Posts from the ‘Strategi manajemen pendidikan’ Category

REPOSITIONING PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH


Oleh : Ahmad Kurnia, SPd,MM

539714_467641196668053_2077416897_nPENDAHULUAN  

1.1.        Latar Belakang

            Tujuan umum pendidikan adalah mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya dalam arti pendidikan yang dilakukan tetap mempertahankan kesatuan, keanekaragaman, mengembangkan cita-cita perorangan.  Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan secara merata dengan keunggulan (excellence) dan penyeimbangan (equity) antara pemanfaatan (acces) dengan prestasi (achievement). Tujuan yang mulia ini akan dapat tercapai apabila dilakukan aktivitas pendidikan yang bertanggung jawab dan terjaminnya kualitas akademik pada desain, manajemen proses pendidikan, bertumpu pada konsep pertumbuhan, pengembangan, pembaharuan, dan kelangsungannya sehingga penyelenggaraan pendidikan harus dikelola secara profesional. Bidang pendidikan yang menjadi tumpuan harapan banyak pihak untuk dapat menghasilkan sumber daya yang berkualitas, kerap terengah-engah karena dihadapkan pada  persoalan serius akibat perkembangan yang terus-menerus dan sangat cepat. Pendidikan mengalami keletihan dan ketidakberdayaan, yang disebut oleh Coombs sebagai krisis pendidikan

Muhammadiyah sejak lama dianggap sebagai pelopor pertama pembaharuan di dunia pendidikan Indonesia setelah pendirinya KH Ahmad Dahlan bersinggungan dengan gerakan wahabi di timur tengah yang ditandai dengan keberhasilan dalam bidang pendidikan dan social yang dibuktikan dengan berdirinya sekolah-sekolah Muhammadiyah dari tingkat Taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi, selain rumah sakit dan panti-panti yang menyebar di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke wilayah Asia tenggara lainnya seperti Malaysia dan Brunei.

            Jelas sebuah prestasi yang luar biasa dalam memperbaharui gerakan Islam yang terkenal dengan gerakan tajdid dan furifikasi pelaksanaan ajaran Islam, menghancurkan tahayul, bid’ah dan khurofat yang sering jadi jargon persyarikatan. Tujuannya sangat mulia yaitu “menegakan dan menjungjung tinggi agama Islam sehingga bisa terwujudnya masyarakat utama yang adil, sejahtera serta mendapatkan ridho Allah SWT”[1].

            Namun kebesaran ini bisa saja membuat tidur dan hal yang biasa terjadi di organisasi semapan Muhammadiyah dan organisasi islam lainnya dengan jumlah umat yang banyak, tapi sebaliknya bisa saja kebesaran ini akan mengakibatkan terjadinya krisis kepercayaan dari pengikutnya yang disusul dengan adanya krisis pemikiran yang justru dari kalangan anak mudanya yang merupakan kader dalam dakwah dan pengelola pendidikan. Dapat kita amati gejala kekurangan kader yang bukan sekedar memahami organisasi dan ideologi persyarikatan tapi memahami Islam yang kafah, bukan kader nyeleneh dan bangga dengan meliberalismekan Islam yang terkadang menusuk kemapanan dan kemurnian pemikiran persyarikatan termasuk ide pluralisme[2] yang bagi orang awam tidak begitu dimengerti bisa masuk pada organisasi Islam sebesar Muhammadiyah.

            Apa mungkin dengan pembaharuan yang kebablasan sehingga sulit membedakan mana yang perlu diberangus karena bisa merusak ideology Muhammadiyah yang sedang dihembuskan oleh pimpinan pusat Muhammadiyah dari wilayah, daerah sampai cabang ranting untuk menahan laju “virus-virus tarbiyah”[3] yang sangat menakutkan, sebuah ketakutan yang luar biasa yang terkadang tidak objektif lagi. Sebuah kemarahan besar dengan banyaknya kader-kader persyarikatan yang masuk dan menjadi kader partai atau banyak anak pemimpin Muhammadiyah yang justru tertarik dengan partai dakwah ini.

Apa sebuah kesalahan mereka bersinggungan dengan rohis-rohis, Lembaga Dakwah Kampus, KAMMI yang sekilas sama dengan HMI. Bukan sebuah kebetulan mereka bersinggungan dengan rohis-rohis, lembaga dakwah kampus yang memang sejalan dengan gejolak anak muda yang cenderung haus dengan nilai-nilai aplikatif dalam berharokah tanpa melupakan ruhiyah mereka.

            Dan gejala sinergis antara berorganisasi dengan ruhiyah sudah mulai luntur sehingga hal yang wajar kalau mereka berbeda partai dengan ayahanda-nya yang tahu hanya dijadikan batu loncatan dan dimanfaatkan oleh partai yang gencar menahan laju gerakan partai anak bawang yang melaju pesat dan puncaknya saat pemilu tahun 2004 dan 2008, sebenarnya sebuah ibroh dan pelajaran berharga di Muhammadiyah, bukan sebaliknya membuat sebuah kebijakan tidak adil dan berlebihan dalam menyikapi gerakan ini.

            Jangan terlanjur dikaitkan dengan kekakuan dan diangap berbahaya. Sebuah sifat jumud dan ashobiyah bukan karakter organisasi semoderat Muhammadiyah. Kalau berintropeksi, Apa sebelumnya Muhammadiyah bisa menahan laju “Sipilis” (sekulerisme, liberalisme, pluralisme) yang mencuci otak kader-kader muda persyarikatan atau masuknya pengaruh aliran sesat seperti Syi’ah atau Ahmadiyah-nya? Atau islam liberal [4]Lahirnya JIMM[5] sebagai nama lain JIL Apa dalih politisasi agama, penguasaan Masjid Muhammadiyah, penguasaan amal usaha Muhammadiyah dan kemudian mengkambing hitamkan sebuah partai Islam yang semua orang mengakui jauh lebih aplikatif bukan sebagai wacana yang sering dihembuskan Muhammadiyah. Gerakan real jauh lebih menarik anak muda yang menginginkan sebauah wujud Islam yang bukan sekedar wacana semata dengan jargon-jargon luntur bahkan malah Muhammadiyah masih belum menembus masyarakat dengan strtaegi dakwahnya yang terkadang masih tradisional dan selalu membuat keputusan abu-abu terhadap cita-cita ummat seperti pemberlakuan syariat Islam yang terkadang dijawabnya dengan sangat tidak memuaskan lagi. Tidak mempolitisasi agama tapi menunggangi Muhammadiyah yang organisasi islam dengan jemaah islam juga. Bahkan banyak kadernya menjadikan sebagai batu loncatan ke politik, lalu siapa sebenarnya yang mempolitisasi agama itu dan bagaimana pluralisme yang banyak merugikan kader Muhammadiyah daripada menguntungkan.Apa dengan dalih kesalahan tidak mampu menyebutkan tujuan Muhamadiyah bisa dikatakan itu sebuah alibi untuk melawan sebuah pemikiran lurus dan saya kira jauh lebih merubah menjadi manusia yang hanif tapi tidak radikal.

            Semua orang mengakui system Muhammadiyah diakui sangat baik berpuluh-puluh tahun dengan ide-ide tajkiyah dari ulama-ulama pendahulu Muhammadiyah yang memikirkan pembelokan pemikiran Islamnya ternyata dapat dilihat aplikasinya dipartai yang dianggap virus jahat tersebut. Bahkan pengkaderan dalam bentuk usroh-usroh dan halaqoh-halaqoh ini sebelumnya ada di Muhammadiyah dan bukan seharusnya kita memperbaharui kalau bisa me-reinveting sistem pengkaderan kita. Anehnya ide-ide tahkiah dari ulama sholeh Muhammadiyah seperti Pak KH. A.R. Fahruddin, KH. A.R. Sutan Mansyur, KH Mas Mansur dan ulama terakhir Muhammadiyah KH Azwar Bashir teraplikasi dalam partai penuh virus ini. Bahkan seharusnya kader persyarikatan kembali ke mesjid dan bersatu dengan kader harokah ini dalam rangka menegakan Islam dan memberantas TBC[6] sebagaimana bersatunya kaum salafiyah dengan persyarikatan ini.

      Jelas bukan berarti Muhammadiyah kekurangan orang cerdas dan intelek, tapi Muhammadiyah kekurang kader yang istiqomah dan komitment terhadap islam, bukan sekedar kader organisasi yang gersang ruhiyah-nya dan gila dengan jabatan pribadi yang justru lebih banyak merugikan Muhammadiyah. Bahkan kalau dikatakan tidak ada sedikitpun perbedaan mendasar antara Muhammadiyah sekarang dengan Nahdatul Ulama (NU). Bahkan NU jauh lebih moderat dan siap menerima perbedaan mendasar sehingga mereka bisa berkembang jauh bukan merasa mapan dengan usianya yang sudah tua dan terkenal dengan amal usahanya.

1.2.    Perumusan Masalah

Untuk memperjelas tujuan dari studi kasus ini, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :

1)      Apa Yang Menghambat Perkembangan Pendidikan Di Perguruan Muhammadiyah Kota Bekasi dilihat dari permasalahan krisis pemikiran dan kaderisasi organisasi?

2)      Bagaimanakah  Repositioning Pendidikan Muhammadiyah Di Perguruan Muhammadiyah Kota Bekasi ?.

1.3.    Tujuan Studi Kasus

Adapun tujuan studi kasus ini adalah untuk mengetahui secara deskriptif permasalahan yang terjadi di perguruan muhammadiyah kota Bekasi dan strategi repositioning dalam frame organisasi muhammadiyah khususnya dalam pendidikan.

1.4.    Waktu Observasi 

Observasi dilakukan pada Majlis Dikdasmen perguruan Muhammadiyah kota Bekasi. Observasi dilakukan sejak bulan 20 September 2012 sampai dengan 16 Desember 2012 .

1.5.    Metode Penelitian

Metode studi kasus ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus observasional. Pengumpulan data dilaksanakan dengan (1) wawancara mendalam  (2) observasi partisipasi (3) studi dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan cara (1) reduksi  data, (2) penyajian data, (3) penarikan kesimpulan

PEMBAHASAN MASALAH 

2.1. Profile Organisasi

Muhammadiyah Bekasi semula bagian dari Pimpinan cabang Jati Negara jakarta yang berdiri tahun 1960 yang membawahi 11 pimpinan cabang selevel kecamatan yang mengelola 7 amal usaha yang salah satunya adalah Majlis Pendidikan Dasar Dan Menengah (Dikdasmen) Muhammadiyah. Majlis ini membawahi amal usaha dalam pendidikan mulai dari SD sampai tingkat SMA/SMK dalam perkembagannya mengalami perkembangan pesat tapi terlihat turun naik bila dibandingkan dengan sekolah swasta di Bekasi Timur yang masih baru.

Padahal dari infrastruktur sangat baik dilahan kurang lebih 3000 m2 dengan bangunan permanen 3 lantai lengkap fasilitas lab dan fasilitas penunjang lainnya dengan pelaksanaan proses belajar mengajar pagi hari untuk tingkat TK sampai SMA/SMK dan sore sampai malam dipergunakan untuk perkuliahan kampus E universitas Muhammadiyah Jakarat (UMJ). Lokasi strategis berada dalam komunitas SMP negeri di kota Bekasi dengan akses ke terminal Bekasi dan keluar dari Tol Bekasi barat ddan dekat dengan pusat pemda Kotamadya Bekasi.

2.2.  Perkembangan Organsasi Pendidikan

Unggul tidaknya suatu institusi pendidikan terletak pada pola organisasinya dan Muhammadiyah menempatkan pendidikan sebagai sebuah amal usahanya yang diunggulkan. Karena pertama kali berdiri muhammadiyah bergerak dalam dunia pendidikan, namun akhir-akhir ini dibeberapa daerah system pendidikan Muhammadiyah sangat stagnan dan berdampak pada pola kadersiasi yang semakin menurun.Yang ditandai dengan semakin stagnannya perkembangan organisasi, melemahnya kaderisasi dan rapuhnya organisasi terhadap masuknya pola pemikiran baru yang bertentangan dengan khittah muhammadiyah yang merasuki kader mudanya dan semakin kentalnya nuansa politik dalam organisasi pendidikan serta berdampak pada perkembangan dunia pendidikan..

Dampak dalam dunia pendidikan, Muhammadiyah salah satu organisasi pelopor dalam pendidikan modern di Indonesia, akan tetapi dalam perjalanannya mengalami stagnasi dan ada kesan merasa puas dengan citranya sebagai organisasi besar dalam pendidikan  dan organisasi sosial dengan beratus-ratus sekolah dan lembaga sosial di seluruh Indonesia. Namun secara realitas masih banyak  juga sekolah Muhammadiyah  yang masih tertinggal jauh dengan sekolah lain dari segi kualitas maupun kuantitasnya, terutama sekolah-sekolah yang berada didaerah yang bukan merupakan basis Muhammadiyah Hal ini disebabkan adanya permasalahan utama yang menyebabkan adanya kecenderungan terhadap pemahaman yang tertanam kuat semacam stigma yang juga tidak disertai dengan adanya peningkatan kualitas. Rekruitmen tenaga pendidikan dan pengelolaan sekolah masih belum maksimal. Ada kecenderungan stagnan dalam perkembangan kuantitas jumlah penerimaan siswa tiap tahun saat sekolah lain terus berkembang muhammadiyah mengalami stagnasi. Termasuk proses pengangkatan calon pimpinan lembaga masih tumpang tindih dengan jabatan struktural organisasi

Stagnasi pendidikan di Muhammadiyah bisa diakibatkan beberapa indikator yang dalam frame simbolik cultural organisasi sampai sekarang terlihat seperti  adanya

1.    Dis-asosiasi organisasi.

Muhmamadiyah selalu dipersepsikan dengan salah seolah  bertabrakan dengan kultur masyarakat  tradisional yang melekat dengan berbagai stigma sosio-ideologis yang  secara positif dianggap sebagai salah satu tantangan dakwah organisasi yang perlu mendapatkan perhatian serius dan secara negative bisa menghambat perkembangan Muhammadiyah dimasa yang akan datang.

2.    Fenomena Aliran Pemikiran.

Adanya fenomena perkembangan tarbiyah yang terlihat sejalan dengan Muhammadiyah dan bisa diterima dikalangan muda persyarikatan atau mengambil istilah Farid setiawan menyebut serangan tarbiyah ini dengan “Virus tarbiyah” (lihat Suara Muhammadiyah, No 5/2006) yang mulai masuk keberbagai segi kehidupan inteletual muda yang diawali dikampus dan disekolah bahkan ke sekolah non-Muhammadiyah sekalipun.  Kesadaran agamis dikalangan intelektual muda kampus diawali sekitar tahun 80-an dibeberapa kampus umum seperti ITB, UGM, UI ini tidak bisa dibendung apalagi fenomena ini bahkan merebak ke berbagai masyarakat. Hal ini jelas menghasilkan stigma baru dalam pengakaderan di persyarikatan yang ternyata manhaj ini justru berkembang pesat pula didaerah urban yang secara  didominasi kaum pendatang yang mungkin kader-kader kita dipersyarikatan.

3.    Dikhotomi  Pendatang Dan Pribumi.

Adanya persinggungan kader pendatang dengan pribumi digambarkan seperti persinggungan kaum Anshor dan muhajirin ketika hijrah rasulullah ke Medinah. Begitu juga adanya dikhotomi pribumi-pendatang bisa mewarnai masuknya budaya persyarikatan sehingga bisa melemahkan sukuisme, promodialisme yang kaku serta menganggap kader pribumi tidak professional dalam pengelolaan organisasi amaliah dan lembaga-lembaga pendidikan dan sikap keras para pendatang yang menganggap kultur yang dibawa daerahnya lebih mencerminkan jati diri kemuhammadiyahan.sesuai dengan kultur persyarikatan yang dia bawa daerahnya masing-masing.

4.    Stigma Sosial di Sekolah Muhammadiyah.

Stigma sosial bisa berarti prasangka social yang secara negative bisa berpengaruh terhadap tertutupnya jalur komunikasi Beberapa stigma social dimasyarakat terhadap  pendidikan di Muhammadiyah antara lain :

a)      Istilah ideology baru atau lebih radikal dianggap sebagai agama baru terasa melekat dimasyarakat,

b)      Lebih terkesan beorientasi sosial dan bengkel ahlak bisa berpengaruh imbas terhadap citra pendidikan Muhammadiyah yang murah dan tidak berkualitas sehingga melupakan fungsi “humanitas” dan “kualitas” dalam pendidikan secara realitas sekolah membutuhkan dana operasional untuk peningkatan kualitas pendidikannya dan oleh anggota persyarikatan dimanfaatkan untuk menitipkan putranya yang bermasalah atau tetangganya yang tidak mampu untuk dimasukan kesekolah Muhammadiyah.

c)      Stigma pengembangan pendidikan di daerah non-Yogya dan sekitarnya belum mendapatkan perhatian sehingga dihembuskan adanya kultur Jawa dan non-Jawa, tapi ditepiskan dengan terpilihnya, ketua umum Muhammadiyah yang berasal dari luar jawa seperti almarhumah Prof. Dr. Hamka dan terakhir terpilihnya Prof. Dr. Din Syamsuddin (2005-2010). Itulah sebuah stigma yang kebenarannya relative tapi perlu mendapat perhatian dan dianggap sebagai jamu yang terasa pahit tapi bisa menyembuhkan keterdiaman dakwah Muhammadiyah sebagai suatu pergerakan Islam (harokatul islamiyah) dalam mensosialisasikan dakwah cultural dan meningkatkan pencitraan Muhammadiyah di daerah-daerah yang potensial berbaurnya berbagai kultur seperti daerah penyangga ibu kota.

2.3.        Proses Kaderisasi Dan Dakwah Muhammadiyah.

Akar permasalahan lain dari semakin melemahnya organisasi adalah proses kaderisasi yang mandeg, terkadang terabaikan setelah keterlibatan kader terbaiknya dalam aktiftas kepartaian mulai tahun 1999-an.

Selain proses dakwah yang terhenti pada amal usaha dan dakwah internal, dulu Muhammadiyah dikenal dengan dai-dainya yang dikirim kedaerah kristenisasi dan suku terbelakang, yang  justru organisasi lainnya tetap konsisten seperti : Dewan dakwah Islam Indonesia (DDII), Hidayatullah, dll, tapi semakin mapannya para dai dalam kancah politik sehingga terkadang bercampur baur dengan politisasi dakwah yang luar biasa pengaruhnya, sehingga ada sebagian kader yang merasakan adanya kekosongan setelah sekian lama terabaikannya program kaderisasi yang menyebabkan mereka beralih pada pemikiran lain yang lebih hebat bertebaranlah mereka di Salafiyin, Hizbul Tahir, Syi’ah, Ahmadiyah dan tentunya organisasi tanpa bentuk seperti Islam liberal dan ada juga yang kadernya bertebaran di partai keadilan sejahtera (PKS).

Sehingga perlu adanya semangat untuk kembali ke khittah Muhammadiyah dan netralitas dalam berpolitik dengan tidak menjerumuskan organisasi Muhammadiyah dalam perpolitikan sebagaimana dicontohkan oleh tokoh Muhammadiyah masa lalu dengan Masyumi-nya.

REFRAMING ORGANISASI DAN PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH

3.1. Definisi Istilah

Bolman & Deal [7] mengartikan reframing sebagai :.”.is mental models, maps, minds-sets, schema and cognitive lense and deliberately mix metaphore, referring to them as windows, map, tool, lense, orientation and presfective’ (Reframing adalah model mental, pemetaan, pola pemikiran, skema dan lensa kognitif yang dijelaksan dalam bingkai pintu, peta, alat, lensa, orientasi dan prespektif).

Organisasi diartikan sebagai a consciously coordinated social entity, with a relatively identifiable boundary that functions on a relatively continuous basis to achive a common goal or set of goals (stphen P. Robbins, 1990:4) Organization are relatively permanent social entities characterized by goal-oriented behavior, specialization and structure (Warren B. brown, 1980:2) Pengorganisasian diartikan sebagai suatu tindakan mengusahakan hubungan kelakukan yang efektif antara orang-orang, hingga mereka dapat bekerjasama secara efisien dan demikian memperoleh kepuasan pribadi dalam hal melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu.(George R.Terry, 2006:233)

3.2. Reframing  Pendidikan.

Dalam hal ini penulis ingin membuka kembali tirai tertutup untuk memetakan kembali pola pemikiran dari mulai bingkai structural, bingkai political, bingkai simbolik dan bingkai etik dan spirit yang terjadi di perguruan muhammadiyah.

a.    Reframing Structural.

Apabila dilihat dari bingkai structural organisasi dengan Asumsi yang mencerminkan kepercayaan pada rasionalitas dan suatu keyakinan bahwa pengaturan yang formal dapat meminimalkan masalah dan memaksimalkan kinerja. Perspektif kaderisasi organisasi di Muhammadiyah harus menekankan pentingnya mengubah manusia (melalui pelatihan pemecatan, rotasi, promosi, atau pemecatan), dalam hal ini perlu menghidupkan kembali program  kaderisasi sebagai ruh organisasi muhammadiyah selain pengembangan struktur pengelolaan amal usaha pendidikan tetapi perspektif struktural juara pola pikir baik-out peran dan hubungan. Properti dirancang, ini pengaturan formal dapat mengakomodasi kedua tujuan-tujuan kolektif dan perbedaan individu.

Kita lihat ada Enam asumsi mendasari kerangka struktural[8]:

1.     Organisasi ada untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dalam hal ini perlu meninjau kembali unutk kembali ke tujuan utama Muhammadiyah sebagaimana yang dianjurkan para pendiri Muhammadiyah dan para ulama muhammadiyah dimasa lalu sesuai dengan visi dan misi yang sebenarnya telah kokoh sebagaimana yang diajurkan oleh para pendiri muhammadiyah.

2.     Organisasi untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja melalui spesialisasi dan pembagian kerja yang jelas.

Profesonalisme kerja tidak berdasarkan pola primodialisme kelompok dan structural Muhammadiyah sehingga untuk pengangkatan struktur organisasi harus berdasarkan keahlian, kualitas pemahaman pemikiran, dan penguasaan basis aqidah dan pola ideology yang kokoh, bukan skedar pemahamn dan lamanya berorganisasi dengan mengabaikan factor sebelumnya. Seperti terjadi pengangkatan kepala sekolah harus sesuai dengan kapasiltas professional dan keahlian serta pemahaman pemikiran Muhammadiyah tanpa mencampurkan dengan adanya kepentingan politik yang selama ini telah merusak tatanan organisasi dengan adanya jabatan rangkap strukutural dalam organisasi, amal usaha dan dalam aktiftas politik.

3.    Bentuk yang sesuai koordinasi dan kontrol memastikan bahwa upaya-upaya yang beragam individu dan unit organisasi.

Hal lain yang dijadikan sorotan juga adanya span of control yang kurang dilakukan terhadap aktiftas organisasi, karena dalam observasi kebanyakan mereka aktif separoh waktu dalam aktiftas dakwah dan berorganisasi, sehingga agak sulit pengontrolan kebijakan dan SOP yang diberlakukan setelah adanya musyawarah dan muktamar Muhammadiyah dengan ebrbagai macam ijtihad dan keputusan kebawah agak sulit dimplementasikan.

4.    Orgnisasi organisasi bekerja dengan baik ketika menang atas rasionalitas preferensi pribadi dan tekanan luar.

Hal lain organisasi akan bekerja saat ada aktiftas seperti persiapan musyada, muktamar, sementara diluar aktiftas organisasi sebatas amal usaha yang dalam hal ini lembaga pendidikan dan social, dan terasakan adanya pengaruh perpoitikan dalam pengembangan organisasi lebih menonjol, karena dalam hal ini banyak kader yang memanfaatkannya untuk kepentingan politik sehingga kaderisasi terabaikan setelah perpolitikan terhenti.

5.     Struktur harus dirancang untuk sesuai dengan keadaan organisasi (termasuk tujuan, teknologi, tenaga kerja, dan lingkungan).

Masalah dan kesenjangan Performace di organisasi penddiikan timbul dari kekurangan struktural dan dapat diperbaiki melalui restrukturisasi kembali semua sturktur organisasi organisasi dengan batasan : profesionalime, tidak rangkap jabatan strukutural, netralitas politik disertai kebebasan dalam berpolitik, kontribusi kader yang dipertegas.

b.      Reframing Cultural.

Sedangkan dalam tinjauan reframing cultural adalah dengan melihat pola budaya di Muhammadiyah. Dari Stigma yang diuraikan dibab II diatas terlihat kalau organisasi Muhammadiyah memperlihatkan betapa Lemahnya kultur organisasi dengan mudahnya perkembangan manhaj lain dan janganlah ditanggapii dengan “jumud” seperti  mengambil pendapat Farid Setiawan diatas dengan istilah “virus tarbiyah” sebagai sebuah fenomena dakwah dan banyaknya kader dakwah kita yang berafiliasi kepartai lain, bisa dikatakan merupakan sebuah muhasabah betapa lemahnya manhaj kita,  sehingga kita tidak bisa menyalahkan manhaj lain, tapi dijadikan sebagai kajian perlu adanya pembenahan dan bisa juga secara legowo dijadikan wacana. Kenapa tidak bisa menerima system tarbiyah yang diibaratkan “virus baik” yang kalau kita kaji kembali pernah dilakukan Rasulullah ketika mengadakan menghalaqoh para sahabatnya dirumah Al-arqom bin Al-Arqom RA.

Dan kemudian istilah ini dijadikan sebagai istilah pengkaderan dipersyarikatan  seperti Baetul Arqom[9].  Insya Allah citra Muhammadiyah sebagai harokatul islam besar di Indonesia tidak akan hilang, bahkan jauh lebih baik untuk membenahi system pengkaderan kita yang lebih menonjolkan organisasinya sementara militansi dan girah keagamaan dirasa belum maksimal. Kehausan inilah yang akhirnya ditemukan para kader muda persyarikatan didunia luar. Sebuah sunatullah dan sebuah keniscayaan sebuah system yang beristiqomah dan berpatokan teguh pada sunnah Rasulullah  (sebagaimana yang diperjuangkan oleh KH. Ahmad Dahlan dengan gerakan furifikasi dan gerakan tajdidnya) ternyata  bisa berkembang dengan pencitraan yang baik dimasyarakat.

Kalau kita amati kegiatan halaqoh, daurah, sebenarnya sudah ada dalam pengakderan kita tapi tidak berjalan sebagaimana mestinya, karena kesibukan para ustad dan tokoh Muhammadiyah di oragnisasi dan politik sehingga kegiatan kajian-kajian seperti kajian tarjih dan pemahaman harokah  di Muhammadiyah serasa masih kurang.  Begitu juga betapa sulitnya mengumpulkan para kader untuk sebauh pengajian dan mereka bisa berkumpul saat kegiatan acara, musyda sehingga pengkaderan seperti taruna melati, Baetul Arqam tidak ada follow up-nya dan belum bisa membentuk fikrah Muhammadiyah. Apalagi fikrah ini  bisa menyusupi sela-sela kehidupan masyarakat yang sudah ada bukan merekrut orang baru untuk di Muhammadiyahkan, tapi masih terpaku pada upaya Memuhammadiyahkan orang Muhammadiyah.

Pencitraan di dunia pendidikan, Betapa sulitnya untuk menjaring siswa berkualitas ke sekolah Muhammadiyah yang dirasakan penulis dengan bangunan yang cukup megah dan dengan fasilitas yang cukup memadai, tapi sekolah Muhammadiyah didaerah penyangga ibu kota seperti Bekasi dirasa sulit. Penults beranggapan,  pencitraan promosi masih bisa dikalahkan dengan pencitraan ideology.  Dugaan sementara penulis adalah pencitraan Muhammadiyah yang kurang, oleh karena dakwah ekternal muhammadiyah juga dirasakan masih belum maksimal  mempengaruhi masyarakat, akan terasa lain pencitraan sekolah Muhammadiyah  seperti di Yogyakarta dan sekitarnya.

Selama ini kita amati,  konsentrasi peningkatan kualitas pendidikan lebih terkonsentrasi dipusat (Yogya, Jawa tengah dan Jawa Timur dan sekitarnya) dan belum merambah daerah-daerah yang komunitas Muhammadiyah yang akan terus berkembang atau sebaliknya stagnan, Sehingga Kenapa perkembangan sekolah Muhammadiyah didaerah Jawa Barat tidak seunggul perkembangan sekolah  di Jawa timur dan sekitarnya dengan kultur Jawa-nya yang melekat? Dapat ditandai belum adanya universitas Muhammadiyah sebaik di Yogyakarta ataupun universitas yang membanggakan warga muhammadiyah di Malang yang ada di daerah Pasundan. Sehingga hal ini juga berpengaruh terhadap perkembangan dakwah Muhammadiyah didaerah ini  terasa lambat, padahal dari segi lokasi jauh posisi Jawa barat lebih dekat ke ibukota dengan fasilitas dan akses yang jauh lebih cepat. Pencitraan lain terasa jauh lebih hebat adalah masuknya pengaruh liberal islam dikalangan intelektual mudanya sehingga terasa hambar citra muhammadiyah sebagai organisasi gerakan islam, dengan opini-opini kontroversialnya yang terkadang bertentangan dengan sikap dan kaidah organisasi. Sungguh ironis mencoba menahan gerakan kegamaan yang ditakuti sebgai virus tarbiyah, tapi sisi lain membiarkan liberalissi, sekulerisme dan pluralisme masuk kedalam pola pikir anak mudanya. Sehingga terjadilah pergeseran pola berfikir orang muhammadiyah.

Inilah salah satu Stigma social-cultural  yang sebenarnya tidak bisa dihindari dan hal ini kembali kepada sikap dari persyarikatan yang menjadikan wacana,  wacana ini belum dihembuskan. Kenyataannya persepsi ini bisa berpengaruh terhadap penerapan dakwah cultural yang sedang kita galakan selama ini  terutama konsentrasi dakwah  daerah pasundan dan daerah penyangga ibu kota yang banyak didominasi kader pendatang yang berhadapan dengan konsentrasi  masyarakat asli. Sehingga tak bisa dihindarkan melahirkan  dikhotomi kader pribumi dengan kader pendatang, sehingga terjadilah class action yang terkadang menggoyahkan profesionalisme dan keutuhan persyarikatan ataupun malah lebih meningkatkan dinamika organisasi terutama dapat dilihat saat pelaksanan Musyawarah daerah.  Ada sebagian menganggap sebagai dinamika berorganisasi, Bahkan persinggungan cultural secara positif  bisa berpengaruh terhadap peningkatan komunikasi dan pembenahan organisasi kelembagaan terutama dalam mengelola persyarikatan.

c.    Reframing Politik Organisasi

Adanya persinggungan kader pendatang dengan pribumi digambarkan seperti persinggungan kaum Anshor dan muhajirin ketika hijrah rasulullah ke Medinah. Begitu juga adanya dikhotomi pribumi-pendatang bisa mewarnai masuknya budaya persyarikatan sehingga bisa melemahkan sukuisme, promodialisme yang kaku serta menganggap kader pribumi tidak professional dalam pengelolaan organisasi amaliah dan lembaga-lembaga pendidikan dan sikap keras para pendatang yang menganggap kultur yang dibawa daerahnya lebih mencerminkan jati diri kemuhammadiyahan.sesuai dengan kultur persyarikatan yang dia bawa daerahnya masing-masing.

d.    Reframing Ethical Dan Simbolik

Berkaitan reframing etika dan simbolik membahas tentang pentingnya reframing ethics dan spritual, yang terdiri dari: Soul dan Spirit di dalam Organisasi, the factory: excellence and authorship, the family: caring and love, the jungle: justice and power, the temple: faith and significance

Etika merupakan satu set prinsip-prinsip moral atau nilai-nilai, prinsip-prinsip yang mengatur perilaku suatu individu atau organisasi. Sedangkan secara psikologik, spirit diartikan sebagai “soul”. Soul (jiwa) adalah sebuah rasa identitas yang mendefinisikan individu atau keyakinan inti organisasi dan nilai-nilai. Agar dapat diaplikasikan dalam organisasi, maka etika harus berada di dalam jiwa setiap anggota organisasi. Organisasi yang memiliki keyakinan inti dan ideologi yang kuat lebih sukses dalam jangka panjang.

Pada konteks sumber daya manusia, cinta merupakan sumber lahirnya kepedulian terhadap etika dan kepemimpinan. Dalam hal ini etika menawarkan kepedulian dan kasih sayang. Secara politis, etika adalah keadilan dengan cara mengalokasikan sumber daya yang cukup diseluruh kelompok yang berbeda. Secara simbolis, etika adalah iman yang berpusat pada keyakinan bersama bahwa pekerjaan adalah panggilan dan menambahkan sesuatu yang bernilai bagi komunitas manusia.

Thomas Peters dan Robert Waterman Jr. menyatakan delapan ciri organisasi yang unggul, yaitu:

1. A Bias for Action. organisasi lebih berkiblat pada aksi, dan tidak hanya berkutat dengan rencana. Prinsip organisasi ini adalah “try it, do it and fix it”. Organisasi yang lebih menghargai tindakan nyata daripada ambisi yang abstrak.

2. Close to the stakehoulder. Organisasi yang memahami dengan baik apa yang diinginkan stakehoulder-nya. ummat adalah “segala-galanya”. Bahkan, untuk keperluan memahami yang diharapkan, mereka tak segan-segan mendirikan dewan pembina, membuka layanan openhouse, melakukan riset-riset SDM, dan sejenisnya. 3. Autonomy and Entrepreneurship. organisasi menghargai sikap anggota yang berani untuk mandiri, memiliki pandangan orisinal, berani mengambil resiko, dan sejenisnya.

4. Productivity through People. organisasi menilai kader merupakan aset terpenting bagi organisasi, melebihi arti penting kekuasaan atau bangunan. kader dianggap sebagai pelaku (aktor) yang dewasa, yang bisa dipercaya dan memiliki kreativitas yang unik. Ada komitmen bahwa organisasi adalah aset terpenting yang terlihat dari anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan pelatihan kader.

5. Hands-on, Value Driven. organisasi tak mengabaikan arti penting dari tujuan-tujuan yang bersifiat jangka panjang, bahkan transedental. kader diyakinkan bahwa mereka tidak hanya bekerja untuk organisasi, tetapi juga untuk mencapai cita-cita yang luhur (superordinate goals). Mereka berusaha memberi makna transedental yang secara rutin dilakukan dalam organisasi.

6. Stick to the Knitting. Organisasi tidak tergesa-gesa dalam melakukan diversivikasi. organisasi belajar dari pengalaman, bahwa banyak organisasi terjebak dalam diversifikasi berlebihan. Organisasi memiliki bisnis inti (core business) yang jelas, dan tidak tergoda masuk ke perubahan pemikiran yang tidak dikuasainya dengan benar.

7. Simple Form, Lean Staff. organisasi memiliki struktur organisasi yang sederhana dengan jumlah staf yang ramping. Mereka menyadari bahwa organisasi besar biasanya kurang cepat atau kurang adaptif menghadapi perubahan di lingkungan sekitar. Dengan kata lain, organisasi besar cenderung memiliki hirarki yang panjang, melakukan formalisasi, dan proses prosedural yang berlebihan. Organisasi yang sederhana dengan sejunlah staf yang ramping dinilai penting untuk menjaga agar perusahaan tetap lincah dan cepat dalam mengambil keputusan.

8. Simultaneous Loose – Tight Properties. Organisasi memiliki kemampuan menjalankan konsep-konsep manajemen yang sepintas terlihat bertentangan. Dalam konteks ini, organisasi mampu menyeimbangkan prinsip sentralisasi dan desentralisasi dengan baik.

3.3. Repositioning  Organisasi 

Reposisi organsiasi dilaksanakan dengan menilai dan mereview seluruh kekuatan dan kelemahan sehingga dapat menentukan mana yang harus diperbaiki dan diperkuat.  Ada beberapa usaha strategis bagi pengembangan pendidikan yang bisa dikembangkan untuk menjawan permasalahan yang diuraikan diatas antaralain diungkapkan oleh Muhajir Efendi dalam makalahnya”Implementasi Manajemen Pendidikan TinggiPengalaman Universitas Muhammadiyah Malang”[10]

a.    Menciptakan Citra sosial sekolah Muhammadiyah

Kelemahan lain,  Belum memaksimalkan ciri khas keunggulan  yang bisa dijadikan sebagai bentuk pencitraan sekolah Muhammadiyah dengan mengikuti kultur masyarakat transisi industri  sehingga citra sekolah Muhammadiyah lebih dikenal sebagai sekolah termurah, keuangannya bisa dicicil dan sesuai dengan mitos pencitraan Muhammadiyah sebagai organisasi sosial ditambah citra lain yang tak kalah menariknya mencitrakan sekolah Muhammadiyah sebagai bengkel ahlak sehingga bisa menampung siswa yang bermasalah, terkecuali sekolah unggulan Muhammadiyah didaerah lain.

Dengan pencitraan tersebut, Sangat wajar sekali kalau masih banyak para tokoh Muhammadiyah yang tidak mau menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah Muhammadiyah dengan alasan tersebut.

Ada Fenomena yang baik sekaligus mengkhawatirkan banyak putra Muhammadiyah yang sukses mengelola sebuah lembaga pendidikan sendiri tanpa mau berafiliasi dengan persyarikatan sehingga bisa eksis meningkatkan kualitas yang melebihi sekolah Muhammadiyah yang sudah ada, selain itu sangat memprihatinkan masih ada sebagian kader persyarikatan yang tidak mau mendirikan sekolah dengan mengatas namakan persyarikatan karena anggapannya akan sulit menerima siswa yang multicultural dan masih banyak yang tidak  memahami Muhammadiyah. Sebagai organisasi dan ideology yang berbeda di masyarakat. Anehnya mereka tidak mau memakai label Muhammadiyah tapi masih memakai system pendidikan Muhammadiyah baik dalam kurikulum maupun dalam system pembinaan

·         Menciptakan Trust dan Confidence Untuk Stakeholder

Salah satu yang tidak bisa dipungkiri adalah menciptkan rasa kepercayaan masyrakat terhadap pendidikan Muhammadiyah, tentu saja bukan sekedar pemahaman ideologis saja, tetapi juga bisa menyangkut masalah kualitas dan berdasarkan survey penulis sendiri yang pernah menjadi kepala sekolah berdasarkan peneusuran kerja lulusan SMK muhammadiyah bekasi 80% terserap didunia kerja dan 20 % banyak yang melanjutkan kuliah baik ke PTS maupun PTN di Jawa barat dan DKI Jakarta[11]. Untuk meningktkan rasa confidensi terhadap sekolah Muhammadiyah kota bekasi adanya sosialisasi dakwah dilingkungan sekolah dan komunitas muhammadiyah secara rutin dan membangun kualitas infrastruktur dan tenaga kependidikan secara berkala sesuai dengan system pendidikan  Muhammadiyah serta membangun pusat-pusat keunggulan di bidang akademik dan eunterpreuner akan membangun brand image di masyarakat kota bekasi tentang keebradaan perguruan Muhammadiyah.

·         Membangun competitive advantage.

            . Strategi USE PDSA  dapat dipergunakan dalam membangun competitive advance centres. Pengembangan bidang ini harus dipandang sebagai suatu perbaikan terus menerus (continues improvement), sehingga tugas utama pimpinan muhammadiyah khususnya para pimpinan lembaga yaitu melakukan perbaikan proses yang terjadi secara terus menerus dengan membuat keputusan yang efektif untuk menyelesaikan masalah-masalah bisnis yang ada berkaitan dengan ini bisa menggunakan pembuatan keputusan USE PDSA, yaitu;

U = Understand improvement needs

S = State the problem

E = Evaluate the root Cause (s)

P = Plan the solution

D = Do or implement the solution

·         Membangun Culture organisasi

Perguruan tinggi sebagai organisasi pendidikan memiliki kepentingan terhadap pelestarian budaya, nilai, pemandirian kaidah Muhammadiyah terutama dalam kebijakan pendidikannya. Oleh karena itu perguruan Muhammadiyah bekasi dituntut untuk mengikuti perkembangan jaman (fashionable). Pendidikan menyangkut dimensi sistem, paradigma dan kultur. Budaya organisasi perlu disesuaikan dengan pergeseran paradigma dunia, yang berorientasi pada customer, kepuasan pelanggan (customer satisfaction), keterbukaan manajemen, dan jaminan kualitas.

Jaminan kualitas pendidikan (quality assurance) merupakan titik temu antara harapan para pemakai layanan (client) dan pemberi layanan pendidikan (provider). Kualitas pendidikan merupakan hal yang selalu di diskusikan para ahli pendidikan. Untuk masyarakat yang berbeda, mungkin definisi kualitas pendidikan akan berbeda, demikian pula dengan indikator yang digunakan untuk mengukur kualitas pendidikan. Quality Assurance sebagai alat ukur kualitas telah diimplementasikan dalam pendidikan di beberapa negara yang telah maju sebagai sebagai bentuk akuntabilitas

untuk standar profesional di bidang pendidikan. Quality Assurance yang terencana dengan baik dan tersistematis akan dapat digunakan untuk merefleksi diri, memonitor kinerja pendidikan, memberikan gambaran komprehensif kefektifan proses pendidikan dan kinerja universitas, sustainable improvement universitas, serta dapat digunakan untuk memberikan jaminan atau kepercayaan suatu produk atau jasa pendidikan dikatakan berkualitas. 

Standard Australia (Cuttance, 1995) Quality Assurance (QA) di definisikan sebagai semua tindakan yang terencana dan sistematis untuk memberikan kepercayaan/jaminan bahwa suatu produk atau jasa memenuhi syarat untuk dikatakan berkualitas.

Dari sisi efektivitas kinerja, Ellis J (2001) mendefinisikan QA sebagai aktivitas yang dilakukan untuk menilai keefektifan proses penyedia layanan, membangun gambaran yang komprehensif mengenai kinerja dan pembaharuan informasi melalui siklus tahunan. Disamping itu CDQA (the Chief Directorate for Quality Assurance) pada tahun 2001 mendefinisikan Quality Assurance sebagai kegiatan monitoring dan evaluasi kinerja dari berbagai macam level sistem pendidikan untuk mencapai tujuan sistem tersebut.

Menurut Harman dan Meek (2000) QA adalah manajemen yang sistematis dan prosedur penilaian yang diadopsi oleh insitusi atau sistem untuk memonitor kinerja dan meyakinkan pencapaian ouput yang berkualitas atau peningkatan kualitas. QA adalah suatu proses yang bertujuan menyatukan semua stakeholder dalam mencapai satu tujuan yaitu peningkatan kualitas pendidikan.  Aktivitas ini memberikan penghargaan pada pelaksanaan kegiatan program yang baik, bukan menghakimi pelaksanaan kegiatan yang kurang baik. QA dimaksudkan untuk meyakinkan stakehorlders bahwa institusi memberikan layanan yang bisa diterima (Dahlgren, P. dkk, 2001).

Dengan adanya penjaminan mutu di bidang akademik, karyawan, layanan, keuangan, dan kesesuaian antara produk akademik yang dihasilkan oleh lembaga stakeholder, akan menumbuhkembangkan rasa saling percaya dan membangun image Muhammadiyah yang baik di masyarakat. Apabila masyarakat merasa puas, maka akan terjalin keterikatan secara emosional dan secara bertahap akan mengembangkan loyalitas pada pendidikan Muhamadiyah secara keseluruhan.

·      Membangun Kerjasama Dengan Institusi Lain.

              Membangun jalinan kerjasama dengan institusi lain merupakan hal yang tidak dapat di hindari. Karena pesatnya perkembangan teknologi informasi dalam era globalisasi ini, maka dunia akan terasa menjadi lebih kecil karena jarak sudah tidak lagi menjadi hambatan dalam berkomunikasi. Dengan komunikasi keterbatasan geofrafis seakan menghilang dan menjadi satu kesatuan masyarakat global. Pergguruan muhammadiyah kota bekasi menjalin hubungan dengan institusi pendidikan Muhammadiyah di Jakarta, yogyakarta yang sudah maju dalam pengelolaan dan sistem pembelajaran serta kuirkulumnya selain dengan mitra perushaan terutama dikawasan industri Cikarang dan sekitarnya terutama untuk permagnagan, penyerapan tenaga kerja serta sponsorship setiap acara di perguruan muhammadiyah.

·         Perubahan Paradigma

Dari prespektif institusi pendidikan dipandang sebagai penyedia jasa pendidikan. Sama seperti penyedia layanan jasa lainnya yang merubah kebutuhan pasar dan harapan untuk menciptakan permintaan dan peluang yang muncul. untuk memeriksa dan merespon semua kebutuhan,  harapan dan peluang dari lingkungan lembaga pendidikan ini sangat membutuhkan perencanaan strategi, yang meliputi menciptakan misi dan pernyataan visi, merumuskan prinsip-prinsip inti dari kegiatan.

Tantangan terpenting dari sudut pandang diatas adalah adanya integrasi dari setiap kegiatan pengkajian, perencanaan dan perbaikan. Dengan adanya Integrasi tersebut memungkinkan institusi untuk mengidentifikasi kekuatan organisasi dan kebutuhannya, membantu menentukan prioritas, mendorong segera dan terus menerus untuk mengadakan dialog antar pimpinan daerah Muhammadiyah kota Bekasi, staf dan administrasi dan stakehoulder lainnya dalam menentukan  bagaimana mendorong pengembangan lembaga dan bagaimana untuk mencapai Pendidikan yang mampu menginformasikan dan mengisnergikan pemahaman publik, memupuk rasa percaya masyarakat, dan memberikan kontribusi untuk kesejahteraan bangsa.

3.4.        Menciptakan Organisasi Pembelajar

Kesuksesan organisasi pada saat ini sangat tergantung pada kemampuan organisasi tersebut untuk belajar dan merespon perubahan-perubahan yang terjadi dengan cepat. Manajer organisasi yang sukses adalah orang yang mampu secara efektif menggunakan kebijaksanaan, mengelola organisasi dengan berbasis ilmu pengetahuan, dan melakukan perubahan-perubahan yang diperlukan. Disinilah letak pentingnya organisasi pembelajar. Organisasi pembelajar adalah pengembangan kapasitas organisasi untuk terus belajar, beradaptasi dan berubah.

Sugeng Prabowo (2010) berpendapat bahwa secara konseptual organisasi dapat dibedakan menjadi organisasi tradional dan organisasi pemebalajar. Ada sepuluh factor yang membedakan antara konsep organisasi tradisional dengan konsep organisasi pembelajar. Adapun perbedaan kedua konsep tersebut sebagai berikut:

Table 3.1. Faktor Pembeda Organisasi

No.

Konsep Organisasi Tradisional

Konsep Organisasi Pembelajar

1

Stabilitas

Perubahan yang tidak berkesudahan

2

Hirarkhis Birokratis

Kepemimpinan dari setiap orang

3

Organisasi yang kaku

Fleksibilitas

4

Pengendalian melalui aturan

Pengendalian melalui visi dan value

5

Informasi yang tertutup

Informasi yang disebarluaskan

6

Menerima hanya pada hal-hal yang pasti

Menerima keraguan

7

Reaktif dan menghindari resiko

Proaktif, dan keberanian menanggung resiko

8

Berfokus ke internal organisasi

Berfokus pada lingkungan kompetitif

9

Keunggulan bertahan

Keunggulan kompetitif yang berubah

10

Bersaing pada pasar yang ada

Bersaing pada pasar masa depan yang kontemporer

Perkembangan organisasi pembelajar dalam pendidikan di Indonesia terus mengalami perkembangan. Hal ini dapat terlihat dari  berbagai hal, mulai dari kebijakan penyelenggaraan dari pemerintah, sampai dengan perubahan sebagai hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan sebagai akibat kebijakan pemerintah misalnya, perubahan dari sistem sentralisasi menjadi sistem desentralisasi sehingga muncul model Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Perubahan pola pengelolaan, sehingga muncul Komite Sekolah, Dewan Pendidikan, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, dan lain-lain.

Perubahan yang berkaitan dengan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi misalnya perubahan dalam proses pembelajaran, sehingga menghasilkan teori pembelajaran quantum (quantum teaching/ learning), pembelajaran aktif (active learning), pembelajaran kontekstual (contextual teaching learning). Perubahan dalam manajemen misalnya Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management), penggunaan alat analisis Balance Scorecard, dan lain-lain.

Kondisi perubahan yang cepat dan faktor persaingan yang tinggi mendorong pentingnya organisasi pembelajar (learning organization). Organisasi Pembelajar menurut Pedler, Boydell dan Burgoyne (1988) adalah organisasi yang memfasilitasi pembelajaran dari seluruh anggotanya dan secara terus menerus untuk dapat mentransformasi diri. Menurut Dale (2003) organisasi pembelajar adalah organisasi yang; 1) mempunyai suasana dimana anggota-anggotanya secara individu terdorong untuk belajar dan mengembangkan potensi penuh mereka, 2) memperluas budaya belajar ini sampai pada pelanggan, pemasok dan stakeholder lain yang signifikan, 3) menjadikan strategi pengembangan sumber daya manusia sebagai pusat kebijakan bisnis, dan 4) berada dalam proses transformasi organisasi secara terus menerus.

Lembaga pendidikan harus mampu mendorong melahirkan kondisi prasyarat yang oleh Peter Senge (1990) disebut sebagai lima hal inti dalam pembentukan organisasi pembelajar. Kondisi prasyarat tersebut harus dirancang dan dilaksanakan secara sistematis oleh lembaga pendidikan yaitu: (1)Keahlian Pribadi (Personal Mastery), (2) Model Mental (Mental Model), (3)Visi Bersama (Shared Vision), (4)Pembelajaran Tim (Team Learning), dan (5)Pemikiran Sistem (System Thinking).

Personal Mastery adalah suatu budaya dan norma organisasi yang diterapkan sebagai cara bagi semua individu dalam organisasi untuk bertindak dan melihat dirinya. Penguasaan pribadi ini mestinya harus sangat dikuasai oleh orang-orang yang bekerja di lembaga pendidikan.

Mental Model adalah suatu aktivitas perenungan yang dilakukan dengan terus menerus mengklarifikasikan dan memperbaiki gambaran-gambaran internal kita tentang dunia, dan melihat bagaimana hal itu membentuk tindakan dan keputusan kita. Model mental terkait dengan bagaimana seseorang berpikir dengan mendalam tentang mengapa dan bagaimana dia melakukan tindakan atau aktivitas dalam berorganisasi.

Shared Vision adalah suatu gambaran umum dari organisasi dan tindakan organisasi yang mengikat orang-orang secara bersama-sama dari keseluruhan identifikasi dan perasaan yang dituju. Dengan visi bersama, organisasi dapat membangun komitmen yang tinggi dalam organisasi. Selain itu organisasi dapat pula menciptakan gambaran-gambaran atau mimpi-mimpi bersama tentang masa depan yang ingin dicapai, serta prinsip-prinsip dan praktek-praktek penuntun yang akan digunakan dalam mencapai masa depan tersebut.

Team Learning adalah suatu keahlian percakapan dan keahlian berpikir kolektif dalam organisasi. Kemampuan organisasi untuk membuat individu-individu cakap dalam percakapan dan cakap dalam berfikir kolektif tersebut akan dapat meningkatkan kecerdasan dan kemampuan organisasi. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa kecerdasan organisasi jauh lebih besar dari jumlah kecerdasan-kecerdasan individunya.

Systems Thinking adalah suatu cara dalam menganalisis dan berpikir tentang suatu kesatuan dari keseluruhan prinsip-prinsip organisasi pembelajar. Tanpa kemampuan menganalisis dan mengintegrasikan disiplin-disiplin organisasi pembelajar, tidak mungkin dapat menerjemahkan disiplin-displin itu kedalam tindakan organisasi yang lebih luas.

3.5.    Penyelarasan organisasi (organization alignment)

Tujuan yang diharapkan dari  alignment adalah terjadinya efek sinergi dimana penggabungan dari komponen yang ada akan menghasilkan hal yang jauh lebih besar daripada penjumlahan masing-masing individu.

Aligment harus diperlakukan sebagai sesuatu yang istimewa, antara lain top manajer harus menjadi orang yang paling bertanggung jawab untuk menjamin terlaksananya penyelarasan dalam organisasi.

Value alignment atau keselarasan nilai antara organisasi/perusahaan Muhammadiyah dan SDM sangat dibutuhkan. Jadi value alignment harus dijadikan sebagai prasyarat yang didahulukan  sebelum melihat capability alignment atau keselarasan kemampuan. Value alignment dapat menghasilkan the right person at the right place.

Proses untuk menciptakan keselarasan strategis (strategic alignment) pada suatu organisasi dimulai dari tataran tim eksekutif, berikutnya adalah membentuk sinergi strategi dan kinerja melalui apa yang disebut dengan proses penyelarasan vertikal (vertical alignment) dan penyelarasan mendatar (horizontal alignment).

Kesuksesan organisasi pada saat ini sangat tergantung pada kemampuan organisasi untuk belajar dan merespon perubahan-perubahan yang terjadi dengan cepat. Disinilah letak pentingnya organisasi pembelajar. Organisasi pembelajar adalah pengembangan kapasitas organisasi untuk terus belajar, beradaptasi dan berubah yang ditandai oleh: 1) suasana dimana anggota-anggotanya secara individu terdorong untuk belajar dan mengembangkan potensi penuh mereka, 2) memperluas budaya belajar sampai pada pelanggan, pemasok dan stakeholder lain, 3) menjadikan strategi pengembangan sumber daya manusia sebagai pusat kebijakan bisnis, dan 4) berada dalam proses transformasi organisasi secara terus menerus.

KESIMPULAN

a)    Inti dari kelemahan diatas adalah perlu peningktan profesionalisme organisasi kelembagaan antara lain Ketidak profesionalan amaliyah lembaga di Muhammadiyah adalah imbas dari pengelolaan organisasi yang tidak total dijadikan para kader sebagai aktifitas organsiasi  sebagai sandingan kegiatan dakwah dan tarbiyah di Muhamamdiyah. Bahkan revitalsasi secara teori sangat ideal sekali bagi pertumbuhan organisasi tapi dilapangan ternyata tidak bisa menyentuh cabang dan ranting, ada kesan bingung bagaimana mengaplikasikan revitalisasi tersebut. Sehingga kegiatan  dakwah dan penataan kegiatan organisasi di Muhammadiyah tidak bisa hanya dijadikan kegiatan paroh waktu  atau  sekedar prestise tanpa amal nyata atau sebagai pengisi masa pensiunan atau sebagai jenjang karier politik untuk mencari loncatan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Sebenarnya motif apapun di Muhammadiyah sah-sah saja, asalkan masih bisa memberikan kontribusi positif bagi persyarikatan dan melakukan dengan prosedur yang syar’I dan tidak lupa dengan untuk menghidupkan kembali dakwah muhammadiyah dan riak-riak kecil dari kader-kader muda kita selama masih ada control  insya Allah kekhawatiran itu tidak akan terjadi.

b)    Tujuan yang diharapkan dari  alignment adalah terjadinya efek sinergi dimana penggabungan dari komponen yang ada akan menghasilkan hal yang jauh lebih besar daripada penjumlahan masing-masing individu. Aligment harus diperlakukan sebagai sesuatu yang istimewa, antara lain top manajer harus menjadi orang yang paling bertanggung jawab untuk menjamin terlaksananya penyelarasan dalam organisasi.Value alignment atau keselarasan nilai antara organisasi/perusahaan dan kandidat karyawan sangat dibutuhkan. Jadi value alignment harus dijadikan sebagai prasyarat yang didahulukan  sebelum melihat capability alignment atau keselarasan kemampuan. Value alignment dapat menghasilkan the right person at the right place. Proses untuk menciptakan keselarasan strategis (strategic alignment) pada suatu organisasi dimulai dari tataran tim eksekutif, berikutnya adalah membentuk sinergi strategi dan kinerja melalui apa yang disebut dengan proses penyelarasan vertikal (vertical alignment) dan penyelarasan mendatar (horizontal alignment).

c)    Kesuksesan organisasi pada saat ini sangat tergantung pada kemampuan organisasi untuk belajar dan merespon perubahan-perubahan yang terjadi dengan cepat. Disinilah letak pentingnya organisasi pembelajar. Organisasi pembelajar adalah pengembangan kapasitas organisasi untuk terus belajar, beradaptasi dan berubah yang ditandai oleh: 1) suasana dimana anggota-anggotanya secara individu terdorong untuk belajar dan mengembangkan potensi penuh mereka, 2) memperluas budaya belajar sampai pada pelanggan, pemasok dan stakeholder lain, 3) menjadikan strategi pengembangan sumber daya manusia sebagai pusat kebijakan bisnis, dan 4) berada dalam proses transformasi organisasi secara terus menerus.

DAFTAR PUSTAKA

Bolman G. Lee & trence E. Deal (2003). Reframing Organization,john wiley & Son, San fransisco.

Kaplan, Robert S & Norton David T, (2006) Alignment, Harvard Business scholl Publishing, Boston.

Jaiz, Hartono, (2007) Aliran dan Paham sesat di Indonesia, Alakautsar, Jakarta, 2008.

Buku Panduan Organisasi Muhammadiyah, Tim penyusun,2005. PD Muhammadiyah Bekasi

AD/ART Muhammadiyah, PP Muhammadiyah, Yogyakarta, 2007

Brandt, Ronald. (1993). What do you mean professional. Educational Leadership. Nomor 6 50, March.

Canella & Reiff .(1994). Individual constructivist teacher education: Teachers as empowered learners. Teacher Education Quarterly, 21(3), 27-28.

Carolin Rekar Munro. (2005). “Best Practices” in teaching and learning : Challenging current paradigms and redefining their role in education. The College Quarterly. 8 (3), 1 – 7.

Colin Marsh. (1996). Handbook for beginning teachers. Sydney : Addison Wesley Longman Australia Pry Limited.


[1] Lihat AD/ART Muhammadiyah, terbitan PP Muhammadiyah tahun 2010.

[2] Paham yang berpendapat bahwa;

[3] Istilah yang dilontarkan oleh masuknya anasir pemikiran dari luar dari organisasi yang berbasis partai dan tarbiyah.

[4] Peristilahan yang berasal dari pendapat kurzmam yang dikembangkan  nurcholis majid, dkk yang memandang semua agama sebagai jalan sejajar (hartono ahmad jaiz,”tasawuf, pluralism dan pemurtadan, al-kautsar, jakarta, 2001, hal. 116-117.

[5] JIMM sebuah singkatan dari jaringan islam muda muhammadiyah

[6] Peristilahan diMuhamamdiyah tentang penyakit masyarakat Islam yaitu Tahayul, bid’ah dan churofat yang disingkat TBC.

[7] Bolman, G. Lee, Deal Terrence E, Reframing Organization, jossey bass,san faransisco,( 2003:12-13)

[8] Reframing organisasi, hal.

[9] Metdoe kaderisasi Muhammadiyah sebagai bentuk pemahaman organisasi dan ideology Muhammadiyah secara konsisten dilakukan sejak dahulu oleh para pendidri Muhammadiyah.

[10] Makalah disampaikan pada acara Seminar dan Lokakarya Nasional “Manajemen Perguruan Tinggi Masa Depan Untuk Meningkatkan Daya Saing bangsa” pada tanggal 21 -23 Agustus 2007 di Balikpapan

**)  Rektor Universitas Muhammadiyah Malang

[11] Data statistic penelusran lulusan SMK Muhammadiyah 01 Bekasi tahun 2010 :6

# Dosen PTS Bekasi dan kandidat doktor UNJ.

 

ESENSI PENGENDALIAN EKSPERIMEN DALAM ILMU PENDIDIKAN


A. Pendahuluan

Ciri umum pengembangan ilmu pengetahuan adalah dilakukannya penelitian-penelitian ilmiah bagi cabang ilmu pengetahuan yang ada. Makin banyak penelitian dilakukan bagi suatu cabang ilmu maka makin kokoh keberadaan cabang ilmu tersebut di lingkungan keilmuan, dan makin profesional pula kemungkinan penerapan cabang ilmu tersebut.

Ilmu pendidikan, sebagai bagian dari ilmu-ilmu sosial, merupakan cabang ilmu yang relatif muda dan masih harus terus menerus memperjuangkan eksistensinya agar benar-benar berterima serta tidak inferior terhadap cabang-cabang ilmu pengetahuan yang lain, khususnya terhadap ilmu-ilmu alam (natural sciences). Dalam melaksanakan berbagai penelitian ilmiah dalam bidang pendidikan, sebagian ahli pendidikan tentu saja akan sampai pula pada pengamatan hubungan antar fenomena yang bercorak hubungan sebab-akibat (causal relationship). Untuk menjelaskan hubungan kausalitas antar variabel ini jenis penelitian yang perlu banyak dilakukan dan yang mempunyai daya penjelasan terbaik atau terkuat adalah jenis eksperimen.

Untuk melaksanakan dan mendapatkan hasil penelitian jenis eksperimen yang sebaik-baiknya, peneliti atau calon peneliti pendidikan harus benar-benar memahami dahulu ciri-ciri serta persyaratan pelaksanaan penelitian eksperimen itu sendiri. Hal ini perlu demikian adanya agar para peneliti tidak terjebak dalam pengambilan kesimpulan yang salah (bias) atas hasil-hasil penelitiannya. Penelitian jenis eksperimen mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri sehingga kemungkinan keterpakaiannya dalam suatu cabang ilmu berbeda-beda antara satu dengan yang lain, tergantung pada karakteristik dari cabang-cabang ilmu yang hendak menggunakannya.

Makalah ini mencoba mengangkat sebagian isu penting penelitian jenis eksperimen dalam rangka berandil guna bagi kejelasan dan pemantapan pengembangan penelitian-penelitian pendidikan yang sedang atau akan dilakukan para peneliti pendidikan, khususnya dari kalangan sivitas akademika IKIP dan sejenisnya.

B. Logika Dasar Eksperimentasi

Eksperimentasi dimulai dengan mengembangkan hipotesis hubungan sebab-akibat antara variabel terikat dan variabel bebasnya. Selanjutnya dilakukan berturut-turut: pengukuran nilai (kualitas) variabel terikatnya (pretest), mengenakan perlakuan (kondisi pengubah nilai) terhadap variabel bebasnya, dan mengukur kembali nilai variabel terikatnya (posttest) untuk melihat ada tidaknya perubahan nilai (kualitas). Masalah pokok dalam melaksanakan eksperimen adalah menjaga kondisi eksperimen sedemikian sehingga tidak ada faktor lain yang sempat menyertai jalannya eksperimen yang dapat mengacaukan atau mengaburkan pengukuran hasil penelitian (posttest).

Di sisi lain, suatu eksperimen adalah suatu kegiatan empirik yang ciri hakikinya justru terikat pada ruang dan waktu. Selama berada dalam kondisi ruang dan waktu eksperimen, khususnya yang terkait dengan ruang yang luas dan waktu yang lama, kemungkinan bagi proses eksperimen untuk tidak terganggu dari faktor yang tidak diinginkan sungguh merupakan hal yang sulit terjadi kalau tidak dapat dikatakan mustahil. Seni melaksanakan eksperimen terletak pada usaha dan kemampuan peneliti untuk melindungi jalannya eksperimen dari segala gangguan dari luar yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen.

Bobot perlindungan eksperimen dari gangguan luar ini disebut keterlindungan atau closure. Kualitas eksperimen, dan pada gilirannya juga keterpakaian atau kegunaan hasil eksperimen, akan sangat ditentukan oleh bobot atau kekokohan keterlindungannya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pengembangan dan perkembangan berbagai ragam rancangan eksperimen pada hakikatnya adalah aktualisasi dari penguatan keterlindungan ragam rancangan eksperimen termaksud.

C. Penerapan Eksperimen dalam Ilmu-ilmu Alam dan Ilmu-ilmu Sosial

Dalam eksperimen pada ilmu-ilmu alam peneliti secara relatif mempunyai kemampuan melindungi variabel (closure) yang tinggi dengan cara membuat lingkungan buatan sehingga menutup kemungkinan pengaruh dari luar. Di sini dikatakan bahwa peneliti memiliki closure yang sempurna. Di sisi lain, karena ilmu-ilmu sosial terkait dengan subjek yang berujud manusia, pengendalian-pengendalian tersebut akan terikat dengan aspek-aspek etis, moral, dan pertimbangan-pertimbangan hukum. Selain itu, peneliti juga tidak dapat mengubah unsur-unsur pribadi subjeknya, misalnya, seks, umur, status ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan.

Jadi, tampak bahwa eksperimen memang merupakan metode yang dapat dan tepat serta umum dipakai untuk mengumpulkan data dalam ilmu-ilmu alam, namun, dengan alasan seperti tersebut di atas, jenis eksperimen memang kurang luas dan cukup sulit serta rumit untuk dapat digunakan dalam ilmu-ilmu sosial. Walaupun demikian, untuk dapat melaksanakan eksperimen, peneliti ilmu-ilmu sosial dapat menggunakan sejumlah kendali yang bercorak simbolik, yaitu tidak dengan mengubah nilai-nilai dari subjeknya, melainkan mempertahankan nilai-nilai itu tetap selama eksperimen dilaksanakan, misalnya, peneliti memang tidak dapat mengubah kelamin subjeknya, tetapi peneliti dapat menganalisis secara terpisah untuk seks yang berbeda.

Dalam sebagian besar eksperimen bidang ilmu-ilmu sosial, khususnya bidang pendidikan, pengendalian penuh kondisi eksperimen umumnya tidak dapat dilaksanakan. Dengan subjek berupa manusia, secara teoritik, akan ada beribu-ribu faktor yang mungkin mengotori suatu eksperimen. Hakikat cara untuk mengurangi pengotoran tersebut adalah membuat eksperimen termaksud sesingkat mungkin (pengendalian aspek waktu) dan dilakukan dalam ruang (tempat) yang terbatas dan terlindung (laboratorium). Bila penyingkatan waktu dan penggunaan laboratorium ini tidak dimungkinkan, maka peneliti harus puas atau sadar untuk menerima kenyataan bahwa hasil eksperimen yang diukurnya (posttest) pasti telah terkotori oleh faktor-faktor lain yang tidak diperhitungkan dalam eksperimen termaksud. Langkah selanjutnya yang perlu diambil adalah bahwa peneliti harus berusaha mengukur semua pengaruh-pengaruh dari luar tersebut, dan kemudian mengeluarkannya dari nilai perbedaan antara posttest dan pretest yang didapatnya, sehingga sisa dari pengeluaran itu dapat dianggap (syah) sebagai hasil perlakukan eksperimen yang dimaksudkan. Bagaimana caranya?

Secara umum, cara yang dapat dilakukan untuk menghindari salah ukur dan salah tafsir terhadap hasil eksperimen adalah menggunakan dua kelompok amatan, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok pembanding. Terhadap dua kelompok ini harus dapat dikenai dua asumsi pokok, yaitu, pertama bahwa subjek pada kedua kelompok mempunyai karakteristik yang sama. Kedua, baik pretest maupun faktor-faktor lain yang mempengaruhi subjek pada kedua kelompok mempunyai bobot yang sama pula.

D. Validitas Dalam pada Rancangan Eksperimen

Sekarang telah banyak tersedia rancangan-rancangan eksperimen tertentu yang sengaja dikembangkan untuk meniadakan pengaruh-pengaruh tertentu yang disesuaikan dengan tujuan penelitian eksperimen yang tertentu pula. Rancangan-rancangan khusus tersebut, yaitu rancangan yang mengandung usaha-usaha untuk meyakinkan adanya kebenaran (ketepatan dan kecermatan) hasil eksperimen, adalah hasil aktualisasi usaha untuk meningkatkan validitas dalam (internal validity) dari rancangan-rancangan eksperimen yang bersangkutan.

Untuk rancangan eksperimen yang dapat mengembangkan perlindungan penuh terhadap jalannya eksperimen atau rancangan eksperimen yang dapat mencapai penjelasan yang cukup akurat terhadap proses pengukuran hasil eksperimennya (melaksanakan berbagai usaha kompensasi terhadap segala atau berbagai pengotoran yang mungkin) atau rancangan eksperimen yang mempunyai validitas dalam yang sempurna disebut rancangan eksperimen murni (True Experimental designs). Untuk rancangan eksperimen yang hanya dapat mengembangkan perlindungan sebagian terhadap jalannya eksperimen atau rancangan eksperimen yang hanya dapat mencapai sebagian saja penjelasan yang cukup akurat terhadap proses pengukuran hasil eksperimennya atau rancangan eksperimen yang mempunyai validitas dalam yang hanya memadai disebut rancangan eksperimen kuasi (Quasi Experimental Designs). Sedangkan rancangan eksperimen (rancangan yang mengenakan perlakuan terhadap subjek) namun tidak mengembangkan perlindungan terhadap jalannya eksperimen atau rancangan yang tidak mempunyai validitas dalam yang memadai disebut rancangan pra-eksperimen (Pre-Experimental Designs atau Nondesigns).

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi bobot atau kualitas validitas dalam suatu rancangan eksperimen atau faktor-faktor yang mungkin mengotori jalannya eksperimen berserta kemungkinan kompensasinya adalah sebagai berikut.

1. Pengotoran karena Sejarah (History)

Dalam penelitian istilah “history” dimaksudkan sebagai semua kejadian di luar yang dimaksudkan dari suatu eksperimen yang muncul bersamaan dengan saat dilakukannya suatu eksperimen sehingga sangat mungkin mengukur hasil eksperimen terganggu atau terkotori oleh adanya kejadian tersebut. Untuk menghindari hal ini umumnya digunakan suatu grup pembanding yang dalam segala aspek terkena kejadian luar yang sama dengan kejadian luar yang mengenai kelompok eksperimen. Bedanya hanyalah bahwa kelompok pembanding tidak dikenai perlakuan eksperimen yang hendak diamati. Bila pengukuran nilai yang diamati pada kedua kelompok menunjukkan perbedaan, maka sangat mungkin perbedaan tersebut adalah akibat perlakuan eksperimen itu sendiri.

2. Pengotoran karena Pemilihan (Selection)

Pada suatu eksperimen mungkin saja kelompok subjek yang dikenai perlakuan kebetulam mempunyai karakteristik tertentu yang justru bersesuaian atau bertentangan secara khusus dengan unsur yang dieksperimenkan. Dengan demikian, hasil eksperimen ini menjadi bersifat khusus sehingga tidak dapat digeneralisasikan seperti yang dirancangkan. Untuk menghindari hal ini subjeknya harus dikenai randomisasi pemilihan baik untuk masuk sebagai anggota dalam kelompok eksperimen maupun untuk kelompok pembanding. Untuk usaha randomisasi ini telah tersedia berbagai cara yang perlu dipilih bersesuaian dengan bentuk dan tujuan rancangan eksperimennya.

3. Pengotoran karena Kematangan (Maturation)

Bias kematangan terkait dengan proses perubahan yang terjadi dengan sendirinya dalam diri subjek yang dikenai perlakuan eksperimen. Khususnya untuk jenis eksperimen yang membutuhkan waktu yang lama, sehingga selain terkena perlakuan, subjek yang bersangkutan dengan sendirinya sudah berubah karakteristiknya. Cara mengatasinya adalah juga dengan menyediakan kelompok pembanding yang mempunyai sifat pertumbuhan kematangan yang sama dengan pertumbuhan kematangan kelompok eksperimen. Atau dapat pula dengan cara, kalau dimungkinkan, menggunakan rentang waktu perlakuan yang sangat pendek, sehingga pertumbuhan yang ada masih dapat diabaikan pengaruhnya.

4. Pengotoran karena Tes (Testing)

Pengalaman pernah mengikuti tes yang sejenis, misalnya pretes, sangat mungkin memberikan pengaruh pada proses pengerjaan tes berikutnya, misalnya postes, sehingga hasil postes ini tidak murni lagi menggambarkan pengaruh perlakuan yang dieksperimenkan, melainkan tercampur dengan pengaruh pengalaman mengikuti tes sebelumnya. Kompensasinya adalah dengan menyediakan kelompok pembanding tambahan yang juga dikenai perlakuan namun tidak dikenai pretes.

5. Pengotoran karena Instrumen (Instrumentation)

Pengamat, evaluasi atau evaluator, penginterviu (semacam bentuk instrumen) dan bagian-bagian instrumen penelitian yang lain yang disertakan dalam perjalanan waktu eksperimen sangat mungkin berubah kondisi dari waktu ke waktu, misalnya, kelelahan, kejenuhan, keantusiasan, keterpesonaan, keausan dan lain-lain yang akan mempengaruhi objektvitas pengamatan atau penilaiannya. Dengan demikian pengukuran hasil akhir eksperimen dengan sendirinya ternoda atau terkotori. Kompensasi untuk kondisi ini adalah persiapan antisipatif yang matang terhadap kemungkinan itu sendiri.

6. Pengotoran karena Regresi Statistik (Statistical Regression)

Dalam melakukan analisis statistik tertentu, sangat mungkin ada langkah-langkah yang sengaja dilakukan demi penyederhanaan atau kepraktisan pelaksanaan, misalnya penyeleksian subjek dengan intervalisasi atau kategorisasi kelompok sekor tinggi dan rendah dengan sekor tertentu yang kasar atau berbeda tajam. Langkah-langkah ini tentu saja mengurangi kemurnian pengukuran hasil penelitian, karena akan terjadi kecenderungan pada postes pengisian bagian sekor yang hilang. Yang ekstrem tinggi cenderung direndahkan, sedang yang ekstrem rendah cenderung dinaikkan. Kompensasinya adalah menghindari seleksi dengan sekor ekstrem.

7. Pengotoran karena Subjek Gugur (Experimental Mortality)

Bila yang gugur justru subjek-subjek pokok yang diamati dalam eksperimen jelas hasil akhir eksperimen akan tidak memadai. Kompensasinya adalah menggunakan sampel yang cukup besar dan randomisasi yang cukup sempurna.

8. Pengotoran karena Kestabilan (Stability)

Perubahan-perubahan yang bersifat kebetulan atau spo­radik sangat mengganggu kemurnian hasil eksperimen. Hal ini dapat diketahui dengan berbagai cara tes statistik. Untuk kompensasi hal ini belum ada saran yang dapat diajukan.

9. Pengotoran karena Kombinasi Interaktif (Interactive Combinations of Factors)

Pengotoran ini sangat banyak ragamnya, khususnya eksperimen yang menginklusikan banyak variabel. Kompensasinya adalah dengan pengembangan teoritisasi hubungan antar variabel yang secermat mungkin, termasuk kemungkinan hubungan interaktifnya.

10. Pengotoran karena Harapan (Expectancy)

Karena satu dan lain hal, pelaksana perlakuan eksperimen, secara sadar atau tidak sadar, sangat mungkin mempunyai pengharapan tertentu atas berhasilnya eksperimen. Akibat dari adanya harapan ini sangat mungkin tanpa sadar yang bersangkutan memberikan secara nyata atau tersirat hal-hal atau kunci-kunci keberhasilan eksperimen kepada subjek eksperimen. Dengan demikian pengukuran hasil eksperimen akan dikotori dengan pengaruh harapan pelaksana eksperimen tersebut. Kompensasinya, antara lain, adalah mengkondisi pelaksana agar tidak tahu atau tidak sadar kalau sedang melakukan eksperimen.

E. Kesimpulan

Eksperimen merupakan metode dengan kendali yang tinggi untuk menunjukkan keberadaan hubungan sebab-akibat (causal relationship) antara satu atau lebih variabel bebas dan satu atau lebih variabel terikat. Pada eksperimen yang ideal peneliti melakukan kendali atau kontrol terhadap lingkungan di tempat eksperimen tersebut dilakukan dan menjaga agar kondisi lingkungan tersebut tetap agar faktor-faktor luar tidak mempengaruhi jalannya ekpserimen.

Telah tersedia berbagai rancangan eksperimen yang mempunyai sistem kendali yang berbeda-beda terhadap kemungkinan-kemungkinan pengotoran pengukuran hasil eksperimen. Rancangan ini perlu dipilih oleh calon peneliti sesuai dengan tujuan penelitian serta kemampuan umum penanganannya.

Kepustakaan

Tuckman, B.W. (1978). Conducting Educational Research. Second Edition. New York: Harcourt Brace Jovanovich, publishers.

Bailey, Kenneth D. (1976). Methods of Social Research. London: Collier Macmillan Publishers.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 507 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: