Posts from the ‘RESENSI BUKU’ Category

Penilaian Kinerja


bussines-people-vectorA. Pengertian Evaluasi/Penilaian kinerja
Evaluasi kinerja atau penilaian prestasi karyawan yang dikemukakan Leon C. Menggison (1981:310) dalam Mangkunegara (2000:69) adalah sebagai berikut: ”penilaian prestasi kerja (Performance Appraisal) adalah suatu proses yang digunakan pimpinan untuk menentukkan apakah seorang karyawan melakukan pekerjaannya sesuai dengan tugas dan tanggng jawabnya”.

Selanjutnya Andrew E. Sikula (1981:2005) yang dikutip oleh Mangkunegara (2000:69) mengemukakan bahwa ”penilaian pegawai merupakan evaluasi yang sistematis dari pekerjaan pegawai dan potensi yang dapat dikembangkan. Penilaian dalam proses penafsiran atau penentuan nilai, kualitas atau status dari beberapa obyek orang ataupun sesuatu (barang)”.
Selanjutnya Menurut Siswanto (2001:35) penilaian kinerja adalah: ” suatu kegiatan yang dilakukan oleh Manajemen/penyelia penilai untuk menilai kinerja tenaga kerja dengan cara membandingkan kinerja atas kinerja dengan uraian / deskripsi pekerjaan dalam suatu periode tertentu biasanya setiap akhir tahun.”

Anderson dan Clancy (1991) sendiri mendefinisikan pengukuran kinerja sebagai: “Feedback from the accountant to management that provides information about how well the actions represent the plans; it also identifies where managers may need to make corrections or adjustments in future planning andcontrolling activities”

Sedangkan Anthony, Banker, Kaplan, dan Young (1997) mendefinisikan pengukuran kinerja sebagai: “the activity of measuring the performance of an activity or the value chain”.
Dari kedua definisi terakhir Mangkunegara (2005:47) menyimpulkan bahwa pengukuran atau penilaian kinerja adalah tindakan pengukuran yang dilakukan terhadap berbagai aktivitas dalam rantai nilai yang ada pada peruisahaan. Hasil pengukuran tersebut digunakan sebagai umpan balik yang memberikan informasi tentang prestasi, pelaksanaan suatu rencana dan apa yang diperlukan perusahaan dalam penyesuaian-penyesuaian dan pengendalian.

Dari beberapa pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa evaluasi kinerja adalah penilaian yang dilakukan secara sistematis untuk mengetahui hasil pekerjaan karyawan dan kinerja organisasi. Disamping itu, juga untuk menentukan kebutuhan pelatihan kerja secara tepat, memberikan tanggung jawab yang sesuai kepada karyawan sehingga dapat melaksanakan pekerjaan yang lebih baik di masa mendatang dan sebagai dasar untuk menentukan kebijakan dalam hal promosi jabatan atau penentuan imbalan.

B. Tujuan Penilaian/Evaluasi Kinerja
Tujuan evaluasi kinerja adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerja organisasi melalui peningkatan kinerja dari SDM organisasi. Secara lebih spesifik, tujuan dari evaluasi kinerja sebagaimana dikemukakan Sunyoto (1999:1) yang dikutip oleh Mangkunegara (2005:10) adalah:

  1. Meningkatkan Saling pengertian antara karyawan tentang persyaratan kinerja.
    Mencatat dan mengakui hasil kerja seorang karyawan, sehingga mereka termotivasi untuk berbuat yang lebih baik, atau sekurang-kurangnya berprestasi sama dengan prestasi yang terdahulu.
  2. Memberikan peluang kepada karyawan untuk mendiskusikan keinginan dan aspirasinya dan meningkatkan kepedulian terhadap karier atau pekerjaan yang di embannya sekarang.
  3. Mendefinisikan atau merumuskan kembali sasaran masa depan, sehingga karyawan termotivasi untuk berprestasi sesuai dengan potensinya.
  4. Memeriksa rencana pelaksanaan dan pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan pelatihan, khusus rencana diklat, dan kemudian menyetujui rencana itu jika tidak ada hal-hal yang perlu diubah.

Kegiatan penilaian kinerja sendiri dimaksudkan untuk mengukur kinerja masing-masing tenaga kerja dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas kerja, sehingga dapat diambil tindakan yang efektif semisal pembinaan berkelanjutan maupun tindakan koreksi atau perbaikan atas pekerjaan yang dirasa kurang sesuai dengan deskripsi pekerjaan. Penilaian kinerja terhadap tenaga kerja biasanya dilakukan oleh pihak manajemen atau pegawai yang berwenang untuk memberikan penilaian terhadap tenaga kerja yang bersangkutan dan biasanya merupakan atasan langsung secara hierarkis atau juga bisa dari pihak lain yang diberikan wewenang atau ditunjuk langsung untuk memberikan penilaian. Hasil penilaian kinerja tersebut disampaikan kepada pihak manajemen tenaga kerja untuk mendapatkan kajian dalam rangka keperluan selanjutnya, baik yang berhubungan dengan pribadi tenaga kerja yang bersangkutan maupun yang berhubungan dengan perusahaan.

Dalam melakukan penilaian kinerja terhadap seorang tenaga kerja, pihak yang berwenang dalam memberikan penilaian seringkali menghadapi dua alternatif pilihan yang harus diambil: pertama, dengan cara memberikan penilaian kinerja berdasarkan deskripsi pekerjaan yang telah ditetapkan sebelumnya; kedua, dengan cara menilai kinerja berdasarkan harapan-harapan pribadinya mengenai pekerjaan tersebut. Kedua alternatif diatas seringkali membingungkan pihak yang berwenang dalam memberikan penilaian karena besarnya kesenjangan yang ada diantara kedua alternatif tersebut sehingga besar kemungkinan hanya satu pilihan alternatif yang bisa dipergunakan oleh pihak yang berwenang dalam melakukan penilaian

Penentuan pilihan yang sederhana adalah menilai kinerja yang dihasilkan tenaga kerja berdasarkan deskripsi pekerjaan yang telah ditetapkan pada saat melaksanakan kegiatan analisis pekerjaan. Meskipun kenyataannya, cara ini jarang diperoleh kepastian antara pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh seorang tenaga kerja dengan deskripsi pekerjaan yang telah ditetapkan. Karena seringkali deskripsi pekerjaan yang etrtulis dalam perusahaan kurang mencerminkan karakteristik seluruh persoalan yang ada.

Kebiasaan yang sering dialami tenaga kerja adalah meskipun penilaian kinerja telah selesai dilakukan oleh pihak yang berwenang dalam melakukan penilaian, tenaga kerja yang bersangkutan tetap kurang mengetahui seberapa jauh mereka telah memenuhi apa yang mereka harapkan. Seluruh proses tersebut (penilaian kinerja) analisis dan perencanaan diliputi oleh kondisi yang tidak realistis semisal permaian, improvisasi, dan sebagainya. Jalan yang lebih berat bagi pihak yang berwenang dalam melakukan penilaian adalah menentukan hal-hal yang sebenarnya diharapkan tenaga kerja dalam pekerjaan saat itu.

Cara menghindarkan hal tersebut biasa dilakukan manajemen adalah dengan cara menanyakan pada masing-masing tenaga kerja untuk merumuskan pekerjaanya. Meskipun cara ini sebenarnya agak bertentangan dengan literatur ketenaga kerjaan yang ada. Dengan alasan para tenaga kerja cenderung merumuskan pekerjaan mereka dalam arti apa yang telah mereka kerjakan, bukannya apa yang diperlukan oleh perusahaan. Hal ini bukan berarti tenaga kerja tidak memiliki hak suara dalam merumuskan deskripsi pekerjaan mereka. Mereka juga membantu merumuskan pekerjaan secara konstruktif, karena kesalahan bukan karena tenaga kerja tidak diminta untuk membantu merumuskan pekerjaan, tetapi karena seluruh beban pekerjaan dilimpahkan diatas pundak mereka.

C. Tujuan dan Manfaat Penilaian Kinerja
Mani (2002) dalam penelitiannya menyatakan bahwa penilaian kinerja penting dalam rangka pengembangan karyawan yang berkinerja tinggi maupun rendah. Penilaian kinerja dapat menjadi sumber informasi bagi karyawan maupun organisasi dalam rangka mengembangkan kinerja. Ghorpade dan Chen (1995) menyatakan ada 3 alasan yang membuat fungsi penilaian kinerja begitu penting kedudukannya dalam organisasi.

Pertama, karena fungsi penilaian kinerja merupakan sesuatu yang inherent dan tak terelakkan dalam setiap jenis organisasi. Pada kondisi ini, (1) organisasi mengetahui prestasi para pekerjanya melalui penilaian kinerja yang dilakukannya, (2) Penilaian diperlukan untuk menghitung kontribusi masing-masing individu terhadap kemajuan organisasi, dan (3) Penilaian kinerja formal dapat melindungi organisasi dari tindakan-tindakan negatif para anggota organisasi.

Kedua, Fungsi penilaian kinerja merupakan kegiatan yang penuh dengan konsekuensi-konsekuensi, baik terhadap individu-individu dalam organisasi maupun bagi organisasi itu sendiri. Dari perspektif organisasi, kelemahan-kelemahan sistem dan kesalahan-kesalahan praktik penilaian kinerja akan berakibat terhadap ketidak-efektifan pelaksanaan fingsi-fungsi SDM yang lainnya, seperti fungsi kompensasi, fungsi pelatihan dan pengembangan dan sebagainya.

Ketiga, kegiatan penilaian kinerja merupakan suatu kegiatan yang menghadapkan penilai pada kondisi yang mengharuskannya untuk mendapatkan hasil penilaian yang bersih, akurat dan peringkat yang berdasarkan pada jasa individual. Pada titik ini, fungsi penilaian kinerja bersama-sama dengan variabel lainnya, menentukan tingkat pencapaian kinerja organisasi.
George dan Jones (2002) menyatakan manfaat penilaian kinerja adalah untuk penyesuaian kompensasi, keputusan penempatan dan pengembangan karir dan memberikan kesempatan kerja yang adil, sehingga karyawan dapat memperbaiki kinerjanya. Hal ini akan berdampak pada perbaikan perencanaan dan pengembangan organisasi untuk menghadapi tantangan masa depan.

Pentingnya penilaian unjuk kerja atau penilaian kinerja menurut Hariandja (2007) adalah:

  1. Penilaian unjuk kerja memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengambil tindakan-tindakan perbaikan untuk meningkatkan kinerja melalui feedback yang diberikan oleh organisasi
  2. Penyesuaian gaji, yaitu penilaian kinerja dapat dipakai sebagai informasi dalam menentukan kompensasi secara layak sehingga dapat memotivasi pegawai.
  3. Keputusan untuk penempatan, yaitu dapat dilakukannya penempatan sesuai dengan keahliannya.
  4. Pelatihan dan pengembangan, yaitu melalui penilaian akan diketahui kelamahan-kelemahan dari pegawai sehingga dapat ditentukan program pelatihan dan pengembangan yang lebih efektif.
  5. Perencanaan karier, yaitu organisasi dapat memberikan bantuan perencanaan karir bagi pegawai dan menyelaraskannya dengan kepentingan organisasi.
  6. Mengidentifikasi kelemahan-kelemahan dalam proses penempatan, yaitu unjuk kerja yang tidak baik menunjukkan adanya kelemahan dalam penempatan sehingga dapat dilakukan tindakan perbaikan.
  7. Mengidentifikasi adanya kekurangan dalam desain pekerjaan, yaitu kekurangan kinerja akan menunjukkan adanya kekurangan dalam perancangan pekerjaan.
  8. Meningkatkan adanya perlakuan yang sama terhadap semua pegawai, yaitu dengan dilakukannya penilaian yang obyektif.
  9. Membantu pegawai mengatasi masalah eksternal, yaitu dengan penilaian unjuk kerja, atasan akan mengetahui apa yang menyebebkan terjadinya unjuk kerja yang jelek, sehingga atasn dapat membantu mengatasinya.
  10. Umpan balik pada pelaksanaan fungsi manajemen sumber daya manusia, yaitu dengan diketahuinya unjuk kerja pegawai secara keseluruhan dapat menjadi informasi sejauh mana fungsi sumber daya manusia berjalan baik atau buruk.

Penilaian kinerja menurut Werther dan Davis (1996) mempunyai beberapa tujuan dan manfaat bagi organisasi dan pegawai yang dinilai, yaitu:

  1. Performance Improvement. Yaitu memungkinkan pegawai dan manajer untuk mengambil tindakan yang berhubungan dengan peningkatan kinerjaan
  2. Compensation adjustment. Membantu para pengambil keputusan untuk menentukan siapa saja yang berhak menerima kenaikan gaji atau sebaliknya.
  3. Placement decision. Menentukan promosi, transfer, dan demotion.
  4. Training and development needs mengevaluasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan bagi pegawai agar kinerja mereka lebih optimal.
  5. Carrer planning and development. Memandu untuk menentukan jenis karir dan potensi karir yang dapat dicapai.
  6. Staffing process deficiencies. Mempengaruhi prosedur perekrutan pegawai.
  7. Informational inaccuracies and job-design errors. Membantu menjelaskan apa saja kesalahan yang telah terjadi dalam manajemen sumber daya manusia terutama di bidang informasi job-analysis, job-design, dan sistem informasi manajemen sumber daya manusia.
  8. Equal employment opportunity. Menunjukkan bahwa placement decision tidak diskriminatif
  9. External challenges. Kadang-kadang kinerja pegawai dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti keluarga, keuangan pribadi, kesehatan, dan lain-lainnya. Biasanya faktor ini tidak terlalu kelihatan, namun dengan melakukan penilaian kinerja, faktor-faktor eksternal ini akan kelihatan sehingga membantu departemen sumber daya manusia untuk memberikan bantuan bagi peningkatan kinerja pegawai.
  10. Feedback. Memberikan umpan balik bagi urusan kepegawaian maupun bagi pegawai itu sendiri.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dan manfaat penilaian kinerja adalah sebagai sumber informasi bagi penentuan kebijakan strategi SDM perusahaan di masa depan, sebagai suatu alat evaluasi kinerja serta sebagai alat untuk memetakan potensi dari pegawai perusahaan.

Tindakan yang Tepat dan Kepemimpinan Kewirausahaan.


Semakin sedikit kita melakukan sesuatu, semakin kita tidak menyukai untuk berupaya melakukannya, bahkan apabila apa yang kita harus lakukan tersebut itu hal yang menyenangkan. Saya tahu bahwa sekalipun saya menikmati menulis, setiap saat saya mengambil istirahat panjang, lebih sulit untuk memulainya kembali.

Lebih mudah untuk tetap sibuk dalam kebingungan yang bagaimanapun juga telah didedikasikan untuk menulis. Namun demikian, ketika terlibat secara penuh dalam suatu pro¬yek yang membutuhkan perhatian teratur, saya tidak suka mengalami gangguan apa pun walau itu menyenangkan atau penting. Prinsip bekerja dengan baik ketika dipraktikkan secara teratur dan sungguh-sungguh me¬ngalahkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan yang baik. Mem— praktikkan prinsip saya yang berguna tentang menulis sebagai suatu tujuan yang sesungguhnya, sebagai contoh, mengalahkan kebiasaan buruk berupa penundaan dengan kebiasaan baik yaitu menindaklanjuti pekerjaan hingga selesai.

Tujuan jangka panjang saya adalah untuk memiliki sebuah Harley-Davidson. Setelah mengalami suatu kecelakaan motor yang sangat serius sekitar tiga puluh tahun yang lalu, Anda dapat membayangkan bahwa tujuan ini tidak ada dalam daftar prioritas saya. Daripada melupakan semuanya, saya mengubahnya dengan berkehendak untuk memilikinya hanya apabila saya tinggal di suatu tempat yang hangat dan kering seperti di Cote d’Azur. Rasionalisasi semacam ini mungkin menghindarkan saya dan perasaan buruk karena tidak mencapai tujuan. Beberapa tahun kemudian, ketika saya mempertimbangkan untuk pindah ke Lembah Silikon Eropa Saya merefleksikan kembali tujuan lama saya. Rasionalisasinya kemudian, apakah saya harus mengalami menopause laki-laki! Mengendarai sebuah sepeda motor 1350cc adalah sesuatu yang gila dan pasti ada cara lain untuk mengekspresikan kemudaan saya. Tidak tahukah saya bahwa pada ‘kelompok umur’ saya, adalah suatu hal yang sangat benisiko untuk melakukan hal tersebut? Untungnya, keluarga saya membenikan dukungan karena mereka tahu saya tidak akan berbuat bodoh untuk sekadar naik motor dan pergi. Prinsip tanggung jawab berarti bahwa pertama-tama kita harus bertanggung jawab terhadap din kita sendini. Jika saya telah memilih untuk memenuhi suatu tujuan, saya haruslah mempelajari prinsip-prinsipnya dan berlatih, berlatih, berlatih.

Ketika Anda tahu apa yang Anda inginkan, Anda akan senantiasa ter-tank untuk memenuhinya. Sebelum pindah, saya menemukan di Internet bahwa terdapat sebuah Akademi khusus Harley Davidson tidak jauh dan tempat saya tinggal. Saya menghubungi mereka dan menjelaskan bahwa sudah lama sekali saya tidak pernah mengendarai motor. Layanan dan perhatian yang dibenikan sungguh sangat baik, dan pelatih saya, seorang mantan polisi pelatih sepeda motor dengan pengalaman selama 20 tahun, mengajar saya dengan penuh keyakinan. Latihan intensif perorangan ini dimulai dengan mempelajani semua prinsip. Kemudian, setelah mema¬hami apa saja yang terlibat, praktik prinsip-prinsip tersebut menyusul. Dimulai dengan sepeda motor kecil di area latihan saya telah mampu untuk menguasai pninsip-pninsip, dan meningkat ke peningkat Heritage Classic Springer, model 1350cc yang sebenarnya yang selama beberapa minggu telah menjadi screensaver saya untuk membantu visualisasi dan tujuan saya.

Pada akhir kursus instruktur saya mengingatkan untuk tidak pernah berhenti berlatih. Pada hari saya mengambil Harley saya, model yang sama dengan yang saya gunakan pada saat berlatih, saya sangat gugup. Semakin Anda menjadi tua, Anda menjadi lebih sadar akan ke¬rentanan Anda. Dan sungguh suatu hal yang tidak membantu bahwa di dekat perbatasan Italia di mana saya mengambil motor tersebut, setiap orang menganggap dirinya sebagai kembaran Michael Schumacher na¬mun tanpa pengetahuan akan pninsip-pninsip berkendara.

Dengan membawa keluar motor saya setiap hari untuk latihan, keper-cayaan diri saya mulai terbangun. Pada suatu titik yang membahayakan dijalanan, konsentrasi membuat saya bahkan seperti dapat mendengar di telinga saya suara instruktur membenikan saran, membenikan dukungan maupun memuji tindakan saya. Sening kali kita berkendara untuk beker¬ja atau pulang ke rumah, dan karena kita telah diserap oleh apa yang kita pikirkan, radio atau yang lebih umum pada masa sekarang, panggilan tele-pon, kita tiba di tempat tujuan hampir-hampir tanpa menyadari per¬jalanan kita. Ini hampir seolah-olah kita berkendara dengan sistem ken¬dali otomatis (auto-pilot). Mayoritas penyebab kecelakaan yang terjadi dapat dirunut kembali adalah kurangnya konsentrasi atau kewaspadaan, dan sering kali kita belajar lebih waspada karena suatu kecelakaan. Saya sepenuhnya merasa yakin bahwa jika saya telah cukup banyak melatih prinsip-prinsip yang saya telah pelajani kemudian, kecelakaan yang saya alami bertahun—tahun lalu tersebut akan dapat dihindari. Kapan pun sesuatu menjadi penting bagi kita, kita seharusnya lebih waspada, namun ini jarang terjadi. Terlalu sering kita terlalu bersikap buru-buru dan sibuk dalam bisnis, sehingga tidak memiliki waktu untuk melatih pninsip-pninsip yang kita tahu merupakan sesuatu yang masuk akal dan membawa keberhasilan. Berjanji suatu hari nanti kita akan meluangkan waktu tidaklah cukup. Dunia kewirausahaan dapat diumpa¬makan seperti mengendarai sesuatu yang kita tidak terbiasa di dalam suatu lingkungan yang tiba-tiba tampak lebih berbahaya danipada yang kita perkirakan pada awalnya. Kebiasaan kita adalah untuk menanik din kepada kenyamanan di dalam kepompong, sesuatu yang kita percayai lebih aman, di mana kita dapat bersantai sejenak tanpa perlu berkonsentrasi, dan mendapatkan sesuatu tanpa tenlalu memildrkan bagaimana kita melakukannya. Kebiasaan semacam ini harus digantikan dengan memahami pninsip-pninsip yang akan memastikan bahwa kita dapat mencapai tujuan kita dan berlatih dengan disiplin sampai kita bisa melakukannya.
ORANG-ORANG (People) yang Tepat

‘Orang-orang membuat perubahan’ telah menjadi slogan dan banyak konferensi organisasi yang saya hadiri, namun itu menjadi terlalu jelas, bukan? Tak ada yang lebih bertenaga daripada suatu ide yang telah tiba waktunya, namun tanpa diterapkan, ide tersebut menjadi tidak berharga.

Perulangan yang umum dan winausahawan yang berhasil adalah: ‘hanya jika saya dapat menemukan seseorang seperti saya.’ Pemimpin konponasi mengalami kepedihan yang mendalam untuk menemukan orang yang tepat untuk menggantikan dirinya. Politisi gemar melingkupi diri mereka dengan onang-orang yang tepat. Mereka semua ingin menggandakan dirinya karena menemukan orang yang tepat mu sungguh mendekati mus¬tahil. Namun demikian ini bisa dilakukan, namun kegiatan menemukan mereka, kemudian mengembangkan mereka, kemudian mempertahankan meneka karena mereka ingin untuk dipertahankan, membutuhkan me¬tode yang pnaktis namun tidak konvensional.

Hakikat dan petualangannya menuntut Sir Ernest Shacldeton meneknut hanya orang-orang yang tepat. Fakta bahwa dia dan 27 orang-orangnya bertahan hidup terdampar 1.200 mil dan peradaban di daerah buangan yang membeku di Antantika selama dua tahun, 1914 sampai dengan 1916, dan meneka mengadakan perjalanan sejauh 800 mil untuk menye¬lamatkan diri dan keretakan es dengan peralatan yang tidak lebih canggih dan perahu dayung. Mereka tiba dengan kondisi kesehatan dan kejiwaan yang baik, mengkonfirmasikan bahwa metode rekrutmen yang dilakukan¬nya sungguh benhasil. Kriterianya menempatkan karakter tersebut untuk mengawalinya, bukan sekadar tertarik dengan status menjadi petu-alang. Mereka harus saling cocok satu dengan yang lain dan loyal; mereka harus bersikap optimistik dan memiliki selera humor, dan mereka harus¬lah seorang pekerja keras dan benar-benar menginginkan pekerjaan ter¬sebut. Karakter dan watak tidaklah ditemukan dalam resume karier atau di dalam formulir aplikasi yang padat. Pertanyaan mengenai kompetensi dan pengalaman tidak akan dapat memastikan apakah seseorang berbagi visi Anda. Memeriksa referensi tidak akan memastikan loyalitas, kesesuaian dan optimisme. Wawancara tradisional tidak akan memberikan penuntun sebagaimana keinginan kuat untuk posisi tersebut atau seberapa keras Se-seorang akan bekerja. Ilmu pengetahuan satu-satunya dalam memilih orang adalah kimia. Ini benar untuk setiap hubungan, namun khususnya pada kewirausahaan, karena setiap orang memiliki kemauan untuk bekerja, mengambil risiko, membentuk, mengimplementasikan, mendo¬rong, dan menindaklanjuti bersama. Anda harus menyukai orang-orang yang akan bekerja bersama Anda. Semakin Anda mengenal seseorang, semakin mungkin mereka menjadi lebih balk.. Namun realitasnya sung¬guh berbeda. Pemimpmn wirausaha seharusnya hanya merekrut orang-¬orang yang memiliki chemistry yang cocok dengan mereka.

Karena bersikap obyektif akan berakibat pada menemukan orang yang salah, Anda harus bersikap subjektif. Kita akan selalu peka secara intuitif terhadap orang lain; sepenti halnya terhadap sifat dan kemampuan mere¬ka, namun kepekaan semacam ini sering kali tidak terdeteksi dalam pro¬ses seleksi yang formal. Dalam melakukan rekrutmen krunya, Shackleton mula-mula memastikan bahwa dia menemukan orang yang tepat untuk membantunya merekrut.

Dengan mengambil waktu untuk menjelaskan secana tepat kualitas semacam apa yang dibutuhkan, letnannya kemudian akan dapat mengidentifikasi dan memilih dan natusan aplikasi mereka yang dia tahu Shacldeton berkenan untuk mewawancara. Oleh karena itu, Shackleton tabu bahwa kompetensi dan pengalaman yang dibutuhkannya telah ada. Ini adalah suatu hal yang baik karena pertanyaan yang akan di-ajukannya tidaklah terkait dengan hal-hal semacam itu. Dia akan mencani tanda-tanda antusiasme dan kemampuannya sebagai anggota tim. ‘Dapat-kah Anda bernyanyi?’ dia akan bertanya, ‘Menjaga semangat tetap tinggi merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam bertahan hidup.’

Orang akan menjadi lebih baik dengan mengenal mereka lebih
baik, namun ini jarang terjadi. Pemimpin wirausaha haruslah hanya
merekrut orang-orang yang memiliki chemistry
yang cocok dengan mereka

Secara penting, Shackleton melihat hasrat sebenarnya dan para calon yang direkrutnya. Sebagai contoh, setelah mengirimkan tiga telegram untuk ketiga calon terpilih untuk wawancara akbar di keesokan harinya, ia menerima satu balasan meminta hari lain yang lebih cocok, dan satu lagi mengajukan jaminan untuk pekerjaan mu sebelum melakukan perjalanan yang panjang. Tidak ada jawaban dan yang ketiga, ia beranjak meninggal-kan kantornya saat sebuah pesan berantakan datang menanggapi tele-gramnya. Walaupun ia sedang dalam perjalanan sejauh 250 mil, telegram itu disampaikan ke tempatnya menginap. Ia segera benangkat ke London naik kereta apa pun yang ia dapat. Shacldeton langsung mempekerjakan-nya saat itu juga karena komitmennya yang jelas.

Mengidentifikasi dan Membina

Akan cukup membantu untuk menerima bahwa dalam mengidentifikasi orang yang tepat terdapat tiga kategori yang dapat digunakan untuk me-ngelompokkan mereka. Apakah mereka orang yang bekerja melawan Anda, untuk Anda, atau dengan Anda. Demi kejelasan, jika orang bekerja melawan Anda, maka kemudian mereka sebaiknya tidak bekerja untuk Anda. Hanya ada satu pilihan yaitu menyingkirkan mereka. Sering terjadi klien tidak menyingkirkan koleganya dalam tindak nasionalisasi sebelum benar-benar terpaksa, yaitu setelah masalahnya menjadi terlalu besan dan organisasinya demikian menderita. Tanpa melihat situasinya, Anda akan tahu ketika orang lain bekerja tidak sesuai dengan keinginan Anda dan saya tidak bicara tentang politik atau pengumpulan nilai. Ketika perubahan diusulkan, contohnya, muncul karena dalam agenda tensem¬bunyi tendapat penbedaan antara kritik membangun dan taktik gerilya. Orang-orang jenis ‘bekerja melawan’ harus pergi.

Orang-orang jenis ‘bekerja untuk’ menerima apa yang harus mereka lakukan namun tidak akan memberikan tanda pada Anda bila terjadi kesulitan, apalagi jika mereka merasa tidak senang. Meneka akan mem-biarkan semua orang lain tahu dan selalu menyediakan telinga bagi mere¬ka yang juga tidak senang. Mereka memiliki suatu bentuk kesetiaan walau sering kali mereka sendiri tidak yakin untuk apa atau untuk siapa, yang jelas mereka masih memiliki peran fungsional dalam suatu organisasi. Me¬neka hampir tidak pernah mengatakan apa pun tentang masalah-masalah yang ada kanena mereka tidak suka terlibat, mereka hanya mau melakukan apa yang harus mereka kerjakan. Orang-orang jenis ‘bekerja dengan’ melakukan apa yang harus mereka kerjakan karena mereka ingin, dan karena mereka memahami mengapa hal itu penting.

Dengan memahami misi organisasi mereka merasa berke¬wajiban membantu pencapaian misi tersebut. Orang-orang yang bekerja dalam sebuah kepemimpinan kewirausahaan (entrepreneurial) harus dan jenis ‘bekenja dengan’. Mereka akan benbagi berbagai pemikiran dan ide kemudian menanganinya dengan efektif. Memperlakukan para ‘pekerja untuk’ seperti ‘pekenja dengan’ dapat membingungkan mereka. Sebalik¬nya, Anda seolah-olah menyerang para ‘pekerja dengan’ jika memperlakukan mereka seperti ‘pekerja untuk’. Keduanya sama-sama berharga, namun Anda perlu mengidentifikasi dan membina para ‘pekerja dengan’ karena mereka akan membangun atribut kewirausahaan di bawah kepemimpinan Anda. Sepuluh karakter besar untuk mengidentifikasi dalam pembinaan orang yang tepat ada dalam daftar berikut:

  1. Hubungan Anda merasa senang bekerja dengan orang tersebut.
  2. Optimisme mereka meningkatkan semangat bisnis Anda.
  3. Dedikasi : mereka membantu sepenuhnya pencapaian misi Anda.
  4. Antusiasme : ini akan tumbuh menjadi keinginan kuat pada apa yang mere-
    ka kerjakan.
  5. Kecocokan : ini akan menjamin keharmonisan dan kekuatan kelompok.
  6. Karakter : tak kenal takut dalam bekerja apapun tuntutannya.
  7. Kesetiaan : tetap bekerja sama Anda dalam susah dan senang.
  8. Humor : kemampuan menjaga setiap hal dalam perspektif.
  9. Rajin : kelimpahan energi fisik dan mental.
  10. Hasrat : tenaga mereka bersumber dari komitmen yang mereka miliki.

Saat mengidentifikasi orang yang tepat, penting untuk mengembang-kan model mental yang jelas dan calon yang berhasil. Ketahui dengan tepat jenis orang macam apakah yang Anda cari. Terlalu banyak orang yang mengandalkan mitos hubungan bahwa Anda akan mengetahui orang yang tepat saat Anda bertemu mereka. Nyatanya, Anda harus mengenali mereka karena Anda tahu apa yang Anda cari. Terlalu sering Anda menanyakan pada orang lain apa yang mereka inginkan dan suatu hubungan dan segera mereka mengungkapkan apa yang tidak mereka inginkan. Serupa dengan hal itu, Anda tanyakan pada orang lain apa yang mereka cari dalam suatu pekerjaan dan mereka bersikeras pada apa yang tidak mereka inginkan. Apa gunanya? Jadilah sungguh yakin pada jenis orang seperti apa yang Anda cari dan kemudian segera pastikan bahwa mereka adalah orang-orang yang tepat.

Ingat, jangan pernah mengandalkan resume  karier namun ajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih pribadi untuk membantu mengenal orangmu lebih baik. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan membantu Anda untuk lebih mengandalkan intuisi lebih dari logika Anda. Ingat untuk menjadi lebih subjektif, bukannya objektif dalam menentukan pilihan Anda. Tujuan akhirnya, Anda ingin bekerja dengan orang yang tepat. Siapa pun dapat mengembangkan keterampilan dan pengalaman yang tepat bila mendapat dukungan yang tepat, namun mereka harus memiliki sifat awal yang tepat.

Ada satu titik akhir yang saya yakin pasti membawa saya untuk bekerja dengan orang yang tepat. Keharmonisan, seperti rumusan Carl Jung, atau terjadinya kebetulan yang penuh makna. Atas dasar bahwa kita tentang pada apa yang secara dominan telah kita miliki di pikiran kita, maka kita harus memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang kita inginkan dan apa yang kita can, kemudian orang-orang yang tepat akan datang dalam hidup kita di saat yang tepat. Tidak penting untuk memahami secara intelektual bagaimana kebetulan-kebetulan semacam itu terjadi, namun mengharapkan hal itu secara emosional cukup berguna. Kita semua memiliki pengalaman bertemu orang yang tepat pada waktu yang tepat namun kebanyakan dan kita melewatkan kesempatan itu. Fakta bahwa hal itu berhasil, bukan berarti kita harus memahaminya. Kita semua menggunakan listrik walau hanya sedikit yang memahami listrik. Kita hanya menerima saja, yang penting adalah perannya dalam hidup kita.
PERAN (Role) yang Tepat

Sering kali saya diminta membantu memperjelas peran orang. Saya selalu terkejut betapa orang tidak mengetahui dengan jelas fungsi posisi dan tanggung jawabnya, baik pada saat mereka memulai peran mereka mau¬pun saat mereka akan melaksanakan tugasnya. Lebih lanjut, sering kali berhentinya dan suatu posisi disebabkan peran yang tidak dijalankan sesuai dengan yang diharapkan. Jelas, penting bagi setiap orang untuk memahami apa yang harus mereka lakukan dan apa yang diharapkan dan mereka. Aneh bahwa seorang eksekutif berpendidikan yang diharapkan memiliki rasa tanggung jawab pribadi tidak memiliki kejelasan peran dan tidak juga mampu menjelaskan apa yang ia harapkan dari orang-orang lain. Yang sangat penting adalah mendapat orang yang tepat pada peran yang tepat dengan pemahaman yang tepat di saat awal, namun ini merupakan jalan dua jalur.

Jika para eksekutif, misalnya, mulai dalam posisi baru dan tidak jelas pada fungsinya kemudian mereka harus meminta klarifikasi yang jelas. Klarifikasi macam ini harus disediakan sejak awal mula. Jika tidak segera muncul, eksekutif yang baru masuk harus menerima bahwa klarifikasi itu mungkin tidak akan pernah ada, sehingga ia perlu menyiapkan rincian gambaran tugasnya sendiri dan memastikan bahwa semua orang yang berkepentingan mengerti rincian tersebut. Menjalankan peran atas dasar ‘kita lihat bagaimana nanti’ bukanlah awal yang baik. Inilah rute janji yang keliru, harapan yang salah arah atau kesalahpahaman. Mengembangkan dokumen terinci mengenai tugas tidak berarti menggantikan fleksibilitas dengan sistem yang kaku. Keberatan macam itu hanyalah alasan untuk tidak adanya perencanaan, karena rangkuman mendetail harus mencakup sasaran-sasaran primer, sekunder dan tambahan. Shackleton menjelaskan, sebagai tambahan pada peran spesifik orang¬orangnya dalam ekspedisi, terdapat harapan untuk membantu pada pekerjaan umum dan apa pun yang dituntut dalam keadaan mendesak. Disebutkan, bahkan dengan segala ketidakpastian yang terbentang di depan, ia tetap menyediakan brief tertulis yang menetapkan tugas mereka dan apa yang diharapkan dan masing-masing krunya. Ia tahu bahwa banyak hubungan kerja gagal karena kesalahpahaman dan kurangnya komunikasi. Sebenarnya, rasa tidak aman dalam kerja berhubungan de¬ngan kurangnya klarifikasi peran.

Setiap orang terhubung dengan sebuah organisasi baik meningkatkan atau mengurangi keuntungan. Beberapa orang mungkin tidak tampak berpengaruh pada keuntungan, namun tidak memiliki pengaruh diterjemahkan sebagai kerugian karena bisnis berarti menciptakan laba, bukannya sekadar bertahan hidup. Setiap orang harus mengetahui apa yang diharapkan dan mereka. Jika Anda sedang berusaha merekrut, mengembangkan dan mempertahankan orang yang tepat maka Anda harus memperlakukan mereka secara tepat dan mengawali sebagaimana Anda mau mereka melanjutkan. Kebanyakan keluarga memahami peran mereka karena komunikasi yang tinggi. mi, tentu saja, relatif mudah mempertahankan lingkungan seperti keluarga bila perusahaannya kecil. Dengan bertambahnya jumlah pegawai, bagaimana pun, dalam organisasi cenderung terbentuk birokrasi dan hubungan antar manusia menjadi Iebih formal. Para ahli sosial menggambarkan perubahan semacam mi sebagai per-pindahan dan grup primer ke sebuah grup sekunder di mana alasan dan bukannya emosi yang menguasai tingkah laku manusia. Tetap mungkin, bagaimana pun, untuk menciptakan grup sekunder yang terdiri dan banyak sub grup primer dan mempertahankan ikatan komunikasi dalam kesatuan fungsional. Kuncinya adalah hubungan antarpribadi berdasarkan peran tertentu yang ditampilkan orang dengan kepercayaan dan penghargaan yang saling menguntungkan.

Kepemimpinan kewirausahaan (entrepreneurial) Sam Raynor telah mengubah suatu usaha keluarga, Lakeland, menjadi salah satu organisasi home shopping besar di inggris. Bekerja dengan dua saudara laki-lakinya, Martin dan Julian, Sam membawa perusahaannya melampaui $100 juta pertamanya dan membuka 24 toko yang menguasai pasar sebagai tambahan inti usahanya, yaitu order melalui pos, dengan menerapkan hubungan antarpri¬badi berdasarkan kepercayaan dan penghargaan saling menguntungkan dan memastikan bahwa setiap anggota memiliki peran yang terinci. Sebagai penghargaan kemenangan atas pelayanan pelanggan, sukses mereka berdasar pada in-house training yang berkelanjutan untuk menjamin klarifikasi apa yang diharapkan. Walaupun pertumbuhan mereka dan supplier lokal tas plastik menjadi bisnis nasional dengan ratusan produk kualitas tinggi yang ekslusif, keakraban antar mereka merefleksikan atmosfir kekeluargaan yang hangat.

Pemimpin wirausaha besar itu,  Konosuke Matsushita,  menerapkan filosofi yang sama pada organisasi raksasanya yang terkenal untuk mendapat lebih banyak lagi pelanggan. Dia percaya bahwa pemahaman atas tang-gung jawab fungsional dan saling percaya sangat vital untuk menjaga keharmonisan dan mempertahankan orangnya. Tentu saja, harus terdapat insentif dan penghargaan namun tanpa kepercayaan dan pemahaman, kedua elemen itu tidak berharga. Untuk mempertahankan subgrup primer ia mengembangkan unit-unit usaha dengan orang yang, walaupun setiap unit diperlakukan sebagai perusahaan yang terpisah, mereka saling mengenal satu dengan yang lain. Melalui transfer secara berkala dan unit ke unit, komunikasi yang akrab ditumbuhkan bersama dengan solidaritas menyeluruh dalam organisasi.

Sebagai seorang pemimpin wirausaha, Anda harus memperlakukan orang-orang Anda sebagaimana mereka layak diperlakukan. Jika Anda merasa tidak yakin pada peran mereka, minta mereka menentukan harapan dan target mereka sendiri. Jika merupakan sesuatu yang tidak tentu untuk tujuan target yang jenius, maka tentukan demikian. Contohnya Bernard Arnault dan LVMH (Moet Hennessy Louis Vuitton), supplier barang-barang mewah yang berhasil yang telah mendesentralisasikan organisa¬sinya sehingga setiap merek menjalankan usahanya sendiri di bawah pim¬pinan seorang direktur artistik masing-masing. Peran John Galliano, yang mengepalai Dior, adalah menjadi dirinya send in sepanjang waktu. Peran lain yang tertentu akan membatasi talenta kreatifnya. Baginya, peran ini mengingatkan dirinya untuk tetap menampilkan fungsi yang membuat organisasinya berhasil.  orang yang tepat pada peran yang tepat, hingga dapat dipastikan bahwa sikapnya terhadap bagaimana ia menampilkan perannya akan tetap tepat. Selalu mantapkan peran Anda, pahami apa yang diharapkan dan Anda namun jangan batasi diri sendiri dengan harapan-harapan Anda.
SIKAP (Attitude) yang Tepat

Pendekatan yang telah teruji lama dalam menemukan orang yang tepat pada peran yang tepat adalah untuk lebih menghargai sikap sebelum kecakapan. Selalu mungkin untuk melatih orang dengan kecakapan yang diperlukan namun merupakan tugas berat untuk menanamkan sikap yang tepat. Seseorang dengan sikap yang tepat menyenangkan untuk diajari dan seberapa banyak yang mereka ketahui tentang organisasi tidaklah penting.

Sebaliknya, andaikan seseorang mengetahui bisnis Anda lebih baik dari din Anda sendiri, memahami industri secara luar biasa baiknya dan datang pada Anda dengan resume yang menandakan bahwa mereka mampu melakukan secara tepat apa yang Anda inginkan, namun mereka sangatahui dalam melihat kenegatifan, tidak dapat bergaul baik dengan siapa pun, dan lekas mengeluhkan segala hal.

Dengan mengabaikan nilai-nilai lebihnya, mereka akan dengan sangat cepat memberikan pengaruh buruk pada rekan-rekan kerja Anda, pelanggan, calon pelanggan dari keseluruhan jaringan kerja, sama seperti sebuah apel busuk yang kemu-dian menulari keseluruhan tumpukan apel. Diperlukan satu saja orang dengan sikap buruk untuk menghentikan kesenangan kerja dan pertumbuhan yang sukses. Ingat, definisi dari kepemimpinan kewirausahaan mencakup penanaman kepercayaan diri untuk berpikir, bertingkah laku dan bertindak dengan keberanian mengambil risiko dalam rangka merealisasikan sepenuhnya tujuan yang digariskan oleh organisasi untuk pertumbuhan yang menguntungkan bagi semua penanam modal yang terlibat. Tugas yang sedemikian berharga dan pen¬ting seharusnya tidak dikacaukan oleh sikap yang salah. Bagaimana pun, sikap dapat ditingkatkan secara dramatis dengan mengikuti pengembang¬an diri dan evaluasi pribadi dan jika intuisi Anda merasa bahwa seseorang dengan sikap buruk itu pantas dihadapi, maka Anda harus lakukan de¬mikian karena cara terbaik untuk belajar adalah dengan mengajar. Namun hati-hatilah karena satu kesalahan terbesar manajer adalah mempeker¬jakan orang yang kurang memiliki sikap positif.

Memiliki sikap yang tepat memastikan bahwa peran terpenting pemim-pin wirausaha, yaitu mengembangkan kemampuan melihat tantangan sebagai kesempatan dan kemunduran sebagai ketidaknyamanan sementara, dikembangkan sepenuhnya. Pemimpin wirausaha Herbert Kelleher membangun Southwest Airlines dan kegiatan pengisi waktu menjadi bisnis penerbangan paling sukses yang pernah ada, dengan modal lebih besar dan penggabungan modal American, United dan Continental. Secara konsisten disebut sebagai tempat kerja terbaik di Arnerika Serikat, organisasl ini menikmati tingkat tertinggi dalam mempertahankan pegawai.

Namun hal yang paling mengherankan pada Southwest adalah sejak 1973, saat perta¬ma menghasilkan laba, perusahaan belum pernah kehilangan satu sen pun. Dalam sebuah industri yang bertubi-tubi terkena dampak biaya perang, resesi, krisis minyak, dan berbagai bencana lain, mi adalah prestasi yang luar biasa. Tak ada perusahaan penerbangan lain yang mampu menya¬mainya. Kelleher meyakinkan bahwa sukses mereka adalah hasil menem¬patkan orang yang tepat pada peran yang tepat dengan sikap yang tepat. ‘Siapa pun yang melihat hal-hal hanya dengan satu faktor saja yang dapat dengan mudah menentukan hasilnya’, ujar Kelleher ‘kehilangan inti dan bisnis, yaitu memiliki orang yang tepat dengan sikap yang tepat.

Sikap Kelleher sebagai chairman dan Jim Parker sebagai CEO yang berkembang menjadi penggandaan besar-besaran terhadap cash reserve da¬lam rangka tetap memampukan din menghadapi kemerosotan dan tidak terpaksa mengurangi tenaga kerja. Keduanya setuju bahwa mereka telah menemukan orang-orang dengan sikap yang tepat maka mereka tidak ingin kehilangan orang-orang mi. Filosofi semacam mi terbayar saat industri penerbangan hancur menyusul serangan teroris di Menara World Trade Center, New York. Sejarah akan mencatat han menyedihkan itu sebagai satu perubahan monumental di abad ke-21. Pada saat kebrutalan itu terjadi, Southwest memiliki $1 miliar dalam cash reserve. Pagi berikutnya mereka mengamankan lebih lanjut $475 juta kredit dengan bank dan telah memanggil Boeing Co. untuk menunda pe¬nambahan 11 pesawat 737, senilai sekitar $30 juta sebuah, termasuk salah satunya yang dijadwalkan akan dikirim 11 September. Saat perusahaan lain mengumumkan 100.000 pemutusan hubungan kerja, Southwest menghindari pemecatan dan menyiapkan $180 juta untuk program pen¬siun karyawan yang dijadwalkan 14 September. Walaupun sikap terbaik ditantang sepanjang masa krisis, jelas bahwa sikap yang tepat akan main-Pu mengatasinya.
KOMUNIKASI (Communication) yang Tepat

Telah saya jelaskan sebelumya bahwa seseorang tidak dapat tidak berkomunikasi. Apa pun sikap mereka, akan terkomunikasikan sebanyak apa yang tidak mereka katakan, dengan apa yang mereka katakan, karena komunikasi lebih dan sekadar kata-kata. Diikuti fakta bahwa memiliki sikap yang tepat memastikan komunikasi yang tepat. Kepemimpinan wirausaha tidak dapat berfungsi tanpa garis komunikasi yang terbuka baik dan jelas. Di kebanyakan organisasi, bagaimana pun, survei secara bervariasi menunjukkan dengan jelas adanya komunikasi yang buruk, tertutup dan penuh rahasia. Salah satu penghalang fundamental untuk pertumbuhan yang sukses adalah mayoritas orang tidak memahami dan karenanya tidak menjalankan, komunikasi.

Beberapa tahun lalu saya terlibat dalam sebuah tim yang mengembangkan Talk Works. Klien saya, yang sekarang teman saya, BT Executive Adrian Hosford, membantu terbentuknya slogan ‘senang untuk berbicara’ yang kemudian menjadi sangat terkenal di Jnggris. La mengunjungi saya dengan pandangan untuk mengembangkan misi yang berharga walau penuh tantangan, untuk meningkatkan budaya berbicara di Inggris. Mungkin merupakan warisan Irlandianya yang memungkinkan Ia menja¬di komunikator yang fasih, namun Adrian mendahului waktunya saat harus mempraktikkan kepemimpinan wirausaha dalam sebuah organisasi semapan British Telecom. Lnvestasi BT, dengan Adrian dan timnya, memungkinkan terlaksananya program riset dan pengembangan yang me-runtuhkan penghalang dan secara dramatis meningkatkan praktik komu-nikasi. Talk Works disebarluaskan pada jutaan pelanggan dan membuatnya sebagai buku yang paling banyak dibaca dan jenisnya yang pernah diter-bitkan di Inggris. Ltu merupakan buku interaksi yang unik karena mendedikasikan sejumlah jalur ‘freefone’ bagi pelanggan untuk benar-benar mendengarkan baik komunikasi yang baik maupun yang buruk. Keberhasilannya jelas karena penerapan ilustrasi praktis prinsip-prinsip seder-hana, karena Adrian memahami bahwa berkomunikasi pada pendengar seluas para pelanggannya sama saja dengan berkomunikasi dengan rekan kerja maupun teman dekatnya. Ia membuat mereka merasa berharga.

Kebanyakan organisasi di Barat menggunakan gaya komunikasi yang berakar pada tradisi debat dan argumentasi. Dalam tradisi semacam itu keterampilan advokasi dipertimbangkan sebagai yang terpenting. Namun seperangkat keterampilan lain sering diminta karena debat dan advokasi semacam itu dapat menghambat aliran ide-ide. Tuntutannya adalah keterampilan menginvestigasi yang mendukung hasil yang terbaik untuk semua yang terlibat dan didasarkan bahwa setiap orang adalah sumber ide yang berharga. Adrian akan menciptakan sebuah proposal, ketimbang suatu bentuk advokasi, dengan menggunakan visi dan nilai untuk meng¬arahkan bimbingan dan karenanya ide dapat terus mengalir.

Pusat rahasia untuk mempratekkan komunikasi yang tepat
adalah dengan membuat orang yang Anda ajak bicara merasa
dihargai

Dalam mengirimkan komunikasi Adrian akan memastikan bahwa Anda menerima sekaligus memahami pesan dengan balk dengan cara meminta interpretasi Anda terhadap pesan dan pandangan Anda terhadap penerapan dan implementasinya. mi bertentangan dengan mayoritas komunikasi ‘tak diakui’ yang dipandang pengirim sebagai hal yang telah diterima, disetujui dan dipahami penerima. Terlalu banyak komunikasi organisasional yang berdasarkan kesalahpahaman. Riser Talk Works meng-indikasikan bahwa saat orang berkomunikasi dengan orang lain, kesalah-pahaman itu sering sekali terjadi. Mungkin orang tidak mendengarkan, atau mengasumsikan sendiri apa yang ada dalam pikiran orang lain. Eve mengatakan pada Adam, sebagai contoh, bahwa ia tidak akan dapat menghadiri suatu training eksekutif karena Ia harus bertemu klien pen¬ting. Eve menyesal tidak dapat mengikuti training tersebut, namun klien haruslah mendapat prioritas. Belakangan Adam bicara pada rekan lain, Ruth, menyebutkan bahwa Eve telah ‘menemukan jalan keluar’ dan ke¬harusan menghadiri acara training. Saat Ruth bicara pada Eve, ia menye¬butkan bahwa ia ‘terkejut’ pada ‘sikap’ Eve. Eve merasa tersengat dengan penyataan itu.

Sebelum menawarkan nasihat sebebas yang biasa kita lakukan sebelum¬nya, kita perlu belajar mendengarkan apa yang dikatakan orang lain tanpa asumsi, praduga dan opini yang kita bawa sendiri sebagai kesempatan menyerang yang klta nanti-nantikan. Ini termasuk belajar mendengarkan din kita sendiri, bertindak dalam peran yang benar, ketimbang peran yang kita ambil untuk menyenangkan semua orang. Dengan jalan mi klta dapat belajar untuk menghargai dan mana asal seseorang. Karena, tanpa di¬ragukan lagi, pusat rahasia untuk menjalankan komunikasi yang tepat adalah membuat lawan bicara Anda merasa berharga.

Kewirausahaan menuntut tingkat kesadaran yang tinggi. Dalam hal mi ide-ide dan banyak kesempatan ‘disesuaikan’ ke dalamnya. Maka sebagai pemimpin wirausaha, Anda harus menjalankan kemampuan berkomu¬nikasi karena tanpa memandang betapa cemerlang berbagai ide dan kesempatan, mereka pasti akan hilang atau tak lagi berharga tanpa semua komunikasi yang berhubungan dengannya dijalankan dengan cara tepat.
KERJA TIM (Teamwork) yang Tepat

Komunikasi yang tepat penting untuk kerja tim yang tepat. Bayangkan, seorang pengintai pendahulu (advance scout) yang dikirim oleh sekelom¬pok perintis menemukan tempat perkemahan musuh. Jika si pengintai tidak suka terpilih, tidak menyukai pemimpin perintis (pioneer leader) dan kebanyakan anggota kelompok, ia mungkin saja memutuskan untuk menghindari perkemahan dan membiarkan kelompok tersebut menjaga diri mereka sendiri. Ia dapat saja, tentunya, memilih untuk kembali pada kelompok dan memperingatkan mereka, namun jika si pemimpin penntis (pioneering leader) tidak memiliki keyakinan pada si pengintai, mengapa ia harus menunjukkan tindakan defensif. Jika mungkin sang pemimpin yakin pada si pengintai, namun tidak mampu mengorganisasi orang¬orangnya pada saat tindakan yang perlu harus dilaksanakan, maka kelom¬pok akan menjadi sangat rentan terhadap pemusnahan.

Tentunya, jika laporan pengintai langsung ditenima pimpinan dan dijalankan oleh selu¬ruh kelompok, suatu rute alternatif akan dapat dijalani dengan sukses. Sangat jelaslah bahwa agar suatu kelompok dapat bekerja sebagaimana mestinya, kelompok harus bekerja sebagai suatu tim. Terdapat tiga elemen utama untuk sebuah tim agar dapat berfungsi baik.

Pertama, keseluruhan tim bekerja bersama-sama harus lebih besar dan jumlah yang dapat dikerjakan anggota per individu. Setiap anggota harus dipilih karena kekuatan dan perbedaan cara pikirnya yang akan melengkapi anggota-anggota yang lain, bukan karena mereka terbaik di bidang¬nya. Seorang spesialis ahli yang lebih suka bekerja sendirian tidak akan mampu menjadi anggota tim yang baik. Orang semacam mi dapat sangat berharga dalam menyajikan ide pada tim yang akan mengarahkan pada tingkat efektivitas lebih tinggi, namun ‘penyendiri’ dalam kelompok mengurangi keefektifannya sendiri sekaligus kelompoknya.

Kedua, tujuan bersama untuk keberadaan tim haruslah dibawakan secara unanonim dan antusias. Setiap anggota tim memahami bahwa ‘Se-cara bersama-sama setiap orang mencapai lebih’ saat bekerja saat bekenja menuju tujuan yang sama. Cukup mengkhawatirkan betapa banyak tim organisatoris yang tidak memiliki ide jelas mengenai apa yang menjadi kesamaan tujuan mereka atau apa sesungguhnya fungsi dan tujuan mereka. Keberadaan tim adalah untuk menyajikan yang terbaik yang dapat mereka lakukan dengan mempergunakan kombinasi segenap talenta mereka atas nama organisasi tempat mereka mengambil bagian dan mengabdi.

Sebuah tim kewirausahaan dengan tujuan spesifik untuk menciptakan nilai dan kesempatan harusnya melakukan hal itu saja. Jika ia tidak mencapai tujuan mi maka kerja tim yang salah telah menimpa. Bukan orang-orangnya yang keliru, ini lebih merupakan tim-tim yang secara salah ditempatkan bersama-sama. Tim-tim wirausaha harus tepat, atau cukup menyederhanakan proses kreatif dan mendukung mereka sehingga organisasi berjalan lancar.
Ketiga, pengembangan yang berkesinambungan dan penghargaan dan pengakuan yang berulang-ulang merupakan hal penting bagi tim yang memiliki motivasi dan efektivitas tinggi.

Kelompok orang yang bertemu secara periodik hanya untuk membicarakan apa yang ada dalam agenda bukanlah merupakan suatu tim. Kerja tim yang tepat melibatkan juga kerja keras dan komitmen dan setiap anggota. Dengan demikian, kepercayaan dan penghargaan satu pada yang lain secara simultan diperkuat dan kekeliruan didiskusikan secara terbuka karena mereka dilihat sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang. Melalui penghargaan dan pengakuan yang berulang-ulang, diciptakan oleh setiap anggota dan didukung organisasi, tim menjadi suatu unit yang penuh gairah yang kondusif untuk inovasi.

Bukan orang-orangnya yang keliru, ini lebih merupakan
timnya yang secara keliru dipersatukan

Tim-tim terbaik di bidang olahraga memiliki para pelatih yang secara konsisten memastikan bahwa ketiga elemen di atas tetap terjaga. Kebanyakan tim dalam organisasi, bagaimana pun, secara konsisten lebih dijalankan sebagai komite yang tampak tidak memiliki kehendak untuk bertindak sebagai tim. Satu pembangun tim yang sangat saya kagumi adalah Chris Cowdray. Pertama kali saya bekerja dengannya, ia baru saja ditunjuk oleh InterContinental Group untuk mengembangkan Churchill menjadi salah satu hotel bintang lima terkemuka di kota London. Itu merupakan tantangan yang luar biasa besar mengingat reputasi hotel ini telah menurun drastis selama bentahun-tahun. Walau telah melalui reno-vasi total yang menghabiskan sejumlah besar dana, tetap saja tidak mampu membuatnya menjadi hotel bintang lima. Yang diperlukan adalah tim yang luar biasa.

Pertama Chris memilih para eksekutif yang diinginkannya. Orang¬-orang penting semacam ini sulit diperoleh namun Chris menggunakan jaringan kerja internasionalnya untuk menempatkan onang-orang yang memiliki pengalaman atau kemampuan di atas rata-rata di bidang ini. Setelah tim terbentuk, ia menginvestasikan waktu dan energinya untuk membuat meneka benpikin sebagai tim dengan membuat setiap anggota memiliki pemahaman dan penenimaan penuh pada apa yang diharapkan. Tim ini kemudian mulai membentuk seluruh karyawan hotel menjadi suatu tim besar yang tendini dan bebenapa unit departemen. Bagian house-keeping akan bekerja dengan engineering sebelum bicara, banqueting ber-hubungan erat dengan kitchen dan security dengan reception, pada intinya seluruh anggota tim menuju ke satu anah yang sama.
Tanpa memperhatikan dengan departemen mana berurusan, mudah dirasakan bahwa semangat tim yang dimiliki Chris telah perlahan namun pasti berkembang. Hotel itu mencapai sukses seperti yang diharapkan Intercontinental dan Tim Churchill, dan Chris beralih mengepalai Clanidges, milik Group Savoy jewel. Filosofi Chris Cowdnay dalam mem¬bangun timnya melekat pada urutan ide serupa dalam bab mi: mene¬mukan orang-orang yang tepat, menjelaskan penan mereka, menampil¬kannya dengan sikap yang tepat dan mengkomunikasikan pesan yang tepat. Dengan tim semacam itu ia mampu mengembangkan inovasi tepat yang mampu menarik pelanggan dan memastikan reputasi baik hotelnya.

 
INOVASI (Innovation) yang Tepat

Inovasi wirausaha; ‘memberi kenyamanan’ pada wirausaha yang tidak memiliki. Kebutuhan adalah induk dan penemuan dan semakin dirasakan tidak nyaman, semakin besar inovasi dan peningkatan yang dicari. Rasa frustasi dan ketidaknyamanan yang disebabkan pemogokan pegawai pos dan berbagai keterlambatan memunculkan pengembangan mesin fax.
Penggunaan kertas fax yang tipis, mudah rusak dan tidak praktis men-dorong munculnya inovasi penggunaan kertas yang lebih praktis, dapat diisi atau diteruskan. Beralih dan mesin fax menuju e-mail dengan lampir¬an elektronik, kemudian dokumen-dokumen besar, kemudian kecepatan yang lebih tinggi untuk perpindahan data ke suara dan data dengan kom¬pleksitas lebih besar dan terus berlanjut berpindah dan apa yang semula nyaman menjadi tidak nyaman kanena yang lebih nyaman lagi kemudian muncul mengatasinya. Wirausahawan yang pertama kali memulai suatu bisnis berada pada suatu kondisi ketidaknyamanan yang sehat. Seining dengan perkembang¬an organisasi yang tidak terhindarkan menuju suatu posisi yang lebih nyaman di pasar, secara perlahan-lahan dia kehilangan kemampuannya untuk berinovasi. Oleh karena itu merupakan peran dan pemimpin wira¬usaha untuk memastikan rasa puas diri tensebut digantikan dengan strate¬gi yang menupakan rangkaian kesatuan dan kondisi tidak nyaman men¬jadi kondisi nyaman.
Inilah paradoks dalam menerapkan inovasi yang tepat. Inovasi mem-perbaiki kenyamanan hidup, namun bisa dengan efektif terpelihara dalam ketidaknyamanan hidup. Derajat sampai di mana seorang individu maupun organisasi menjadi nyaman adalah berbanding lurus dengan keti-dakmampuan mereka untuk beninovasi. Pemikmnan di luar kotak (out-of-box) lebih berhasil ketika individu berada jauh dan zona kenyamanan mereka. Saya pnibadi berpendapat bahwa saya telah mengalami masa pa-ling inovatifketika masa depan terlihat suram. Dengan mengambil waktu untuk mengevaluasi peniode pentumbuhan dan kemandekan, saya mene-mukan suatu hubungan yang nyaris linier yang berkaitan dengan zona kenyamanan dan ketidaknyamanan saya, kapan pun saya merasakan kreativitas saya menunun. Alam memiliki lingkaran pertumbuhan, ke-mandekan, penurunan, dan pembaruan. Manusia, sekalipun demikian, mengejar pentumbuhan lalu berhenti ketika mencapai suatu kenyamanan, kemudian mengalami kemandekan di dalam rasa kepuasan din sementana merasa heran mengenai apa yang tenjadi ketika sesuatu berjalan tidak semestinya. Setelah sembuh dan nasa kaget akibat kehilangan rasa nya-mannya, dia kemudian ‘memiliki ketetapan hari’ untuk berbuat sesuatu mengenainya.

Inovasi meningkatkan kenyamanan hidup, namun ia terpelihara
karena ketidaknyamanan

Ide paling baik sangat jarang ditelurkan di lingkungan kantor. Memba-yangkan bahwa dia sedang menunggang suatu pancanan cahaya saat mela¬mun di bawah sinar matahani, Einstein menelurkan teoni relativitas, yang membawa dunia melampaui fisika Newton, yang merupakan suatu hal yang sangat inovatif. Insinyur Swiss George de Mestnal ketika berjalan¬jalan di luan menemukan keterkaitan antana aksen lagu (burrs) yang me¬nempel di bajunya dengan cana banu untuk mengaitkan sesuatu, dan ten¬ciptalah Velcro. Suatu ide baru sangatlah nentan pada masa-masa awal kehidupan. Pada suatu hubungan yang penting, satu komentar negatif sebanding dengan sepuluh ungkapan positif. Dapatkah Anda bayangkan bila keduanya mengalami kilasan inovasi di kantor mereka? Mereka mungkin akan telah diserang habis-habisan dalam perdebatan sengit.
Ketika menghadini retret kreatif para eksekutif, saya selalu merasa frus-trasi melihat bagaimana ruang telah ditata sedemikian rupa di tempat yang nanti akan digunakan. Hotel atau pusat konferensi telah memastikan bahwa ‘Anda membuat diri Anda merasa tidak di rumah, tapi di kantor’. Suasana lingkungan kantor dengan susunan ruang sidang telah ditiru. Dengan ruang e-mail dan atau komunikasi seluler yang diperbolehkan selama waktu istirahat, saya sungguh heran inovasi apa yang akan didis¬kusikan. Dengan delegasi yang hanya hadin ‘tubuhnya’, sangatlah tidak mengherankan jika inovasi sangatlah kurang di dalam organisasi. Sifat inovatif ditelurkan ketika Anda berada di luar nasa nyaman Anda. Sebelum menjadi fasilitator sebuah grup manajer senior Akzo Nobel di Cannes untuk inovasi pasar dan kewirausahaan, saya mengatur perjalanan dengan minibus untuk membawa peserta keluar dan rasa nyaman meneka ke suatu pasar tnadisional Perancis. Saya membenikan kepada setiap orang 15 dolan Euro, saya menganjunkan meneka untuk pergi masing-masing dan membelanjakan sesuai keinginan mereka. Saya kemudian bertemu mereka untuk sebuah sesi Socratic di amphiteater di Theseus di mana tingkat energi dan masukan dan semua pesenta sangatlah tinggi dan banyak ide-ide yang berharga muncul.
Pada kesempatan lain, saya membawa dewan dinektur eksekutif keluar ke lingkungan yang jauh dan kanton dengan menggunakan helikopten ke hutan tropis di Brazil, di tempat tanpa ada komunikasi yang tenjadi. Strategi inovatif yang ditelurkan kemudian diterapkan. Di kesempatan yang lain, ketika bekerja untuk Bull System, kami mengunjungi ranch pelatihan pentarungan banteng. Saya sungguh-sungguh melompat ke da¬lam ring untuk bertarung dengan banteng sungguhan untuk menjelaskan bagaimana keluar dan rasa nyaman kita. Untungnya, baik saya dan ide yang dihasilkan, keduanya selamat. Mengingat bahwa apa yang benan-benan diinginkan onang dapat ten¬konsentrasikan hanya pada perasaan nyaman dan solusi yang tepat, suatu inovasi yang sungguh merupakan perbaikan apa pun yang memenuhi kri¬teria tersebut. Pemimpin wirausaha memiliki tugas untuk merangsang setiap orang di dalam organisasi untuk memenuhi kriteria semacam itu lepas dan pasar di mana mereka terlibat. Hanya ada maju ke depan atau jatuh ke belakang, tidak bisa bersikap netral. Perusahaan yang berdiam diri sebenannya terjatuh ke belakang. Inovasi adalah dasar bagi kemak¬muran ekonomi dan kewinausahaan berarti bersikap inovatif. Organisasi wirausaha harus secara berkelanjutan memperbaiki diri melalui penerapan cara berpikir keluar-dari-rasa-nyaman, dan membentuk kembali iklim yang pada awalnya menelurkan mereka. Memastikan inovasi secara teratur dan tepat memastikan bahwa suatu organisasi mampu untuk melayani konsumen sasaran yang tepat.

PELANGGAN/KONSUMEN (Customer) yang Tepat

Bagi pemimpin wirausaha saat ini konsumen yang tepat adalah setiap orang yang mereka kembangkan dalam rangka membentuk organisasi wirausaha. Untuk pemimpin wirrrausaha yang aspiratif konsumen yang tepat adalah mereka yang penting untuk menciptakan nilai dengan memaksimalkan pilihan peluang menjadi fokusnya. Dengan cara yang sama bahwa kita tidak dapat memfokuskan diri pada setiap kesempatan, demikian juga terhadap konsumen. Oleh karena itu sangatlah penting untuk memilih konsumen di mana kita dapat memprioritaskan energi kita.
Setiap konsumen memiliki bentukan emosi yang berbeda sebagai mdi-vidu, dan setiap organisasi memiliki strategi yang didorong oleh nilai yang berbeda, dan kesemuanya memiliki masalah yang berbeda yang harus dipecahkan. Anda memenangkan dan mempertahankan konsumen de¬ngan memberikan apa yang mereka inginkan, bukan apa yang Anda pilcix mereka inginkan. Mendefinisikan konsumen yang sesunguhnya dengan demikian memenlukan pendefinisian profil dan orang yang sungguh-sungguh akan memperoleh manfaat dan nilai tambah yang diperoleh dan inovasi yang tepat. Secara sederhana, kenalilah konsumen Anda. J.W Mariott, Jr., pimpinan dan presiden grup hotel yang berfokuskan pada layanan konsumen, tahu bahwa konsumen meneka yang pertama adalah orang-orang mereka sendiri: ‘kita tahu bahwa jika kita memper¬lakukan orang-orang kita dengan tepat, mereka akan memperlakukan konsumen dengan tepat pula. Dan jika konsumen diperlakukan dengan tepat, mereka akan kembali.’ Memiliki orang yang tepat di posisi yang tepat dengan sikap yang tepat, menyampaikan komunikasi yang tepat dengan kerja sama tim yang tepat, untuk memastikan inovasi yang tepat akan sama sekali tidak ada artinya kecuali jika Anda memperlakukan orang dengan tepat pula. Memperlakukan onang dengan salah mengha¬langi kreativitas, kepercayan diri, harga diri, dan biasanya memberikan tanda yang salah dan menimbulkan sikap yang salah yang pada akhinnya merembes ke seluruh organisasi. Pemimpin yang tidak memiliki waktu bagi orang-orangnya bukanlah seorang pemimpin. Setiap onang yang terlalu sibuk untuk mendengarkan seseorang, seperti kata Disnaeli, adalah:‘dimabukkan dengan pembicaraan yang bertele-tele dengan kegembiraan yang berlebihan dari diri mereka sendiri.’
Konsumen yang tepat adalah orang-orang yang Anda layani karena mereka membawa raison d’etre (alasan keberadaan) organisasi. Satu-satu-nya cara untuk mempenlakukan mereka adalah mempenlakukan dengan baik dan tepat. Biasanya orang akan cenderung untuk memperlakukan orang lain dengan suatu cara di mana mereka sudah ‘terkondisi’ dengan perlakuan yang mereka terima dari orang lain. Inilah mengapa progam pelatihan dan insentif jangka pendek untuk meningkatkan manajemen atau inovasi dalam berhubungan dengan konsumen demikian keliru. Setiap strategi hubungan haruslah konsisten dan bertahan dalam kata-kata maupun penerapannya sehari-hari. Jika tidak, suatu ‘budaya konsumen yang tepat’ yang dibangun dalam waktu bertahun-tahun dapat membu¬ruk dalam waktu singkat. Sebagai contoh, waktu bertahun-tahun yang dihabiskan untuk memahami dan memperlakukan dengan tepat kon¬sumen internal dan ekstennal di Bnitish Airways hancur begitu saja karena kepemimpinan yang mengubah fokus strategi kepada pengurangan biaya. Bukan maksudnya untuk melupakan konsumen, namun dengan perha¬tian yang bergeser kepada pengurangan biaya, mereka segera melakukan¬nya. Ketika perhatian berpindah, maksud menjadi tidak berarti. Maksud dan perhatian merupakan pasangan pengantin dari suatu hubungan yang tepat.
‘Serikat Indeks mengenai Tempat yang Hebat untuk Bekerja’ (The Great Place to Work Trust Index) yang dikembangkan oleh Milton Moskowitz dan Robert Layering setiap tahun melakukan survei ‘Perusa¬haan Terbaik untuk Bekerja’. Tidak peduli apakah organisasi itu meru¬pakan bisnis kecil, atau perusahaan multimiliar dolar, benang peng¬hubung utama dalam survei ini menggambarkan bahwa pana pemimpin dan ‘penusahaan-perusahaan tenbaik’ secara konsisten mengkomunikasikan pendiriannya bahwa kontnibusi dan setiap individu adalah bernilai. Pemimpin wirausaha memunculkan yang terbaik dan orang-orangnya dan memfasilitasi pertumbuhan mereka dan kekaryawanan menjadi kewirausahaan pada saat mereka mengenali dan memperlakukan mereka seolah-olah mereka konsumen yang sempurna. Dengan melakukan hal ini meneka mampu memastikan bahwa tingkatan enengi yang tinggi dan penuh gairah menesap ke selunuh organisasi.
ENERGI (Energy) yang Tepat

Bagaimana kita diperlakukan secara langsung benpenganuh pada energi kita. Setiap hari kita memiliki sejumlah tertentu energi: fisik, emosi, men¬tal, dan psikis, dengan urutan naik sehingga energi psikis kita adalah yang paling berharga. Sebagaimana pikiran kita biasanya berakar pada mem-perbaiki apa yang salah, namun demikian penekanan energi kita ditu¬jukan untuk area tersebut. Ketika fokus perhatian kita ditujukan pada apa yang tidak bisa kita lakukan, bukan pada apa yang bisa, kita me¬ngosongkan energi psikis yang ada dalam diri kita sendiri. Mengajak diri kita secara mental untuk merasa buruk terhadap sesuatu, contohnya, akan menyebabkan din kita merasa bingung secara mental, frustrasi secara emosi, dan letih secara fisik. Sebaliknya, memuji diri kita sendiri untuk pencapaian sesuatu akan menyebabkan diri kita tenangsang secara mental, perasaan bahagia jasmani dan rohani secara emosional, dan secara fisik berenergi.
Satu hal yang kita semua miliki secara umum adalah sejumlah waktu yang kita punyai dalam satu jam: enam puluh menit. Bergantung pada prioritas individu, cara penggunaan jumlah menit yang sama ini sepenuh-nya bergantung pada pilihan yang tak terbatas. Satu hal yang pasti, bagai-manapun juga, lepas dan manajemen waktu yang efisien, sebagian besar pencapaian kita mengambil bagian yang sangat kecil dan waktu kita. Dengan menggunakan satuan satu jam sebagai referensi, sepuluh menit digunakan untuk menyalurkan energi kita secara proaktif; dan lima belas menit terbuang dalam menyalurkan energi kita secara reaktif. Dengan sebagian besar energi kita telah tenbuang, tidaklah mengherankan jika ter-dapat begitu banyak kelelahan dan depresi. Setiap waktu kita bangun membawa kita semakin dekat kepada penca¬paian tujuan kita atau semakin menjauh darinya. Tidak ada yang netral, hanya ada maju atau mundur. Menyalurkan energi kita tidak ada kaitan¬nya dengan menjaganya dalam keseimbangan, yang lebih terkait degan mengembalikan energi yang telah terbuang. Ketika kita menyalurkan energi kita dengan tepat kita sebenarnya menghasilkan energi. Sebaliknya, ketika kita tidak melakukannya, energi tersebut dialihkan menjadi frus¬trasi, penundaan dan sesuatu yang menyakitkan hati. Berada dalam kese¬imbangan berarti memiliki kendali sepenuhnya terhadap penggunaan enengi kita. Ini membutuhkan penyediaan waktu kita hanya pada aktivi¬tas yang kita telah putuskan memberikan nilai tinggi bagi kita. Me¬nerapkan aturan: bukan waktu yang dapat kita sesuaikan, kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan waktu, dan mengakui bahwa waktu terkait dengan energi yang dihabiskan, dengan mempertimbangkan bagai¬mana Anda menggunakan waktu terjaga Anda:
1. Berapa banyak waktu Anda habiskan untuk memikirkan apa yang seharusnya
Anda lakukan?
2. Berapa banyak waktu Anda habiskan untuk mengkhawatirkan apa yang se-
harusnya Anda lakukan?
3. Berapa banyak waktu anda habiskan untuk melamun tentang apa yang ingin
Anda lakukan?
Berargumen bahwa menghabiskan waktu atau energi untuk apa yang Anda inginkan tidak memungkinkan, sama sekali tidak dapat diterima. Bagaimanapun Anda merasionalisasikannya Anda tidak akan dapat meng-ingkari kenyataan bagaimana cara Anda memberdayakan enengi Anda saat ini, menjadi pemimpin wirausaha membutuhkan lebih dari sekadar melihat. Ia membutuhkan ‘kekejaman’ untuk berkata tidak terhadap apa pun yang Anda rasakan secara intuitif menghabiskan enengi Anda. Ini tentu saja membutuhkan kejujuran terhadap diri Anda sendiri tentang apa yang penting bagi hidup Anda, karena hanya dengan kejujuran macam ini Anda juga dapat bersikap jujur terhadap orang lain. Memperlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan melibatkan pemikiran mengenai apa yang pertama-tama tepat bagi Anda, karena pada saat Anda berada pada jalur, meningkatnya energi Anda berguna bagi orang lain. Tidak ada yang lebih memotivasi secara pribadi, lebih membangun energi, lebih memuaskan dan lebih layak daripada mengetahui bahwa apa yang Anda lakukan adalah apa yang penting bagi Anda, memberi makna pada diri Anda, adalah apa yang Anda inginkan untuk Anda lakukan, dan di atas semuanya itu adalah Anda memiliki kecenderungan untuk melakukannya. Setiap dan kita adalah energi yang murni dan adalah tang¬gung jawab pribadi kita untuk mengetahui bagaimana kita mengarahkan energi kita. Jika kita mengizinkan onang lain untuk menghabiskan energi kita, maka kita harus menerima tanggung jawab untuk mcmbiarkan hal itu tenjadi. Sama halnya, ketika kita melibatkan diri kita pada sesuatu yang tidak menanik bagi kita, kita hanus waspada bahwa kita tidak menyalurkan energi kita dengan efektif.
Wirausahawan memiliki tingkatan energi yang tinggi sebab mereka mengejar gairah mereka dan mereka harus menyalurkan secana efektif untuk dapat berhasil. Pemimpin wirausaha secara alamiah meningkatkan tingkatan energi orang-orang di dalam organisasinya karena mereka me¬rasa yakin bahwa orang-orang mampu berfokus pada apa yang dapat mereka lakukan dengan baik.
Kita harus menerima tanggung jawab untuk membolehkan
orang lain menghabiskan energi kita

Sebagai contoh, Presiden The Carrier Corporation, Geraud Dannis, secara konsisten memastikan bahwa orang yang tepat mengerjakan apa yang mereka bisa kerjakan dengan baik. Dia melakukannya karena per¬caya bahwa kebijakan semacam itu akan memastikan bahwa energi yang tepat dengan kekuatan yang tinggi akan memancar ke selunuh Perusahaan The Carrier, sebagai perusahaan yang meningkatkan secara tcnukur kua¬litas hidup manusia. Mulai pada saat wirausahawan pendirinya, Willis Carrier, menemukan dasar penyejuk udara (AC) modern pada tahun 1902, Carrier telah menjadi pemimpin kelas dunia pembuat AC, pema¬nas, dan penalatan lemani pendingin untuk keperluan komersial, peru¬mahan, dan transpontasi.
Ketika Anda membeli makanan dan unit pendingin di supermarket, atau masuk ke hotel, kantor, perpustakaan, atau museum yang berpenye¬juk udara, Carrier berperan sangat penting dalam menyediakan ling¬kungan yang tepat tersebut. Dengan lebih dan 45.000 orang di lebih dan 170 negara memastikan inovasi yang tepat menghasilkan produk dan layanan yang tepat, pcnting memiliki energi yang tepat, terutama pada tingkat pimpinan. Bekerja dengan Geraud merupakan suatu hal yang menyenangkan karena selain kemampuannya yang menjalani apa yang dikatakannya, dia telah belajar untuk mengenal dengan tepat di mana dan kapan menyalurkan energi dengan paling efektif. Pada satu di antara pens¬tiwa kepemimpinannya, dia membagikan kepada saya bagaimana dia telah belajar bahwa mungkin bagi kita untuk mencapai Iebih dengan waktu yang lebih singkat melalui fokus yang lebih besar. Dia mengatakan: ‘mengetahui apa yang menjadi tujuan Anda dan mengapa mereka harus Anda capai, dibarengi dengan menginginkan sungguh-sungguh dan berharap mencapainya, akan merangsang energi Anda’.
Energi selalu lebih tinggi ketika apa yang harus Anda kerjakan adalah apa yang ingin Anda kerjakan. Dalam membuka jalan bagi energi yang tepat Anda memiliki kemampuan untuk menangkis gangguan yang menghabiskan energi Anda. Orang-orang akan condong kepada Anda karena energi Anda yang besar. Banyak yang menginginkan Anda untuk mendukung mereka dalam usaha keras mereka karena energi Anda. Pada gilirannya, ketika dukungan Anda merupakan harmoni dengan nilai dan tujuan Anda sendiri, energi bertambah lebih banyak lagi. Sama halnya, ketika orang lain yang percaya pada tujuan Anda mendukung, energi bertambah. Oleh karena itu penting untuk melihat apa yang merupakan dukungan yang tepat dan berlatihlah memberikan dan menerimanya.

 

 

 

DUKUNGAN (Support) yang Tepat

Latihan memberikan dan menerima dukungan merupakan suatu hal yang fundamental bagi kewirausahaan. Tanpa adanya dukungan yang tepat semua usaha dan petualangan akan jatuh. Tanpa dukungan moral dan istri dan anak-anak, saya tidak akan mempertimbangkan untuk melaku¬kan apa yang telah saya lalui di masa Ialu atau akan berbuat sesuatu di masa mendatang. Segera setelah memulai bisnis pertama saya, pengajan yang memberikan dukungan menolong saya melalui waktu-waktu yang tak terhindarkan ketika kepercayaan diri saya rendah. Tanpa adanya dukungan dan sumber pendanaan, baik bank maupun broker investasi, saya tidak akan memiliki kemampuan untuk mengembangkan bisnis saya yang mana pun. Tanpa dukungan jaringan kerja konsumen, supplier dan asosiasi, hanya akan ada sedikit keberhasilan. Saya juga yakin bahwa dukungan yang saya peroleh pada gilirannya baik dalam sisi moral, nasi¬hat atau dukungan finansial telah menjadi suatu bentuk dukungan yang tepat pada waktunya.
Tanpa dukungan dan orang tua, guru dan penasihat karier, anak-anak menghadapi masa yang sulit—sesuatu yang tidak diinginkan oleh orang¬tua mana pun. Harus selalu terdapat dukungan yang tepat untuk memas¬tikan bahwa potensi individu diselaraskan sepenuhnya. Demikian pula harus selalu terdapat sistem pendukung yang tepat untuk menciptakan organisasi wirausaha. Karakteristik yang pertama dari enam karakteristik inti yang sangat penting untuk dikembangkan oleh organisasi, sebagaimana telah didis¬kusikan , adalah: Strategi Persetujuan Dukungan (Agreed Support Strategy). Mempelajari prinsip dan menerapkan praktik kepemimpinan wirausaha dalam rangka mengembangkan atribut wirausaha, mengejar peluang yang terpilih, dan memajukan usaha, akan menjadi malapetaka kegagalan jika kita memulainya tanpa strategi dukungan yang benar. Menggalang sponsor pendukung, kelompok pendukung, dan sistem pen-dukung merupakah suatu hal yang menyatu untuk menciptakan budaya organisasi winausaha. Ini membawa kita kepada bagian selanjutnya dan buku ini: ‘Layanan vs. Struktur.’

 

FILSAFAT CINA : The Origins of Chinese Philosophy by Chung Ying Cheng


A. Pendahuluan
Filsafat Cina merupakan salah satu filasafat tertua di dunia, selain filsafat India dan filsafat Barat, dan dipercaya menjadi salah satu filsafat dasar yang mempengaruhi sejarah perkembangan filsafat dunia. Filsafat Cina sebagaimana filsafat lainnya dipengaruhi oleh kebudayaan yang berkembang dari masa ke masa.

Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat cina, yakni harmoni, toleransi dan perikemanusiaan. Harmoni antara manusia dan sesama, manusia dengan alam, manusia dengan surga. Selalu dicari keseimbangan antara keduanya. Toleransi terlihat dalam keterbukaan terhadap pendapat-pendapat pribadi, suatu sikap perdamaian yang memungkinkan suatu pluriformitas yang luar biasa, juga dalam bidang agama. Perikemanusiaan, karena selalu manusia-lah yang merupakan pusat filsafat Cina, manusia yang pada hakikatnya baik dan yang harus mencari kebahagiaannya di dunia ini dengan memperkembangkan dirinya sendiri dalam interaksi dengan alam dan sesama manusia.

Selalu dicarikan keseimbangan, harmoni, suatu jalan tengah antara dua ekstrem: antara manusia dan sesama, antara manusia dan alam, antara manusia dan surga. Toleransi kelihatan dalam keterbukaan untuk pendapat-pendapat yang sama sekali berbeda dari pendapat-pendapat pribadi, suatu sikap perdamaian yang memungkinkan pluralitas yang luar biasa, juga dalam bidang agama. Kemudian, perikemanusiaan. Pemikiran Cina lebih antroposentris daripada filsafat India dan filsafat Barat. Manusialah yang selalu merupakan pusat filsafat Cina.

B. Perkembangan Awal Filsafat Cina
Dalam memahami asal mula Filsafat Cina, ada 3 hal yang perlu diketahui. Pertama, filsafat adalah sebuah usaha sadar untuk memformulasikan pandangan-pandangan dan nilai-nilai sebagai ekspresi dari keyakinan fundamental sekelompok orang. Karenanya filsafat tidak dapat dilepaskan dari latar belakang budaya dan tradisi kelompok tersebut. Dalam hal ini adalah bahasa, seni, literatur, dan agama. Yang kedua, filsafat sebagai sebuah aktivitas yang berkelanjutan haruslah dipandang sebagai sesuatu yang muncul dari aktivitas praktis kehidupan yang berfokus pada pemecahan masalah tentang pengetahuan yang benar, pemahaman asli, dan penghargaan yang wajar atas berbagai masalah kehidupan, entah secara individu ataupun sosial. Yang ketiga adalah lebih berupa konstruksi-konstruksi teoretis sebagai hasil pemikiran filosofis ataupun kegiatan kultural dari suatu kelompok orang/masyarakat.
Pengertian “asal mula’ ini haruslah dilihat dalam konteks pandangan yang multi dimensi dan plural. Karenanya untuk memahami asal mula filsafat cinapun, orang perlu mengacu pada permasalahan tatanan yang dimunculkan, yakni historisitas, praktis, dan teoretis. Ketiga hal ini harus dilihat dalam satu kesatuan. Selain itu perlu dipahami pula bahwa pengalaman historis dan kultural ini memberi konteks bagi munculnya metodologi dan kosmologi, yang kemudian dapat menerangkan pula tentang lahirnya bahasa dan konstruksi filsafat. Pada akhirnya, filsafat itu kemudian memberi dampak bagi perkembangan sosial dan kultural masyarakat. Dengan demikian, filsafat menjadi sebuah sebuah self-refining, self-criticizing, dan juga sebagai proses pemenuhan diri atas tradisi kultural.
Berdasarkan penemuan arkeologis, Cina Kuno itu sudah ada sebelum periode Neolitik (5000 SM) baik di sebelah timur laut dan barat laut. Pada periode tersebut, kehidupan komunitas suku berpusat pada penyembahan dewa-dewa leluhur dan dewa-dewa alam. Yang dikenal pada periode ini adalah budaya Yangshao, Dawenko, Liangche, Hungsan, benda-benda yang dikeramatkan dan tempat penyembahan.

Pada masa budaya Lungshan (2600 SM-2100 SM), yakni pada saat Raja Yao dan Shun memerintah, kebudayaan Cina yang berpusat pada pengorbanan yang ditujukan bagi roh-roh alam dan nenek moyang tersebar ke daerah Henan, Shandong dan Hubei. Mereka terintegrasi dalam sebuah keadaan politis yang tersatukan, Xia. Ada juga tentang praktek li (ritual) dalam bentuk penghormatan kepada nenek moyang sejak awal sebagaimana diterangkan dalam Period of Jade.

Tradisi pemikiran filsafat di Cina bermula sekitar abad ke-6 SM pada masa pemerintahan Dinasti Chou di Utara. Kon Fu Tze, Lao Tze, Meng Tze dan Chuang Tze dianggap sebagai peletak dasar dan pengasas filsafat Cina. Pemikiran mereka sangat berpengaruh dan membentuk ciri-ciri khusus yang membedakannya dari filsafat India dan Yunani. Pada masa hidup mereka, negeri Cina dilanda kekacauan yang nyaris tidak pernah berhenti. Pemerintahan Dinasti Chou mengalami perpecahan dan perang berkecamuk di antara raja-raja kecil yang menguasai wilayah yang berbeda-beda. Sebagai akibatnya rakyat sengsara, dihantui kelaparan dan ratusan ribu meninggal dunia disebabkan peperangan dan pemberontakan yang bertubi-tubi melanda negeri. Tiadanya pemerintahan pusat yang kuat dan degradasi moral di kalangan pejabat pemerintahan mendorong sejumlah kaum terpelajar bangkit dan mulai memikirkan bagaimana mendorong masyarakat berusaha menata kembali kehidupan sosial dan moral mereka dengan baik.

Kaum bangsawan terpelajar ini telah tersingkir dari kehidupan politik dan pemerintahan, karena pada saat negeri dilanda kekacauan dan perang yang diperlukan ialah para jenderal dan pengambil kebijakan politik. Dinasti Chou sendiri telah lebih satu abad memerintah negeri Cina. Pemerintahan mereka semula berjalan baik, tindakan hukum berjalan sebagaimana diharapkan dan ketertiban telah terbangun dengan baik. Dinasti Chou berhasil membangun tradisi pemikiran Cina yang selama berabad-abad mempengaruhi pemikiran orang Cina. Misalnya kebiasaan menghormati leluhur dengan melaksanakan berbagai upacara keagamaan dan kegemaran akan sejarah masa lalu.

Dalam upaya untuk mendapat legitimasi atas kekuasaannya Dinasti Chou menafsirkan kembali sejarah Cina. Misalnya saja penaklukan yang dilakukannya atas dinasti sebelumnya, Shang, dikatakan sebagai amanat dari dewa-dewa yang bersemayam di Kayangan. Penguasa dinasti Shang dikatakan telah banyak melakukan kejahatan di bumi sehingga tidak direstui oleh leluhur mereka, dan dewa-dewa di Kayangan membencinya serta memberikan mandat kepada penguasa Dinasti Chou untuk menggantikannya sebagai pemegang tampuk pemerintahan.

Dalam perkembangan selanjutnya ternyata penyelenggaraan upacara-upacara menghormati leluhur itu lebih merupakan pemborosan. Sering sebuah upacara dilakukan secara berlebihan untuk memamerkan kekayaan dari keluarga yang menyelenggarakannya. Pemerintah pusat dan penguasa wilayah berlomba-lomba memungut pajak yang tinggi, memeras rakyat dan menggiring mereka melakukan kerja paksa. Para bangsawan, jenderal dan pejabat berlomba-lomba melakukan korupsi dan penyelewengan, menimbun harta dan kekuasaan. Mereka saling menghasut sehingga perpecahan tidak bisa dihindari lagi dan peperangan silih berganti muncul antara penguasa wilayah yang satu dengan penguasa yang lain.

Dilatarbelakangi keadaan seperti itu filsafat Cina lebih banyak memusatkan perhatian pada persoalan politik, kenegaraan dan etika. Kecenderungan inilah yang membuat filsafat Cina memiliki ciri yang berbeda dari filsafat India, Yunani dan Islam.
Berbeda dengan filsafat Yunani, filsafat Cina Kuno memandang soal perubahan dan transformasi sebagai sebuah sifat dunia yang tidak bisa direduksikan lagi, termasuk di dalamnya benda-benda dan manusia itu sendiri. Ada perbedaan yang mencolok antara Filsafat Cina dengan filsafat Barat. Filsafat Cina menekankan pada perubahan waktu dan temporalitas, dan tidak hanya membedakan metafisika Cina tentang realitas dan alam dari trend utama tradisi filsafat Barat tetapi juga dari orientasi filsafat India.
Bagi para filsuf Cina, pengalaman akan perubahan dalam dunia justru membuat mereka masuk dalam alam dunia yang sejati dan dalam diri manusia sendiri. Di dalamnya, ada kemungkinan bagi terjadinya perkembangan, transformasi, interaksi dan integrasi.
Dalam tradisi Zhou Yi, pengalaman akan perubahan dalam alam pada masa Cina Kuno menjadi terorganisasi dan terartikulasi ke dalam sebuah sistem pemikiran dan penjelasan tentang realitas. Pengorgansiasian dan pengartikulasian inipun tidak hanya memberikan sebuah pandangan kosmologis mengenai dunia dimana manusia dapat menemukan tempatnya yang layak dan peran yang layak, tetapi juga mengembangkan sebuah cara pemikiran menuju dunia yang berintegrasi dan the self, dan perluasan makna fakta-fakta dan penentuan nilai pemahaman. Karenanya, Zhou Yi sebagai sebuah pemikiran filsafat Cina, memberikan sebuah cara pencapaian keseimbangan, sentralitas, harmoni dan komprehensi seperti halnya dalam sebuah perkembangan transformatif, usaha kembali ke sumber akhir mereka.

Berikut ini adalah beberapa aspek penting dari Zhou Yi sebagai sebuah cara pemikiran dan juga tentang dampaknya terhadap filsafat Cina:
1. Zhou Yi berfokus pada totalitas dari realitas dan hal-hal yang mengembangkan sebuah sistem realitas yang lengkap/komplit. Kelengkapan (complitness) ini dimulai dari observasi dasar terhadap oposisi komplementer ataupun terhadap polaritas sebagai penentu keseluruhan.
2. Zhou Yi berfokus pada harmoni sebagai suatu keadaan inseptif atas kreativitas (sheng) dan pada harmonisasi sebagai the natural end state dari realitas dalam sebuah proses perubahan dan transformasi.
3. sudut pandang kosmologis ini juga memampukan kita untuk melihat dunia sebagai ceaseless activity terhadap realisasi harmoni dan pada saat yang sama sebagai suatu harmoni dalam beberapa tingkatan yang disiapkan bagi perkembangan kreativitas selanjutnya.
Zhou Yi ini dapat menjadi hal praktis dalam menuntun keputusan dan tindakan manusia. Salah satu tugas terpenting dari keputusan manusia dan tindakannya adalah untuk mengetahui dan menguasai masa depan. Namun yang jadi permasalahannya adalah bahwa karena masa depan itu belum terbentuk, lalu bagimana kita dapat berharap untuk bisa mengetahuinya? Zhao Yi mengatakan bahwa kita boleh menggambarkan masa depan dalam pengertian model onto-cosmological dari pemahaman yang berdasarkan pada totalitas yin-yang dan kecenderungan kreatifnya ke arah harmonisasi dan harmoni.

C. Ciri-Ciri Filsafat Cina
Pertama-tama karena masalah politik dan pemerintahan merupakan masalah sehari-hari yang tidak dapat dihindarkan, maka filsafat Cina berkecendrungan mengutamakan pemikiran praktis berkenaan masalah dan kehidupan sehari-hari. Dengan perkataan lain ia cenderung mengarahkan dirinya pada persoalan-persoalan dunia. Para ahli sejarah, mengemukakan beberapa ciri yang muncul akibat kecenderungan tersebut, adalah:
1. Dalam pemikiran kebanyakan orang Cina antara teori dan pelaksanaannya tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian pemikiran spekulatif kurang mendapat tempat dalam tradisi filsafat Cina, sebab filsafat justru lahir karena adanya berbagai persoalan yang muncul dari kehidupan yang aktual.
2. Secara umum filsafat Cina bertolak dari semacam ‘humanisme’. Tekanannya pada persoalannya kemanusiaan melebihi filsafat Yunani dan India. Manusia dan perilakunya dalam masyarakat dan peristiwa-peristiwa kemanusiaan menjadi perhatian utama sebagian besar filosof Cina.
3. Dalam pemikiran filosof Cina etika dan spiritualitas (masalah keruhanian) menyatu secara padu. Etika dianggap sebagai intipati kehidupan manusia dan sekaligus tujuan hidupnya. Di lain hal konsep keruhanian diungkapkan melalui perkembangan jiwa seseorang yang menjunjung tinggi etika. Artinya spiritualitas seseorang dinilai melalui moral dan etikanya dalam kehidupan sosial, kenegaraan dan politik. Sedangkan inti etika dan kehidupan sosial ialah kesalehan dan kearifan.
4. Meskipun menekankan pada persoalan manusia sebagai makhluk sosial, persoalan yang bersangkut paut dengan pribadi atau individualitas tidak dikesampingkan. Namun demikian secara umum filsafat Cina dapat diartikan sebagaoi ‘Seni hidup bermasyarakat secara bijak dan cerdas’. Kesetaraan, persamaan dan kesederajatan manusia mendapat perhatian besar. Menurut para filosof Cina keselerasan dalam kehidupan sosial hanya bisa dicapai dengan menjunjung tinggi persamaan, kesetaraan dan kesederajatan itu.
5. Filsafat Cina secara umum mengajarkan sikap optimistis dan demokratis. Filosof Cina pada umumnya yakin bahwa manusia dapat mengatasi persoalan-persoalan hidupnya dengan menata dirinya melalui berbagai kebijakan praktis serta menghargai kemanusiaan. Sikap demokratis membuat bangsa Cina toleran terhadap pemikiran yang anekaragam dan tidak cenderung memandang sesuatu secara hitam putih.
6. Agama dipandang tidak terlalu penting dibanding kebijakan berfilsafat. Mereka menganjurkan masyarakat mengurangi pemborosan dalam penyelenggaraan upacara keagamaan atau penghormatan pada leluhur.
7. Penghormatan terhadap kemanusiaan dan individu tampak dalam filsafat hukum dan politik. Pribadi dianggap lebih tinggi nilainya dibanding aturan-aturan formal yang abstrak dari hukum, undang-undang dan etika. Dalam memandang sesuatu tidak berdasarkan mutlak benar dan mutlak salah, jadi berpedoman pada relativisme nilai-nilai.
8. Dilihat dari sudut pandang intelektual, Para filosof Cina berhasil membangun etos masyarakat Cina seperti mencintai belajar dan mendorong orang gemar melakukan penelitian mendalam atas segala sesuatu sebelum memecahkan dan melakukan sesuatu. Demikianlah pengetahuan dan integritas pribadi merupakan tekanan utama filsafat Cina. Aliran pemikiran, teori dan metodologi apa saja hanya bisa mencapai sasaran apabila dilaksanakan oleh seseorang yang memiliki pengetahuan luas dan integratitas pribadi yang kokoh.

D. Periodisasi Filsafat Cina
Pokok pemikiran dari filsafat dan kebudayaan Cina adalah perikemanusiaan. Filsafat Cina lebih pragmatis dengan mengajarkan bagaimana harus bertindak supaya keseimbangan antara dunia dan surga tercapai. Ketika kebudayaan Yunani masih berpendapat bahwa semua makhluk dikuasai oleh suatu nasib buta (Moira), dan ketika kebudayaan India masih mengajarkan bahwa kita di dunia ini tertahan dalam roda reinkarnasi yang terus-menerus, maka di Cina sudah diajarkan bahwa manusia sendiri dapat menentukan nasib dan tujuannya.

Pada perkembangan melewati rentan waktu panjang yang dilalui Filsafat di Cina, disini Filsafat Cina dapat dikategorikan ke dalam empat periode besar, yaitu: Zaman Klasik (600 – 200 SM), zaman Neo-taoisme dan Buddhisme (200 SM – 1000 M), zaman Neo-konfusianisme (1000 – 1900 M) dan zaman Modern (setelah 1900)
1. Zaman Klasik (600 – 200 SM)
Menurut tradisi, periode ini ditandai oleh seratus sekolah filsafat, seratus aliran yang semuanya mempunyai ajaran yang berbeda. Namun, kelihatan juga sejumlah konsep yang dipentingkan secara umum, misalnya “tao” (jalan), “te” (keutamaan atau seni hidup), “yen” (perikemanusiaan), “i” (keadilan), “t’ien” (surga) dan “yin-yang” (harmoni kedua prinsip induk, prinsip aktif-laki-laki dan prinsip pasif-perempuan). Sekolah-sekolah terpenting dalam jaman klasik adalah: Konfusianisme
a. Konfusianisme
Kong Hu Cu merupakan seorang filosof besar Cina. Dialah orang pertama pengembang sistem yang memadukan alam fikiran dan kepercayaan orang Cina yang paling besar filosofinya menyangkut moralitas orang perorang dan konsepsi suatu pemerintahan tentang cara-cara melayani rakyat dan memerintahnya lewat tingkah laku teladan yang sekarang telah menyerap dalam kehidupan dan kebudayaan orang Cina selama lebih dari dua ribu tahun. Dari pengaruh pemikiran inilah Confusianisme banyak menghasilkan para intelektual di Cina, dan pengaruh intelektualnya ini berpengaruh terhadap sebagian penduduk di dunia.
Confusius (bentuk Latin dari nama Kong-Fu-Tse, “guru dari suku Kung”) hidup antara 551 dan 497 SM di daerah Lu,di Shantung. Ia mengajarkan bahwa Tao (“jalan” sebagai prinsip utama dari kenyataan) adalah “jalan manusia”. Artinya: manusia sendirilah yang dapat menjadikan Tao luhur dan mulia, kalau ia hidup dengan baik. Keutamaan merupakan jalan yang dibutuhkan. Kebaikan hidup dapat dicapai melalui perikemanusiaan (“yen”), yang merupakan model untuk semua orang. Secara hakiki semua orang sama walaupun tindakan mereka berbeda.. Dalam bahasa Mandarin aliran ini disebut 儒家 Rujia. Rujia memang sering diartikan sebagai filsafat Khonghucu. Sebenarnya Rujia berarti filsafat cendikiawan, 儒 Ru sendiri berarti cendikiawan atau sarjana.
Pada usia muda, yakni 17 tahun, Confusius diangkat menjadi pengawas kerajaan, sebagai pemilik ladang gandum umum dan lumbung pangeran, kemudian menjadi Kepala Peternakan. Ia seorang yang suka belajar. Pada usia 22 tahun ia mulai mengajar. Setahun kemudian ia ditinggalkan ibunya. Menurut adat, ia harus mengundurkan diri dari keramaian untuk berduka cita selama tiga tahun. Keadaan kacau pada masa itu menyebabkan ia tidak taat pada adat. Sikap Confusius sangat dihormati, terutama oleh murid-muridnya yang setia. Selama berduka cita, yaitu selama tiga tahun itulah ia mendalami kesusastraan, sejarah, dan adat istiadat dari zaman Wen sampai Mu yang tersimpan dalam perpustakaan kerajaan.

Confusius yakin bahwa untuk mengamankan keadaan, maka harus kembali pada jalan yang telah ditempuh oleh yao dan Shun,yaitu dengan jalan berbakti dan setia. Ia belajar lagi dari semua buku-buku yang ada tentang agama, adat, sastra, sejarah, musik, dan lain-lain. Kemudian semuanya itu digubah dan disadur sehingga berbentuk pedoman hidup bangsa Cina. Setelah habis masa duka citanya ia mengunjungi loyang yang dibangun oleh Pangeran Chou. Ia mulai lagi mengajarkan pada murid-muridnya tentang sejarah, kesusastraan, perihal upacara, musik syair, dan terus mencatat segala hal yang berarti dan diketahuinya dalam tulisan yang berjudul “The Books of History (Shang Shu), The pring and Autum Annals, The Books of Rites, dan The Book of Song.

Filsafat Confusianisme dan Pengaruhnya
Pemikiran Confusianisme yang didasarkan atas prinsip keseimbangan yin dan yang. Prinsip keseimbangan menjadi hal utama yang dibahas sehingga keseimbangan yang mengatur hidup kita juga seimbang. Dengan aturan keseimbangan ini memberikan dampak yang begitu besar khususnya bagi masyarakat Cina.

Confusius menganjurkan agar orang belajar dan mempraktekan apa yang dipelajari sehingga menjadi seorang intelektual yang lengkap, orang seperti ini beliau sebut sebagai Qun Zi atau seorang intelektual-bijaksana,selain itu dia harus tatap tenag dalam segala situasi agar dapat menyelesaikan persoalan-persoalan penghidupan dengan rasional. Ajaran Confusianisme mengajarkan bahwa kita harus bisa mengatur harta yang baik terutama pendidikan anak-anak. Unsur pendidikan ini dalam Confusianisme karena para cendikiawan dihormati jauh lebih tinggi dibandingkan kekayaan.

Itulah sebabnya di Amerika saat ini kebanyakan mahasiswa peringkat atas diduduki oleh orang-orang dari Hong Kong, Cina, Taiwan, Singapore, Korea, dan Jepang yang ternyata negara-negara tersebut dipengaruhi ajaran Confusianisme.

Kemudian ajaran Confusianisme berdampak pula pada ekonomi Cina itu sendiri. Dengan adanya konsep kerja keras dan kekerabatan yanmg dijunjung tinggi, merupakan jaminan link keberhasilan ekonomi masyarakat Cina secara keseluruhan. Selain itu faktor kecintaan terhadap negara induk (RRC), menjadi sebuah motivasi besar bagi mereka, untuk berusaha seoptimal mungkin agar mampu memberikan kontribusi bagi negaranya tersebut, sekalipun mereka hidup di negara orang lain.

Secara ekonomi Cina memang mempunyai kompeten yang besar, bahkan Amerika sekalipun segai sebuah negara super power merasa riskan dengan keberadaan Cina tersebut. Selain faktor kerja keras, kekerabatan, faktor jumlah penduduk yang besar dan tersebar dimana-mana mempunya andil besar dalam roda perekonomian Cina. Kemudian daripada itu, tradisi kultural yang lekat dengan kehidupan orang Cina, merupakan faktor penetralisir, serta pendorong upaya pencerahan bagi kehidupan yang jauh lebih baik.

Bagi orang Cina sendiri keberadaan faktor ekonomi secara otomatis merupakan faktor pendukung majunya pendidikan (kemajuan intelektual). Filsafat Timur dianggap lebih magis dan bersifat irasional. Namun, ajaran Confusianisme yang termasuk filsafat Cina ini yang sebenarnya bukan aliran agama, tetapi aliran falsafah hidup yang tidak mengesampingkan dasar-dasar kepercayaan lama, sehingga mampu memelihara kerukunan dan kesejahteraan dalam negeri Cina dalam waktu tak kurang dari dua ribu tahun.
Orang Barat mengangap filsafat pemikiran Timur terutama Cina tidak selalu bersifat rasio (irasional), namun dari uraian pengaruh confusianisme di atas terlihat jelas bahwa pemikiran confusianisme ini bersifat nalar rasional karena pemikiran ini sesuai dengan kehidupan sehari-hari orang Cina.

Namun, pendapat tersebut bisa dibantah ternyata pada masa kejayaan Eropa 300 tahun yang lalu, banyak sarjana dan kaum intelektual terinspirasi oleh ajaran Khonghucu. salah satu diantara mereka adalah Gottfried Wilhelm Von Leibniz, bahkan mengusulkan pada tahun1689 suatu program pertukaran budaya Timur-Barat, mungkin usul pertukaran budaya ini merupakan pertukaran pertama internasional. dari pertukaran budaya diatas terlihat bahwa sekarang ini filsafat cina tidak lagi magis dan Irrasional, malahan filsafat Confusianisme ini bisa mempengaruhi perkembangan pemikiran di dunia.

b. Taoisme
Taoisme diajarkan oleh Lao Tse (“guru tua”) yang hidup sekitar 550 S.M. Lao Tse melawan Konfusius. Menurut Lao Tse, bukan “jalan manusia” melainkan “jalan alam”lah yang merupakan Tao. Tao menurut Lao Tse adalah prinsip kenyataan objektif, substansi abadi yang bersifat tunggal, mutlak dan tak ternamai. Ajaran Lao Tse lebih-lebih metafisika, sedangkan ajaran Konfusius lebih-lebih etika. Puncak metafisika Taoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tao. Kesadaran ini juga dipentingkan di India (ajaran “neti”, “na-itu”: “tidak begitu”) dan dalam filsafat Barat (di mana kesadaran ini disebut “docta ignorantia”, “ketidaktahuan yang berilmu”).

Taoisme di sini adalah 道家 Daojia (=filsafat Jalan/Tao). Mula-mula oleh Sima Tan aliran ini disebut 道德家 Daodejia (filsafat jalan dan kebajikan), belakangan disebut Daojia. Harap dibedakan pengertiannya dengan 道教 Daojiao (agama Tao). Umumnya keduanya sama2 ditulis dalam bahasa Inggris sebagai Taoism. Daojia juga harus dibedakan dengan 道學 Daoxue, yang merupakan aliran kebangkitan Rujia baru yang muncul ketika Dinasti Song. Oleh orang Barat Daoxue disebut Neo-Confucianism.
Sebagai suatu ajaran filosofis, Taoisme terus berkembang sampai abad kedua sebelum Masehi. Filsafat Taoisme juga terdiri dari aliran Chuang Tzu dan Huang Lao. Di dalam ajaran-ajaran awal tentang Taoisme ini, Tao dipandang sebagai “sumber yang unik dari alam semesta dan menentukan semua hal; bahwa semua hal di dunia terdiri dari bagian yang positif dan bagian yang negatif; dan bahwa semua yang berlawanan selalu mengubah satu sama lain; dan bahwa orang tidak boleh melakukan tindakan yang tidak alami tetapi mengikuti hukum kodratnya.” Sikap pasrah terhadap hukum kodrat dan hukum alam ini disebut juga sebagai wu-wei.
Di dalam masyarakat Cina kuno, filsafat dan agama belumlah dibedakan secara tegas. Sejak Taoisme mulai dikenal di dalam dunia berbahasa Inggris, pembedaan antara Taoisme sebagai filsafat dan Taoisme sebagai agama belumlah ada. Pada pertengahan 1950, para ahli sejarah dan Filsafat Cina berpendapat bahwa ada perbedaan tegas di antara keduanya, walaupun memang keduanya berdiri di atas tradisi yang sama. Marcel dan Granet dan Henri Maspero adalah orang-orang yang melakukan penelitian mendalam di bidang ini.
Memang, ada keterkaitan erat antara filsafat Taoisme dan agama Taoisme. Para filsuf Tao sendiri dianggap sebagai pendiri Taoisme, baik sebagai filsafat maupun sebagai agama. Buku paling awal yang memuat ajaran Tao ini berjudul Classic of Great Peace (T’ai-p’ing Ching) yang dianggap merupakan tulisan tangan langsung dari Lao Tzu. Dalam arti tertentu, Lao Tzu sendiri seringkali dianggap sebagai „dewa“. Ia punya beberapa julukan, seperti „Saint Ancestor Great Tao Mysterious Primary Emperor“, dan „Yang memiliki status sebagai Dewa“ (The Divine) itu sendiri.
Perbedaan dasar antara filsafat Taoisme dan agama Taoisme juga terletak pemahaman tentang tujuan dari keberadaan manusia itu sendiri. Para filsuf Taois berpendapat bahwa tujuan setiap orang adalah mencapai transendensi spiritual. Oleh sebab itu, mereka perlu menekuni ajaran Tao secara konsisten. Sementara, para pemuka agama Taoisme berpendapat bahwa tujuan setiap manusia adalah untuk mencapai keabadian, terutama keabadian tubuh fisik (physical immortality) yang dapat dicapai dengan hidup sehat, sehingga bisa berusia panjang. Pada titik ini, kedua ajaran Taoisme ini berbeda secara tajam. Para filsuf Taoisme berpendapat bahwa usia panjang itu tidaklah penting. “Hanya orang-orang yang tidak mencari kehidupan setelah mati”, demikian tulis Lao Tzu di dalam Tao Te Ching pada bagian ke-13, “yang lebih bijaksana di dalam memaknai hidup.” Di dalam beberapa tulisannya, Chuang Tzu menyatakan, “Orang-orang Benar pada masa kuno tidak mengetahui apapun tentang mencintai kehidupan, dan mereka juga tidak mengetahui apapun tentang membenci kematian.” Lao Tzu juga menambahkan, “Hidup dan mati sudah ditakdirkan – sama konstannya dengan terjadinya malam dan subuh… manusia tidak dapat berbuat apapun tentangnya.”
Jelaslah bahwa para filsuf besar Taoisme menyatakan bahwa orang tidaklah perlu untuk memilih antara kehidupan atau kematian. Alih-alih hidup di dalam keresahan di antara keduanya, orang harus melampaui perbedaan di antara keduanya. “Sikap transenden dari filsafat Taoisme terhadap hidup dan kematian”, demikian tulis Xiaogan, “…..adalah mengikuti alam dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang tidak alamiah”. Sikap mengikuti alam disebut juga sebagai tzu-jan, dan sikap pasif dengan tidak melakukan tindakan-tindakan yang tidak alami disebut juga sebagai wu-wei. Kontras dengan itu, Taoisme sebagai agama justru menekankan pentingnya keabadian jiwa sebagai prinsip utama.
Filsafat Taoisme dan agama Taoisme juga berbeda pendapat tentang bagaimana seharusnya orang bersikap di hadapan penguasa politik. Filsafat Taoisme menolak tradisi (antitraditional) dan berupaya melampaui nilai-nilai yang diakui bersama. Lao Tzu dan Chuang Tzu bersikap kritis terhadap penguasa pada jamannya, dan juga terhadap nilai-nilai Konfusianisme tradisional. Mereka berdua berpendapat bahwa masyarakat akan jauh lebih baik, jika semua bentuk aturan, moralitas, hukum, dan penguasa dihapuskan. Di sisi lain, para pemuka agama Taoisme sangat menghormati penguasa dan aturan-aturan Konfusianisme. “Orang-orang yang hendak memiliki keabadian”, demikian tulis Ko Hung (284-343), seorang pemuka agama Taoisme, “haruslah menempatkan kesetiaan kepada penguasa dan kesalehan yang tulus kepada orang tua mereka… sebagai prinsip dasar.” K’ou Ch’ien Chih, seorang pemuka agama Toaisme lainnya, juga berpendapat bahwa setiap orang haruslah mempelajari Konfusianisme, serta secara aktif membantu kaisar di dalam mengatur dunia.
Agama Taoisme memang memberikan perhatian besar pada kepentingan-kepentingan praktis yang bersifat temporal. Jika filsafat Taoisme lebih bersifat individualistik dan kritis, maka agama Taoisme dapat dipandang sebagai ajaran yang lebih bersifat sosial dan praktis. Dalam arti ini, para filsuf Taoisme memiliki pengertian-pengertian yang agak berbeda tentang konsep-konsep dasar Taoisme, seperti wu-wei, Tao, dan te, jika dibandingkan dengan pengertian para pemuka agama Taoisme.

c. Yin-Yang
“Yin” dan “Yang” adalah dua prinsip induk dari seluruh kenyataan. “Yin” itu bersifat pasif, prinsip ketenangan, surga, bulan, air dan perempuan, simbol untuk kematian dan untuk yang dingin. “Yang” itu prinsip aktif, prinsip gerak, bumi, matahari, api, dan laki-laki, simbol untuk hidup dan untuk yang panas. Segala sesuatu dalam kenyataan kita merupakan sintesis harmonis dari derajat Yin tertentu dan derajat Yang tertentu.

d. Moisme
Aliran Moisme didirikan oleh Mo Tse, antara 500-400 S.M. Mo Tse mengajarkan bahwa yang terpenting adalah “cinta universal”, kemakmuran untuk semua orang, dan perjuangan bersama-sama untuk memusnahkan kejahatan. Filsafat Moisme sangat pragmatis, langsung terarah kepada yang berguna. Segala sesuatu yang tidak berguna dianggap jahat. Bahwa perang itu jahat serta menghambat kemakmuran umum tidak sukar untuk dimengerti. Tetapi Mo Tse juga melawan musik sebagai sesuatu yang tidak berguna, dan oleh karenanya dianggap jelek. Etika Mo Tse mengenal prinsip yang antara lain dalam agama kristen disebut kaidah emas: setiap orang harus memperlakukan negara-negara asing seperti tanah air sendiri, keluaga lain seperti keluarga sendiri, orang lain seperti dirinya sendiri. Perintah ini cukup untuk mencapai kebahagiaan dan kemakmuran umum.

Sekolah Mo berakar dari para pendekar yang kehilangan posisi/jabatannya di kerajaan dan kemudian menjadi pengembara (游侠/ yóuxiá). Adapun perbedaan pendapat anatara konfusianis dan mohis adalah sebagai berikut: Para Konfusianis mementingkan relasi yang tepat (Lǐ, tanpa memikirkan keberuntungan. Dari segi moral atau pendirian, para Konfusianis mengutamakan kebenaran dan kemurnian, tanpa menghitung keberhasilannya. Penganut Mo Tzŭ lebih pragmatis. Mereka mengutamakan secara khusus keberuntungan (Lì) dan pencapaian (Kung). Dari bab ke-35 Mo Tzŭ mengatakan:
“penilaian standar harus dilakukan… Tanpa standar ini, pembedaan antara betul salah, keberuntungan (li) dan keburukan, tidak bisa dilakukan. Maka setiap penilaian harus diverifikasi… tentang dasarnya (adakah ia berdasarkan pola tindakan raja-raja kuno yang bijaksana), pembuktiannya (adakah ia terbukti penting lewat keberuntungan bagi rakyat jelata), dan aplikasinya (apakah memberi keberuntungan pada negara dan rakyat…”

Dengan demikian, tolok ukur kebenaran sebuah prinsip menurut Mo Tzŭ adalah seberapa besar keberuntungan yang diberikan kepada negara dan rakyat jelata. Segala sesuatu harus berguna, dan semua prinsip harus bisa diaplikasikan supaya menyumbang sesuatu nilai secara mandiri. Maka sesuatu prinsip yang tidak bisa diejawantahkan nilainya, ataupun tidak bisa diajarkan secara efektif kepada manusia lain untuk mengejawantahkan nilainya, hanya rasio belaka. Tetapi pendirian Mo Tzŭ ini bertabrakan dengan idealisme Konfusianis, yang mengutamakan pembentukan moralitas yang mendukung tindakan seseorang, supaya bertindak mengikut apa yang benar, dan bukan mengikut apa yang lebih bermanfaat.

e. Ming Chia
Ming Chia atau “sekolah nama-nama”, menyibukkan diri dengan analisis istilah-istilah dan perkataan-perkataan. Ming Chia, yang juga disebut “sekolah dialektik”, dapat dibandingkan dengan aliran sofisme dalam filsafat Yunani. Ajaran mereka penting sebagai analisis dan kritik yang mempertajam perhatian untuk pemakaian bahasa yang tepat, dan yang memperkembangkan logika dan tatabahasa. Selain itu dalam Ming Chia juga terdapat khayalan tentang hal-hal seperti “eksistensi”, “relativitas”, “kausalitas”, “ruang” dan “waktu”.

f. Fa Chia
Fa Chia atau “sekolah hukum”, cukup berbeda dari semua aliran klasik lain. Sekolah hukum tidak berpikir tentang manusia, surga atau dunia, melainkan tentang soal-soal praktis dan politik. Fa Chia mengajarkan bahwa kekuasaan politik tidak harus mulai dari contoh baik yang diberikan oleh kaisar atau pembesar-pembesar lain, melainkan dari suatu sistem undang-undang yang keras sekali.

g. Mencius dan Xunzi
Konfusianisme bermula dari ajaran Konfusius, tetapi kemudian dibangun dan dikembangkan oleh Mencius dan Xunzi. Seperti Konfusius, Mencius mendasarkan ajarannya pada Ren, tapi ia menyatakan bahwa untuk membina Ren harus dikembangkan yi atau kebaikan. “Yang disimpan dalam hati adalah ren, yang dipakai dalam tindakan adalah yi.” Jadi, ren adalah prinsip tepat untuk mengawasi gerak internal, sedangkan yi adalah cara tepat untuk membimbing tindak eksternal.

Mencius mengritik Mohisme mengenai tata hubungan relasi. Mo Tzu mengabaikan hierarki ini dengan menekankan kesamaan kedudukan dalam relasi. Yang Tzu lebih menekankan diri sendiri. Ia menunjukkan bahwa karna tidak adanya hierarki ini dan menekankan diri sendiri, Yang Tzu telah menentang rasa kemanusiaan dan keadilan yang arah nyatanya peduli pada orang lain. Pada Mo Tzu tidak ada gradasi cinta (no gradations of greater or lesser love). Lebih lanjut lagi, Ia menekankan Sistem Keluarga yang diungkap Confusius; yaitu sistim masyarakat Tionghoa, ada 5 jenis hubungan yaitu Raja-Menteri, Ayah-Anak, Suami-Istri, Kakak-Adik, teman-teman.

Penggalang Konfusianis lainnya adalah Xunzi. Dia adalah eksponen prinsip prinsip Konfusius, tapi pengkritik Mencius. Bila Mencius dapat dikatakan sebagai wakil dari sayap idealistic, maka Xunzi merupakan wakil dari sayap realistic, karena ia menekankan control social dan kodrat manusia itu buruk.

h. Daoisme
Lao Zi dan pengikutnya menduga bahwa ada yang salah dalam hakekat masyarakat dan peradabannya. Mereka menganjurkan rakyat Cina untuk membuang semua pranata dan konvensi yang ada. Mereka percaya bahwa manusia yang dulu mempunyai suatu sorga kemudian hilang karena kekeliruannya sendiri, yaitu karna ia mengembangkan peradaban. Menurut Lao Zi dan pengikut pengikutnya, cara terbaik untuk hidup adalah menarik diri dari peradaban dan kembali kepada alam, dari keadaan beradab ke keadaan alami. Inilah jalur pemikiran naturalistic yang dikenal sebagai Daoisme yang menjunjung tinggi Dao dan alam.

Para penganut Daois memandang alam sebagai tempat mereka menarik diri, mencita citakan hidup sederhana, dengan wu wei sebagai inti ajaran mereka. Tetapi karena diantara mereka ada perbedaan dalam hal menafsirkan konsep Dao, muncullah dua anak aliran. Yang satu dipelopori oleh Zhuang Zi, yang lainnya dipelopori oleh Yang Zhu.

Sementara itu, Chuang Tzu memandang Dao sebagai totalitas dari spontanitas segala sesuatu di alam semesta ini. Semua hal harus dibiarkan berkembang sendiri, secara alami dan spontan, Akan tetapi Yang Tzu berpendapat bahwa Dao adalah suatu kekuatan fisis yang buta. Dao menghasilkan dunia tidak atas dasar perencanaan atau kehendak, tetapi atas dasar keniscayaan atau kebetulan. Pendapat ini merupakan pendapat yang mewakili kaum materialistic Daoisme. Apapun perbedaannya, ajaran ajaran mereka menekankan bahwa manusia harus cocok dan serasi dengan kodratnya dan puas dengan apa adanya.

i. Han Fei Zi
Dalam Kitab han Fei Zi kita temukan suatu sintesa bulat dari gagasan kaum Legalis berasal dari ajaran shi menurut Shen Dao, ajaran shu menurut Shen Buhai, dan fa menurut Shang Yang. Han Fei memakai teori Xunzi tentang kodrat manusia dalam upayanya mempertahankan bahwa hukum dan peraturan itu esensial dalam menjaga tatanan social dan perdamaian .Han Fei juga memakai doktrin wu wei dari Laozi bagi prinsip politiknya bahwa roda pemerintahan yang memakai hukum yang terperinci harus berfungsi sendiri, tidak perlu ada campur tangan penguasa. Dengan demikian menandakan bahwa mereka bertentangan langsung dengan kaum konfusianis, yang menekankan nilai nilai etis dan pengaruh manusia.

Menurut Sima Tan (meninggal tahun 110 SM), keenam sekolah klasik tersebut kadang dikatakan mereka berasal dari keenam golongan dalam masyarakat Cina, yang terdiri dari:
a. Rujia: kaum ilmuwan
b. Daojia: kaum pertapa
c. Yinyangjia: para ahli ilmu gaib
d. Mojia: kaum ksatria
e. Mingjia: para pendebat
f. Fajia: ahli-ahli politik

2. Zaman Neo-Taoisme dan Buddhisme (200 S.M.-1000 M.)
Bersama dengan perkembangan Buddhisme di Cina, konsep Tao mendapat arti baru. Tao sekarang dibandingkan dengan “Nirwana” dari ajaran Buddha, yaitu “transendensi di seberang segala nama dan konsep”, “di seberang adanya”. Transendensi merupakan dasar dari dua unsurnya yang lain. Transendensi hendak menjadikan nilai-nilai transendental (keimanan) sebagai bagian penting dari proses membangun peradaban. Transendensi menempatkan agama pada kedudukan yang sangat sentral.

3. Zaman Neo-Konfusianisme (1000-1900)
Dari tahun 1000 M. Konfusianisme klasik kembali menjadi ajaran filsafat terpenting. Buddhisme ternyata memuat unsur-unsur yang bertentangan dengan corak berpikir Cina. Kepentingan dunia ini, kepentingan hidup berkeluarga dan kemakmuran material, yang merupakan nilai-nilai tradisional di Cina, sema sekali dilalaikan, bahkan disangkal dalam Buddhisme, sehingga ajaran ini oleh orang dianggap sebagai sesuatu yang sama sekali asing.

Neo-Konfusianisme adalah bentuk Konfusianisme yang terutama dikembangkan selama Dinasti Song, tetapi aliran ini mulai nampak ke permukaan sudah sejak zaman dinasti Tang lewat Han Yu dan Li ao. Mereka membuka cakrawala baru Neo-Konfusianisme, yaitu dimensi kosmologis dalam refleksi mereka. Zhou Dunyi merupakan tokoh yang tak boleh dilupakan. Kosmologi Zhou Dunyi merupakan pengembangan butir-butir ajaran Apendiks dari Kitab Yi Jing dan dia memakai diagram daois untuk ilustrasi dan membentuk ‘Tai Ji Tu dan Tai JI Shuo-nya. Selain Zhou Dunyi masih ada Shao Yong (kosmologis lain yang mengembangkan ajarannya berdasar juga Apendiks dari Kitab Yi Jing. Bedanya dengan Zhuo dia memakai 64 hexagram Yi Jing). Sementara Zhang Zhai (kosmologis lain yang juga mengembangkan ajarannya berdasar juga Apendiks dari Kitab Yi Jing. Namun dia menekankankan dan mengolah lebih jaug gagasan Qi). Mewarisi ‘ke-satu-an’ dari segala dari Zhang Cai, itu yang dikembangkan Cheng Hao menjadi filsafatnya. Ren = rangkuman dari: Yi, Li, Zhi dan Xin, pahami itu dan tempa-tumbuhkan dengan ketulusan dan kecermatan, itulah segalanya. Secara metafisis ada kesatuan antara semua yang ada. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Lu Jiuyuan dan Wang Yangming yang pada akhirnya membentuk sekolah Lu wang.

4. Zaman Modern (setelah 1900)
Sejarah modern mulai di Cina sekitar tahun 1900. Pada permulaaan abad kedua puluh pengaruh filsafat Barat cukup besar. Banyak tulisan pemikir-pemikir Barat diterjemahkan ke dalam bahasa Cina. Aliran filsafat yang terpopuler adalah pragmatisme, jenis filsafat yang lahir di Amerika Serikat. Setelah pengaruh Barat ini mulailah suatu reaksi, kecenderungan kembali ke tradisi pribumi. Terutama sejak 1950, filsafat Cina dikuasai pemikiran Marx, Lenin dan Mao Tse Tung.

Inilah sejarah perkembangan filsafat China, yang merupakan filsafat Timur. Yang termasuk kepada filsafat Barat misalnya filsafat Yunani, filsafat Helenisme, “filsafat Kristiani”, filsafat Islam, filsafat jaman renaissance, jaman modern dan masa kini.

E. Pemikir-Pemikir Aksial dan Formasi Sekolah-Sekolah Filsafat
Perkembangan filsafat Cina pada periode dari tahun 475-221 SM merupakan sebuah proses kreatif dimana dua tradisi kebudayaan muncul sebagai respons atas perubahan sosial dan politik saat itu. Humanisme politis dan naturalisme organik adalah dua posisi tipikal sebagaimana lebih lanjut dikembangkan dalam konfusianisme dan Daoisme.

Mencius mengindentifikasikan persoalan sentral waktu sebagai stabilitas politis dan sosial (ding). Persepsinya dan wawasannya dalam persoalan ini adalah bahwa dunia ini akan “distabilisasikan oleh being unified” (ding-yu-yi). Persoalannya adalah bagaimana dunia ini disatukan dan ditata menurut sebuah sistem prinsip-prinsip, contohnya: tatanan Zhou atau Li.

Selain itu, dikatakan pula bahwa legalisme berkembang dari penyatuan dan perbandingan berbagai sekolah filsafat pada awal-awalnya, seperti konfusianisme, Mohisme, Daoisme. Dari konfusianisme berupa pengontrolan massa dengan otoritas dan doktrin tentang alam jahat manusia (Hsun Tzu), dari Mohisme berupa prinsip kesamaan dan utilirianisme, dari Daoisme berupa prinsip-prinsip non-aksi (wu-mei). Faktor terpenting dari pemikiran legalis adalah pertimbangan dari kebutuhan mendesak untuk pemerintahan yang tersentralisasi dan tersatukan. Selain empat sekolah tersebut, dalam periode Cina klasik juga muncul nama-nama sekolah, seperti sekolah Yin-Yang Wu-Xing, sekolah strategi Militer (Bing Jia), sekolah agronomi (Nung Jia) dan sekolah Diplomatik (Zong Heng Jia).

Sekolah-sekolah filsafat ini mengetengahkan sebuah transformasi nilai-nilai dan sebuah rekonstruksi tradisional, penciptaan standard baru ataupun paradigma baru. Karl Jaspers menyebutnya sebagai abad aksial. Para filsuf yang dikenal berpengaruh pada periode klasik sejarah cina ini adalah para pemikir aksial. Mereka menanggapi secara kritis abad mereka dan terhadap dunia waktu mereka, dan yang mengembangkan arah-arah dan visi-visi pada sebuah transformasi nilai untuk seluruh kemanusiaan. Ini adalah sebuah integrasi kreatif dari li dan tradisi zhi. Apa yang disebut kreatif dalam wawasan mereka itu ditarik dari keterlibatan eksistensial mereka dalam dunia dan kemnausiaan.

Beberapa ciri dari “pemikir aksial”:
1. Mereka disebut pemikir aksial apabila mereka memikirkan bagi dunia, sebuah keseluruhan masyarakat, kelas sosial, sebuah lokalitas khusus dan dirinya.
2. Mereka mampu untuk menancapkan pengaruhnya pada generasinya dan generasi sesudahnya dalam sebuah cara yang alami dan spontan. Tidak ada manuver politik dalam mempengaruhi masyarakat. Pengaruh tersebut muncul melalui jalur sosial dan kultural seperti: mengajar, lecturing dan percakapan atau dialog dalam sebuah lingkungan intelektual ataupun yang berbasiskan akademis.

Ada beberapa macam tanggapan kritis di antara para filosof, yang mana masing-masing mempresentasikan sebuah tindakan kritik dan evaluasi atas realitas sosial dan politik.
1. Tipe pertama tanggapan kritis adalah melepaskan realitas sosial dan politik dan dalam pengertian untuk mengatasi realitas sosial politik untuk sesuatu yang sungguh memang bersifat utopia
2. Tipe kedua adalah tanggapan konfusian atas rekonstruksi. Dalam basis pengalaman kulturalnya dan refleksi historisnya, konfusius melihat adanya nilai yang menekankan kembali tradisi li. Konfusius juga menekankan soal eksistensi dan kekuatan ren, kekuatan dari transformasi moral atas individu manusia dalam relasinya dan transaksi dengan yang lainnya. Ren dalam filsafat konfusius berarti kualitas yang menegaskan kemanusiaan yang mempunyai kekuatan untuk mengembangkan kemanusiaan dari pusat seorang individu ke sebuah komunitas melalui hubungan manusia yang tertata dengan baik dan atas pertemanan yang harmonis.

Konfusius mengubah political ren ke dalam suatu moral and human ren. Ada 3 point yang ditunjukkan. Yang pertama, belas kasih dan kebajikan terhadap orang-orang secara umum diperluas dengan melibatkan unsur perasaan dan tindakan pribadi individu dalam masyarakat. Yang kedua, bukanlah penguasa itu sendiri yang mampu untuk mempraktekan ren atau yang harus mempraktikannya. Semua manusia mampu mempraktekkannya dan harus mempraktekannya supaya lebih manusiawi dan dimanusiakan. Yang ketiga, ren harus dipandang sebagai kekuatan batin dari seorang pribadi manusia, yang dapat dilatihkan dan yang membutuhkan adanya perhatian yang konstan supaya dapat tumbuh ke dalam sebuah kesempurnaan.

Terkait dengan li (praktek), yi adalah esensi dari tindakan li. Dalam relasinya dengan yi, li adalah realisasi dari pemikiran akan yi. Dalam relasinya dengan ren, yi adalah objektivikasi dari ren. Dalam relasinya dengan yi, ren adalah kekuatan yi yang memotivasi. Dengan demikian, ren adalah bentuk yang paling konkret dan sempurna dari semua nilai keutamaan dan merupakan integrasi dari semua keutamaan

F. Penutup
Demikianlah perjalanan sejarah Filsafat Cina yang coba dirunut. Begitu banyak kelemahan serta (mungkin) kesalahpahaman dalam memahami sejarah filsafat ini yang memang tidak mudah apalagi begitu banyak istilah asing yang digunakan. Namun penulis mencoba semaksimal mungkin untuk menguraikan dengan baik bagaimana perjalanan ini mulai dari abstraksi dinasti Zhou hingga Neo konfusianisme. Pengaruh ajaran mereka memainkan peranan penting sepanjang sejarah Cina bahkan hingga sekarang. Meski terdapat sikap saling kritik antara filsuf satu dengan lainnya hal tersebut nyatanya telah membentuk suatu atmosfer pemikiran Cina secara keseluruhan.

Daftar Pustaka
1. Creel, H. G. Chinese Thought from Confusius to Mao Tse tung. 1953. Chicago: The University of Chicago Press.
2. Yu-Lan, Fung. A History of Chinese Philosophy, vol. I & II. 1952. Princeton: Princeton University Press.
3. ———. Short History of Chinese Philosophy. 1948. New York: The Free Press.
4. Liu, JeeLoo. An Introduction to Chinese Philosophy – From Ancient Philosophy to Chinese Buddhism. 2006. Blackwell Publishing.

SUKSES MENANGGULANGI KESALAHAN MANAJEMEN


  • SIKAP YANG BENAR

Belajar dari kesalahan hanya dapat dimulai dari cara berfikir yang positif. Cara mengubah kesalahan menjadi sesuatu yang benar dengan cara:
1. Sikap yang tidak menyalahkan
Apabila terdapat suatu masalah di dalam suatu manajemen perusahaan bukan berarti perusahaan tersebut melakukan hal yang gagal, justru dengan tim dari perusahaan tersebut melakukan kesalahan, sejujurnya itu merupakan pembelajaran. Sehingga masing masing anggota tahu bahwa hal tersebut tidak harus menyalahkan satu sama lain, karena tidak ada sistem yang di buat manusia yang terbebas dari kesalahan. Dari hal tersebut kita dapat mengira hal hal yang menyebabkan suatu masalah, di antaranya:
1. Selalu menganggap gampang
2. Karena rapat yang salah
3. Kesalahan yang bukan disebabkan karena rapat
4. Karena ada dari partai luar
5. Kesalahan mekanik
6. Mis-komunikasi
7. Kehendak tuhan.
Hal tersebut bisa digunakan sebagai alat untuk menganalisa suatu permasalahan. Dalam hal ini manajer akan mengambil tindakan yang sesuai prosedur yang berlaku, tidak juga mengambil pintas, tapi membutuhkan pelajaran yang expert  di bidang ini. Seorang menejer bisa mengambil langkah yang tepat untuk karyawannya ini:
• Di latih
• Di kompensasi
• Di  toleransi
• Di netralisir.

2. Sisi yang cemerelang

Dengan selalu menggunakan uang apabila mendapati masalah adalah hal yang tidak patut untuk dilakukan, serta membiarkan kebencian antar karyawan karena apa yang diduga keras kadang kali yang benar benar salah karena terjadinya hal yang tidak benar. Kadang kali tidak adanya transfaransi dalam menyampaikan suatu berita yang terjadi sehingga akan berujung negative thinking di antara para pegawai. Selain itu adanya rasa pesimis, ini yang kadang kala sulit diatasi karena rasa ini sulit untuk dicadangi.
3.Tindakan yang menyerang
Menjadi penyerang dapat dilakukan dengan mudah oleh kebanyakan orang, demikian juga untuk bertahan. Apabila seorang manajer tidak adil terhadap bawahannya, tidak menutup kemungkinan adanya penyerangan dari bawahan.
4. Biarkan berlalu
Apabila ada seorang melakukan kesalahan, maka tidak harus di judge secara terus terus an, maksudnya diperlakukan berbeda, maka ini akan menyebabkan stress nya seorang karyawan tersebut, hokum lah ia lalu perlakuakan seperti hal nya sebelumnya.
5.Buatlah pengecualian
Manajemen dengan pengecualian mengansumsikan sebagian tugas dilakukan dengan benar dan tepat waktu, menejer hanya boleh cemas dengan sesuatu yang tidak dan tidak akan. Ini merupakan prinsip yang sederhana dan efektif.
6.Lama dan pendeknya
Salah satu perbedaan menyolok antara menejer dengan pegawai yang lain adalah menejer dibayar untuk melihat hasil jauh kedepan dan memiliki pandangan lebih luas terhadap kegiatan perusahaan.
7.Keberuntungan
Pemimpin sering disebut orang yang beruntung, ada kecendurungan yang sama dalam industry. Pegawai, pers, dan pemilik saham mengembangkan perasaan yang hangat terhadap menejer senior dan direktur yang secara konsisten memiliki sikap menyenakngkan, biasanya menereka menampilkan sikap yang merasa orang beruntung.
8.Meja yang bersih
Pernyataan dari meja bersih ini maksudnya, pencerminan pada pendekatan yang meningkatkan gairah kerja.

  • ORANG YANG TEPAT

Bisnis melibatkan uang dan orang, sumber daya manusia biasanya sama pentingnya dengan keuangan, dan menejer perlu untuk memiliki keahlian untuk mengatur orang juga keahlian menangani keuangan.
Mengatur orang memang ada dan nyata, banyak yang dituntut di sini. Memahami kebutuhan sudah merupakan lebih dari separuh pertarungan.dengan memiliki orang orang yang tepat berarti memiliki pendekatan yang tepat dalam penyeleksian staf.

Hasil penelitian tentang penyeleksian terhadap sebuah organisasi, dan mereka mendapatkan rata rata kesalahan yang paling buruk diantara perusahaan yang profesional.

  • Hindari seleksi

1. Anggap saja lowongan ada tanpa beban kerja yang akan datang yang mungkin akan merusak.
2. Pilihlah pegawai tetap di saat puncak beban kerja sedang tidak tetap dan dapat diduga sebelumnya.
3. Kegagalan dalam memeriksa sepenuhnya .
4. Kegagalan bahwa setiap orang sesungguhnya butuh pekerjaan,

  • Analisa pekerjaan

1. Kesalahan untuk memperoleh keseimbangan yang benar antara timbal balik calon yang dibutuhkan dan daya muat pekerjaan
2. Kelompokan calon yang ideal daripada kebutuhan minimum
3. Kegagalan untuk mengenali pada langkah ini bahwa kompromi dari keidealan memang perlu.

  •  Iklan, dan sejenisnya

1. penulisan iklan yang menggugah minat yang tidak dapat didukung dalam wawancara.
2. Keyakinan sepenuhnya bahwa hokum alam tidak menempatkan iklan menjadi milik seseorang.
3. Rubahlah iklan , melawan nasehat dan kemudian salahkan penasehat akan kesalahannya.
4. Catat dalam media lawan nasehat dan menyalahkan penasehat
5. Menuntut kelengkapan dari bentuk aplikasi ketika daftar riwayat hidup yang baik tersedia.

  • Pemilihan dan penggunaan sumber

1. Pemberian nomor kontak tanpa memberikan informasi yang cukup bagi calon yang potensial untuk mengetahui mereka tidak sedang menulis untuk dirinya sendiri,
2. Penggunaan sumber saingan tanpa menasehatkan bahwa mereka sedang bersaing.
3. Menjalankan pasar dengan iklan yang buruk.
4. Penggantian konsultan penyelidik dalam bidang khusus yang erat hubungannya.
5. Pemansangan iklan suatu pekerjaan yang dapat di identifikasi untuk mengetes pasar.

  • Orang yang di proses wawancara penutupan penjualan

Langsung
1. Jawaban yang lambat dari suatu lamaran berarti kehilangan calon pegawai
2. Inisiatif yang lambat dari program wawancara berarti akan kehilangan orang
3. Waktu wawancara yang tidak tepat akan mengakibatkan kehilangan orang
4. Menganggap bahwa calon tidak tertarik jika mereka tidak datang pada saat wawancara.
Melalui konsultan
1. Tolaklah orang yang disarankan untuk wawancara tanpa berbicara dengan sumbernya.
2. Penolakan orang dari agen ya g berada dalam jajaran penggambaran agen yang berasal dari agen lain.

  • Wawancara

1. Pertanyaan bagi jawaban yang berbelit belit untuk mengesahkan pertanyaan calon
2. Datang terlambat, mabok, atau pemarah dalam wawancara
3. Menggunakan pewawancara pengganti yang tidak ada kaitannya,
4. Gagal untuk mengecek pada akhir wwancara apakah calon masih berminat
5. Menganggap calon yang diajukan oleh konsultan kurang memuaskan
6. Lupa menjelaskan bahwa bungalow indah yang ditawarkan telah dilengkapi dengan pelindung dari peluru
7. Memberikan data dan menawarkan data.
8. Menggambarkan keadaan gaji.

  • Penutupan penjualan

1. Anggaplah bahwa karena calon mengatakan suka pada anda, pekerjaan dan perusahaan, mereka akan menunggu dengan waktu yang tak tentu, bagi penawaran tersebut.
2. Tawaran yang dingin, acuh dan formal akan kehilangan calon sering untk mrreka yang kurang cerdas .
3. Penawaran dibuat tanpa pemikiran atau pembicaraan, yang cukup mengenai gaji,
4. Menjadi gusar untuk pertanyaan pertanyaan terakhir
5. Gagal dalam mengecek izin pekerjaan cukuo tepat,
6. Mengenali bahwa calon yang lebih dulu dapat melakukan pekerjaan namun mennggu dan mengharapkan yang lebih.

  • Pelantikan

Pelamar datang menemukan:
1. Ruangan tidak ada
2. Meja, mobil, pegawai, pekerjaan dsb tdk ada
3. Tidak ada lowongan
4. Yang mendahului msh ada disana
5. Boss/susunan/lokasi/perusahaan induk yang baru
6. Tak seorangpun yang mengharapkannya
7. Tidak ada bayaran
8. Tidak ada program induksi
9. Tidak ada perusahaan

  •  Persewaan untuk mendapatkan keuntungan

Terlalu banyak keputusan menyewa dilakukan tanpa memperhitungkan keuntungan yang ppotensial untuk dicapai dari penampilan pekerjaan, lebih buruk lagi biaya yang potensial juga di abaikan, mungkindi sebabkan beberapa masalah seperti apakah kedepannya akan terus berguna, memikirkan keuntungan dan tanggung jawab akan baliknya suatu modal, maka untuk permasalahan ini harus di adakan anggran biaya ektra,

  • Menjaga pegawai

Pengerahan tenaga adalah mahal, bahkan bila mengurangi biaya langsung sampai yng terendahpun biaya yang tak langsung dan lain sebgainya. Ada salasatu alternative yaitu dengan berusaha lebih keras dalam menjaga pegawai. Menjalankan bisnis dengan pegawai yang memiliki masa jabatan rata rata lima tahun, maka perusahaan bisa menghemat seperlima dari biaya pengerahan tenaga yang diperlukan untuk tiap tahun.

  • Calon adalah pelanggan

perusahaan harus benar benar selektif dalam memilih pegawai baru, ini berlaku bagi perekrutan dalam posisi bawah sampai posisi atas dalam perusahaan.

  • Penandaan

Perusahaan harus memiiki dokumentasi bagi setiap keputusan atau aksi yang dilakukan perusahaan, entah aksi yang biasa aja, semacam olahraga bareng antar pegawai atau lain lain nya.

  • Keberhasilan melalui pergantian

Setiap perusahaan mempunyai rules rules tersendiri, tetapi kadang kala ada rules yang mungkin dilupakan dan tidak tertulis di SOP perusahaan, sehingga rules tersebut sebenarnya berjalan tetapi tidak tertulis, ini biasa nya rules yang di anggap sepele oleh setiap anggota pegawai. Makanyua di adakan training khusus bagi pekerja baru, seperti pengenalan lingkungan dan cara kerja.

  • Angan-angan untuk menduduki jabatan direktur

Setiap perusahaan mempunyai tujuan yang pasti ingin menjadi perusahaan yang maju, begitupun dengan para pegawainya, mereka ingin menapaki karirnya, adakala seorang yang dari posisi bawah bisa menduduki seorang manajer. Atau kadang kala ada yang sudah menduduki posisi atas, dan melakukan kesalahan sehingga perusahaan tidak memecatnya tapi di down grade, atau penurunan level jabatan.

  • Anggaran yang paling penting

Manajer yang baik yaitu manajer yang dapat melihat secara menyeluruh dari bawahan sampai atasan, dalam hal ini pun manajer harus memperhatikan bagian personalia, yang merekrut pekerja baru, biasa nya ada manajer yang tidak mau tahu masalah pembiayaan perekrutan karyawan baru, padahal SDM bukan sepenuhnya tanggung jawab personalia,
 sekretaris
bagi kebanyakan orang menganggap bahwa keberhasilan seorang manajer di sebabkan adanya sekretaris yang membantu kerja sang manajer, padahal ini tidak sepenuhya benar, karena manajer yang mengendalikan sekretaris juga.

MENDATANGKAN UANG
Pekerjaan yang dapat menciptakan keuangan
Tanggung jawab dan kewajiban utama dari pegawai adalah untuk memaksimalkan keuntungan dan kefisienan perusahaan, sebagai alat untuk mencapai tujuan, pegawai ini tentu saja juga termasuk dalam pendanaan, dsb. Tidak ada keuntungan otomatis dalam menjamin keselamatan, kesanggupan melunasi utang, kelangsungan hidup pekerjaan, kelangsungan hidup perusahaan, hubungan industrial yang baikterhadap pelanggan, produk yang baik, informasi menejemen yang baik dan menurut aturan hokum. Semua itu merupakan bagian dari alat untuk mencapai tujuan. Kesnggupan melunasi utang adalah penting namun ini bukan tujuan akhir, atau bisa memberikan injeksi modal.
Ungkapan semua
Apabila ada permasalahan dalam perusahaan hendaknya semua tahu dari kalangan bawahan hingga atasan, contoh permasalahan nya yang harus di ungkapkan antara lain:
1. berapa banyak pengeluaran yang tidak di izinkan untuk tujuan pajak dan dimana kepentingannya.
2. Bagaimana rata rata perusahaan dibandingkan dengan yang harus dicapai didalam pasar uang periode tersebut.
3. Bagaimana hubungannya dengan gerakan harga dibanding indeks FT.
4. Gaji rata rata untuk setiap pegawai dan upah rata rata nasional
5. Pergantian pada laba tiap tiap pegawai.
6. Presentasi pergantian dilakukan oleh 10% pelanggan
Obsesi penetrasi
Beberapa dari manajer yang terbaik terobsesi dengan penetrasi pasar. Mereka tahu ukuran pasar dari tiap tiap produk mereka. Mereka tahu penetrasi mereka terhadap pasar. Terkadang mereka tahu juga figure pesaing yang lain. Staff Penjual sering beranggapan bahwa kebutuhan untuk meningkatkan penjualan didalam pasar yang agak terbatas adalah masalah mereka ya g terbesar. Dalam hal ini ada tiga kasus yang perlu diperhatikan:
1. Juallah kepada orang yang tidak membeli produk atau jasa tersebut sebelumnya.
2. Eksporlah yang lebih banyak
3. Jual kepada mereka dimana penjualan ini tidak di anggap bagian dari pasar resmi.
Pertahanan harga
Masalah harga merupakan persoalan yang buta bagi banyak menejer keuangan dan sebagainya, sebagian besar takut terhadap kolega penjual mereka dan pandangan nya terhadap sensitif ke pasar. Staf keuangan biasanya ingin meningkatkan harga dan staff penjual bilang bahwa ini tidak mungkin karena perhitungan kunci akan dihilangkan.
Banyak manajer yang membayangkan bahwa mereka sudah terlibat dalam latihan pemberian harga produk di saat mereka adalah:
1. Bertahan secara acak ditingkat batas kasar
2. Menjaga proposal pemotongan harga yang di ajukan oleh staf penjual
3. Pemberian harga, melawan harga yang dilakukan oleh pesaing yang produknya tidak menyeluruh atau bahkan tidak kompetitif.
Factor penting yang mempengaruhi keputusan harga meliputi:
1. Tersedianya kapasitas
2. Biaya produksi
3. Harga yang bersaing
4. Penerimaan persaingan pasar
5. Pengaruh pasar yang ada
6. Kebutuhan pasar dalam hal kualitas.

Pergantian kerugian pembayaran
Ada hal yang dapat dilakukan agar bisa bersikap manis terhadap pelanggan. Di dalam bisnis terdapat batas kasar, bagus dan persaingan berapi api, sehingga harus mengumpulkan pelanggan dengan penilaian sangat ketat.

Penderitaan yang timbul
Akusisi adalah pembelian bisnis lain, perusahaan firma atau asset, hak, hak paten, peralatan dan merk dan sebagainya. Dorongan tersebut sebaiknya dilakukan dengan beberapa pertimbangan yang tidak emosional, misalnya:
1. Biaya investigasi sekalipun gagal dapat di pertimbangkan, baik di ukur secara ekternal maupun internal.
2. Aliran uang tunai jangka pendek tidak sesuai dengan anggaran.
3. Kerugian yang tidak diharapkan melebihi keuntungan yang tidak diduga
4. Masalah integrasi selalu di sepelekan
5. Orang yang di inginkan pergi dan orang yang tidak di inginkan tetap bekerja.
6. Penyimpangan antara kedua asset keuntungan pegawai merupakan masalah IR dan menambah biaya
7. Pemegang saham, pers dan perubahan stock biasanya salah mengerti.
8. Masalah kesatuan

Tetap jauhkan perusahaan
Bila muncul keadaan yang berlawanan dengan keinginan untuk tetap tumbuh, hal itu merupakan situasi yang membutuhkan adanya doctor perusahaan. Ini dibutuhkan saat situasi:
1. Situasi kas yang kritis
2. Situasi keuntungan yang kritis
3. Kebutuhan akan adanya penyusunan kembali ataupun rasionalisasi, sering untuk membangunkan tawaran untuk mencegah tawaran yang akan datang.

Manajemen didalam kerugian.
kondisi rugi memiliki keuntungan, mereka menuntut dan mendesak tindakan manajemen dengan cara sama bagusnya dengan kehadirannya, memberikan catatan ancaman. Lebih jelasnya bahwa kebanyakan menejer disaat perusahaan nya mulai goyah, lebih baik melakukan langkah langkah ini:
o Berkonsentrasi
o Menanggulangi bersama
o Janji poliitik
o Taksiran prioritas
o Mencari tujuan kunci
o Melakukan pengorbanan
o Singkirkan hal hal yang sepele
o Membuat keputusan yang tidak menyenangkan
Jika mengerjakan langkah langkah di atas dapat menciptakan ancaman kerugian sebagai senjata taktik didalam gudang menejemen perusahaan.

Panik
Panik potensial melahirkan dorongan untuk bertindak, dan harus bersiap untuk mengambil keputusan dan mengambil keuntungan dari situasi seperti itu, dan menjadikannya sebagai alat untuk membantu langkah berikutnya. Tugas menejer adalah mengambil analisa maslah bawahan yang bimbang dan memanggil mereka kemudian memberikan pengarahan meyakinkan solusi maupun jalan keluar yang meringankan.

Terlalu banyak melakukannya
Apabila seorang menejer melakukan tindakan yang berlebihan , maka akan menyebabkan:

  • Mengambil tindakan terhadap harga
  • Mengambil tidakan terhadap produk
  • Meningkatkan pemasaran.

Ketidakharusan suatu kebutuhan
Proyek berdasarkan pada kebutuhan yang biasanya sudah diduga sebelumnya. Dengan suatu pembatasan menejer dapat memutuskan tujuan alternative dan alat alternative. Menejer yang baik harus mempertegas langkah berjuang keras dan siap menentukan alternative yang membahayakan sekalipun.

Praktek yang terbaik
Bila ada syarat untuk praktek modal yang berdasarkan pada kebutuhan maka aka nada maslah serupa dengan semua pengeluaran berdasarkan pada tujuan yang diduaga keras sebagai praktek modern terbaik. Praktek yang terbaik dapat digunakan sebagai batasan utama yang benar. Bila semuanya baik, praktek yang terbaik seharusnya sebagian besar akan membawa keberhasilan. Namun dua keuntungan ekstra akan didapatkan dari disiplin dan pembatasan yang lebih penuh.

Pelaksanaan tanpa perhitungan
Manajemen modern adalah untuk menjadikan banyak kebutuhan agar lebih baik. Produk dan jasa baru tetap menjaga perusahaan untuk sehat dan antusias, prinsip nya kita harus setuju dengan hal itu. Masalah nya adalah bahwa perubahan dapat menjadi lebih menarik untuk tujuan tertentu. perusahaan harus terus membuat inovasi agar terus bisa bersaing dengan kompetitor yang yang terus mengembangkan inovasi juga.

Perencanaan yang negative
Ada satu alternative bila menejer tidak dapat memutuskan apa yang sedang terjadi, menejer akan mampu merencanakan untuk menghindarinya. Latihan ini dapat menjadi sangat berguna dalam studi akusisi. Jumah waktu yang dihabiskan untuk mencapai akusisi yang mungkin diperoleh berubah menjadi tidak diharapkan bagi d ewan pengurus bila aslasan lama diketahui dan tidak pernah di kodifikasi. Satu analogi yang datang segera untuk menanganinya adalah kawat arus uang. Kawat ini dalam terowongan menyembunyikan alarm ketika ia menyentuh dinding terowongan. Ini untuk mengetahui apakah konsep rencana yang negative melakukan untuk masalah keuntungan untuk bersiul ketika area yng tidak di inginkan justru berhasil di capai.s

Kelambanan
Alternative paling jarang mempertimbangkan rencana untuk tidak melakukan apapun, sekali suasana hati berubah telah mencekam menejemen akan sangat sulit menjadi seseorang yang mengatakan “siapa disana?” dan mulai ragu bagaimana status quo dapat diserasikan dari pada menghabiskan semua uang itu.

Pensiunan polisi dan seekor anjing
Jika perusahaan telah mengembangkan pendekatan yang benar untuk mendapatkan uang, maka seharusnya tidak lalu dibuang semua. Adakala nya sebagian perusahaan berada dalam kondisi tidak aman. Apa yangi belum berubah adalah penerimaan manajemen keamanan sebagai salah satu kunci dari fungsi dalam perusahaan umum. Beban resiko dan keputusan untuk tujuan berjaga jaga yang total adalah menyalahkan asuransi plus, asuransi diri dan mengendalikan kepanikan.
Kerugian langsung

  • Pemindahan kas
  • Produk
  • Asset tetap
  • Simpanan yang bisa dikonsumsi
  • Harta milik pegawai
  • Data rahasia

 

Kerugian lain
a) Spionase industry
b) Penculikan
c) Penutupan tiba tiba data rahasia
d) Serangan kepada pegawai atau bahkan pelanggan
e) Radiasi
f) Keracunan
g) Sesak nafas
h) Luka bakar
i) banjir

Kejahatan yang sempurna
Manajemen yang buruk adalah penyebab adanya kejahatan murni dan banyak perusahaan besar telah melahirkannya. Criteria dari perfeksionis yang harus ditemui adalah:

  • Tak seorang pun yang merasa menjadi korban
  • Tidak ada bukti
  • Kejahatan tidak ditemukan
  • Tidak ada penyelesaian
  • Jumlah yang terlibat cukup kacau untuk membatasi usaha dan resiko.

ATURAN KOMUNIKASI
OK
Dengan sikap tepat, orang tepat dan pendekatan yang tepat dalam mendatangkan uang, komunikasi yang baik adalah kebutuhan terakhir yang diperlukan dalam manajemen yang baik. Namun masalah diagnosa komunikasi tidak akan menjamin perbaikan, untuk tiga alasan
1. Beberapa manajer tidak cukup memiliki pemahaman dan tidak mampu mempraktekkan komunikasi yang baik, karena mereka telah menghabiskan seluruh kehidupannya dengan langkah langkah yang salah.
2. Beberapa manajer dapat memahami komunikasi yang baik namun mereka memutuskan ada alasan yang baik untuk menghindarinya, pada semua pembiayaan atau mereka tidak punya waktu.
3. Banyak manajer yang kompeten dan ingin dapat berkomunikasi dengan baik, namun mereka bekerja untuk manajer yang tidak faham.

Gosip membenci kekosongan
Di beberapa kasus sering digunakan bahasa inisiatif, perhitungan atau analisa mereka mengenai apa yang sedang terjadi dan mengapa terjadi. Dalam suatu perusahaan saat ini walaupun sudah melakukan pekerjaan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk berkomunikasi dengan tim menejernya yang di undang menghadiri rapat tetap diharuskan mendengar rencana perusahaan , maka semua ada komunikasi satu sama lain.

Tulisan yang efektif
Setiap orang yang telah dihadapkan pada perhitungan masa dari daftar riwayat hidup, bahkan untuk tingkat senior akan merasa heran mengapa orang tidak memberikan persiapan data profesinya namun ambilah pandangan yang lebih dekat kita mungkin memberikan standar yang sama terhadap daftar riwayat hidup yang kita tempatkan untuk dokumen lain itulah sebabnya keduanya sering mempunyai nama buruk, aturan dasar yang sama harus menerapkan semua dokumentasi.

Keringkasan adalah segalanya
Pelajaran dasar komunikasi yang perlu diperhatikan adalah kesalahan komunikasi meningkatkan proporsi lagsung terhadap volume bahan yang dikomunikasikan, mungkin setiap manajer tahu fungsi dari komunikasi, contoh penjelasan sederhana komunikasi:
• Kata kata biasanya lebih memaksa daripada sederet angka
• Sebuah ungkapan kata yang kuat dan meyakinkan lebih baik dari pada beberapa paragrap
• Sebuah gambar diduga keras lebih berharga dari pada seribu kata.

Empat kata huruf
Kata kata singkat akan selalu jelas , yang panjang cenderung kurang jelas, banyak dari mereka yang ingin cepat memahami secara jelas dan enggan membaca, contohnya baca The Times, mereka baca The sun. bila terlalu banyak kata yang panjang lebar, mereka tidak akan membaca pengumuman /memo/ iklan perusahaan.
Contohnya pengumuman laporan tahunan biasanya :

  • Menjemukan
  • Memakan banyak biaya
  • Tidak dapat dimegerti
  • Mencemooh
  • Tujuan yang salah

Sebaiknya seorang manajer memperhatikan:

  • Bahasa
  • Sikap
  • Laporan penjualan
  • Sampah yang menurut undang undang
  • Laporan berkala
  • Bantuan

MIS (management information system)
Merupakan sintem informasi minimum yang di berikan oleh manajer kepada bawahannya, jadi perusahaan pun harus memiliki sistem informasi yang jelas, karena terkadang seorang manajer tidak bisa memanggil satu persatu dalam hal kenaikan gaji misalnya, maka di adakan MIS ini.
Pos kelas tiga
Tujuan ini bertujuan untuk:
a) Mengelompokan alamat
b) Disusun menurut namanya
c) Mendorong mereka untuk segera membuka informasi
d) Merangsang mereka untuk mau baca situasi
e) Mendorong mereka agar mau bertindak
f) Agar mudah dalam bertindak

Bentuk yang buruk
Satu cara untuk mengetes manajemen yang buruk di dalam organisasi  adalah dengan melihat pada bentuk yang di terbitkan untuk orang lain. Bentuk internal hampir sama baiknya dengan suatu indikator namun memiliki lebih banyak kelonggaran untuk ketidak cakapan mereka, bentuk ekternal yang baik adalah PR yang berhasil.

Gangguan telepon
Untuk menangani masalah telepon di perusahaan atau percakapan dan kadang sebagai orang kantor tidak dapat menghapal percakapan yang penting di telepon atau tidak dapat menghafal angka, maka bagi menejer yang baik kesalahan tersebut adalah fatal dan tidak professional. Setiap deringan telepon dapat memiliki keindahan susunan tertentu yang dapat bekerja bagi pekerja kantor nya. Secara teoritis ini suatu yang sederhana. Masing masing kelompok berhubungan, menentukan diri mereka sendiri, pokok permasalahan, mendiskusikan, mencari penyeleseian atau meminta informasi lebih jauh, kesalahan muncul karena orang tidak memelihara aturannya.
Untuk memulainya sangat sederhana, bisa memutar nomor orang yang dituju dan tunggulah telepon itu dijawab, jika kita sedang menjawab telepon jawab dengan nama kita, dan nama perusahaan, bisa juga dengan menyebut nomor telepon, jangan sampai ada nada yang mencemooh penelpon, lalu giliran penelpon yang menyebut namanya, jati diri yang lebih lengkap, tanyakan siapa yang di tuju dan untuk urusan apa.

Kata penutup
Akhirnya pesan yang paling konstruktif, buku ini tempat belajar dari kesalahan, walaupun bukan konsep yang negative tetapi buku ini telah memaksa kita untuk meerima pandangan yang agak banyak dan berlebihan mengenai contoh contoh kesalahan.
Bila komunikasi menjadi titik perhatian yang utama, hal ini tentu tidak cukup. Bagi menejer yang sukses “bravo”
Sebagai menejer komunikator yang berhasilseharusnya mencapai dan melewati penghalang penghalang ketidak jelasan dan ketidak mengertian. Jembatanilah jurang pemisah tersebut, sambutlah dan cari jalan keluar. Berilah pada tanda nama atau masalah tertentu untuk menjamin bahwa pesan yang masuk ke perusahaan adalah benar.

11 CARA MENJADI KAYA MELALUI BISNIS FRANCHISE


1. Langkah Kaya Melalui Franchise

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemui seorang pekerja yang bermimpi, keluar dari rutinitas hariannya mulai jam 9 pagi sampai jam 5 sore, untuk menjadi self employee atau membangun bisnis.

Pertanyaannya, bisnis apa yang dapat dengan cepat merubah Anda menjadi kaya?
Penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kyosaki mengatakan, ada 4 bisnis yang bisa mengantarkan Anda menjadi kaya. Keempat bisnis itu adalah, bisnis properti, saham,multi level marketing, dan franchise (waralaba). Bisnis waralaba direkomendasikan Robert Kyosaki karena menguntungkan dan pasti relatif lebih rendah resiko. Melalui waralaba, Anda berinvestasi dalam sebuah sistem yang mapan, teruji dan bahkan terbukti keberhasilannya. Akan tetapi, sebelum Anda berinvestasi dibisnis waralaba, alangkah baiknnya mengerti dengan baik konsep bisnis waralaba.

Secara sederhana, business oppertunity (BO) merupakan cikal bakal usaha waralaba. Umumnya BO adalah usaha yang baru berjalan dibawah 3 tahun tetapi sudah menggunakan konsep franchise dalam ekspansi usahanya.

Dari sisi hukum formal, waralaba di Indonesia diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 42 Tahun 2007. Dalam PP tersebut, usaha franchise wajib memenuhi 6 kriteria waralaba, yaitu:
1. Memiliki ciri khas usaha
2. Terbukti sudah memberikan keuntungan
3. Memiliki standard atas pelayanan dan barang atau jasa yang di tawarkan dan dibuat secara tertulis
4. Mudah diajarkan dan diaplikasikan
5. Adanya dukungan yang berkesinambungan
6. Hak Kekayaan Intelektual yang telah terdaftar

2. Alasan Membeli Franchise
Membeli waralaba menjadi pilihan bisnis yang menarik dibanding membuka usaha sendiri. Dalam bisnis franchise, resiko kegagalan dapat ditekan sebab pemilik merek (franchisor) sudah menyiapkan segala sesuatu. Mulai dari survei lokasi, produk, pemakaian merek, promosi, perizinan, SOP, dan lain segalanya.

Ada 6 keuntungan ketika Anda membeli usaha waralaba.
1. Anda berhak menggunakan merek yang sudah dikenal oleh publik.
2. Sistem bisnis yang sudah teruji
3. Adanya support berkelanjutan
4. Sharing experience franchisor
5. Promosi bersama
6. Suplai produk

3. Investigasi Sebelum Membeli
Kejelian dalam menentukan usaha waralaba yang akan dipilih perlu dimiliki oleh calon franchisee. Secara instan, ada dua hal yang perlu menjadi perhatian para franchisee sebelum membeli sebuah usaha franchise. Pertama, usaha yang difranchisekan harus sudah terbukti sukses, dibuktikan secara kasat mata lewat jumlah customer. Kedua, pastikan bahwa usaha tersebut memiliki keunikan (differensiasi)

Terdapat beberapa point penting dalam melakukan investigasi bisnis franchise, yaitu:
 Kesatu, kredibilitas dan akuntabilitas franchisor serta bisnis franchisernya
 Kedua, franchisee juga perlu mengetahui secara jeli struktur organisasi dari perusahaan franchise dan fungsi dari masing-masing bidang.
 Ketiga, jangan hanya mengendalkan investigasi dari luar, tapi lakukan juga dari dalam perusahaan franchisor.
 Keempat, cari tahu siapa saja para franchisee usaha franchise tersebut, kemudian lakukan dialog dengan mereka.
 Kelima, bandingkan dengan dua atau tiga usaha franchise sejenis atau kompetitornya guna mendapatkan perbandingan yang lebih objektif.
 Terakhir, cari second opinion dari para ahli atau pakar franchise sebelum memutuskan membeli waralaba.

Melakukan invetigasi sebelum berinvestasi (investigate before investing) merupakan langkah awal kesuksesan Anda sebagai franchisee.

4. Menguji Kesiapan Sebelum Membeli Franchise

Beberapa point penting untuk menilai kesiapan Anda sebelum membeli franchise, antara lain :
 Apakah Anda siap menjadi seorang wirausaha?
 Apakah Anda menyukai cara berbisnis dengan sistem waralaba?
 Apakah Anda mampu membina hubungan dan berinteraksi dengan banyak orang?
 Apakah Anda memiliki kemampuan leadership untuk mengelola karyawan dengan berbagai latar belakang?
 Apakah Anda memiliki modal yang cukup untuk membeli hak waralaba?
 Apakah Anda sudah mendapat persetujuan dari keluarga untuk berbisnis franchise?

5. Tips Memilih Franchise & Lokasi Usaha
Membeli franchise bukan hanya sekedar membeli sistem, tetapi juga merek dan pengalaman. Dengan membeli franchise, berarti Anda menduplikasi secara keseluruhan bisnis yang sudah terbukti berhasil milik franchisor.
Pastikan juga bahwa franchise yang Anda minati telah mempunyai proven system berbentuk manual SOP (standard operational procedure) maupun manual training.

Selain itu, siapa dibalik (pemilik) nama franchise yang dijual juga penting. Kemudian yang juga harus di perhatikan, lokasi usaha kita pilih. Lokasi usaha mutlak harus strategis, ramai, dan mudah diakses dari mana saja.

Pastikan Anda melihat peluang pada bidang bisnis yang akan di jalankan. Pastikan waralaba tersebut memiliki bimbingan berkelanjutan dalam pengelolaan merek, pengawasan mutu, manajemen kepegawaian, bimbingan administrasi, dan petunjuk teknis lainnya.

Hindari memilih waralaba karena faktor trend semata. Yang tidak kalah penting, pastikan bahwa Anda tidak kekurangan modal usaha.

Adapun beberepa hal penting yang dapat menjadi pertimbangan Anda dalam memilih lokasi usaha, antara lain :
1. Kepadatan penduduk disekitar wilayah tersebut.
2. Penghasilan penduduk
3. Jumlah usaha
4. Jenis tempat usaha
5. Kepadatan traffic
6. Akses karyawan
7. Zona wilayah
8. Kompetisi
9. Lingkungan

6. Beberapa Mitos Sebelum Membeli Franchise
Terry O. Powell, seorang veteran dalam industri waralaba selama 25 tahun pada berbagai merek franchisor, dalam tulisannya di entrepreneur.com menyampaikan delapan mitos terkait bisnis franchise sebelum menjadi mitra franchise.
 Saya akan berhasil jika menemukan bisnis yang tepat
 Saya hanya dapat berhasil jika saya melakukan sesuatu yang saya cintai
 Saya akan mengetahui kesempatan yang tepat ketika saya melihat
 Saya tidak bisa masuk ke dalam bisnis yang saya tidak tahu
 Tidak ada kebebasan dalam franchise
 Bisnis franchise lumpuhkan kreativitas
 Saya tidak mampu berbisnis franchise
 Saya harus keluar dari pekerjaan saya untuk menjadi franchisee

7. Menjadi Franchisee Sukses

Sejumlah faktor umum yang terdapat pada franchisee sukses menjalankan bisnisnya antara lain sebagai berikut :
 Memiliki semangat belajar
 Mau bekerja keras
 Punya kemampuan menjua
 Tahan stres
 Mau menerima arahan, dan
 Memiliki sumber keuangan yang baik

8. Menjadi Franchisee Idaman Franchisor

Dalam pandangan franchisor, franchisee yang hebat dan bisa meraih sukses adalah mereka yang fokus menjalankan unit bisnis franchisenya, atau setidaknya mampu mendelegasikan kepada seseorang yang mampu menjalankannya dan dapat dipercaya.

Intinya, Franchisee yang diharapkan oleh franchisor adalah mereka yang mau all out menjalankan bisnis franchisenya.

9. Kesalahan Umum yang Dilakukan Franchisee

Ada 4 kesalahan besar yang umum dilakukan dan bisa berbahaya bagi franchisee.
1. Kurangnya Informasi Bisnis
2. Semuanya Diserahkan ke Franchisor
3. Terlalu Mengikuti Perasaan
4. Tidak Ada Kemampuandi Kategori yang Dipilih

Persaingan ketat yang terus memburu tiap pemain untuk saling berlomba menguasai pasar serta pelanggan. Terkait hal itu, ada beberapa poin yang berguna untuk menghindari sebuah kesalahan.
a. Cermat Memilih Lokasi
b. Belajar Dari Pengalaman Franchisor
c. Cermat Memilih Unit Usaha
d. Fokus, Disiplin, dan Berpihak Kepada Pelanggan
e. Tidak Menyerahkan Nasib Bisnis Kepada Franchisor
f. Hindari Konflik Dengan Franchisor
g. Cermat Meneliti Perjanjian Waralaba (Franchise Agreement)

10. Faktor Kepuasan Franchisor

Faktor kepuasan dalam bisnin franchise harus dimulai dari kesadaran franchisor – franchisee sebagai sebuah tim ynag saling melengkapi.
Harapan ideal franchisor terhadap franchiseenya adalah sebagai berikut:
1. Franchisor mengharapkan franchisee yang tidak pasif.
2. Mengikuti sistem
3. Sales yang terus meningkat
4. Ketetapan membayar royalti dan piutang lainnya
5. Tidak menyimpang dari perjanjian yang ada

11. Kunci Sukses Franchisee

Berikut ini adalah kunci sukses bagi franchisee dalam menjalankan bisnis franchisenya:
1. Menyukai bisnis yang dipilihnya
2. Mengerti karakteristik pasar (konsumen)
3. Memiliki kemampuan leadership yang baik
4. Memiliki kemampuan managerial
5. Fokus dan konsentrasi terhadap usaha
6. Memiliki komitmen yang tinggi terhadap usahanya
7. Menekuni usahanya dengan serius
8. Terlibat secara penuh
9. Punya semangat belajar
10. Punya kesabaran
11. Aktif melakukan kontrol langsung
12. Tidak bergantung sepenuhnya kepada franchisor
13. Kreatif menciptakan inovasi
14. Mengerti bisnis yang digeluti
15. Mampu mengelola SDM
16. Mau menuruti panduan yang diberikan franchisor
17. Patuh dan disiplin
18. Mau bekerja keras
19. Punya kemampuan menjual
20. Punya hubungan baik dengan franchisor

TIPS SUKSES

1. Tips Menghindari Kegagalan
Ada hal-hal lain yang dapat Anda lakukan guna menghindari kegagalan dalam menjalankan bisnis franchise sebagai franchisee, yaitu:
1. Buang jauh-jauh paradigma bahwa, memiliki bisnis franchise berarti Anda sebagai franchisee tinggal ongkang-ongkang kaki, kemudian dengan sendirinya gerai franchisee Anda mendapatkan keuntungan.
2. Sebagai franchisee Anda harus memiliki jiwa seorang entrepreneur.
3. Franchisee harus menghormati perjanjian waralaba (franchise agreement) dengan franchisor.
4. Lakukan promosi untuk meningkatkan penjualan perusahaan Anda.
5. Buatlah suatu program serta undang semua teman, relasi, kenalan, saudara bahkanlingkungan di sekitar gerai Anda ketika grand opening.
6. Ingat, pelanggan adalah raja.
7. Buat pelanggan selalu ingat dengan perusahaan Anda melalui berbagai macam cara.
8. Didik karyawan Anda agar cakap dalam melayani konsumen.
9. Bila terjadi komplain, selesaikan dengan cara kekeluargaan.
10. Karyawan adalah aset berharga dari perusahaan Anda.
11. Ikuti SOP dari franchisor dengan sebaik baiknya terutama dalam hal kontrol keuangan perusahaan Anda.
12. Relasi dengan franchisor sangat penting dalam rangaka mendukung keberlanjutan perusahaan Anda.
13. Relasi

2. Tips Pemasaran
Berikut beberapa tips marketing franchisee yang perlu Anda simak:
1. Menyebarkan brosur ke target market Anda di dalam wilayah pemasaran franchise Anda.
2. Melakukan pemasangan iklan di media masa khususnya media kawasan.
3. Memasang beberapa titik spanduk di tempat-tempat yang strategis.
4. Buatlah penawaran untuk menggarap pasar corporate atau perkantoran.
5. Mengikuti berbagai bazar
6. Informasikan kepada pelanggan Anda terkait produk-produk atau layanan terkini.
7. Memberikan program yang menarik.
8. Ikuti program-program dari franchisor untuk meningkatkan penjualan.
9. Pengguna member card juga penting
10. Pemberian hadiah khusus kepada pelanggan.
11. Buat design iklan baliho semenarik mungkin.
12. Anda juga bisa melakukan karnaval
13. Melakukkan customer call harian
14. Lakukan promosi di gerai Anda
15. Lakukan promosi online secara rutin.

3. Tips Umum
a. Harus paham kriteria kelayakan berita dan segmen medianya.
b. Harus paham segmen pembaca media yang bersangkutan

4. Tips Khusus
a. Harus bisa membuat berita yang unik untuk menarik perhatian media.
b. Menggandeng artis
c. Membuat surat undangan ke pemimpin redaksi sebanyak-banyaknya
d. Undangan sebaiknya di fax ke kantor redaksi
e. Anda juga bisa membuat press release
f. Jalin relationship dengan wartawan.

5. Tips Mengelola Pelanggan
Berikut ini beberapa tips untuk mengelola customer :
1. Anda harus ingat bahwa pembeli adalah raja.
2. Bertemu langsung dengan pelanggan bila ada komplain.
3. Melakukan komunikasi secara langsung denga pelanggan.
4. Menggali dan mengerti permasalahan konsumen dan cari win-win solution bila terjadi komplain.
5. Pahami kebutuhan konsumen dan berikan rekomendasi terbaik.
6. Pelayanan adalah segalanya dalam bidang jasa.
7. Segera respon keluhan pelanggan dengan baik.
8. Jadalah mutu produk Anda.
9. Outlet Anda harus bersih.
10. Konsisten pada pelayanan konsumen.
11. Komplain adalah feedback bahwa konsumen memberi tahu kita untuk bekerja lebih baik lagi.
12. Selalu memotivasi karyawan.
13. Meningkatkan penampilan.
14. Pelayanan yang ramah
15. Andah harus memiliki data pelanggan yang real.
16. Membantu customer baru dalam memilih produk Anda

6. Tips Khusus

Tahap pertama

Pertama, Kelayakan bisnis yang akan dipilihnya untuk terus tumbuh, salah satu kriteria usaha layak franchise adalah, bisnis tersebut sudah berjalan sekitar 4 – 5 tahun sebelum difranchisekan.

Sebuah bisnis mengalami ketidakberhasilan di tahun pertama sangat besar. Dari 100 bisnis yang muncul, 80% mengalami kegagalan di tahun pertama. Sisanya pun (20%) tidak 100% akan berhasil.
Kedua, lakukan pengamatan terhadap outlet franchisor sehari penuh.
Ketiga, perhatikan juga sistem marketingnya

Tahap kedua
Tahap kedua yaitu setelah Anda terlanjur membeli franchise. Dalam melaukan marketing revolution ini pelaku usaha harus fokus pada tida hal yang di sederhanakan menjadi USP, yakni:
a. Unlimited advanted (nilai tambah). Nilai tambah bisa berupa harga murah.
b. Sensational offer. Yakni tawaran yang lebih menggiurkan kepada konsumen.
c. Powerful promise. Misalnya dengan memberikan garansi yang luar biasa.

7. Tips Mengelola SDM

Selain pelanggan, karyawan (sumber daya manusia) yang Anda miliki merupakan aset perusahaan Anda. Jangan abaikan SDM.

Karyawan harus diapresiasi dengan penggajian yang adil sesuai dengan standar UMP atau standar yang sudah tertuang dalam SOP franchisor.
Berikut ini beberapa tips untuk mengelola SDM :
1. Sistem pengupahan biasanya mengikuti standar UMP serta SOP franchisor.
2. Perhatikan juga pembinaan, arahan, serta penjelasan terhadap karyawan.
3. Jika ada masalah dengan karyawan Anda, bicarakan dengan baik sehingga tercapai win-win solution.
4. Berikan hak karyawan yang seadil-adilnya.
5. Penguatan team work bagi karyawan merupakan hal penting dalam rangka mencapai tujuan bersama di perusahaan.
6. Anda sudah siap berjalan denga karyawan yang memang sudah memiliki skill.
7. Pendidikan (training) karyawan tidak melulu pada peningkatan skill
8. Jangan lupa mengikuti saran dan kebijakan franchisor dalam mendidik karyawan anda.
9. Anda juga perlu mencatat perkembangan kinerja karyawan.
10. Menyediakan sarana dan prasarana demi kenyamanan kerja karyawan.
11. Menanamkan rasa memiliki bisnis anda dalam diri karyawan.
12. Anda juga harus intensif memotivasi dan memberikan passion kepada karyawan.

8. Langkah Sukses Sang Juara

Sejak tahun 2007, Indonesia telah memiliki awarding bagi franchisee terbaik dari berbagai merek franchise. Ajang kompetisi franchisee indonesia tersebut
beranama Indonesiaberanama Indonesia Franchisee of The Year (IFO).

IFO merupakan potret keberhasilan industri franchise di Indonesia. Dari ajang ini diharapkan muncul pola pikir baru (new mind set) terkait kesuksesan di bisnis franchise khususnya bagi franchisee.

Ada 8 kesamaan yang dilakukan finalis IFO dalam mengelola gerai bisnis franchisenya.
1. Mencurahkan perhation total terhadap bisnisnya, mengontrol serta memonitoring gerai semaksimal mungkin dan dilakukan secara berkala.
2. Memandang karyawan sebagai aset perusahaan.
3. Besikap positif dalam menghadapi kompetisi
4. Melakukan creative promotion dengan biaya yang ringan
5. Mengenal dan menguasai target market
6. Mengedepankan pelayanan prima bagi pelanggan
7. Memastikan dan menjaga kualitas produk / jasa yang dijual sesuai standarisasi franchisor
8. Menekankan efisiensi dan mengatur keuangan secara profesional.

SIMPULAN

Penulis buku kenamaan Robert Kyosaki menyebut bisnis franchise merupakan salah satu dari empat bisnis yang bisa mengantarkan Anda menjadi kaya. Risikonya juga lebih rendah dibanding dengan membuka bisnis secara mandiri.

Booming bisnis franchise juga membuat para pengusaha tertarik memfranchisekan bisnisnya, karena memang tidak ada batasan bagi bidang bisnis tertentu untuk dapat di franchisekan. Pada dasarnya, semua bisnis dapat di franchisekan. Seorang calon franchise harus jeli dalam memilih bisnis yang dapat memberikan keuntungan dan tahan lama. Investigate before investing! Menjadi sebuah keharusan bagi calon franchise.

Akhirnya, semoga setelah membaca buku ini Anda dapat menjadi lebih cermat dalam memilih bisnis franchise yang di minati. Selain itu, wawasan Anda terhadap dunia franchise juga akan semakin bertambah.
.

Kewirausahaan


 
“9 dari 10 pintu rizki ummatku  ada diperdagangan” (Sabda Rasululloh Muhammad SAW)
 
Mulailah dengan mengerjakan apa yang perlu ; lalu kerjakanlah apa yang mungkin ; maka tiba-tiba anda mengerjakan yang mustahi ; (St. Francis dari assisi)
 
“Seorang Pengusaha yang paling sukses adalah dia yang berpegang pada hal-hal lama selama hal itu masih baik dan merebut hal hal baru begitu terbukti hal itu lebih baik” (Robert P Vanderpoel)
 

Mahasiswa sukses adalah mahasiswa yang selalu mempunyai dan menemukan ide/gagasan untuk pengembangan karirnya. Terlebih-lebih jika mahasiswa tersebut mempersiapkan diri untuk menjadi seorang entrepreneur sukses, maka kreatifitas dan inovasi adalah kata kuncinya. Beberapa ide wirausaha dibawah ini yang mungkin sederhana namun ”membumi” dapat dijadikan sebagai pedoman dalam memulai menjadi seorang Entrepreneur Sukses.

 
Ide ke-1 : Jual keunikan
Jika anda tergolong mahasiswa kreatif dan inovatif, pasti banyak ide atau hal baru yang dapat Anda jadikan peluang usaha. Tidak sedikit usaha baru dimulai dari penemuan jenis produk, teknologi, sistem, dan program baru. Jika berhasil menciptakan sebuah keunikan, segera anda ambil hak paten dan menjualnya. Penemuan baru biasanya sangat berpeluang untuk menembus pasar, apalagi khas, unik, dan dibutuhkan orang banyak.
Contoh nyata, teman-teman saya membuat kaos-kaos unik dengan kata-kata yang penuh motivasi. Kaos tersebut memang biasa saja kalau dilihat sepintas, tapi karena ada keunikannya dengan kata-kata yang penuh inovasinya, bisa menambah nilai jual. Tentunya keuntungan bisa jauh lebih besar dengan keunikan yang mereka jual.
 
Ide Ke- 2 :  Duplikasi Usaha Lain
Bagi Anda yang merasa kurang kreatif dan inovatif, jangan putus asa. Percayalah, ide usaha tersebar dimana-mana, bahkan di depan mata. Anda harus selalu perlu membaca peluang, mengukur potensi, dan berani mengambil resiko. Misalnya, di sekitar Anda ada rumah makan bakmi yang cukup laris. Apa salahnya Anda bersaing secara sehat di tenpat yang sama dengan produk yang sama. Anda cukup menduplkikasi usaha tersebut, tapi harus memberikan nilai tambah kepada konsumen, seperti pelayanan, harga, kecepatan, keramahan. Contoh pelayanan yang lebih memuaskan kepada konsumen adalah memberikan air teh gratis kepada konsumen atau memberikan porsi daging yang lebih banyak di banding pesaing anda.
 
Ide Ke-3 : Usaha Fasilitas tambahan
Selain menduplikasi, Anda juga bisa membuka usaha dengan memberikan usaha fasilitas tambahan, tapi ini harus dengan sedikit sentuhan kreatifitas. Misalnya, tetangga membuka warnet, maka anda masih bisa menyainginya dengan tambahan fasilitas atau memperluas penawaran yang ada. Anda bisa mendirikan warnet di lokasi sama.
Hampir setiap waktu ada saja jenis usaha yang trend, seperti sekarang ini zamannya penyewaan komputer untuk bermain game(game zone). Dengan sedikit fasilitas tambahan, anda pun bisa memiliki usaha dan siap untuk berhasil. Misalnya, Anda bisa menyewa tempat di sekitar tempat penyewaan game zone tersebut dengan menjual minuman yang lagi trend sekarang ini, Bubble Tea. Itu sangat cocok dengan pangsa pasar Bubble Tea dan game zone untuk pangsa pasar  anak sekolah.
 
Ide Ke-4 : Jual Keterampilan
Anda sendiri pun dapat menjual keterampilan yang dimiliki. Jika bisa menggunting rambut, Anda bisa membuka salon. Dengan sedikit sentuhan yang berbeda dengan salon-salon lainnya, pasti salon Anda akan ramai di kunjungi konsumen. Bagi Anda yang mahir mengetik 10 jari, tidak ada salahnya membuka usaha jasa pengetikan, seperti skripsi, naskah, makalah, dan lain-lain yang kemudian bisa Anda kembangkan dengan menerima jasa penerjemahan (translate).
Ada banyak usaha yang bisa anda  buka berdasarkan keterampilan anda, yakinlah anda punya potensi, punya keterampilan dan punya harapan besar untuk sukses menjadi seorang entrepreneur, meskipun sebagai entrepreneur pemula..mulailah belajar menghasilkan income melalui keterampilan sendiri semisal memberikan privat bahasa  inggris, komputer, matematika, musik, menyanyi atau jasa pengetikan seperti yang disampaikan diatas.
 
Ide Ke-5 : Menjadi Agen
Anda bisa membuka kantor keagenan, baik suatu produk maupun jasa. Banyak sekali produk dan jasa yang sangat memerlukan agen. Selain menjadi agen suatu produk, Anda juga bisa menjadi agen yang menyediakan jasa, seperti agen isi ulang air, isi ulang pulsa,  penyalur pembantu rumah tangga, agen modeling/foto model, agen iklan, dan lain-lain.
 
Ide Ke-6 : Jual Barang Bekas (second)
Masih sedikit orang yang peka dengan usaha ini. Barang second, terutama dengan nilai historis yang sangat tinggi, biasanya punya harga yang sangat tinggi pula. Namun, menjual barang bekas (second) ini harus di lakukan dengan teratur dan terencana. Anda bisa membeli suatu barang disuatu tempat dengan harga murah dan menjualnya ditempat lain dengan harga yang lebih tinggi. Anda juga bisa menjual barang bekas khusus komputer dengan cara membeli komputer rusak dengan harga murah. Kemudian dengan menggunakan orang yang mengerti perbaikan komputer, Anda bisa menjual komputer yang sudah di perbaiki itu dengan harga yang lebih tinggi. Demikian pula dengan barang bekas, seperti kamera, motor, dan lain-lain.

Ide Ke-7 : Buka Kantor
Bagi anda yang memiliki keterampilan/keahlian segera buka kantor sendiri. Jangan takut masalah modal dan SDM. Anda bisa mengajak kolega atau teman seprofesi untuk patungan modal dan membuka kantor tersebut. Juallah skill dan pengalaman anda. Jika reputasi bagus dan relasi banyak (network), jangan kuatir kekurangan klien. Anda bisa memulai mendirikan kantor dari rumah atau lebih dikenal dengan sebutan home office. Cukup dengan menyediakan satu komputer, satu telepon, faxs, meja, dan kursi tamu.

 
Ide Ke-8 : Beli Usaha Pola Waralaba
Bagi anda yang memiliki modal besar, tapi tidak mau repot untuk memikirikan sesuatu usaha yang baru, alternatif waralaba (franchise) dapat dipilih. Waralaba adala jenis usaha yang relatif terstandartisasi dengan baik. Memang butuh kejelian yang tinggi untuk menilai waralaba mana yang bagus dan cocok untuk Anda. Saran saya, carilah usaha waralaba yang memiliki track record yang baik dan sudah teruji di lapangan. Kini semakin banyak bermunculan waralaba, dari yang membutuhkan modal besar hingga yang membutuhkan modal kecil.
 
Ide Ke-9 :Usaha Bersama
Kadang usaha akan lebih bagus jika didirikan dan di kelola bersama-sama. Misalnya Anda pintar pemrograman komputer, tapi anda memiliki sedikit teman, sementara teman anda memiliki banyak teman dan punya relasi yang luas dan membutuhkan jasa pemrograman, anda bisa saja membuka usaha jasa pemrograman (software house). Anda yang mengerjakan pekerjaannya, sedangkan teman anda yang mencari order. Dari kelebihan masing-masing inilah bisa memperkuat suatu usaha baru sekaligus membesarkannya.
 
Ide Ke-10 : Jalankan Direct Selling/Multi Level Marketing
Usaha ini menurut saya cukup prospektif. Modalnya murah meriah. Selain itu didukung pula oleh produk yang bagus, sistem pemasaran, pelatihan, dan jenjang karir. Memang kita tidak menutup mata banyak sekali orang yang alergi atau anti terhadap Multi Level Marketing (MLM). Biasanya trauma oleh kegagalan, seperti uangnya habis di MLM. Itu biasanya di sebabkan bisnis MLM dengan skema piramid atau money game yang berkedok MLM. Waspadalah dan hindari bisnis dengan skema piramid atau money game yang mengaku-aku MLM. Menurut saya, MLM (sering juga di sebut dengan people franchise) yang murni sangat menarik. Bahkan sebagai perusahaan MLM memberikan kesempatan kepada kita untuk mendirikan perusahaan sendiri (authorized distributor atau stockist). Kita tidak perlu terlalu alergi dengan informasi mengenai MLM, kadang-kadang informasi yang di berikan oleh MLM sangatlah menarik. Bukankah untuk menjadi seorang wirausaha yang sukses harus selalu belajar, belajar dan belajar serta memiliki banyak teman.
Itulah sedikit ide-ide usaha yang dapat digunakkan untuk membuka usaha. Namun, tidak menutup kemugkinan ada ide-ide lain yang dimiliki teman-teman semua. Yang perlu disadari, sebuah ide hanyalah merupakan suatu ide, Ide akan berhasil jika Anda berani merealisasikannya, buanglah ketakutan dan kata gagal dari dalam diri anda. Anda harus selalu ingat, jika anda mengalami kegagalan, katakan dengan keras, ”Saya hanya sedang melakukan pembelajaran yang sangat luar biasa berharganya bagi diri saya sendiri”, Jangan putus asa. Segeralah bangkit dan belajar dari kegagalan.
Dalam bukunya, Robert T. Kiyosaki menjawab pertanyaan berikut, ”Kenapa Anda tetap menganjurkan orang untuk menjadi usahawan, padahal catatan statistik yang berhasil hanya sekitar 10% ?” Lalu ia menjawab, ”Saya percaya dengan statistik di bawah 10%, maka untuk sukses usaha, Anda harus siap untuk setidaknya berpeluang 9 kali gagal sebelum mungkin mendapatkan 1 keberhasilan”. Itu bukan ’gagal’, melainkan ’belum berhasil’ dan menurut Abraham Lincoln ”Itu Cuma terpeleset dan aku bukan jatuh”.
 

Kesimpulan
Dibelahan negara manapun didunia ini terbukti makmur dan sejahtera rakyatnya manakala pemerintah memprioritaskan kewirausahaan sebagai agenda utama dalam pembangunannya, sebagai contoh negara-negara seperti amerika, inggris, jerman, kanada, jepang, korea plus tetangga dekat kita yaitu singapur dan malaysia, menjadi negara maju dan rakyatnya makmur berkat kesungguhannya dalam membangun dan mengembangkan kewirausahaan.
Begitupun  negara kita,  jika ingin keluar dari berbagai masalah terutama masalah kemiskinan dan pengangguran maka solusi yang paling tepat adalah menciptakan banyak entrepreneur sukses. Anda sebagai generasi muda sekaligus sebagai agen pembaharu bangsa ini, tentunya mempunyai tanggungjawab yang besar untuk menentukan nasib bangsa ini kedepan. Mulailah  detik ini rubah mind set anda bahwa sekolah/kuliah yang anda jalani ini bukan hanya semata untuk mencari pekerjaan namun ada pilihan lebih mulia dari pada sekedar bekerja yaitu membuka peluang usaha (berwirausaha), dengan wirausaha selain akan melatih kemandirian dan kebebasan mengexplorasi potensi juga dapat membantu membuka peluang pekerjaan bagi orang lain.
Mulialah detik ini anda action untuk berwirausaha, apapun itu jenis usahanya baik barang maupun jasa, yakinlah pada diri anda sendiri bahwa anda itu mempunyai kelebihan dan potensi yang maha dahsyat yang tersimpan didalam alam bawah sadar anda. Yang harus anda lakukan adalah kenali dan gali potensi anda tersebut, implementasikan dengan membuka usaha apapun itu yang sesuai dengan minat atau bakat anda. Jangan belenggu potensi minat dan bakat anda, mulailah membuka usaha dari hal yang mungkin terlihat kecil dan sepele namun percayalah dengan kesungguhan dan tekad yang kuat anda akan menjadi pengusaha besar, pengusaha sukses, pengusaha yang dapat mengangkat harkat martabat bangsa ini dari berbagai keterpurukan. *Kepala Pusat Persiapan dan Pengembangan Karir BSI (BSI Career Center/BCC).

 
Daftar Bacaan :
  1. Buku  berjudul “Motivation For Success For An Entrepreneur”, Penerbit : Elex Media Komputindo, Johanes Arifin Wijaya Tahun, 2007
  2. Buku berjudul ”BeYoung (baca : biang) Success detik ini!”, Penerbit : Andi, Heri Kuswara & Johanes arifin Wijaya Tahun 2010
  3. Buku berjudul ”Ngapain kuliah Kalau Nggak Bisa Sukses ?”, Penerbit : Kaifa, Heri Kuswara Tahun 2010
  4. Jurnal Sosial dan Humaniora, “Cakrawala” (ISSN 1411-8629), Vol. VII No.1  Januari 2007  Yang diterbitkan Oleh : LPPM BSI dengan Judul  :”Manajemen Pikiran Bawah Sadar Sbg Solusi Usaha Tanpa Gagal”, Penulis Heri Kuswara

KONSEP PRILAKU INDIVIDU DALAM ORGANISASI


PENDAHULUAN

Setiap usaha untuk mengetahui mengapa orang berperilaku seperti yang dilakukannya dalam organisasi, memerlukan pemahaman tentang perbedaan individu. Manajer memerlukan waktu untuk mengambil keputusan tentang kecocokan antara individu, tugas pekerjaan, dan efektifitas. Penilaian seperti itu lazimnya dipengaruhi oleh karakteristik manajer dan bawahannya. Pengambilan keputusan tentang siapa akan melaksanakan tugas apa dengan cara tertentu tanpa mengetahui perilaku dapat menimbulkan persoalan jangka panjang yang tak dapat diubah lagi.Setiap pegawai mempunyai perbedaan dalam banyak hal. Seorang manajer harus mengetahui perbedaan tersebut mempengaruhi perilaku dan prestasi bawahannya.

Dennan begitu para menejer harus mampu memuaskan kebutuhan individu untuk proses pemberian motivasi (dorongan) kepada para pegawai agar mereka mau dan suka bekerja sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Menjadi seorang pemimpin harus bersiap terjun dalam setiap masalah yang ada dalam organisasi,sehingga setiap masalah dapat terencana dan mampu diselesaikan dengan baik.

Menejer dikategorikan sebagai pemecah masalah dalam organisasinya dengan itu menejer hatus mampu mengambil keputusan secara tepat dan akurat,sehingga menghasilkan keputusan yang berbobot yang bisa diterima dan diakui bawahan. Ini biasanya merupakan keseimbangan antara disiplin yang harus ditegakkan dan sikap manusiawi terhadap bawahan. Keputusan yang demikian ini juga dinamakan keputusan yang mendasarkan diri pada relasi sesama.

Menejer berperan penting dalam terbentuknya tim yang kokoh pada organisasi yang akan memajukan organisasi tersebut sehinggan tujuan organisasi dapat tercapai dengan hasil yang direncanakan.Terbetuknya tim yang kokoh harus memiliki dasar yang penting dalam setiap anggota organisasi yaitu kepercayaan yang harus di bangun dalam sebuah tim yang bersumber dari beberapa arah.kesepakatan dibuat untuk mengatur perilaku seseorang maupun sekelompok orang agar tercipta harmoni dalam rangka mencapai tujuan bersama. Kerja sama dan dukungan untuk membangun komitment di dalam sebuah tim kerja, karena kita semua percaya bahwa tidak ada satupun manusia yang sempurna.

Untuk menggenggam tugas dalam memahami variabel individu,memotivasi,pengambilan keputusan dan membangun tim yang kokoh diperlukan seorang menejer yang memiliki kecerdasan transformasional yang menguasai kecerdasan intelektual,kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang tinggi agar organisai tersebut terus berkembang dan menghasilkan perencanaan baru serta karya yang baru.

 MEMAHAMI  INDIVIDU DALAM ORGANISASI

Homo homini socius bahwa manusia adalah makhluk sosial. Psikologi adalah studi tentang perilaku manusia. Psikologi sosial membahas bagaimana individu/kelompok dapat mempengaruhi dan mengubah perilaku orang lain. Psikologi keorganisasian secara khusus membahas perilaku manusia dalam lingkungan keorganisasian dan meneliti pengaruh organisasi terhadap individu dan pengaruh individu terhadap organisasi. Sosiologi berusaha memberikan arti dan menguraikan perilaku kelompok dan berusaha keras mengembangkan perumusan tentang sikap manusia, interaksi sosialnya, dan kebudayaannya. Antropologi memberikan pengetahuan dan konsep yang luas tentang kebudayaan manusia, bagaimana perilaku sosial, teknis, dan keluarga. 

Keith Davis dan John W Newstrom (1993) : empat asumsi dasar memahami  manusia :

  1. Perbedaan individu, manusia dilahirkan membawa keunikan masing-masing. Dengan memahami perilaku tertentu seseorang, kita akan memahami dan mencari variable penyebab perbedaan prestasi individu. Variabel yang mempengaruhi perilaku individu a.l. : a)variable fisiologis (fisik dan mental), b)variable psikologis (persepsi, sikap, kepribadian, belajar, motivasi), c)variable lingkungan (keluarga, kebudayaan, kelas sosial). Gibson, dkk tentang perilaku individu : (a)perilaku timbul karena ada stimulus atau motivasi, (b)perilaku diarahkan kepada tujuan, (c)perilaku yang terarah pada tujuan dapat terganggu oleh frustasi, konflik, dan kecemasan.
  2. Orang seutuhnya, seorang manusia perlu dilihat secara utuh, bukan sepotong-sepotong, karena dapat menyesatkan pandangan orang terhadapnya.
  3. Perilaku termotivasi, sebab mengapa seorang karyawan bekerja lebih baik daripada karyawan lain? Gibson, dkk : a.l. sebab beda kemampuan, naluri, imbalan intrinsik, dan ekstrinsik, tingkat aspirasi dan latar belakang seseorang. Campbell dkk (1970) : motivasi berkaitan dengan (a)arah perilaku, (b)kekuatan respon, setelah memilih mengikuti tindakan tertentu, (c)ketahanan perilaku, berapa lama terus-menerus berperilaku tertentu.
  4. Martabat/nilai manusia, unsur manusia perlu dibedakan dari unsur lain. Miftah Thoha : perbedaan karakteristik manusia, beda pengetahuan, kemampuan, kebutuhan, kepercayaan, pengalaman, pengharapan, dll.

Masalah yang paling vital dalam organisasi yang menjadi tantangan manajer adalah : manusia dan perilakunya. Tiga pendekatan dalam memahami terjadinya perilaku :

1.      Pendekatan Kognitif

Pengenalan cenderung bersifat individual. Sumber teori = Psikologi. Littlejohn (1992)  : kaitan antara stimuli (S) yang berfungsi sebagai masukan (input) dan jawaban/respon (R) berupa perilaku yang berfungsi sebagai keluaran (output), ada pemrosesan informasi. Miftah Thoha (1983) :  perilaku tersusun secara teratur. Ada rangsangan/pemrosesan untuk mengetahui/mengenal (cognition), lalu dijawab dengan perilaku.

2.  Pendekatan Kepuasan

Adanya faktor dalam diri yang menguatkan (energize), mengarahkan (direct), mendukung (sustain), dan menghentikan (stop) perilaku.

Abraham H. Maslow, teori hierarki kebutuhan : a)manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda yang ingin dipenuhinya, b)kebutuhan yang mendesak dipenuhi lebih dulu, itulah yang menyebabkan orang berperilaku, c)kebutuhan yang sudah terpenuhi tidak lagi menjadi pendorong perilaku. Dikenal dengan 5 jenjang kebutuhan :

  1. kebutuhan fisiologis (makan, minum, tempat tinggal, seks, dll)
  2. keselamatan dan keamanan  
  3. afiliasi, sosial, dan cinta
  4. Penghargaan/status
  5. Aktualisasi diri.

Catatan penting dalam teori ini : a)asumsi, manusia mempunyai kebutuhan untuk berkembang dan maju, b)adanya kebutuhan tingkat tinggi, yaitu Penghargaan dan Aktualisasi Diri, c)kebutuhan yang belum dipenuhi sama sekali dapat menimbulkan kesulitan bagi manajer, berupa frustasi, konflik, dan tekanan intern.

3.  Pendekatan Psikoanalitik

Pendekatan ini menunjukkan bahwa perilaku manusia dikuasai kepribadian dan personalianya.

a. Einstein : mengapa dasar pembawaan halus dan gerak hati manusia dapat menimbulkan perilaku agresif?  karena keterbatasan pengendalian dirinya?

b. Sigmund Freud (pelopor psiko-analis) : menjawab surat Einstein : manusia mempunyai naluri/instict yang mudah menyulut semangat berperang, naluri untuk menghancurkan, ada 2 pendorong kehidupan manusia : (1)Eros = naluri untuk hidup, kecenderungan untuk bersatu, penjagaan diri, seks, dan cinta. (2)Thanatos = harapan kematian yang menghimpun manusia ke arah kehancuran. Ada mekanisme pertahanan untuk menyesuaikan keinginan sebagai kenyataan eksternal dan nilai-nilai internal (kesadaran). 3 unsur yang menimbulkan konflik (a)id (das-es) : mendasarkan pada kesenangan, tidak rasional, impulsive, condong pada apa yang dirasa baik, (b)ego (das-ich) : logika, yang mungkin/tak mungkin, patut/tidak, jalan tengah, (c)superego (das-uberich) : alam ketidaksadaran manusia, hati nurani, moral, nilai-nilai individu, condong pada yang dirasa benar.

c. Gibson dkk : sikap adalah kesiap-siagaan mental yang diorganisasi dengan pengalaman, tanggapan orang lain, objek dan lain-lain yang bersifat tetap dan berubah, tergantung tingkat pemahaman terhadap lingkungan. Sikap menentukan perilaku sebab sikap berhubungan dengan persepsi, kepribadian, belajar, dan motivasi. Kepribadian dipengaruhi faktor budaya dan sosial; (1)kepribadian adalah keseluruhan yang terorganisasi bila tidak maka individu tidak mempunyai arti, (2)pola-pola kepribadian dapat diamati dan diukur, (3)kepribadian memiliki dasar biologis yang berkembang dan berubah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan budaya, (4)kepribadian punya segi-segi yang dangkal (ingin menguasai) dan inti yang lebih dalam (sentimen, perasaan wewenang), (5)kepribadian mencakup ciri yang umum dan khas, tiap orang berbeda tapi ada hal-hal yang sama.

d. Porter / Samovar : isi dan pengembangan sikap dipengaruhi kepercayaan & nilai-nilai yang dianut.

e. Solomon E Asch : semua sikap bersumber pada organisasi kognitif, yaitu informasi dan pengetahuan yang dimiliki seseorang. Sikap pada seseorang/sesuatu tergantung “citra” kita pada itu. Citra diperoleh dari sumber-sumber informasi.

f. Leon Festinger : Disonansi Kognitif : suatu keadaan bila terjadi ketidaksesuaian antara komponen kognitif dan komponen perilaku, yaitu suatu bentuk yang tidak konsisten dan tidak disenangi sehingga orang itu mengurangi disonansi untuk mengembalikan ke keadaan semula. Kesenjangan antara sikap dan perilaku adalah karena tidak ada konsistensi antara sikap yang tersembunyi dan perilaku yang  terbuka.

g. Russel G Geen (1976) ingin menjawab, bagaimana orang bereaksi terhadap tekanan hidup, mengatasi, dan apa yang terjadi bila penyelesaian itu tidak efektif. Kepribadian adalah seperangkat perilaku yang membentuk karakter respon seseorang terhadap situasi dan waktu tertentu.

h. Salvatore R Maddi (1980) : Kepribadian adalah ciri yang relatif mantap, kecenderungan dan perangai yang dibentuk dari faktor keturunan, lingkungan, sos-bud. Kekuatan-kekuatan yang membentuk kepribadian :

  1. keturunan
  2. kebudayaan
  3. hubungan keluarga
  4. kelas sosial, kelompok dll.

Tiga pendekatan Teori Kepribadian :

a)  Pendekatan Ciri (Traits)

Gordon Allport (1966), ciri (traits) adalah kecenderungan yang dapat diduga, mengarahkan perilaku individu pada konsistensi dan khas, sifat menetap dengan jangkauan umum dan luas, bagian yang membentuk kepribadian, petunjuk jalan tindakan, dan sumber keunikan. 3 asumsi ciri : (1)membuat berbagai stimulus (S) berfungsi sama, (2)penyebab perilaku dan alat menjelaskan/mengurai perilaku, (3)pembentukan ciri terpisah secara kultural

b)   Pendekatan Psikodinamik

yaitu teori Sigmund Freud tentang id, ego, dan superego. Kepribadian dibentuk dari pengalaman ketika kecil, proses mental sehingga 3 unsur itu menyusun. Konflik membentuk 3 unsur itu maka konflik membentuk kepribadian.

c)   Pendekatan Humanistik

Carl Rogers (1977) : harus mendengar apa yang dikatakan orang lain mengenai diri kita, mempersepsikan dunia dan kekuatan yang mempengaruhi, kemudian mengaktualisasi diri sebagai usaha terus-menerus mewujudkan potensi dengan cara berpusat pada masalah, kreatif, demokratis, mengadakan hubungan pribadi, dan menerima orang lain apa adanya. Kelemahannya : condong ke individualis.

Dua faktor penghubung kepribadian dan perilaku:

1. Locus of control (tempat pengendalian)

Rotter : seseorang menguasai nasib diri sendiri, dikendalikan oleh kekuatan dalam diri sendiri disebut : orang internalizer. Mereka yang dikendalikan dari luar disebut : externalizer. Sifat orang internalizer lahir karena : tidak merasa ditekan orang lain, perilaku berpusat pada pekerjaan, berprestasi tinggi, tidak emosional.

2. Androginy  (konsep kejantanan & kewanitaan)

Sandra L Bem (1974) : sifat jantan = ambisi, percaya diri, dll. Sifat wanita = kasih sayang, lemah lembut dll. Sifat netral =jujur, bahagia, dll. Androgini adalah mereka yang mendapat nilai tinggi secara bersamaan pada dimensi jantan/wanita. Sifat orang androgini : lebih bebas, mengenali dirinya, suka membantu.

Spence dan Helmreich (1978) : orang androgini = harga diri tinggi, pandai bergaul, orientasi pada hasil tinggi.Sedang Davis & Newstrom : peran adalah pola tindakan yang diharapkan dari budaya tsb seseorang atau pola perilaku yang diharapkan pada posisi tertentu yang mencerminkan hak, kewajiban, dan tanggung jawab posisi.

Role set = pelbagai peran yang berbeda-beda. Role conflict = konflik peran yang menyebabkan emosi dan keraguan dalam melangkah. Szilagyi (1977) : ketepatan persepsi peran dapat mempengaruhi penentuan hasil karya dalam organisasi.

 MOTIVASI INDIVIDU

Berbagai pendapat dari para ahli mengenai motivasi yang dapat disimpulkan sebagai berikut; Motivasi adalah dorongan untuk berbuat sesuatu (drive) didalam memenuhi kebutuhan. Keinginan pencapaian dalam memenuhi kebutuhan tersebut tergantung dari kekuatan motifnya. Motif dengan kekuatan yang besar akan menentukan perilaku individu. Dengan kata lain motif adalah kebutuhan, dorongan, atau impuls yang menentukan perilaku seseorang.Disadari bahwa tingkat kepuasan individu manusia berbeda-beda, begitu pula  dengan tingkat kebutuhan manusia juga berlainan, hal ini perlu dipahami oleh seorang wirausaha didalam memotivasi pekerjanya. Disamping itupula seorang wirausaha perlu mengenali kekuatan motif diri sendiri sehingga dapat menjaga kesimbangan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dari penjelasan dan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa seorang wirausaha sebagai pemimpin dalam usahanya, harus memahami tentang motivasi. Pekerjaan seorang pemimpin yang paling penting antarlain adalah, bagaimana dia bisa memotivasi  orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pencapaian tujuan inilah yang menjadi patokan atau ukuran keberhasilan bagi seorang wirausaha.

Seorang wirausaha harus memahami betul bagaimana cara memotivasi pekerja dan mengenal motivasi diri sendiri sehingga menghasilkan perilaku positif yang membuahkan output/hasil kerja meningkat yang pada akhirnya tujuan yang ditetapkan tercapai.

Dikalangan para praktisi manajemen telah lama diketahui bahwa masalah motivasi bukanlah masalah yang mudah, baik memahami apalagi menerapkannya. Karena berbagai alasan dan pertimbangan. Akan tetapi yang jelas bahwa dengan motivasi yang tepat para individu bawahan atau pengikut akan terdorong untuk berbuat semaksimal mungkin dalam pekejaannya. Inilah inti pekerjaan seorang wirausaha sebenarnya, selain memahami bisnis yang dilakukannya,  Iapun harus memahami perlakuan motivasi apa yang tepat bagi   para pengikutnya sehingga kinerja dapat meningkat

Suatu hal penting dalam motivasi  yang perlu diperhatikan   bagi seorang wirausaha yaitu model motivasi yang mengkaitkan antara imbalan dan prestasi. Model tersebut didasari atas berbagai model motivasi yang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan-kelebihan dari model yang ada oleh para ilmuwan digabungkan menjadi satu model.

Menurut Sondang P. Siagian (2005: hal. 293-294). Tampaknya ada kesepakatan dikalangan para pakar, bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengkaitkan imbalan dengan prestasi kerja seorang karyawan.

Model ini menggambarkan bahwa motivasi seseorang  dipengaruhi berbagai faktor , baik bersifat internal maupun eksternal sebagai berikut;

1.  Faktor Internal

Bagi seorang wirausaha faktor ini merupakan pengenal motivasi diri pribadi, bagaimana individu tersebut mempunyai dorongan untuk usaha lalu motif apa yang dominan dalam memilih untuk menjadi wirausaha.

Dalam teori ini dkenalkan  2 kebutuhan atau motif yang perlu diketahui yaitu:

1.Fisiologis.

Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan dasar manusia berupa; sandang, pangan dan papan. Kebutuhan ini merupakan faktor yang paling mendasar, bahwa seseorang yang memilih menjadi wirausaha atau pekerja pertama kali adalah didorong oleh kebutuhan dasar yang menjadi tuntutan hidupnya. Tinggal bagaimana tuntutan kualitas dari kebutuhan tersebut terpenuhi, karena masing-masing individu berbeda dalam memenuhi kebutuhan dasar itu.

Ada individu cukup puas dengan apa yang dihasilkan dan menerima dengan kualitas minimum, namun banyak individu lainnya tidak puas  dengan kualitas kebutuhan dasar yang diterimanya dan menginginkan peningkatan dan perubahan. Banyak penelitian dari para ahli perilaku menunjukkan bahwa, tingginya tujuan yang ingin dicapai berkorelasi secara signifikan dengan kebutuhan dasar yang ingin dicapai. Kita sering melihat dalam kehidupan sehari-hari yang ditemui, bahwa  seaorang pekerja atau wirausaha yang cukup puas dengan apa yang diterimanya maka orang tersebut tidak mempunyai keinginan untuk menetapkan tujuan hidup yang lebih tinggi. Tidak ada keinginan untuk meningkatkan kemampuan, tidak mempunyai  kreatifitas dan inovasi yang tinggi dalam bekerja atau berusaha.

2. Psikologis

Selain kebutuhan fsiologis, seorang wirausaha juga perlu mengenal kebutuhan psikologis yang menjadi penyebab meningkatnya prestasi individu. Yang pada dasarnya bahwa individu setelah terpenuhi akan kebutuhan fsiologis maka seseorang akan menuntut akan kebutuhan yang lain  dalam hal ini kebutuhan psiologis seperti;

  • Kebutuhan akan kasih sayang, seseorang yang sudah terpenuhi akan kebutuhan dasar diatas, maka individu tersebut membutuhkan jalinan kasih sayang dengan keluarga maupun membentuk keluarga bagi yang belum berkeluarga.
  • Kebutuhan mempertahankan diri,  tuntutan kebutuhan ini berkaitan dengan mempertahankan harga diri seperti  untuk tidak dipermalukan, kehilangan muka serta mempertahankan prestise.
  • Kebutuhan memperkuat diri, kebutuhan ini berkaitan dengan tuntutan individu akan pengembangan diri, menaikan prestise dan mendapat pengakuan diri, serta memuaskan diri dengan dapat menguasai orang lain.

Kebutuhan-kebutuhan yang diuraikan diatas harus dipahami benar bagi seorang manajer atau wirausaha, hal ini berguna dalam motivasi diri sendiri maupun memotivasi orang lain.

2.   Faktor Eksternal.

Teori ini menjelaskan faktor-faktor yang dikendalikan melalui pengaruh yang dipunyai oleh seorang manajer atau wirausaha yang berupa imbalan-imbalan sebagai berikut:

  • Gaji
  • Kondisi kerja
  • Penghargaan
  • Jenjang karier
  • Tanggung jawab

Bahwa seseorang pekerja termotivasi untuk bekerja lebih baik tergantung dari faktor yang dikendalikan oleh seorang pemimpin perusahaan atau seorang wirausaha dan interaksi positif antar dua faktor tersebut yang pada umumnya menghasilkan tingkat motivasi yang tinggi.

Teori motivasi eksternal tidak mengabaikan teori motivasi internal, tetapi justru mengembangkannya. Teori motivasi eksternal menjelaskan kekuatan yang ada didalam individu yang dipengaruhi factor-faktor intern yang dikendalikan oleh manajer atau seorang wirausaha berupa imbalan-imbalan seperti diuraikan diatas.

Manajer perlu memahami dan mengenal motivasi eksternal untuk mendapat tanggapan positif dari karyawannya. Tanggapan yang positif ini menunjukkan bahwa bawahan-bawahannya sedang bekerja demi kemajuan organisasi. Seorang manajer dapat mempergunakan motivasi eksternal yang positif maupun yang negatif. Motivasi posiif memberikan imbalan-imbalan berupa penghargaan untuk pelaksanaan kerja yang baik. Motivasi negatif memperlakukan hukuman bila pelaksanaan kerja tidak baik. Keduanya dapat dilakukakan oleh pimpinan perusahaan. Teori McGregor dan Herzberg akan membantu menjelaskan teori motivasi eksternal berikut ini.

Teori X dan teori Y McGregor

Teori motivasi yang menggabungkan motivasi internal dan motivasi eksternal dikembangkan oleh Douglas McGregor, Ia seorang psikolog sosial Amerika, dalam proyek risertnya meneliti tentang motivasi dan perilaku umum tentang anggota organisasi, telah merumuskan perbedaan dua teori dasar mengenai perilaku manusia. Kedua teori itu disebut dengan nama teori X dan teori Y.

Teori tradisional mengenai kehidupan organisasi banyak diarahkan dan dikendalikan atas dasar teori X adalah:

  1. Rata-rata para pekerja itu malas, tidak suka bekerja dan akan menghindar bila dapat.
  2. Karena pada dasarnya tidak suka bekerja, maka harus dipaksa, dkendalikan, diperlakukan dengan hukuman, dan diarahkan untuk pencapaian tujuan organisasi
  3. Rata-rata pekerja lebih senang dibimbing, berusaha menghindari tanggung jawab, mempunyai ambisi yang kecil, keamanan drnya diatas segala-galanya.

Teori X ini masih banyak digunakan dalam organisasi-organisasi, karena para manajer percaya bahwa anggapan-anggapan itu benar, dan banyak sifat-sifat yang dapat diamati dari perilaku manusia sesuai dengan anggapa-anggapan tersebut. Namun teori X tidak dapat menjawab seluruh fakta yang ada yang terjadi dalam organisasi. Oleh karena itu McGregor  menjawabnya dengan teori Y, yang dinyatakan lebih realistis. Menurut teori Y  kodrat perilaku manusia tidak sesuai dengan anggapan teori X. Mereka berperilaku seperti anggapan teori X karena mereka memperoleh perlakuan tertentu dalam oganisasi.

Angapan-anggapan teori Y adalah:

  1. Usaha phisik dan mental yang dilakukan manusia dalam bekerja adalah kodrat manusia, sama halnya dengan bermain atau beristrirahat.
  2. Rata-rata manusia bersedia belajar, dalam kondisi yang layak , tidak hanya menerima tetapi mencari tanggung jawab.
  3. Ada kemampuan yang besar dalam kecerdikan, kreatifitas, dan daya imajinasi dalam memecahkan masalah-maslah dalam organisasi yang secara luas tersebar pasa seluruh karyawan.
  4. Pengendalian ekstern dan hukuman bukan satu-satunya untuk mengerahkan usaha pencapaian tujuan organisasi.
  5. keterikatan pada tujuan organisasi adalah fungsi pengharagaan yang diterima karena prestasinya dalam pencapaian tujuan tersebut.
  6. organisasi seharusnya memberikan kemungkinan orang untuk mewujudkan potensinya, dan tidak digunakan sebagian.

Anggapan-anggapan  teori Y ini dapat lebih mengarahkan tercapainya  motivasi yang lebih tinggi dan menaikkan kemungkinan kebutuhan individu dan tercapainya tujuan organisasi. Dasar utama teori Y adalah integrasi dan kerjasama. Dengan integrasi, para karyawan dapat mencapai tujuan mereka sendiri melalui sumbangannya dalam pencapaian tujuan organisasi dimana dia mengikat diri.

Perlu dipahami, bahwa motivasi eksternal seharusnya cukup fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan setiap keunikan orang dalam organisasi. Para karyawan seharusnya tidak untuk cocok dengan satu teori yang kaku atau pandangan manajer atau pimpinan perusahaan. Hal ini belaku juga pada penerapan teori X dan teori Y yang dicetuskan McGregor.

Pendekatan-pendekatan terhadap Motivasi.

Motivasi dapat dipandang sebagai suatu proses psikologi dasar yang terdiri atas berbagai kebutuhan, dorongan dan tujuan. Pendekatan hubungan manusia tradisional pada umumnya tidak menyadari pentingnya proses hubungan ini. Pandangan tersebut didasarkan pada 3 asumsi berikut ini:

  1. Personalia terutama dimotivasi secara ekonomis, perasaan aman serta kondisi kerja yang baik.
  2. Pemenuhan ketiga hal itu akan mempunyai pengaruh positif pada semangat kerja mereka.
  3. Ada korelasi positif antara semangat kerja dan produktivitas.

Dengan tiga asumsi ini, masalah motivasional yang dihadapi manajer relatif mudah dipecahkan dan diselesaikan. Semua hal yang harus dilakukan manajemen menyangkut rencana-rencana insentif moneter, jaminan keamanan, dan pengaturan kondisi kerja secara baik; semangat kerja akan meningkat dan produktivitas maksimum akan tercapai. Banyak ahli hubungan manusia, psikologi industri dan teknisi industri mendukung pendekatan ini, dan kemudian para personalia manajer mengimplementasikan dalam praktek.

Dalam kenyataannya, pendekatan hubungan manusia tradisional tidak sepenuhnya berjalan dalam praktek. Telah terbukti pendekatan ini terlalu sederhana untuk dapat memecahkan masalah masalah motivasional yang kompleks yang dihadapi manajemen. Ketiga asumsi menjadi tidak valid atas dasar pembuktian melalui pengalaman dan penelitian. Motivasi manusia jauh lebih kompleks dan berbeda dari pendekatan ekonomik, keamanan dan kondisi kerja yang disarankan. Pendekatan tradisional hanya mengungkapkan permukaan masalah motivasi yang sangat kompleks. Ada sejumlah variabel-variabel internal dan lingkungan yang mempengaruhi motivasi untuk bekerja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ON MISSION AND LEADERSHIP


 

  • Author : The Drucker Foundation
  • Editor : Frances Hesselbein and Rob Johnton
  • Publisher : Jossey-Bass
  • Published Year : 2002
  • Pages : 200 pages

On Mission and Leadership adalah buku karya Frances Hesselbein dan Rob Johnton yang secara khusus menggali tentang peran vital misi dalam kepemimpinan. Sebagai bagian dari Leader to Leader Guide, yang merupakan inspirasi dan informasi dari para pemikir terkenal, buku ini menghadirkan para pemikir top tentang kepemimpinan yang memberi inspirasi, visi dan manajemen yang fokus pada misi.

Menurut Hesselbein (2002), saat ini para pemimpin, baik di bidang bisnis, sektor nirlaba, maupun pemerintahan, belajar untuk berbicara dengan istilah yang dapat diketahui secara umum. Istilah ini adalah istilah yang terkait dengan visi (VISION), nilai (VALUS) dan misi (MISSION) organisasi, tentang strategi yang berdasarkan ketiga hal tersebut, tentang pelayanan kebutuhan konsumen; apapun tujuan, produk atau pelayanan yang diberikan oleh organisasi tersebut.

Keunggulan Dari Kepemimpinan (Warren Bennis)

Modal intelektual adalah asset suatu organisasi. Seorang pekerja yang berpengetahuan akan mencari arti dan tujuan, iklim kepercayaan, ras optimis dan hasil dari apa yang dikerjakannya. Untuk mempertahankan dan memberi motivasi kepada pekerja senacam ini, tidak hanya diperlukan kemampuan teknis, pemikiran strategis dan kecakapan dari seorang pemimpin; tetapi juga diperlukan kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengolah bakat. Selain itu juga diperlukan pertimbangan dan karakter yang baik dari seorang pimpinan.

Atribut Seorang Pemimpin Yang Berkualitas;

  1. Kecakapan Teknis, yaitu mengerti tentang bisnis dan memahami salah satu bidang.
  2. Kecakapan Konseptual, kemampuan untuk berpikir abstrak atau strategis.
  3. Track Record, mengetahui secara pasti mengenai hasil yang dicapai.
  4. Keterampilan Pribadi, mencakup pada kemampuan untuk berkomunikasi, memotivasi dan mendelegasikan.
  5. Citarasa, kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengoleh bakat.
  6. Pertimbangan, kemampuan untuk mengambil keputusan yang sulit berdasarkan data yang tidak lengkap dalam waktu singkat.
  7. Karakter, kualitas yang menyatakan siapa diri kita.

 

Karakter seorang pemimpin yang efektif harus dapat memenuhi harapan karyawannya. Oleh sebab itu pemimpin harus mempunyai ;

  1. Tujuan yang jelas, pemimpin yang efektif akan memberikan semangat, pandangan ke depan dan arti dalam proses menentukan tujuan perusahaan.
  2. Membangkitkan dan mempertahankan kepercayaan, faktor-faktor yang membangun kepercayaan, baik dalam pekerjaan, kerjasama, maupun pertemanan adalah : kompetensi, kesetiaan, perhatian, keterusterangan dan harmoni.
  3. Mengembangkan harapan, harapan memadukan keteguhan seseorang dan kemampuan untuk menggunakan perangkat yang dimiliki untuk mencapai tujuannya. Optimisme yang sangat besar, yang membantu membangkitkan kekuatan dan komitmen yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi. Pemimpin yang penuh harapan akan memiliki pernyataan seperti :
  • Saya berpikir bagaimana caranya untuk keluar dari kemacetan.
  • Saya bekerja denga penuh semangat untuk mencapai tujuan.
  • Pengalaman memimpin yang saya peroleh telah mempersiapkan untuk mampu menghadapi masa depan.
  • Banyak cara untuk menyelesaikan masalah tetapi tidak meninggalkannya.

4. Memperoleh hasil, seorang pemimpin yang realistis akan menggunakan waktu dan sumber daya yang dimiliki untuk mendapatkan hasil.

Pemimpin yang berorientasi kepada hasil, berharap dapat mencapai sesuatu yang besar, dan menyadari bahwa mereka membutuhkan bantuan orang lain. Mereka akan membawa semangat, kekuatan besar, toleransi terhadap resiko. Dan pemimpin yang baik percaya bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk memberikan kesempatan bagi seseorang untuk tumbuh dan menciptakan lingkungan yang membuat orang tetap belajar.

Kecerdasan Emosional Seorang Pemimpin (Daniel Goleman)

Bagi seorang pemimpin yang sukses, kecerdasan emosional merupakan hal yang penting dari pada IQ atau keterampilan teknik. Yang termasuk dalam kecerdasan emosional adalah kepedulian terhadap diri sendiri, kemampuan untuk mengelola emosi dan desakan hati, kemampuan untuk memotivasi orang lain, kemampuan untuk memperlihatkan empati dan kemampuan untuk menjaga hubungan. Seorang pemimpin yang sukses memilih untuk memberi penghargan terhadap karyawannya berdasarkan kecerdasan emosi yang mereka miliki. Mereka juga berusaha untuk mengembangkan kecerdasan emosional karyawan dalam rangka meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan, kemampuan untuk melihat jangka panjang dan serangkaian perilaku produktif lainnya.

 

Ada lima demensi kecerdasan emosional yang merupakan dasar kecakapan kepemimpinan :

1. Kesadaran terhadap diri sendiri, yaitu kemampuan kepemimpinan yang didasari oleh kesadaran terhadap diri sendiri adalah kepercayaan diri, sehingga dapat memimpin dengan tegas, dengan kekuatan dimana hal itu merupakan sumber keberanian dalam kepemimpinan

2. Mengelola emosi, pemimpin yang efektif belajar bagaimana mengatasi perasaan, terutama tiga perasaan besar yaitu kemarahan, kegelisahan, kesedihan dan merasa tidak memiliki kemampuan. Mengelola emosi adalah persoalan pengendalian dorongan hati seseorang, dan hal itu merupakan ketrampilan hidup.

3. Memberi motivasi, mempunyai kemampuan memberikan motivasi berupa optimisme dengan melihat kebelakang sebagai kekuatan untuk melakukan perubahan dan selalu mencoba lagi.

4. Menunjukkan empati, empati merupakan dasar untuk mengatasi perbedaan yang ada di dalam tenaga kerja. Empati juga merupakan hal yang sangat diperlukan dalam memberi latihan yang efektif dalam mengembangkan orang lain. Empati adalah salah satu kunci dari ketrampilan kepemimpinan.

5. Menjaga hubungan, berpikir positif, menyelesaikan konflik, memahami arti hubungan, dengan kata lain, terampil dalam berhubungan dengan orang lain merupakan sesuatu yang memiliki kekuatan besar dalam memaksakan potensi dari sebuah tim.

Permasalahan Dengan Kerendahan Hati (Patrick Lencioni)

Seorang pemimpin yang tidak mampu menyatakan dirinya dan kurang memiliki karisma dapat mengalami kegagalan dalam menghasilkan kepercayaan. Seorang pemimpin berkarisma yang yakin bahwa dirinya lebih penting dari orang ain, secara perlahan akan kehilangan pengikut. Untuk menghasilkan kesetiaan dan kegairahan, seorang pemimpin perlu merangkaiakan hati dengan karisma. Kedua hal itu dapat dikembangkan melalui refleksi, umpan balik dan penekanan pada ketulusan.

Pemimpin yang karismatik yang mau duduk bersama masyarakatnya dan berdiskusi tentang naik-turunnya gaya kepemimpinan mereka, kemungkinan besar akan menjadi rendah hati oleh pengalamanpengalamannya. Tetapi karena mereka terbuk dan memasyarakat mereka akan lebih suka untuk mempertahankan sisi karismatiknya. Proses untuk menjadi rendah hati yang diketahui public dapat meningkatkan kemampuan seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin yang karismatik karena hal itu menunjukkan keinginan untuk ketulusan.

Misi Sebagai Prinsip Dalam Organisasi (C. William Pollard)

Seorang pemimpin harus mampu mengkomunikasikan misi organisasinya kepada semua bagian yang ada dalam organisasinya. Misi merupakan titik referensi, pedoman dan sumber pengharapan pada masamasa perubahan. Jika dihubungkan dengan nilai-nilai manusia, akan memberikan tujuan dan arti kepada mereka yang memenuhi misi dan memberikan dorongan bagi kreativitas, produktivitas dan kualitas dalam pekerjaan serta pengembangan pribadi.

Banyak yang mengatakan bahwa pemimpin saat ini harus belajar untuk memprakarsai dengan cepat dan melakukan perubahan terus menerus melalui tindakan nyata. Perubahan semacam ini adalah kenyataan dalam hidup. Masalahnya orang yang memperbaiki organisasi tidak dipersiapkan untuk menghadapi perubahan yang cepat dan terus menerus. Dalam ketiadaan misi yang berarti dan tujuan yang melebihi perubahan dan memasukkan unsur perhatian serta memberdayakan orang, perubahan dapat membawa ketidaksinambungan, ketidaktepatan dan kemerosotan akhlak.

Dapatkah organisasi menjadi komunitas moral untuk membantu pembentukan karakter manusia dan perilaku masyarakat? Dapatkah misi menjadi prinsip dalam pengelolaan organisasi? seorang pemimpin harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, merupakan tugas pertama. Tugas pokok adalah menomorsatukan misi perubahan dan yang lebih penting adalah menghidupkan misi tersebut.

Seni Kepemimpinan Chaordic (Dee Hock)

Tanggung jawab utama seorang pemimpin adalah mengatur karakter, integritas, kerendahan hati, pengetahuan, kata-kata dan tindakan yang dimilikinya. Menyangkal pemikiran bahwa manajemen adalah suatu latihan bagi kekuasaan atas bawahan, kepemimpinan chaordic didasari atas dukungan yaitu, suatu respons yang bersifat suka rela terhadap tujuan yang jelas dan membangun dan memaksakan penerapan prinsip-prinsip etika.

Seorang pemimpin yang choardic memusatkan perhatiannya keatas, kesamping dan kebawah dengan sama baik. Mereka tidak mendekte; mereka mengubah kondisi-kondisi yang menghalangi munculnya sinergi dan penyempurnaan.

Kepemimpinan sejati dan perilaku yang membesarkan hati memiliki kecenderungan kearah yang lebih baik sedangkan tirani atau manajemen yang mendominasi dan perilaku yang memaksa memeliki kecenderungan kearah yang buruk.

Manusia bukanlah sesuatu untuk dimanipulasi, dimasukkan kedalam kotak dan diberi label kemudian dibeli dan terjual. Mereka bukanlah sumber daya manusia. Mereka adalah manusia yang mengisi keutuhan dunia yang berputar, tidak terbatas sampai kita mempelajari konsep pemimpin dan pengikut dengan kacamata baru. Kita harus mempelajari konsep tentang atasan dan bawahan dengan rasa skiptis yang lebih besar. Kita harus mempelajari keadaan organisasi yang membutuhkan perbedaan-perbedaan semacam itu dengan kesadaran yang benar-benar berbeda. Itulah sebenarnya yang dimaksud kepemimpinan yang dilakukan oleh setiap orang. Kepemimpnan choardic yang berada didalam, diatas, disekitar dan dibawah, yang sangat diperlukan oleh dunia ini dan yang tidak dapat diberikan oleh era indusri dan manajemen yang mendominasi.

Pengelolaan Yang Hati -Hati (Henry Mintzberg)

Pengelolaan yang hati-hati mengandung pemahaman bahwa seorang pemimpin bukanlah merupakan jumlah total dari organisasi. Pengelolaan yang hati-hati melibatkan tindakan yang memberikan inspiraasi, mendorong dan memampukan orang lain dengan membangun budaya keterbukaan, kepercayaan, kebersatuan dan daya. Pemimpin yang hati-hati tidak menonol, tetapi menarik dan interaktif. Mereka memelihara organisasinya dan menghabiskan waktu lebih banyak untuk mencegah timbulnya masalah dari pada mengatasi masalah. Merekamemasukkan nilainilai dan secara perlahan membawa perubahan yang sangat besar dimana semua orang ikut bertanggungjawab dan pada saat yang sama menjaga agar semuanya berjalan lancar, suatu peningkatan alami berjalan terus.

Mempertahankan Misi Organisasi (David M. Lawrence)

Dalam menghadapi tantangan persaingan dengan tetap mempertahankan misi sosialnya, ada 8 pelajaran yang diperoleh Kaiser Permante untuk organisasinya yang berdasarkan misi yaitu :

  1. Menerapkan prinsip bisnis agar memperoleh kondisi yang baik;
  2. Menurunkan biaya dengan cara meningkatkan kualitas secara terus menerus;
  3. Menyusun arah strategis berdasarkan misi organisasi;
  4. Melibatkan tenaga kerja dan bersikap terbuka terhada ide-ode baru;
  5. Meluruskan struktur dan jalur perintah;
  6. Mendorong inovasi dan fleksibilitas;
  7. Bekerja sama dengan pihak-pihak terkait;
  8. Mengintegrasikan pelayanan.

Menutup Jurang Pemisah Strategi Antargenerasi (Christopher Barlett)

Model manajemen lama yang dibangun disekitar strategi, struktur dan sistem harus diganti dengan model manajemen baru yang didasarkan pada tujuan, proses dan manusia. Sumber daya yang langka saat ini adalah pengetahuan dan keahlian dibandingkan dengan kelangkaan sumber dana dimasa lalu. Salah satu tugas dari seorang pemimpin adalah mendekati, memotivasi dan memelihara orang-orang yang ingin melakukan sesuatu yang berarti. Daripada mendasarkan organisasi pada hierarki penugasan dan tanggungjawab, akan lebih baik bila organisasi dibangun dengan tiga inti proses, yaitu:

  1. Insiatif usaha dari bawah ke atas;
  2. Menghubungkan dan meningkatkan asset dalam upaya mengembangkan, menyebarkan dan menerapkan inisiatif dan pengetahuan;
  3. Memperbarui diri sendiri secara terus menerus.

Membangun Merek Kepemimpinan (Dave Ulrich)

Model umum atribut kepemimpinan hanya memberikan nilai yang tidak berarti. Merek kepemimpinan, keunggulan bersaing, terjadi pada saat pemimpin di setiap tingkat organisasi mengerti dengan jelas hasil-hasil utama yang diinginkan, kemudian mengembangkan pendekatan konsisten untuk mencapai hasil-hasil tersebut dan membangun atribut-atribut yang mendukung pencapaian hasil-hasil tersebut. Ini dapat berhasil jika atributatribut yang benar secara strategis dikaitkan dengan hasil-hasil yang diinginkan. Pelatihan kepemimpinan, penetapan kerja, input balik 360 derajat dan pemberian pelatihan harus difokuskan kepada atribut-atribut dan hasilhasil yang ingin dicapai.

Mengapa Visi Menjadi Hal Yang Penting (Robert Knowling)

Knowling memperdebatkan bahwa visi dan nilai-nilai membentuk perilaku organisasi dan mencetuskan tindakan strategis. Ia mengajukan langkah-langkah untuk menetapkan, mengartikulasikan dan menyebarkan visi dan nilai-nilai, yaitu:

  1. Menilai organisasi, industri dan sector ekonomi,
  2. Berbicara kepada karyawan baru,
  3. Mencocokkan atribut-atribut dan usaha dengan hasil-hasil
  4. Berhubungan dengan pelanggan, mitra kerja, dan karyawan garda depan.
  5. Memimpin perubahan.

Kondisi-kondisi yang dapat merusak perubahan, yaitu :

  1. Meremehkan Budaya. Budaya menentukan bagaimana orang-orang bekerja sama dan bagaimana respons mereka terhadap perubahan. Tidak ada pemimpin yang dapat berhasil tanpa mengenali dan membentuk norma-norma dalam kerja;
  2. Menyatakan kemenangan. Apabila tidak bekerja untuk peningkatan yang sistematik dan kontinyu, organisasi akan segera kembali kebentuk semula. Kemenangan yang sejati seperti visi yang dipaksakan, tidak pernah benar-benar tercapai;
  3. Membiarkan orang lain menarik nafas. Mengajak orang mau ikut dalam perubahan dan memberkan respons akan kegagalan. Kemudian menciptakan struktur dan proses berjalan untuk membuat perubahan menjadi dari bisnis;
  4. Mendelagasikan proses perubahan. Seorang pemimpin harus berjalan diruang terbuka, menelepon dan menunjukkan keberadaannya secara fisik dan emosional. Dan, proses perubahan dimulai dari diri pemimpin, bagaimana pemimpin memimpin rapat, mengelola jadwal-jadwal dan membagi informasi;
  5. Mempercayai tekanan Diri Sendiri. Merupakan hal yangmudak untuk tergoda akan kesuksesan. Setiap pemimpin menerima laporan yang baik dari lapangan. Kurangi berita-berita yang baik dan perhatikan keraguan yang ada pada diri pemimpin. Kesuksesan pribadi dan organisasi, keduanya berbahaya dan akan berlalu dengan cepat.

 

 

 

 

BERPIKIR SISTEM: SUATU PENDEKATAN HOLISTIK PENELITIAN


GambarPenelitian  adalah “suatu kegiatan yang menghasilkan pengetahuan. Berpikir Kesisteman merupakan pendekatan holistik untuk penyelidikan. Hal ini dapat dipahami sebagai filsafat kontemporer. Kadang-kadang para pendukungnya merujuk kepada sistem berpikir sebagai “paradigma baru pemikiran kontemporer. Dalam menerangkan Struktur revolusi pengetahuan, Kunn mendefinisikan paradigma sebagai apa yang anggota komunitas ilmiah terdiri dari orang-orang yang berbagi paradigma 3) jika sistem pemikiran filosofis milik masyarakat, wajar pertanyaan harus ditujukan pada masalah: Apakah filsafat berpikir sistem?

Domain Filsafat dalam Berpikir Sistem

Berpikir  sistem menurut DC Philiphs adalah Pemikiran sistem dilabeli sebagai “filsafat mendiskreditkan” 4) Di sisi lain, Fenwick Inggris menyatakan berpikir  kesisteman akan jatuh ke dalam filsafat yang dikenal sebagai realisme ilmiah. Yang tidak diragukan lagi bahwa berpikir sistem menggunakan metode ilmiah sebagai inquiry, tapi ini tidak berarti bahwa berpikir sistem ini identik dengan metode ilmiah dalam hal ini adalah kira-kira analog dengan kasus pragmatisme dan ilmiah. Sebagai soal fakta, pemikiran sistem adalah “sebuah counter untuk saintisme, 7) di mana saintisme dalam perwujudan konkrit dari filsafat realisme ilmiah. 8) Dua ciri khas dari berpikir kesisteman  sungguh bertentangan  dengan label realisme ilmiah, yaitu pendekatan holistik dan pandangan  metafisika. Holisme seperti kita akan dijelaskan lebih lanjut, tidak hanya ontologis, tetapi epistemologis dan aksiologis juga. Pandangan holistik ini menyediakan dasar metafisik berpikir sistem. Metafisik ini sistem domain yang ciri berpikir sebagai “meta-ilmu” perceraian dari realisme ilmiah, serta holistik dari ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Realisme ilmiah metafisika membenci dan menolak gagasan holisme sebagai sesuatu yang unik dan asli yang tidak setuju konvensional analisis ilmiah. Di sisi lain, pendukung berpikir sistem berbicara blak-blakan sebagai “antitesis generik ke Realisme ilmiah memiliki banyak nama lain, antara lain  adalah positivisme logis, Konsep berpikir sistem  itu sendiri masih dalam proses pendewasaan dan perkembangan. Pada saat ini, yang terbaik yang bisa diusahakan adalah memberi label Thinking System sebagai”seorang maverick (orang/ organisasi yang tidak profesional) dari pandangan filosofis dalam upaya ilmiah

Sifat-sifat Berpikir Sistem

Setiap aliran pemikiran tertuju pada  tiga pertanyaan dasar filosofis dan dibangun dengan jawaban filsafat. Setiap filosofis utama dapat dibedakan dengan menelusuri tiga kali lipat pembukaan filosofis, Pertanyaan pertama adalah: apa dan berapa banyak yang ingin kita ketahui? Jawaban atas pertanyaan ini tergantung pada ontologi, yaitu, dengan teori yang ada. Kedua, metode apa yang lakukan untuk  kita memperoleh pengetahuan? Jawaban atas pertanyaan ini tergantung pada epistemologi, atau teori pengetahuan. Akhirnya, apa gunanya  pengetahuan bagi manusia? Pertanyaan ini dijawab oleh aksiologi.

Inti utama dari pemikiran sistem, consepts Teori Sistem Umum, atau salah satu anggota yang berbeda dari serangkaian konsep-konsep yang terkandung dalam Teori Sistem Umum, adalah teori sistem terbuka. Konsep sistem terbuka telah banyak digunakan dan diterapkan pada berbagai bidang dan subject matter. Sepanjang penelitian kami, pandangan dasar penyelidikan ini, kita berurusan dengan sistem terbuka. Atau diungkapkan secara berbeda, kita melihat masalah dari sudut pandang berpikir sistem.

Aspek Ontologis dalam Berpikir Sistem

Masalah ontologis dapat dimasukkan ke dalam tiga kata: “ What is there?”(Apa yang ada?). Para ahli teori sistem menjawab: system adalah setiap eksistensi tidak dapat berdiri sendiri tetapi berkaitan dengan dengan eksistensi lain secara tertib dan teratur. Para ahli teori sistem mempunyai nilai pengandaian tertentu, yaitu keteraturan, dan non-keacakan .Oleh karena itu, tujuan dari penyelidikan untuk membawa ke permukaan menjadi pola ini. Pertanyaan tentang ” Apa dan berapa banyak yang kita ingin tahu?.  Berapa banyak yang kita ingin tahu? Kita ingin tahu tentang sifat-sifat yang berada di bawah penyelidikan, tidak hanya properti milik sendiri, tetapi lingkungan hidup serta dampak lingkungan pada manusia.

Berpikir  Sistem  

menyelidiki kesamaan bentuk dari konsep-konsep, hukum-hukum, dan model-model dalam berbagai bidang, dan membantu dalam pengalihan dari satu bidang ke lainnya;

(1)   mendorong pengembangan model-model teori yang memadai dalam bidang-bidang yang tidak memilikinya;

(2)   memperkecil penggandaan upaya-upaya teori dalam bidang-bidang berbeda;

(3)   menggalakan kesatuan sains melalui peningkatan komunikasi di antara spesialis.

Sebagaimana kita melihatnya, Riset Sistem Umum adalah kegiatan menyempurnakan Teori Sistem Umum pada dasarnya adalah logika sistem-sistem, yang memberikan suatu kerangka a priori untuk diterapkan pada beragam disiplin dan riset ilmiah. Arah kedua dari gerakan sistem-sistem adalah menyangkut aplikasi logika sistem-sistem. Ada dua cara logika sistem-sistem diterapkan: Pertama, diterapkan langsung pada suatu disiplin atau riset ilmiah tertentu, misalnya ancangan sistem-sistem terhadap teori pemasaran. Dalam penerapan ini, teori pemasaran menerapkan konsep holisme untuk menjelaskan kesalingterkaitan di antara komponen-komponennya. Tidak ada hal baru apa pun dalam arti teori, kecuali penjelasan teorinya menjadi lebih tertib ketika ia disajikan dalam kerangka sistem-sistem. Hampir semua ilmu perilaku dan sosial bisa memanfaatkan penerapan logika sistem-sistem dalam menjelaskan dan menampilkan teori-teori mereka secara lebih tertib. Penerapan macam ini akan disebut ancangan atau pendekatan sistem. Ancangan sistem bisa diartikan sebagai penerapan logika sistem-sistem pada bidang-bidang atau riset ilmiah khusus dengan maksud menjelaskan atau menampilkan kesalingterkaitan di antara komponen-komponen dari teori disiplin itu, atau komponen-komponen dari masalah risetnya.

Penerapan lain dari logika sistem berhubungan dengan metode-metode penelitian tertentu, atau dalam perkataan “strategi riset.” Contoh-contoh dari penerapan macam ini adalah analisis sistem dan riset operasi. Analisis sistem pada dasarnya adalah suatu metode penyelidikan atau strategi riset dalam menghadapi masalah-masalah pilihan di dalam ketidakpastian. Lebih spesifiknya, analisis sistem adalah suatu analisis ekonomi yang berkaitan dengan pemilihan alternatif dalam mencapai sasaran tertentu. Jelas, pendekatan sistem dan analisis sistem sangat berbeda dalam proses-proses dan sasaran-sasaran mereka. Hasil dari penerapan ancangan system terhadap masalah adalah penjelasan dan penampilan yang tertib dari kesalingterkaitan antara komponen-komponen masalah itu. Ancangan system tidak menghasilkan solusi apa pun dalam memecahkan masalah itu. Di sisi lain, analisis sistem memang menyelesaikan masalah itu, yaitu dengan memilih jalur tindakan yang terbaik. Dalam hal ini, sebagaimana kita akan jabarkan lebih lanjut, analisis sistem memiliki suatu nilai prediktif.

D.C Phillips secara sengit menyerang buku karya Philip H. Coombs berjudul The World Educational Crisis: A Systems Analysis sebagai suatu prototipe penerapan analisis sistem yang tidak menghasilkan solusi sama sekali. Sebenarnya, Coombs menerapkan ancangan sistem terhadap analisisnya, di mana dia menggunakan logika sistem dalam menggambarkan dan menampilkan kesalingterkaitan antara komponen-komponen dari permasalahan pendidikan. Dipandang dari segi ini, The World Educational Crisis adalah sebuah buku yang tanpa tandingan tentang sifat permasalahan pendidikan. Namun, penyalahgunaan istilah analisis sistem bukannya pendekatan sistem, telah membawa buku ini ke fokus kontroversi.

Analisis sistem dan riset operasi bisa dikategorikan sebagai metode-metode penyelidikan. Metode, meminjam batasan dari Paul Tillich, adalah cara sistematis melakukan sesuatu, khususnya dalam memperoleh pengetahuan. Metode terkait dengan teknik-teknik, di mana kita bisa membayangkan metode sebagai strategi penyelidikan, dan juga teknik-teknik adalah taktik-taktiknya. Teknik-teknik, mengikuti Abraham Kaplan, adalah prosedur-prosedur khusus yang digunakan dalam suatu ilmu tertentu, khususnya tautan-tautan penyelidikan dalam ilmu itu.

Analisis sistem dan riset operasi sebagai metode-metode penyelidikan terkait dengan beberapa teknik. Analisis system menggunakan teknik-teknik analisis manfaat-biaya dan keefektifan-biaya. Riset operasi berkaitan dengan teknik-teknik teori permainan, pemrograman linier, teori mengantri, dan simulasi Monte Carlo. Teknik-teknik ini sama sekali tidak baru. Teknik analisis manfaat-biaya yang dipuji sebagai “salah satu tulisan terobosan paling orisinal dalam seluruh sejarah ilmu ekonomi” diperkenalkan oleh Dupuit seawall 1844. Teori mengantri dikembangkan oleh Johannsen pada 1907. Teknik-teknik ini diletakkan di bawah payung pemikiran sistem tidak berdasarkan pada asal mereka tetapi pada kaitan mereka dengan metode-metode khusus yang dikembangkan di bawah pengaruh konsep sistem. Tentu, ada juga teknik-teknik baru yang diluncurkan oleh berpikir seperti PERT dan CPM. Bahkan, disiplin-disiplin ilmiah baru muncul di bawah bendera holism. Cybernetics diciptakan oleh Norbert Wiener pada 1948. Dalam tahun yang sama Claude Shannon menerbitkan sebuah artikel berjudul “A Mathematical Theory of Communication” yang menandai permulaan teori informasi.

PPBS adalah penerapan para analis system terhadap manajemen modern. Pokok bahasan PPBS adalah bidang manajemen, khususnya mengenai fungsi-fungsi perencanaan, pemrograman, dan penganggaran. Metode penyelidikan dalam hal ini adalah analisis system, dan di bawah payung pemikiran system, PPBS juga menerapkan ancangan system. Fungsi perencanaan, pemrograman, dan penganggaran, dipandang di bawah wawasan system ini, sehingga menjadi saling terkait sehingga membentuk suatu system terpadu.

Tipologi pemikiran system yang sedang dikemukakan tidaklah lengkap. Ia tidak dimaksudkan sebagai suatu daftar, melainkan memberikan kerangka, anggota-anggota mana dari himpunan kategori tertentu dari nomenklatur system kita bisa dilekatkan. Paling tidak, ia bermaksud untuk memperjelas perbedaan antara pendekatan system, analisis system, analisis keefektivan-biaya, analisis manfaat-biaya, PPBS dan sebagainya

fungsi dari teori dari sistem yang terbuka sebagai sebuah penelitian logis. Dalam pengerjaannya banyak perdebatan dialamatkan pada Sistem Teori Umum dapat menjadi jelas. Sebuah teori dalam bidang ilmu pengetahuan dapat didefinisikan sebagai “sekumpulan gagasan (konsep) yang saling berhubungan, definisi-devinisi, dan dalil-dalil yang memberikan sebuah gambaran fenomena yang sistematis dengan ketentuan yang berhubungan antar variabel, dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi/meramalkan fenomena, jika Sistem Teori Umum itu adalah sebuah teori ilmu pengetahuan kemudian Sistem Teori Umum ini seharusnya memiliki sebuah kemampuan untuk memprediksi. Sistem Teori Umum adalah ilmu pengetahuan faktanya bahwa penelitian dalam membangun konsep dari Sistem Teori Umum diperlakukan dalam gaya ilmu pengetahuan. Dalil diperoleh dari Sistem Teori Umum, sebagai contoh milik sistem terbuka, menyajikan sebuah penelitian logis dan bukan sebuah dasar pengambilan kesimpulan, sebagai latihan secara umum dalam penelitian ilmiah. Jadi, percobaan Philips untuk mencemarkan Sistem Teori Umum sebagai sebuah filsafat yang tidak dipercaya karena caranya tidak terprediksi dari sistem teori dirinya sendiri bertentangan. Tentu, seseorang mungkin berargumen, bagaimana bisa kita membuat prediksi dari sebuah penelitian yang logis, penelitian yang logis itu sendiri, adalah sebuah alat dari penelitian yang tidak memiliki subjek masalah dari dirinya sendiri. Itu adalah hal yang sama dengan pendekatan sistem, yang menunjukkan cara melihat kedalam penyelidikan, yang mendasari sebuah sudut pandang logika. Pendekatan sistem adalah pokok yang membingungkan dengan sistem analisis, yang dalam pertentangan memiliki kemampuan untuk memprediksi, meskipun memiliki pengertian yang terbatas.

Sejarah Kejadian Penting dalam berpikir sistem

   Berfikir sistem mempunyai sebuah sejarah panjang, hal itu telah di dikelompokkan dari Ibn Khaldun kepada Kepala putih. Bagaimanapun, kita akan membatasi diri kita hanya pada sudut pandang sejarah dari sistem pemikiran modern, perpindahan yang dianut pada Sistem Teori Umum dan Sistem Penelitian Umum.

            Sejarah berawal pada seminar filsafat Charles Morris di Universitas Chicago tahun 1937, dimana Ludwig von Bertalanffy mengenalkan untuk pertama kalinya konsep Sistem Teori Umum. Konsep tersebut telah di publikasikan sebagai Sistem Teori Umum: Pondasi, Pembangunan, Penerapan  dan menjadi Alkitab dari pergerakan berpikir sistem  modern. Untuk sambutan pertama kali tidak ada keberanian, sebagai penampakan Bertalanffy, dan semenjak dia takut pada apa yang Gauss sebut dengan “Teriakan Boetician” konsep tersebut kemudian diletakkan dalam lukisannya. Pecahnya perang dunia ke II mendorong berkembangnya berpikir sistem.

Pada tahun 1939, pada pecahnya perang Eropa, dimana awal dari sebuah organisasi penelitian operasional Inggris Menghadapi pecahnya perang, menejemen Militer Inggris menyebut atas ilmuwan mereka untuk menerapkan ilmu pengetahuan ilmiah dalam alokasi penelitian yang langka untuk operasi militer yang berbeda. Tim ilmuwan ini adalah tim penelitian operasional itu terdiri dari sejumlah pengacara, ahli sosial,  ahli matematika, ahli astronomi, dan juga pertahanan. Meskipun perbedaan latar belakang mereka mucul sebuah pola yang umum: adalah ketaatan terhadap konsep sistem dan penelitian ilmiah, yang memperagakan bahwa mesin dan manusia menerima untuk anilisis yang rasional Operasi penelitian telah dipuji untuk menjadi pemenang perang di negeri Inggris, dan pada akhirnya setelah Amerika serikat mengikuti pinangannya, kampanye pulau di Pasific. Peperangan di utara Atlantik dan yang lain Menurut dugaan orang operasi penelitian menyebrangi Atlantik mengikuti James Bryant Connant, kemudian juru bicara dari Komite Pertahanan Nasional, yang menjadi sadar dengan operasi penelitian selama dia mengunjungi Inggris  pada musim gugur tahun 1940

            Pendekatan khusus sebagai Masyarakat Penelitian Operasional dari Negeri Inggris meletakkan definisi operasi penelitian untuk membangun sebuah model ilmiah dari sistem, faktor undang-undang tidak berbadan hukum seperti kesempatan dan resiko, dengan yang untuk memprediksikan dan membandingkan hasil dari pilihan keputusan, strategi dan kontrol, Beberapa orang Saudara kandung kemudian tangkai dari pendekatan yang asli, telah diterapkan pada bidang yang berbeda, dan dikoinkan dengan nama baru. PPBS telah diinisialkan oleh Papan Produksi Perang di akhir 1942, tentu tanpa tehnik orang yang berpengalaman  Analisis sistem, yang menyediakan dasar analitik dari PPBS, yang akhirnya sempurna oleh ilmuwan RAND, sekitar 1950 Jaringan dunia maya telah diperkenalkan oleh Norbert Wiener pada tahun 1948

Tipologi berpikir sistem

            Pergerakan sistem dapat dikenali dengan dua bagian: (1) Penelitian lebih lanjut dalam sistem alam dalam berkaitan dengan kesempurnaan Sistem Teori Umum yang paling mewah menghasilkan sistem yang logis, dan (2) Penerapan dari Sistem logis untuk disiplin ilmiah yang berbeda dan  penelitian. Sistem logika diterapkan pada bidang ekonomi, pemasaran, sosiologi, psikologi, pendidikan, sampai pada topik kontroversial seperti “ Bagaimana Analisis sistem diterapkan untuk memilih seorang suami?” dalam David Reuben Buku penjualan terbaik “ Setiap Wanita Bisa Disiplin ilmiah baru seperti Cybernetik dan Teori Informasi telah dikembangkan dalam sistem kerangka kerja. Strategi penelitian baru, sebagai contoh sistem analisis dan operasi penelitian  sebagus beberapa tehnik seperti PERT   dibangkitkan dalam payung kerangka berpikir. Secara pemahaman, itu sering terjadi pada sekolah yang baru muncul dari pemikiran, banyak kekacauan yang telah muncul pada alam kesatuan ilmiah. Efektivitas harga terkadang dikacaukan dengan sistem analisis. Pendekatan sistem dikacaukan dengan sistem analisis. Lebih samarnya adalah hubungan diantara pendekatan sistem, sistem analisis, dan PPBS. Apa perbedaan antara operasi penelitian dan sistem analisis?

            Untuk menyelesaikan masalah, kita telah mencoba untuk mengembangkan sebuah tipologi dari berpikir sistem; sebuah permintaan dari sistem konsep dan penerapannya. Sebagai sentuhan lebih cepat, pergerakan sistem dapat dikategorikan kedalam dua arah. Pertama adalah penelitian lebih lanjut dalam sistem alam, simpelnya disebut Sistem Penelitian Umum. Masyarkat untuk Sistem Penelitian Umum telah dilembagakan pada tahun 1954  Objektifitas terbesar dari masyarakat ini adalah pada:

Logika Metafisika Berpikir Sistem

Ciri dasar yang membedakan pemikiran sistem dari pemikiran sejaman lainnya adalah logika metafisikanya. Holism, yang memberikan dasar ontologi dan epistemologinya, menghasilkan logika sistem sebagai landasan metafisikanya. Sangat menarik menyejajarkan logika metafisika. Hegel dan logika pemikiran sistem, sebenarnya tidak hanya berasal dari konsep holism yang sama, tetapi juga sangat analog dalam sifat dengan logika dialektik Hegel. Dari sudut pandang ini, pemikiran sistem bisa dipandang sebagai suatu meta-sains, suatu titik tolak yang sama dimiliki oleh para pembela pemikiran sistem.

Sebelum berlanjut menjabarkan sifat dari logika sistem, perlu untuk menjelaskan kedudukan metafisika dalam ranah ilmiah. Metafisika ilmiah adalah suatu masalah abadi terhadap filsafat ilmu. Awal abad ke-19, misalnya dalam karya Auguste Comte, sampai para pemikir modern seperti Karl Popper, Arthur Eddington, dan James Jean, gagasan metafisika menyiratkan mengejar suatu tempat yang diakui dalam penyelidikan ilmiah. Bertrand Russell mengatakannya : ada suatu paradoks yang solusi intelektualnya mungkin ditemukan kelak, atau sama mungkinnya, tiada solusi mungkin ada. Faktanya adalah bahwa sains memainkan dua peran sangat berbeda: di satu sisi sebagai metafisika, di sisi lain sebagai akal sehat terdidik.”

Pertanyaan dasarnya: Apakah suatu metafisika ilmiah? Pearson berdalil bahwa ini tidak hanya mungkin tapi juga sah. Dia menerangkan bahwa: Tidak boleh disangka bahwa sains untuk sejenak menyangkal keberadaan sejumlah masalah yang hingga kini telah digolongkan sebagai filsafat atau metafisik. Sebaliknya, ia mengakui bahwa beragam fenomena fisika dan biologi mengarah langsung pada permasalahan ini. Tetapi ia menegaskan bahwa metode-metode yang hingga kini diterapkan pada masalah-masalah ini telah sia-sia, karena mereka tidak ilmiah.

Mengingat pernyataan ini, akar masalahnya terletak pada sifat dari bagaimana penyelidikan metafisika itu dilakukan. Jika masalah metafisika itu dipecahkan secara ilmiah, yakni, jika metode-metode ilmiah secara ketat diterapkan dalam penyelidikan itu, maka hasil-hasil temuan itu secara ilmiah terabsahkan. Dan inilah dalil dasar dari para teoriwan sistem. Bahkan, kata mereka, holism sesuai dengan penyelidikan ilmiah. Teori Sistem Umum, tegas Bertalanffy, adalah penjelajahan ilmiah atas keseluruhan-keseluruhan dan kesatuan yang, belum begitu lama silam, dianggap pemikiran-pemikiran metafisik yang melampaui batas-batas sains.

Sebagaimana disinggung sebelumnya, dasar metafisik dari pemikiran sistem adalah logika sistem. Boulding telah mendaftar sembilan tingkat sistem mulai yang paling sederhana sampai pada fenomena sistem paling kompleks. Jenjang sistem menurut Boulding adalah sbb.:

  1. Struktur statis—penataan planet-planet dalam tatasurya
  2. Sistem dinamis sederhana—kebanyakan mesin dan kebanyakan fisika Newton
  3. Sistem cybernetic—mekanisme control, seperti thermostat
  4. Sistem terbuka—struktur yang berlangsung-sendiri, seperti sebuah sel
  5. Sistem sosial genetic—pembagian kerja, termasuk subsistem, seperti sebuah tumbuhan
  6. Sistem hewan—mencakup kesadaran-diri dan mobilitas, juga subsistem-subsistem terkhusus untuk menerima dan mengolah informasi dari dunia luar
  7. Sistem manusia—mencakup kapasitas bagi kesadaran-diri, dan penggunaan simbolisme untuk menyampaikan ide-ide
  8. Organisasi-organisasi social—manusia sebagai subsistem di dalam organisasi yang lebih besar, atau sistem
  9. Sistem-sistem transendental—alternatif dan hal yang tak bisa diketahui yang masih perluk ditemukan.

Ciri-ciri sistem memberikan dasar logis dari sistem itu. Para teoriwan sistem percaya bahwa logika sistem bisa digunakan sebagai suatu logika penyelidikan. Ada pola-pola serupa di antara makhluk-makhluk hidup yang hidup, tumbuh, matang, dan akhirnya mati. Para teoriwan sistem, menurut Boulding, bersukacita mengetahui, misalnya, bahwa dalam semua pola pertumbuhan ada unsur-unsur sama yang penting, seperti nukleasi (pembentukan inti), penyesuaian struktur dalam bagian-bagian sistemnya, hasil yang berkurang terhadap skala, dan kurva-kurva ogive. Sebaliknya, para pemikir nonsistem, mengesampingkan fakta-fakta ini. Namun, dari kesembilan tingkat sistem itu hanya beberapa telah sesuai dengan penyelidikan ilmiah. Salah satu arah dari gerakan pemikiran sistem adalah berurusan dengan kajian-kajian sistem-sistem ini. Boulding menyatakan bahwa pengetahuan kita saat ini umumnya tidak memadai untuk membangun model-model ilmiah melebihi tingkat sistem dinamis (tingkat 2). Usaha-usaha baru difokuskan kepada kajian tingkat 3 dan 4, dan melebihi tingkat keempat bahkan benih-benih dari model-model teoritis belum ditemukan. Salah satu ciri penting dari teori sistem umum adalah logika sistem terbuka.

 Logika sistem terbuka sangat banyak gunanya dan terbukti berguna dalam penerapannya pada berbagai organisme hidup. Bahkan, logika sistem terbuka berguna sebagai suatu dasar penyelidikan kita dalam kajian ini. Sudut-sudut pandang kita atas teori-teori organisasi modern, metode-metode Pengembangan Organisasi, dan PPBS, pada dasarnya gagasan sistem terbuka. Berbeda dari suatu sistem tertutup, sebuah sistem terbuka berinteraksi dengan lingkungannya. Kita akan lebih dulu menilik sifat-sifat sistem terbuka dan melangkah lebih jauh pada penjabaran logika sistem terbuka sebagai suatu logika penyelidikan.

Ciri-Ciri Sistem Terbuka

Sistem terbuka bisa ditandai oleh sifat-sifat berikut ini:

(1)   masukan: sistem terbuka memasukkan energi dari lingkungan luar;

(2)   ubahan (through-put): proses mengubah energi yang tersedia bagi sistem itu;

(3)   keluaran: energi yang dikeluarkan ke lingkungan setelah masukan diolah menjadi keluaran;

(4)   siklus peristiwa-peristiwa: kegiatan-kegiatan bertukar energy mempunyai pola siklus. Dalam mengubah masukan menjadi keluaran proses itu sendiri mengalami beberapa tahap siklus keluaran seketika sebelum mencapai bentuk akhir keluaran. Misalnya, dalam sistem pendidikan di sekolah dasar, siswa barunya diubah ke kelas dua dalam tahun pertama, yang kemudian diubah ke kelas tiga dalam tahun berikutnya, dan seterusnya. Di sisi lain, siswa baru itu memasuki sistem pendidikan itu setiap tahun ajaran yang memungkinkan kelangsungan proses perubahan di dalam sistem itu.

(5)   entropi negatif: proses menetralkan proses entropi untuk bertahan hidup. Proses entropi adalah hukum universal yang berlaku pada semua makhluk hidup yang bergerak ke arah kekacauan atau kematian. Sistem terbuka menyimpan energi dengan mengimpor energi lebih daripada yang perlu untuk dikeluarkan, dan memakai energi ini dalam masa krisis

(6)   cybernetic dan teleologis (kajian maksud): ciri-ciri perilaku bermakna dari sistemnya dan mekanisme umpan-balik data untuk mengontrol perilaku ini dari sistemnya selama waktu krisis. Suatu keadaan tetap bukanlah suatu kesetimbangan sejati, suatu pertukaran energi terus-menerus berjalan dalam suatu macam kesetimbangan dinamis yang berbeda;

(7)   diferensiasi: adalah ciri yang, selama proses pertumbuhan, bergerak ke arah diferensiasi dan pengembangan; dan

(8)   equifinality (ekuifinalitas): adalah kemampuan sistem itu untuk mencapai keadaan akhir dari kondisi-kondisi awal berbeda dan dengan beragam jalan.

Tak diragukan, hubungan masukan-keluaran telah terbukti sangat berguna sebagai suatu alat untuk memandang dan menganalisis fenomena kompleks. Logika sistem terbukalah, harus saya katakan, yang membawa perhatian pada kegunaan pemikiran sistem di dalam ranah ilmiah masa ini.

Sistem Analisis dan Metode Ilmiah

Banyak kontroversi telah muncul apakah analisis sistem tidak ilmiah. untuk memenuhi predikat ilmiah, suatu kegiatan di quiry harus menerapkan metode ilmiah dan kemampuan untuk memprediksi. Analisis sistem, sangat erat terkait dengan ilmu-ilmu sosial. Ini membawa kita ke kontroversi lain yang menyangkut metode ilmu-ilmu sosial. Atau lebih tepatnya metode ilmu-ilmu sosial: pengakuan dan domain pluralitas.

Analisis sistem pengetahuan ilmiah yang berlaku dalam proses dalam menghasilkan alternatif, menentukan hubungan sebab dan akibat, dan mendefinisikan kriteria untuk memilih tindakan. Penelitian ilmiah diterapkan  menghasilkan dua alternatif mengenai rasio murid guru, daripada untuk tujuan membandingkan efektivitas kedua alternatif harus mengukur kinerja murid, dan percobaan yang berkaitan dengan hasil pengukuran. Ilmiah diterapkan pada analisis langkah-langkah lain juga. Dalam menentukan kriteria efektivitas menggunakan matriks multi dimensi misalnya politik, ekonomi, sosiologis, pendidikan, setiap dampak harus didasarkan pada bukti ilmiah. Dalam analisis sistem umum dapat digambarkan sebagai penyelidikan ilmiah dalam terang kepatuhan terhadap pengetahuan ilmiah dan penelitian ilmiah.

Namun kepatuhan terhadap metode ilmiah adalah prototipe ideal analisis sistem. Praktis, banyak penyimpangan terjadi, hasil yang tidak terlalu luarbiasa dalam berurusan dengan fenomena sosial, seperti yang berhubungan dengan masalah measurment, menunjukkan bahwa proposisi yang berkaitan dengan efek menyebabkan fenomena sosial negara “berorientasi pernyataan”. Misalnya teori marqian menegaskan bahwa organisasi dari alat-alat produksi menentukan fitur masyarakat. Tapi tekad macam apa? Macam apa yang tepat hubungan sebab dan akibat tidak ada? Tak perlu dikatakan, hubungan ini tidak dapat dinyatakan dalam linear, persamaan kuadrat atau eksponensial kebajikan yang beruntung prosessed oleh ilmu alam.

Selain itu kepatuhan terhadap metode ilmiah, apakah analisis sistem membuat prediksi? Seperti sebelumnya, analisis sistem adalah strategi penelitian atau metode penyelidikan. Ini masalah alokasi sumber daya. Hasil dari proses analisis sistem adalah solusi untuk masalah masing-masing. Fungsi prediksi teori ilmiah pada dasarnya adalah hal yang sama, Pertanyaan yang ditujukan oleh analisis sistem sebagai berikut: bagaimana kita dapat mengembangkan tindakan saja untuk mencapai tujuan tertentu yang paling ekonomis? Jelas bahwa dari analisis sistem mengharapkan jawaban yang pasti, dalam pengertian ini, analisis sistem tidak menghasilkan prediksi.

Analisis sistem berbeda dari pendekatan sistem dalam hal ini: kasus pendekatan sistem, proses berkaitan dengan penerapan sistem logika dalam menggambarkan fenomena. Harus ada pendekatan sistem bukan merupakan ramalan tetapi deskripsi materi subjek yang diteliti. Ini adalah cara sistematis fokus pada keterkaitan antara bagian-bagian itu yang merupakan keseluruhan yang utuh.

Metode ilmiah adalah proses verifikasi. Sebuah proposisi demikian diterima sebagai secara ilmiah benar hanya setelah telah diverifikasi. Atau dengan kata lain, kebenaran ilmiah diverifikasi sinonim dengan kebenaran. Pertanyaannya adalah: Apakah perlu bahwa sistem prediksi analisis ilmiah dapat diverifikasi sebagai sah? Jawaban alasan berikut. Pertama-tama kita bisa kembali ke historial perdebatan tentang filsafat matematika antara pandangan Kant dan pandangan positivis logis. Kant menyatakan bahwa matematika adalah “pengetahuan sintetik apriori, yang menyiratkan bahwa matematika tergantung pada fenomena, dan dengan demikian, proposisi 2 + 2 = 4 jika itu benar, harus didasarkan pada verifikasi. Di sisi lain, positivis logis berpendapat bahwa matematika adalah analitis. Wittgenstein menegaskan bahwa logika proposisi kebenaran atau kepalsuan dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia luar.

Setuju dengan sudut pandang positivis logis yang berkaitan dengan analisis sistem. Prediksi yang diberikan oleh sistem proses analisis. Kebajikan dari derivasi logis dan karena itu tidak perlu verifikasi. Berbicara secara numerik, misalnya kita tidak perlu membuktikan dengan temuan empiris untuk membuktikan bahwa 1 / 3 kurang dari 1 / 2. Oleh karena itu, jika menurut definisi tentang efektivitas dinyatakan bahwa alternatif yang memiliki paling tidak rasio effectivenes biaya yang paling efektif, maka alternatif dengan ratio 1 / 3 lebih efektif daripada alternatif lain dengan rasio 1 / 2. Tak perlu dikatakan, para tautologi berlaku secara sah kriteria kualitatif juga, seperti kasus pengukuran multidimensi program-program sosial. Matematika oleh itu sangat alam, hanyalah sebuah bentuk sifat lebih logika.

Kritik Berpikir Sistem

Abraham Kaplan, yang conceives ilmiah empirism sebagai bracing, antiseptik udara, dan dari diharapkan kelonggaran, berpikir sistem untuk melakukan dosa reifikasi. yang paling serius datang dari sudut pandang methological, PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU

  •  Perencanaan PSB
  •  Pelaksanaan PSB
  •  Pengelompokan dan

   penempatan peserta

   didik di kelas  

. Ernest-Nagel panji menuduh berpikir sistem, “keseluruhan lebih daripada jumlah bagian-bagian itu”, menjadi ambigu, metaforis, dan samar-samar. Richard Von Mises menganggapnya sebagai pseudo kalimat yang akan berarti dan sepele. Baik Nagel dan Von Mises berpendapat bahwa meskipun ada alasan-alasan praktis atau psikologis untuk penggunaan holisme di berbagai bidang pengetahuan, tetapi “perluasan cakupan masalah tidak mengarah di luar sains positif”. Rollo Handy serangan pemikiran sistem di dalamnya adalah metode analogi.

Penemuan suatu analogi antara perilaku manusia dan perilaku beberapa sistem lainnya (baik komputer, sistem tata surya, sistem meteorologi, dll). Membuat beberapa inquirers cukup yakin bahwa langkah maju yang revolusioner baik telah diambil atau kira-kira yang akan diambil. Namun, seperti yang sering terjadi, enthousiasm awal saya diikuti oleh kekecewaan.

Ida. R. hoos mempertimbangkan tidak hanya isomorphisms daripada lelah aksioma tentang penerapan universal matematika; sehingga 2 + 2 = 4 berlaku apakah anak ayam, keju soat atau tata surya ar dalam pertimbangan. Camouflages analogi dangkal ini perbedaan-perbedaan penting yang dapat mengakibatkan kesimpulan yang salah. Selain itu, kepatuhan terhadap gagasan analitik irreducibility dapat menghambat kemajuan.

DC Phillips sistem Biaya memikirkan kekurangan historycism, tuduhan yang sama disuarakan oleh Frederick C. Mosher pada perkembangan PPBS. Phillips menunjukkan lebih lanjut kekurangan sistem pemikiran dalam kegagalan untuk mendefinisikan dengan tepat apa yang dimaksud dengan sistem, dalam ketidakjelasan atas apa yang akan dimasukkan dalam teori sistem, dan dalam kegagalan Teori Sistem Umum sebagai teori ilmiah karena ini tidak memiliki kemampuan prediktif.

C. gerejawan Barat – salah satu pendukung sistem dibedakan menambahkan beberapa titik lain diartikulasikan oleh pemikiran sistem debat. Pertama-tama, mereka mengklaim bahwa pendekatan sistem untuk pemecahan masalah tidak efisien, pendekatan terbaik adalah untuk mengidentifikasi masalah secara langsung titik-titik. Kedua, keberatan lain yang diajukan oleh para humanis yang mengklaim bahwa sistem yang adalah orang-orang dan dengan demikian pendekatan mendasar pada sistem terdiri dari pertama melihat nilai-nilai kemanusiaan, seperti kebebasan, martabat, privasi. Ketiga, anti-perencana menantang aksiologis sudut pandang sistem pemikiran untuk perencanaan sistem masa depan. Anti-perencana percaya bahwa setiap upaya untuk menghasilkan perencanaan rasional masa depan entah bodoh atau berbahaya atau benar-benar jahat. Pendekatan yang benar pada sistem adalah hidup dalam sistem, untuk mengalami dan tidak pernah mengubahnya dengan beberapa megah skema atau model matematika.

KESIMPULAN:

Tidak bisa didebat bahwa berpikir sistem telah sangat populer dan diterima secara luas. Bagaimanapun penggunaanya masih membingungkan, jika kita menerima ajaran ini tanpa mengetahui dasarnya, dan yang penting jika kita menerapkan konsep tanpa menyadari kebaikannya dan kekurangannya. kemudian setelah melakukan survei perspektif tentang berpikir kesisteman kita dihadapkan pada pertanyaan mendasar dimana sudut pandang kita?.

Mengarah pada masalah ini kita akan membatasi diri  pada isu filosofi berpikir sistem,alasan-alasan teknis berpikir kesisteman dan asal usulnya seperti analisis sistem dan PBBS telah dieksplorasi dimana-mana. Dengan penuh harapan setelah beberapa isu filosofi diklarifikasi kita akan megapresiasi lebih baik tentang berpikir kesisteman dan aplikasinya.

Pertama, Berpikir sistem adalah sitem ligika, meskipun logika ini menyerap metafisika sejauh ini ditujukan untuk penelitian yang cermat dari ilmu pengetahuan untuk tidak ada alasan menolak keberadaannya dalam ranah ilmiah, logika dari sistem sebagai suatu metateori atau logika apriori harus divalidasi secara empiris sebelum diterima secara ilmu pengetahuan ilmiah yang benar. Selanjutnya verifikasi harus dilakukan dalam penerapan konsep umum sampai aplikasi secara khusus. Bukan hal  mendasar sebagai jaminan seluruh sistem terbuka mempunyai karakteristik yang sama berpengaruh nyata. Katz dan Khan menyatakan fakta bahwa diskusi tentang karakteristik umum dari sistem terbuka tidak membutakan pada perbedaan antara sistem biologi dan sosial.

Kedua, aplikasi dari konsep sistem akan dibuktikan berguna jika dikombinasi dengan usaha-usaha menganalisa melalui investigasi. Sistem Logika memberikan kerangka yang berguna sebagai usaha-usaha analisis dilakukan pada basis parsial  yang dianggap perlu. Pendekatan otomistik tidak bisa diacuhkan, tetapi hasil analis sebagai kerangka dalam konteks sistemik akan memberikan gambaran seluruh masalah.

Ketiga, Philips dan Mosher bahwa berpikir sistem kekurangan dilihat dari sejarah. Usaha yang serius pada prosedur dan pengembangan konseptualnya dalam perspektif sebagai kondisi untuk berpikir sistem ilmiah, yang lebih penting berpikir sistem sebagai sudut pandang  harus didefinisikan dengan jelas untuk mengklarifikasi persamaan persamaan dan perbedaan perbedaan pola berpikir yang memilki proses fitur yang sama, sebagai contoh strukturalisme. Selanjutnya ketidakjelasan dalam berpikir sistem,

Keempat, Berpikir sistem gagal sebagai teori ilmiah karena gagal menetapkan secara tepat apa yang dimaksud dengan sistem.sekali lagi harus ditekankan bahwa berpikir sistemtidak mempunyai masalah pokok pada dirinya sendiri, teori sistem general bukan teori ilmiah pada hal biasa  berarti menyimpulkan hipotesis yang digunakan dan memvalidasi prediksi termasuk sistem logika. Pendekatan sistem dari aplikasi logika suatu sistem menjadi masalah pokok yang spesifik dibawah investigasi. Sistem dapat didefinisikan tujuan dari investigasi. Sistem dapat didefinisikan secara khusus, misalnya sistem pendidikan dilihat dari managerial, pembelajaran, dalam beberapa pandangan sistem dapat dipakai sebagai dasar kebutuhan untuk menganalisa, membangun model, memecahkan masalah dan sebagainya. Secara  sederhana definisi sistem  dari Webter’s Dictionary” Sistem is an agregation assemblage of object united by some form or regular interaction or interdependence.(Sistem adalah kumpulan dari kesatuan objek yang membentuk interaksi regular atau saling ketergantungan)

 

 

Kelima, pendekatan sistem tidak efesien karena berkenaan dengan masalah untuk mengidentifikasi secara lansung pokok masalah. Jawaban dari tuduhan ini tergantung pada masalah-masalah yang alami, jika masalah ini adalah ruang dan kita ingin memecahkannya pada masalah basis tambahan mungkin pendekatan kesisteman yang tidak dipertimbangkan bisa digunakan.Tetapi jika masalahnya mendasar dan saling berhubungan, cara yang sepakat dengan masalah tidak hanya menghasilkan pengukuran remedial untuk menyembuhkan gejala sehingga pendekatan kesisteman mungkin bermanfaat.

Keenam, model kesisteman humanis bisa diakomodasi sebagai kerangka berpikir kesisteman. Teori modern  organisasi misal sistesa manajemen ilmiah dan teori hubungan manusia, keduanya dibawah payung berpikir kesisteman, bisa dilakukan dengan menghargai nilai-nilai kemanusiaan dalam membangun kesisteman. Variabel kemanusiaan seperti: kebebasan, kemuliaan, privasi, bisa didasarkan sebagai input kesisteman atau lingkungan kesisteman. Dan variabel non kemanusiaan.

Ketujuh, masalah determinis dan non determinis sama tuanya dengan kewarganagaraan manusia, dan tidak ada jawaban tunggal dari suatu pertanyaan, adalah teka-teki kehidupan alam, bagaimanapun usaha-usaha merencanakan kesisteman ke depan dikendalikan secara ilmiah. Tidak ada alasan mengabaikan masalah manusia, misalnya masalah yang ditimbulkan oleh pengutuban teknologi dan humanis. Segalanya harus untuk keselamatan manusia dari pembusukan, tetapi usaha determinis yang ekstrim.

Akhirnya, menurut James Schelesinger menandai analisis sistem, dalam memorandom untuk subcommitee on National Security and internatioanl Operation, april 1968, dia menyatakan satu dari dua setengahnya adalah (sorak sorai) analisis sitem.

Dia mengenali dan menekankan keterbatasan analisis sistem ini, dengan mengatakan sikapnya tentang analisis sistem, dengan penuh harapan, perubahan sistem akan memberikan proses menuju sikap ilmiah sehingga pada saatnya untuk merevisi  the cheer upward sementara mengakui adanya lingkaran kebenaran, tuduhan Rollo Handy tentang berpikir sistem yang mempunyai tendensi imperialistik meliputi bidang-bidang yang sangat besar.

Sikap yang ditunjukkan Earnest Nagel-dibedakan antara positivist logis yang menantang legalitas dari berpikir kesisteman: sikap menyeluruh sebagai dasar berpikir kesisteman dalam komunitas ilmiah mungkin terjamin. Berpikir kesisteman saat ini masih sudut pandang dari satu doktrin meskipun di masa depan mungkin berkembang menjadi sebuah doktrin. Kenyataannya konsep kesisteman masih tahapan embrio menjadi batasan ilmu pengetahuan, ungkapan berbahaya oleh Von Mises: Bahwa meskipun tidak ada kekurangan dari motif psikologi dan alasan yang bijaksana untuk penggunaan konsep secara keseluruhan dari berbagai ilmu pengetahuan tapi dilihat sebagai sebuah model misalnya dalil metafisika. Konsep tambahan yaitu berguna dalam berbagai tempat, sebagai ide valid yang absolut sebagai sumber yang mendasari ilmu pengetahuan. Dengan penuh harapan, doktrin berpikir kesisteman akan menjadi dasar dari latar belakang ilmu pengetahuan  dari metafisika. Asas ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam berpikir kesisteman akan bertahan dalam komunitas ilmu pengetahuan.

 

 

TEORI SISTEM TERBUKA DAN TERTUTUP DALAM ORGANISASI


GambarPendahuluan

Berbagai permasalahan besar dan kompleks yang dihadapi pemerintah atau masyarakat baik yang menyangkut masalah Agama, Politik, Ekonomi, Social, Budaya, Pertahanan, Keamanan, dan sebagainya, bila diperhatikan secara seksama masalahnya memang selalu saling terkait satu sama lain atau tidak ada yang berdiri sendiri. Demikian pula berbagai masalah yang terjadi di luar negeri, ternyata langsung ataupun tidak langsung juga mempunyai pengaruh dengan masalah dalam negeri, apalagi dalam era globalisasi ini. Contoh-contoh yang menunjukkan bahwa berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan itu saling terkait atau berhubungan satu sama lain, memang banyak sekali. Salah satu contoh misalnya dalam masalah bidang pendidikan, ternyata sangat terkait dengan masalah kesejahteraan, lapangan kerja, kependudukan, industry, ekonomi, Teknologi, transfortasi dan lain-lain.

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Dalam menghadapi lingkungan yang semakin komplek terutama pada era globalisasi yang berdampak terhadap meningkatnya tuntutan kemampuan bersaing bagi setiap bangsa atau Negara agar dapat tetap bertahan atau lebih maju, maka kemampuan pendidkan dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah serta kemampuan manajerial yang efektif bagi setiap pimpinan atau manajer dari suatu organisasi yang besar, menjadi suatu tuntutan yang harus dikuasai dengan baik.

Dengan menyadari bahwa setiap masalah itu tidak berdiri sendiri dan selalu terkait dengan atau berhubungan dengan masalah lain, maka berarti jika kita memecahkan masalah yang satu pasti akan berdampak terhadap masalah yang lain. Sebagai contoh misalnya kita lihat bahwa upaya untuk menekan harga kendaraan agar agar dapat terjangkau oleh banyak orang, pada gilirannya akan meningkatkan jumlah kendaraan di jalan raya dan jika hal ini tidak diikuti dengan penambahan ruas jalan maka kemacetan lalu lintas akan semakin parah.

Mengingat hampir tidak ada suatu masalah yang berdiri sendiri, maka semua pimpinan atau manajer yang bertanggung jawab dalam suatu organisasi diharapkan perlu menggunakan pendekatan yang menyeluruh dalam proses pengambilan keputusan terutama dalam menentukan tujuan, mengalokasikan sumber daya, dan membuat perencanaan. Proses pengambilan keputusan yang dilakukan harus memperhatikan semua faktor yang terkait dan keputusan yang diambil harus ditekankan kepada upaya untuk mencapai kinerja dari keseluruhan (sistem) organisasi bukan hanya kinerja dari salah satu bagiannya. Peter Senge (1990) berkaitan dengan masalah ini pernah mengingatkan bahwa kita harus melihat hutannya jangan hanya pohon ke pohon. Artinya dalam menghadapi suatu persoalan kita jangan hanya memperhatikan detailnya tetapi juga kedudukan persoalannya dalam persepektif yang lebih luas. Dalam hal ini pendekatan sistem merupakan suatu metodologi yang akan dapat menjawab kebutuhan tersebut.

Pada perkembangannya Maning perdana menteri Kanada menulis tentang ‘’Pendekatan Sistem’’ dan dalam platform politiknya menyatakan : Sebuah hubungan timbal balik ada di antara semua elemen dan para pemilih dari masyarakat. Faktor-faktor yang utama dalam masalah-masalah umum, kebijakan-kebijakan, keputusan-keputusan, dan program-program haruslah selalu dipertimbangkan dan dievaluasi sebagai ketergantungan antar komponen dari seluruh sistem.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, pada makalah ini kami hanya akan membahas masalah perkembangan filosofi, dan teori sistem dalam perspektif keilmuan.

Sejarah Perkembangan Teori Sistem

Kata Sistem dalam maknanya di sini, memiliki sejarah panjang yang dapat ditelusuri kembali ke Plato (Philebus), Aristoteles (Politik) dan Euclid (Unsur). Sistem pada saat itu berarti “total”, “orang banyak” atau “serikat” pada zaman kuno, karena berasal dari kata kerja sunìstemi, menyatukan, menempatkan bersama-sama. “Sistem” berarti “sesuatu untuk melihat”. Dalam filsafat, sebelum Descartes, tidak ada kata “sistem”. Plato tidak memiliki “sistem”. Aristoteles tidak memiliki “sistem”.[1]  Pada abad ke-19 yang pertama kali mengembangkan konsep “sistem” dalam ilmu alam adalah fisikawan Perancis Nicolas Leonard Sadi Carnot yang belajar termodinamika. Pada tahun 1824 ia mempelajari sistem yang ia sebut substansi kerja, yaitu struktur uap air, di mesin uap, dalam hal kemampuan sistem untuk melakukan pekerjaan ketika panas diterapkan untuk itu. Substansi kerja dapat dimasukkan ke dalam kontak dengan baik boiler, reservoir dingin (aliran air dingin), atau piston (yang diterima oleh tubuh pekerja dapat melakukan pekerjaan dengan mendorong di atasnya). Pada tahun 1850, fisikawan Jerman Rudolf Clausius umum gambar ini untuk memasukkan konsep lingkungan dan mulai menggunakan “Struktur yang bekerja” istilah tersebut mengacu ke sistem.

Salah satu pelopor dari teori sistem umum adalah ahli biologi Ludwig von Bertalanffy. Pada 1945 ia memperkenalkan model, prinsip, dan hukum yang berlaku bagi sistem umum atau subclass mereka, terlepas dari jenis khusus mereka, sifat dari unsur-unsur komponen mereka, dan hubungan atau ‘kekuatan’ di antara mereka. Perkembangan yang signifikan dengan konsep sistem dilakukan oleh Norbert Wiener dan Ross Ashby yang memelopori penggunaan matematika untuk mempelajari sistem. Pada 1980-an sistem adaptif kompleks jangka diciptakan di Santa Fe Institute interdisipliner oleh John H. Holland, Murray Gell-Mann dan lainnya.[2]

Teori Sistem  umum hadir pertama kali di dahului dengan adanya teori cibernatika, sistem keteknikan dan bidang pengetahuan yang saling berhubungan. Pengertian sistem mempunyai sejarah panjang, walaupun kondisi sistem tidak mengutamakan sejarah dari pengertian yang meliputi banyak nama dan ilustrasi. Nicolas dari cusa’s Deludo globy, Bertalanffy dan Hermann Hasse’s Glasperlenspiel yang mengamati bahwa pengerjaan dunia di refleksikan dalam sebuah desain yang cakap dan permainan yang abstrak. Menurut Kohler sebuah  teori sistem dimaksudkan untuk lebih mengerjakan sifat yang paling umum seperti properti organik daripada sistem organik untuk satu derajat, permintaan ini dipenuhi dengan teori sistem terbuka.

Kemampuan mengerjakan disebabkan oleh berbagai perkembangan teoritis baru, epistemologis, matematis dan lain–lain. Dalam hubungannya dengan pekerjaan eksperimen pada metabolisme dan pertumbuhan pada satu sisi dan sebuah usaha untuk mengkongkretkan sebuah program organismik pada sisi yang lain, teori sistem terbuka adalah sebuah lanjutan berdasar pada fakta yang biasa bahwa organisme adalah suatu sistem terbuka. Seiring dengan perkembangan waktu keberadaan teori sistem  mulai di perhitungkan, kemudian ada usaha untuk menginterpretasikan ilmu pengetahuan dan teori yang sebelumnya belum pernah dilakukan, dan generalisasi yang lebih tinggi daripada yang terdapat pada ilmu pengetahuan khusus. Teori Sistem  umum ditanggapi sebagai sebuah trend rahasia dalam berbagai disiplin. Teori sistem sering diidentikkan dengan teori cybernatika dan control, hal ini tentu saja tidak benar. Sebab Cybernatika adalah berpikir kesisteman yang beranggapan bahwa manusia dan masyarakat  dapat dipahami melalui kajian terhadap pesan fasilitas komunikasinya. Pemahaman akan peran umpan balik dan dampaknya merupakan titik sentral dari pembahasan teori sistem, Konsep kotak hitam (black box) dan negative fedd back yang  dapat digunakan untuk memahami dan memperbaiki suatu sistem yang kompleks seperti organisasi, banyak dibahas dalam ilmu ini. Cybernatika merupakan sebuah bagian dari sebuah teori  sistem  umum dan sistem merupakan kasus spesial yang penting dari teori sistim.

Tinjauan Umum Teori Sistem
Upaya mendeskripsikan, menjelaskan dan memprediksi perilaku organisasi umumnya berasal dari teori sistem. Seorang biolog Ludwig von Bertalanffy menyatakan bahwa teori sistem dapat dianalogikan dengan sistem yang ada pada organisme. Organisme sel itu terdiri atas sel-sel, dan sel-sel membentuk suatu molekul. Tiap bagian yang ada membentuk sistem yang terintegrasi dan terdiri dari struktur yang saling bergantungan dan bekerja secara harmonis. Tiap molekul tahu tugas masing-masing dan harus dapat bekerjasama serta memenuhi aturan yang ada. Hukum keteraturan merupakan konsep yang bersifat menyeluruh. Ide tentang keteraturan merupakan ide dasar dalam memahami dan menganalisis situasi yang kompleks.

Teori sistem memiliki dua konsep dasar yaitu pertama, konsep subsistem yang melihat hubungan antar bagian sebagai hubungan sebab akibat. Konsep kedua memandang sebab jamak (multiple causation) sebagai hubungan yang saling berkaitan yakni tiap bagian merupakan kompleks (kumpulan) yang tiap faktornya saling berkaitan.[3]

Teori Sistem Sosial; Teori Peran, Konsep Peranan dan hubungannya dengan Teori Sistem Sosial. Ada dua pola sistem yakni open system (sistem terbuka) dan closed system (sistem tertutup) dalam konteks hubungan organisasi dengan lingkungan eksternal. Suatu sistem adalah “terbuka”, jika mempunyai transaksi dengan lingkungan mana ia berada. Transaksi antara suatu organisasi dengan lingkungannya mencakup “input” dan “output”. Input biasanya dalam bentuk informasi, energi, uang, pegawai, material dan perlengkapan yang diterima organisasi dari lingkungannya. Output organisasi pada lingkungannya dapat berbentuk macam-macam tergantung pada sifat organisasi[4] Hubungan pada tiap aspek input dan output yang ada di sekolah dengan lingkungan yang lebih luas merupakan suatu interaksi yang membentuk siklus yang tiada akhir.

Konsep input-output sering disebut sebagai model linear, yaitu teori yang menjelaskan bagaimana sistem dapat dijelaskan dalam konteks dunia nyata. Suatu teori yang beranjak dari konsep umum ke khusus yang tampak logis, rasional dan teratur berupaya untuk mencari jawaban terhadap upaya menghubungkan nilai input dan nilai output sehingga menghasilkan efisiensi biaya. Dalam konteks sekolah, siswa dan guru berupaya mencapai tujuan formal sekolah dengan keyakinan, tujuan dan harapan. Mereka akan mematuhi hukum, aturan dan disiplin agar dapat mempertahankan diri daripada memikirkan komitmen yang tidak jelas. Pendekatan lain dalam memahami organisasi sekolah dan perilaku anggotanya adalah dengan berfokus pada apa yang sebenarnya terjadi. Hal ini berpusat pada proses yang terjadi di dalam yaitu sistem organisasi yang dipandang sebagai sistem total dari konteks yang menggambarkan seluruh pola yang ada.  Organisasi sebagai sistem yang menciptakan dan menjaga lingkungan didalamnya memuat interaksi manusia yang kompleks (baik antar individu maupun dalam kelompok). Organisasi sekolah, misalnya, harus dipandang sebagai hubungan antara perilaku manusia dan konteksnya. Dengan demikian, perilaku organisasi difokuskan pada sekolah sebagai suatu sistem.

Andrew Halpin dan Don Croft meneliti tentang iklim sekolah yang berfokus pada karakteristik internal organisasi sekolah yang seakan terpisah dari pengaruh lingkungan. Hal ini akan memudahkan peneliti karena memisahkan unsur lingkungan sekolah dengan konteks yang lebih luas.

Organisasi dengan sistem terbuka dapat digambarkan seperti fenomena nyala api lilin, sinar yang dipancarkannya akan memengaruhi kondisi lingkungan di sekelilingnya. Daniel Griffiths mengatakan bahwa organisasi (sistem) berada dalam lingkungan (suprasistem) yang didalamnya memuat pula sub sistem (perangkat administrasi dalam organisasi). Batasan antar sub sistem dibuat dengan garis putus-putus yang berarti antar bagian dapat saling menembus (permeable). Antara subsistem yang terlibat dapat saling mempengaruhi lewat hubungan yang interaktif dan adaptif antar komponen. Masalah yang terjadi pada satu bagian dapat menjadi ancaman terhadap fungsi keseluruhan. Adapun karakteristik dari sistem tertutup adalah adanya kecenderungan yang kuat untuk bergerak mencapai suatu keseimbangan dan entropi yang statis. Sifat ini menunjukkan adanya kebekuan atau tepatnya keseimbangan yang beku. Istilah entropi aslinya dipergunakan dalam ilmu-ilmu fisika. Ia mempunyai pengertian dipergunakan pada setiap sistem yang tertutup dengan tidak adanya potensi berikutnya untuk membangkitkan daya kerja atau usaha transformasi[5]

Teori Peran
Erving Goffman menganalogikan situasi kehidupan sehari-hari dengan peran di panggung ketika menganalisis perilaku interpersonal manusia dalam organisasi. Tiap organisasi harus mengartikan peran individu yang terlibat yang dipengaruhi oleh interaksi dinamis dengan orang lain. Seperti aktor dan penonton, peran yang dijalani oleh pimpinan, misalnya dibentuk oleh harapan atasannya dan juga oleh kehadiran orang lain. Kehadiran orang lain (direktur dan orang lain) bertujuan untuk mengontrol situasi dan organisasi agar orang-orang yang terlibat berperilaku seragam (conform).
Adapun beberapa istilah mengenai peran ini sebagai berikut;

  1. Peran adalah konsep psikologis tentang perilaku yang timbul dalam interaksi dengan manusia lain. Tiap posisi membawa harapan tertentu bagi pelaku dan organisasi lain.
  2. Deskripsi peran, yaitu perilaku aktual yang ditunjukkan. Lebih tepat lagi berkaitan dengan lagi persepsi seseorang tentang perilaku yang harus dijalankan.
  3. Peran preskriptif merupakan ide abstrak tentang norma umum yang terdapat dalam budaya tentang peran yang diharapkan.
  4. Harapan peran, yaitu harapan orang lain terhadap peran yang harus dijalankan orang lain, misalnya guru terhadap kepala sekolah, kepala sekolah terhadap guru. Jika mereka berinteraksi artinya mereka memiliki harapan peran yang saling melengkapi (bersifat komplementer).
  5. Persepsi peran, merupakan persepsi yang dimiliki seseorang terhadap peran yang seharusnya dilakukan orang lain.
  6. Peran manifes (nyata) dan peran laten, hal ini berasal dari kenyataan bahwa seseorang mempunyai lebih dari satu peran. Peran manifes merupakan peran yang ditunjukkan, lainnya akan menjadi peran laten.
  7. Konflik peran. Hal ini dapat terjadi dan merupakan sumber dari kinerja yang tidak baik. Contoh nyata dari konflik peran yaitu dua orang tidak mampu untuk membangun hubungan yang memuaskan secara timbal balik. Hal ini bisa berasal dari banyak sebab, yang menimbulkan kebingungan antara harapan peran dan persepsi peran. Konflik peran juga dapat terjadi pada individu yang sama: harapan peran berkonflik dengan kebutuhan pribadi misalnya konflik peran pada kepala sekolah .
  8. Ambiguitas peran. Hal ini dapat terjadi ketika preskripsi peran mengandung elemen yang kontradiktif atau kabur.

Sebagai contoh hal ini dapat dilihat pada perbedaan kerja antara bidang administrasi dan supervisi. Supervisor sering merasa memiliki otoritas hirarki di atas guru. Mereka terkadang harus melawan perannya saat harus melatih dan menghilangkan otoritasnya terhadap guru. Konflik peran dapat menimbulkan tekanan dan ketidakpastian, yaitu suatu ketidakkonsistenan dalam perilaku. Hal ini berdampak pada perilaku yang tidak bisa diprediksi dan tidak bisa diantisipasi terutama bila terjadi tekanan atau konflik interpersonal. Orang yang berada pada situasi ini akan menjadi tidak mampu menghadapi situasi tersebut. Menghadapi situasi yang demikian kadang dilakukan dengan penghindaran, misalnya menghindari diskusi dengan obrolan-obrolan biasa yang tidak penting.

Trend dalam Teori Sistem

            Ketika hal baru di serukan sebagai sesuatu yang revolusioner banyak orang memakai istilah ini untuk menandai perkembangan ilmu pengetahuan.Revolusi adalah proses menjebol tatanan lama sampai ke akar-akarnya, kemudian menggantinya dengan tatanan yang baru. Begitu juga yang di maksud dengan revolusi ilmu pengetahuan  atau revolusi sains muncul jika paradigma yang lama mengalami krisis dan akhirnya orang mencampakkannya serta mencita-gunakan paradigma yang baru yang sekiranya lebih rasional dan logis.

Menurut pendapat Kuhn revolusi ilmu pengetahuan ditentukan  oleh adanya paradigma yang mengakibatkan perubahan konsep, sehingga ilmu pun terus berubah. Peran paradigma dalam perkembangan ilmu penetahuan sangat  penting, karena paradigma itulah yang menjiwai sebuah konsep. Dalam hal ini masalah sistem merupakan hal yang penting dalam pembatasan masalah pada prosedur analisis ilmu pengetahuan. Aplikasi prosedur analisis tergantung pada dua kondisi yang pertama interaksi antara bagian yang tidak ada atau cukup lemah untuk dibiarkan dalam tujuan penelitian tertentu. Yang kedua dalam hubungannya dengan menerangkan perilaku bagian haruslah linier.

 Teori Sistem  Klasik

Teori Sistem Klasik menambahkan  matematika klasik seperti kalkulus dengan tujuan untuk menyatakan prinsip yang digunakan pada sistem umum atau sub kelas yang ditentukan  (misalnya, sistem tertutup dan sistem terbuka), untuk menyediakan teknik dalam penelitian dan deskripsi, serta untuk menerapkan kasus-kasus konkret Karena sifat umum dari deskripsi tersebut. sehingga dapat dinyatakan bahwa sifat formal tertentu akan berlaku untuk setiap entitas sistem   ( sistem terbuka, atau sistem hirarkis, dll). Berbagai teori pendukungpun bermunculan untuk melengkapi pengaplikasian teori sistem umum antara lain : Teori Bagian, Teori Set, Teori Grafik, Teori Jaringan, Cibernetika, Teori Informasi, Teori Automata, Teori Permainan, Teori Keputusan, dan Teori Pengantrian.

Arti Teori Sistem Umum

Ilmu modern dikarakterkan oleh spesialisasinya yang pernah meningkat, diharuskan dengan banyaknya jumlah data, kompleksitas tehnik dan struktur teoritis di semua bidang. Pada acara ini, kita merumuskan disiplin ilmu baru yang disebut “Teori Sistem Umum”. Pemikiran teori ini mengenai pembangunan model teoritis model kesisteman yang dasarnya terletak  diantara teori umum matematika murni dan teori disiplin ilmu tertentu. Pada teori sistem umum, subjek masalahnya adalah pada perumusan dan derivasi prinsip-prinsip yang valid untuk “sistem” secara umum. Arti disiplin ini dapat dikondisikan sebagai berikut : Fisika dihubungkan dengan sistem level-level generalitas yang berbeda. Ini diperluas dari sistem yang agak khusus, seperti yang diaplikasikan oleh insinyur pada konstruksi jembatan atau mesin, pada hukum khusus disiplin ilmu fisika seperti mekanik atau optik; pada hukum generalitas besar seperti prinsip termodinamika yang diaplikasikan pada sistem yang berbeda sifatnya secara intrisik, mekanik, kalorik, kimia atau yang lain. Dengan mendefinisikan konsep sistem, kita akan tahu bahwa model, prinsip dan hukum yang ada itu diaplikasikan pada sistem yang digeneralkan yang mengabaikan jenis, elemen dan “kekuatan” khusus yang terlibat.

Tujuan Teori Sistem Umum

Teori sistem umum merupakan keseluruhan yang sampai sekarang masih dianggap sebagai konsep yang semimetafisik dan tidak jelas. Dalam bentuk yang berelaborasi ini akan menjadi disiplin logis matematika secara formal tetapi dapat di aplikasikan pada berbagai ilmu empiris karena berhubungan dengan ‘’keseluruhan yang teroganisir’’ ini akan menjadi signifikasi yang hampir sama dengan yang dimiliki teori probabilitas untuk ilmu yang berhubungan dengan ‘’peristiwa kesempatan’’ yang berikutnya juga adalah disiplin matematika formal yang dapat diaplikasikan pada bidang yang paling berbeda, seperti termodinamika, percobaan biologi dan medis, genetik, statistik asuransi hidup dan sebagainya. Indikasi tujuan teori sistem umum, adalah sebagai berikut :

1. Ada tendensi umum melalui integrasi dalam berbagai ilmu alam dan sosial.

2. Beberapa integrasi nampaknya menjadi pusat dalam teori sistem umum.

3. Menjadi sarana penting untuk membidik pada teori yang tepat dalam bidang  ilmu pengetahuan nonfisik

4. Mengembangkan prinsip kesatuan yang dijalankan secara vertikal melalui universalnya ilmu individu, teori ini membawa kita lebih dekat pada tujuan kesatuan ilmu.

5. Lebih mengarah pada dibutuhkannya integrasi dalam pendidikan ilmiah.

 Sistem Terbuka dan Sistem Tertutup

Fisika konvensional hanya berkenaan  dengan sistem tertutup,  yang terisolasi terhadap lingkungan. Dalam teori kimia fisis dijelaskan reaksi-reaksi, rata-rata dan kesetimbangan kimia yang ditetapkan dalam bejana tertutup dimana sejumlah reaktan dijadikan satu. Hukum termodinamika menyatakan bahwa hukum tersebut hanya diterapkan pada sistem tertutup saja. Sedangkan setiap organisme yang hidup pada dasarnya merupakan sistem yang terbuka. Mereka mempertahankan diri dalam sebuah pemasukan dan pengeluaran yang berkesinambungan, pembangunan dan kerusakan komponen-komponen, tidak pernah selama hidupnya berada dalam kesetimbangan kimiawi dan termodinamis, tapi tetap berada dalam sebuah keadaan tetap yang berbeda jauh dengan keadaan sebelumnya. Perumusan fisika yang terjadi tidak dapat dipakai oleh organisme hidup dengan sistem terbuka dan keadaan tetap, dan kita juga bisa menduga bahwa karakteristik sistem kehidupan yang beraneka ragam berlawanan asas dalam pandangan hukum-hukum fisika yang merupakan sebuah konsekuensi dari fakta ini.

Hubungan Sebab Akibat dan Teleologi

Tujuan ilmu pengetahuan sepertinya menjadi analitis yaitu pemecahan realitas menjadi unit-unit yang lebih kecil dan isolasi deretan hubungan sebab akibat yang inidvidualis. Karakteristik ilmu pengetahuan modern yang dipolakan menjadi unit-unit yang dapat dijauhkan dari hubungan sebab akibat telah terbukti tidak mencukupi, oleh sebab itu realitas dalam semua bidang ilmu pengetahuan, gagasan seperti keseluruhan, holistik, organisme, gestalt dan sebagainya, semuanya menandakan bahwa kita harus berfikir dalam terminologi sistem-sistem elemen dalam interaksi satu sama lain.

Sama halnya, gagasan teologi , terlihat seperti di luar jangkauan ilmu pengetahuan dan menjadi tempat bermain bagi hal-hal yang misterius, supranatural, asing bagi pengalihan ilmu pengetahuan , pemusatan pikiran bagi para peneliti yang percuma pada alam yang diatur oleh hukum-hukum yang tidak jelas tujuannya

Teleologi merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan. Dalam arti umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah. Dalam bidang lain, teleologi merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi tujuan dan “kebijaksanaan” objektif di luar manusia.

 Beberapa Konsep Sistem.

Konsep sistem menyatakan bahwa sebuah sistem dapat ditetapkan sebagai sekumpulan elemen atau unsur yang berdiri di dalam interrelasi. Sistem dapat ditetapkan secara matematis dengan berbagai cara. Sebagai ilustrasi, dapat dipilih sistem dari persamaan-persamaan diferensial simultan. Tak ada pembicaraan masalah finalitas yang mendetail, tetapi dapat disampaikan tipe finalitas, antara lain :

1. Teleologi statis, berarti bahwa persesuaian berguna bagi tujuan tertentu.

2. Teleologi dinamis, berarti kelangsungan proses-proses.

Ada tiga prasyarat untuk keberadaan isomorfik dalam bidang dan ilmu pengetahuan yang berbeda, yaitu adanya analogis-analogis, homologis, dan penjelasan. Analogis secara ilmiah mungkin kurang bermanfaat, namun homologis sebaliknya seringkali menghadirkan model-model bernilai, sehingga secara luas dapat diterapkan dalam fisika. Sementara secara filsafat, bentuk teori sistem umum dalam  perkembangannya akan menggantikan apa yang dikenal dengan teori kategori.

 Kesatuan dalam Ilmu Pengetahuan

Selanjutnya seluruh hasil utama penyajian sebagai Kesatuan Ilmu Pengetahuan dapat kita rangkum sebagai berikut :

1. Analisis prinsip sistem umum memperlihatkan banyak konsep yang merupakan hasil     dari definisi sistem atau hasil kondisi sistem tertentu.

2. Investigasi ini merupakan prasyarat bermanfaat yang berkaitan dengan masalah nyata     dalam ilmu pengetahuan.

3. Investigasi sama pentingnya dengan filsafat ilmu pengetahuan.

4. Fakta bahwa prinsip-prinsip diterapkan dalam sistem secara umum.

Dari sudut pandang kita, Kesatuan dalam Ilmu Pengetahuan memang terbukti nyata pada saat yang sama juga merupakan aspek yang lebih kentara. Realita dalam gagasan modern merupakan suatu urutan hirarkhis yang besar dari entitas terorganisir, mencakup seluruh tingkat dari sistem fisika, kimia hingga biologi. Penjelasan teori sistem umum pada masa yang akan datang, akan menjadi langkah utama terhadap penyatuan ilmu pengetahuan, dan akan memainkan peranan sama dengan logika Aristoteles dalam ilmu pengetahuan antiquiti. Dalam ilmu pengetahuan modern, interaksi dinamis menjadi suatu masalah besar dalam seluruh bidang realita dan prinsip-prinsip umumnya harus ditetapkan dengan teori sistem.

Metode-metode dalam Penelitian Sistem Umum

Metode-metode Penelitian Sistem Umum, sebagaimana digarisbawahi oleh Ashby (1958) terdapat dua metode dalam studi sistem :

1. Metode pertama bersifat empiriko-intuitif, metode ini dikembangkan oleh Von Bartalanffy dan rekan-rekannya, dengan obyek amatannya yaitu zoologi dan psikologi. Metode ini dengan mengamati berbagai sistim yang terjadi dalam dunia yang diamati kemudian membuat pernyataan mengenai keteraturan yang telah diamati. Metode ini memiliki keunggulan yaitu mendekati dengan realita dan dapat dengan mudah diilustrasikan atau dijelaskan dengan contoh-contoh yang diambil dari bidang ilmu pengetahuan individual.

2. Metode kedua mempelajari serangkaian dengan metode deduktif, metode ini mempelajari serangkaian sistim yang dapat mungkin dan kemudian mengurangi rangkaian tersebut menjadi ukuran yang dikehendaki. Metode ini diikuti oleh Ashby (1958). yang meneliti tentang konsep fundamental mesin dan menjawab pertanyaan dengan menyatakan kondisi internal dan kondisi lingkungannya akan menentukan kondisi selanjutnya yang akan ada. Jika variabel bersifat berkelanjutan, definisi ini berkoresponden dengan deskripsi suatu system dinamis oleh serangkaian persamaan diferensial dengan waktu sebagai veriabel bebas.

Teori Sistem Terbuka

Teori sistem terbuka merupakan generalisasi yang penting dari teori fisik kinetik dan thermodinamik. Teori ini telah menghasilkan suatu prinsip dan wawasan baru seperti misalnya prinsip equifinalitas, generalisasi prinsip thermodinamik kedua, peningkatan keteraturan yang mungkin dalam sistem terbuka terjadinya fenomena periodis, overshoot dan kesalahan permulaan dan lain-lain. Konsep sistem terbuka menemukan aplikasinya dalam ilmu pengetahuan tentang bumi, geomorphologi dan meteorologi dengan memberikan suatu perbandingan terperinci dari suatu konsep meteorologis dan konsep organismik Bertalanffy dalam bidang biologi.

Organisme yang dianggap sebagai Sitem Fisik

Organisme sebagai sistem terbuka. Dengan memperhatikan organisme sebagai keseluruhan, ia menampakkan ciri-ciri sama dengan ciri sistem pada keseimbangan menurut Zwaardemaker. Menururt pendapat Hopkins , “Hidup adalah satu keseimbangan dinamis di dalam sistem polyfasik”. Oleh karena itu dibutuhkan definisi dari apa yang disebut keseimbangan tidak berubah. Jelas, prinsip-prinsip umum seperti yang sedang dikembangkan tak dapat memberikan penjelasan rinci tentang permasalahan tersebut, namun dapat menunjukkan dasar-dasar fisik umum dari ciri kehidupan yang hakiki, termasuk pengaturan diri metabolisme dan penetapan dalam perubahan komponen-komponen. Ciri-ciri umum sistem-sistem kimia terbuka, menunjukkan bahwa, ekuilibria nyata pada sistem tertutup dan ekuilibria tidak bergerak pada sistem-sistem terbuka memperlihatkan kesamaan tertentu. Sistem tertutup harus mempertahankan keadaan seimbang bebas waktu yang ditetapkan oleh maksimum entropy dan minimum bebas energi, dimana rasio antara dua fase tetap konstan.

Model Sistem Terbuka.

Ada suatu perbedaan yang fundamental antara organisme yang hidup dan organisme yang mati. Biasanya kita tidak memiliki kesulitan dalam membedakan antara organisme hidup dan obyek yang mati. Dalam makluk hidup, proses kimia dan fisik yang tidak terbatas jumlahnya sangat “teratur/terarah”, sehingga memungkinkan suatu sistem yang hidup untuk bertahan, tumbuh, berkembang, dan bereproduksi.

Pada bagian ini akan kita bahas mengenai mesin hidup dan keterbatasannya. Pada abad tujuh belas, ketika Descartes mengenalkan konsep hewan sebagai mesin, diperkenalkan pula mesin uap dan thermodinamik yang menghasilkan adanya pandangan bahwa organisme dianggap sebagai mesin pemanas, sehingga menghasilkan gagasan perhitungan kalori dan hal-hal lainnya. Namun demikian organisme bukanlah suatu mesin pemanas yang mengubah energi bahan bakar menjadi panas dan kemudian menjadi energi mekanik. Organisme adalah suatu mesin chemodinamik yang secara langsung mengubah energi bahan bakar menjadi kerja yang efektif, yang merupakan suatu fakta bahwa teori tindakan otot ini didasarkan. Selanjutnya, mesin yang dapat mengatur sendiri kemudian dikenalkan, seperti thermostat. Sehingga organisme menjadi suatu mesin cibernetik, yang merupakan penjelasan dari homeostatis dan fenomena yang berkaitan.

Terlepas dari keberhasilannya model mesin organisme memiliki kesulitan dan keterbatasan sebagai berikut :

1. Ada keraguan mengenai asal mula mesin khususnya dalam pemikiran fisik. Descartes lama tidak masalah karena mesin hewannya merupakan ciptaan Tuhan, namun bagaimanakah mesin-mesin tersebut terjadi dialam semesta yang merupakan kejadian psiko-kimia yang tidak langsung?

2. Ada suatu masalah mengenai keteraturan setelah terjadi gangguan arbitrer. Masalah akan timbul mengenai pengaturan dan perbaikan setelah terjadi gangguan arbiter, mesin yang memperbaiki sendiri mungkin dapat dibenarkan dari sudut teori automata modern tapi dapatkah suatu mesin hidup, katakan suatu embrio atau otak dapat diprogram untuk melakukan perbaikan sendiri setelah mengalami ganguan?

3. Struktur organisme organisme hidup melakukan pertukaran komponen secara terus menerus melalui metabolisme, hal ini tidak bisa dilakukan oleh mesin dengan bahan bakarnya.

Beberapa Aspek Teori Sistem dalam Biologi.

Menurut pendapat umum, terdapat perbedaan mendasar antara “fakta-fakta yang diamati” di satu pihak yang merupakan landasan kuat ilmu pengetahuan yang tak dapat dipertanyakan yang dikumpulkan dalam sejumlah jurnal ilmiah yang tercetak dan “hanya teori” di pihak lain yang merupakan produk spekulasi. Ada empat model yang mendasari di bidang metabolisme kuantitatif yakni model-model organisme sebagai sistem terbuka, keadaan tetap homeostatis, alometri, dan yang disebut sebagai model pertumbuhan Bertalanffy. Model-model tersebut digunakan agak lebih luas dan dapat menggambarkan kerangka konseptual dan juga kerangka yang lain. Adapun aspek-aspek teori sistem dalam biologi meliputi :

1. Teori-teori tentang sistem-sistem terbuka, feedback, allometry dan pertumbuhan      dikupas dalam hubungannya dengan aplikasi-aplikasi eksperimentalnya.

2. Sistem terbuka dan feedback berlaku luas untuk fenomena di dalam fisiologi dan      memberikan perluasan-perluasan hakiki teori fisika.

3. Persamaan allometriks memberikan hubungan memungkinkan paling sederhana antara     ukuran tubuh dengan proses-proses metabolik.

4. Hubungan antara ukuran tubuh dengan tingkat metabolis mungkin terjadi : a. pada     jaringan atau species yang berbeda, b. pada perubahan kondisi fisiologis, c. pada     desain eksperimental yang berbeda.

5. Dependensi ukuran total metabolisme pada mamalia berada di bawah kondisi-kondisi     basal berbeda.

6. Dengan mempergunakan model Bertalanffy persamaan pertumbuhan menjadi sangat     sederhana.

7. Variasi-variasi musiman tingkat-tingkat metabolis dan tingkat-tingkat pertumbuhan      nampaknya menunjukkan saling kecocokan.

Konsep Sistem pada Ilmu Pengetahuan Manusia

Adanya pandangan dasar dunia sebagai organisasi dengan ditandai timbulnya paket disiplin ilmu baru seperti ciberkinetik, teori informasi, teori sistem general, teori permainan, keputusan, antrian, pada penerapan praktek, sistem analisis, sistem keteknikan, operasi penelitian dan lain-lain. Oleh karena itu munculnya sejumlah trend konsepsi baru mendatang perlu dipertimbangkan dan didorong oleh pandangan bahwa model robot adalah pandangan kenyataan empiris yang berbahaya terhadap ‘’keteknikan tingkah laku’’. Dalam penerapannya konsep robot sering di aplikasikan secara tertutup dan terbuka dan untuk lebih memahami tentang konsep robot ada beberapa prinsip tentang konsep yang dapat disampaikan sebagai berikut :

1. Satu tuntunan konsep yaitu skema respon-stimulus / rangsangan (skema S-R) perilaku     hewan dan manusia, dianggap sebagai respon terhadap rangsangan yang datang dari     luar.

2. Environmentalism menyatakan (menurut skema S-R) perilaku dan kepribadian     dibentuk oleh pengaruh dari luar.

3. Prinsip keseimbangan menurut formula Freud merupakan ‘’prinsip stabilitas‘’ tentang     pemeliharaan keseimbangan homeostatis.

4.Prinsip ekonomi, menurut faedahnya dan harus dilalui secara ekonomis yaitu    pengeluaran minimum energi mental atau vita.

Konsep dan teori ditunjukkan oleh pendekatan sistem modern terus dikenalkan di sosiologi, seperti konsep sistem umum, umpan balik, informasi, komunikasi, dan lain-lain. Ahli teori fungsional telah menemukan bermacam-macam ekspresi seperti yang dipresentasikan oleh Parsons, Merton, dan teorisi lainnya. Sementara para sejarawan berkeyakinan bahwa ilmu adalah sebuah nomothetik penting yang mengagumkan.

Teori Sistem Umum dalam Psikologi dan Psikiatri

Beberapa tahun terakhir ini, konsep “sistem” telah mencapai peningkatan pengaruh dalam psikologi dan psikiatri. G.W. Allport mengakhiri re-edisi klasiknya dengan “kepribadian sebagai sistem”, Karl Menninger mendasarkan sistem psikiatrinya pada teori sistem umum dan biologi organismik, bahkan Rapaport mengatakan ”popularitas itu seperti epidemik dalam psikologi sistem terbuka”.

Konsep “molar” pada orgnisme psikofisika sebagai sistem yang kontras dengan konsepsinya yang hanya sebagai unit “molekular”, seperti refleks, sensasi, pusat otak, dorongan, respon penguat, ancaman, faktor, dan lain-lain. Psikopatologi jelas menunjukkan bahwa disfungsi mental lebih merupakan gangguan sistem daripada sebagai hilangnya fungsi tunggal. Tanpa stimuli eksternal, organisme bukanlah sistem yang pasif tetapi merupakan sistem aktif secara intrinsik. Sementara pada evolusi dan perkembangan, mekanisme reaktif nampak menjadi sangat mengganggu aktivitas ritmitik lokomotor yang primitif. Teori sistem dalam psikologi dan psikiatri bukanlah penemuan baru, dan jika memiliki perasaan de javu seharusnya tidak mengkontradiksikannya dan bermaksud hanya menunjukkan bahwa konsep sistem dalam bidang ini bukan spekulasi. Pandangan dunia ilmiah hanya dapat disinggung pada uraian sebagai brikut :

1.  Konsep sistem menyediakan kerangka teoritis yang netral secara psikofisik. Istilah fisik dan psikofisik, seperti potensi, transmisi kimia pada sinapsis, jaringan neural, dan sebagainya tidak dapat diaplikasikan pada fenomena mental, dan nosi psikologis juga kurang diaplikasikan pada fenomena fisik.

2. Dualisme Cartesian antara masalah dan pikiran tidak benar di antara cahaya       pengalaman fenomenologis langsung dan riset modern di berbagai bidang.

3. Masalah keinginan bebas atau penentuan juga menerima arti baru dan pasti. Ini      merupakan masalah pseudo yang dihasilkan dari kebingungan level pengalaman yang      berbeda pada epistemologi dan metafisika.

4. Tanggung jawab selalu dinilai dalam kerangka nilai simbolik seperti yang diterima      dalam masyarakat di bawah kondisi yang diberikan.

 Relativitas Katagori.

Hipotesis yang ditawarkan oleh Whofr tentang proses kognitif seluruh manusia memiliki struktur logika biasa yang bekerja sebelumnya dan struktur komunikasi secara bebas melalui bahasa adalah merupakan sebuah kesalahan. Sementara menurut tesis aliran Kant, ada bentuk intuisi, ruang dan waktu, dan katagori intelek, seperti substansi, kauslitas dan lainya yang melibatkan universal untuk menjadi bersifat rasional. Karena itu sains, yang berdasarkan katagori-katagori ini sama universal.Menurut Von Uexkull, setiap makhluk hidup memisahkan diri dari keanekaragaman obyek-obyek di sekelilingnya, sejumlah kecil karakteristik yang menyebabkan reaksi dan ansembelnya membentuk ”sekeliling”-nya (umwelt).

Ada alasan yang sangat mendasar mengapa representasi mental alam selalu mencerminkan aspek-aspek atau perspektif realitas. Pemikiran Bertalanffy, paling tidak dalam oksidental dalam bahasa manusia, pada prinsipnya merupakan makna lawan. Seperti yang dimiliki Heraclidtus, Bertalanffy sedang berfikir panas dan dingin, hitam dan putih, siang dan malam, hidup dan mati, dijadikan dan menjadikan. Jadi kategori pengalaman dan pemikiran Bertalanffy nampak ditentukan oleh pertama faktor biologi dan kultural, kedua ikatan manusia yang diikuti oleh proses antropomopisasi gambaran dunia, ketiga walaupun deantropomopis pengetahuan hanya mencerminkan aspek-aspek tertentu atau masalah realitas, keempat setiap aspek itu relatif kebenarannya, hal ini menunjukkan batasan dan kemuliaan pengetahuan manusia.

Berdasarkan uraian di atas Teori Sistem Umum sebagai sebuah trend rahasia dalam berbagai disiplin ilmu tidak muncul begitu saja tetapi melalui perjalanan yang panjang dengan bantahan-bantahan yang muncul dan bersifat menentang karena pada waktu itu ilmu fisika dan kimia dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan ilmu sosial. Masalah sistem itu penting dalam pembatasan masalah pada prosedur analisis ilmu pengetahuan. Hal ini seharusnya diungkapkan pertama kali berawal dari ilmu-ilmu metafisik dan pertama kali diperkenalkan oleh Von Bertalanffy melalui bukunya General System Theory pada tahun 1928 dan merupakan awal konsep untuk memandang dan memecahkan masalah secara integral dan holistik. Memecahkan masalah hanya dengan satu ilmu pada waktu itu sudah tidak memadai, sehingga General System Theory sangat populer dan diakui oleh dunia Teori sistem umum juga sering diidentifikasi dengan teori cibernetika, sebagai sebuah teori pengendalian mekanis dalam tehnologi dan alam, didirikan pada pengertian informasi dan feedback. Isomorfisme dalam Ilmu Pengetahuan, bermaksud menunjukkan tujuan umum dan beberapa konsep umum dari teori sistem umum. Pada kasus yang sederhana, tujuan isomorfisme telah dapat dilihat seperti pada hukum eksponensial maupun hukum logistik. Ada tiga prasyarat untuk keberadaan isomorfik dalam bidang dan ilmu pengetahuan yang berbeda, yaitu adanya analogis-analogis, homologis, dan penjelasan. Sementara model organisme sebagai sistem terbuka telah terbukti bermanfaat dalam penjelmaan dan perumusan matematika berbagai fenomena hidup. Model ini juga menghasilkan masalah-masalah alam yang fundamental. Di sisi lain, teori sistem dalam psikologi dan psikiatri bukanlah penemuan baru yang harus dikontradiksikan. Konsep sistem adalah pembalikan teori robotik secara radikal. Dalam kondisi tertentu sistem terbuka mendekati suatu kondisi yang bebas waktu yang disebut sebagai kondisi tetap/mantap.

  • Perspektif Klasik[6]

Teori-teori organisasi klasik adalah teori yang berkembang di khir abad ke- 18, yang pada peroide yang sering disebut Revolusi Industri. Berdasarkan pengamaan yang ada, perkembangan teori organisasi tidak lepas dari faktor lingkungan., yang meliputi aspek teknologi, sistem politik, sistem sosial, sistem budaya,dn demografi (persebaran penduduk). Terutama yang paling mendasar di sini adalah teknologi. Ini dapat dibuktikan dari proses lahirnya perspektif klasik. Perspektif ini berkembang pada periode perubahan teknologi di masa Revolusi Industri, yaitu di mulai di Inggris pada abad ke- 18.pda masa ini lah apa yang disebut ”organisasi” dalam pengertian modern muali berkembang. Revolusi Industri sendiri dapat diartikan sebagai titik pertama dalam sejarah dimana manusia mulai mengenal mesin, dlam pengertian mesin produksi yang melakukan yang mampu melakukan pekerjaan repetitif secara otomtis.

Menurut Hatch, pada periode klasik terdapat dua kelompok besar ahli pemikir organisai. Pertama, pemikir-pemikir aliran sosiologis yang mencoba mndeskripsikan dan menganalisis struktur organisasi dan peran-peran didalamnya. Dan yang kedua, pemikir-pemikir aliran administrasi dan manajemen yang lebih menitikberatkan pada masalah-masalah praktis yang dihadapidalam mengelola organisasi.

Berikut ini adalah kontribusi dari masing-masing tokoh tersebut.

Max Weber, Ahli Sosiologi, Jerman, untuk pertama klainya ia mengkaji organisai pemerintahan secara mendalam. Weber mendasarkan pemikiran birokrasinya pada konspe otoritas formal yang impersonal, objektif, dan rasional. Birokrasi semacam ini dijalankan dengan aturan-aturan dan prosedur bki, melalui bentuk-bentuk kontrol legalistik. Pengaruhnya terhadap teori terutama adalah pada aspek organisai publik, yang oleh tokoh-tokoh sebelumnya tidak dikemas dalam pemikiran tersendiri.

Frederick W. Taylor, Ahli Mnajemen, AS, gagasan terpenting dari taylor adalah penerapan prinsip-prinsip ”ilmiah” dlam melakukan pekerjaan dan mengontrol pekerja. Taylor menggunakan metode induktif, yaitu menciptakan suatu prinsip umum dari pengamatan terhadap kasus-kasus khusus. Pemikiran ini terutama dituangkannya dalam principe of scientific management.

  • Perspektif Modern

Perspektif Klasik, sebagaimana  dpat kita cermati dari tokoh-tokohnya, terbagi menjadi dua pemikiran besar, yaitu pemikiran yang menekankan pencapaian efisiensi dan efektivitas organisasi dan liran yang menekankan kebutuhan sosial dan psikologis manusia. Teori organisasi disini berhadapan dengan suatu masalaha klasik, bahwa organisasi modern dapat menolong manusia utnuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan secar efisien dan efektif, tetapi pada suatu ketika dapat ”memperbudak” manusia yang menciptakannya.

Melalu pesrpektif modern, fokus perdebatan berpindah dari aspek internal (efisiensi versus humanisme) pada aspek eksternal (hubungan organisasi dan lingkungan). Organisasi tidak lagi dilihat sebagai unti yang berdiri sendiri, melainkan terkait dengan apa yang disebut lngkungan. Jadi, di satu sisi, teori-teori organisasi perspektif modern adalah kelanjutan dari pemikiran-pemikiran era klasik. Namun dilihat dari sisi yang lain, mereka berbeda. Inspirasi utama mereka adalah keteraturan dan cara kerja alam (nature), khususnya aspek biologis. Sementara itu, pemikir-pemikir klasik umum terinspirasi oleh aspek fisika.

Dari sisi ilmu fisika, pemikiran Newton melihat bahwa alam semesta dapat diasumsikan sebuah mesin, seperti jam raksasa, yang bekerja melalui prinsip-prinsip keteraturan tertentu sehingga tidak terjadi kekacauan atau tabrakan satu sama lain. Gagasan keteraturan ini dikembangkan oleh pemikir-pemikir klsik dengan metafora organisasi sebagai ”mesin” yang harus bekerja secara efektif dan efisien.

Sebaliknya, para pemikir di era modern mengamati keteraturan lain yang dianggap lebih dinamis, yaitu keteraturan makhluk hidup atau dunia hayati. Mereka menamakannya teori keteraturan organik. Ludwig von Bertalanffy, seorang ahli biofisologi Jerman, mengambil konsep ”organisme” yang dikembangkan ahli-ahli biologi untuk diterapkan pada semua jenis ”sistem” secara umum. Inilah petak dasar dari pemikirn perspektif modern.

Di sisi lain, hingg pasa taraf tertentu, basis pemikiran modernis ternyata cenderung menghasilkan pa yang disebut ”rekayasa sosial” (social engineering). Terutama di negara-negara berkembang, dimana para ahli atau negarawan acap kali merombak ”sistem” yang sudah ada, dengan asumsi unsur-unsur pembentuknya tidak terkait dalam suatu interrelasi yang ideal, dan menciptakan ”sistem” baru yang lebih unggul.

  • Perspektif Post-Modern

Kecenderungan pemikir-pemikir post-modern adalah membalikkan asumsi-asumsi dasar dari pemikir-pemikir sebelumnya. Hal yang paling mendasar dalah ”keteraturan”. Baik pendekatan klasik maupun modern mendasarkan gagasan-gagasannya pada konsep keteraturan. Bedanya pemikir klasik mengambl gagasan keteraturan dari mekanisme alam semesta (fisika), sementara pemikir modern dari keteraturan organik makhluk hidup (biologi). Namun, inilah yng berbeda, perspektif post-modern mereka sengaja mengabaikn konsep keteraturan itu, termasuk dalam teori organisasi. Tujuannya adalah memperlihatkan realitas yang lebih kompleks, dimana kebenaran yang satu bersanding dengan kebenran yang lain meskipun keduanya tidak sama.

Pokok-pokok pemikiran dibawah ini adalah ”asumsi-asumi” yang mendasari pemikiran para ahli organisasi dan administrasi sejak jaman klasik sampai modern. Asumsi-asumsi inilah yang akan dibongkar oeh pemikir dri post-modern.

  1. Kemajuan atau pertumbuhan adalah sesuatu yang tanpa batas. Baik pendekatan klasik      maupun modern pada dasarnya tidak mengasumsikan adanya batas-batas tertentu bagi    perkembangan organisasi.
  2. Kebenaran adalah universal, sehingga rancangan yang berlaku pada satu kasus dapat     diterapkan pada kasus lain.
  3. Kebutuhan dan hasrat manusia pada dasarnya sama dan dapat di objektivitasi.
  4. Hierarki dan ketidakseimbangan kekuasaan dalam organisasi adalah alamiah.                  Dalam banyak hal apalagi bagi kita yang negara berkembang belum bisa diduga seperti apa kondisi dan penyesuaian-penyesuaian yng dilakukan organisasi terhadap kondisi pasca industri tersebut. Hanya saja beberapa ciri yang dapat diidentifikasi muli sekarang adalah:
  1. Penciptaan pengetahuan dan pengguna informasi maki penting. Pekerja sektor               manufaktur berkurang, sementara sektor jasa meningkat.
  2. Batas-batas organisasi dan lingkungan cenderung makin susah untuk dipertahankan.
  3. Batas-batas antara unit-unit atau departemen dalam suatu organisasi juga cenderung       makin kabur.
  4. Kehidupan organsisasi ditandai oleh ketidakpastian yang makin besar.

Jika dibatasi pada organisasi bisnis, perubhan yang terjadi dalam masyarakat pasca industri ada alam tiga hal penting berikut.

  1. Sistem produksi, harus menyesuaikan dengan perubahan-perubahan selera pasar yang   berlangsung cepat.
  2. Pasar domestik tidak memadai, harus ada internsionalisasi memasuki pasar-pasar              baru diluar negeri.
  3. Inovasi menjadi sagat penting, dimana riset dan pengembangan tidak jarang akan              sangat menentukan kelangsungan dan perkembangan perusahaan.

Dengan latar belakang perubahan-perubahan pasca-industri tersebut, dapat dipahami bahwa proyek pemikiran post-moernisme itu sendiri merupakan antisipasi terhadap pola pikir masyarakat yang secara radikaltelah berubah. Empat asumsi yang dikemukakan tersebutmenjelaskan beberapa haldari sustu pandang post modernis.

Kesimpulan

Sistem Teori merupakan suatu konsep dasar yang menjelaskan hubungan sistematis suatu fenomena dengan cara merinci suatu hubungan sebab – akibat yang terjadi. Di kehidupan sehari-hari istilah sistem teori sering dihubungkan dengan praktik, sistem teori kadang-kadang tidak mudah dipahami karena sifatnya cenderung abstrak. Memahami pemikiran secara abstrak barangkali bukan tugas yang mudah. Namun, sesuatu yang sulit bukan berarti tidak berguna. Seorang ahli mengatakan, tidak ada yang lebih praktis daripada teori yang bermanfaat, artinya, dengan menguasai suatu teori secara baik seseorang akan lebih mudah menangani hal-hal praktis yang berkaitan dengan ilmu dilapangan. Dibelakang setiap sistem teori terdapat asumsi-asumsi yang membentuk sudut pandang suatu teori biasanya asumsi tersebut berpola objektif dan subjektif. Maksudnya, realita secara objektif dapat diukur, dinilai, dan diperbandingkan, dengan satu sama lain. Sedangkan pola subjektif mengasumsikan lebih kepada perorangan yang dapat berfikir berbeda-beda pada suatu objek yang sama.

Dari pemikiran Bertalanffy tentang hal tersebut di atas jelas Bertalanffy mengemukakan pemikirannya tentang General System Theory yang telah berjasa dalam menghilangkan jurang pemisah antara ilmu-ilmu eksak dengan ilmu sosial. Masyarakat dunia semakin sadar bahwa dibutuhkan kesatuan dalam ilmu pengetahuan untuk mengatasi permasalahan yang muncul di belahan dunia manapun.

Refrensi

http://id.shvoong.com/humanities/history/2288480-sejarah-penemuan sistem/#ixzz2NIvbCY5B

http://www.bsu.edu/classes/flint/systems.html

Ludwig Von Bertalanffy (1968) “General System theory : Foundations, Development, Applications”, Resvised Edition, Goerge Braziller New York

Marshall McLuhan dalam: McLuhan:…. Ed Hot & Cool oleh Gerald Emanuel Stearn Sebuah   Buku meterai diterbitkan oleh The New American Library, New York, 1967

Owens, Robert G., Organizational Behavior in Education, Third Edition (New Jersey: Prentice-Hall Inc, 1987)

Thoha, Miftah, Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008).

Wexley, Kenneth N., dan Yukl Gary A, Perilaku Organisasi dan Psikologi Personalia, Cet. II, Penerj. Muh. Shobaruddin, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003)


[1] Marshall McLuhan dalam: McLuhan:…. Ed Hot & Cool oleh Gerald Emanuel Stearn Sebuah   Buku meterai diterbitkan oleh The New American Library, New York, 1967, hal 288.

[2] http://id.shvoong.com/humanities/history/2288480-sejarah-penemuan sistem/#ixzz2NIvbCY5B

[3] Owens, Robert G., Organizational Behavior in Education, Third Edition (New Jersey: Prentice-Hall Inc, 1987), h. 76

[4] Wexley, Kenneth N., dan Yukl Gary A, Perilaku Organisasi dan Psikologi Personalia, Cet. II, Penerj. Muh. Shobaruddin, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003),h. 54

[5] Thoha, Miftah, Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008). h. 34

 

PEMBIAYAAN PENDIDIKAN EKONOMI, PENDIDIKAN DAN EKONOMI PENDIDIKAN


Definisi Ekonomi Pendidikan

Ekonomi didefinisikan oleh P. Samuelson (1961) sebagai suatu kegiatan tentang bagaimana manusia dan masyarakat memilih, dengan atau tanpa menggunakan uang, untuk memanfaatkan sumber daya produksi yang langka untuk menghasilkan barang dan mendistribusikannya untuk kebutuhan konsumsi, sekarang dan masa yang akan datang, oleh sekelompok orang atau masyarakat”. Intinya : ekonomi adalah kegiatan mengenai produksi dan distribusi segala sumber daya yang langka baik barang maupun jasa yang dibutuhkan oleh manusia.

Dengan dua kata kunci yaitu (1) Kelangkaan (scarcity) dan (2) Kebutuhan (needs). Pendidikan, menurut Webster’s New World dictionary (1962), adalah “Suatu proses pelatihan dan pengembangan pengetahuan, keterampilan, pikiran, watak dan lain-lain, khususnya melalui sekolah formal. Kegiatan pendidikan menyangkut produksi dan distribusi pengetahuan baik di lembaga reguler maupun non reguler”. Karena mayoritas kegiatan tersebut berlangsung di lembaga pengajaran seperti sekolah swasta dan negeri.

Berdasarkan definisi ekonomi dan pendidikan, maka ekonomi pendidikan adalah “Suatu kegiatan mengenai bagiamana manusia dan masyarakat memilih, dengan atau tanpa uang, untuk memanfaatkan sumber daya produktif yang langka untuk menciptakan berbagai jenis pelatihan, pengembangan pengetahuan, keterampilan, pikiran, watak, dan lain-lain, terutama melalui sekolah formal dalam suatu jangka waktu dan mendistribusikannya, sekarang dan kelak, di kalangan masyarakat”. Intinya, ekonomi pendidikan berkaitan dengan :

  1. Proses pelaksanaan pendidikan
  2. Distribusi pendidikan di kalangan individudan kelompok yang memerlukan
  3. Biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat atau individu untuk kegiatan pendidikan, dan jenis kegiatan apa yang dibutuhkan.

 Masalah-Masalah Pokok Ekonomi Pendidikan

Karena proses pendidikan melibatkan penggunaan sejumlah sumber daya yang langka, timbulah sejumlah permasalahan yang jawabannya harus dipandang dari sudut analisa ekonom. Untuk dapat menemukan solusi yang memadai, diperlukan Pemikiran-pemikiran Ekonom dan kerja sama dari para ahli pendidikan, sosiologi, psikologi dan sebagainya. Terdapat lima pokok permasalahan yang berkaitan dengan persoalan ini, yaitu :

  1. Identifikasi dan pengukuran nilai-nilai ekonomi pendidikan. Dalam hal ini, meliputi bagaimana perhitungan atau estimasi dari biaya pendidikan yang dikeluarkan dan keuntungan pendidikan yang diperoleh.
  2. Alokasi sumber daya dalam pendidikan, Proses pendidikan meliputi hasil keluaran proses pendidikan dari penetapan sejumlah input dalam pendidikan.
  3. Gaji guru, Disesuaikan dengan tingkat dan faktor penentu kemampuan yang dimilikinya.
  4. Anggaran/Keuangan pendidikan, Siapakah yang harus membayar pendidikan ? Apakah pemerintah harus menduk ung pendidikan di sektor pemerintah adan swasta ? Jika ya, Pada level yang yang mana pemerintah harus mengambil bagiannya ? Jika ada subsidi, apakah harus diberikan pada lembaga pendidikannya atau pada peserta didiknya ?
  5. Perencanaan pendidikan, Meliputi pembahasan perencanaan pelaksanaan pendidikan yang masuk akal, berbagai macam pendekatan terhadap perencanaan, dan beberapa makro dan mikro dari model perencanaan yang tersedia/disediakan.

Thomas H. jones (1985:3), mengatakan bahwa “The economics of education deals with relationship between educational spending and the well-being of society as a whole or certainly social group”. Ada hal yang perlu diperhatikan, yaitu pada tatanan filosofis bahwa pendidikan itu merupakan lembaga non profit, oleh karena itu kegiatan ekonomi yang bersifat ekploitatif dengan menempatkan kegiatan pendidikan sebagi lahan yang menghasilkan nilai dengan uang adalah salah (Elchanan Cohn,1979).

Pendidikan, Human Investment dan Modal Manusia.

Pendidikan mempunyai peranan penting dalam peningkatan sumber daya manusia. Pendidikan mempengaruhi secara penuh pertumbuhan ekonomi bangsa. Hal ini bukan saja karena pendidikan akan berpengaruh terhdap produktivitas, tetapi juga berpengaruh terhadap fertilitas(angka kelahiran) masyarakat. Dengan pendidikan menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam meghadapi perubahan-perubahan dalam kehidupan. Jadi, pada umumnya pendidikan diakuai sebagai investasi sumber daya manusia. Pendidikan memberikan sumbangan yang besar terhadap perkembangan kehidupan sosial ekonomi melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, kecakapan, sikap serta produktivitas.

Dalam hubungannya dengan biaya dan manfaat, pendidikan dapat dipandang sebagai salah satu investasi (human investment) dalam hal ini, proses pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan merupakan suatu bentuk konsumsi semata, akan tetapi merupakan suatu investasi. Hal yang sama diungkapakan pula oleh Mark Blaug (1976:19) yang menyatakan bahwa :

“…. A good case can now be made for the view that educational expenditure does partake to a surprising degree of the nature of investment in enhanced future output. To that extent, the consquences of education in the sense of skills embodied in people may be viewed as human capital, which is not to say that people themselves are being treated capital. In other word, the maintenance and improvement of skills may be seen as investment in human beings, but the resources devoted to maintaining and increasing the stock of human beings remain consumption by virtue of the abolition of slavery”.

Oleh karena itu, pendidikan merupakan suatu investasi yang berguna bukan saja untuk perorangan atau individu saja, tetapi juga merupakan investasi untuk masyarakat yang mana dengan pendidikan sesungguhnya dapat memberikan suatu kontribusi yang substansial untuk hidup yang lebih baik di masa yang akan datang. Hal ini, secara langsung dapat disimpulkan bahwa proses pendidikan sangat erat kaitannya dengan suatu konsep yang disebut dengan human capital. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Jones (1985:4) yang menyatakan bahwa “The people have certain skills, habit, and knowledge, which they sell to employers in the form of their wage salaried labor, and which can be expected to provide them a flow of income over their lifetimes. Furthermore, human capital can be analogized in some respects to physical capital because both are used together to produce a stream of income over some period of years”.

Bank Dunia dengan program internasionalnya telah menetapkan kepercayaan terhadap peranan investasi sumber daya manusia bagi pertumbuhan ekonomi (World Development Report, 1980) kepercayaan ini didasarkan atas studi yang dilakukan pada akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an. Sumbangan pendidikan untuk menunjang pertumbuhan ini semakin kuat setelah memperhitungkan efek pendidikan dan bentuk investasi fisik lainnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari segi teori ekonomi pendidikan, khususnya pendekatan human capital, aspek pembiayaan dipandang sebagai bagian dari investasi pendidikan yang menentukan taraf produktivitas individu maupun kelompok. Pada gilirannya taraf produktivitas ini mempengaruhi taraf perolehan (earning) seseorang atau kelompok yang pada akhirnya berkontribusi terhadap kecepatan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan.

Jika dicermati, bahwa pendidikan berfungsi untuk memberikan kemampuan pada seseorang agar mampu berperan dalam kehidupannya kelak, sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfat bagi hidupnya. Bila berbicara mengenai investasi manusia, jelas tidak boleh lepas dari fungsi pendidikan.Adam Smith dan Alfred Marshall (dalam Knezvich, 1975:539) mengemukakan keyakinannya bahwa  “the most valuable of all capital is that invested in human beings”.

SDM (Human Capital) : Kompetensi : – personal

                                      o Skill

                                          o Social (kerjasama)

 

 

 

Jadi : biaya akan bermakna apabila tercipta kualitas (mutu) pendidikan berharga dilihat dari sudut pandang ekonomi : bahwa semakin tinggi ilmu semakin tinggi pendapatan. (sedangkan barang makin lama makin berkurang nilainya (depresiasi) keuntungan dari pendidikan dapat digolongkan menjadi 2, yaitu  :

-       Functional benefit : keuntungan yang dapat menghasilkan

-       Emotional benefit : hanya untuk kepuasan, dalam kaitannya dengan SDM, pendidikan tidak hanya untuk mendaptakan ijazah dan gelar, tetapi adanya perubahan tingkah laku yang mempunyai Nilai Ekonomis dalam kehidupannya.

 

D. Biaya Pendidikan

Biaya dalam pendidikan meliputi biaya langsung dan biaya tidak langsung. Hal tersebut sesuai dengan pendapat R. Johns, Edgar L. Morphet dan Kern Alexander (1983:45) yang menyatakan bahwa “Education has both private and sicoal cost, which may be both direct and indirect, direct cost are incurred for tuition, fees, books, room andboard. In a public school, the majority of these costs are subsuned by the public treasury and thus become social costs. Indirect costs of education are embodied in the earnings which are forgone bay all persons of working age, but forgeno earnings are also a cost to societ, a reduction in the total productivity of the nation”.

Biaya langsung terdiri dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan pengajaran dan kegiatan belajar siswa. Kebanyakan biaya langsung berasal dari sistem persekolahan sendiri seperti SPP, dan Sumbangan Orang Tua murid untuk pendidikan atau yang dikeluarkan sendiri oleh siswa untuk membeli perlengkapan dalam melaksanakan proses pendidikannya, seperti biaya buku, peralatan dan uang saku. Sedangkan biaya tidak langsung berupa keuntungan yang hilang dalam bentuk kesempatan yang hilang dan dikorbankan oleh siswa selama belajar (Cohn,1979; Thomas Jone,1985; Alan Thomas, 1976. dalam Nanang Fattah 2000,23). Menurut Cohn (1979:62), biaya pendidikan dapat dikategorikan sebagai berikut :

a)    Biaya langsung, yaitu biaya yang dikeluarkan secara langsung untuk membiyai penyelenggaraaan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, seperti gaji guru, pegawai non edukatif, buku-buku pelajaran dana bahan perlengkapan lainnya. Hal ini berpengaruh pada hasil pendidikan berupa nilai pengorbanan untuk penyelenggaraan kegiatan-kegiatan tersebut.

b)    Biaya tak langsung (Indirect cost), yaitu meliputi hilangnya pendapatan peserta didik karena sedang mengikuti pendidikan. Bisa juga berupa keuntungan yang hilang (earning forgone) dalam bentuk biaya kesempatan yang hilang (opportunity cost) yang dikorbankan oleh siswa selama belajar. Bentuk-bentuk dan beberapa kategori dari biaya pendidikan masyarakat dan swasta menurut R. Johns, Edgar L. Morphet dan Kern Alexander (1983:45),yaitu :

Direct Cost

Indirect cost

  1. 1.     Social

-     Salaries of teacher, administrators and nonprofesional personnel

-     Books, supplies and equipment

-     Transportation

-     Room anf board

-     Scholarship and other subsidies to students

-     Capital expenditure

 

  1. 2.     Private

-     Tuition and fees

-     Books, suplies and equipment

-     Extra travel

-     Room and board

 

1. Social

- Earning forgone

 

2.Private

- Earning forgone

 

 

Sedangkan menurut Elchanan C (1979:62), menyebutkan bahwa : “Direct cost have received by far the bulk of attention, perhaps because the consequences of such costs are directly and strongly felt by the tax payer and, of course, because statistics on direct school outlays are readily available (or estimable), where as indirect cost must be imputed. The majority of direct cost are incured by the school systems themselves”.

c) Private Costs dan Social Costs

Private cost adalah biaya yang dikeluarkan keluarga untuk membiayai sekolah anaknya dan termasuk didalamnya opportunity cost.

Social cost sebagai biaya publik, yaitu sejumlah biaya yang dibayar masyarakat untuk pembiayaan sekolah.

d) Monetary dan Non Monetary cost

Monetary cost dapat berupa biaya langsung atau biaya tidak langsung, yang mungkin dibayar masyarakat ataupun oleh perorangan. Dengan kata lain Monetary cost adalah nilai pengorbanan yang terwujud dalam pengeluaran uang.

Non Monetary cost adalah nilai pengorbanan yang tidak diwujudkan dengan pengeluaran uang sepeti biaya yang diperhitungkan dimana seorang siswa tidak mengambil kesempatan waktu senggangnya untuk bersenang-senang tetapi digunakan untuk membaca buku.

Perhitungan biaya dalam pendidikan akan ditentukan oleh unsur-unsur tersebut yang didasarkan pula pada perhitungan biaya yang nyata sesuai dengan kegiatan menurut jenis dan volumenya. Dalam konsep pembiayaan pendidikan ada dua hal penting yang perlu dikaji dan dianalisis yaitu biaya pendidikan secara keseluruhan dan biaya satuan per siswa. Biaya satuan ditingkat sekolah merupakan biaya pendidikan tingkat sekolah, baik yang bersumber dari pemerintah, orang tua dan masyarakat yang dikeluarkan untuk penyelenggraan pendidikan dalam satu tahun pelajaran. Hal tersebut, dipertegas pula oleh Howard R. bowen (1981:1) yang menyebutkan “Cost usually appear in the form of expenditures of money. Similarly, costs of colleges and universities are usuallymoney payments to acquire the resources needed to operate the institutions”.

Biaya satuan per murid merupakan ukuran yang menggambarkan seberapa besar uang yang dialokasikan ke sekolah-sekolah secara efektif untuk kepentingan murid dalam menempuh pendidikan. Hal ini ditekankan pula oleh Howard R. bowen (1981:4) yang menyebutkan bahwa “What passed as cost per unit was computed simply by adding up total institutional expenditures for all purposes and dividing by the number of students”. Dengan menganalisis biaya satuan, memungkinkan untuk mengetahui efesiensi dalam penggunaan sumber-sumber di sekolah, keuntungan dari investasi pendidikan, dan pemerataan pengeluaran masyarakat. Dalam hal biaya nyata dalam suatu pendidikan, Howard R. bowen (1981:2), berpendapat bahwa “The real cost, however, lie beneath the money payments. The products of outcomes of higher education are obtained through the use of scarce resources. The real cost of higher education, then, consists of benefits that might have been realized from these resources, but were sacrified, because these resources were committed to higher education”.

Disamping biaya yang nyata, Howard R. Bowen (1981:3), juga menjelaskan biaya keseluruhan (unit cost) yang menyatakan bahwa :“All that needed is to add up all expenditures-making sure to include only the costs that are properly allocated to the year inquestion. But, even when adjusted for changes in the value of the dollar, this total is not meaningful for comparisons over time or among institutions unless it is related to the number of units service rendered”.

Oleh karena itu, perencanan program biaya sekolah harus komprehensif dan melibatkan pembuat keputusan yang kritis menyangkut bidang pokok:

  1. Program pendidikan yang didanai.
  2. Sistem pajak yang digunakan untuk membiayai program tersebut.
  3. Sistem alokasi dana negara untuk wilayah atau daerah persekolahan.

Dalam menetapkan biaya pendidikan yang diperlukan, harus disusun perencanaan pembiayaan pendidikan. Maka, suatu proyeksi biaya pendidikan yang didasarkan atas kebutuhan dalam kaitannya dengan pembiayaan pendidikan di tingkat negara, yaitu dengan membuat alternatif proyeksi pendidikan sekurang-kurangnya 5-6 tahun mendatang Alternatif proyeksi biaya pendidikan harus bedasarkan pada asumsi-asumsi:

  1. Kecepatan rasio pertumbuhan.
  2. Jumlah imigrasi ke negara.
  3. Tipe program pendidikan untuk target populasi dengan perbedaan kebutuhan.
  4. Perbedaan biaya untuk tipe yang berbeda program pendidikan.
  5. Jumlah siswa yang mungkin akan pindah dari sekolah
  6. Perbedaan biaya yang dibutuhkan berdasarkan pada jarang atau padatnya penduduk.
  7. Tingkat kualitas pendidikan.
  8. Kekuatan memperoleh uang.

Seperti yang telah dikemukakan diatas, bahwa pembiayaan pada suatu persekolahan terpusat pada penyaluran keuangan dan sumber-sumber pendapatan lainnya untuk pendidikan. Dimana, distribusi atau penyaluran tersebut mencakup dua kategori yaitu bagaimana uang itu diperoleh dan bagaimana dibelanjakan agar proses pendidikan dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.Aspek penting lain yang perlu dikaji adalah peraturan perundang-undangan pendidikan, perkembangan historis pemerintah pusat, kecenderungan termasuk masa yang akan datang.

Oleh karena itu, dalam menetapkan biaya pendidikan perlu di dukung dengan data dan informasi mengenai siapa yang harus dididik, berapa jumlah yang harus dididik, tujuan dan sasaran apa yang ingin dicapai, program pendidikan apa yang akan dilakukan sebagai suatu usaha dalam mencapai tujuan dan sasaran tersebut.

Bank Dunia (1998) dalam buku Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah, menyarankan bahwa dalam jangka pendek, pembiayaan pendidikan seyogyanya diarahkan untuk melanjutkan investasi yang telah dilaksanakan di masa lalu, dan juga untuk melindungi kelompok masyarakat miskin dari dampak krisis. Dalam jangka menengah dan jangka panjang, perhatian seyogyanya diarahkan kepada pencapian pendidikan dasar yang menyeluruh dan persiapan untuk desentralisasi.

Menurut Thomas H. Jones dalam bukunya “Introduction to School Finance; Technique and Social Policy”(1985:250), mengungkapkan tentang prinsip-prinsip atau model pembiayaan pendidikan yang diberlakukan oleh pemerintah, yaitu :

  1. Flat Grant, model ini mendistribusikan dana-dana negara bagian tanpa mempertimbangkan jumlah uang yang berhasil dikumpulkan oleh pajak lokal atau pembagian sama rata.
  2. Full State Funding, model ini pembiayaan ditanggung sepenuhnya oleh negara yaitu menghapus semua perbedaan lokal, baik dalam pembelanjaan maupun dalam perolehan pajak.
  3. The Foundation Plan, model inio ditekankan pada patokan tarif pajak property minimum dan tingkat pembelanjaan minimum untuk setiap distrik sekolah lokal di negara bagian.
  4. Guaranteed Tax Base, model ini merupakan matching plan, dimana negara membayar presentase tertentu dari total biaya pendidikan yang diinginkan oleh setiap distrik sekolah.
  5. Percentage Equalizing, model ini merupakan bentuk dari Guaranteed Tax Base, dimana negara menjamin untuk memadukan tingkat-tingkat pembelanjaan tahun pertama di distrik lokal dengan penerimaan dari suymber-sumber negara dan match berada pada suatu rasio variabel.
  6. Power Equalizing, model ini memerintahkan distrik-distrik yang sangat kaya untuk membayarkan sebagian pajak sekolah yang mereka pungut ke kantong pemerintah negara bagian.

 

Mengukur Manfaat Biaya Pendidikan (Cost Benefit Analysis)

Manfaat biaya pendidikan oleh para ahli pendidikan sering disebut dengan Cost Benefit Analysis, yaitu rasio antara keuntungan financial sebagai hasil pendidikan (biasanya diukur dengan penghasilan) dengan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan. (Nanang F., 2000:38). Sedangkan Mark Blaug dalam Economics of education (1976:121) mengatakan bahwa : Cost benefit analysis as a technique for evaluating public investment projects that compete actually or potentially with similar projects in the private sector: that is, the market mechandism generates prices for the activity in question which can be used to translate the benefits of the public project into term directly comparable to its costs”.

Coombs dan Hallak (1972:255) dalam bukunya yang berjudul Managing Educational Cost, menyebutkan bahwa :“Cost benefit as the relationship between the inputs and resulting benefit that accrue thereafter. It use to measure of external productivity”.

Psacharopoulos, (1987:397), dalam bukunya Economics of Education, menyebutkan hal senada dengan Mark Blaug, yaitu :“Cost benefit analysisis to compare the opportunity cost of a project with the expected benefit, measured in the terms of the additions to income that will accrue in the future as a result of the investment”.

Dalam mengukur manfaat biaya pendidikan berdasar kepada konsep biaya pendidikan sifatnya lebih kompleks dari keuntungan, karena komponen-komponen biaya terdiri dari lembaga jenis dan sifatnya. Biaya pendidikan bukan hanya berbentuk uang atau rupiah, tetapi juga dalam bentuk biaya kesempatan. Biaya kesempatan (income forgone) yaitu potensi pendapatan bagi seorang siswa selama ia mengikuti pelajaran atau menyelesaikan studi. Dengan demikian, biaya keseluruhan (C) selama di tingkat persekolahan terdiri dari biaya langsung (L) dan biaya tidak langsung (K). Dalam rumusannya digambarkan sebagai berikut :

C = L + K

Biaya pendidikan merupakan dasar empiris untuk memberikan gambaran karakteristik keuangan sekolah (Nanang Fattah,2000:25). Analisis efisiensi keuangan sekolah dalam pemanfaatansumber-sumber keuangan sekolah dan hasil sekolah dapat dilakukan dengan cara menganalisis biaya satuan per siswa. Biaya satuan per siswa adalah biaya rata-rata per siswa yang dihitung dari total pengeluaran sekolah dibagi seluruh siswa yang ada di sekolah dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan untuk menghitung biaya per siswa, menurut Howard R. bowen (1981:12), menyatakan bahwa “The cost per student unit results from three societal decisions that reflect the combined influence of the many persons and public authorities who control the flow of funds to higher education. These theree decisionspertain to : the total amount to be spent on higher education, the number of units of service to be provided, and the level of quality”.

Dalam menentukan biaya satuan, menurut Nanang Fattah (2000:26) terdapat dua pendekatan, yaitu pendekatan makro dan pendekatan mikro. Pendekatan makro mendasarkan perhitungan pada keseluruhan jumlah pengeluaran pendidikan yang diterima dari berbagai sumber dana kemudian dibagi jumlah murid. Pendekatan mikro mendasarkan perhitungan biaya berdasarkan alokasi pengeluaran per komponen pendidikan yang digunakan oleh murid atau menganalisis biaya pendidikan berdasarkan pengeluaran total (total cost) dan jumlah biaya satuan (unit cost) menurut jenis dan tingkat pendidikannya. Dalam pendekatan makro, terdapat karakteristik pendidikan yang mempengaruhi biaya, yaitu :

  1. Skala gaji guru dan jam terbang mengajar
  2. Penataran dan latihan pra jabatan
  3. Pengelompokan siswa di sekolah dan di dalam kelas
  4. Sistem evaluasi
  5. Supervisi pendidikan

Dalam pendekatan mikro, perhitungan satuan biaya pendidikan dapat menggunakan formula sebagai berikut :

 

 

Dengan mengetahui besarnya biaya satuan per siswa menurut jenjang dan jenis pendidikan berguna untuk menilai berbagai alternatif kebijakan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.Dalam mengukur manfaat pendidikan, Nanang Fattah (2000 :28), mengemukakan bahwa keuntungan pendidikan tidak selalu dapat diukur dengan standar nilai ekonomi dan uang. Hal ini disebabkan manfaat pendidikan, di samping memiliki nilai ekonomi, juga memiliki nilai sosial.

Dalam pengukuran dampak pendidikan terhadap keuntungan ekonomi atau pendapatan seseorang dari produktivitas yang dimilikinya, memerlukan asumsi-asumsi. Asumsi bahwa produktivitas seseorang dianggap merupakan fungsi dari keahlian dan keterampilan yang diperoleh dari pendidikan.Sedangkan Elchanan C (1979:30), menjelaskan bahwa : “According to the dualist (or segmentists), the connection between education and income, is not related to worker productivity per se, but rahter to some key characteristics that distinguish workers who are admitted to the primary labor market from those who are not so fortunate. In the screening hypothesis, education and income are related, albeit not because of changes in productivity but rahter due to the use by employers of educational credentials as a selection device”.

Ukuran hasil pendidikan kita gabungkan dengan data biaya pendidikan dapat menjadi ukuran efisiensi eksternal. Ada empat kategori yang dapat dijadikan indikator dalam menentukan tingkat keberhasilan pendidikan yaitu :

  1. Dapat tidaknya seorang lulusan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.
  2. Dapat tidaknya seseorang memperoleh pekerjaan
  3. Besarnya penghasilan/gaji yang diterima
  4. Sikap perilaku dalam konteks sosial, budaya dan politik.

Menurut Elchanan C (1979:37), dalam mengukur manfaat dari pendidikan terdiri dari 3 (tiga) pendekatan, yaitu : 1) The simple corelation aproach, 2) The residual approach, and 3). The returns to education approach.

 

F. Efisiensi Pendidikan (Cost Effectiveness Analysis)

Istilah efisiensi pendidikan menggambarkan hubungan antara input (masukan) dan output (keluaran) dari suatu pelaksanaan proses pendidikan.

Coombs dan Hallak (1972:255), berpendapat bahwa “cost effectivenessas the relationship between the inputs and corresponding immediate educational outputs of any educational process. It is to measure of internal efisiensi”. Sedangkan Mark Blaug, (1976:121) berpendapat bahwa cost effectivenessis the appropriate evaluation technique in such all cases”.

Efisiensi pendidikan menurut Nanang Fattah (2000 :35) artinya memiliki kaitan antara pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang terbatas sehingga mencapai optimalisasi yang tinggi. Dalam biaya pendidikan, efesiensi hanya akan ditentukan oleh ketepatan di dalam mendayagunakan anggaran pendidikan dengan memberikan prioritas pada faktor-faktor input pendidikan yang dapat memacu pencapaian prestasi belajar siswa. Untuk mengetahui efesiensi biaya pendidikan biasanya digunakan metode analisis keefektifan biaya (cost effectiveness Analysis) yang memperhitungkan besarnya kontribusi setiap masukan pendidikan terhadap efektivitas pencapaian tujuan pendidikan atau prestasi belajar.Upaya efisiensi dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Kedua konsep tersebut satu sama lain erat kaitannya.

Efisiensi internal dapat dinilai melalui suatu sistem pendidikan yang menghasilkan output yang diharapkan dengan biaya minimum. Dapat pula dinyatakan bahwa dengan input yang tertentu dapat memaksimalkan output yang diharapkan. Output acapkali diukur dengan indikator-indikator seperti angka kohort, yaitu proporsi siswa yang dapat bertahan sampai akhir putaran pendidikan, pengetahuan keilmuan, keterampilan, ketaatan kepada norma-norma perilaku social. Karena dengan alasan inilah persoalan-persoalan mutu pendidikan biasanya dibahas dengan memperhatikan efisiensi internal dari system pendidikan.Untuk menilai efisiensi internal dapat dilakukan dengan cara membandingkan antara seleksi di dalam putaran-putaran pendidikan dan seleksi diantara putaran pendidikan. Tingginya angka retensi di dalam putaran-putaran pendidikan merupakan indikator yang diperlukan untuk mengetahui efisiensi internal.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengukur efisiensi internal adalah sebagai berikut :

1. Rata-rata lama belajar (Average study time)

Metode ini digunakan untuk mengetahui berapa lama seorang lulusan menggunakan waktu belajarnya dengan cara menggunakan statistik kohort (kelompok belajar). Cara penghitungannya adalah jumlah waktu yang dihabiskan lulusan dalam suatu kohort dibagi dengan jumlah lulusan dalam kohort tersebut.

Contoh : Jika di suatu SLTP hanya terdapat tiga orang lulusan masing-masing menghabiskan waktu 3, 4 dan 5 tahun, maka lama belajar rata-rata adalah : 4

Artinya : rata-rata waktu belajar seorang lulusan ialah 4 tahun, setahun lebih lama dari waktu ideal belajar untuk tingkat SLTP, maka semakin besar rata-rata waktu belajar, waktu semakin tidak efisien.

2. Rasio Input – Output (Input-Output Ratio (IOR) merupakan perbandingan antara jumlah murid yang lulus dengan murid yang masuk awal dengan memperhatikan waktu yang seharusnya ditentukan untuk lulus. Artinya, membandingkan antara tingkat masukan dengan tingkat keluaran.Sedangkan Efesiensi eksternal, sering dihubungkan dengan metode cost benefit analysis. Efisiensi eksternal dihubungkan dengan situasi makro yairtu pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan social sebagai dampak dari hasil pendidikan.Pada tingkat makro bahwa individu yang berpendidikan cenderung lebih baik memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dan kesehatan yang baik.Analisis efisiensi eksternal berguna untuk menentukan kebijakan dalam pengalokasian biaya atau distribusi anggaran kepada seluruh sub-sub sektor pendidikan. Efisiensi eksternal juga merupakan pengakuan sosial terhadap lulusan atau hasil pendidikan.

Dalam menganalisis efisiensi eksternal, dalam bidang pendidikan dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu :

  1. Keuntungan perorangan (private rate of return), yaitu perbandingan keuntungan pendidikan kepada individu dengan biaya pendidikan dari individu yang bersangkutan.
  2. Keuntungan masyarakat (social rate of return), yaitu perbandingan keuntungan pendidikan kepada masyarakat dengan biaya pendidikan masyarakat Jadi, efisiensi eksternal pendidikan meliputi tingkat balik ekonomi dan investasi pendidikan pada umumnya, alokasi pembiayaan bagi jenis dan jenjang pendidikan.

Untuk menentukan keputusan apakah suatu program pendidikan yang telah dibiayai itu memberikan tingkat balik dapat dihitung dengan menggunakan formulasi berikut :

 

Net profit merupakan keuntungan bersih dari suatu kegiatan usaha yang diproleh dari pendapatan kotor setelah dikurangi pajak dan biaya-biaya operasional. Sedangkan total asset merupakan biaya investasi keseluruhan yang dikorbankan untuk membiayai suatu kegiatan. Apabila ROI rata-rata sepanjang masa kegiatan atau proyek diperoleh lebih rendah dari tingkat balik yang dibutuhkan berarti investasi tersebut tidak layak;Sebaliknya jika rata-rata nilai proyek lebih tinggi dari tingkat balik yang dibutuhkan berarti investasi tersebut layak. Sedangkan Internal Rate of Return (IRR) dapat dihitung dengan :

 

IRR = NetProfit + Depresiasi

 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa efisiensi internal dan efisiensi eksternal mempunyai kaitan yang sangat erat. Kedua aspek tersebut saling melengkapi satu sama lain dalam menentukan efisiensi system pendidikan secara keseluruhan (Cohn, 1979; Mingat Tan, 1988, dalam Nanang Fattah, 2000:40).Secara konseptual efisiensi pendidikan meliputi cost-efectiveness dan cost benefit. Cost effectiveness dikaitkan dengan perbandingan biaya input pendidikan dan efektivitasnya dalam mendukung hasil- hasil belajar.

Efisiensi internal atau cost effectiveness sangat bergantung pada dua faktor utama yaitu :

1. Faktor institusional

2. Faktor manajerial

Dalam analisanya dapat juga digunakan metode RoR (Rate of Return) atau tingkat kembali, dimana membandingkan keuntungan moneter dengan biaya pelaksanaan program, yang mencakup perhitungan perkiraan biaya-biaya.

Rumusannya adalah :

 

 

Pedoman yang perlu diperhatikan setelahmelakukan perhitungan tersebut adalah :

  1. Jika RoR-nya lebih besar dari investasi, maka proyek tersebut layak dilaksanakan.
  2. Jika RoR-nya lebih kecil dari investasi, maka sebaiknya proyek tersebut jangan dilaksanakan
  3. Jika RoR-nya = 0, maka proyek tersebut tidak untung dan tidak rugi (Break Event Point).

Sedangkan cost benefit dikaitkan dengan analisis keuntungan atas investasi pendidikan dari pembentukan kemampuan, sikap, keterampilan. Terdapat dua hal penting dalam hal investasi tersebut, yaitu :

  1. Investasi hendaknya menghasilkan kemampuan yang memiliki nilai ekonomi di luar intrinsiknya.
  2. Nilai guna dari kemampuan Karena keuntungan tersebut bukan dalam bentuk uang, maka diperlukan penyesuaian cara-cara dalam memperhitungkannya, yaitu dengan cara menentukan nilainya berdasarkan atas biaya perbandingan pengeluaran untuk barang-barang yang tidak dapat dipasarkan.

Hal ini dapat dinyatakan secara simbolis, sebagaimana formula Zymelman (1975) sebagai berikut :

 

 
 

Bt = Bp + BnP

 

Bt : jumlah keuntungan

BnP : Ct –Bp

Bp : Keuntungan bukan moneter

Ct : Jumlah biaya

 

 

 

 

 

 

 

Atau dapat dihitung dengan NPV (Net Present Value), yaitu rasio nilai yang akan datang/sekarang terhadap tingkat keuntungan. Persamaan yang dipakai adalah sebagai berikut :

 

 Keterangan :

TR : Total Revenue

TC : Total Cost

FV : Future Value (rasio nilai yang akan datang)

R   : Tingkat Keuntungan

T   : Waktu (tahun) dalam periode tertentu Kriteria-Kriteria aturan keputusan untuk investasi.

Upaya-upaya dalam meningkatkan efisiensi pembiayaan pendidikan perlu diarahkan pada hal-hal pokok berikut ini :

  1. Pemerataan kesempatan memasuki sekolah (equality of access).
  2. Pemerataan untuk bertahan di sekolah (equality of survival)
  3. Pemerataan kesempatan untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar (equality of output)
  4. Pemerataan kesempatan menikmati manfaat pendidikan dalam kehidupan masyarakat (equality of outcome)

Konsep peningkatan efisiensi pembiayaan pendidikan akan mempunyai makna jika dihubungkan dengan konsep efisiensi, baik secara internal maupun secara eksternal.

 Bentuk Biaya Pendidikan Lainnya

Dengan mengkuantitaskan produksi pendidikan, jumlah hasil ujian dapat dihitung dengan menghitung secara sederhana jumlah anak didik yang mencapai suatu standar pendidikan dan juga dapat mempertimbangkan kapasitas produksi dalam pengertian jumlah guru, jumlah kelas, jumlah kehadiran, dan jumlah peserta didik. Dengan demikian dapat dihitung biaya per lulusan, biaya menurut tingkatan pendidikan yang dicapai, biaya unit per anak didik, biaya rata-rata kehadiran sehari-hari, biaya modal per kelas, dan biaya rata-rata per kelas.

  1. Biaya per Lulusan, yaitu, perbandingan antara keseluruhan biaya untuk sekelompok peserta didik dengan jumlah yang lulus.Pekerjaan ini tidak mudah, karenanya orang lebih menyederhanakan dengan memperkirakan jumlah rata-rata mereka yang lulus selama jangka waktu tertentu dengan membandingkan jumlah biaya pendidikan yang dihitung dari biaya rata-rata peserta didik.
  2. Rata-rata biaya kehadiran sehari-hari yaitu dihitung dengan Recurrent Cost (biaya berulang) dibagi dengan jumlah peserta didik yang hadir setiap hari (yaitu rata-rata setiap hari).
  3. Biaya Modal per Tempat Untuk keperluan proyeksi dalam menganggarkan biaya modal maka perlu dihitung biaya modal per tempat, yaitu dengan menghitung jumlah biaya pendirian dan perlengkapan permulaan dibagi dengan jumlah tempat yang tersedia.
  4. Biaya Rata-rata per Kelas Yaitu dengan menghitung rasio antara biaya keseluruhan dengan jumlah kelas yang ada.
  5. Recurrent Cost per rata-rata pendidik Pengajar memiliki kedudukan yang penting dalam proses belajar mengajar. Hampir 65% atau 70% dari recurrent cost digunakan untuk gaji guru. Karena itu, dengan menghitung biaya berulang per rata-rata pendidik, dapat dikaitkan dengan tingkat pelayanan.

Kesimpulan

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa  pendidikan merupakan investasi pada sumber daya manusia. Ekonomi pendidikan merupakan suatu kegiatan mengenai bagiamana manusia dan masyarakat memilih, dengan atau tanpa uang, untuk memanfaatkan sumber daya produktif yang langka untuk menciptakan berbagai jenis pelatihan, pengembangan pengetahuan, keterampilan, pikiran, watak, dan lain-lain, terutama melalui sekolah formal dalam suatu jangka waktu dan mendistribusikannya, sekarang dan kelak, di kalangan masyarakat. Intinya, ekonomi pendidikan berkaitan dengan Proses pelaksanaan pendidikan, distribusi pendidikan di kalangan individu dan kelompok yang memerlukan serta biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat atau individu untuk kegiatan pendidikan, dan jenis kegiatan apa yang dibutuhkan.

Ekonomi pendidikan diperlukan karena proses pendidikan melibatkan penggunaan sejumlah sumber daya yang langka dan jawabannya harus dipandang dari sudut analisa ekonomi meskipun secara ekonomi pendidikan merupakan lembaga non profit.

Biaya pendidikan dikategorikan sebagai biaya langsung dan biaya tidak langsung. Sedangkan manfaat biaya pendidikan diukur dengan cost benefit analysis. Sedangkan efisiensi biaya pendidikan diukur dengan ROI, IRR, ROR, dan NPV.

 

 

Samuelso, Paul A., Economics, 11th Edition, McGraw-Hill Book Co., New York,

Pendidikan dan Kemiskinan


Kemiskinan merupakan masalah global, sering dihubungkan dengan kebutuhan, kesulitan dan kekurangan di berbagai keadaan hidup. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Istilah “negara berkembang” biasanya digunakan untuk merujuk kepada negara-negara yang “miskin”.
Kemiskinan merupakan hal yang kompleks. Kemiskinan berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia. Kemiskinan muncul karena sumber daya manusia yang tidak berkualitas, begitu pula sebaliknya. Membangun pengertian kemiskinan bukanlah perkara yang mudah karena kemiskinan mencakup berbagai macam dimensi.

Dimensi kemiskinan dapat diidentifikasi menurut ekonomi, sosial, politik. Kemiskinan secara ekonomi dapat diartikan sebagai kekurangan sumber daya yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan. Kemiskinan ini dapat diukur secara langsung dengan menetapkan persediaan sumber daya yang tersedia dan membandingkannya dengan ukuran baku. Kemiskinan sosial dapat diartikan sebagai kekurangan jaringan sosial dan struktur sosial yang mendukung untuk mendapatkan kesempatan agar produktivitas seseorang meningkat. Kemiskinan sosial dibedakan berdasarkan faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi. Sedangkan kemiskinan politik menekankan pada akses terhadap kekuasaan. Kekuasaan yang dimaksud mencakup tatanan sistem sosial yang dapat menentukan alokasi sumber daya untuk kepentingan sekelompok orang atau tatanan sistem sosial yang menentukan alokasi penggunaan sumber daya.

Terdapat beberapa teori yang telah dielaborasi berkaitan dengan kemiskinan. Secara ringkas, teori-teori tersebut dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu dan teori yang mengarah pada struktur sosial.
Teori yang memfokuskan pada tingkah laku individu merupakan teori tentang pilihan, harapan, sikap, motivasi dan human capital. Secara keseluruhan, teori ini tersajikan dalam teori ekonomi neoklasik, yang berasumsi bahwa manusia bebas mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dengan tersedianya pilihan-pilihan. Teori perilaku, singkatnya, meyakini bahwa sikap individu yang tidak produktif telah melahirkan lahirnya kemiskinan.

Teori kedua adalah teori strukturalis yang diwakili oleh teori kelompok marxis. Yaitu bahwa hambatan-hambatan struktural yang sistemik telah menciptakan ketidaksamaan dalam kesempatan, dan berkelanjutannya penindasan terhadap kelompok miskin oleh kelompok kapitalis. Teori struktural melihat bahwa kondisi miskinlah yang mengakibatkan perilaku tertentu pada setiap individu, yaitu, munculnya sikap individu yang tidak produktif merupakan akibat dari adaptasi dengan keadaan miskin.

Selain dua teori di atas, terdapat pula teori yang tidak memihak. Teori yang paling terkenal adalah teori mengenai budaya miskin. Teori ini mengatakan bahwa gambaran budaya kelompok kelas bawah, khususnya pada orientasi untuk masa sekarang dan tidak adanya penundaan atas kepuasan, mengekalkan kemiskinan di kalangan mereka dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pendidikan dan Kemiskinan

Pada umumnya, permasalahan mengenai pendidikan dan kemiskinan di negara berkembang hampir serupa. Umumnya, negara-negara ini menghadapi dilema; apakah pertumbuhan ekonomi yang lebih dahulu dipacu ataukah pendidikan yang lebih baik. Persoalan ini sukar dijawab, sehingga ia lebih merupakan sebuah lingkaran setan (vicious circle)
Keterkaitan kemiskinan dengan pendidikan sangat besar karena pendidikan memberikan kemampuan untuk berkembang lewat penguasaan ilmu dan keterampilan. Pendidikan juga menanamkan kesadaran akan pentingnya martabat manusia. Mendidik dan memberikan pengetahuan berarti menggapai masa depan. Hal tersebut seharusnya menjadi semangat untuk terus melakukan upaya mencerdaskan bangsa. Tidak terkecuali, keadilan dalam memperoleh pendidikan harus diperjuangkan dan seharusnya pemerintah berada di garda terdepan untuk mewujudkannya. Penduduk miskin dalam konteks pendidikan sosial mempunyai kaitan terhadap upaya pemberdayaan, partisipasi, demokratisasi, dan kepercayaan diri, maupun kemandirian. Pendidikan nonformal perlu mendapatkan prioritas utama dalam mengatasi kebodohan, keterbelakangan, dan ketertinggalan sosial ekonominya. Pendidikan informal dalam rangka pendidikan sosial dengan sasaran orang miskin selaku kepala keluarga (individu) dan anggota masyarakat tidak lepas dari konsep learning society adult education experience yang berupa pendidikan luar sekolah, kursus keterampilan, penyuluhan, pendidikan dan latihan, penataran atau bimbingan, dan latihan indonesia hari ini masih merupakan akibat dari sisa-sisa penjajahan. Dalam rangka melanggengkan kekuasaan, pemerintah kolonial Belanda tidak memberikan porsi kepada rakyat jelata Indonesia untuk memperoleh akses pendidikan yang memadai. Pendidikan hanya ditujukan kepada rakyat Indonesia yang mampu menunjukkan loyalitas kepada Belanda. Kenyataan seperti inilah yang kemudian menciptakan feodalisme baru pasca feodalisme pemerintah kolonial. Struktur masyarakat yang ada hanyalah struktur yang didominasi oleh golongan borjuasi birokrasi. Struktur feodal borjuis ini kemudian melembaga. Anak-anak kaum borjuis menjadi borjuis di kemudian hari, sementara anak-anak miskin tetap bergelut dalam kejelataan.

Sesuai dengan UUD 1945, rakyat Indonesia tidak lagi terstruktur dalam kelas yang didasarkan pada sistem feodal atau borjuasi (setidaknya dalam teori/termaktub dalam undang-undang, walaupun pada kenyataannya tidak demikian). Sistem pendidikan nasional yang dirumuskan pemerintah masih cenderung menciptakan ketimpangan struktur masyarakat seperti yang terlihat dalam praktek pendidikan masyarakat kolonial. Maka jangan heran kalau kemudian muncul kritikan terhadap model pendidikan. Ivan Illich misalnya, melucuti kemapanan sekolah yang menurutnya hanya mempertajam ketimpangan masyarakat. Pada saat ini memang sangat disadari bahwa sebagian besar porsi pendidikan – terutama pendidikan bermutu – hanya dapat diakses oleh kalangan the have. Dalam kenyataan yang demikian maka kecil harapan bagi rakyat miskin untuk dapat mengakses pendidikan, apalagi pendidikan bermutu. Mereka akan tetap bergulat dalam kemelaratan.

Kemiskinan yang dihadapi, membuat mereka akan terbelenggu dalam kebudayaan kemelaratan (culture of poverty), Paulo Freire dengan tegas menyatakan bahwa pada akhirnya penduduk yang miskin terjebak dalam kebudayaan bisu (culture of silence). Kebudayaan bisu ini membentuk pandangan hidup si miskin baik dalam memandang tata nilai, sikap mental dan tingkah laku yang pasrah, karena mereka sendiri sudah tidak peduli lagi terhadap kemiskinan yang mereka alami. Keadaan ini membuat rakyat miskin seakan-akan orang bisu yang tidak mempunyai apa-apa.

Di bidang pendidikan, salah satu masalah kunci adalah tingginya angka putus sekolah di masyarakat miskin pada saat mereka melanjutkan pendidikan dari SD ke SMP. Yang menjadi masalah utama adalah kurangnya akses masyarakat miskin untuk melanjutkan dari SMP ataupun SMK, baik bersifat fisik maupun finansial. Akses finansial terbatas akibat tingginya biaya menciptakan halangan bagi pendidikan masyarakat miskin pada tingkat pendidikan menengah pertama.

Investasi di bidang pendidikan harus dilakukan dengan fokus pada perbaikan akses dan keterjangkauan sekolah menengah serta pelatihan ketrampilan bagi masyarakat miskin, sambil terus meningkatkan mutu dan efisiensi sekolah dasar. Investasi dibidang ini janganlah meniru model perbankkan ketika pra krisis1998, hari ini kita menyaksikan berbagai sekolah baru tumbuh yang tentu saja harus diiringi dengan semangat membangun karakter bangsa menjadi lebih maju tidak semata-mata menjadikan sekolah sebagai ajang bisnis/komersil karena jika ini terjadi, kita hanya menunggu waktu sekolah-sekolah di negeri ini collaps satu-persatu.

 

analisa jabatan


Analisis jabatan menurut Dale Yoder (1981:210) diartikan sebagai prosedur melalui fakta-fakta yang berhubungan dengan setiap jabatan yang diperoleh dan dicatat secara sistematis. Biasa disebut studi jabatan yang mempengaruhi tugas-tugas, proses-proses, tanggungjawab dan kebutuhan kepegawaian yang diselidiki. Analisis jabatan harus dibedakan dengan analisis kerja yang menitik beratkan pada karakteristik pegawai, penggunaan ujian fisik, tes-tes, wawancara dan prosedur lainnya untuk tujuan tersebut.Tahap-tahap dasar.

ada lima tahap dasar analisis jabatan yang dikemukakan oleh Anderew J. Dubrin (1982:29) yaitu :

  • Tahap 1. pengumpulan latar belakang informasi.
  • Tahap 2. Pemilihan kedudukan yang refresentatif
  • Tahap 3. pengumpulan data analisis jabatan
  • Tahap 4. pengembangan deskripsi jabatan
  • Tahap 5. Pengembangan spesifikasi jabatanTujuan analisis jabatan
  • menentukan kuantifkasi yang diperlukan pemegang jabatan.
  • melengkapi bimbingan dalam seleksi dan penarikan pegawai
  • mengevaluasi kebutuhan pegawai untuk pemindahan atau promosi jabatan.
  • menetapkan kebutuhan untuk program pelatihan.
  • menentukan tingkat upah, gaji, dan pemeliharaan administrasi upah dan gaji.
  • mempertimbangkan keadilan dari jasa yang kurang puas terhadap pernyataan yang diberikan.
  • menetapkan tanggungjawab, pertanggungjawaban dan autoritas.
  • menetapkan tuntutan yang esensial dalam penetapan standar produksi
  • melengkapi clues untuk peningkatan metode dan penyederhaan kerja.

TEKNIK ANALISIS DATA


Analisis Data
Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setalah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokan data berdasarkan varibael dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan, untuk penelitian yang tidak merumuskan hipotesis, langkah terakhir tidak dilakukan. 
teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik. ada dua macam statistik yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian yaitu statistik deskriptif dan staistik inferensial. statistik inferensial meliputi statistik parametris dan staistik non-parametris 

A. Keterkaitan antara masalah, tujuan dan hipotesis, serta metode analisis data

Latar belakang masalah yang baik mengandung 3 hal:

  1. Penelaah/pembahasan mengenai literatur maupun hasil penelitian lain yang relevan dengan masalah yang ingin diteliti.
  2. Penjelasan mengapa peneliti menganggap nidh/topik tersebut penting untuk dipelajari/diteliti.
  3. Manfaat hasil penelitian bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan aplikasinya dalam praktik.
Perumusan tujuan penelitian dimaksudkan untuk membantu peneliti dalam memfokuskan jenis data dan atau informasi yang harus dikumpulkan. Formulasi tujuan penelitian dapat berupa pernyataan ataupun hipotesis.
Hipotesis adalah suatu pernyataan sementara mengenai ada tidaknya hubungan antara dua / lebih variabel/ fenomena yang diteliti. Apabila tujuan peneliti dirumuskan dalam bentuk hipotesis, perlu diperhatikan bahwa hipotesis tersebut harus:
  1. Menggambarkan hubungan atau perbedaan yang diharapkan antara variabel yang diteliti.
  2. Dapat diuji secara statistik
  3. Memberikan alasan / rasionalisasi yang didasarkan pada suatu teori/ hasil-hasil penelitian relevan sebelumnya.
  4. Dirumuskan sesingkat mungkin dan jelas
Masalah penelitian Tujuan Penelitian Hipotesis
  1. Apakah ada pengaruh pemberian pelayanan konseling pada siswa terhadap perilaku siswa di sekolah
  2. Apakah ada perbedaan antara prestasi belajar siswa SMU yang mengikuti bimbingan tes dengan yang tidak mengikuti bimbingan tes 1. Untuk melihat pengaruh pemberian pelayanan konseling pada siswa terhadap perilaku siswa di sekolah
  3. Untuk meneliti ada tidaknya perbedaan prestasi belajar antara siswa SMU yang mengikuti bimbingan tes yang tidak 1. Pemberian pelayanan konseling kepada siswa berpengaruh positif terhadap perilaku siswa disekolah
  4. Keikutsertaan siswa SMU bimbingan tes meningkatkan prestasi belajar siswa yang bersangkutan
Hipotesis yang menyatakan tidak adanya hubungan atau tidak adanya perbedaan antara variabel yang diteliti disebut Hipotesis Null (Ho).  Hipotesis yang menyatakan adanya hubungan dan perbedaan antara variabel yang diteliti atau kebalikan dari pernyataan dalam Hipotesis Null disebut Hipotesis Alternatif (Hi)
Contoh :
Hipotesis Null (Ho)
  • Pemberian pelayanan konseling kepada siswa tidak mempengaruhi perilaku siswa di Sekolah. Hipotesis Alternatif (Hi)
  • Pemberian pelayanan konseling kepada siswa berpengaruh positif terhadap perilaku siswa di Sekolah.
Apabila tujuan penelitian dan atau hipotesis telah dirumuskan, maka langkah selanjutnya adalah menentukan cara pengukuran variabel yang akan diteliti dan metode analisis datanya.

Tujuan / hipotesis, pengukuran variabel, dan alat analisis

Tujuan / Hipotesis Metode / Alat Analisis Pengukuran Alat
Untuk melihat ada tidaknya hubungan antara tingkat sosial ekonomi ortu dengan tingkat disiplin anak dari sekolah

1. Korelasi pearson antara variabel tingkat sosial ekonomi ortu anak dengan variabel tingkat disiplin anak
1. Tingkat sosial ekonomi : tingkat pendapatan bulanan orang tua siswa
2. Tingkat disiplin anak : frekuensi anak tidak membuat PR yang diberikan guru dalam satu catur wulan
2. Analisis Ki kuadrat (chi-square) antara variabel tingkat sosial ekonomi ortu anak dengan variabel tingkat disiplin anak
1. Tingkat sosial ekonomi : jumlah ortu anak dalam setiap kategori tingkat pendapatan
2. Tingkat disiplin : jumlah anak dalam setiap kategori tingkat disiplin

Skala Pengukuran dan Jenis Data

Teknik statistik untuk menganalisis data dapat dibedakan menjadi :
1. Statistik deskriptif (deskriptive statistics)
2. Statistik Inferensial (Inferensial Statistics)

Statistik deskriptif digunakan bila tujuan penelitian adalah untuk menggambarkan atau menjelaskan suatu variabel / fenomena. Statistik inferensial digunakan apabila peneliti ingin membuat suatu kesimpulan atau prediksi tentang persamaan fenomena / variabel sampel dengan populasi.

Ada 4 (Empat) macam skala pengukuran :

  1. Skala Nominal Disebut juga kategorikal nilai-nilai skala nominal menunjukkan nama / identitas yang menerangkan perbedaan nilai itu dari nilai lainnya. Contoh : data tentang jenis kelamin, kewarganegaraan, status pekerjaan dsb.
  2. Skala Ordinal Pengukuran dengan skala ordinal dilakukan jika mempunyai asumsi bahwa nilai-nilai dari suatu variabel yang diukur dapat diurutkan dari yang terkecil hingga yang tertinggi.
  3. Skala Interval Nilai skala interval menunjukkan perbedaan posisi dan jarak suatu nilai dengan nilai lainnya.
  4. Skala Rasio Nilai pada skala rasio menunjukkan perbedaan nilai tersebut dari nilai absolut nol. Contoh : variabel yang diukur dengan skala rasio adalah jarak, waktu, berat, dll.
Data dapat dibedakan menjadi 4 (empat) :
  1. Data kontinu adalah data yang mengandung nilai yang secara teori tidak terbatas.
  2. Data urutan / rank adalah seperti nilai data yang diukur dengan skala ordinal yaitu nilai data menunjukkan posisi seseorang / subjek diantara subjek lainnya dalam variabel yang sama.
  3. Data dikotomi adalah apabila nilai variabel hanya ada dua misalnya data jenis kelamin yang hanya punya nilai laki-laki dan perempuan.
  4. Data kategorikal Merupakan perluasan dari data dikotomi dimana nilai-nilai variabelnya terdapat beberapa kelompok.
Metode Analisis Data Kuantitatif

1. Tahap persiapan kodifikasi dan penyiapan matriks tabulasi data.
Langkah = Pendahuluan yang harus dilakukan peneliti :

  1.  Pembuatan sistem dan daftar kode variabel
  2. Penyiapan / pembuatanmatriks tabulasi data
  3. Pemasukan data dalam matriks tabulasi
Untuk dapat mengolah data yang telah dikumpulkan secara statistik, data tersebut harus diterjemahkan ke dalam kode-kode yang menggambarkan informasi yang dikandungnya Pemberian kode pada setiap variabel harus mempunyai arti. Oleh Penyiapan / pembuatan matriks tabulasi untuk pengolahan data dapat dilakukan secara manual / dengan bantuan komputer. Kertas matriks untuk tabulasi data disebut sebagai komputer data sheet, sedangkan perangkat lunak komputer yang banyak digunakan oleh banyak peneliti. Peneliti sosial adalah statistical packagefor social sentences (SPSS)

2. Teknik Analisis Kuantitatif
Analisis data kuantitatif dapat dilakukan dengan menggunakan menggunakan bantuan statistik, baik yang deskriptif maupun yang imferensial tergantung tujuannya.

  Statistik Deskriptif
Dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :

  1. Analisis Potret Data. Potret data adalah penghitungan frekuensi suatu nilai dalam suatu variabel.
  2. Analisis kecenderungan nilai tengah (central tendeney). Nilai rata-rata (mean) biasa diberi simbol X, merupakan nilai rata-rata secara aritmatika dari semua nilai dalam variabel yang diukur. Median adalah nilai tengah dari sekumpulan nilai suatu variabel yang telah diurutkan dari nilai yang terkecil kepada nilai yang tertinggi atau nilai median adalah nilai yang membagi suatu urutan nilai menjadi dua. Modus (mode) merupakan nilai yang paling sering muncul pada suatu distribusi variabel.
  3. Analisis Variasi Nilai Dilakukan untuk melihat seberapa besar nilai-niali suatu variabel berbeda dari nilai tengahnya. Pengukuran variasi niali biasanya dilakukan dengan melihat kisaran data simpangan baku.
  4. Statistik Inferensial adalah teknik pengolahan data yang memungkinkan peneliti untuk menarik kesimpulan, berdasarkan hasil penelitiannya pada sejumlah sampel terhadap suatu populasi yang lebih besar. Analisis statistik inferensial disebut juga dengan analisis uji hipotesis.
1. Uji t (t-test)
Statistik inferensial untuk melihat benda nilai tengah dua buah distribusi nilai biasanya menggunakan uji t / t-test. Uji-t pada dasarnya adalah suatu pengujian untuk melihat apakah nilai tengah suatu distribusi nilai berbeda secara nyata dari nilai tengah distribusi nilai lainnya.
2. Analisis varian (analisis of variance / anova)
Alat ini dipakai untuk menentukan apakah nilai tengah dari tiga atau lebih distribusi nilai berbeda satu sama lain secara nyata.
3. Analisis korelasi
Alat statistik Simbol Jenis data / variabel
  • Korelasi pearson produk
  • Momen (pearson pruduct moment) R Keduanya data kontinu
  • Korelasi spearman pho P Keduanya data urutan (rank ordered)
  • Biserial r bis Satu variabel data kontinu satu variabel data dikotomi buatan
  • Biserial titik (point, biserial) r bis Satu variabel data kontinu, satu variabel data dikotomi murni
  • Tetrachoric Rt Keduanya variabel / data dikotomi buatan
  • Koefisien Phi
  • Keduanya variabel / data dikotomi murni
  • Koefisien konfingengsi c Kedua variabel mempunyai dua / lebih kategori
  • Korelasi Rasio, Eta
  • Keduanya data kontinu (untuk koreksi non linear)
Beberapa alat analisis satatistik inferensial untuk melihat hubungan tiga atau lebih variabel.
Alat statistik Tujuan penelitian / tujuan analisis  
  • Regresi berganda (multiple regresion) Untuk menggambarkan derajat korelasi antara bebrapa variabel independen dengan satu variabel dependen, dimana baik variabel independen maupun dependen merupakan variabel dengan data kontinu.
     
  • Diskriminan analisis (desertminant analisis) Untuk menggambarkan derajat korelasi antara beberapa variabel independen dengan satu variabel dependen, dimana variabel independennya merupakan variabel dengan data kontin, sedangkan variabel dependen merupakan variabel dikotomi
     
  • Korelasi konovikal (conovical correlation) Untuk menggambarkan derajat korelasi antara beberapa variabel independen dengan beberapa variabel dependen
     
  • Korelasi parsial (partial / part correlation) Untuk menggambarkan derajat korelasi antara dua buah variabel independen setelah pengaruh variabel lainnya dikontrol (secara statistik)
    Analisis faktor (factor analysis) Untuk menentukan apakah suatu set variabel bisa diringkas dan dikategorikan menjadi sejumlah faktor yang lebih kecil (lebih sedikit)
     
  • Ki kuadrat (chi square) Untuk menggambarkan derajat korelasi antara dua atau lebih variabel independen, dimana variabelnya mempunyai data non parametrik
Metode Analisis Data Kuantitatif
Analisis data kuantitatif pada umumnya merupakan suatu proses interatuf yang berkesinambungan yang mencukup kegiatan-kegiatan yaitu :
  1. Analisis temuan yang terus menerus di lapangan
  2. Pengelompokkan dan pengorganisasian data
  3. Evaluasi kualitatif tentang validitas / keterpercayaan data yang terus menerus.
Langkah-langkah yang banyak dilakukan oleh etnografer untuk melakukan analisis awal :
  1. Mengorganisasikan data dengan cara memberi nomor pada semua hal catatan hasil pengamatan hasil wawancara, benda-benda, dan lain-lainnya yang berhasil dikumpulkan.
  2. Membaca secara spintas semua data
  3. Mencari tema besar, pola, dan gagasan-gagasan yang dikandung oleh data.
  4. Membuat catatan yang sistematis mengenai kategori dan keteraturan-keteraturan yang sering muncul pada data.
  5. Membaca literatur mengenai penelitian-penelitian lain tentang masalah yang relevan.
  6. Mengevaluasi dan atau menajamkan fokus penelitian yang sedang dilakukan.

MODUL 1. # Konsep Dasar dan Sejarah Statistik


Statistika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data. Singkatnya, statistika adalah ilmu yang berkenaan dengan data. Istilah ‘statistika’ (bahasa Inggris: statistics) berbeda dengan ‘statistik’ (statistic). Statistika merupakan ilmu yang berkenaan dengan data, sedang statistik adalah data, informasi, atau hasil penerapan algoritma statistika pada suatu data. 

 

Dari kumpulan data, statistika dapat digunakan untuk menyimpulkan atau mendeskripsikan data; ini dinamakan statistika deskriptif. Sebagian besar konsep dasar statistika mengasumsikan teori probabilitas. Beberapa istilah statistika antara lain: populasi, sampel, unit sampel, dan probabilitas.
Statistika banyak diterapkan dalam berbagai disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu alam (misalnya astronomi dan biologi maupun ilmu-ilmu sosial (termasuk sosiologi dan psikologi), maupun di bidang bisnis, ekonomi, dan industri). Statistika juga digunakan dalam pemerintahan untuk berbagai macam tujuan; sensus penduduk merupakan salah satu prosedur yang paling dikenal. Aplikasi statistika lainnya yang sekarang popular adalah prosedur jajak pendapat atau polling (misalnya dilakukan sebelum pemilihan umum), serta jajak cepat (perhitungan cepat hasil pemilu) atau quick count. Di bidang komputasi, statistika dapat pula diterapkan dalam pengenalan pola maupun kecerdasan buatan.
 
Sejarah
Penggunaan istilah statistika berakar dari istilah istilah dalam bahasa latin modern statisticum collegium (“dewan negara”) dan bahasa Italia statista (“negarawan” atau “politikus”).
Gottfried Achenwall (1749) menggunakan Statistik dalam bahasa Jerman untuk pertama kalinya sebagai nama bagi kegiatan analisis data kenegaraan, dengan mengartikannya sebagai “ilmu tentang negara (state)”. Pada awal abad ke-19 telah terjadi pergeseran arti menjadi “ilmu mengenai pengumpulan dan klasifikasi data”. Sir John Sinclair memperkenalkan nama (Statistics) dan pengertian ini ke dalam bahasa Inggris. Jadi, statistika secara prinsip mula-mula hanya mengurus data yang dipakai lembaga-lembaga administratif dan pemerintahan. Pengumpulan data terus berlanjut, khususnya melalui sensus yang dilakukan secara teratur untuk memberi informasi kependudukan yang berubah setiap saat.
Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 statistika mulai banyak menggunakan bidang-bidang dalam matematika, terutama probabilitas. Cabang statistika yang pada saat ini sangat luas digunakan untuk mendukung metode ilmiah, statistika inferensi, dikembangkan pada paruh kedua abad ke-19 dan awal abad ke-20 oleh Ronald Fisher (peletak dasar statistika inferensi), Karl Pearson (metode regresi linear), dan William Sealey Gosset (meneliti problem sampel berukuran kecil). Penggunaan statistika pada masa sekarang dapat dikatakan telah menyentuh semua bidang ilmu pengetahuan, mulai dari astronomi hingga linguistika. Bidang-bidang ekonomi, biologi dan cabang-cabang terapannya, serta psikologi banyak dipengaruhi oleh statistika dalam metodologinya. Akibatnya lahirlah ilmu-ilmu gabungan seperti ekonometrika, biometrika (atau biostatistika), dan psikometrika.
Meskipun ada pihak yang menganggap statistika sebagai cabang dari matematika, tetapi sebagian pihak lainnya menganggap statistika sebagai bidang yang banyak terkait dengan matematika melihat dari sejarah dan aplikasinya. Di Indonesia, kajian statistika sebagian besar masuk dalam fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam, baik di dalam departemen tersendiri maupun tergabung dengan matematika.
 
Konsep Dasar
Dalam mengaplikasikan statistika terhadap permasalahan sains, industri, atau sosial, pertama-tama dimulai dari mempelajari populasi. Makna populasi dalam statistika dapat berarti populasi benda hidup, benda mati, ataupun benda abstrak. Populasi juga dapat berupa pengukuran sebuah proses dalam waktu yang berbeda-beda, yakni dikenal dengan istilah deret waktu.
Melakukan pendataan (pengumpulan data) seluruh populasi dinamakan sensus. Sebuah sensus tentu memerlukan waktu dan biaya yang tinggi. Untuk itu, dalam statistika seringkali dilakukan pengambilan sampel (sampling), yakni sebagian kecil dari populasi, yang dapat mewakili seluruh populasi. Analisis data dari sampel nantinya digunakan untuk menggeneralisasi seluruh populasi.
Jika sampel yang diambil cukup representatif, inferensial (pengambilan keputusan) dan simpulan yang dibuat dari sampel dapat digunakan untuk menggambarkan populasi secara keseluruhan. Metode statistika tentang bagaimana cara mengambil sampel yang tepat dinamakan teknik sampling.
Analisis statistik banyak menggunakan probabilitas sebagai konsep dasarnya. Sedangkan matematika statistika merupakan cabang dari matematika terapan yang menggunakan teori probabilitas dan analisis matematis untuk mendapatkan dasar-dasar teori statistika.
Ada dua macam statistika, yaitu statistika deskriptif dan statistika inferensial. Statistika deskriptif berkenaan dengan deskripsi data, misalnya dari menghitung rata-rata dan varians dari data mentah; mendeksripsikan menggunakan tabel-tabel atau grafik sehingga data mentah lebih mudah “dibaca” dan lebih bermakna. Sedangkan statistika inferensial lebih dari itu, misalnya melakukan pengujian hipotesis, melakukan prediksi observasi masa depan, atau membuat model regresi.
  • Statistika deskriptif berkenaan dengan bagaimana data dapat digambarkan dideskripsikan) atau disimpulkan, baik secara numerik (misalnya menghitung rata-rata dan deviasi standar) atau secara grafis (dalam bentuk tabel atau grafik), untuk mendapatkan gambaran sekilas mengenai data tersebut, sehingga lebih mudah dibaca dan bermakna.
  • Statistika inferensial berkenaan dengan permodelan data dan melakukan pengambilan keputusan berdasarkan analisis data, misalnya melakukan pengujian hipotesis, melakukan estimasi pengamatan masa mendatang (estimasi atau prediksi), membuat permodelan hubungan (korelasi, regresi, ANOVA, deret waktu), dan sebagainya.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 495 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: