selanjutnya adalah menentukan cara pengukuran variabel yang akan diteliti dan metode analisis datanya.

Tujuan / hipotesis, pengukuran variabel, dan alat analisis

Tujuan / Hipotesis Metode / Alat Analisis Pengukuran Alat
Untuk melihat ada tidaknya hubungan antara tingkat sosial ekonomi ortu dengan tingkat disiplin anak dari sekolah

1. Korelasi pearson antara variabel tingkat sosial ekonomi ortu anak dengan variabel tingkat disiplin anak
1. Tingkat sosial ekonomi : tingkat pendapatan bulanan orang tua siswa
2. Tingkat disiplin anak : frekuensi anak tidak membuat PR yang diberikan guru dalam satu catur wulan
2. Analisis Ki kuadrat (chi-square) antara variabel tingkat sosial ekonomi ortu anak dengan variabel tingkat disiplin anak
1. Tingkat sosial ekonomi : jumlah ortu anak dalam setiap kategori tingkat pendapatan
2. Tingkat disiplin : jumlah anak dalam setiap kategori tingkat disiplin

Skala Pengukuran dan Jenis Data

Teknik statistik untuk menganalisis data dapat dibedakan menjadi :
1. Statistik deskriptif (deskriptive statistics)
2. Statistik Inferensial (Inferensial Statistics)

Statistik deskriptif digunakan bila tujuan penelitian adalah untuk menggambarkan atau menjelaskan suatu variabel / fenomena. Statistik inferensial digunakan apabila peneliti ingin membuat suatu kesimpulan atau prediksi tentang persamaan fenomena / variabel sampel dengan populasi.

Ada 4 (Empat) macam skala pengukuran :

  1. Skala Nominal Disebut juga kategorikal nilai-nilai skala nominal menunjukkan nama / identitas yang menerangkan perbedaan nilai itu dari nilai lainnya. Contoh : data tentang jenis kelamin, kewarganegaraan, status pekerjaan dsb.
  2. Skala Ordinal Pengukuran dengan skala ordinal dilakukan jika mempunyai asumsi bahwa nilai-nilai dari suatu variabel yang diukur dapat diurutkan dari yang terkecil hingga yang tertinggi.
  3. Skala Interval Nilai skala interval menunjukkan perbedaan posisi dan jarak suatu nilai dengan nilai lainnya.
  4. Skala Rasio Nilai pada skala rasio menunjukkan perbedaan nilai tersebut dari nilai absolut nol. Contoh : variabel yang diukur dengan skala rasio adalah jarak, waktu, berat, dll.
Data dapat dibedakan menjadi 4 (empat) :
  1. Data kontinu adalah data yang mengandung nilai yang secara teori tidak terbatas.
  2. Data urutan / rank adalah seperti nilai data yang diukur dengan skala ordinal yaitu nilai data menunjukkan posisi seseorang / subjek diantara subjek lainnya dalam variabel yang sama.
  3. Data dikotomi adalah apabila nilai variabel hanya ada dua misalnya data jenis kelamin yang hanya punya nilai laki-laki dan perempuan.
  4. Data kategorikal Merupakan perluasan dari data dikotomi dimana nilai-nilai variabelnya terdapat beberapa kelompok.
Metode Analisis Data Kuantitatif

1. Tahap persiapan kodifikasi dan penyiapan matriks tabulasi data.
Langkah = Pendahuluan yang harus dilakukan peneliti :

  1.  Pembuatan sistem dan daftar kode variabel
  2. Penyiapan / pembuatanmatriks tabulasi data
  3. Pemasukan data dalam matriks tabulasi
Untuk dapat mengolah data yang telah dikumpulkan secara statistik, data tersebut harus diterjemahkan ke dalam kode-kode yang menggambarkan informasi yang dikandungnya Pemberian kode pada setiap variabel harus mempunyai arti. Oleh Penyiapan / pembuatan matriks tabulasi untuk pengolahan data dapat dilakukan secara manual / dengan bantuan komputer. Kertas matriks untuk tabulasi data disebut sebagai komputer data sheet, sedangkan perangkat lunak komputer yang banyak digunakan oleh banyak peneliti. Peneliti sosial adalah statistical packagefor social sentences (SPSS)

2. Teknik Analisis Kuantitatif
Analisis data kuantitatif dapat dilakukan dengan menggunakan menggunakan bantuan statistik, baik yang deskriptif maupun yang imferensial tergantung tujuannya.

  Statistik Deskriptif
Dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :

  1. Analisis Potret Data. Potret data adalah penghitungan frekuensi suatu nilai dalam suatu variabel.
  2. Analisis kecenderungan nilai tengah (central tendeney). Nilai rata-rata (mean) biasa diberi simbol X, merupakan nilai rata-rata secara aritmatika dari semua nilai dalam variabel yang diukur. Median adalah nilai tengah dari sekumpulan nilai suatu variabel yang telah diurutkan dari nilai yang terkecil kepada nilai yang tertinggi atau nilai median adalah nilai yang membagi suatu urutan nilai menjadi dua. Modus (mode) merupakan nilai yang paling sering muncul pada suatu distribusi variabel.
  3. Analisis Variasi Nilai Dilakukan untuk melihat seberapa besar nilai-niali suatu variabel berbeda dari nilai tengahnya. Pengukuran variasi niali biasanya dilakukan dengan melihat kisaran data simpangan baku.
  4. Statistik Inferensial adalah teknik pengolahan data yang memungkinkan peneliti untuk menarik kesimpulan, berdasarkan hasil penelitiannya pada sejumlah sampel terhadap suatu populasi yang lebih besar. Analisis statistik inferensial disebut juga dengan analisis uji hipotesis.
1. Uji t (t-test)
Statistik inferensial untuk melihat benda nilai tengah dua buah distribusi nilai biasanya menggunakan uji t / t-test. Uji-t pada dasarnya adalah suatu pengujian untuk melihat apakah nilai tengah suatu distribusi nilai berbeda secara nyata dari nilai tengah distribusi nilai lainnya.
2. Analisis varian (analisis of variance / anova)
Alat ini dipakai untuk menentukan apakah nilai tengah dari tiga atau lebih distribusi nilai berbeda satu sama lain secara nyata.
3. Analisis korelasi
Alat statistik Simbol Jenis data / variabel
  • Korelasi pearson produk
  • Momen (pearson pruduct moment) R Keduanya data kontinu
  • Korelasi spearman pho P Keduanya data urutan (rank ordered)
  • Biserial r bis Satu variabel data kontinu satu variabel data dikotomi buatan
  • Biserial titik (point, biserial) r bis Satu variabel data kontinu, satu variabel data dikotomi murni
  • Tetrachoric Rt Keduanya variabel / data dikotomi buatan
  • Koefisien Phi
  • Keduanya variabel / data dikotomi murni
  • Koefisien konfingengsi c Kedua variabel mempunyai dua / lebih kategori
  • Korelasi Rasio, Eta
  • Keduanya data kontinu (untuk koreksi non linear)
Beberapa alat analisis satatistik inferensial untuk melihat hubungan tiga atau lebih variabel.
Alat statistik Tujuan penelitian / tujuan analisis  
  • Regresi berganda (multiple regresion) Untuk menggambarkan derajat korelasi antara bebrapa variabel independen dengan satu variabel dependen, dimana baik variabel independen maupun dependen merupakan variabel dengan data kontinu.
     
  • Diskriminan analisis (desertminant analisis) Untuk menggambarkan derajat korelasi antara beberapa variabel independen dengan satu variabel dependen, dimana variabel independennya merupakan variabel dengan data kontin, sedangkan variabel dependen merupakan variabel dikotomi
     
  • Korelasi konovikal (conovical correlation) Untuk menggambarkan derajat korelasi antara beberapa variabel independen dengan beberapa variabel dependen
     
  • Korelasi parsial (partial / part correlation) Untuk menggambarkan derajat korelasi antara dua buah variabel independen setelah pengaruh variabel lainnya dikontrol (secara statistik)
    Analisis faktor (factor analysis) Untuk menentukan apakah suatu set variabel bisa diringkas dan dikategorikan menjadi sejumlah faktor yang lebih kecil (lebih sedikit)
     
  • Ki kuadrat (chi square) Untuk menggambarkan derajat korelasi antara dua atau lebih variabel independen, dimana variabelnya mempunyai data non parametrik
Metode Analisis Data Kuantitatif
Analisis data kuantitatif pada umumnya merupakan suatu proses interatuf yang berkesinambungan yang mencukup kegiatan-kegiatan yaitu :
  1. Analisis temuan yang terus menerus di lapangan
  2. Pengelompokkan dan pengorganisasian data
  3. Evaluasi kualitatif tentang validitas / keterpercayaan data yang terus menerus.
Langkah-langkah yang banyak dilakukan oleh etnografer untuk melakukan analisis awal :
  1. Mengorganisasikan data dengan cara memberi nomor pada semua hal catatan hasil pengamatan hasil wawancara, benda-benda, dan lain-lainnya yang berhasil dikumpulkan.
  2. Membaca secara spintas semua data
  3. Mencari tema besar, pola, dan gagasan-gagasan yang dikandung oleh data.
  4. Membuat catatan yang sistematis mengenai kategori dan keteraturan-keteraturan yang sering muncul pada data.
  5. Membaca literatur mengenai penelitian-penelitian lain tentang masalah yang relevan.
  6. Mengevaluasi dan atau menajamkan fokus penelitian yang sedang dilakukan.

MODUL 1. # Konsep Dasar dan Sejarah Statistik


Statistika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data. Singkatnya, statistika adalah ilmu yang berkenaan dengan data. Istilah ‘statistika’ (bahasa Inggris: statistics) berbeda dengan ‘statistik’ (statistic). Statistika merupakan ilmu yang berkenaan dengan data, sedang statistik adalah data, informasi, atau hasil penerapan algoritma statistika pada suatu data. 

 

Dari kumpulan data, statistika dapat digunakan untuk menyimpulkan atau mendeskripsikan data; ini dinamakan statistika deskriptif. Sebagian besar konsep dasar statistika mengasumsikan teori probabilitas. Beberapa istilah statistika antara lain: populasi, sampel, unit sampel, dan probabilitas.
Statistika banyak diterapkan dalam berbagai disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu alam (misalnya astronomi dan biologi maupun ilmu-ilmu sosial (termasuk sosiologi dan psikologi), maupun di bidang bisnis, ekonomi, dan industri). Statistika juga digunakan dalam pemerintahan untuk berbagai macam tujuan; sensus penduduk merupakan salah satu prosedur yang paling dikenal. Aplikasi statistika lainnya yang sekarang popular adalah prosedur jajak pendapat atau polling (misalnya dilakukan sebelum pemilihan umum), serta jajak cepat (perhitungan cepat hasil pemilu) atau quick count. Di bidang komputasi, statistika dapat pula diterapkan dalam pengenalan pola maupun kecerdasan buatan.
 
Sejarah
Penggunaan istilah statistika berakar dari istilah istilah dalam bahasa latin modern statisticum collegium (“dewan negara”) dan bahasa Italia statista (“negarawan” atau “politikus”).
Gottfried Achenwall (1749) menggunakan Statistik dalam bahasa Jerman untuk pertama kalinya sebagai nama bagi kegiatan analisis data kenegaraan, dengan mengartikannya sebagai “ilmu tentang negara (state)”. Pada awal abad ke-19 telah terjadi pergeseran arti menjadi “ilmu mengenai pengumpulan dan klasifikasi data”. Sir John Sinclair memperkenalkan nama (Statistics) dan pengertian ini ke dalam bahasa Inggris. Jadi, statistika secara prinsip mula-mula hanya mengurus data yang dipakai lembaga-lembaga administratif dan pemerintahan. Pengumpulan data terus berlanjut, khususnya melalui sensus yang dilakukan secara teratur untuk memberi informasi kependudukan yang berubah setiap saat.
Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 statistika mulai banyak menggunakan bidang-bidang dalam matematika, terutama probabilitas. Cabang statistika yang pada saat ini sangat luas digunakan untuk mendukung metode ilmiah, statistika inferensi, dikembangkan pada paruh kedua abad ke-19 dan awal abad ke-20 oleh Ronald Fisher (peletak dasar statistika inferensi), Karl Pearson (metode regresi linear), dan William Sealey Gosset (meneliti problem sampel berukuran kecil). Penggunaan statistika pada masa sekarang dapat dikatakan telah menyentuh semua bidang ilmu pengetahuan, mulai dari astronomi hingga linguistika. Bidang-bidang ekonomi, biologi dan cabang-cabang terapannya, serta psikologi banyak dipengaruhi oleh statistika dalam metodologinya. Akibatnya lahirlah ilmu-ilmu gabungan seperti ekonometrika, biometrika (atau biostatistika), dan psikometrika.
Meskipun ada pihak yang menganggap statistika sebagai cabang dari matematika, tetapi sebagian pihak lainnya menganggap statistika sebagai bidang yang banyak terkait dengan matematika melihat dari sejarah dan aplikasinya. Di Indonesia, kajian statistika sebagian besar masuk dalam fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam, baik di dalam departemen tersendiri maupun tergabung dengan matematika.
 
Konsep Dasar
Dalam mengaplikasikan statistika terhadap permasalahan sains, industri, atau sosial, pertama-tama dimulai dari mempelajari populasi. Makna populasi dalam statistika dapat berarti populasi benda hidup, benda mati, ataupun benda abstrak. Populasi juga dapat berupa pengukuran sebuah proses dalam waktu yang berbeda-beda, yakni dikenal dengan istilah deret waktu.
Melakukan pendataan (pengumpulan data) seluruh populasi dinamakan sensus. Sebuah sensus tentu memerlukan waktu dan biaya yang tinggi. Untuk itu, dalam statistika seringkali dilakukan pengambilan sampel (sampling), yakni sebagian kecil dari populasi, yang dapat mewakili seluruh populasi. Analisis data dari sampel nantinya digunakan untuk menggeneralisasi seluruh populasi.
Jika sampel yang diambil cukup representatif, inferensial (pengambilan keputusan) dan simpulan yang dibuat dari sampel dapat digunakan untuk menggambarkan populasi secara keseluruhan. Metode statistika tentang bagaimana cara mengambil sampel yang tepat dinamakan teknik sampling.
Analisis statistik banyak menggunakan probabilitas sebagai konsep dasarnya. Sedangkan matematika statistika merupakan cabang dari matematika terapan yang menggunakan teori probabilitas dan analisis matematis untuk mendapatkan dasar-dasar teori statistika.
Ada dua macam statistika, yaitu statistika deskriptif dan statistika inferensial. Statistika deskriptif berkenaan dengan deskripsi data, misalnya dari menghitung rata-rata dan varians dari data mentah; mendeksripsikan menggunakan tabel-tabel atau grafik sehingga data mentah lebih mudah “dibaca” dan lebih bermakna. Sedangkan statistika inferensial lebih dari itu, misalnya melakukan pengujian hipotesis, melakukan prediksi observasi masa depan, atau membuat model regresi.
  • Statistika deskriptif berkenaan dengan bagaimana data dapat digambarkan dideskripsikan) atau disimpulkan, baik secara numerik (misalnya menghitung rata-rata dan deviasi standar) atau secara grafis (dalam bentuk tabel atau grafik), untuk mendapatkan gambaran sekilas mengenai data tersebut, sehingga lebih mudah dibaca dan bermakna.
  • Statistika inferensial berkenaan dengan permodelan data dan melakukan pengambilan keputusan berdasarkan analisis data, misalnya melakukan pengujian hipotesis, melakukan estimasi pengamatan masa mendatang (estimasi atau prediksi), membuat permodelan hubungan (korelasi, regresi, ANOVA, deret waktu), dan sebagainya.

Metode Statistika


Tujuan umum bagi suatu penelitian berbasis statistika adalah menyelidiki hubungan sebab-akibat, dan lebih khusus menarik suatu simpulan akan perubahan yang timbul pada peubah (atau variabel) respon (peubah dependen) akibat berubahnya peubah penjelas (explanatory variables) (peubah independen).

Terdapat dua jenis utama penelitian: eksperimen dan survei. Keduanya sama-sama mendalami pengaruh perubahan pada peubah penjelas dan perilaku peubah respon akibat perubahan itu. Beda keduanya terletak pada bagaimana kajiannya dilakukan.

Suatu eksperimen melibatkan pengukuran terhadap sistem yang dikaji, memberi perlakuan terhadap sistem, dan kemudian melakukan pengukuran (lagi) dengan cara yang sama terhadap sistem yang telah diperlakukan untuk mengetahui apakah perlakuan mengubah nilai pengukuran. Bisa juga perlakuan diberikan secara simultan dan pengaruhnya diukur dalam waktu yang bersamaan pula. Metode statistika yang berkaitan dengan pelaksanaan suatu eksperimen dipelajari dalam rancangan percobaan (desain eksperimen).

Sumber : Wikipedia
Dalam survey, di sisi lain, tidak dilakukan manipulasi terhadap sistem yang dikaji. Data dikumpulkan dan hubungan (korelasi) antara berbagai peubah diselidiki untuk memberi gambaran terhadap objek penelitian. Teknik-teknik survai dipelajari dalam metode survei.

Penelitian tipe eksperimen banyak dilakukan pada ilmu-ilmu rekayasa, misalnya teknik, ilmu pangan, agronomi, farmasi, pemasaran (marketing), dan psikologi eksperimen.
Penelitian tipe observasi paling sering dilakukan di bidang ilmu-ilmu sosial atau berkaitan dengan perilaku sehari-hari, misalnya ekonomi, psikologi dan pedagogi, kedokteran masyarakat, dan industri.

Tipe pengukuran
Ada empat tipe pengukuran atau skala pengukuran yang digunakan di dalam statistika, yakni: nominal, ordinal, interval, dan rasio. Keempat skala pengukuran tersebut memiliki tingkat penggunaan yang berbeda dalam riset statistik.

  • Skala nominal hanya bisa membedakan sesuatu yang bersifat kualitatif (misalnya: jenis kelamin, agama, warna kulit).
  • Skala ordinal selain membedakan juga menunjukkan tingkatan (misalnya: pendidikan, tingkat kepuasan).
  • Skala interval berupa angka kuantitatif namun tidak memiliki nilai nol mutlak (misalnya: tahun, suhu dalam Celcius).
  • Skala rasio berupa angka kuantitatif yang memiliki nilai nol mutlak. 

 Teknik statistik
Beberapa pengujian dan prosedur yang banyak digunakan dalam penelitian antara lain:

Statistik terapan

Bebebarapa ilmu pengetahuan menggunakan statistika terapan sehingga mereka memiliki terminologi yang khusus. Disiplin ilmu tersebut antara lain:

Statistika memberikan alat analisis data bagi berbagai bidang ilmu. Kegunaannya bermacam-macam: mempelajari keragaman akibat pengukuran, mengendalikan proses, merumuskan informasi dari data, dan membantu pengambilan keputusan berdasarkan data. Statistika, karena sifatnya yang objektif, sering kali merupakan satu-satunya alat yang bisa diandalkan untuk keperluan-keperluan di atas.

 
Piranti lunak
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar perangkat lunak statistika

Perhitungan statistika modern banyak dilakukan oleh komputer, dan bahkan beberapa perhitungan hanya dapat dilakukan oleh komputer berkecepatan tinggi, misalnya jaringan saraf tiruan. Revolusi komputer telah membawa implikasi perkembangan statistika di masa mendatang, dengan penekanan baru pada statistika eksperimental dan empirik.

Referensi

Situs umum dan organisasi

 Pelajaran dan Buku Teks Online

Piranti Lunak Statistika

Sumber lainnya

KONSEP DASAR STATISTIK (2)


Oleh:  
Asroni Paslah, S.Pd. (Mahasiswa Program Magister Manajemen Pendidikan Universitas Lampung)
 
I. PENDAHULUAN
 
1.1 Latar Belakang
Statistik memegang peranan yang penting dalam penelitian, baik dalam penyusunan model, perumusan hipotesa, dalam pengembangan alat dan instrumen pengumpulan data, dalam penyusunan desain penelitian, dalam penentuan sampel dan dalam analisa data. Dalam banyak hal, pengolahan dan analisa data tidak luput dari penerapan teknik dan metode statistik tertentu, yang mana kehadirannya dapat memberikan dasar bertolak dalam menjelaskan hubungan-hubungan yang terjadi. Statistik dapat digunakan sebagai alat untuk mengetahui apakah hubungan kausalitas antara dua atau lebih variabel benar-benar terkait secara benar dalam suatu kausalitas empiris ataukah hubungan tersebut hanya bersifat random atau kebetulan saja.
 
Statistik telah memberikan teknik-teknik sederhana dalam mengklasifikasikan data serta dalam menyajikan data secara lebih mudah, sehingga data tersebut dapat dimengerti secara lebih mudah. Statistik telah dapat menyajikan suatu ukuran yang dapat mensifatkan populasi ataupun menyatakan variasinya, dan memberikan gambaran yang lebih baik tentang kecenderungan tengah-tengah dari variabel.
 
Statistik dapat menolong peneliti untuk menyimpulkan apakah suatu perbedaan yang diperoleh benar-benarberbeda secara signifikan. Apakah kesimpulan yang diambil cukup refresentatif untuk memberikan infrensi terhadap populasi tertentu.
 
Teknik-teknik statistik juga dapat digunakan dalam pengujian hipotesa, mengingat tujuan penelitian pada umumnya adalah untuk menguji hipotesa-hipotesa yang telah dirumuskan, maka statistik telah banyak sekali menolong peneliti dalam mengambil keputusan untuk menerima atau menolak suatu hipotesa. Statistik juga dapat meningkatkan kecermatan peneliti dalam rangka mengambil keputusan terhadap kesimpulan-kesimpulan yang ingin ditarik.
 
Penarikan kesimpulan secara statistik memungkinkan peneliti melakukan kegiatan ilmiah secara lebih ekonomis dalam pembuktian induktif. Tetapi harus disadari bahwa statistik hanya merupakan alat dan bukan tujuan dari analisa. Karena itu, janganlah dijadikan statistik sebagai tujuan yang menentukan komponen-komponen peneliti yang lain.
 
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah konsep dasar statistik?
 
1.3 Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui konsep dasar statistik yang meliputi:
a. Pengertian Statistik dan Statistika (Terminologi, Definisi, Karakteristik)
b. Fungsi dan Peranan Statistika
c. Klasifikasi Statistika ditinjau dari:
- Isi yang dipelajari (Statistik Teoritis, Statistik Terapan)
- Aktivitas yang dilakukannya (Statistik Deskriptif, Statistik Inferensial)
d. Istilah-Istilah Umum Statistika
e. Data Statistik (Jenis Data Statistik, dan Skala Pengukuran)
 
II. KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Statistik dan Statistika
Istilah statistik berasal dari bahasa latin “status” yang artinya suatu negara. Suatu kegiatan pengumpulan data yang ada hubungannya dengan kenegaraan, misalnya data mengenai penduduk, data mengenai penghasilan dan sebagainya, yang lebih berfungsi untuk melayani keperluan administrasi.
 
Secara kebahasaan, statistik berarti catatan angka-angka (bilangan); perangkaan; data yang berupa angka-angka yang dikumpulkan, ditabulasi, dikelompokkan, sehingga dapat memberi informasi yang berarti mengenai suatu masalah, gejala atau peristiwa (depdikbud, 1994).
 
Menurut Sutrisno Hadi (1995) Statistik adalah untuk menunjukkan kepada pencatatan angka-angka dari suatu kejadian atau kasus tertentu. Selaras dengan apa yang didefinisikan oleh Sudjana (1995:2) bahwa statistik adalah kumpulan fakta berbentuk angka yang disusun dalam daftar atau tabel dan atau diagram, yang melukiskan atau menggambarkan suatu persoalan.
 
Statistika beda halnya dengan statistik, statistika yang dalam bahasa Inggris “statistics” (ilmu statistik), ilmu tentang cara-cara mengumpulkan, mentabulasi dan menggolongkan, menganalisis dan mencari keterangan yang berarti dari data yang berupa angka.
 
Statistika merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara mengumpulkan, menabulasi, menggolong-golongkan, menganalisis, dan mencari keterangan yang berarti dari data yang berupa bilangan-bilangan atau angka, sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan atau keputusan tertentu.
Selain itu, Statistika juga merupakan cabang ilmu matematika terapan yang terdiri dari teori dan metoda mengenai bagaimana cara mengumpulkan, mengukur, mengklasifikasi, menghitung, menjelaskan, mensintesis, menganalisis, dan menafsirkan data yang diperoleh secara sistematis.
Dengan demikian, didalamnya terdiri dari sekumpulan prosedur  mengenai bagaimana cara:
· Mengumpulkan data
· Meringkas data
· Mengolah data
· Menyajikan data
· Menarik kesimpulan dan interpretasi data berdasarkan kumpulan data dan hasil analisisnya
Sedangkan dalam dunia pendidikan, statistika membahas tentang prinsip-prinsip, metode, dan prosedur yang digunakan sebagai cara pengumpulan, menganalisa serta menginterpretasikan sekumpulan data yang berkaitan dengan dunia pendidikan.
 
Lebih jauh, statistika dalam Pendidikan Luar Biasa dapat diartikan sebagai penggunaan (aplikasi) prinsip-prinsip, dasar-dasar dan perhitungan statistik dalam menganalisa problema-problema PLB.
 
Juga dari sisi lain, Statistika dalam psikologi dimaknai sebagai penggunaan (aplikasi) prinsip-prinsip, dasar-dasar dan perhitungan statistik dalam menganalisa problema-problema bidang psikologi.
 
2.2 Fungsi dan Peranan Statistika
Statistika digunakan untuk menunjukkan tubuh pengetahuan (body of knowledge) tentang cara-cara pengumpulan data, analisis dan penafsiran data.
 
Fungsi statistika diantaranya yakni:
 
· Statistik menggambarkan data dalam bentuk tertentu
· Statistik dapat menyederhanakan data yang kompleks menjadi data yang mudah dimengerti
· Statistik merupakan teknik untuk membuat perbandingan
· Statistik dapat memperluas pengalaman individu
· Statistik dapat mengukur besaran dari suatu gejala
· Statistik dapat menentukan hubungan sebab akibat
 
Sedangkan kegunaan statistika yakni untuk:
· Membantu penelitian dalam menggunakan sampel sehingga penelitian dapat bekerja efisien dengan hasil yang sesuai dengan obyek yang ingin diteliti
· Membantu penelitian untuk membaca data yang telah terkumpul sehingga peneliti dapat mengambil keputusan yang tepat
· Membantu peneliti untuk melihat ada tidaknya perbedaan antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya atas obyek yang diteliti
· Membantu peneliti untuk melihat ada tidaknya hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lainnya
· Membantu peneliti dalam menentukan prediksi untuk waktu yang akan datang
· Membantu peneliti dalam melakukan interpretasi atas data yang terkumpul (M.Subana dkk, 2000;14)
· Pemerintah menggunakan statistika untuk menilai hasil pembangunan masa lalu dan merencanakan masa mendatang
· Pimpinan menggunakannya untuk pengangkatan pegawai baru, pembelian peralatan baru, peningkatan kemampuan karyawan, perubahan sistem kepegawaian, dsb.
· Para pendidik sering menggunakannya untuk melihat kedudukan siswa, prestasi belajar, efektivitas metoda pembelajaran, atau media pembelajaran.
· Para psikolog banyak menggunakan statistika untuk membaca hasil pengamatan baik melalui tes maupun obserbasi lapangan.
 
Di dalam penelitian, statistika berperan untuk:
· Memberikan informasi tentang karakteristik distribusi suatu populasi tertentu, baik diskrit maupun kontinyu. Pengetahuan ini berguna dalam menghayati perilaku populasi yang sedang diamati
· Menyediakan prosedur praktis dalam melakukan survey pengumpulan data melalui metode pengumpulan data (teknik sampling). Pengetahuan ini berguna untuk mendapatkan hasil pengukuran yang terpercaya
· Menyediakan prosedur praktis untuk menduga karakteristik suatu populasi melalui pendekatan karakteristik sampel, baik melalui metode penaksiran, metode pengujian hipotesis, metode analisis varians. Pengetahuan ini berguna untuk mengetahui ukuran pemusatan dan ukuran penyebaran serta perbedaan dan kesamaan populasi.
· Menyediakan prosedur praktis untuk meramal keadaan suatu obyek tertentu di masa mendatang berdasarkan keadaan di masa lalu dan masa sekarang. Melalui metode regresi dan metode deret waktu. Pengetahuan ini berguna memperkecil resiko akibat ketidakpastian yang dihadapi di masa mendatang.
· Menyediakan prosedur praktis untuk melakukan pengujian terhadap data yang bersifat kualitatif melalui statistik non parametrik.
Sementara menurut Sugiyono (2003:12), statistika berperan untuk:
· Alat untuk menghitung besarnya anggota sampel yang diambil dari suatu populasi, sehingga jumlah sampel yang dibutuhkan akan lebih dapat dipertanggungjawabkan
· Alat untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen sebelum instrumen tersebut digunakan dalam penelitian
· Sebagai teknik untuk menyajikan data, sehingga data lebih komunikatif, misalnya melalui tabel, grafik, atau diagram
· Alat untuk menganalisis data seperti menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian.
 
2.3 Klasifikasi Statistika
 
Statistika dapat diklasifikasikan dari beberapa klasifikasi, diantaranya:
 
1) Berdasarkan Isi yang dipelajari
 
Dilihat dari isi yang dipelajari terbagi manjadi dua, yakni statistika teoritis dan statistika terapan.
a. Statistika teoritis membahas secara mendalam dan teoretis, maka yang dipelajari adalah statistika teoretis atau matematis. Disini diperlukan dasar matematika yang kuat dan mendalam. Materi yang dibahas antara lain; perumusan sifat-sifat, dalil-dalil, rumus-rumus dan menciptakan model-model serta segi-segi lainnya yang teoretis dan matematis.
b. Statistika terapan yang dikenal dengan metode statistika. Aturan-aturan, rumus-rumus, dan sifat-sifat yang telah diciptakan oleh statistika teoretis, diambil dan digunakan mana yang diperlukan dalam bidang pengetahuan yang sedang diminati. Jadi disini tidak dipersoalkan bagaimana didapatnya rumusrumus, aturan-aturan ataupun sifat-sifat tersebut. Yang terpenting dalam statistika ini bagaimana cara-cara atau metode statistika digunakan.
 
 
2) Berdasarkan Aktivitas yang dilakukannya
 
Dilihat dari aktivitas yang dilakukannya, terbagi menjadi dua pula yakni statistika deskriptif dan statistika inferensial.
 
b. Statistika deskriptif adalah teknik statistik yang memberikan informasi hanya mengenai data yang dimiliki dan tidak bermaksud untuk menguji hipotesis dan kemudian menarik inferensi yang digeneralisasikan untuk data yang lebih besar atau populasi. Statistik deskriptif “hanya” dipergunakan untuk menyajikan dan menganalisis data agar lebih bermakna dan komunikatif dan disertai perhitungan-perhitungan “sederhana” yang bersifat lebih memperjelas keadaan dan atau karakteristik data yang bersangkutan (Burhan Nurgiyantoro dkk, 2000;8).
 
Statistik deskriptif adalah statistik yang menggambarkan kegiatan berupa pengumpulan data, penyusunan data, pengolahan data, dan penyajian data dalam bentuk tabel, grafik, ataupun diagram, agar memberikan gambaran yang teratur ringkas, dan jelas mengenai suatu keadaan atau peristiwa. (M.Subana dkk, 2000;12).
 
Statistika deskriptif bermaksud menyajikan, mengolah dan menganalisa data dari kelompok tertentu sebagaimana adanya dan tidak bermaksud menarik kesimpulan-kesimpulan yang berlaku bagi kelompok-kelompok yang lebih besar. Artinya kesimpulan yang ditarik melalui deskriptif hanya berlaku bagai kelompok sampel yang bersangkutan tanpa dimaksudkan menarik kesimpulan yang berlaku bagi populasi.
 
Ukuran statistik yang lazim digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik sampel ialah: ukuran kecenderungan sentral; Ukuran variasi ; Ukuran letak; koefisien korelasi. Sekalipun statistika deskriptif ini hanya menyajikan karakteristik sampel, namun statistika deskriptif merupakan dasar untuk mengkaji dan melakukan inferensi karakteristik populasi.
 
c. Statistika inferensial adalah statistik yang berkaitan dengan analisis data (sampel) untuk kemudian dilakukan penyimpulanpenyimpulan (inferensi) yang digeneralisasikan kepada seluruh subyek tempat data diambil (populasi) (Burhan Nurgiyantoro dkk, 2000;12). Statistika inferensial adalah statistik yang berhubungan dengan penarikan kesimpulan yang bersifat umum dari data yang telah disusun dan diolah (M.Subana dkk, 2000;12) Statistika inferensial atau statistika induktif bermaksud menyajikan, menganalisa data dari suatu kelompok untuk ditarik kesimpulan-kesimpulan, prinsip-prinsip tertentu yang berlaku bagi kelompok yang lebih besar (populasi) disamping berlaku bagi kelompok yang bersangkutan (sampel).
 
Statistika inferensial merupakan langkah akhir dari tugas statistika karena dalam setiap penelitian kesimpulan inilah yang diinginkan. Statistika inferensial harus berdasar pada statistika deskriptif, sehingga kedua-duanya harus ditempuh secara benar agar kita mendapatkan kegunaan maksimal dari statistika ini.
 
Yang masih tercakup dalam statistika inferensial adalah statistik parametrik dan non-parametrik. Statistik parametrik merupakan statistika inferensial yang mempertimbangkan nilai dari satu parameter populasi atau lebih dan umumnya membutuhkan data yang skala pengukuran minimalnya adalah interval dan rasio.
 
Statistika parametrik adalah suatu ukuran tentang parameter, artinya ukuran seluruh populasi dalam penelitian yang harus diperkirakan dari apa yang terdapat di dalam sampel (karakteristik populasi). Satu syarat umum yang harus dipenuhi apabila seorang peneliti akan menggunakan statistika parametrik, yaitu normalitas distribusi. Asumsi ini harus terpenuhi, karena: 1) secara teoretik karakteristik populasi mengikuti model distribusi normal; 2) nilai-nilai baku statistik yang digunakan untuk uji hipotesis didasarkan kepada model distribusi normal. Asumsi-asmsi lain seperti homogenitas, linieritas harus dipenuhi sesuai dengan hipotesis yang akan diuji.
 
Statistika non parametrik yaitu statistik yang tidak memperhatikan nilai dari satu parameter populasi atau lebih. Statistik non parametrik digunakan karena analisis parametrik tidak konsisten lagi sehingga tidak terikat atau terbebas dari model distribusi dan sampelnya relatif kecil. Pada umumnya validitas pada statistika non parametrik tidak bergantung pada model peluang yang spesifik dari populasi. Data yang dibutuhkan lebih banyak berskala ukuran nominal atau ordinal.
 
3) Berdasarkan jumlah variabel:
a. Statistika Univariat: teknik analisis statistik yang hanya melibatkan satu variabel dependent
b. Statistika Multivariat: teknik analisis statistik yang melibatkan lebih dari satu variabel dependent sekaligus.
 
2.4 Istilah-Istilah Umum Statistika
 
Beberapa istilah yang sering digunakan dalam statistika antara lain:
 
· Frekuensi (f) : Jumlah Individu yang mendapatkan skor/nilai tertentu dalam suatu kelompok data
· Jumlah Frekuensi (n) : Jumlah individu dari suatu perangkat data
· Frekuensi Kumulatif (fcum) : Banyaknya data yang berada di bawah atau di atas skor / nilai tertentu
· Frekuensi Relatif (frel) atau f(%) : Persentase dari fcum
· Kelas Interval (ci) : Sekelompok skor pada tiap-tiap kelas
· Banyak kelas interval : jumlah kelas interval yang diperlukan untuk mengelompokkan suatu perangkat data, 1 + 3,3 log.n
· Rentang/Range ( R ) : Selisih antara skor tertinggi dengan skor terendah dari suatu perangkat data.
· Panjang Kelas Interval (p) : Jarak/banyaknya skor atau nilai yang tercakup dalam tiap-tiap kelas interval.
· Ujung Kelas Bawah (Bb) (lower limit) : Skor/nilai terendah pada kelas ybs
· Ujung Kelas Atas (Ba) (upper limit) : Skor/nilai tertinggi pada kelas ybs
· Batas Kelas/Batas nyata /real limit Bawah : Batas bawah kelas ybs dikurangi setengah dari satuan terkecil data yang dicatat (0,5; 0,05)
· Batas Kelas/Batas nyata /real limit Atas : Batas Atas kelas ybs ditambah setengah dari satuan terkecil data yang dicatat (0,5; 0,05)
· Tanda Kelas/Midpoint/Titik tengah (xi) : Nilai yang membagi kelas ybs menjadi dua bagian yang sama besar, X ½ (Bb+Ba)
2.5 Jenis Data Statistik dan Skala Pengukuran
 
2.5.1 Jenis Data
Data yang diperoleh dari suatu sampel dan populasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
a. Data kualitatif yakni data yang bukan berupa angka (non – numerik) biasa disebut dengan istilah atribut.
b. Data kuantitatif: data yang berupa angka (numerik). Data jenis ini dibedakan menjadi dua bagian, yaitu data diskrit dan kontinyu.
 
Selain pembagian tersebut, ada yang membagi data menjadi data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya, misal melalui wawancara, penyebaran kuesioner, pengukurn langsung, dan lain lain. Sedangkan data sekunder adalah data yang diambil/ disadur dari pihak lain, misal diambil dari koran, jurnal, penelitian/ publikasi pihak lain, dan lain-lain.
 
2.5.2 Skala Pengukuran
Skala pengukuran : cara mengukur suatu varibel. Terdapat 4 jenis skala pengukuran, yakni :
a. Skala Nominal : angka yang diberikan pada objek/ variabel pengukuran hanya memiliki arti sebagai label saja (asal bisa dibedakan). Tidak memiliki tingkatan.
Contoh skala nominal :
No.
Jenis Kendaraan
Jumlah (Unit)
1.
Peugeuot
1,367
2.
Toyota
68,638
3.
Isuzu
20,521
4.
Daihatsu
15,721
5.
BMW
1,515
 
b. Skala Ordinal : angka yang diberikan pada objek/ variabel pengukuran mengandung pengertian tingkatan.
Contoh skala ordinal:
No.
Jenis Kendaraan
Jumlah (Unit)
1.
Toyota
68,638
2.
Isuzu
20,521
3.
Daihatsu
15,721
4.
BMW
1,515
5.
Peugeuot
1,367
 
c. Skala Interval : angka yang diberikan pada objek/ variabel pengukuran mengandung sifat ordinal ditambah sifat jarak/ interval.
 
Contoh skala interval :
Suhu udara dapat berkisar antara -4° hingga 40° C. Jika termometer menunjukkan 0° C, bukan berarti tidak ada suhu, tetapi hanya sebagai penunjuk bahwa suhu saat itu tergolong rendah.
 
d. Skala Rasio : angka yang diberikan pada objek/ variabel pengukuran mengandung sifat interval ditambah sifat yang mampu memberikan keterangan tentang nilai absolut variabel yang diukur. Artinya apabila menunjuk angka 0 (nol), maka berarti benar-benar nol, tidak ada, atau kosong.
 
Contoh skala rasio :
Jumlah komponen mesin yang diproduksi per batch adalah 1.000.000 komponen. Bila dalam suatu batch menunjukkan angka produksi 0, maka artinya adalah pada saat itu tidak dilakukan proses produksi sehingga tidak ada output produksi.
 
III. KESIMPULAN
Dari penjabaran pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa:
 
1) Statistik adalah untuk menunjukkan kepada pencatatan angka-angka dari suatu kejadian atau kasus tertentu. Selaras dengan apa yang didefinisikan oleh Sudjana (1995:2) bahwa statistik adalah kumpulan fakta berbentuk angka yang disusun dalam daftar atau tabel dan atau diagram, yang melukiskan atau menggambarkan suatu persoalan.
2) Statistik berbeda dengan statistika, perbedaannya yakni statistik menunjukkan pencatatan angka-angka suatu kejadian, sedangkan statistika adalah ilmu tentang cara-cara mengumpulkan, mentabulasi dan menggolongkan, menganalisis dan mencari keterangan yang berarti dari data yang berupa angka.
3) Secara menyeluruh, peran dan fungsi statistika digunakan untuk menunjukkan tubuh pengetahuan (body of knowledge) tentang cara-cara pengumpulan data, analisis dan penafsiran data.
4) Pengklasifikasian statistika dilihat dari isi yang dipelajari yang terbagi menjadi statistika teoritis dan terapan, sedangkan dari aktifitas yang dilakukan yakni statistika deskriptif dan statistika inferensial. Dalam penerapannya, statistika menggunakan istilah-istilah umum yang sering digunakan dalam rumus statistik.
5) Jenis data statistik terbagi dua yakni data kualitatif dan kuantitatif. Jenis data tersebut dianalisis dengan menggunakan skala pengukuran, yakni skala nominal, ordinal, interval, dan rasio. Dengan menggunakan skala tersebut, maka data statistik dapat dilihat ukuran hasilnya.
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Bungin, Burhan. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik serta Ilmu-ilmu Sosial Lainnya. Jakarta. Prenada Media Group.
Hadi, S. 1995. Statistik 1, 2, 3, Yogyakarta. Andi Offset
Nazir, Mohamad. 1983. Metode Penelitian. Jakarta. Ghalia Indonesia.
Sudjana. 1992. Metoda Statistika (Edisi ke 5). Bandung: Tarsito
Sugiyono. 2003. Statistika untuk Penelitian, Bandung. Alfabeta
Susetyo, Budi. 2010. Statistika Untuk Analisis Data Penelitian. Bandung. PT. Refika Aditama.
Walpole, R.E. 1992. Pengantar Statistika. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama.

Hanya 2 Menit ” Anda Bisa Tahu Potensi Rezeki Anda


RESENSI BUKU

Judul Buku   :   Hanya 2 Menit Anda Bisa Tahu Potensi Rezeki Anda.

Pengarang    : Ippho ‘Right’ Santosa

Penerbit         : PT Elex Media Komputindo, Gramedia Jakarta 2012

Halaman       : 109 halaman

Keunggulan & Kelemahan Buku ini

hanya-2-menit-andaSecara keseluruhan buku ini sangat bagus, dan hampir mendekati sempurna. Walaupun ada sedikit tanda baca yang salah atau kalimat yang kurang pantas atau bersifat menyindir. Berdasarkan struktur kalimat atau pun gaya bahasa yang digunakan buku ini sangat unik dan mudah dipahami. Sehingga, memberikan kesan positif bagi para pembacanya. Selain itu, pembahasan atau isi dari buku ini juga membuat penasaran para pembacanya. Sehingga, para pembaca pasti tertarik untuk membaca atau memahami isi buku ini dari awal sampai akhir. Dari satu pembahasan ke pembahasan berikutnya.Buku ini sangat menarik dan aplikatif, khususnya bagi para pengusaha atau entrepreneur dalam meningkatkan usahanya. Karena isi buku ini sangat inspiratif dan mengedepankan nilai-nilai emosional, spiritual dan aplikasi otak kanan orang-orang sukses. Tapi pada umumnya, buku ini ditujukkan kepada para pembaca yang ingin mengetahui potensi rezeki yang ada pada diri kita sebagai para pembaca. Dan tujuan dari buku ini adalah agar para pembaca dapat mengembangkan potensi rezeki yang ada tersebut secara maksimal dengan menerapkan prinsip-prinsip atau tips pada buku ini

’’ Hanya 2 Menit ”

Anda Bisa Tahu Potensi Rezeki Anda 

Begitu membaca judul buku ini, mungkin sebagian dari pembaca langsung menuduh penulis atau pengarang buku adalah orang yang sombong dan takabur. Padahal sama sekali tidak. Buku ini berisi tentang Bagaimana kita bisa mengetahui personality plus agar bisa jadi sebuah potensi untuk mendapatkan rezeki. Pengarang buku ini berperan sebagai pelaku/ tokoh utama. Sehingga,dia menggunakan kata pengganti “Saya” dalam buku ini.

Saya tahu Waktu anda sangat berharga. Sungguh,saya tidak mau membuang-buang waktu anda. Begini :

“Salah satu bentuk rezeki adalah kekayaan.” Dan itulah isi buku ini.

Sekiranya,kekayaan itu adalah bangunan, maka fondasinya adalah :

  1. Mindset alias pola piker yang benar.
  2. Passion alias gairah yang kuat.
  3. Value alias manfaat yang besar.
  4. Model alias teladan yang dekat.

Dan tiang – tiangnya adalah

  1. Bisnis
  2. Investasi
  3. Properti
  4. Emas

Karena mustahil berdiri sebuah bangunan yang indah dan menjulang, jika anda mengabaikan fondasi dan tiang – tiangnya. Maka sungguh – sungguhlah anda pada fondasi dan tiang – tiangnya.

Dalam buku ini akan dipaparkan secara jelas tentang mindset yang menjadi fondasi utama membangun kekayaan. Bahkan, dibuku ini banyak sekali model atau contoh/ teladan yang bisa menberikan gambaran secara langsung. Kekayaan akan lebih mudah untuk di raih jika ada contohnya. Semakin dekat, semakin baik.

Satu Menit Yang Menentukan!

Masih ingat buku klasik One-Minute Manager? Terilhami oleh buku itu, maka inilah yang saya anjurkan dan ajarkan, One-Minute Dream. Dalam satu menit anda mesti mampu menuliskan impian anda untuk satu tahun ke depan dengan sangat jelas. Jika anda tidak mampu menuliskan dengan sangat jelas, berarti anda tidak serius dengan impian anda. Paham? Nah, Sekarang silakan tulis tiga impian anda. Cukup tiga saja, berikut ini tiga impian Muhammad Kamaludin di tahun 2013 :

  1. Berkurban pada saat Hari Raya Idul Adha 1434 H
  2. Mempunyai Notebook/Laptop ASUS
  3. Mempunyai Handphone Baru (Samsung Galaxy)

Dua Menit Yang Menentukan!

Sesungguhnya bila engkau meninggalkan ahli waris dalam keadaan berkecukupan, itu lebih baik dari pada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan berkekurangan sehingga mereka meminta-minta kepada manusia.”

Langsung saja. Seringkah anda membatinkan kalimat-kalimat ini?

  • Biar miskin asal bahagia.
  • Orang kaya itu tidak bahagia.
  • Orang kaya identik dengan pelit,sombong, dan serakah. Juga sulit masuk surga.
  • Uang adalah akar dari segala kejahatan.
  • Saya memang kurang beruntung.
  • Saya orang biasa-biasa saja, mustahil bisa kaya.

Jika anda sering membatinkan dan membenarkan kalimat-kalimat tersebut, jelas sudah, anda tidak berpotensi kaya! Saya ulang, anda tidak berpotensi kaya! Sungguh, anda telah membatasi potensi rezeki anda! Karena keyakinan dan pemahaman adalah kuncinya.

Maka dari itu, ingatlah :

  • Bercita-cita kaya, berarti percaya pada kekayaan Allah.
  • Bermimpi besar, berarti percaya pada kebesaran Allah.
  • Hanya menginginkan hal yang remeh-remeh, berarti meremehkan kemampuan Allah.

Saya yakin, anda pasti pernah mengalaminya, seperti : doa, harapan, impian, ibadah, ikhtiar. Jika tanpa keyakinan,sampai dimana semua itu? Ingat, ragu-ragu berarti yakin untuk gagal! Contoh,seperti kalimat “ Biar miskin asal bahagia.” Hati-hati, kalimat ini kayaknya mulia padahal beracun. Serius !!! Karena setiap kalimat adalah doa. Anda bisa miskin seumur hidup ! Apa mau, hah? Bukankah lebih baik kaya dan bahagia ? Ngapain pilih salah satu ? kalau bisa dapat dua-duanya. Right ?

Memang, kekayaan bukan segalanya. Kekayaan pun tak dapat menjamin kebahagiaan. Namun kekayaan adalah alat bantu yang memudahakan anda dan keluarga anda untuk lebih bahagia. Bahkan, dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW pernah berdoa, “ Ya Allah, dan berilah aku kekayaan dengan anugerah-Mu.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Hakim, Baihaqi, dan lain-lain).

Terlepas ada orang kayayang tinggi hati dan rendah hati, pada kenyataannya hampir semua rumah ibadah, rumah sakit, dan sekolah dibangun oleh orang kaya. Sejenak, tarik nafas anda dan bandingkan ini :

~ Si miskin bisa umrah. Si kaya bisa umrah dan mengumrahkan.

~ Si miskin bisa sekolah. Si kaya bisa sekolah dan membangun sekolah.

~ Si miskin bisa ke masjid. Si kaya bisa ke masjid dan membangun masjid.

~ Si miskin bisa hafal Al-Quran. Si kaya bisa hafal Al-Quran dan membangun rumah tahfidz.

~ Si miskin bisa berdzikir. Si kaya bisa berdzikir dan membiayai majelis dzikir.

Lihatlah, dengan kekayaan, kita akan lebih mudah untuk melaksanakan zakat, sedekah, akikah, kurban, haji, umrah, syiar, dakwah, dan ekonomi syariah.

Menit – menit Berikutnya…

Miskin perlu bersabar. Kaya? Juga perlu bersabar. Karena godaan itu tiada henti.

Kaya perlu bersyukur. Miskin ? juga perlu bersyukur. Karena nikmat-Nya itu tiada henti.

Bukankah dengan syukur, kita akan dikayakan?

v    Paradoks Orang Kaya

Di buku ini anda akan berkenalan dengan tokoh-tokoh sukses dan kaya dengan berbagai latar belakang. Nah, inilah ciri-ciri mereka dan uniknya muncullah sederet paradoks :

  • Paradoks # 1. Adalah benar, mereka memiliki impian yang besar (imajinatif), namun mau memulai dari yang kecil dan segera.
  • Paradoks # 2. Di satu sisi mereka memang tahan banting dan ‘keras’. Namun, di sisi lainnya mereka luwes dan mampu beradaptasi.
  • Paradoks # 3. Dalam berproses menuju sukses dan kaya yang terkesan duniawi, ternyata mereka tetap sederhana dan memelihara amalan-amalan.

v    Menyikapi Orang Kaya

Apakah yang benar-benar anda inginkan? Berlimpah atau sekadar cukup? Menurut saya, cukup saja tidaklah cukup. Karena banyak perbuatan baik yang perlu uang banyak, seperti haji,umrah, membangun masjid dan rumah tahfidz atau sekolah, sedekah, dan menegakkan ekonomi syariah. Dengan harta yang banyak, anda bisa berbuat banyak untuk orang banyak. Dengan berkelimpahan, anda juga bisa mencukupi keluarga, sesame, dan agama.

Celakanya, begitu melihat orang kaya, sebagian kita malah berburuk sangka, dendam, dengki, dongkol, curigaan, dan menuduh sombong. Ini semua keliru! Sikap-sikap tersebut hanya akan menghalangi potensi rezeki kita. Mestinya?

  1. Kita berbaik sangka terhadap mereka.
  2. Kita membuka hati, merendahkan hati, dan siap belajar dari mereka.
  3. Kita ambil sisi positif mereka, karena kita tahu tidak ada manusia yang sempurna. Ingatlah, berbaik sangka akan membaikkan keadaan. Dan berburuk sangka akan memburukkan keadaan.

v    Menyikapi Dendam

Perlu anda ketahui, ada 3D yang menghalangi rezeki : dendam, dengki, dongkol. Coba anda bayangkan. Anda dendam, mikirin dia terus. Sementara dia tidak pernah mikirin anda. Yang blo’on siapa coba? Tolong dijawab!! Hehe…

Kalau anda tidak pendendam anda pasti lebih sukses, lebih sehat, dan lebih bahagia. Pasti begitu, karena memaafkan itu menguatkan. Sebaliknya, dendam itu malah melemahkan. Jadi apabila orang lain dendam kepada anda, jangan sampai anda dendam kepada orang lain. Karena bukan musuh yang menghalangi potensi rezeki anda, melainkan dendam anda terhadap musuhlah yang menghalangi potensi rezeki anda. Ingatlah hal ini dalam karier, bisnis, pertandingan dan lain-lain.

v    Menyikapi Dengki

Tahukah anda, dengki itu bagaikan, “anda minum racun, terus anda berharap orang lain yang mati.” Yang goblok siapa coba? Bahkan, 3D ini bukan saja jadi penyakit hati, namun juga dapat menjadi penyakit bagi tubuh! Pun menghanguskan amal! Ngeri! Tolong renungkan ini : “ Agar naik pangkat atau menang bersaing, anda tidak perlu orang lain dipecat atau bangkrut.

Jadi milikilah sikap yang membuat orang lain dengki terhadap anda. Misalkan anda menjadi orang yang kaya dan orang yang berkarya. Adapun untuk menyikapi orang yang dengki adalah dengan introspeksi, bersyukur dan teruslah berprestasi dalam hidup anda.Yang penting, jangan mentang-mentang kaya, lalu anda merasa diri superior. Sombong tuh! Takabur tuh! Jangan sampai! Karena orang yang hina menurut kita,bisa jadi lebih mulia di hadapan Allah.

v    Menyikapi Perdebatan

Hindari debat! Energi positif kita akan terhalang bahkan hilang, karena debat. Memang debat ada manfaatnya, namun lebih besar mudharatnya. Mu-dha-rat! Ingatlah,salah satu ciri pecundang itu lebih mengutamakan omongan daripada tindakan.

v    Menyikapi Buruk Sangka

Hendaknya kita menghindari berburuk sangka terhadap orang lain, diri sendiri dan Yang Maha Kuasa. Sebaliknya, berbaik sangkalah terhadap tiga pihak ini, atau istilah nya Positivity triangle. Karena sayang banget jika kita telah berusaha, berdoa, dan beramal dengan sungguh-sungguh, namun hati masih membatin. Kalau anda masih suka membatin, berarti anda belum bersyukur dan berbaik sangka  pada-Nya.

v    Menyikapi Impian

Di buku 10 Jurus Terlarang saya menganjurkan dan mengajarkan untuk bermimpi besar. Namun jauh lebih dari itu, saya juga mengajak untuk bertawakal jauh lebih besar. Saya yakin, Sandiaga Uno pernah berpikir dan bermimpi untuk kaya. Namun ia sendiri tidak pernah menyangka dirinya akan sekaya ini. Dan begitu juga Tukul Arwana, pasti pernah berpikir dan bermimpi untuk tenar. Namun, ia sendiri tidak pernah menyangka dirinya akan setenar ini.

Jujur, saya pernah menduga buku-buku saya bakal laris, namun saya sendiri tidak pernah menyangka buku-buku saya akan selaris ini. Nah, inilah yang saya maksud dengan, “ Mimpi boleh besar, namun tawakalnya harus jauh lebih besar.” Nanti, hasilnya malah menakjubkan dan mengejutkan!!!

v    Menyikapi Barang Mahal

Ngomong-ngomong, emang ada barang yang mahal???

Sebenarnya, hampir-hampir tidak ada barang yang maha. Mungkin kitanya saja yang belum terlalu kaya. Daripada mendiskon harga diri anda dengan bertanya, “kok mahal ya?” Kalimat tersebut membuat pikiran bawah sadar anda menegaskan. “Saya tidak pantas memiliki barang itu.”

Lebih baik anda bertanya dalam hati, “Bagaimana caranya ya, supaya saya bisa membeli barang itu?” Dan anda pertegas dalam hati, “Insya Allah 6 bulan lagi, barang itu murah bagi saya. Aamiin.”

v    Standar Kekayaan

Terakhir. Sungguh, ukuran sukses dan kaya itu bukanlah ditetapkan dari luar, melainkan ditetapkan dari dalam. Dari diri anda sendiri. Inilah sejatinya. Jadi jangan membanding-bandingkan diri anda dengan orang lain, terutama orang yang di atas anda. Lha,kapan bersyukurnya? Jadi, bandingkanlah diri anda yang sekarang dengan diri anda yang dahulu.Apa pun progresnya, disyukuri. Cuma punya motor butut. Cuma punya ponsel lama. Cuma punya TV cembung. Yah tetap saja, semuanya wajib disyukuri. Justru dengan bersyukur :

ü  Energi akan positif

ü  Pikiran akan jernih

ü  Perasaan akan teduh

ü  Potensi rezeki akan terbuka

ü  Nikmat-nikmat akan ditambah

ü  Ujung-ujungnya, kita akan dikayakan. Right?

Rahasia Saya Sebagai Motivator

“ Sedekah yang paling utama adalah sedekah yang engkau berikan ketika engkau dalam keadaan sehat lagi kikir, takut terhadap kemiskinan dan menginginkan kekayaan.” (H.R Bukhari)

Pada saat saya berada di Macau, sebagian orang berpikir sukses dan kaya itu seperti pertaruhan (judi). Padahal tidak. Karena, kalau kita tahu ilmunya, sukses dan kaya itu hampir-hampir menjadi sesuatu yang pasti. Ini serius! Saran saya, dengan menyisihkan uang dan waktu untuk belajar. Misalnya, belajar melalui buku dan seminar. Soalnya, dengan pembelajaran akan terjadi percepatan. Siapapun tahu, sukses itu perlu pengorbanan! Catat itu!

Para peserta seminar rela jauh-jauh untuk belajar dan mengikuti pelatihan dari orang yang telah teruji sukses. Banyak juga yang datang demi mengikuti seminar saya. Misalnya, ada yang datang dari Malaysia, Singapura, Brunei dan Mesir. Sudah jelas, harga tiket pesawat mereka lebih mahal daripada harga tiket seminar saya. Pada saat seminar, ternyata sangat banyak peserta seminar yang tertarik untuk menjadi motivator. Mereka pun bertanya tentang berbagai hal kepada saya. Dan kerendahan hati, saya pun sharing kepada mereka.

Mungkin inilah rahasia sukses saya sebagai motivator. Terutama soal membangun nama (Personal Branding). Pada awalnya, saya menulis di bulletin di sebuah kantor. Terus, tulisan itu saya poles dan saya munculkan di Koran setempat, Batam Pos yang merupakan bagian dari Jawa Pos Group. Yang koran-korannya tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia. Dan berhasil! Sekitar 20-an koran di berbagai kota memuat tulisan saya, rutin setiap minggunya. Otomatis, orang-orang di berbagai kota mulai mengenal saya.

Tidak cukup sampai di situ, tulisan-tulisan tersebut saya himpun dan dijadikan sebuah buku. Dan terbitlah buku pertama saya tahun 2005, melalui Gramedia Pustaka Utama yang mengalami cetak ulang sampai tiga kali. Bestseller, istilahnya. Tak terelakkan, Indonesia  makin mengenal saya. Dan saya pun diundang ke berbagai kota untuk berseminar. Titik baliknya terjadi, ketika saya menulis buku 10 Jurus Terlarang, diikuti dengan 7 Keajaiban Rezeki dan Percepatan Rezeki, terbitan Elex Media Komputindo.

Karena buku-buku itu, saya pun diidentikkan dengan biangnya otak kanan. Dan Alhamdulillah, buku 7 Keajaiban Rezeki menjadi buku non-fiksi terlaris sepanjang 2010-2011. Atau istilahnya Mega Bestseller. Dalam waktu singkat, mencapai ratusan ribu peserta seminar.

SUKSES BESAR = PEMBEDA ABADI x DAYA UNGKIT x KESESUAIAN MOMENTUM.

Di sini, terlihat jelas saya berkali-kali memanfaatkan daya ungkit (leverage). Yaitu media besar dan penerbit besar seperti Batam Pos, Jawa Pos Group, Tribun, Gramedia Pustaka Utama, dan Elex Media Komputindo. Selain itu saya juga memanfaatkan daya ungkit radio, majalah, dan televisi. Baik local maupun nasional. Terkait uang, daya ungkitnya adalah bank, property, dan emas. Dan daya ungkit terkait spiritualnya adalah niat, kebersamaan, sedekah, dhuha, dan ikhlas. Bayangkan, kalau semua daya ungkit ini benar-benar diupayakan dan diberdayakan. Wah, wah, dampaknya pasti sangat dahsyat dan bisa melampaui akal sehat. (Sebagai motivator, saya telah membuktikanya. Sekarang, giliran Anda!!)

Rahasia Saya Sebagai Entrepreneur

Sesungguhnya Nabi Allah Daud AS, ia makan dari hasil kerjanya. “ (HR. Bukhari)

Soal bisnis nih, bagi teman-teman yang tengah berjuang dari nol bahkan minus, jangan pusingin pendapat orang. Pusingin saja pendapatan anda, hehehehe…. Dan satu hal yang ingin saya sampaikan. Hormat saya untuk anda. Ingin rasanya saya menjabat tangan anda. Kenapa? Karena tidak semua orang mau dan mampu ‘membeli’ dunia ini dengan perjuangan. Anda beda! Anda melakukannya! Itu kan hebat ! Yang penting, luruskan saja niat anda dan sempurnakan saja ikhtiar anda. Tahan Banting! Saran lagi nih, kalau mau sukses, buang tuh gengsi. Kalau sudah sukses, hidup bisa bergengsi! Lagian, hidup kok buat gengsi-gengsian? Yang diperbanyak itu aksi, bukan gengsi. Right?

Ketika SMA, saya pernah berjualan ikat pinggang. Dan jadi bisnis pertama saya. Ketika kuliah di Malaysia, saya jualan air, batik dan burger. Yah, lumaya lama. Untuk burger, saya melakukannya hampir 3 tahun, dari jam 6 sore sampai jam 1 malam,setiap harinya.

Dan ketika tamat kuliah, tiba di Batam, saya bekerja di beberapa perusahaan. Nyambi jadi dosen. Bisnis sampingan saya adalah terjemahan. Yah, kebetulan saya bisa Bahasa Inggris sedikit-sedikit. Bermodalkan Rp500 ribu, saya pun take action. Uang itu saya gunakan untuk pasang iklan di Batam Pos, tentang jasa terjemahan saya. Eng-ing-eng! Lumayan, dapat order jutaan rupiah. Bahkan, saya sempat dapat proyek terjemahan dari ILO-PBB. (Terlihat jelas tidak perlu modal besar untuk memulai bisnis. Jadi, apabila mengeluh tentang modal hanya menunjukkan betapa tidak kreatifnya anda). Berusaha untuk tahan banting, maka bersama mitra, saya menjajal bisnis makanan : donat, gado-gado, soto, dan bakso. Satu per satu. Alhamdulillah, semuanya tutup juga satu per satu, hehehe. Tutup dengan sukses! Nah, enaknya berbisnis makanan di Batam, saya sudah punya karyawan. Hehehe

Rahasia Kekayaan Donald Trump & Robert Kiyosaki

Upgrade-lah computer. Jika tidak, itu akan menuju downgrade. Asahlah kecerdasan.  Jika tidak, anda akan menuju kebodohan. Bangunlah kekayaan. Jika tidak, anda akan menuju kemiskinan.

Pada pertengahan September 2011, saya mengikuti sebuah kongres Akbar yang langka di Sydney, Australia. Kok langka? Yah pembicaranya, papan atas semua! Sebut saja Donald Trump (salah satu selebriti terkaya di dunia), Tony Robbins (pelatih sukses nomor satu di dunia), Robert Kiyosaki (guru kekayaan nomor satu di dunia), Kim Kiyosaki (penulis Rich Woman), dan Harv Eker (penulis Secrets of the Milionaire Mind). Tak diragukan lagi, pemikiran mereka telah mempengaruhi secara mendalam pemikiran para motivator di seluruh dunia.

Setelah kongres, saya dipersilakan makan siang dan diskusi langsung dengan para pembicara. Saya sempat menanyakan satu hal yang agak pribadi kepada pasangan Robert Kiyosaki dan Kim Kiyosaki. Mereka menjawab dengan panjang lebar dan penuh antusias. Nah, salah satu pesan mereka kepada saya adalah, “make money and have fun!” Tentu saja, bukan semata-mata bersenang-senang sendirian. Tapi, juga bermanfaat pada sesama. Ya berkah, ya berlimpah.

Pada malam hari setelah kongres, saya berkesempatan makan malam dengan Donald Trump. Kebetulan saya adalah orang pertama yang berdiskusi dengan beliau malam itu. Ada satu hal yang apik dan menarik. Mencermati pertanyaan dan gerakan saya, Donald Trump berkomentar, “Look at him, He’s aggressive. He’s an entrepreneur.” Mendengar komentar ini, tamu-tamu VIP lainnya langsung riuh bertepuk tangan. Menurutnya, hanya mereka yang tahan  banting dan agresif saja yang layak menjadi entrepreneur.

Dalam buku anyarnya, Donald Trump dan Robert Kiyosaki memaparkan tentang Midas Touch (Seolah-olah apa-apa yang disentuh akan berubah menjadi emas). Menurut penulisnya, Midas Touch itu terdiri dari lima jari. Ibu jari mewakili kekuatan karakter. Jari telunjuk mewakili kekuatan focus. Jari tengah mewakili kekuatan merek. Jari tengah mewakili kekuatan hubungan. Terakhir, jari kelingking mewakili hal-hal kecil namun berdampak besar. Dan saran saya, sengajalah membangun kekayaan. Jika tidak, anda sengaja  menuju kemiskinan.

Rahasia Sukses Chairul Tanjung & Muhammad Yunus

“ Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran , kefakiran,dan azab kubur. Tiada Tuhan selain Engkau. “ (HR. Abu Dawud & Ahmad)

Chairul Tanjung lahir di Jakarta, 16 Juni 1962. Pada tahun 1981, Chairul menyelesaikan sekolahnya di SMA Boedi Oetomo. Dan lulus dari Universitas Indonesia tahun 1987, Ia mengambil jurusan Kedokteran Gigi. Pada tahun 1984-1985, ia sempat di anugerahi penghargaan sebagai “Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional.” Pada saat kuliah ia mulai menceburi dunia bisnis. Bahkan, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kuliah, ia berjualan buku kuliah dan stensilan, kaos, dan lain-lain di kampus. Ia juga membuka bisnis fotokopi di kampus.

Lalu, ia mendirikan took peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen, Jakarta Pusat. Tapi, toko tersebut kemudian bangkrut. Dan pengalaman jatuh bangun ini sama sekali tidak menyurutkan langkahnya. Selepas kuliah, Chairul mendirikan PT Pariarti Shindutama bersama tiga rekannya pada tahun 1987. Dengan bermodalkan 150 juta dari Bank Exim, mereka membesut sepatu anak-anak untuk tujuan ekspor. Akan tetapi, karena perbedaan visi bisnis, Chairul memilih untuk berpisah dan mendirikan bisnis sendiri.

Kesabaran Chairul Tanjung pun berbuah. Bisnisnya menggurita. Seiring perjalanan waktu, inilah tiga bisnis intinya: keuangan, property dan multimedia. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Karman yang kini dinamai Bank Mega. Di bawah CT Corp (dulunya Para Group) miliknya, terdapat Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi) dan Para Inti Propertindo (property). Bisnis-bisnis yang tersohor adalah Trans TV, Trans 7, Trans Studio, Bandung SuperMall, dan 40 persen saham Carrefour. Terakhir, ia juga memborong saham detik.com. Menurut majalah Forbes- Majalah yang sering merilis daftar orang terkaya dunia- Chairul Tanjung adalah salah satu orang terkaya dunia selama beberapa tahun terakhir.

Inilah rahasia di balik kesuksesan Chairul Tanjung. Menurutnya, modal memang penting dalam membangun bisnis. Tapi, kesabaran itu jauh lebih penting. Karena membangun bisnis, tidak seperti membalikkan telapak tangan. Selain relasi dan integritas, ia juga menyarankan agar generasi muda mau bersabar dalam berbisnis. Pantang menyerah, tahan banting, dan tidak mudah tergoda dengan jalan instan. Kata-kata ini telah ia buktikan.

Kita beralih ke Muhammad Yunus di Bangladesh. Ia menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 di Chittagong, kemudian mendapatkan beasiswa untuk S3 dari Vanderbilt University, Amerika. Sejak awal 1970-an, selama 30 tahun, ia selalu berjuang untuk mengentaskan kemiskinan. Setidaknya, di negaranya. Ilmu-ilmu akademis yang ia pelajari tak  mampu menjawab resah dan gelisahnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk terjun langsung ke lapangan dan belajar langsung dari orang-orang miskin.

Sepanjang tahun 1975 hingga 1976, dengan sabar, ia mengajak mahasiswa-mahasiswanya berkeliling di desa Jobra. Ia menemukan setitik pencerahan ketika bertemu dengan seorang wanita pembuat bangku dari bambu. Karena ketidaan modal, wanita tersebut terpaksa meminjam uang kepada rentenir dengan bunga 10 persen. Uang tersebut digunakan untuk membeli bambu sebagai bahan baku. Ia pun menyimpulkan system ekonomi seperti ini, membuat orang-orang miskin tidak bisa menabung atau berinvestasi untuk pertumbuhan usahanya. Bahkan, amat sulit untuk keluar dari garis kemiskinan. Sungguh ironis.

Nah, kiprah nya pun dimulai dengan memberikan kredit dari kantongnya sendiri sejumlah 17 dolar kepada 42 orang miskin. Jadi, pinjaman yang dikucurkan kurang dari 1 dolar untuk setiap orangnya. Walaupun jumlah pinjaman itu kecil, tapi karena tanpa agunan, ianya berhasil meningkatkan omset pembuat bangku. Kemudian, pelan-pelan Muhammad Yunus berhasil meyakinkan pihak bank, bahwa orang-orang desa sanggup mengembalikan pinjaman. Dan ternyata benar, berkat kesabaranya mendampingi orang-orang desa. Jumlah itu terus berkembang menjadi ratusan orang. Dan berkembang lagi dari satu desa jadi ratusan desa. Itulah cikal bakal berdirinya sebuah bank sekitar 25 tahun kemudian. Tepatnya pada 2 Oktober 1983, dengan nama Grameen Bank.

Hingga saat ini Grameen Bank telah melayani hampir 50 persen penduduk miskin di Bangladesh. Karena tujuan utama bank tersebut adalah menyalurkan kredit mikro bagi orang-orang miskin, namun tidak memberikan ikan melainkan memberikan pancing. Ini luar biasa, karena total kredit yang dikembalikan sekitar 99 persen. Pada tahun 2003, Muhammad Yunus meluncurkan program “The Struggling Members”. Dimana melalui program ini, sekitar 47000 pengemis di Bangladesh berhasil terbantu. Mereka menjadi pengusaha kecil, tanpa perlu lagi meminta-minta. Pantaslah pada tahun 2006 Muhammad Yunus dianugerahi Nobel Perdamaian, walaupun ia bukan politisi, bukan pula penemu.

Rahasia Sukses Azim Premji & Ahmadinejad

Tidak ada yang salah dengan kata ‘pecundang’ dan ‘miskin’.
Hanya orang bermental pecundang
Yang tersinggung dengan kata ‘pecundang’.
Hanya orang bermental miskin
Yang tersinggung dengan kata ‘miskin’.
Kaya atau belum kaya, tetaplah bermental kaya.

Lahir di India dari keluarga yang minoritas, Azim Premzi yang menganut agama Islam dan merutinkan shalat dhuha, sebenarnya menjadi pengusaha karena factor keterdesakan. Ayahnya yang memiliki bisnis minyak goring, meninggal saat Azim Premzi masih berusia 21 tahun. Saat itu, ia tengah belajar di Universitas Stanford Amerika. Segera dipanggil pulang ke India,untuk menggantikan posisi ayahnya. Dan di usia semuda itu, ia langsung di uji untuk meneruskan bisnis keluarganya. Namun, usia muda membuat sejumlah orang meragukan kerja dan kinerjanya. Pada saat itulah, ia menunjukkan kecerdasannya.Dengan tangan dingin, ia membeli saham orang-orang yang meragukannya, lalu mengganti mereka dengan yang lain.Kemudian, ia juga memutar haluan core business  dari minyak goring menjadi teknologi computer. Sebab, dari ilmu yang ia pelajari di Amerika, ia menemukan teknologi computer akan menjadi bisnis yang sangat menguntungkan di masa mendatang. Ternyata, perubahan ini menjadi titik balik bagi perusahaannya.

Sehari-hari, seperti apakah Azim Premzi? Jika berrtemu dengannya di jalan, pastilah kita tidak akan menyangka bagaimana penampilannya. Kadang, ia naik kendaraan umum. Bahkan,di kantornya ia tidak mempunyai parker khusus layaknya CEO lainnya. Sederhana, bersahaja. Padahal, ia salah satu oramg terkaya dunia versi majalah Forbes dan salah satu orang paling berpengaruh di dunia versi majalah Time. Terkait resep sukses, ia pernah wanti-wanti, “ Ketika menginginkan kesuksesan, anda harus merasa tertantang akan sesuatu. Lalu setelah itu, anda memiliki ketepatan hati untuk menghadapinya.  Pada kenyataannya, orang-orang menjadi pengusaha dikarenakan tantangan-tantangan yang menarik. Misalkan, ingin mengubah dunia, ingin menemukan sesuatu,dan lain-lain.

Walaupun umur saya sudah tua, saya tetap menyelesaikan kuliah saya di bidang teknik elektro.”Gigih adalah salah satu resepnya”. “Nilai-nilai adalah prioritas yang mendahului segalanya dan pastilah bisnis yang sukses akan mengikuti di belakangnya.” Selain merutinkan shalat dhuha (orang yang merutinkan shalat dhuha adalah orang yang paling dekat dengan kejayaan), ia juga menunjukkan kepeduliaannya kepada sesama, terutama di dunia pendidikan. Karena itulah, ia mendirikan Yayasan Azim Premji, yang menyekolahkan 1,8 juta siswa. Di Indonesia, tokoh yang mirip dengan Azim Premji adalah Sandiaga Uno, salah satu orang terkaya Indonesia yang juga sederhana, merutinkan shalat dhuha, dan peduli kepada sesama.

Pada 24 Juni 2005, di Iran ada seorang tokoh yang menjadi buah bibir karena keberhasilannya menjadi Presiden, yang hampir-hampir tanpa kampanye. Siapakah dia? Dialah Ahmadinejad. Bukan karena dia tidak sanggup berkampanye, tetapi karena sebelumnya seluruh gajinya sebagai walikota ia sumbangkan dan ia hidup dari gajinya sebagai dosen. Ia lahir di pedesaan, sekitar 120 kilometer dari Teheran. Orang tuanya, seorang tukang besi, Ahmad Saborjihan, memberinya nama ‘Mahmud Saborjihan’ lalu mengubahnya menjadi ‘Mahmud Ahmadinejad’. Ras yang unggul, itulah makna nama Ahmadinejad.

Ketika masih menjabat sebagai walikota Teheran periode 2003-2005, yang memiliki populasi lebih besar daripada Jakarta, ia sering menyapu jalan-jalan di Teheran. Ia juga menyetir sendiri mobilnya ke kantor dan bekerja hingga larut malam. Tidak cukup sampai disitu, ia pun mengambil kebijakan yang bersifat religious, seperti memisahkan lift bagi laki-laki dan perempuan, melipatgandakan pinjaman bagi pasangan muda yang hendak menikah, membagi-bagikan sup gratis bagi orang miskin setiap pecan.dan menjadikan rumah dinas sebagai museum publik. Ia sendiri tinggal di rumah pribadinya di kawasan miskin berukuran 170 meter persegi. Salah satu pencapaiannya adalah secara dramatis menekan tingkat kemacetan. Setelah dua tahun menjabat, ia pun masuk dalam finalis walikota-walikota terbaik dunia, World Major 2005. Ia bukan ulama, bukan pula tokoh revolusi. Akan tetapi dia mampu memenangkan  pemilu dengan 61 persen suara.

Ketika memenangkan pemilu lalu menjadi Presiden, inilah yang ia lakukan:

ü    Menyumbangkan seluruh karpet istana yang sangat mahal pada masjid-masjid di Teheran dan menggantinya dengan karpet biasa.

ü    Meminta menteri-menteri untuk selalu hidup sederhana dan ditegaskan bahwa rekening pribadi mereka akan selalu diawasi.

ü    Tidak mengambil gajinya sebagai Presiden. Ia hanya mengambil gajinya sebagai dosen, sejumlah 250 dolar.

ü    Ketika azan berkumandang, ia pun langsung mendirikan sholat dimanapun ia berada.

Di sini terlihat jelas, Ahmadinejad memilih hidup sederhana. Meskipun memiliki kehidupan yang hebat, dahsyat, dan luar biasa! Bertabur prestasi di sana sini. Ia juga menunjukkan kepeduliannya kepada sesama.

Rahasia Kekayaan Abdurrahman Bin Auf & Usman bin Affan

“ Kenal orang-orang hebat, tidak perlu nge-fans.
Cukup belajar saja dari mereka
Kalaupun harus nge-fans, nge-fans-lah kepada Nabi dan sahabat-sahabatnya.

Abdurrahman bin Auf lahir 10 tahun setelah Tahun Gajah. Berasal dari Bani Zuhrah, ia berkerabat dengan Usman bin Affan dan Sa’ad bin Abi Waqqas. Setelah hijrah ke Madinah, ia dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi. Ketika dijanjikan harta oleh saudara barunya, ia malah bertanya, “ Dimanakah pasar?” Ia hanya meminta saudara barunya itu membeli sepetak tanah yang kurang berharga yang terletak di samping pasar. Kemudian tanah itu ia tawar-tawarkan kepada khalayak. Siapa saja boleh berdagang di tanah itu secara cuma-cuma, tanpa perlu membayar sewa. Hanya saja, apabila memperoleh keuntungan, ia menghimbau agar diberikan bagi hasil seikhlasnya. Para pedagang menyambut gembira tawaran itu.Tatkala terjadi peristiwa Tabuk dan membutuhkan banyak perbekalan, ia pun menyedekahkan hampir seluruh hartanya. Lihatlah, betapa dermawannya dia.

Suatu hari, Nabi bertanya kepada Abdurrahman, “Wahai Abdurrahman, apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Dijawablah oleh Abdurrahman, “ Wahai Nabi, aku telah meninggalkan untuk mereka lebih banyak dan lebih baik daripada yang telah aku sedekahkan.” Kembali Nabi bertanya, “Berapakah yang engkau tinggalkan?” Dijawab lagi oleh Abdurrahman, “sebanyak rezeki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan Allah.” Mari kita amati jasa-jasa Abdurrahman bin Auf:

  • Ia adalah satu dari delapan orang pertama yang memeluk agama Islam. Tepat dua hari setelah Abu Bakar. Ia dan Abu Bakar adalah segelintir sahabat Nabi yang berani sedekah 100%.
  • Ia berpakaian sederhana,sampai-sampai tiada bedanya dengan budaknya.
  • Ia hampir selalu menemani perjuangan-perjuangan Nabi di lapangan. Bahkan kaki dan mulutnya sampai terluka. Ia menyantuni istri-istri Nabi setelah Nabi wafat, juga menyantuni veteran-veteran  perang.
  • Karena kesolehannya, ia pernah ditawari menjadi Khalifah, juga ditawari dimakamkan di sebelah makam Nabi. Namun, ia menolaknya, merasa tidak pantas.
  • Ulama-ulama sedunia sepakat, ia adalah satu diantara sepuluh orang yang dijamin masuk surga.

Usman bin Affan lahir pada 574 Masehi dari golongan Bani Umayyah. Usman adalah sahabat dekat Nabi Muhammad SAW, yang juga khalifah ketiga dalam Khulafaur Rasyidin. Ia disebut-sebut pemalu, yang juga disebut ‘Dzunnurain’ (memiliki dua cahaya). Ia diakui sebagai hartawan, yang juga diakui sebagai Dermawan. Saat peristiwa Tabuk, Usman menyedekahkan 1000 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham. Yang nilainya sama dengan sepertiga biaya yang diperlukan untuk peristiwa tersebut. Pernah juga ia membeli sumur dari kaum lain seharga 200.000 dirham yang kemudian sumur itu ia sedekahkan untuk kepentingan khalayak.

Suatu ketika, Madinah mengalami paceklik. Amat sulit untuk memperoleh bahan-bahan makanan. Maka datanglah Kafilah dagang Usman dari Negeri Syam. Kafilah itu terdiri dari 1000 ekor unta yang membawa gandum, minyak zaitun, kismis dan lain sebagainya. Penduduk Madinah pun menyambutnya dengan penuh sukacita. Para pedagang berebut mendekati Usman. Semua barang dagangan dan bahan-bahan makanan yang dibawa Kafilah Usman dari Negeri Syam disedekahkan kepada fakir miskin dan penduduk Madinah yang membutuhkan. Ia melakukannya karena Allah semata. Terbukti, betapa dermawannya Usman.

Setelah Khalifah kedua Umar bin Khatab wafat, maka digelarlah musyawarah untuk memilih Khalifah selanjutnya. Ada beberapa kandidat khalifah yang diusulkan, diantaranya, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Abdurrahman bin Auf. Pada saat itu, kelompok cenderung memilih Usman. Maka diangkatlah Usman yang berumur 70 tahun, menjadi khalifah ketiga sekaligus khalifah tertua. Jasanya yang terbesar adalah kebijakan untuk mengumpulkan Al Quran dalam satu kitab.

Dengan kekayaan dan kekuasaanya, Usman tiada henti berbuat kebaikan demi kebaikan. Walaupun sebagian besar hartanya telah ia sedekahkan untuk membantu umat, namun hartanya tidak pernah berkurang melainkan bertambah, bertambah, dan bertambah.

ü  Ia memiliki tabungan sebanyak 150 ribu dinar dan 1000 dirham, juga mewariskan beberapa sumur senilai 200 ribu dinar (setara dengan ratusan miliar rupiah).

ü  Ia mewariskan lading (property) sepanjang wilayah Aris dan Khaibar.

ü  Maka benarlah sedekah itu mengayakan.

Menit – menit Terakhir…

Jika bersua orang Hebat, maka tanyalah dua hal,
“ Apa saja action-nya? Apa saja amalnya?”

# Cara Pandang Yang Positif

Saat ini, anda telah belajar dari para model atau tokoh-tokoh sukses dengan berbagai latar belakang. Semoga anda bisa memetik banyak pelajaran dari mereka.

  • Donald Trump dan Chairul Tanjung yang identik dengan istilah “tahan banting”.
  • Azim Premji, Muhammad Yunus, dan Ahamdinejad yang identik dengan istilah “sederhana”.
  •  Abdurrahman bin Auf, dan Usman bin Affan yang identik dengan istilah “dermawan”.

Dari tokoh-tokoh tersebut, sangat bertolak belakang dengan definisi sukses dan derivative sukses selama ini. Nah, kisah-kisah tadi mempositifkan pandangan Anda terhadap konsep sukses. Lebih jauh lagi, kesuksesan hendaknya melalui proses. Sehingga,ianya bisa tahan lama, bisa diajarkan, dan bisa ditiru (duplikasi). Intinya, Sukses itu adalah singkatan dari Suka Proses. Misalkan, mau menjadi seorang Direktur? Anda mesti melalui proses dengan menjadi staff terlebih dahulu. Karena kalau kita tumbuh melalui proses, ketika sukses, kita akan menghargai orang-orang yang tengah berproses. Mudah-mudahan kita terhindar dari sifat sombong dan zalim seperti Firaun dan Abu Lahab.

# Cara Pikir Yang Memberdayakan

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk.”

Dari kutipan ayat di atas, manusia disebut dengan kata ‘ahsan’ yang berarti ‘terbaik’. Jadi, manusia adalah ciptaan-Nya yang terbaik, bukan sekadar baik. Salah satu buktinya adalah manusia dianugerahi kemampuan untuk bermimpi. Tepatnya, memiliki impian atau imajinasi. Bahkan, malaikat pun tidak dianugerahi kemampuan ini. Bukankah imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan? Ini pesan Albert Einstein.

Bukti lain manusia sebagai mahluk yang terbaik adalah adanya anugerah untuk percaya atau tidak percaya. Karena percaya (yakin) itu sangat penting dalam kehidupan manusia. Dan menjadi fondasi untuk action, amal, dan doa kita.

Begitu anda percaya (yakin), artinya anda telah menyelesaikan setengah pekerjaan. Sungguh seperti itulah adanya. Jadi kesimpulannya, beberapa cara pikir yang memberdayakan dan mengayakan adalah sebagai berikut :

ü  Kita adalah mahluk-Nya yang terbaik, melebihi mahluk manapun.

ü  Apabila Dia telah ridha, dengan imajinasi, kita bisa mencapai prestasi apapun.

ü  Apabila Dia telah ridha, dengan percaya, kita bisa menjemput keajaiban apapun.

# Cara Pikir Yang Melemahkan

Dan sebagai pembanding, adapun beberapa cara pikir yang melemahkan dan memiskinkan. Karena tidak sedikit orang-orang yang berpikir seperti ini :

ü  Melarat, lalu menyalah-nyalahkan pemerintah.

ü  Goblok, lalu menyalah-nyalahkan sekolah.

ü  Bengal, lalu menyalah-menyalahkan pergaulan.

ü  Tidak Soleh, lalu menyalah-nyalahkan keluarga.

Mengapa kita harus menyalahkan pihak lain, padahal cara pikir kita sendiri yang salah. “Bukankah kita adalah penanggung jawab atas diri kita?” Di dalam kitab suci Al Quran, Allah memuji Nabi Sulaiman dan Nabi Ayub, sebagai sebaik-baiknya hamba dan dianggap taat. (QS 38:30&44). Jadi, “Manakah yang lebih utama, orang kaya yang bersyukur ataukah orang miskin yang bersabar?”.

# Cara Pikir ‘Dan’ Bukan ‘Atau’

Mohon maaf, orang miskin sering berpikir pakai ‘atau’. Misalnya, “Menabung atau berlibur ya?” Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pemikiran ini. Karena kondisi keuanganlah yang mengharuskan demikian. Memilih salah satunya. Yang salah adalah kalau pemikiran-pemikiran ini diterapkan dalam cakupan kehidupan yang lebih luas. Inilah disebut dengan mental miskin. Misalnya :

ü  Pilih kaya atau bahagia ya?

ü  Pilih uang atau kesehatan ya?

ü  Pilih bisnis atau keluarga ya?

ü  Pilih dunia atau akhirat ya?

Bukankah kita bisa memilih kedua-duanya? Bukankah keduanya pula yang dianjurkan dan diajarkan oleh agama? Maka berpikirlah pakai ‘dan’ :

  • Kaya dan bahagia
  • Uang dan kesehatan
  • Bisnis dan keluarga
  • Dunia dan akhirat

Nah, tercapai atau belum tercapai, tetap niatkan dan ikhtiarkan seperti itu. Kalau diniatkan, sungguh, ini akan mendekatkan kita pada kenyataan!

# Menyederhanakan Kekayaan

Ada pesan yang begitu penting dari buku ini. Ini dia. “Hidup tidak boleh sederhana”. Lho kok gitu?

Karena menurut saya, hidup itu mesti hebat, mesti dahsyat, dan mesti luar biasa! Nah, sederhana itu dalam bersikap. Sekali lagi, sederhana itu dalam bersikap. Right?

Di buku ini, saya bolak-balik berbicara soal kekayaan. Blak-blakan. Apakah itu berarti saya mengajak anda untuk tergila-gila dan menuhankan kekayaan? Sama sekali tidak. Justru saya ingin anda memaknai ulang konsep kekayaan. Tepatnya, menyederhanakan kekayaan. Dimana anda dan keluarga anda menikmati harta sekedarnya saja. Selebihnya biarlah sesame dan agama yang menikmatinya. Dengan kata lain, konsumsi secukupnya, distribusikan sebanyaknya. Karena sejatinya kekayaan itu bukan soal mengumpulkan, melainkan soal membagikan.

Dengan segala kerendahan hati, saya beritahukan bahwa saya dan keluarga saya berusaha menikmati harta sekadarnya, secukupnya. Walau teramat jauh dari sempurna, tapi saya senang-senang saja menjalani gaya hidup seperti ini.Hm, anda beda pendapat dengan saya? Yah, nggak apa-apa. Beda pendapatan saja wajar, apalagi beda pendapat. Hehehehe….

Yang terakhir, buat anda :

v    Kalau belum kaya? Janganlah rendah hati.

v    Kalau sudah kaya? Tetaplah rendah hati.

v    Kalau nggak kaya-kaya? Janganlah makan hati. Heheheheee…..

 

 

Kunci Sukses Menanggulangi 44 Kesalahan Manajemen


 

  1. SIKAP  YANG BENAR

Belajar dari kesalahan hanya dapat dimulai dari cara berfikir yang positif. Cara mengubah kesalahan menjadi sesuatu yang benar dengan cara:

Sikap yang tidak menyalahkan

Apabila terdapat suatu masalah di dalam suatu menejemen perusahaan bukan berarti perusahaan tersebut melakukan hal yang gagal, justru dengan tim dari perusahaan tersebut melakukan kesalahan, sejujurnya itu merupakan pembelajaran. Sehingga masing masing anggota tahu bahwa hal tersebut tidak harus menyalahkan satusama lain, karena tidak ada system yang di buat manusia yang terbebas dari kesalahan.

Dari hal tersebut kita dapat mengira hal hal yang menyebabkan suatu masalah, di antaranya:

  1. Selalu menganggap gampang
  2. Karena rapat yang salah
  3. Kesalahan yang bukan disebabkan karena rapat
  4. Karena ada dari partai luar
  5. Kesalahan mekanik
  6. Miskomunikasi
  7. Kehendak tuhan.

Hal tersebut bisa digunakan sebagai alat untuk menganalisa suatu permasalahan. Dalam hal ini menejer akan mengambil tindakan yang sesuai prosedur yang berlaku, tidak juga mengambil pintas, tapi membutuhkan pelajaran yang expert dibidang ini. Seorang menejer bisa mengambil langkah yang tepat untuk karyawanya ini:

  • Dilatih
  • Dikompensasi
  • Ditoleransi
  • Dinetralisir.

Sisi yang cemerelang

Dengan selalu menggunakan uang apabila mendapati masalah adalah hal yang tidak patut untuk dilakukan, serta membiarkan kebencian antar karyawan karena apa yang diduga keras kadang kali yang benar benar salah karena terjadinya hal yang tidak benar. Kadang kali tidak adanya transparansi dalam menyampaikan suatu berita yang terjadi sehingga akan berujung negative thinking di antara para pegawai. Selain itu adanya rasa pessimist, ini yang kadang kala sulit diatasi karena rasa ini sulit untuk dicadangi.

Tindakan yang menyerang

Menjadi penyerang dapat dilakukan dengan mudah oleh kebanyakan orang, demikian juga untuk bertahan. Apabila seorang menejer tidak adil terhadap bawahannya, tidak menutup kemungkinan adanya penyerangan dari bawahan.

Biarkan berlalu

Apabila ada seorang melakukan kesalahan, maka tidak harus di judge secara terus terus an, maksudnya diperlakukan berbeda, maka ini akan menyebabkan stress nya seorang karyawan tersebut, hokum lah ia lalu perlakuakan seperti hal nya sebelumnya.

Buatlah pengecualian

Manajemen dengan pengecualian mengansumsikan sebagian tugas dilakukan dengan benar dan tepat waktu, menejer hanya boleh cemas dengan sesuatu yang tidak dan tidak akan. Ini merupakan prinsip yang sederhana dan efektif.

Lama dan pendeknya

Salah satu perbedaan menyolok antara menejer dengan pegawai yang lain adalah menejer dibayar untuk melihat hasil jauh kedepan dan memiliki pandangan lebih luas terhadap kegiatan perusahaan.

Keberuntungan

Pemimpin sering disebut orang yang beruntung, ada kecendurungan yang sama dalam industry. Pegawai, pers, dan pemilik saham mengembangkan perasaan yang hangat  terhadap menejer senior dan direktur yang secara konsisten memiliki sikap menyenakngkan, biasanya menereka menampilkan sikap yang merasa orang beruntung.

Meja yang bersih

Pernyataan dari meja bersih ini maksudnya, pencerminan pada pendekatan yang meningkatkan gairah kerja.

 

  1. ORANG YANG TEPAT

Bisnis melibatkan uang dan orang, sumber daya manusia biasanya sama pentingnya dengan keuangan, dan menejer perlu untuk memiliki keahlian untuk mengatur orang juga keahlian menangani keuangan.

Mengatur orang memang ada dan nyata, banyak yang dituntut di sini. Memahami kebutuhan sudah merupakan lebih dari separuh pertarungan.dengan memiliki orang orang yang tepat berarti memiliki pendekatan yang tepat dalam penyeleksian staff.

Hasil penelitian tentang penyeleksian  terhadapa sebuah organisasi, dan mereka mendapatkan rata rata kesalahan yang paling buruk diantara perusahaan yang professional.

v  hindari seleksi

  1. anggap saja lowongan ada tanpa beban kerja yang akan datang yang mungkin akan merusak.
  2. Pilihlah pegawai tetap disaat puncak beban kerja sedang tidak tetap dan dpt diduga sebelumnya.
  3. Kegagalan dalam memeriksa sepenuhnya .
  4. Kegagalan bahwa setiap orang sesungguhnya butuh pekerjaan,

v  analisa pekerjaan

  1. kesaalahan untuk memperoleh keseimbangan yang benar antara timbale balik calon yang dibutuhkan dan daya muat pekerjaan
  2. kelompokan calon yang ideal daripada kebutuhan minimumnya
  3. kegagalan untuk mengenali pada langkah ini bahwa kompromi dari keidealan memang perlu.

v  iklan, dan sejenisnya

  1. penulisan iklan yang menggugah minat yang tidak dapat didukung dalam wawancara.
  2. Keyakinan sepenuhnya bahwa hokum alam tidak menempatkan iklan menjadi milik seseorang.
  3. Rubahlah iklan , melawan nasehat dan kemudian salahkan penasehat akan kesalahannya.
  4. Catat dalam media lawan nasehat dan menyalahkan penasehat
  5. Menuntut kelengkapan dari bentuk aplikasi ketika daftar riwayat hidup yang baik tersedia.

v  pemilihan dan penggunaan sumber

  1. pemberian nomor kontak tanpa memberikan informasi yang cukup bagi calon yang potensial untuk mengetahui mereka tidak sedang menulis untuk dirinya sendiri,
  2. penggunaan sumber saingan tanpa menasehatkan bahwa mereka sedang bersaing.
  3. Menjalankan pasar dengan iklan yang buruk.
  4. Penggantian konsultan penyelidik dalam bidang khusus yang erat hubungannya.
  5. Pemansangan iklan suatu pekerjaan yang dapat di identifikasi untuk mengetes pasar.

v  orang yang di proseswawancarapenutupan penjualan

langsung

  1. jawaban yang lambat dari suatu lamaran berarti kehilangan calon pegawai
  2. inisiatif yang lambat dari program wawancara berarti akan kehilangan orang
  3. waktu wawancara yang tidak tepat akan mengakibatkan kehilangan orang
  4. menganggap bahwa calon tidak tertarik jika mereka tidak datang pada saat wawancara.

Melalui konsultan

  1. tolaklah orang yang disarankan untuk wawancara tanpa berbicara dengan sumbernya.
  2. Penolakan orang dari agen ya g berada dalam jajaran penggambaran agen yang berasal dari agen lain.

v  Wawancara

  1. Pertanyaan bagi jawaban yang berbelit belit untuk mengesahkan pertanyaan calon
  2. Datang terlambat, mabok, atau pemarah dalam wawancara
  3. Menggunakan pewawancara pengganti yang tidak ada kaitannya,
  4. Gagal untuk mengecek pada akhir wwancara apakah calon masih berminat
  5. Menga ggap calon yang diajukan oleh konsultan kurang memuaskan
  6. Lupa menjellaskan bahwa bungalow indah yang ditawarkan telah dilengkapi dengan pelindung dari peluru
  7. Memberikan data dan menawarkan data.
  8. Menggambarkan keadaan gaji.

v  Penutupan penjualan

  1. Anggaplah bahwa karena calon mengatakan suka pada anda, pekerjaan dan perusahaan, mereka akan menunggu dengan waktu yang tak tentu, bagi penawaran tersebut.
  2. Tawaran yang dingin, acuh dan formal akan kehilangan calon sering untk mrreka yang kurang cerdas .
  3. Penawaran dibuat tanpa pemikiran atau pembicaraan, yang cukup mengenai gaji,
  4. Menjadi gusar untuk pertanyaan pertanyaan terakhir
  5. Gagal dalam mengecek izin pekerjaan cukuo tepat,
  6. Mengenali bahwa calon yang lebih dulu dapat melakukan pekerjaan namun mennggu dan mengharapkan yang lebih.

v  pelantikan

pelamar datang menemukan:

  1. ruangan tidak ada
  2. meja, mobil, pegawai, pekerjaan dsb tdk ada
  3. tidak ada lowongan
  4. yang mendahului msh ada disana
  5. boss/susunan/lokasi/perusahaan induk yang baru
  6. tak seorangpun yang mengharapkannya
  7. tidak ada bayaran
  8. tidak ada program induksi
  9. tidak ada perusahaan

v  persewaan untuk mendapatkan keuntungan

terlalu banyak keputusan menyewa dilakukan tanpa memperhitungkan keuntungan yang ppotensial untuk dicapai dari penampilan pekerjaan, lebih buruk lagi biaya yang potensial juga di abaikan, mungkindi sebabkan beberapa masalah seperti apakah kedepannya akan terus berguna, memikirkan keuntungan dan tanggung jawab akan baliknya suatu modal, maka untuk permasalahan ini harus di adakan anggran biaya ektra,

v  menjaga pegawai

pengerahan tenaga adalah mahal, bahkan bila mengurangi biaya langsung sampai yng terendahpun biaya yang tak langsung dan lain sebgainya. Ada salasatu alternative yaitu dengan berusaha lebih keras dalam menjaga pegawai. Menjalankan bisnis dengan pegawai yang memiliki masa jabatan rata rata lima tahun, maka perusahaan bisa menghemat seperlima dari biaya pengerahan tenaga yang diperlukan untuk tiap tahun.

v  calon adalah pelanggan

perusahaan harus benar benar selektif dalam memilih pegawai baru, ini berlaku bagi perekrutan dalam posisi bawah sampai posisi atas dalam perusahaan.

v  Penandaan

Perusahaan harus memiiki dokumentasi bagi setiap keputusan atau aksi yang dilakukan perusahaan, entah aksi yang biasa aja, semacam olahraga bareng antar pegawai atau lain lain nya.

v  keberhasilan melalui pergantian

setiap perusahaan mempunyai rules rules tersendiri, tetapi kadang kala ada rules yang mungkin dilupakan dan tidak tertulis di SOP perusahaan, sehiingga rules tersebut sebenarnya berjalan tetapi tidak tertulis, ini biasa nya rules yang di anggap sepele oleh setiap anggota pegawai. Makanyua di adakan training khusus bagi pekerja baru, seperti pengenalan lingkungan dan cara kerja.

v  angan angan untuk menduduki jabatan direktur

setiap perusahaan mempunyai tujuan yang pasti ingin menjadi perusahaan yang maju, begitupun dengan para pegawainya, mereka ingin menapaki karir nya, adakala seorang yang dari posisi bawah bisa menduduki seorang menejer. Atau kadang kala ada yang sudah menduduki posisi atas, dan melakukan kesalahan sehinggga perusahaan tidak memecatnya tapi di down grade, atau penurunan level jabatan.

v  anggaran yang paling penting

menejer yang baik yaitu menejer yang dapat melihat secara menyeluruh dari bawahan sampai atasan, dalam hal inipun menejer harus memperhatikan bagian personalia, yang merekrut pekerja baru, biasa nya ada menejer yang tidak mau tahu maslah pemnbiayaan perekrutan karyawan baru, padahal SDM bukan sepenuhnya tanggung jawab prsonalia,

v  sekretaris

bagi kebanyakan orang menggap bahwa keberhasilan seorang menejer di sebabkan adanya sekertaris yang membantu kerja sang menejer, padahal ini tidak sepenuhya benar, karena menejer yang mengendalikan sekertaris juga.

 

  1. MENDATANGKAN UANG

Pekerjaan yang dapat menciptakan keuangan

Tanggung  jawab dan kewajiban  utama  dari pegawai adalah untuk memaksimalkan keuntungan dan kefisienan perusahaan, sebagai alat untuk mencapai tujuan, pegawai ini tentu saja juga termasuk dalam pendanaan, dsb. Tidak ada keuntungan otomatis dalam menjamin keselamatan, kesanggupan melunasi utang, kelangsungan hidup pekerjaan, kelangsungan hidup perusahaan, hubungan industrial yang baikterhadap pelanggan, produk yang baik, informasi menejemen yang baik dan menurut aturan hokum. Semua itu merupakan bagian dari alat untuk mencapai tujuan. Kesnggupan melunasi utang adalah penting namun ini bukan tujuan akhir, atau bisa memberikan injeksi modal.

Ungkapan semua

Apabila ada permasalahn dalam perusahaan hendaknya semua tau dari kalangan bawahan hingga atasan, contoh permasalahan nya yamng harus di ungkapkan antara lain:

  1. berapa banyak pengeluaran yang tidak di izinkan untuk tujuan pajak dan dimana kepentingannya.
  2. Bagaimana rata rata perusahaan dibandingkan dengan yang harus dicapai didalam pasar uang periode tersebut.
  3. Bagaimana hubunghannya dengan gewrakan harga dibanding indeks FT.
  4. Gaji rata rata untuk setiap pegawai dan upah rata rata nasional
  5. Pergantian pada laba tiap tiap pegawai.
  6. Presentasi pergantian dilakukan oleh 10% pelanggan

Obsesi penetrasi

Beberapa dari menejer yang terbaik terobsesi dengan penetrasi pasar. Mereka tahu ukuran pasar dari tiap tiap produk mereka. Mereka tahu penetrasi mereka terhadap pasar. Terkadang mereka tahu juga figure pesaing yang lain. Staff Penjual sering beramnggapan bahwa kebutuhan untuk meningkatkan penjualan didalam pasar yang agak terbatas adalah masalah mereka ya g terbesar. Dalam hal ini ada tiga kasus yang perlu diperhatikan:

  1. Juallah kepada orang yang tidak membeli produk atau jasa tersebut sebelumnya.
  2. Eksporlah yang lebih banyak
  3. Jual  kepada mereka dimana penjualan ini tidak di anggap bagian dari pasar resmi.

Pertahanan harga

Masalah harga merupakan persoalan yanmg buta bagi banyak menejer keuangan dan sebagainya, sebagaian besar takut terhadap kolega penjual mereka dan pandangan nya terhadap sensitive ke pasar. Staff keuangan biasanya ingin meningkatkan harga dan staff penjual bilang bahwa ini tidak mungkin karena perhitungan kunci akan dihilangkan.

Banyak menejer yanmg membayangkan bahwa mereka sudah terlibat dalam latihan pemberian harga produk di saat mereka adalah:

  1. Bertahan secara acak ditingkat batas kasar
  2. Menjaga proposal pemotongan harga yang di ajukan oleh staf penjual
  3. Pemberian harga, melawan harga yang dilakukan oleh pesaing yang produknya tidak menyeluruh atau bahkan tidak kompetitif.

Factor penting yang mempengaruhi keputusan harga meliputi:

  1. Tersedianya kapasitas
  2. Biaya produksi
  3. Harga yang bersaing
  4. Penerimaan persaingan pasar
  5. Pengaruh pasar yang ada
  6. Kebutuhan pasar dalam hal kualitas.

Pergantian kerugian pembayaran

Ada hal yang dapat dilakukan agar bisa bersikap manis terhadap pelanggan. Di dalam bisnis terdapat batas kasar, bagus dan persaingan berapi api, sehingga harus  mengumpulkan pelanggan dengan penilaian sangat ketat.

Penderitaan yang timbul

Akusisi adalah pembelian bisnis lain, perusahaan firma atau asset, hak, hak paten, peralatan dan merk dan sebagainya. Dorongan tersebut sebaiknya dilakukan dengan beberapa pertimbangan yang tidak emosional, misalnya:

  1. Biaya investigasi sekalipun gagal dapat di pertimbangkan, baik di ukur secara ekternal maupun internal.
  2. Aliran uang tunai jangka pendek tidak sesuia dengan anggaran.
  3. Kerugian yang tidak diharapkan melebihi keuntungan yang tidak diduga
  4. Masalah integrasi selalu di sepelekan
  5. Orang yang di inginkan pergi dan orang yang tidak di inginkan tetap bekerja.
  6. Penyimpangan antara kedua asset keuntungan pegawai merupakan masalah IR dan menambah biaya
  7. Pemegang saham, pers dan perubahan stock biasanya salah mengerti.
  8. Masalah kesatuan

 

Tetap jauhkan perusahaan

Bila muncul keadaan yang berlawanan dengan keinginan untuk tetap tumbuh, hal itu merupakan situasi yang membutuhkan adanya doctor perusahaan. Ini dibutuhkan saat situasi:

  1. Situasi kas yang kritis
  2. Situasi keuntungan yang kritis
  3. Kebutuhan akan adanya penyusunan kembali ataupun rasionalisasi, sering untuk membangunkan tawaran untuk mencegah tawaran yang akan datang.

Menejemen didalam kerugian.

kondisi rugi memiliki keuntungan, mereka menuntut dan mendesak tindakan menejemen dengan cara  sama bagusnya dengan kehadirannya, memberikan catatan ancaman. Lebih jelasnya bahwa kebanyakan menejer disaat perusahaan nya mulai goyah, lebih baik melakukan langkah langkah ini:

  • Berkonsentrasi
  • Menanggulangi bersama
  • Janji poliitik
  • Taksiran prioritas
  • Mencari tujuan kunci
  • Melakukan pengorbanan
  • Singkirkan hal hal yang sepele
  • Membuat keputusan yang tidak menyenangkan

Jika mengerjakan langkah langkah di atas dapat menciptakan ancaman kerugian sebagai senjata taktik didalam gudang menejemen perusahaan.

Panic

Panic potensial melahirkan dorongan untuk bertindak, dan harus bersiap untuk mengambil keputusan dan mengambil keuntungan dari situasi seperti itu, dan menjadikannya sebagai alat untuk membantu langkah berikutnya. Tugas menejer adalah mengambil analisa maslah bawahan yang bimbang dan memanggil mereka kemudian memberikan pengarahan meyakinkan solusi maupun jalan keluar yang meringankan.

Terlalu banyak melakukannya

Apabila seorang menejer melakukan tindakan yang berlebihan , maka akan menyebabkan:

  • Mengambil tindakan terhadap harga
  • Mengambil tidakan terhadap produk
  • Meningkatkan pemasaran.

 

Ketidakharusan suatu kebutuhan

Proyek berdasarkan pada kebutuhan yang biasanya sudah diduga sebelumnya. Dengan suatu pembatasan menejer dapat memutuskan tujuan alternative dan alat alternative. Menejer yang baik harus mempertegas langkah berjuang keras dan siap menentukan alternative yang membahayakan sekalipun.

Praktek yang terbaik

Bila ada syarat untuk praktek modal yang berdasarkan pada kebutuhan maka aka nada maslah serupa dengan semua pengeluaran berdasarkan pada tujuan yang diduaga keras sebagai praktek modern terbaik. Praktek yang terbaik dapat digunakan sebagai batasan utama  yang benar. Bila semuanya baik, praktek yang terbaik seharusnya sebagian besar akan membawa keberhasilan. Namundua keuntungan ekstara akan didaptkan dari displin dan pembatasan yang lebih penuh.

Pelaksanaan tanpa perhitungan

Menejemen modern adalah untuk menjadikan banyak kebutuhan agar lebih baik. Produk dan jasa baru tetap menjaga perusahaan untuk sehat dan antusias, prinsip nya kita harus setuju dengan hal itu. Masalah nya adalah bahwa perubahan dapat menjadi lebih menarik untuk tujuan tertentu. perusahaan harus terus membuat inovasi agar terus bisa bersaing dengan kompetitor yang yang terus mengembangkan inovasi juga.

Perencanaan yang negative

Ada satu alternative bila menejer tidak dapat memutuskan apa yang sedang terjadi, menejer akan mampu merencanakan untuk menghindarinya. Latihan ini dapat menjadi sangat berguna dalam studi akusisi. Jumah waktu yang dihabiskan untuk mencapai akusisi yang mungkin diperoleh berubah menjadi tidak diharapkan bagi d ewan pengurus bila aslasan lama diketahui dan tidak pernah di kodifikasi. Satu analogi yang datang segera untuk menanganinya adalah kawat arus uang. Kawat ini dalam terowongan menyembunyikan alarm ketika ia menyentuh dinding terowongan. Ini untuk mengetahui apakah konsep rencana yang negative melakukan untuk masalah keuntungan untuk bersiul ketika area yng tidak di inginkan justru berhasil di capai.s

Kelambanan

Alternative paling jarang mempertimbangkan rencana untuk tidak melakukan apapun, sekali suasana hati berubah telah mencekam menejemen akan sangat sulit menjadi seseorang yang mengatakan “siapa disana?” dan mulai ragu bagaimana status quo dapat diserasikan dari pada menghabiskan semua uang itu.

Pensiunan polisi dan seekor anjing

Jika persahaan telah mengembangkan pendekatan yang benar untuk mendapatkan uang, maka seharusnya tidak lalu dibuang semua. Adakala nya sbagian perusahaan berada dalam kondisi tidak aman. Apa yangi  belum berubah adalah penerimaan menejemen keamanan sebagai salastu kunci dari fungsi dalam perusahaan umum. Beban resiko dan keputusan untuk tujuan berjaga jaga yang total adalah menyalahkan asuransi plus, asuransi diri dan mengendalikan kepanikan.

Kerugian langsung

Pemindahan kas

Produk

Asset tetap

Simpanan yang bisa dikonsumsi

Harta milik pegawai

Data rahasia

Kerugian lain

Spionase industry

Penculikan

Penutupan tiba tiba data rahasia

Serangan kepada pegawai atau bahkan pelanggan

Radiasi

Keracunan

Sesak nafas

Luka bakar

banjir

Kejahatan yang sempurna

Menejemen yang buruk adalah penyebab adanya kejahatan murni dan banyak perusahaan besar telah melahirkannya. Criteria dari perfeksionis yang harus ditemui adalah:

tak seorangpun yang merasa menjadi korban

tidak ada bukti

kejahatan tidak ditemukan

tidak ada penyeleseian

jumlah yang terlibat cukup kacau untuk membatasi usaha dan resiko.

 

  1. ATURAN KOMUNIKASI

Dengan sikap tepat, orang tepat dan pendekatan yang tepat dalam mendatangkan uang, komunikasi yang baik adalah kebutuhan terakhir yang diperlukan dalam menejemen yang baik. Namun masalah diagnose komunikasi tidak akan menjamin perbaikan, untuk tiga alasan

  1. beberapa menejer tidak cukup memiliki pemahaman dan tidak mampu mempraktekan komunikasi yang baik, karena mereka telah menghabiskan seluruh kehidupannya dengan langkah langkah yang s alah.
  2. Beberapa menejer dapat memahami komunikasi yang baik namun mereka memutuskan ada alasan yang baik untuk menghindarinya, pada semua pembiayaan atau mereka tidak punya waktu.
  3. Banyak menejer yang kompeten dan ingin dapat berkomunikasi dengan baiknamun mereka bekerja untuk menejer yang tidak faham.

Gosip membenci kekosongan

Di beberapa kasus sering digunakan bahasa inisiatif, perhitungan atau analisa mereka mengenai apa yang sedang terjadi dan mengapa terjadi. Dalam suatu perusahaan saat ini walaupun sudah melakukan pekerjaan yang dapat dipertanggung jawabkan untuk berkomunikasi dengan tim menejernya yang di undang menghadiri rapat tetap diharuskan mendengar rencan perusahaan , maka semua ada komunikasi satu sama lain.

Tulisan yang efektif

Setiap orang yang telah dihadapkan pada perhitungan masa dari daftar riwayat hidup, bahkan untuk tingkat senior akan merasa heran mengapa orang tidak memberikan persiapan data profesinya namun ambilah pandangan yang lebih dekat kita mungkin memberikan standar yang sama terhadap daftar riwayat hidup yang kita tempatkan untuk dokumen lain itulah sebabnya keduanya sering mempunyai nama buruk, aturan dasar yang sama harus menerapkan semua dokumentasi.

Keringkasan adalah segalanya

Pelajaran dasar komunikasi yang perlu diperhatikan adalah kesalahan komunikasi meningkatkan proporsi lagsung terhadap volume bahan yang dikomunikasikan, mungkin setiap menejer tahu fungsi dari komunikasi, contoh penjelasan sederhana komunikasi:

  • Kata kata biasanya lebih memaksa daripada sederet angka
  • Sebuah ungkapan kata yang kuat dan meyakinkan lebih baik dari pada beberapa paragraph
  • Sebuah gambar diduga keras lebih berharga dari pada seribu kata.

Empat  kata huruf

Kata kata singkat akan selalu jelas , yang panjang cenderung kurang jelas, bnayak dari mereka yang ingin cepat memahami secar jelas dan enggan membaca, contonya baca the times, meereka baca the sun. bila terlau banyak kata yang panjang lebar, mereka tidak akan membaca pengumuman /memo/ iklan perusahaan.

Contohnya pengumuman laporan tahunan biasanya :

ü  Menjemukan

ü  Memakan banyak biaya

ü  Tidak dapat dimegerti

ü  Mencemooh

ü  Tujuan yang salah

Sebaiknya seorang menejer memperhatikan:

ü  Bahasa

ü  Sikap

ü  Laporan penjualan

ü  Sampah yang menurut undang undang

ü  Laporan berkala

ü  bantuan

MIS (management information system)

Merupakan sintem informasi minimum yang di berikan oleh menejer kepada bawahannya, jadi perusahaan pun harusr memiliki sistem informasi yang jelas, karena terkadang seorrang menejer tidak bisa memanggil satu persatu dalam hal kenaikan gaji misalnya, maka di adakan MIS ini.

Pos kelas tiga

Tujuan ini bertujuan untuk:

  • mengelompokan alamat
  • disusun menurut namanya
  • mendorong mereka untuk segera membuka informasi
  • merangsang mereka untuk mau baca situasi
  • mendorong mereka agar mau bertindak
  • agar mudah dalam bertindak

Bentuk yang buruk

Satu cara untuk mengetes menejemen yang buruk di dalam organisasi apapun adalah dengan melihat pada bentuk yang di terbitkan untuk orang lain. Bentuk internal hampir sama baiknya dengan suatu indicator namun meniliki lebih banyak kelonggaranuntuk ketidak cakapan mereka, bentuk ekternal yang baik adalah PR yang berhasil.

Gangguan telepon

Untuk menanganai masalah telepon di perusahaan atau percakapan dan kadang sebagai orang kantor tidak dapat menghapal percakapan yang penting di telepon atau tidak dapat menghafal angka, maka bagi menejer yang baik kesalahan tersebut adalah fatal dan tidak professional. Setiap deringan telepon dapat memiliki keindahan susunan tertentu yang dapat bekerja bagi pekerja kantor nya. Secara teoritis ini suatu yang sederhana. Masing masing kelompok berhubungan, menentukan diri mereka sendiri, pokok permasalahan, mendiskusikan, mencari penyeleseian atau meminta informasi lebih jauh, kesalahan muncul karena orang tidak memelihara aturannya.

Untuk memulainya sangat sederhana, bisa memutar nomor orang yang dituju dan tunggulah telepon itu dijawab, jika kita sedang menjawab telepon jawab dengan nama kita, dan nama perusahaan, bisa juga dengan menyebut nomor telepon, jangan sampai ada nada yang mencemooh penelpon, lalu giliran penelpon yang menyebut namanya, jati diri yang lebih lengkap, tanyakan siapa yang di tuju dan untuk urusan apa.

Kata penutup

Akhirnya pesan yang paling konstruktif, buku ini tempat belajar dari kesalahan, walaupun bukan konsep yang negative tetapi buku ini telah memaksa kita untuk meerima pandangan yang agak banyak dan berlebihan mengenai contoh contoh kesalahan.

Bila komunikasi menjadi titik perhatian yang utama, hal ini tentu tidak cukup. Bagi menejer yang sukses “bravo”

Sebagai menejer komunikator yang berhasilseharusnya mencapai dan melewati penghalang penghalang ketidak jelasan dan ketidak mengertian. Jembatanilah jurang pemisah tersebut, sambutlah dan cari jalan keluar. Berilah pada tanda nama atau masalah tertentu untuk menjamin bahwa pesan yang masuk ke perusahaan adalah benar.

Sumber :

John Curtis,  Kunci Sukses Menanggulangi 44 Kesalahan Manajemen, Delapratama, Jakarta, 2010.

 

20 buku penuh inspirasi


 

“Anda akan menjadi orang yang sama seperti Anda saat ini, kecuali untuk orang yang Anda temui, tempat-tempat yang Anda kunjungi, dan buku-buku yang Anda baca.”
- Charlie “Tremendous” Jones

Yang mana merupakan sebuah kejahatan besar? Untuk dapat membaca dan kemudian tidak membacanya- atau tidak bisa sama sekali  membaca?

Buku bisa memberikan kita sebuah kebijaksanaan, wawasan, pengetahuan, perspektif, ide-ide baru dan pemikiran. Mereka memberikan sudut pandang,  inspirasi dan pemahaman.

Jika Anda membaca 17 halaman sehari, Anda akan membaca 31. 200 halaman buku selama setahun. Awal  yang baik!

Ada  daftar buku favorit yang terdiri dari  10 buku klasik dan top 10 buku modern. kita  percaya Anda akan terinspirasi oleh para penulis besar dan kata-kata mereka dengan kebijaksanaan yang ada di buku dibawah ini :

Buku klasik:

1. “How to Win Friends & Influence People” oleh Dale Carnegie. Bisa dikatakan buku ini paling klasik?

2. “The Greatest Salesman in the World” oleh Og Mandino. Sebuah panduan praktis untuk mengubah diri Anda menjadi orang yang lebih baik. Ditulis oleh seorang pria yang telah meninggalkan pesannya.

3. “Think and Grow Rich” oleh Napoleon Hill. Sebagai seorang pria yang memperhitungkan  hatinya,bukan.

4. “Power of Positive Thinking” oleh Norman Vincent Peale. Sebagian besar pasti salah satu klasik.

5. Psycho-Cybernetics oleh Maxwell Maltz. Menyediakan alasan rasional dan metodologi tentang cara mengubah kebiasaan Anda dan diri Anda sendiri.

6. “How Showmanship Sells oleh Elmer G. Letterman. 1.965 biaya: $ 3,95.

7. Man’s Search for Meaning” oleh Viktor Frankl. Semua orang harus membaca buku ini!

8. “Atlas Shruggedoleh Ayn Rand. Sebuah kisah tentang seorang Amerika di masa depan di mana pikiran terbaik di dunia harus membawa beban masyarakat yang tidak beres.

9. “The Republic oleh Plato. Dasar-dasar argumentasi dan debat.

10. The Pilgrim’s Progress – From This World to That Which is to Come oleh John Bunyan. Ini alegori Kristen ditulis pada 1678. Kontemporer dalam dampak dan kenabian dalam kebijaksanaannya.

Buku modern:

1.. The Magic of Thinking Big by Dr. David Schwartz. Sebuah buku motivasi / berpikir positif klasik.

2. Uncommon Friends”  oleh Jim Newton. Besar wawasan kehidupan dari lima pemimpin yang disebut “Orang-orang yang menemukan karya abad ke-20.”

3. Today Matters oleh John Maxwell.

4. “Courageous Leadership oleh Bill Hybels. Hanya buku terbaik tentang kepemimpinan – bagaimana untuk mencapai itu dan menggunakannya.

5. “The 21 Irrefutable Laws of Leadership” oleh John Maxwell.

6. Wooden on Leadership” oleh John Wooden.

7. “Outliers” oleh Malcolm Gladwell.

8. “Made to Stick oleh Chip Heath dan Dan Heath. Membantu seseorang memahami bagaimana “kebenaran,” apakah atau tidak didukung oleh fakta-fakta, yang dibentuk dan mendapatkan dibawa ke budaya.

9. “You and Your Network” oleh Fred Smith. Praktis buku saran tertulis dari kebijaksanaan agung.

10. “Good to Great” oleh Jim Collins.

 

MANAGING PEOPLE STRATEGY


 

Merancang Strategi Inovasi

Hidup barangkali kini terasa makin nyaman, dan untuk itu kita layak memberikan ucapan terima kasih pada para inovator yang telah mempersembahkan aneka produk inovatif dihadapan kita. Dua decade silam, kita mungkin tak pernah membayangkan betapa kita bisa melayangkan sederet kalimat romantis pada kekasih kita melalui medium SMS. Atau, juga melakukan chatting dengan kawan diseberang samudera melalui fasilitas internet. Karena itu, siapa tahu dua puluh lima tahun lagi kita bisa menikmati mobil terbang, melayang diatas jalanan kota Jakarta sambil menikmati pendaran emas menara Monas?

Ya kini tiap hari rasanya kita senantiasa disuguhi aneka produk yang menawarkan sejumput inovasi demi sebuah kenikmatan hidup. Mulai dari produk kamera digital, internet banking, media televisi diatas screen telpon genggam, hingga produk celana-dalam-sekali-pakaikemudian- dibuang. Hidup memang terus bergerak, dan setiap perusahaan seperti dipacu untuk terus meluncurkan aneka produk baru. Dengan kata lain, tanpa inovasi, sebuah perusahaan hampir pasti akan terpelanting mati dalam sirkuit persaingan bisnis yang kian brutal. Persoalannya kemudian adalah : bagaimana caranya suatu perusahaan bisa menjadi lebih inovatif; bukan hanya dalam aneka produk yang dibuat, namun juga dalam rangkaian proses pengelolaan manajemennya?

Sejumlah penyelidikan menyebut tiga aspek kunci yang layak digenggam dalam perlombaan menjadi sang jawara inovasi. Aspek yang pertama adalah, penciptaan iklim inovasi dalam denyut kehidupan suatu perusahaan. Tentu saja harus segera disebut bahwa penciptaan iklim ini tidak hanya dapat dilakukan melalui aneka slogan atau lips service belaka. Iklim ini hanya bisa mekar melalui sistem pengelolaan manajemen yang demokratis, bergerak cair dalam lintas departemen, dan diusung melalui pola kepemimpinan yang terbuka terhadap beragam ide baru, betapapun radikalnya ide baru itu. Dalam kenyataannnya, pola kepemimpinan yang demokratis bahkan disebut sebagai faktor kunci bagi mekarnya kreativitas diantara para karyawan. Tanpa pola kepemimpinan yang empowering, maka barisan karyawan yang penuh daya kreativitas sekalipun, niscaya akan layu dan tenggelam dalam frustasi lantaran ide-idenya selalu terbentur dengan tembok birokrasi yang mematikan. Aspek yang kedua, adalah adanya visi dan arah yang jelas mengenai strategi perusahaan menghadapi lansekap pasar masa depan. Tanpa strategi yang jelas, acapkali proses inovatif yang telah dimunculkan hanya akan berputar-putar ditempat tanpa mampu diterjemahkan menjadi produk unggul yang menguntungkan dan menang di pasaran. Kisah klasik yang tragis mengenai kehebatan para peneliti di Xerox mungkin layak disebut disini. Pada tahun 70an, para peneliti Xerox inilah yang pertama kali menemukan teknologi mouse, dan juga tampilan windows yang kini menghiasi setiap layar komputer. Namun tragisnya, para petinggi Xerox tidak mampu melihat itu semua sebagai strategi penciptaan produk yang menguntungkan. Pada akhirnya, perusahaan lainnya yang kemudian mengeksploitasi beragam temuan inovatif itu menjadi aneka produk legendaris. Pesannya barangkali jelas : sebuah perusahaan mesti menempatkan segenap proses inovasinya dalam payung strategi yang jelas mengenai masa depan. Tanpa itu, maka proses inovasi yang melelahkan hanya akan berujung pada kegagalan yang tragis. Aspek yang terakhir yang juga layak diperhatikan ketika perusahaan hendak berinovasi adalah kepekaan mengantisipasi kebutuhan masa depan pelanggan. Keberhasilan fenomenal Apple dalam mendesain dan menjual iPod sungguh tak lepas dari kepaiawaian mereka dalam mengendus perubahan gaya hidup pelanggan menuju digital lifestyle. Dan kini, mereka mencoba menduplikasi kesuksesan iPod dengan meluncurkan iPhone, sebuah produk inovatif yang mengundang banyak decak kagum. Kisah sukses Apple ini mengindikasikan bahwa strategi inovasi yang jitu mesti harus selalu ditautkan dengan dinamika kebutuhan pelanggan, atac acap disebut sebagai customer driven innovation strategy.

Proses menjadi perusahaan yang inovatif memang tidaklah mudah. Dibutuhkan energi, nafas yang panjang dan juga kreativitas yang jempolan untuk melaksanakan tiga aspek diatas secara optimal. Namun kini ketika hidup terus bergerak kearah yang makin hipermodern, barangkali pilihannya memang tinggal inovasi atau mati. Mati pelan-pelan dalam kuburan produk-produk usang yang membosankan.

Meracik Ulang Strategi Bisnis

Ditengah arus perubahan lingkungan bisnis yang makin intens, tampaknya setiap perusahaan dituntut untuk memiliki daya adaptasi dan responsi yang makin tinggi. Sebabnya jelas : tanpa kemampuan untuk melakukan self transformation secara  konstan, sebuah perusahaan beresiko untuk tenggelam, dan kemudian terpelanting mati oleh arus gelombang perubahan yang terus berjalan tanpa mengenal letih. Dalam konteks riil, kita acap disuguhi oleh drama tentang proses

transformasi yang dilakoni oleh banyak perusahaan – baik yang berakhir dengan kesuksesan ataupun gagal ditengah jalan. Kita misalnya melihat, bagaimana rakasasa teknologi IBM melakukan proses transformasi untuk menghindarkan dirinya dari kematian yang mengenaskan pada awal tahun 90-an. Seperti kita tahu, saat itu, IBM secara global berada pada ambang kebangkrutan lantaran didera kerugian lebih dari 7 milyar US dollar. Pesaing-pesaing baru yang lebih lincah datang menyergap dan menggerogoti kue bisnis IBM – pertama secara pelan-pelan, namun lama-lama terasa sergapan itu makin membuat IBM limbung – bagai raksasa yang kehilangan oksigen untuk bernafas. Beruntung saat itu petinggi IBM sadar, dan segera melakukan proses transformasi yang cukup radikal : yakni merubah bisnis utamanya dari penyedia hardware seperti mainframe dan desktop menjadi lebih berokus pada jasa konsultasi teknologi. Alasannya, bisnis jasa konsultasi dan bukan lagi bisnis jualan hardware, yang dianggap lebih mewakili masa depan. Tentu saja perubahan drastis ini segera menuntut perubahan pada semua aspek operasi kerja IBM, baik pada cara pengelolaan SDM-nya, proses manajemen pengetahuannya, dan juga bagaimana ia memasarkan produk-produk jasanya.

Kini setelah lebih dari 10 tahun, proses transformasi tersebut sepertinya menunjukkan hasil yang layak diberi tepuk tangan. Saat ini, IBM tetap mampu mengukuhkan dirinya sebagai perusahaan teknologi terbesar didunia dengan jumlah revenue lebih dari 100 milyar US dollar pertahun. Amsal diatas menunjukkan bahwa proses transformasi barangkali memang sebuah kensicayaan yang tak terelakkan. Persoalannya, menjalani proses transformasi perusahaan atau corporate transformation ternyata mesti melewati jalan panjang, terjal nan berliku. Dari sejumlah pengalaman best practices yang bisa dicermati, terdapat sejumlah elemen yang bisa membawa keberhasilan proses transformasi. Yang pertama, tentu saja adalah visi dan terutama strategi masa depan yang jelas, koheren, dan diyakini akan mampu membawa perusahaan ke arah kegemilangan. Keberhasilan transformasi IBM, salah satunya, disebabkan mereka mengawalinya dengan satu visi yang jelas mengenai arah pasar teknologi masa depan, dan bagaimana mereka harus merebutnya. Elemen berikutnya adalah kepemimpinan yang kredibel (konsisten antara visi dengan tindakan) dan juga kapabel (memiliki ketrampilan untuk menginspirasi jajaran manajemen lainnya untuk bergerak menuju arah perubahan yang ingin diraih). Yang tak kalah penting, kepemimpinan yang solid ini mestinya tidak hanya ada pada top manajemen namun juga menyebar merata pada kalangan manajemen madya. Sebab, dalam banyak kasus, proses perubahan yang menyangkut semua segi perusahaan amat membutuhkan kepemimpinan yang tangguh pada level menengahnya.

Manajemen madya inilah yang akan memastikan bahwa visi dan arahan strategi dari top manajemen bisa diartikulasikan kesegenap karyawan – dan pada pundak mereka juga, implementasi rill dari strategi itu dioperasionalkan. Dengan demikian, mereka memiliki peran kritikal dalam memastikan apakah visi perubahan itu bisa berjalan secara konkrit atau cuma tinggal dibayang-bayang fantasi belaka. Visi dan arah strategi perubahan yang jelas; disertai dengan kepemimpinan yang solid baik dari level top maupun mid-manajemen merupakan elemen-elemen inti yang acap mewarnai setiap keberhasilan proses transformasi. Ketiga elemen inilah yang mungkin mesti diperhatikan dalam perjalanan menuju perubahan yang diangankan. Sebuah proses perubahan yang memang harus dilakukan, terutama jika suatu perusahaan ingin hidup – meminjam ungkapan Chairil Anwar – seribu tahun lagi.

Employee Satisfaction or Customer Satisfaction?

Memberikan pelayanan yang memuaskan pelanggan barangkali merupakan pilihan mutlak yang kudu diambil ketika sebuah entitas bisnis hendak melestarikan kejayaannya. Pertanyannya kemudian adalah : langkah strategis apa yang semestinya diambil agar mantra kepuasan pelanggan tak berhenti pada mantra belaka? Dari sejumlah wacana, kita mungkin bisa menyebut beragam item : mulai dari pengembangan visi yang berfokus pada pelanggan; penumbuhan benih-benih inovasi buat menghasilkan high value added products hingga perintisan budaya service excellence, dan juga perampingan proses bisnis untuk mempercepat pelayanan. Lalu, apakah beragam item ini cukup untuk mewujudkan impian tentang satisfied customers? Jawabannya barangkali tidak. Sebab sepertinya ada satu item yang punya peran kritikal namun sialnya, selama ini acap luput dalam perbincangan mengenai pemenuhan kepuasan pelanggan. Item itu berbunyi begini: untuk memuaskan pelanggan maka hal pertama yang harus Anda lakukan adalah memuaskan karyawan. Dengan kata lain, you can not create satisfied customers without satisfied employees. Proposisi ini sejatinya didukung juga oleh serangkaian studi di berbagai belahan dunia. Penelitian yang dilakukan oleh Dana Jones (1996) misalnya; menunjukkan adanya hubungan yang positif antara customer satisfaction (CS) dengan employee satisfaction (ES). Artinya tingkat kepuasan karyawan Anda berbanding lurus dengan tingkat kepuasan pelanggan yang Anda miliki — semakin puas karyawan Anda, maka semakin tinggi juga tingkat kepuasan pelanggan Anda, dan sebaliknya.

Temuan serupa juga dikenali dan dimanfaatkan oleh Sears & Roebuck, sebuah perusahaan retail terkemuka dari USA. Dari survei tahun yang dilakukan, mereka menemukan bahwa rating kepuasan karyawannya amat menentukan tinggi rendahnya rating kepuasan pelanggan mereka, dan pada ujungnya berpengaruh terhadap tingkat profit yang mereka peroleh. Karena itu, pihak top manajemen Sears kemudian meminta setiap store manager-nya untuk peduli dengan kepuasan

karyawannya; sebab faktor ini ternyata amat berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan dan juga tingkat profit yang diperoleh tiap outletnya. Melihat fakta-fakta diatas, lalu apa yang mestinya dilakukan? Jawabannya barangkali jelas. Sejumlah inisiatif untuk memuaskan pelanggan yang selama ini telah diusung ramai-ramai perlu juga dibarengi dengan inisiatif untuk memuaskan karyawan. Ibarat merenovasi rumah, Anda tak mungkin hanya merias dinding-dinding luarnya saja; namun juga musti menciptakan desain interior yang cantik untuk memuaskan para penghuninya. Segenap promosi dan reklame tentang gambar pelanggan yang tersenyum puas hanya akan menjadi sebuah parodi manakala itu tak dibarengi dengan sebuah keseriusan untuk memberikan pelayanan yang sempurna kepada para “pelanggan didalam” – yakni barisan para karyawan. Dalam konteks ini ada sejumlah inisiatif yang layak diusung untuk memuaskan para karyawan; semisal : membangun lingkungan kerja yang kondusif; menawarkan variasi tugas yang challenging; menciptakan career plan yang jelas atau juga menyodorkan paket remunerasi yang atraktif. Bahkan, beberapa perusahaan kelas dunia tak segan mengerahkan segenap energinya untuk benar-benar memberikan “layanan super istimewa” bagi para karyawannnya (lihat tulisan saya berikutnya tentang bagaimana Google memperlakukan para karyawannya bak seorang raja).

Harapannya, sejumlah inisiatif diatas akan dapat menciptakan barisan satisfied employees yang mampu memberikan pelayanan terbaik dan senyum yang tulus bagi para pelanggannya. Dan bukan senyum yang dipaksakan lantaran ada rasa tidak puas yang mengganjal di benaknya. Pendeknya, hanya barisan karyawan yang puas-lah yang benar-benar akan mampu membuat para pelanggan tersenyum dan bersorak riang.

Berapa Persen Waktu yang Dialokasikan CEO

Anda untuk Mengelola SDM?

          The world’s best companies realize that no matter what business they’re in, their real business is building leaders. Ya benar, kalimat penuh makna itulah yang disuarakan oleh para CEO atau Presiden Direktur dari perusahaan-perusahaan kelas dunia. Mereka sejatinya ingin mengatakan, mengembangkan dan mengelola future leaders/managers adalah tugas utama yang harus mereka lakukan – lebih dari tugas-tugas lainnya. Dengan kata lain, tugas pokok seorang CEO pertama-tama bukanlah mengurus bisnis, namun mengurus orang. Pendeknya, tugas pertama yang maha penting bagi setiap CEO yang ingin berhasil adalah ini : develop future leaders/managers.

Dari statement penting diatas, saya lalu teringat ungkapan dari Noel Tichy, pakar manajemen yang menjadi otak dibalik kehebatan program pengembangan kepemimpinan di GE. Noel bilang, ada sebuah cara mudah untuk menguji apakah perusahaan Anda benar-benar serius terhadap upaya pengembangan SDM, atau sekedar lip service. Caranya begini : coba datanglah kepada sekretaris CEO Anda, dan tanyakan apa saja agenda sang bos dalam satu bulan ke depan. Kalau dari puluhan agendanya yang super sibuk itu, tak ada satupun item yang menyangkut mengenai proses pengembangan SDM, then forget it. Lupakan semua blah-blah-blah mengenai strategi pengembangan SDM. Ya, sederet pertanyaan yang sungguh serius lantas perlu segera dikibarkan : dari pengamatan Anda, apakah dalam setahun terakhir bos besar (alias Dirut) Anda pernah meluangkan waktu untuk menjadi trainer dan memberikan sharing session bagi para anak buahnya?

Apakah sang CEO selama ini pernah memberikan coaching one-on-one secara reguler dan sistematis kepada para manajer kunci di perusahaan? Apakah sang CEO selama ini pernah mengalokasikan waktunya untuk ikut wawancara penerimaan trainee yang akan menjadi calon future leaders? Dan apakah sang CEO selama ini selalu terlibat intens dalam penyusunan rencana pengembangan strategis bagi para future managers?

Faktanya, berdasar riset yang dilakukan oleh majalah Fortune, ratarata waktu yang dilalokasikan oleh para CEO perusahaan kelas dunia untuk proses pengembangan SDM adalah 50 % — sebuah angka yang amat signifikan mengingat kesibukan seorang CEO. Dulu, ketika Jack Welch masih menjadi CEO General Electric, ia mengalokasikan 60 % waktunya untuk mengelola manusia. Ia bilang, urusan pengembangan SDM terlalu penting untuk diserahkan pada orang lain. Dengan kata lain, ia ingin mengatakan urusan SDM harus langsung ditangani oleh sang CEO seperti dirinya. Tidak oleh orang lain. Demikianlah saat menjadi CEO GE, Jack Welch – yang langkahnya kini juga diikuti oleh penerusnya, Jeff Immelt – selalu meluangkan waktu untuk mengajar para manajernya di kampus GE Academy yang megah di Crotonvile, USA. Secara periodik ia menghabiskan waktu berjamjam dengan Direktur SDM-nya untuk memelototi dan memantau pengembangan SDM bagi 100 manajer kuncinya. Dan setiap tahun, ia datangi satu per satu seratus orang itu untuk melakukan tatap muka secara langsung dalam sesi coaching secara khusus. Praktek yang persis semacam ini juga dilakukan oleh AG Leafley, CEO dari perusahaan Procter and Gamble. Setiap minggu, Leafle  berdiskusi intensif dengan Chief HR-nya guna memantau secara cermat progres

pengembangan SDM bagi para manajernya.

Filosofi kedua orang itu – yakni Jack Welch dan Leafley – sama. Bagi mereka, tugas utama mereka adalah mengembangkan kapabilitas dari para manajernya. Sebab, dengan barisan para manajer yang kapabel, roda bisnis dengan sendirinya akan berjalan dengan lancar. Dengan kata lain agar perusahaan terus bisa sukses, mereka harus serius mengembangkan mutu orang-orang yang mengemudikan roda bisnis itu. Jadi omong-omong, berapa persen waktu yang dialokasikan bos besar Anda untuk mengurus proses pengembangan SDM? 40 %, 20, 10 atau 0 %? Kalau menurut Anda, masih dibawah 20 %, silakan lakukan hal berikut : simpan tulisan ini, lalu segera kirim melalui email kepada bos besar Anda. Semoga dengan begitu, para bos besar Anda menjadi sadar that no matter what business they’re in, their real business is building leaders……

The Death of HR People?

          Our most important asset is our great people, begitu satu kalimat yang acap kita lihat di laporan tahunan sejumlah besar perusahaan. Sebuah kalimat yang mungkin sering jadi tergelincir menjadi klise, sebab spirit dibalik kalimat itu  ebih kerap tak dijalankan. Dengan kata lain, kalimat itu lebih sering menjadi slogan belaka, yang tidak disertai dengan komitmen pengembangan sumber daya manusia yang kuat. Pada sisi lain, kalimat mutiara itu juga merupakan tantangan bagi para pengelola SDM di setiap perusahaan, atau yang acap dikelompokkan dalam sebuah departemen SDM. Pada kenyataannya, kini makin kencang suara yang mempertanyakan kredibilitas para pengelola SDM dalam mengembangkan mutu para karyawan dan membawa laju perusahaan kedalam bahtera kejayaan. Di sebagian perusahaan, departemen SDM sering masih diidentikkan dengan persoalan administrasi personalia belaka, dan hanya punya peran yang marginal dalam pengendalian arah strategis masa depan perusahaan.

Para pengelola SDM dianggap tidak memahami bahasa bisnis, dan karenanya kurang dianggap sebagai mitra sejajar bagi divisi atau departemen lainnya dalam menggerakan arah perusahaan. Harus diakui, kenyataan diatas merupakan realitas yang banyak terjadi di perusahaan di republik ini. Untuk membalikkan situasi semacam ini, setidaknya terdapat dua langkah kunci pembenahan dalam diri internal para pengelola departemen SDM yang perlu segera diusung dan dilakonkan. Langkah yang pertama adalah ini : bahwa setiap pengelola SDM disetiap perusahaan mesti memahami dinamika industri dan bisnis dimana perusahaannya berada. Mereka mesti setidaknya mengetahui posisi perusahaannya dalam peta persaingan pasar, mesti memahami dinamika pertumbuhan industri dimana perusahaanya berkiprah, dan juga mampu membaca arah perkembangan bisnis masa mendatang.

Dalam kenyatannya, banyak para karyawan di departemen SDM yang gagap ketika ditanya mengenai pertumbuhan bisnis perusahaannya, atau juga tentang konfigurasi persaingan bisnis masa depan. Bahkan mungkin banyak diantara mereka yang tidak tahu total sales dan market share produk-produk perusahaannya. Tentu saja, ini sebuah ironi. Sebab, bagaimana mungkin para pengelola SDM itu akan mampu mencetak future leaders jika arah perkembangan bisnis di industrinya saja tidak paham? Atau, jika mereka tidak memahami tantangan yang dibutuhkan untuk keberhasilan bisnisnya dimasa mendatang? Langkah berikutnya tentu saja adalah membekali diri dengan pemahaman yang solid mengenai berbagai konsep dan praktek pengelolaan SDM yang benar. Para pengelola departemen SDM mesti mampu merumuskan dan merealisasikan strategi pengembangan SDM yang integratif dengan kebutuhan bisnis  perusahaannya. Dalam hal ini, mereka mestinya juga dapat memahami dan mampu mengaplikasikan beragam metode pengembangan SDM dengan tepat sasaran.      Sebab rasanya ganjil jika kita memiliki niatan untuk mendidik orang lain, namun ilmu dan metode yang kita kuasai ternyata tidak kuat. Ini ibarat mau menjadi seorang guru, namun dengan bekal ilmu yang kosong. Jika ini yang terjadi, maka sang murid tidak akan bertambah pandai namun mungkin sebaliknya, sang murid itu justru kian bertambah pandir. Tanpa dibekali dengan ilmu manajemen SDM yang kokoh, bagaimana mungkin para pengelola SDM itu akan mampu memintarkan para karyawan perusahaannya? Dua langkah kunci diataslah yang akan mampu membuat peran para pengelola departemen SDM menjadi lebih strategis dalam mengarahkan masa depan perusahaan. Dengan itu pula, para pengelola SDM akan benar-benar mampu mewujudkan kata-kata “our most important asset is our great people” menjadi sebuah kenyataan yang indah. Sebaliknya tanpa proses transformasi diatas, peran para pengelola SDM akan makin terpinggirkan, dan fenomena the death of HR people bisa menjadi sebuah kenyataan pahit yang terpaksa mesti ditelan.

Are You Happy with Your Life (and Your Job) Now?

Apakah yang tergambar dalam bayangan itu adalah figur Anda sebagai seorang saudagar sukses dengan omzet bisnis ratusan juta per bulan, dengan sebuah apartemen indah di Dharmawangsa Residence? Atau yang muncul adalah gambaran Anda sebagai seorang manajer sukses bergaji 30 juta perbulan, dengan sebuah SUV nongkrong di garasi rumah? Atau yang justru tergambar di layar adalah gambaran Anda sebagai seorang guru mengaji di sebuah surau kecil di kampong halaman Anda, nun jauh disana, di sebuah kampung dimana segenap ambisi materi dan duniawi menjadi lenyap, karena disitu yang ada hanyalah “keheningan, kedamaian dan kebersahajaan”? Saya tak tahu. Sungguh saya tak tahu apa yang dalam imajinasi Anda tentang masa depan hidup yang ingin Anda ukir. Namun apapun pilihan hidup masa depan Anda, barangkali tetap tersisa satu hal yang layak dicatat : pilihan itu sebaiknyalah didasari oleh passion Anda.

Ya, passion. Atau gairah yang membuncah. Atau rajutan tekad yang menghujam di hati. Life is too short my friends, and you know what, setelah itu kita semua akan mati. Sebab itu, mungkin yang tersisa adalah sejumput kesiasian jika sepanjang hidup, kita hanya melakoni pekerjaan yang full of bullshit. Dan bukan menekuni pekerjaan yang menjadi passion kita, tempat dimana kita bisa mereguk secangkir kebahagiaan sejati…… Tempat dimana kita selalu tak sabar menunggu hari esok tiba, karena setiap hari selalu dihiasi oleh “the beauty of meaningful work and life”. Jadi adakah hidup dan pekerjaan yang Anda lakoni sekarang sudah benar-benar menjadi passion Anda? Adakah Anda telah menemukan secercah embun kebahagiaan dalam segenap hidup dan pekerjaan Anda? Lalu, setelah passion, barangkali ada dua elemen kunci yang juga layak di-stabilo : persistensi dan determinasi. Kalaulah Anda sudah menemukan tujuan hidup dan pekerjaan yang menjadi passion Anda, maka kejarlah impian Anda dengan persisten : dengan kegigihan, dengan keuletan dan dengan ketekunan. Kita tahu, banyak orang membentur kisah kegagalan bukan karena mereka bodoh atau tak punya bakat. Bukan itu. Mereka gagal karena menyerah di tengah jalan. Quit. Berhenti dan tak mau meneruskan lagi upayanya dengan gigih. Kita semua pasti pernah mengalami kegagalan.

Namun bukan berarti ini mesti membuat kita berhenti dan menyerah kalah. Orang bijak belajar dari kesalahan dan kegagalan yang mereka lakukan, dan kemudian berproses untuk kembali menemukan jalur pencapaian tujuan hidup mereka. Ditengah tantangan yang terus mengerang dan jalan kehidupan yang terjal penuh tikungan, mereka terus menderapkan kaki : sebab mereka percaya pada akhirnya, cahaya keberhasilan itu pelan-pelan bisa dinyalakan. Mereka terus berjuang dengan persisten. Dengan penuh passion. Setelah passion dan persistensi, maka elemen terakhir yang juga harus dipeluk erat adalah ini : determinasi. Atau komitmen yang menggumpal. Atau dedikasi yang terus mengalir. Atau selalu focus pada satu tujuan akhir yang jelas. Orang yang punya determinasi selalu percaya bahwa they create their own destiny (tentu dengan restu dari Yang Diatas). Mereka selalu percaya bahwa merekalah yang paling bertanggungjawab untuk merajut masa depan dan nasib hidup mereka sendiri. Bukan orang lain. Orang yang memiliki determinasi karenanya, tak pernah mau menyalahkan orang atau pihak lain manakala dihadang oleh segumpal tantangan hidup. Mereka lebih suka selalu menelisik akar masalah dan lalu mencoba mengukir solusi untuk menghadapi tantangan yang menghadang. Mereka juga enggan mengeluh ketika dihantam oleh berderet problem kehidupan dan beban pekerjaan yang kian menggurita. Sebab mereka percaya, mengeluh hanyalah layak untuk para pecundang. Dan sungguh, mereka tak pernah mau disebut sebagai para pecundang.

Law of Attraction : You Can If You THINK You Can

          You can if you think you can. Kalimat sakti yang pernah menjadi judul buku legendaris karangan Norman Vincent Peale ini sepertinya hendak memberikan satu pesan yang jelas : jika Anda senantiasa berpikir positif, selalu merajut “mentalitas bisa” (can do attitude), dan senantiasa membayangkan masa depan dengan gelegak optimisme, maka percayalah, hidup Anda pada akhirnya benar-benar akan basah kuyup dalam nirvana keberhasilan dan kebahagiaan. Dan persis seperti itulah spirit yang dikandung oleh Law of Attraction (LOA) – sebuah aliran keyakinan yang kini tengah digandrungi dimana-mana. Maka simaklah petikan kalimat-kalimat berikut ini. Rahasia besar kehidupan adalah hukum tarik menarik. Hukum tarik menarik mengatakan bahwa kemiripan menarik kemiripan. Ketika Anda membayangkan pikiran-pikiran, maka pikiran-pikiran itu dikirim ke Semesta, dan secara magnetis pikiran akan menarik semua hal yang serupa, dan lalu dikembalikan pada sumbernya, yakni Anda. (dikutip secara bebas dari buku The Secret karangan Rhonda Byrne). Dengan kata lain, jika Anda selalu membayangkan pikiran yang negative – kecewa, gagal, marah, selalu menyalahkan orang lain, frustasi, ragu, merasa selalu kekurangan – maka gelombang pikiran itu akan memantul ke semesta, menarik pikiran-pikiran negatif yang serupa, dan lalu mengirim balik secara powerful kepada sumbernya, yakni Anda. Lingkaran kelam negativisme ini perlahan namun pasti akan membawa kita dalam lorong gelap tak berujung. Dalam lorong gelap itulah, benih-benih spirit optimisme, raungan keyakinan untuk mencengkram keberhasilan, dan daya juang untuk merajut imajinasi positif, menjadi hilang tak berbekas. Hidup yang nyata pada akhirnya akan berujung pada nyanyi bisu keterpurukan. Itulah mengapa sebagian orang lalu memberi saran agar kita menjaga jarak dari lingkungan yang hanya menerbarkan energi kelam negativisme.

Toh sialnya, setiap hari rasanya kita selalu disergap dengan energi negatif ini. Di jalanan tiap pagi kita disergap kemacetan yang melentik kita untuk segera mengeluarkan kemarahan dan umpatan menyalahkan pihak lain. Di kantor, kita acap menatap wajahwajah sayu yang melakoni pekerjaannya dengan semangat yang kian sempoyongan. Di sudut lain kita juga tak jarang menemui sang complainer, yang kerjanya tiap hari hanya mengeluh : mengeluh bosnya tidak adil-lah, mengeluh mengapa karirnya tak naik-naik-lah, atau mengeluh mengapa kopi yang disajikan office boy rasanya terlalu pahit……..

Dan, ketika kita pulang ke rumah, dan sejenak membaca berita di koran serta melihat acara talk show di televisi, duh mengapa isinya selalu sarat dengan negative news dan gambaran pesimisme yang kelam. Pengamat yang satu mengkritik ini, pengamat yang lain menyalahkan itu. Pengamat yang lainnya lagi memberikan gambaran masa depan bangsa yang seolah-olah akan jatuh dalam kegelapan abadi. (Fakta ini membuat teman saya pernah memberi saran pada saya agar BERHENTI total untuk membaca koran dan menonton televisi. Kenapa, tanya saya. Jawabnya lugas : berita dan komentarkomentar kelam yang muncul di televisi dan koran hanya akan membunuh imajinasi dan harapan Anda tentang masa depan yang lebih baik !!).

Begitulah. Ketika segenap partikel udara telah dipenuhi dengan energy negative, dan ketika berderet narasi tentang masa depan yang muram selalu menari dihadapan kita, maka apa yang sesungguhnya mesti kita lakukan? Kita tentu tak boleh membiarkan diri kita larut didalamnya, sebab itu artinya hanya akan membuat kita terpelanting dalam kubangan nasib yang penuh ratapan dan sembilu kepedihan yang tak berujung. “Anda tak dapat menolong dunia dengan berfokus pada hal-hal negatif. Ketika Anda berfokus pada peristiwa-peristiwa negatif,  maka Anda bukan saja menambahnya, namun juga mendatangkan lebih banyak hal negatif ke dalam hidup Anda sendiri,” demikian untuk mengutip kembali ungkapan Rhonda Byrne. Jadi bagaimana dong? Saya akan mencoba mengeksplorasi butiranbutiran jawabannya dalam tulisan seri berikutnya (Anda bisa membacanya di bagian berikut). Untuk sementara, silakan kembali mereguk kopi hangat yang sudah ada di meja Anda. Seruputlah kopi itu pelan-pelan, sambil berbisik dalam hati : life is good….yeah, life is good.

Law of Attraction : Jalan Terjal Menuju Nirvana Kebahagiaan

Dalam tulisan bagian pertama sebelumnya, kita telah membahas mengenai prinsip Law of Attraction (Hukum Tarik Menarik). Ide dasar dari pinsip ini adalah apa yang Anda pikirkan akan menarik pikiranpikiran yang serupa dan kemudian memantulkannya kembali pada Anda. Pikiran yang sedang Anda bayangkan saat ini sedang menciptakan kehidupan masa depan Anda, demikian tulis Rhonda Byrne.  apa yang paling Anda pikirkan atau fokuskan akan muncul sebagai hidup Anda. Pikiran Anda akan menjadi sesuatu. Demikianlah, jika yang mendominasi bayangan dan pikiran kita adalah hal-hal yang negatif – kecewa, gagal, marah, selalu menyalahkan orang lain, frustasi, ragu, merasa selalu kekurangan – maka gelombang pikiran itu akan memantul ke semesta, menarik pikiranpikiran negatif yang serupa, dan lalu mengirim balik kepada Anda. Lingkaran kelam negativisme ini perlahan namun pasti akan membuat kita terpelanting dalam kisah hidup yang penuh kepiluan.

Sebaliknya, jika pikiran kita dipenuhi dengan visualisasi yang sarat dengan energi positif – tentang semangat hidup, tentang keyakinan untuk merengkuh sejumput keberhasilan, tentang kelimpah-ruahan, tentang kegairahan optimisme yang meluap, tentang ucapan syukur yang tak pernah berhenti mengalir – maka jejak kehidupan pasti akanmembawa kita lebur dalam nirvana kebahagiaan yang hakiki. Karena itulah, para pakar motivasi senantiasa menganjurkan kita untuk selalu merawat otak dan pikiran kita agar selalu berada pada ranah yang positif. Visualisasi dan luapan energi yang positif, dengan kata lain, perlu terus digodok dan diinjeksikan kedalam segenap sel saraf otak kita. Sebab dengan itulah, sketsa indah tentang keberhasilan dan kebahagiaan bisa mulai dilukiskan dengan penuh kesempurnaan. Sesungguhnya, ide tentang korelasi antara spirit hidup yang positif dengan level keberhasilan individu pernah dielaborasi secara ekstensif oleh para akademisi jauh sebelum buku Law of  Attraction yang menggemparkan itu terbit. Martin Seligman adalah salah satu tokohnya. Tokoh yang acap disebut sebagai Bapak Psikologi Positif ini, melalui ukunya yang bertajuk Learned Optimism telah memberikan elaborasi yang solid tentang betapa spirit optimisme dan pola piker positif amat berpengaruh terhadap keberhasilan hidup. Pertanyaannya sekarang adalah : bagaimana caranya agar perjalanan hidup kita selalu diselimuti oleh energi positif dan spirit optimisme yang menghentak serta terus mengalir. Salah satu cara yang populer adalah melalui teknik visualisasi positif (saya akan mengulas teknik ini dalam tulisan berikutnya). Cara lain yang praktis mungkin adalah ini : tenggelamkan diri Anda dalam lingkaran pergaulan atau komunitas yang memiliki visi hidup positif. Mungkin kita bisa memulainya dari lingkungan terdekat, keluarga. Siramilah segenap interaksi dalam keluarga kita dengan energi positif, rajutlah komunikasi yang produktif dengan pasangan hidup kita (dan bukan membanjirinya dengan aneka keluhan seperti : Aduh Mama, kenapa lauknya asin banget? Atau : Mama gimana sih, kok celana dalam saya ndak ada yang kering?). Lalu, limpahilah jua anak-anak kita dengan pujian dan apreasiasi (dan bukan dengan rentetan kalimat negatif seperti : kenapa rapormu jelek, kenapa nilai matematika si Andi lebih baik dari kamu, dst).

Lalu, bangun pula persahabatan dengan insan-insan yang selalu mampu  menebarkan nyala kegigihan dalam setiap jejak langkahnya. Tebarkan interaksi dengan mereka yang selalu bisa memekarkan keyakinan untuk merengkuh keberhasilan; dan bukan dengan pribadi yang hanya bisa meletupkan energi negatif. Dan bentangkan sayap pergaulan kita dengan mereka yang selalu melihat masalah sebagai sebuah tantangan yang pasti bisa dituntaskan – dan tidak dengan

orang-orang yang hanya menabur komplain, saling-menyalahkan dan mengeluarkan sembilu keluhan tanpa ujung. Pada sisi lain, mungkin ada baiknya juga jika kita melimpahi hidup dengan bacaan dan pengetahuan yang inspiratif, menyegarkan serta mampu membawa pencerahan.

Bacaan itu bisa kita gali dari buku-buku, majalah atau blog-blog bermutu. Pengetahun yang inspiratif ini barangkali dapat menopang dan membantu kita dalam merajut etos hidup yang dilimpahi oleh energi positif. Pada akhirnya mesti dikatakan bahwa jalan menuju nirvana kebahagiaan sungguh merupakan jalan yang terjal nan berliku. Namun selalu hadapilah jalan yang panjang itu dengan sikap hidup positif, dengan spirit optimisme, dengan keyakinan yang menggumpal, dan dengan limpahan rasa syukur yang mengalir tanpa henti. Juga dengan lantunan doa yang khusyu’ tanpa henti pada Sang Ilahi. Percayalah, seribu malaikat pasti akan selalu mendengar doa yang Anda bisikkan siang dan malam itu……..

Positive Mindset dalam Empat Level Gelombang Otak

Dalam tulisan mengenai Law of Attaction (Hukum Tarik Menarik) — yang telah Anda baca dalam bagian sebelumnya — kita telah membahas mengenai betapa sesungguhnya pola pikir dan rajutan imajinasi kita memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sejarah masa depan hidup kita. Itulah mengapa kaum bijak bestari memberi petuah agar kita bisa selalu melentikkan api optimisme dalam diri kita dan juga mampu merawat pola pikir positif. Positif melihat masa depan kita, positif melihat segenap tantangan yang menghadang, dan positif dalam berpikir serta berimajinasi. Soalnya kemudian adalah : menginjeksikan daya positif ke dalam selsel otak kita ternyata tak semudah membikin indomie rebus. Acap ketika dihadapkan pada tantangan yang membuncah atau kerumitan masalah yang menghadang, pikiran kita langsung goyah dan berpikir : ah, saya memang tidak mampu melakukannya…..saya mungkin tidak bisa meraih impian yang saya cita-citakan…..yah, memang ini suratan nasib saya…….(Duh!).

Jadi bagaimana dong? Apa yang mesti dilakoni agar mentalitas positif dan spirit keyakinan itu tak langsung layu ketika badai tantangan datang menghadang? Apa yang mesti diziarahi agar virus positiv itu terus menancap dalam serat otak kita bahkan ketika lautan masalah terus menggelora, menghantam biduk perjalanan kita? Beruntung, para ahli saraf (neurolog) telah menemukan jawabannya. Dan jawabannya terletak pada empat level gelombang otak kita. Melalui serangkaian eksperimen dan alat ukur yang bernama EEG (Electro EncephaloGram), mereka menemukan ternyata terdapat empat level getaran dalam otak kita. Mari kita simak bersama empat gelombang kesadaran itu. Beta (14 – 100 Hz). Dalam frekuensi ini kita tengah berada pada kondisi aktif terjaga, sadar penuh dan didominasi oleh logika. Inilah kondisi normal yang kita alami sehari-hari ketika sedang terjaga (tidak tidur). Kita berada pada frekuensi ini ketika kita bekerja, berkonsentrasi, berbicara, berpikir tentang masalah yang kita hadapi, dll. Dalam frekuensi ini kerja otak cenderung memantik munculnya rasa cemas, khawatir, stress, dan marah. Gambar gelombang otak kita dalam kondisi beta adalah seperti dibawah ini. Alpha (8 – 13.9 Hz).

Ketika otak kita berada dalam getaran frekuensi ini, kita akan berada pada posisi khusyu’, relaks, meditatif, nyaman dan ikhlas. Dalam frekuensi ini kerja otak mampu menyebabkan kita merasa nyaman, tenang, dan bahagia. Berikut gambar gelombang alpha. Theta (4 – 7.9 Hz). Dalam frekuensi yang rendah ini, seseorang akan berada pada kondisi sangat khusyu’, keheningan yang mendalam, deep-meditation, dan “mampu mendengar” nurani bawah sadar. Inilah kondisi yang mungkin diraih oleh para ulama dan biksu ketika mereka melantunkan doa ditengah keheningan malam pada Sang Ilahi. Berikut gambar gelombang otak kita ketika berada dalam kondisi theta.Delta (0,1 – 3,9 Hz). Frekuensi terendah ini terdeteksi ketika orang tengah tertidur pulas tanpa mimpi. Dalam frekuensi ini otak memproduksi human growth hormone yang baik bagi kesehatan kita.

Bila seseorang tidur dalam keadaan delta yang stabil, kualitas tidurnya sangat tinggi. Meski tertidur hanya sebentar, ia akan bangun dengan tubuh tetap merasa segar. Nah, penyelidikan menunjukkan bahwa proses penumbuhan keyakinan positif dalam pikiran kita akan berlangsung dengan optimal jika otak kita tengah berada pada kondisi Alpha (atau juga kondisi Theta). Dalam frekuensi inilah, kita bisa menginjeksikan energi positif dalam setiap jejak sel saraf kita secara mulus. Apabila kita merajut keyakinan positif dan visualisasi keberhasilan dalam kondisi alpha, maka rajutan itu benar-benar akan menembus alam bawah sadar kita. Pada gilirannya, hal ini akan memberikan pengaruh yang  amat dahsyat pada pola perilaku kita ketika berproses menuju puncak keberhasilan yang diimpikan.

Pertanyaannya sekarang adalah : bagaimana caranya agar kita bisa berada kondisi alpha? Bagi Anda yang muslim, ada satu langkah yang mujarab : sholat tahajud di tengah keheningan malam (Jika Anda beragama Kristen, mungkin medianya adalah dengan melakukan “retreat”). Begitulah, para kaum bijak bestari berkisah, dalam momen-momen kontemplatif ketika bersujud dihadapan Sang Ilahi, selalu ada perasaan keheningan yang menggetarkan, perasaan khusyu’ yang sungguh menghanyutkan. Saya berpikir perasaan ini muncul karena saat itu kondisi otak kita sedang berada pada gelombang alpha. Dan percayalah, dalam momen itu, kita dengan mudah bisa memasukkan energi positif dan spirit keyakinan dalam segenap pikiran kita. Dalam momen inilah, dalam hamparan kepasrahan total pada Sang Pencipta dan rasa syukur yang terus mengalir, kita bisa merajut butir-butir keyakinan positif itu dalam segenap raga kita. Dalam segenap jiwa dan batin kita.

Maka mulai malam ini ditengah kesunyian malam, bentangkanlah sajadah disudut rumah kita, basuhkan air wudhu, dan tegakkan sholat tahajud dengan penuh keikhlasan. Lalu, ditengah keheningan yang menentramkan, lantunkanlah harapan positif dan doa-doa itu dengan penuh keyakinan……Mudah-mudahan kita semua bisa melangkah menuju pintu keberhasilan dan kebahagiaan. Disini dan “Disana”.

Merebut Kesuksesan Melalui Visualisasi Positif

Ketika anda membayangkan sesuatu melalui pikiran, kira-kira apa yang terpancar dalam benak anda : apakah anda membayangkan sebuah pencapaian, apresiasi dan kemenangan atau sebaliknya, kegagalan dan keterpurukan? Sejumlah riset menunjukkan bahwa ternyata visualisasi memberikan pengaruh kuat terhadap kinerja kita. Ketika imajinasi kita selalu dihantam oleh bayangan keterpurukan dan pesimisme, maka jaringan otak kita perlahan-lahan akan mendorong kita untuk benar-benar mengalami keterpurukan.

Sebaliknya, ketika kita selalu membangun bayangan positif tentang diri kita, maka kita sesungguhnya tengah memulai dan memperkuat “cara kerja yang sempurna” di dalam otak kita. Pada gilirannya, jaringan sel dalam otak ini akan mampu mendorong kita untuk juga meraih kesempurnaan dalam kinerja nyata. “The more we practice perfection through mental rehearsals, the stronger the neural pathways will become and the better we will perform when the time  comes”, demikian ujar Kris Cole dalam risalahnya yang berjudul Positive Visualization. Olahragawan dan atlet telah mengkhayal bertahun-tahun untuk menjadi sempurna. Dan pada kenyataanya, satu dari pemain golf dunia, Jack Nicklaus, menempatkan 50 persen kesuksesannya karena ia rajin membangun visualisasi positif. Lalu bagaimana melakukan visualisasi positif yang baik? Berikut langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan:

Pertama adalah, menentukan tujuan yang jelas dan menantang, tujuan yang ingin anda capai. Juga sebaiknya tujuan yang ingin kita raih itu bersifat spesifik. Misal : Anda membayangkan ingin memiliki jaringan toko buku khusus untuk anak-anak.

Kemudian mulailah melakukan visualisasi :

- Relaks. Carilah momen-momen dimana Anda tengah santai. Ini akan membuat otak anda lebih terbuka untuk memulai dan memperkuat “cara kerja yang benar”

- Fokuskan perhatian Anda pada langkah nyata yang mesti dilakukan untuk memulai usaha jaringan toko buku anak-anak itu. Apa saja yang mesti diperlukan, tahapan apa yang mesti dilakukan, bagaimana Anda akan mengelola toko itu, bagaimana Anda melakukan promosi, mengelola karyawan toko, dan membesarkan toko menjadi toko buku pilihan anak-anak.

- Bayangkan tujuan anda sedetail mungkin. Bayangkan segalanya: lokasi persis dimana toko buku itu berada, desain interior toko, kombinasi warna meja dan kursi, tata letak buku, kemudian bayangkan pula keramaian dan keriangan anak-anak yang memenuhi setiap sudut toko Anda.

- Lalu, libatkan emosi anda. Bagaimana rasanya mampu meraih tujuan itu dengan sempurna? Bagaimana rasanya bisa benar-benar memiliki jaringan kios buku anak-anak yang tiap hari ramai dikunjungi pembeli. Menyertakan perasaan dan emosi akan memperkuat sistem “cara kerja yang benar” dalam otak anda. Selanjutnya lakukan hal yang sama berulang-ulang. Untuk mendapat hasil yang optimal, lakukan visualisasi positif setiap kali anda mempunyai waktu luang, sekurangnya sehari sekali, misal ketika Anda akan tidur dan tengah rileks.

Namun segera harus disebutkan bahwa “beautiful dream” atau impian indah itu mesti harus juga diikuti dengan langkah penyusunan strategi dan aksi nyata. Pelan-pelan mesti ditekadkan untuk mulai mengeksekusi strategi yang Anda susun melalui serangkaian aksi nyata yang konkrit dan sistematis. Nah, dalam proses implementasi itu, ita harus tetap terus menerus secara rutin melakukan visualisasi positif.

Melacak Jejak Para Peak Performers

Penelitian mendalam mengenai para pekerja unggul (peak performers) menunjukkan bahwa mereka ternyata memiliki mindset tertentu yang membuat mereka berhasil merengkuh keunggulan kinerja. Lalu, apa jenis mindset yang disandang oleh para peak performers tersebut? Berikut lima pola pikir yang ternyata telah menjadi batu pijakan bagi para perajut kesempurnaan prestasi.

Peak performers have positive thinking Orang-orang yang berkinerja unggul ternyata selalu memandang dirinya dengan kacamata yang amat positif. Mereka memiliki selfesteem yang tinggi, dan selalu mengharapkan yang terbaik dari dalam dirinya. Itulah sebabnya para pekerja tangguh adalah pribadi yang selalu memiliki pandangan-pandangan positif dan juga sikap-sikap positif. Mereka  dalah orang-orang penuh optimisme yang melihat kekeliruan sebagai sebuah peluang  dan masalah sebagai pelajaran Berharga. Mereka mempunyai keyakinan bahwa mereka pasti akan berhasil; dan secara proaktif membuat beragam sasaran yang menantang.

Peak performers have high standards

Para peak performers ternyata lebih cenderung suka bergaul dengan sesama peak performers. Mengapa? Jawabannya karena mereka juga mempunyai ekspektasi yang tinggi terhadap orang-orang disekitar mereka — orang-orang yg bekerja dengannya. Ketika kita mempunyai standard yang tinggi, kita akan menetapkan sasaran yang tinggi dan bekerja keras untuk mencapainya. Kita mengharapkan yang terbaik dari diri kita, dan juga dari rekan kerja kita. Oleh karena mereka mempunyai standard yang tinggi, para pekerja tangguh terus menerus mengejar yang terbaik — terhadap apa yang mereka kerjakan, terhadap system yang bekerja dengannya — terhadap semua yang ada di sekitar mereka. Mereka secara terus menerus bertanya pada diri mereka sendiri tentang satu pertanyaan kunci: Bagaimana caranya agar saya lebih baik

Peak performers take responsibility

Para pekerja tangguh menetapkan tujuan dan bekerja keras untuk mencapainya. Seorang pekerja tangguh tidak akan pernah mau bergantung pada nasib dan keberuntungan untuk mencapai sebuah tujuan. Mereka tahu bahwa mereka harus bertindak, dan paham jenis tindakan apa yang perlu dilakukan untuk mencapai sasaran yang telah dibentangkan. Daripada duduk tenang menunggu bintang jatuh  dari langit, berharap kejaiban akan datang, seorang pekerja tangguh selalu bekerja keras untuk meracik dan menentukan masa depannya sendiri.

Peak performers stay focused on their goals

Para peak performers selalu fokus pada sasaran yang telah ditetapkan,  keteguhan hati, persistensi dan ketekunan lalu terus menerus dapat digelarkan demi terengkuhnya sebuah sasaran final. Mereka tidak pernah memberikan ruang bagi munculnya keraguan yang membuat mereka mesti mandek ditengah jalan. Mereka tidak pernah mau menyerah. Mereka terus fokus, terus melecutkan segenap energi dan potensi, dan terus berjibaku hingga titik final dapat dijejak dengan penuh keberhasilan.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 477 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: