Posts from the ‘MANAJEMEN KOMUNIKASI’ Category

Belajar dari Kampanye Obama: Event Management (1)


 

Tak Perlu Wah, Yang Penting Pesan Sampai

Waktu sudah menunjukkan pukul 2.50 PM Mountain Time. Namun Profesor Cindy Price, dosen pembimbing kami dalam tour kelas mata kuliah “Management of Promotions” belum juga memberi tanda-tanda akan mengakhiri kunjungan di Barnhart Communication, sebuah advertising agency terkemuka di Denver, ibukota Negara bagian Colorado, AS. Sebelumnya dia berjanji, kita semua akan meninggalkan agency yang menangani promosi wisata Negara bagian Wyoming itu, tempat saya tinggal sekarang, tepat pukul 3.00. Karena semua ingin segera bergegas pulang, menyaksikan langsung sang penyebar virus “harapan” senator Barrack Obama beraksi dalam seri kampanye konvensi kandidat Presiden dari Partai Demokrat di stadion universitas kami, University of Wyoming, Jum’at (8/3) pukul 7.15 malam ini.

 

Obama-Clinton rally in Orlando. Barack Obama a...

Obama-Clinton rally in Orlando. Barack Obama and Hillary Clinton in Orlando, Florida on October 20, 2008. (Photo credit: Wikipedia)

Sebagaimana mayoritas masyarakat AS lainnya, semua ingin menjadi saksi sejarah bagaimana politisi asal Illinois yang pernah melewatkan masa kecilnya di kawasan Menteng, Jakarta itu menyapa publik Laramie, Wyoming, sebuah kota kecil berpenduduk 26 ribu jiwa di kawasan pegunungan Rocky Mountain yang super dingin. Momentum ini begitu dinanti oleh warga. Apalagi sudah lebih dari 34 tahun, Laramie tak pernah kedatangan politikus kelas nasional. Terakhir kali mantan presiden Jhon F Kennedy lah yang berkampanye disini tanggal 25 September 1963 silam, atau sekitar 2 bulan sebelum kematiannya yang tragis.

Kampanye kali ini menjadi semakin menarik, mengingat Wyoming, bukan lah basis pendukung Demokrat. Sebagai wilayah koboi di daerah pedalaman Amerika, Negara bagian dengan berpenduduk terkecil ini (hanya 515 ribu penduduk dengan luas wilayah kira-kira sebesar provinsi papua) mempunyai garis politik yang konservatif, bukan liberal yang merupakan haluan Partai Demokrat. Inilah kandangnya Partai Republik.

Namun fenomena Obama mengubah itu semua. Beberapa pekan sebelumnya, supporter kandidat presiden kulit hitam pertama ini, membuka kantor di pusat kota Laramie, suatu hal yang tak pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Maka ramai-ramailah orang mendaftar sebagai relawan. Laramie, kota yang tenang dan damai menjadi hiruk pikuk, demam politik.

Dan tak dinyana pula, dua hari lalu tersiar kabar Obama akan datang langsung. Begitu pula dengan kubu pesaingnya Hillarry yang mengirimkan sang suami mantan presiden Bill Clinton yang menggelar kampanye sehari sebelumnya di hall pertemuan yang lebih kecil. Inilah buah dari persaingan ketat kedua kubu Partai Demokrat yang sama-sama tak mau kehilangan satu delegates (utusan partai) pun dalan konvensi nanti. Dan warga jelas bergembira, kota mereka diperhitungkan.

****

“Hei Agung, ayo lekas naik ke Van segera. Kamu tak mau ketinggalan kan,” teriak Prof Price, begitu saya memanggilnya, membuyarkan lamunan.

“Apakah kamu menikmati tour ini?”, lanjutnya. Berkali-kali dia bertanya senada untuk memastikan saya enjoy dalam kelas dan tour ini. Mungkin karena saya satu-satunya mahasiswa internasional yang berasal dari jurusan Ilmu politik yang kebetulan tertarik untuk mengambil mata kuliah yang senyatanya berada di jurusan ilmu komunikasi ini. Sehingga mungkin professor muda ini merasa berkewajiban agar saya kerasan ada di kelasnya.

“Tentu Prof Price, ini pengalaman yang luar biasa. Disini saya jadi banyak belajar bagaimana para profesional di bisnis kampanye ini bekerja. Di perusahaan Public Relations yang kita kunjungi tadi pagi, juga saya jadi tahu banyak bagaimana mereka mengelola isu media untuk para klien. Suatu hal yang menarik bagi riset yang saya,” timpal saya yang memang mengambil tema thesis tentang model kampanye Amerika khususnya di bidang politik dibandingkan dengan model kampanye parpol di Indonesia.

Yah, dua hari ini memang saya belajar banyak bagaimana para professional PR, creative director, ghost writer, spin doctor , event management dan awak bisnis kampanye lainnya bekerja. Mereka sungguh bekerja dalam framework yang jelas dan terukur. Dan mempunyai iklim kebebasan yang kuat untuk berekspresi. Tak heran, kalau produk-produk kampanye PR dan advertising kelas wahid datang dari Negara adidaya ini. Amerika menjadi kiblat model kampanye dunia.

****

Sungguh tak sabar saya segera menjejakkan kaki di Laramie. Walaupun van yang kami tumpangi sudah dipacu dengan kecepatan rata-rata 125 km jam di atas jalan interstate (semacam jalan tol penghubung antar Negara bagian) yang diselimuti salju tipis, perjalanan terasa lambat. Baru dua setengah jam kemudian saya sampai di kampus.

Tak disangka, antrian di depan stadion indoor kampus tempat kampanye sudah mengular hampir 4 kilometer. Padahal jam baru menunjukkan pukul 5.45 sore, berarti masih sekitar satu setengah jam lagi acara pembukaan dimulai. Bahkan, kata seorang rekan, massa sudah mengantri sejak pukul 3 sore tadi, walaupun pintu stadion sendiri baru dibuka pukul 5.00. Massa memang benar-benar antusias. Walaupun cuaca cukup dingin, sekitar minus 10 derajat Celsius, tak menyurutkan massa yang mayoritas kulit putih, untuk hadir di arena stadium yang berkapasitas sekitar 30 ribu jiwa itu. Untunglah malam ini salju tak turun, sehingga penderitaan kami tak bertambah. Sekalipun dinginnya angin tetap terasa menusuk tulang, setidaknya kami tak kena siraman salju. Dan massa pun tetap antri dengan tertib dibantu oleh para relawan yang berjejer di sepanjang jalan masuk stadion.

Menariknya, relawan disini tak mengenal batas umur. Bahkan anak-anak seumuran kelas IV SD sudah ikut terlibat aktif bersama orang tuanya. Para senior citizen yang kalau di Indonesia mungkin sudah masuk panti jompo, kira-kira umur di atas 65 tahun, juga sama antusiasnya. Mereka menyapa massa, mendatanya, mengatur barisan antrian dan mengingatkan massa agar mempersiapkan diri menghadapi pemeriksaan ketat ketika ketika nanti masuk pintu stadion.

Pengamanan event kampanye ini memang sangat ketat. Selain polisi-polisi lokal, puluhan polisi federal atau FBI pun diterjunkan. Anjing-anjing pelacak di sebar di seputar stadion dan pintu masuk untuk mengendus hal-hal yang mencurigakan. Bahkan detector metal standar bandara-bandara Amerika di pasang. Tak tanggung-tanggung, petugas pemeriksa pun berasal dari TSA (Transportation Security Administration), badan pemeriksa transportasi yang biasanya ditempatkan di pintu-pintu masuk bandara dan pelabuhan Amerika. Mereka melakukan prosedur pemeriksaan persis ketika kita di masuk bandara. Tas, kamera, handphone, dipindai secara cermat. Pengunjung diminta lewat sensor logam. Petugas TSA akan memicingkan mata dan memeriksa ulang secara personal ketika alarm detector berbunyi.

Saya pun sempat kena penggeledahan khusus. Entah mengapa, ketika lewat sensor logam setelah satu jam lamanya saya mengantri, tiba-tiba saja terdengar bunyi alarm. Karuan saja saya langsung dibawa oleh petugas TSA ke bagian khusus untuk digeledah. Persis seperti ketika kunjungan tahun lalu ketika saya singgah di berbagai bandara AS (San Fransisco, Minneapolis, Washington DC, New York, Seattle, Springfield, Chicago, dan Florida) pasti selalu kena tanda “SSS” di tiket pesawat dan harus melalui penggeledahan detil. Padahal saat itu berangkat sebagai undangan resmi Department of State.Saya pun mempunyai “surat sakti” dari otoritas mereka untuk itu. Namun semua embel-embel dan surat itu hanya macan ompong di hadapan TSA. Atas nama keamanan, seluruh orang atau bangsa yang dianggap mencurigakan wajib digeledah ulang.

Petugas perempuan TSA yang sudah berumur itu pun meminta saya melepas sepatu, jaket, dan mengeluarkan semua barang-barang yang ada di kantong. Tak ada barang mencurigakan. Hanya notes, pulpen, kamera dan obat-obatan. Tak puas dengan itu, saya diminta membentangkan tangan,memastikan tak ada bagian yang terlewat untuk diperiksa.

Anjing pelacak di depan mulai bereaksi. Wuih, saya sempat bergidik dan gugup lantaran Anjing itu agaknya diperintahkan untuk mengendus seluruh badan saya. Benar saja, dalam sekejap mata, anjing besar itu langsung menerima instruksi dari petugas lainnya untuk mengendus dada. Wah saya terkejut luar biasa. Benar-benar gugup. Sampai-sampai tak menghiraukan instruksi petugas untuk memeriksa bagian lainnya.

“Are you speaking English, Sir?” tanyanya dengan sedikit ketus ketika tahu saya tak bereaksi atas instruksinya.

“Yes, I do.”

“So, please do what I said!”

****

Akhirnya setelah mereka benar-benar yakin, petugas mempersilahkan saya masuk stadion melalui pintu-pintu yang tersedia. Saya ambil duduk di tribun atas stadion yang persis menghadap panggung. Sengaja demikian, agar saya bisa leluasa melihat sekeliling dan mempelajari setting kampanye. Namun di pertengahan acara nanti, saya bakal turun ke dekat panggung, agar bisa mengamati suasana lebih jelas.

Panggung kampanye sendiri terlihat sederhana. Berupa panggung terbuka berukuran kira-kira 3 X 7 meter luasnya. Tingginya hanya sekitar 1 meter saja dengan tangga naik di kanan kirinya. Tak ada sekat sama sekali baik di sisi samping maupun belakang. Tampaknya setting panggung ini dirancang agar sang kandidat bisa bergerak bebas 360 derajat, berputar-putar menghadap audiens. Hanya tampak backdrop besar yang sengaja di pasang di tribun audiens yang membelakangi panggung. Backdrop yang dengan dominasi warna biru bertuliskan “Change, We Can Believe In” yang menjadi tagline kampanye Obama letaknya kira 6 meter dari panggung.

Diantara panggung dan backdrop ada ratusan audiens khusus yang sengaja ditempatkan disana. Mereka membawa banner lebih kecil bertuliskan serupa. Tampaknya mereka semacam “cheerleader” kampanye yang mempunyai tugas khusus untuk memancing massa meneriakkan yel-yel khas Obama “Yes we Can” ketika Obama mengucapkan kata-kata dramatis dalam pidatonya, Mereka pula lah yang terus menyemarakkan stadion dengan mengacung-acungkan banner-banner yang dibawanya.

Apakah relawan khusus ini adalah gadis-gadis cantik seperti banyak kita temui dalam kampanye-kampanye terbuka di Indonesia yang sering mendatangkan artis-artis dangdut nan seksi? Sama sekali tidak. Relawan khusus ini tampaknya disetting untuk menunjukkan keragaman pendukung Obama. Disana tampak ras kulit putih, hitam, Hispanic, bahkan keturunan Asia. Laki-laki dan perempuan sama banyaknya. Tua dan muda bercampur menjadi satu. Bahkan Matteo Highem, bocah berumur 9 tahun, yang malah ditunjuk sebagaii dirigen korps “cheerleader” ini. Dia lah yang mengomando teriakan yel-yel dan gerakan-gerakan atraktif lainnya.

Tingkahnya yang lucu dan antusias betul-betul menyedot perhatian dan menghibur massa yang hadir. Mungkin kalau di Indonesia kubu Obama sudah kena pasal eksploitasi anak karena melibatkan anak-anak dalam kampanye. Namun entah mengapa di AS yang anak-anak disini sangat dilindungi hak-haknya, mereka malah banyak terlibat dalam ajang kampanye politik.

Adapun di depan panggung persis, pelataran seukuran lapangan bola basket dibiarkan untuk para supporter. Tampaknya tempat ini disetting sebagai kerumunan massa yang ingin lebih dekat dengan Obama. Atau kalau beruntung, mungkin bisa bersalaman dengan kandidat yang pernah berayahtirikan orang Indonesia ini. Sehingga massa bisa mengelu-elukan dengan lebih erat dan personal. Dan mungkin ini pula lah yang diharapkan tim kampanye Obama, sehingga image kandidat presiden mereka sebagai orang yang cool, ramah, rendah hati, dan didambakan banyak orang akan lebih tampak. Entahlah

Sedangkan di depan pelataran massa ini, kembali tampak panggung terbuka memanjang setinggi panggung utama. Disini tripod-tripod kamera berderet-deret dipancangkan. Jaringan televisi nasional maupun internasional sudah standby disana. Bahkan mereka sudah menyiapkan siaran langsung seperti yang dilakukan jaringan televisi Fox. Tak ketinggalan pula kantor-kantor berita International seperti AP, Reuters, AFP atau media cetak nasonal sekelas New Yorks Times atau USA today menurunkan fotographer- fotographer kawakannya. Mereka kebanyakan mengambil tempat di panggung khusus wartawan lainnya yang terletak di sisi kiri panggung utama.

Dari perspektif panggung wartawan inilah saya jadi tahu, mengapa misalnya ada backdrop besar mencolok mata dan relawan khusus di belakang panggung utama? Mengapa Matteo Highem begitu atraktif mengomando rekan-rekannya untuk mengacungkan banner-banner “Change” yang dibawanya? Atau mengapa diberikan ruang luas untuk kerumunan massa di depan panggung? Tak lain dan tak bukan semuanya untuk kebutuhan publikasi dan image . Agar kamera-kamera tertuju kuat kepada mereka. Mengambil gambar-gambar dramatis,memunculka n pesan-pesan yang tertulis di banner, dan menunjukkan antusiasme besar massa. Para fotographer dan cameramen secara professional “digiring” untuk mengambil gambar-gambar yang diinginkan tim kampanye agar memuncul kesan-kesan tertentu dalam layar televisi maupun foto di Koran-koran. Mereka di framing dalam permainan strategi kampanye tim Obama. Mungkin agar Obama tampak sebagai kandidat yang tepat dalam membawa perubahan di Amerika. Walaupun tentunya, hasil editing newsroom tiap-tiap media lah yang menentukan bagaimana hasil akhirnya.

****

Waktu telah menunjukkan pukul 7 malam. Suasana stadion mulai penuh. Sekitar 15 ribu massa mulai mengambil tempat duduk di tribun. Sedangkan ratusan supporter fanatik terlihat memenuhi pelataran lapangan depan panggung. Sementara ribuan lainnya masih mengantri di luar.

Tak ada kegiatan yang mencolok di stadion. Tak ada live music sebagaimana panggung kampanye politik di Indonesia. Ataupun acara bagi-bagi kaos dan doorprize. Hanya musik-musik pop yang diperdengarkan dari sound system stadion. Dan sesekali tampak Matteo Highem mengomando yel-yel, menghangatkan suasana. Sementara sebagian besar lainnya asyik mengobrol, menikmati musik background, atau sekedar mengambil foto-foto lewat kamera digital atau ponsel yang dibawanya.

Yang tampak sibuk tim kampanye Obama di lapangan. Para petugas event tampak telah siap di posisi masing-masing. Petugas keamanan berjas lengkap tampak berjaga di sudut-sudut lapangan. Rapi dan berdasi layaknya eksekutif muda. Petugas media relations, fotographer, videographer, stage manager, juga tampak standby di posisi sekitar panggung. Yang unik, seorang petugas disiapkan di sisi kiri panggung khusus untuk menerjemahkan pidato kampanye dalam bahasa isyarat untuk audiens yang tunarungu.

Layar besar stadion kemudian menarik perhatian massa. Video perjalanan karir politik Obama pun ditayangkan. Juga video-video klip Obama dalam balutan musik yang menghentak. Suasana pun mulai terbangun.

Tepat pukul 7.15 musik berganti dengan genderang drum bertalu-talu. Bendera-bendera universitas raksasa berwarna kuning, bergambar koboi kemudian muncul dan dibawa berlari mengelilingi pelataran stadion. Dibelakangnya maskot University of Wyoming, sang koboi Joe berjingkrak- jingkrak mengikuti irama musik country. Suasana benar-benar meriah. Massa spontan berdiri dan bertepuk tangan panjang.

Tak berapa lama, salah seorang tim kampanye naik panggung. Berputar-putar layaknya peragawan, menyapa audiens. Namun tak berapa lama dia di atas. Kurang lebih sepuluh menit saja. Benar-benar singkat, tanpa banyak basa-basi, tanpa banyak sambutan sana sini. Dan langsung saja, dia perkenalkan, sang kandidat yang ditunggu-tunggu telah tiba di pintu masuk samping kiri panggung.

Spontan perhatian massa tertuju ke pintu yang dituju. Dengan langkah tegap, Obama melangkah masuk. Senyum lebar dia tebar ke seantero penjuru stadion. Sang senator tak langsung menuju panggung. Dia sapa massa di sekitarnya, bersalaman dengan mereka, berbincang singkat, dan melambaikan tangan. Kontan massa berebut hanya sekedar untuk mengambil foto atau bersentuhan tangannya. Massa benar-benar histeris, mirip para fans berat yang bertemu selebritis pujaaannya. Obama benar-benar menghipnotis mereka dengan pesonanya.

Namun suasana tetap tertib, dan sepuluh menit kemudian politisi muda ini pun naik panggung. Dia tak langsung bicara. Hanya senyumnya yang mengembang, dan lambaian tangannya yang terus terangkat ke udara. Dia terus bergerak memutari panggung, kembali menyapa massa, menebarkan pesonanya.

Tampaknya Obama mengerti betul psikologi massa. Dia tak banyak bicara, tapi bahasa tubuh dan paralinguistiknya, sangat kuat untuk mempengaruhi massa. Entah dia pernah membaca atau tidak riset Albert Mehrabian yang menyatakan 93 % komunikasi lebih banyak dipengaruhi oleh bahasa non verbalnya, yang jelas malam ini dia betul-betul menguasainya. Jas hitam yang dipakainya semakin menegaskan dirinya sebagai orang kuat bagi rakyat Amerika. Tatapan matanya yang tajam, seperti mencerminkan dia pemimpin yang visioner. Senyumnya yang kelihatan lebih tulus, semakin meyakinkan para pendukungnya dia adalah politisi yang jujur dengan janji-janjinya. Jujur dan komitmen untuk membawa perubahan dalam politik Amerika ke depan yang sudah didominasi ambisi pribadi keluarga Bush.

Malam ini, Obama tak bicara banyak. Dia hanya mengulang-ulang visinya untuk perubahan dan janjinya untuk memperbaiki ekonomi Amerika dengan platform baru di bidang kesehatan. Serta komitmennya untuk menarik pasukan dari Irak jika terpilih menjadi presiden di Negara superpower ini. “Saya akan tarik langsung pasukan AS di Irak begitu saya terpilih menjadi presiden,” janji Obama di hadapan sekitar 20 ribu orang yang memadati stadium indoor terbesar di negara bagian kaya batubara dan minyak ini. Spontan teriakan “Yes We Can, Yes We can” terdengar membahana di stadium menimpali janji tersebut.

Obama juga kembali mengkritik calon presiden Partai Republik John Mc Cain yang bersikeras meneruskan tradisi perang di Irak. Menurut Obama, perang di Irak tidaklah seharusnya terjadi. Kehadiran Al-Qaeda di sana justru dipicu setelah kedatangan AS untuk menggulingkan rezim Saddam Hussein. “Perang di Irak telah menghabiskan ratusan milyar dolar uang rakyat. Dana besar yang seharusnya bisa kita alihkan untuk memperbaiki pembangunan ekonomi AS dan kesehatan masyarakat,” tandasnya.

Sesekali Obama juga melontarkan joke-joke segar dalam pidatonya. Utamanya yang terkait dengan situasi politik saat ini. Sehingga suasana menjadi lebih segar.

Relatif memang tak ada yang baru dalam isi kampanyenya. Namun cara membawakannya yang sistematis, ringkas, to the point, dengan nada dinamis, yang kadang merendah ketika bericara kondisi lesu sekarang, dan meninggi ketika memberikan janji perubahan, membuat setiap kampanyenya selalu terlihat berbeda. Penampilanya yang begitu percaya diri didukung oleh setting event yang tepat dalam mengantarkan pesan,membuat penampilan Obama begitu mempesona dilayar kaca maupun di foto halaman depan surat kabar. Sehingga image Obama semakin kuat di media. Sampai-sampai saat ini media-media di Amerika dituduh bias dalam pemberitaan kandidat persaingan kandidat presiden Partai Demokrat. Mereka cenderung dianggap lebih menguntungkan Obama daripada Hillary.

Tim kampanye Obama mungkin mengerti betul apa yang disampaikan oleh pakar komunikasi Marshall Mc Luhan bahwa “medium is the message”. Sehingga benar-benar mengemas medium dalam hal ini, event kampanye dan faktor Obama sebagai message tersendiri. Mereka totalitas dalam mengemas even kampanye terbuka sebagai alat promosi yang efektif. Campaign Manager, creative director, ghost writer, spin doctor, dan event management crew dalam tim kampanye Obama mampu bersinergi satu sama lain menghasilkan replikasi pesan yang kuat bagi bagi publik Amerika, bahwa Obama orang yang tepat untuk perubahan. Sementara di sisi lain, Obama pun tangkas untuk memainkan management of impression nya, sehingga menghasilkan personal branding tersendiri yang membedakan dengan karakter pesaingnya. Dalam dunia political marketing, faktor pembeda ini menjadi sangat krusial untuk mengeluarkan kandidat yang dipasarkan dari kerumunan. Sehingga massa bisa mudah mengenalinya dibandingkan dengan pesaing yang lain.

****

Hanya sekitar 25 menit saja Obama di atas berpidato. Selebihnya dia turun gelanggang, kembali menyapa para pendukungnya. Kali ini pria yang sering disepadankan dengan tokoh legendaris Martin Luther King ini lebih berlama-lama menebarkan pesona, melempar senyum ke sana kemari, dan menjulurkan tangan menggapai para pendukungnya . Bahkan ayah dari dua anak perempuan Malia dan Natasha ini, sempat memangku seorang bayi kecil yang dibawa ibunya. Si ibu yang tak menyangka mendapatkan kehormatan demikian begitu sumringah, begitupula ribuan ibu lainnya yang menyaksikan momentum ini. Ehm..mungkin dia berupaya menarik pemilih perempuan khsususnya ibu-ibu yang merupakan pangsa besar Hillary.

Obama pun terus berputar di sekeliling tribun bawah diiringi teriakan yang mengelu-elukan namanya. Massa terus berdesakan untuk bisa bersalaman dengannya. Seorang gadis kulit putih tiba-tiba saja menyeruak dari kerumunan ke arah saya yang telah berdiri di dekat panggung. “Jangan pegang tanganku, jangan pegang tanganku. Aku telah salaman dengan Obama,” teriaknya dengan gembira sambil berusaha melindungi tangan kanannya dari massa yang masih menyemut. Massa akhirnya baru berangsur pulang setelah Obama benar-benar hilang dari pandangan mata ditelan pintu keluar stadion. (Agung SB)

———— ——— ——— ——— ——— ——— ——— ——-

Pelajaran yang mungkin bisa diambil:

Berkaca dari pengalaman event kampnye Obama ini, ada beberapa poin penting yang bisa kita jadikan pelajaran:

1. Walaupun waktu sosialisasi event kampanye terbuka sempit (cuma 2 hari), stadion tetap penuh, walaupun tak dimobilisasi atau diming-imingi sesuatu. Karena pembicara yang ditampilkan mempunyai personal branding yang begitu kuat dan benar-benar menarik perhatian.

2. Rund down kampanye lapangan dibuat efektif dan tak bertele-tele. Tak banyak kata sambutan dari berbagai pihak. Hal terpenting adalah penampilan tokoh utama yang akan berbicara. Mungkin dalam konteks Indonesia ini tetap perlu adaptasi. Semisal dengan menambah unsur hiburan penarik massa di panggung.

3. Panggung kampanye tak perlu mewah dan wah, yang penting sesuai untuk kebutuhan terutama untuk setting media (media orientied). Sehingga kamera bisa dengan mudah mengambil gambar menarik dari acara di panggung dan pesan-pesan utama yang ingin diantarkannya.

4. Diperlukan tim kampanye yang solid yang sudah merancang even dengan apik jauh-jauh hari sbelumnya. Semisal:

  • Creative director: bertanggung jawab atas rencana kreatifitas di panggung,termasuk menyiapkan tim kreatif atau relawan yang mengeksekusinya di lapangan.
  • Stage manager: bertanggung jawab atas semua acara di panggung
  • ghost writer: bertanggung jawab rancangan pidato kandidat, termasuk di dalamnya merancang statement2, fakta2 manarik, yang layak kutip oleh media
  • Spin doctor: bertanggung jawab atas pengendalian isu media, mana angle berita yang menarik, gambar yang menarik, mengamati isu dari pesaing, dan menjalin hubungan erat dengan newsroom dalam pemunculan berita.
  • Media relations officers: petugas yang berhubungan langsung dengan wartawan di lapangan.

5. Perlu penataan khusus terhadap tokoh yang akan dikampanyekan. Dengan kata lain merancang personal branding sebelumnya, dan konsisten dengan hal itu. Mulai dari penataan bahsa verbal maupun non verbalnya. Ada baiknya, ada riset personal branding sbelumnya terhadap si tokoh sehingga tampilan yang akan dibentuk akan lebih mapan dan konstan dari waktu ke waktu dan tak berubah-rubah. Personal branding ini harus mampu menggali keunikan si tokoh yang membedakan dari yang lainnya.

6. Pastikan momentum kampanye ini terliput luas dengan baik di media. Bukan sekedar banyak di cover saja saja, tapi juga mampu mengantarkan pesan kampanye yang diinginkan.

7. Diatas semuanya, seluruh penataan kampanye lapangan selalu berada dalam umbrella message (pesan payung) kampanye. Sehingga seluruh perangkat, setting, dan acara diarahkan untuk mengantarkan pesan utama itu.

Ada yang kurang? Mungkin bisa kita diskusikan

Sumber : Kiriman dari email teman dari mahasiswa Indonesia (Agung Setia Bakti) yang kuliah di, Graduate School, Political Science Department, University of Wyoming, WY, US.

Komunikasi dalam sebuah organisasi


Komunikasi Efektif
Seperti darah, bagi suatu organisasi komunikasi yang efektif sangat penting, dan miskomunikasi akan memberi kontribusi yang dapat disamakan dengan rusaknya sistim peredaran darah dalam lebih dari satu sistim organisasi. Sesuatu yang nampaknya sederhana, seperti lokasi fisik tempat bekerja ternyata mampu memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap proses keberhasilan komunikasi. Tanpa komunikasi yang efektif diantara berbagai pihak yang terlibat didalamnya, pola hubungan dalam suatu organisasi tidak akan mampu melayani kebutuhan berbagai pihak dengan baik.

Komunikasi yang efektif penting bagi para manajer karena tiga alasan utama. Pertama, komunikasi menyediakan saluran umum untuk proses manajemen, yaitu merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan. Manajer mengembangkan rencana lewat komunikasi dengan orang lain dalam organisasi dan mengorganisasikan untuk melaksanakan rencana tadi dengan berdialog dengan para karyawannya mengenai cara terbaik untuk mendistribusikan wewenang dan desain pekerjaan. Manajer mengetahui bahwa kebijakan yang menimbulkan motivasi, kepemimpinan, dan mengelompokan serta membentuk tim diaktifkan lewat pertukaran informasi secara teratur.

Kedua, ketrampilan komunikasi yang efektif dapat membuat manajer menggunakan berbagai bakat yang tersedia dalam dunia multibudaya dari organisasi. Globalisasi bisnis pasti menempatkan tantangan bagi kemampuan berkomunikasi manajer. Ketika manajer mempunyai kebiasaaan dan ekspresi serta arti yang mungkin tampak amat asing, mereka mungkin tergoda untuk mengelak dan menghindar untuk mencoba berkomunikasi. Itu kemungkinan merupakan peluang yang hilang. Komunikasi, seperti aktifitas intelektual lain, dapat diasah dengan menghadapi keadaan yang baru dan menantang. Organisasi dapat merupakan wahana yang tepat untuk mempelajari hal itu.

Ketiga, ternyata manajer menghabiskan banyak waktunya untuk berkomunikasi. Jarang sekali kita menjumpai manajer sendirian dimejanya berpikir, membuat rencana, atau mempertimbangkan berbagai alternatif. Kenyataannya, waktu manajerial banyak dihabiskan dalam komunikasi bertatap muka, elektronik, atau lewat telepon dengan karyawan, supervisor, pemasok, atau pelanggan.

Komunikasi Antar Pribadi

Komunikasi didefinisikan sebagai proses yang dipergunakan oleh manusia untuk mencari kesamaan arti lewat transmisi pesan simbolik. Pesan sendiri merupakan suatu informasi yang sudah disandikan dan dikirimkan oleh pengirim kepada penerima.

Di sini terdapat tiga butir penting yaitu (1) komunikasi melibatkan orang, dan bahwa memahami komunikasi termasuk mencoba memahami cara manusia saling berhubungan, (2) komunikasi meliputi “kesamaan makna”, yang berarti bahwa agar manusia dapat berkomunikasi, mereka harus menyetujui definisi istilah yang dipergunakan, dan (3) komunikasi termasuk simbol (gerakan badan, suara, huruf dan angka) dan kata hanya dapat mewakili atau mendekati ide yang mereka maksudkan untuk dikomunikasikan.

Proses Komunikasi

Komunikasi terjadi dalam hubungan antara pengirim dengan penerima. Komunikasi dapat mengalir dalam satu arah dan berakhir di sana. Atau sebuah pesan dapat menimbulkan respon (yang secara formal dikenal dengan sebutan “umpan balik”) dari penerima.

Pengirim (sumber pesan) merupakan pihak yang mengawali komunikasi. Dalam sebuah organisasi, pengirim dapat berupa seseorang dengan informasi, kebutuhan, atau keinginan dan dengan tujuan mengkomunikasikannya kepada satu atau beberapa orang lain.
Penerima adalah orang yang inderanya menerima pesan dari pengirim. Mungkin terjadi jumlah penerima banyak, seperti kalau sebuah memo dikirimkan kepada seluruh anggota organisasi, atau hanya satu orang, seperti kalau seseorang mendiskusikan sesuatu secara rahasia kepada seorang rekan. Pesan harus disesuaikan dengan latar belakang penerima. Manajer produksi seyogyanya menghindari penggunaaan istilah yang sangat teknis dalam berkomunikasi dengan seseorang di departemen pemasaran.

Dari rangkaian pengertian tersebut, “bila pesan tidak sampai kepada penerima, maka komunikasi belum terjadi”. Di sisi lain, kerap terjadi situasi dimana pesan sudah sampai kepada penerima, tetapi penerima tidak mampu memahaminya. Tiga faktor yang mempengaruhi efektifitas komunikasi meliputi penyandian, pengartian dan gangguan.

a) Penyandian
Penyandian terjadi ketika pengirim menterjemahkan informasi untuk dikirimkan menjadi serangkaian simbol. Penyandian itu diperlukan karena informasi hanya dapat dikirimkan dari seseorang kepada orang lain lewat perwakilan atau simbol.
Karena komunikasi merupakan obyek dari penyandian, pengirim berusaha menetapkan arti “yang dapat dipahami bersama” dengan penerima dengan cara memilih simbol, biasanya dalam bentuk kata atau gerakan tubuh, yang dipercaya oleh pengirim mempunyai arti yang sama dengan penerimanya. Kerap dijumpai, kurangnya kerjasama adalah merupakan salah satu penyebab umum dari salah pengertian atau kegagalan dalam berkomunikasi.

b. Pengartian
Merupakan proses yang dilakukan oleh penerima untuk menginterprestasikan pesan dan menterjemahkannya ke dalam informasi yang mempunyai arti. Ini merupakan proses dua langkah, yaitu (1) menerima pesan, dan kemudian (2) mengartikannya. Pengartian dipengaruhi oleh pengalaman penerima, penilaian pribadi mengenai simbol dan gerakan tubuh yang dipakai, harapan (orang cenderung mendengar apa yang ingin mereka dengar), dan kesamaan arti dengan pengirimnya. Secara umum, semakin banyak pengartian penerima yang sama dengan pesan yang dimaksud oleh pengirim, semakin efektif komunikasi.

c. Gangguan
Meliputi segenap faktor yang mengganggu, membingungkan, atau mencampuri komunikasi. Gangguan dapat timbul dalam saluran komunikasi, atau metode pengiriman. Gangguan dapat terjadi karena faktor internal (misalnya penerima kurang mengindahkan) ataupun faktor eksternal (misalnya pesan terganggu oleh suara lain dari lingkungan. Gangguan dapat terjadi pada tahap manapun dari proses komunikasi, terutama pada tahap penyandian dan pengartian.

Memperbaiki Proses Komunikasi

Efektifitas komunikasi dapat dideteksi melalui “sampai seberapa jauh pihak-pihak yang terlibat menangani empat aspek komunikasi” yang meliputi : perbedaan persepsi, emosi, ketidakkonsistenan antara komunikasi verbal dan non-verbal, dan kepercayaan (maupun ketidakpercayaan) awal antara pihak yang terlibat.

a. Perbedaan Persepsi
Merupakan salah satu hambatan komunikasi yang lazim dijumpai. Orang yang mempunyai latar belakang pengetahuan dan pengalaman berbeda kerap menerima fenomena sama dari prespektif yang berbeda.
Perbedaan bahasa sering berkaitan dengan perbedaan dalam persepsi individu. Agar suatu pesan dapat dikomunikasikan secara tepat, kata-kata yang dipergunakan harus mempunyai arti yang sama bagi pengirim maupun penerima.
Untuk mengatasi hal tersebut, pesan harus dijelaskan sehingga dapat dipahami oleh penerima yang mempunyai pandangan dan pengalaman berbeda.

b. Emosi
Reaksi emosional (seperti marah, cinta, mempertahankan opini, cemburu, takut, malu, dan lain-lain) akan berpengaruh terhadap cara orang memahami pesan dari orang lain dan cara orang lain memahami pesan orang tersebut. Pendekatan terbaik untuk berhubungan dengan emosi adalah menerimanya sebagai bagian dari proses komunikasi dan mencoba memahaminya ketika emosi menimbulkan masalah.

c. Ketidakkonsistenan
Banyak kalangan yang berpendapat bahwa bahasa lisan dan tertulis merupakan medium utama komunikasi. Pada kenyataannya, pesan yang dikirimkan maupun diterima kerap dipengaruhi oleh faktor non-verbal seperti gerakan tubuh, pakaian, jarak fisik pelaku komunikasi, postur tubuh, gerakan anggota badan, ekspresi wajah, gerakan mata, sentuhan badan, dan lain-lain.
Kunci untuk mengatasinya adalah dengan mewaspadainya dan berjaga-jaga agar tidak mengirimkan pesan palsu. Untuk itu pesan verbal haruslah selalu selaras dengan aspek non-verbalnya.

d. Ke(tidak)percayaan awal
Tingkat kepercayaan penerima pesan pada umumnya merupakan fungsi kredibilitas dari pengirim dalam benak penerima pesan tersebut. Kredibilitas pengirim pesan sangat dipengaruhi oleh lingkungan dalam konteks yang bersangkutan mengirimkan pesan. Disinilah sejarah hubungan kerja mempunyai hubungan komunikasi.
Kredibilitas merupakan hasil dari proses jangka panjang yang mana kejujuran seseorang, niat baik dan keadilan dikenal dan dipahami oleh orang lain. Hubungan yang baik dalam bekomunikasi hanya dapat dikembangkan melalui tindakan yang konsisten.

Komunikasi dalam Organisasi

Keseluruhan faktor yang telah dibahas dalam hubungan dengan komunikasi antar pribadi juga berlaku untuk komunikasi dalam organisasi, yang juga mencakup penyampaian pesan secara akurat dari satu orang kepada satu atau lebih orang lain. Selain faktor-faktor tersebut, struktur, wewenang, desain pekerjaan organisasi, dan lain-lain merupakan faktor-faktor unik yang turt berpengaruh terhadap efektifitas komunikasi, sebagai mana dinyatakan oleh Simon (1977) bahwa “organisasi perlu untuk membantu manusia berkomunikasi”.

Komunikasi yang terbuka dan efektif akan merupakan aset berharga bagi organisasi.
a. Berbagai faktor yang mempengaruhi komunikasi organisasi.

Lesikar menguraikan adanya empat faktor yang mempengaruhi keefektifan komunikasi organisasi yaitu meliputi :

  1. Saluran komunikasi formal. Merupakan cara komunikasi yang didukung, dan mungkin dikendalikan oleh manajer. Contohnya adalah newsletter, memo reguler, laporan, rapat staf, dan lain-lain.
  2. Struktur wewenang. Perbedaan status dan kekuasaan dalam organisasi membantu menentukan siapa yang akan berkomunikasi dengan enak kepada siapa. Selain itu, isi dan akurasi komunikasi juga dipengaruhi oleh perbedaan wewenang.
  3. Spesialisasi pekerjaan. Biasanya akan mempermudah komunikasi dalam kelompok yang berbeda-beda. Anggota suatu kelompok kerja biasanya memiliki jagron, pandangan mengenai waktu, sasaran, tugas dan gaya pribadi yang sama.
  4. Kepemilikan informasi, Setiap individu mempunyai informasi yang unik dan pengetahuan mengenai pekerjaan mereka, yang merupakan semacam kekuasaan bagi individu-individu yang memilikinya.

b. Komunikasi vertikal
Terdiri dari komunikasi ke atas dan ke bawah melalui rantai organisasi. Dalam beberapa perusahaan, tersedia saluran khusus sebagai sarana tambahan. Saluran ini banyak dipergunakan untuk memberi tahu manajer mengenai situasi yang melibatkan karyawan, seperti pernyataan tanpa bukti mengenai pelecehan seksual.
Komunikasi ke bawah biasanya disaring, dimodifikasi, atau dihentikan di setiap tingkat ketika manajer memutuskan apa yang seharusnya diteruskan kepada karyawan mereka. Sedangakn komunikasi ke atas biasanya sisaring, dipadatkan, atau diubah oleh manajer menengah yang melihatnya sebagai bagian dari pekerjaan mereka untuk melindungi manajer tingkat atas dari data yang tidak penting/relevan.

c. Komunikasi lateral dan informal
Komunikasi ini pada umumnya mengikuti pola arus pekerjaan dalam sebuah organisasi, terjadi antar anggota kelompok kerja, antara kelompok kerja, antar anggota departemen yang berbeda, dan antara karyawan lini dan staf. Tujuan utamanya adalah menyediakan saluran langsung untuk koordinasi dan memecahkan masalah. Dengan cara ini, dapat dihindari prosedur yang jauh lebih lambat yaitu mengarahkan komunikasi lewat rantai komando. Keuntungan tambahan lainnya adalah anggota organisasi menjadi mampu untuk membentuk hubungan dengan rekan sekerja.

Komunikasi oleh Organisasi

Organisasi juga memperhatikan pesan yang dikirimkannya kepada pihak yang berkepentingan di luar, seperti pelanggan, pemasok, distributor, pesaing, perbankan, dan lain-lain, terutama dengan pihak di luar negeri. Terlalu banyak komunikasi dalam hal ini dapat sama merugikannya dengan terlalu sedikit. Tim komunikasi (pada umumnya representasikan oleh departemen kehumasan) harus bekerja keras untuk mengatasi perbedaan dalam peradaban maupun budaya tiap-tiap negara asal pihak-pihak yang berkepentingan berasal.

Negosiasi dan Konflik
Konflik melibatkan ketidaksepakatan mengenai alokasi sumberdaya yang jarang atau pertentangan mengenai sasaran, nilai, persepsi, atau kepribadian. Banyak konflik yang muncul dari komunikasi mengenai keinginan, kebutukan dan penilaian terhadap pihak lainnya. Manajer dapat menggunakan dominasinya dan menekan dalam menangani konflik dengan karyawan. Tetapi negosiasi akan membantu menangani konflik dari type apapun lebih efektif dan memberi hasil yang memuaskan kedua belah pihak. Negosiasi adalah merupakan proses interaksi kedia pihak lewat berbagai saluran komunikasi untuk menyelesaikan konflik.

Negosiasi adalah proses komunikasi yang amat penting. Ini merupakan bagian dari pekerjaan setiap manajer, seperti peran antar pribadi menurut kategori Mintzberg.
Menurut Lewicki dan Litterer, seluruh “situasi negosiasi” ditentukan oleh tiga karakteristik yaitu:

  1. Ada “konflik kepentingan” antara dua pihak atau lebih, yang berarti apa yang diinginkan oleh suatu pihak tidak selalu merupakan apa yang dikehendaki oleh pihak lain.
  2. Mungkin “tidak ada peraturan yang pasti” atau prosedur untuk menyelesaikan konflik, atau pihak-pihak tersebut memilih bertindak di luar peraturan dan prosedur untuk menemukan penyelesaiannya sendiri terhadap konflik.
  3. Semua pihak, sekurang-kurangnya pada suatu saat, lebih senang “mencari persetujuan” daripada bertentangan secara terbuka, menyerah kepada satu pihak, memutuskan hubungan secara permanen, atau membawa perselisihan mereka kepada pemegang wewenang yang lebih tinggi untuk mendapatkan pemecahan.

Negosiasi adalah proses komunikasi yang kompleks, semuanya semakin jelas kalau satu babak negosiasi hanya merupakan episode hubungan dalam jangka yang lebih panjang. Keadaan seperti itu seringkali merupakan kasus dalam hubungan karyawan dengan pihak manajemen.

Persiapan merupakan perhatian kunci bagi negosiator. Persiapan tersebut harus menyertakan tinjauan proses negosiasi yang terjadi sebelumnya dan hasil dari negosiasi tersebut. Negosiator mengambil resiko cukup besar bila dia beranggapan bahwa sejarah tidak penting bagi pihak lain.

Kaitan antara hubungan dengan waktu dalam proses negosiasi sangatlah masif. Strategi organisasi dan rencana fungsional akan berfungsi sebagai pedoman dan nilai ambang yang menentukan batas mengenai apa yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh negosiator.

Daftar Pustaka

Shapiro, A. J., 1994, Foundations of Multinational Financial Management, A Simon Schustler Company, Englewood Cliffs, New Jersey.
Shimizu, R., 1989, The Japanesse Business Success Factor, Chikura Shobo, Tokyo.
Stoner, James A.F., Freeman R.E., Gilbert D.R., 1995, Management, Prentice-Hall, Inc., A Simon Schustler Company, Englewood Cliffs, New Jersey.

Dunia PR dalam Tantangan Globalisasi


Banyak sekali informasi yang negatif yang berkeliaran di samudra global tentang Indonesia dan termasuk diantaranya berkaitan erat dengan dunia bisnis Indonesia. Sementara dunia bisnis seolah tak berdaya menghadapinya. Sehingga bukan hanya rupiah saja yang menjadi bulan-bulanan inforamsi global, tetapi juga aspek bisnis lain, seperti investasi, hutang bahkan produk ekspor kita. Isu-isu seperti lingkungan hidup untuk produk-produk hasil hutan, dan isu-isu lain seperti dumping, sangat mempersulit ekspor kita.

Ini jelas mencerminkan betapa lemahnya kemampuan PR kita. Termasuk kurang handalnya pemanfaatan teknologi. Teknologi dalam era globalisasi sekarang ini tidak hanya sekedar suatu alat. Teknologi menawarkan kebebasan untuk mempraktekkan kemampuan pemasar melalui cara-cara baru, diantaranya dalam bidang komunikasi pemasaran.

Public relations (PR) sebagai salah satu pilar terpenting dalam komunikasi pemasaran untuk menciptakan reputasi perusahaan, juga mengalami dampaknya. Dalam strategi komunikasi global para praktisi PR memposisikan diri di front line yang mengkomunikasikan sasaran, pesan-pesan utama, target publics, dan rencana-rencana perusahaan.

PR bukanlah fungsi manajemen yang dapat berdiri sendiri. Bersama sarana komunikasi pemasaran lainnya akan membentuk integrated marketing communications, merupakan cara yang paling efektif dalam mengkomunikasikan pesan-pesan utama kepada pelanggan, shareholders, karyawan dan staf perusahaan, serta target publics yang lain.

Integrated marketing communications, yang didukung oleh Internet, memperkecil error dan miscommunications yang dapat menimbulkan kebingungan pelanggan. Gabungan upaya-upaya pemasaran ini membantu untuk meyakinkan target publics untuk membeli produk, menggunakan layanan atau berinvestasi.

Dalam keterkaitannya dengan globalisasi pula, terdapat sejumlah persoalan yang timbul dalam public affairs dewasa ini. Salah satunya adalah hukum dan budaya yang beraneka serta persoalan yang berhubungan dengan news media. Muncul pula tantangan untuk mencapai konsistensi citra dan policy di seluruh dunia. Dan yang tak kalah pentingnya adalah perbedaan yang mendasar pada struktur politik antar daerah dan negara.

Menghadapi situasi ini, tantangan terberat bagi praktisi PR adalah perannya sebagai pengelola dan pendamai sistem nilai, kepercayaan dan ideologi perusahaan dengan lingkungan sekitarnya. Peran ini mesti didukung oleh status PR sebagai interpreter perusahaan dan pencipta social policy yang menempatkan organizational behavior sebagai panduan. Mereka juga mempengaruhi dan men’damai’kan persepsi publik dalam konteks global.

Selain itu, peran praktisi PR saat ini, sebagai penasihat public relations, menjadikan praktisi PR untuk memfokuskan diri pada strategi komunikasi dan pemberi saran pada hal-hal yang signifikan seperti nilai-nilai dan kultur yang dianut masyarakat.

Praktisi PR harus selalu menjadi well-informed persons dengan strong sense pada riwayat dan pengetahuan akan kejadian-kejadian yang terkini. Praktisi PR juga harus mempunyai nalar yang tajam dan mempunyai wawasan kosmopolitan, dalam arti sensitif terhadap nuansa multikultural dan internasional yang /melingkupi publik perusahaan.

Berbagai ragam cara dapat ditempuh. Mempelajari bahasa asing selain bahasa Inggris, mempelajari hal-hal penting bagi perusahaan yang bermacam-macam, meningkatkan pengetahuan internasional dengan melakukan perjalanan ke luar negeri yang cukup sering, menjalin relasi dengan orang-orang dari berbagai macam kultur dan negara.

Peran Internet

Berkat teknologi, praktisi PR dapat menerima dan mengirimkan informasi lebih cepat dan mendapatkan instant response time di tingkat lokal maupun internasional. Dua puluh lima tahun yang silam, media cetak dan media visual dianggap cukup untuk mengirimkan pesan atau berita mengenai perusahaan, namun dirasa masih sangat mahal.

Lima belas tahun yang lalu, berkat adanya desktop publishing, kita bisa menerbitkan newsletter walaupun harga printing dan mailing masih relatif mahal. Sekarang, berkat internet, kita bisa melakukan apa saja yang berkaitan dengan upaya berhubungan dengan publik melalui e-mails dengan sistem global, voice mail, situs perusahaan, dan worldwide video conferencing network.

Internet memberikan sederet keuntungan bagi praktisi PR. untuk menciptakan peluang menghadirkan pelanggan-pelanggan tanpa harus disaring terlebih dahulu, menyeleksi sendiri informasi-informasi yang penting, meningkatkan two-way communications melalui kemudahan memberikan dan menerima feedback, memfokuskan pada more active information-seeking publics.

Dengan menggunakan jasa Internet, praktisi PR harus juga menjadi synthesizer. Ia bisa menciptakan homepage dan menyempurnakannya setiap hari, membuat iklan, mendesain brosur, menaruh cerita-cerita yang relevan dengan perkembangan bisnis perusahaan, menulis ceramah, mengkoordinasikan event atau seminar, merencanakan dan menjalankan sales meeting.

Efektifitas & Komitmen

Praktisi PR juga harus mempunyai cara berpikir dan memecahkan masalah yang unik dan efektif. Terdapat beberapa langkah untuk meningkatkan efektivitas kegiatan PR, diantaranya adalah mengadakan kontak yang lebih efektif dengan the right customers, menyampaikanpesan-pesan utama yang relevan dan konsisten, serta mengindentifikasi apa saja tentang perusahaan yang ingin didengar oleh pelanggan.

Hal lain yang tidak boleh ditinggalkan adalah mengatur proses komunikasi dengan menggabungkan dan mengkoordinasikan pesan-pesan marketing, produksi, customer service dan distribusi.

Komitmen merupakan prasyarat menuju suksesnya PR yang harus dipahami diantarangnya adalah komitmen terhadap usaha-usaha yang berlandaskan etika, komitmen terhadap teknologi komunikas, komitmen terhadap perkembangan profesionalitas, serta kemampuan untuk menciptakan “interconnectedness”, di mana perusahaan sebagai bagian dari ekosistem bisnis harus mengembangkan kerja sama dengan kompetitor, supplier, dan pelanggan.

PR merupakan representatif perusahaan baik bagi media, pelanggan, community leaders, atau government officials. PR harus mempunyai kemampuan untuk membuat major impact dalam lingkungan bisnis. Berkat teknologi dan globalisasi, PR dapat memainkan peran yang penting dalam mendefinisikan hubungan perusahaan dengan seluruh bagian dunia. PR harus memperkirakan dan mempertimbangkan perubahan-perubahan yang digerakkan oleh teknologi dan globalisasi dalam komunikasi, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri mereka sebagai komunikator yang handal dan profesional.

< A.B. Susanto, Bisnis Indonesia>

 

 

 

 

Seni Propaganda: 7 Taktik Untuk Mempengaruhi Perilaku


Propaganda diciptakan untuk mempengaruhi pikiran dan perilaku orang, dengan tujuan menghasilkan respon yang memenuhi sasaran pelaku propaganda. Politikus, media, dan pemerintah sering menggunakan propaganda untuk memperoleh dukungan atas kebijakan yang dikeluarkan.

LECTURE RESUME’S – Propaganda memiliki banyak kesamaan dengan pemasaran (marketing) atau periklanan (advertising), terutama dalam hal pesan yang dibuat secara khusus dan selektif untuk mendorong/menggugah emosi penerima pesan (recipient).

Cara ini juga dapat anda terapkan untuk kepentingan promosional.

Bukan berarti bahwa anda menipu konsumen atau pembaca dengan memberikan fakta dan informasi palsu yang menyesatkan, namun metode propaganda ini berguna untuk mengkondisikan kampanye pemasaran dalam frame yang menarik minat audien anda.

Pada tahun 1939, Institute for Propaganda Analysis di New York menerbitkan artikel tentang tujuh alat propaganda.

Propaganda dan Masalah Atensi

Internet adalah jaringan informasi yang sangat besar. Terlalu banyak informasi untuk dikonsumsi, sementara terlalu sedikit waktu yang tersedia. Pengguna internet belajar untuk menyaring pengalaman berinternet mereka dengan menggunakan mesin pencari (search engine), RSS feed, dan situs-situs social media. Mencari informasi atau hiburan dengan memonitor berbagai saluran.

Anda mungkin sudah berlangganan sejumlah blog dan pengumpan (feed) informasi dengan topik tertentu. Jumlah konten yang sedemikian banyak berujung pada terpecahnya perhatian (atensi). Publisher blog dan marketer serta pelaku e-business harus mengatasi masalah information overload ini.

Although few studies have looked at this topic, it seems fair to suggest that many people respond to this pressure [of information overload] by processing messages more quickly and, when possible, by taking mental short-cuts.

Propagandists love short-cuts — particularly those which short-circuit rational thought. They encourage this by agitating emotions, by exploiting insecurities, by capitalizing on the ambiguity of language, and by bending the rules of logic.

Dari tujuh teknik yang akan dijelaskan di bawah, kebanyakan menekankan penggunaan picu emosi (emotional triggers) untuk mendorong dilakukannya tindakan segera. Tujuannya untuk menghubungkan audien dengan pesan dalam waktu yang singkat secara mendalam, yaitu dengan cara mengasosiasikan pesan tersebut dengan nilai-nilai (values) dan konsep yang dimiliki audien.

Bernice Fitz-Gibbon, seorang pionir dalam dunia retail advertising mengatakan; «A good ad should be like a good sermon: It must not only comfort the afflicted, it also must afflict the comfortable.»

Tujuh Teknik Propaganda

Studi propaganda telah mengalami perkembangan pesat sejak awal abad ke-20. Ketujuh teknik propaganda ini adalah model awal propaganda dan tidak terlalu komprehensif, meski demikian model awal ini akan memberi anda pengenalan tentang bagaimana propaganda dapat berperan dalam lingkungan sosial.

Saya tuliskan deskripsi singkat untuk masing-masing teknik tapi sengaja tidak mencantumkan tentang bagaimana anda dapat menggunakannya untuk kampanye pemasaran/branding yang anda upayakan, karena sebetulnya tidak sulit untuk mengadopsi taktik ini dan menerapkannya sendiri.

 

Beberapa metode seperti name-calling kurang cocok untuk tujuan pemasaran, kecuali tujuan anda adalah untuk mendapat publisitas dengan membangitkan kontroversi. Namun mungkin anda bisa memanfaatkan teknik tersebut (dan semua teknik propaganda lainnya) secara lebih cerdas.

1. Name-calling

Teknik ini menggunakan kata-kata yang menghubungkan seseorang atau ide dengan konsep yang negatif. Tujuannya untuk membuat orang menolak sesuatu karena asosiasi negatif yang melekat pada orang atau ide tersebut tanpa melihat kenyataannya.

Contoh kata yang digunakan ; ‘Teroris’, ‘Nazi’, ‘Rasis‘, ‘Homo’.

Name Calling is used as a substitute for arguing the merits of an idea, belief, or proposal. It is often employed using sarcasm and ridicule in political cartoons and writing.

2. Glittering Generalities

Kebalikan dari name-calling, taktik ini menggunakan highly valued concepts dan beliefs yang membuat audien merasa positif dan mengundang tepuk tangan meriah bila di-orasikan di depan massa. Kata-kata yang digunakan biasanya bermakna rancu, namun atraktif seperti ; ‘Freedom’, ‘Honor’, ‘Love’.

Arti kata di atas bisa berbeda untuk tiap pendengar, namun teknik ini dapat berfungsi karena secara umum mempunyai konotasi positif.

When someone talks to us about democracy, we immediately think of our own definite ideas about democracy, the ideas we learned at home, at school, and in church.

Our first and natural reaction is to assume that the speaker is using the word in our sense, that he believes as we do on this important subject. This lowers our ‘sales resistance’ and makes us far less suspicious..

3. Transfer

Ini adalah teknik yang digunakan oleh pelaku propaganda untuk «memindahkan» otoritas dan penerimaan atas sesuatu yang anda hormati atau puja menjadi sesuatu yang ingin anda miliki. Cara yang digunakan yaitu dengan memproyeksikan sifat-sifat entitas, orang, atau simbol ke dalam wujud lainnya melalui asosiasi/penghubungan visual atau mental.

Hal ini menstimulasi penerima pesan/resipien untuk mengidentifikasikan dirinya dengan otoritas tersebut.

In the Transfer device, symbols are constantly used. The cross represents the Christian Church. The flag represents the nation. Cartoons like Uncle Sam represent a consensus of public opinion. Those symbols stir emotions. At their very sight, with the speed of light, is aroused the whole complex of feelings we have with respect to church or nation.

4. Testimonial

Tujuan testimonial adalah untuk menguatkan pengalaman, otoritas dan rasa hormat seseorang dan menggunakannya untuk mempromosikan sebuah produk atau hal. Testimonial memiliki daya tarik yang jauh lebih kuat terhadap emosi daripada terhadap logika, karena testimonial sejatinya memberikan pembenaran yang lemah atas suatu produk atau tindakan.

‘The Times said,’ ‘John L. Lewis said…,’ ‘Herbert Hoover said…’, ‘The President said…’, ‘My doctor said…,’ ‘Our minister said…’ Some of these Testimonials may merely give greater emphasis to a legitimate and accurate idea, a fair use of the device; others, however, may represent the sugar-coating of a distortion, a falsehood, a misunderstood notion, an anti-social suggestion…»

5. Plain Folks

Teknik di mana pelaku propaganda menempatkan dirinya sebagai orang biasa seperti halnya target audience, untuk menunjukkan kemampuannya ber-empati dan memahami kepedulian/perasaaan massa.

Pelaku menunjukkan perilaku atau menggunakan bahasa dan sikap yang menyatu dengan sudut pandang audien.

We are all familiar with candidates who campaign as political outsiders, promising to «clean out the barn» and set things straight in Washington. The political landscape is dotted with politicians who challenge a mythical «cultural elite,» presumably aligning themselves with «ordinary Americans.» As baby boomers approach their sixth decade, we are no longer shocked by the sight of politicians in denim who listen to rock n roll.

6. Card Stacking

Sebuah cara yang memanipulasi persepsi audien dengan menekankan satu sisi argumen yang memperkuat posisi anda, sambil di sisi lain menekan/meminimalisir opini yang bertentangan. Contohnya memperbandingkan best possible scenarios dengan worse examples.

Assume a newspaper editor were in favor of the non-enforcement of immigration laws. Should the issue of immigration law enforcement ever be debated among legislators, the editor might publish articles and editorials that ignore all mention of illegal alien criminals, gang members, and prisoners and report only on decent, hard-working foreigners instead. This sort of card stacking could go on for weeks and influence public opinion on the issue.

7. Bandwagon

Dalil dasar teknik bandwagon adalah ‘since everyone is doing it, you should too‘. Tujuannya mem-persuasi orang lain untuk mengikuti trend umum dengan cara memperkuat keinginan manusia untuk berada pada sisi yang menang. Pelaku ‘mengompori’ audien bahwa mereka akan kehilangan atau ketinggalan sesuatu bila tidak ikut bergerak dengan massa lainnya. Memanipulasi rasa takut dan rasa tidak aman.

With the aid of all the other propaganda devices, all of the artifices of flattery are used to harness the fears and hatreds, prejudices and biases, convictions and ideals common to a group. Thus is emotion made to push and pull us as members of a group onto a Band Wagon.

Sumber berasal dari Propaganda Critic. Lebih lengkapnya ada di sana. Tujuh teknik propaganda umum yang mungkin sudah sering anda alami dari media massa.

 

APLIKASI FILSAFAT DALAM ILMU KOMUNIKASI


Tine Silvana R*)

Media massa telah menjadi fenomena tersendiri dalam proses komunikasi massa dewasa ini bahkan ketergantungan manusia pada media massa sudah sedemikian besar. Media komunikasi massa abad ini yang tengah digandrungi masyarakat adalah televisi. Joseph Straubhaar & Robert La Rose dalam bukunya Media Now, menyatakan; the Avarege Person spend 2600 Hours per years watcing TV or listening to radio. That,s 325 eight-hourdays, a full time job. We spend another 900 hours with other media, including, newpaper, books, magazines, music, film, home video, video games and the internet, that about hours of media use – more time than we spend on anything else, including working or sleeping (straubhaar & La Rose, 2004 : 3)

Di Indonesia berdasarkan survey Ac Nielsen di tahun 1999 bahwa 61% sampai 91% masyarakat Indonesia suka menonton televisi, hasil ini lebih lanjut dijelaskan bahwa “hampir 8 dari 10 orang dewasa di kota-kota besar menonton televisi setiap hari dari 4 dari 10 orang mendengarkan radio” ( Media Indonesia, 16- Nopember 1999). Hal ini menunjukkan bahwa menonton televisi merupakan “aktivitas” utama masyarakat yang seakan tak bisa ditinggalkan. Realitas ini sebuah bukti bahwa televisi mempunyai kekuatan menghipnotis pemirsa, sehingga seolah-olah televisi telah mengalienasi seseorang dalam agenda settingnya.

Perkembangan pertelevisian di Indonesia dua tahun terakhir ini memang amat menarik, televisi-televisi swasta bermunculan melengkapi dan memperkaya TV yang sudah ada. Tercatat lebih dari 17 TV yang ada di Indonesia adalah TVRI, RCTI, SCTV, TPI, AN-TV, Indosiar, Trans-TV, Lativi, TV-7, TV Global, dan Metro TV ditambah TV-TV lokal seperti Bandung TV, STV, Padjadjaran TV dan sebagainya. Fenomena ini tentu saja menggembirakan karena idealnya masyarakat Indonesia memiliki banyak alternatif dalam memilih suguhan acara televisi.

Namun realitasnya, yang terjadi adalah stasiun-stasiun TV di Indonesia terjebak pada selera pasar karena tema acara yang disajikan hampir semua saluran TV tidak lagi beragam tetapi seragam di mana informasi yang sampai kepada publik hanya itu-itu saja tidak menyediakan banyak alternatif pilihan. Beberapa format acara TV yang sukses  di satu stasiun TV acapkali diikuti oleh TV-TV lainnya, hal ini terjadi hampir pada seluruh format acara TV baik itu berita kriminal dan bedah kasus, tayangan misteri, dangdut,  film india, telenovela, serial drama Asia, Infotainment, dan lain-lain.

Media watch mencatat bahwa selama ini atas nama mekanisme pasar, pilihan format isi pertelevisian tak pernah lepas dari pertimbangan ”tuntunan khalayak” menurut  perspektif pengelola. Berbagai program acara dibuat hanya untuk melayani kelompok budaya mayoritas yang potensial menguntungkan, sementara kelompok minoritas tersisihkan dari dunia simbolik televisi.

Ukuran televisi hanya dilihat berdasarkan rating tidak memperhatikan faktor fungsional, akibatnya ada kelompok masyarakat yang dapat menikmati berbagai stasiun TV karena berada di wilayah yang berpotensi, tapi ada masyarakat yang tak terlayani sama sekali atau menangkap acara televisi namun isinya secara kultural tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.

Keadaan ini sebelumnya terjadi juga pada negara adi kuasa seperti Amerika Serikat penelitian di negara ini menunjukkan bahwa surat kabar dan televisi mengarahkan sasaran liputan mereka terutama pada kelompok elite dan tak memperdulikan sebagian besar warga (Kovach, 2003:66) dalam pemenuhan fungsi informasi dan hiburan belakangan ini, TV-TV gencar menayangkan berita-berita yang disebut dengan infotainment. Kehadiran infotainment amat mewarnai program-program acara di televisi bahkan menempati posisi rating tertinggi yang berarti acara-acara model seperti ini amat digemari oleh masyarakat. Pengiklan pun tak urung berbondong—bondong memasang iklan pada setiap tayangannya tentu saja semakin mamacu pengelola media untuk berloma-lomba membuat heboh acara infotainment yang dikemasnya.

Dipelopori oleh tayangan kabar-kabari lima tahun silam di RCTI, saat ini tidak kurang dari 50 judul acara serupa muncul menyebar di semua stasiun TV termasuk TVRI bahkan Metro TV. Semua format yang tampil mengatasnamakan infotainment sebagai penggabungan dari kata ”Information’ dan Entertainment’ (Informasi dan Hiburan) wujudnya merupakan paket tayangan informasi yang dikemas dalam bentuk hiburan & informasi yang menghibur.

Jika kita cermati tampaknya tayangan-tayangan infotainment yang mengklaim sebagai sebuah produk jurnalisme seringkali berorientasi bukan pada efek yang  timbul dalam masyarakat tetapi produk komersial tersebut apakah mampu terjual dan mempunyai nilai ekonomis atau tidak, sehingga tidak memperhatikan apa manfaatnya bagi pemirsa ketika menginformasikan adegan ”syur” Mayangsari – Bambang Soeharto, exploitasi kawin cerai para selebritis, konflik, gaya hidup, serta kebohongan publik yang kerap digembar-gemborkan oleh kalangan selebritis.

Fenomena ini menandakan satu permasalahan di dalam kehidupan nilai-nilai ”filosofis” televisi di Indonesia. Televisi Indonesia semakin hari semakin memperlihatkan kecenderungan mencampuradukan berita dan hiburan melalui format tayangan ”infotainment”. Kebergunaan berita menjadi berkurang bahkan menyimpang. Hal ini disebabkan di antaranya oleh tekanan pasar yang makin meningkat.

1.  Kerangka Teoritis

Louis O. Katsoff dalam bukunya ”Elements of Philosophy” menyatakan  bahwa kegiatan filsafat merupakan perenungan, yaitu suatu jenis pemikiran yang meliputi kegiatan meragukan segala sesuatu, mengajukan pertanyaan, menghubungkan gagasan yang satu dengan gagasan yang lainnya, menanyakan ”mengapa”’ mencari jawaban yang lebih baik ketimbang jawaban pada pandangan mata. Filsafat sebagai perenungan mengusahakan kejelasan, keutuhan, dan keadaan memadainya pengetahuan agar dapat diperoleh pemahaman. Tujuan filsafat adalah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan ini. Menemukan hakekatnya, dan menerbitkan serta mengatur semuanya itu dalam bentuk yang sistematik. Filsafat membawa kita kepada pemahaman & pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak. Tiga bidang kajian filsafat ilmu adalah epistemologis, ontologis, dan oksiologis. Ketiga bidang filsafat ini merupakan pilar utama bangunan filsafat.

Epistemologi: merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode, dan batasan pengetahuan manusia yang bersangkutan dengan kriteria bagi penilaian terhadap kebenaran dan kepalsuan. Epistemologi pada dasarnya adalah cara bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh  dalam prosesnya menggunakan metode ilmiah. Medode adalah tata cara dari suatu kegiatan berdasarkan perencanaan yang matang & mapan, sistematis & logis.

Ontologi: adalah cabang filsafat mengenai sifat (wujud) atau lebih sempit lagi sifat fenomena yang ingin kita ketahui. Dalam ilmu pengetahuan sosial ontologi terutama berkaitan dengan sifat interaksi sosial. Menurut  Stephen Litle John, ontologi adalah mengerjakan terjadinya pengetahuan dari sebuah gagasan kita tentang realitas. Bagi ilmu sosial ontologi memiliki keluasan eksistensi kemanusiaan.

Aksiologis: adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan nilai seperti etika, estetika, atau agama. Litle John menyebutkan bahwa aksiologis, merupakan bidang kajian filosofis yang membahas value (nilai-nilai) Litle John mengistilahkan kajian menelusuri tiga asumsi dasar teori ini adalah dengan nama metatori. Metatori adalah bahan spesifik pelbagai teori seperti tentang apa yang diobservasi, bagaimana observasi dilakukan dan apa bentuk teorinya. ”Metatori adalah teori tentang teori” pelbagai kajian metatori yang berkembang sejak 1970 –an mengajukan berbagai metode dan teori, berdasarkan perkembangan paradigma sosial. Membahas hal-hal seperti bagaimana sebuah knowledge itu (epistemologi) berkembang. Sampai sejauh manakah eksistensinya (ontologi) perkembangannya dan bagaimanakah kegunaan nilai-nilainya (aksiologis) bagi kehidupan sosial. Pembahasan ; Berita infotainment dalam kajian filosofis. Kajian ini akan meneropong lingkup persoalan di dalam disiplin jurnalisme, sebagai sebuah bahasan dari keilmuan komunikasi, yang telah mengalami degradasi bias tertentu dari sisi epistemologis, ontologis bahkan aksiologisnya terutama dalam penyajian berita infotainment di televisi.

2.  Kajian Aspek Epistemologis:

Dalam berita hal terpenting adalah fakta. Pada titik yang paling inti dalam setiap pesannya pelaporan jurnalisme mesti membawa muatan fakta. Setiap kepingan informasi mengimplikasikan realitas peristiwa kemasyatakatan. Tiap pesan menjadi netral dari kemungkinan buruk penafsiran subyektif yang tak berkaitan dengan kepentingan–kepentingan kebutuhan masyarakat. Charnley (1965 : 22.30) mengungkapkan kunci standardisasi bahasa penulisan yang memakai pendekatan ketepatan pelaporan faktualisasi peristiwa, yaitu akurat, seimbang, obyektif, jelas dan singkat serta mengandung waktu kekinian. Hal-hal ini merupakan tolok ukur dari ”The Quality of News” dan menjadi pedoman yang mengondisikan kerja wartawan di dalam mendekati peristiwa berita & membantu upaya tatkala mengumpulkan & mereportase berita. Secara epistemologis cara-cara memperoleh fakta ilmiah yang menjadi landasan filosofis sebuah berita infotainment yang akan ditampilkan berdasarkan perencanaan yang matang, mapan, sistematis & logis.

3.  Kajian Aspek Ontologis

Dalam kajian berita infotainment ini bahasan secara ontologis tertuju pada keberadaan berita infotainment dalam ruang publik. Fenomena tentang berita infotainment bukan gejala baru di dunia jurnalisme. Pada abad 19, pernah berkembang jurnalisme yang berusaha mendapatkan audiensnya dengan mengandalkan berita kriminalitas yang sensasional, skandal seks, hal-hal, yang menegangkan dan pemujaan kaum selebritis ditandai dengan reputasi James Callender lewat pembeberan petualangan seks, para pendiri Amerika Serikat, Alexande Hamilton & Thomas Jeferson merupakan karya elaborasi antara fakta dan desus-desus. Tahun itu pula merupakan masa kejayaan William Rudolf Hearst dan Joseph Pulitzer yang dianggap sebagai dewa-dewa ”Jurnalisme kuning.”

Fenomena jurnalisme infotainment kembali mencuat ketika terjadi berita hebohnya perselingkuhan Presiden Amerika ”Bill Clinton- Lewinsky”. Sejak saat itu seakan telah menjadi karakteristik pada banyak jaringan TV di dunia. Di Indonesia, fenomena ini juga bukan terbilang baru. Sejak zaman  Harmoko (Menteri Penerangan pada saat itu) banyak surat kabar–surat kabar kuning muncul & diwarnai dengan antusias masyarakat. Bahkan ketika Arswendo Atmowiloto menerbitkan Monitor semakin membuat semarak ”Jurnalisme kuning di Indonesia”. Pasca Orde Baru ketika kebebasan pers dibuka lebar-lebar semakin banyak media baru bermunculan, ada yang memiliki kualitas tetapi ada juga yang mengabaikan kualitas dengan mengandalkan sensasional, gosip, skandal dan lain-lain. Ketika tayangan Cek & Ricek dan Kabar Kabari berhasil di RCTI, TV lainnya juga ikut-ikut menayangkan acara gosip. Dari sinilah cikal bakal infotainment marak di TV kita. Fenomena infotainment merupakan hal yang tidak bisa terhindarkan dari dunia jurnalisme kita. Pada realitasnya ini banyak disukai oleh masyarakat dengan bukti rating tinggi (public share tinggi)

4.  Kajian pada aspek aksiologis

Secara aksiologis kegunaan berita infotainment dititik beratkan kepada hiburan. Pengelola acara ini menarik audiens hanya dengan menyajikan tontonan yang enak dilihat sebagai sebuah strategi bisnis jurnalisme. Hal ini akan berdampak pada menundanya selera dan harapan sejumlah orang terhadap sesuatu yang lain. Ketika etika infotainment telah salah langkah mencoba untuk ”menyaingkan” antara berita & hiburan. Padahal nilai dan daya pikat berita itu berbeda, infotainment pada gilirannya akan membentuk audiens yang dangkal karena terbangun atas bentuk bukan substansi.

Pengelola media melalui berita infotainment terkadang tidak lagi mempertimbangkan moral sebagai pengontrol langkah mereka sehingga begitu mengabaikan kepentingan masyarakat.Hal itulah yang terjadi dengan berita infotainment di Indonesia, beberapa kaidah yang semestinya dijalankan malah diabaikan demi kepentingan mengejar rating dan meraup keuntungan dari pemasang iklan.

*) Dosen pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

DAFTAR PUSTAKA

Andersen., Kenneth E., 1972, Introduction to Communication Theory and Practice, Philippines: Cumming Publ Company.

Anshari., Endang Saefuddin, 1991. Ilmu Filsafat dan Agama, PT. Bina Ilmu, Surabaya.

Asante., Molefi Kete, 1989, Handbook of International and Intercultural Communication, California: sage Publ Inc.

Bagus., Lorens, 1991, Metafisika, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Berger., Charles R., 1987, Handbook of Communication Science, California: Sage publ Inc.

Cobley., Paul, 1996, The Communication Theory Reader, London: Routledge.

DeFleur., Melvin L., 1985, Understanding Mass Communication, Boston: Houghton Mifflin Company.

Effendy., Onong Uchjana, 2000, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi,  Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

Fisher., B. Aubrey, 1987, Interpersonal Communication: Pragmatics of Human Relation 2 nd ed., McGraw-Hill

Little John., Stephen W., 1996, Theories of Human Communication, Ohio: Charles E. Merril Company

Muhadjir., Noeng, 1998, Filsafat Ilmu Telaah Sistematis Fungsional Komparatif,  Rake Sarasin, Yogyakarta

Mulyana., Deddy, 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya,  PT. Rosdakarya, Bandung

Mulyana., Deddy, 2001, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar,  PT. Rosdakarya, Bandung

Poerwadarminta., W.J.S, 1985, Kamus Umum Bahasa Indonesia,  PN. Balai Pustaka, Jakarta

Susanto., Astrid S, 1976, Filsafat Komunikasi,  Penerbit Binacipta, Bandung.

Suriasumantri, Jujun S, 1985, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer,  Penerbit Sinar Harapan, Jakarta

Syam., Nina Winangsih, Rekonstruksi Ilmu Komunikasi Perspektif Pohon Komunikasi dan Pergeseran Paradigma Komunikasi Pembangunan Dalam Era Globalisasi. Pidato Pengukuhan Guru Besar Dalam Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran pada tanggal 11 Septe

Public Relations dan Organisasi


Arti dari Public relations adalah menambah nilai untuk pasar dan kebijakan publik sebab dialog terbuka memberikan masyarakat peluang untuk berpartisipasi dan juga saksi dalam diskusi.

Esensi dari Public relations adalah menambah nilai kepada masyarakat ketika menolong masyarakat untuk mempelajari dan mengevaluasi produk-produk yang memenuhi kebutuhan dan keinginan sebagai konsumen.

Misi dari jauh, adalah memanggungkan gagasan besar. Lebih jauh, adalah untuk mencari cara baru untuk mempresentasikan suatu gagasan sehingga bisa mengkomunikasikan pesan yang persuasif. Untuk memperoleh konsep kreatif yang brilian akan mecakup proses yang disebut langkah kreatif. Sementara itu, agar muncul dengan gagasan besar, maka para komunikator harus bergerak di luar keamanan dari pernyataan yang strategis.

Landasan dari setiap kegiatan public relations adalah  kreatifitas. Faktor ini sering dilupakan oleh banyak  praktisi public relations. Tanpa kreatifitas, maka sulit untuk perusahaan –perusahaan akan mampu berkomunikasi dengan stakeholders. Dalam hal ini, kita bisa melihat bagaimana perusahaan-perusahaan global melakukan berbagai aktifitas public relations yang semuanya merupakan  kegiatan yang baru, inovatif, menarik, dan segar. Ini pula yang menjadi alasan mengapa mereka setiap mendapat tempat dihati stakehholders.

Beberapa sasaran etika dalam public relations antara lain adalah menjamin bahwa tiap organisasi berkomunikasi secara jujur agar memiliki kredibilitas, selain itu, organisasi harus terbuka dan konsisten dalam semua tindakannya agar mempunyai kepercayaan masyarakat. Kekuatan dari etika terdapat lima prinsip (yang disebut` 5P). Kelima prinsip tersebut adalah tujuan (purpose), kebanggaan (pride), Kesabaran (Patience), terus menerus (Persistence)  dan perspektif (Prespective).

Dalam  hal ini, tujuan adalah misi perusahaan yang harus dikomunikasikan dari manajemen puncak. Sedangkan kebanggaan, artinya tiap individu yang ada dalam suatu perusahaan harus bangga terhadap tempatnya bekerja sehingga selalu menjaga etika dalam bekerja. Sementara itu, dengan sabar menjaga nilai-nilai etika maka dalam jangka panjang akan membawa keberhasilan. Tentu saja diperlakukan komitmen terus menerus dari setiap individu dalam menjalankan prinsip-prinsip etika.

Akan halnya public relations berkualitas, tiga organisasi public relations seperti IPRA (Internasional Public Relations Association), CERP (Confederation Europeenne des Relations Publiques), dan ICO (international Committee of Public Relations Consultancies Associations) telah menandatangani `the Helsinki Charter ` pada 18 Juni 1997.

Dalam kesepakatan tersebut disebutkan bahwa kualitas dalam public relations adalah totalitas dan karakteristika serta ciri pelayanan public relations yang terletak pada kemampuan untuk memuaskan kebutuhan baik dinyatakan atau implikasinya sesuai dengan standar profesional.

Dalam ruang lingkup proses ada enam hal yang harus ada dalam pelayanan public relations berkualitas. Sementara kualitas dalam proses public relations adalah soal pengelolaan produksi suatu jasa. Diantara enam hal tersebut mencakup pengarahan, proposal, penelitian dan perencanaan, dokumentasi, dan evaluasi. Dimulai dari pengarahan dari suatu pihak ke pihak lain, seperti dari klien ke konsultan, sampai pelaksanaan, dan akhirnya evaluasi, merupakan suatu rangkaian yang tidak boleh dilewati. Evaluasi harus dilaksanakan secara indenpenden oleh kedua belah pihak. Dengan evaluasi diharapkan pelaksanaan kegiatan berikutnya akan lebih baik.

Untuk mendemonstrasikan akuntabilitas dari profesi public relations maka jalurnya adalah memalui riset. Riset dalam public relation sangat signifikan terutama dalam membuat peta dan posisi perusahaan dibandingkan dengan pesaing selain itu, efisiensi dan efektivitas bisa dijaga melalui riset.

Bahkan riset dalam publik relations sebetulnya merupakan radar bagi perusahaan sehingga ada sistem peringatan dini terutama jika ada persoalan serius terhadap reputasi perusahaan

Manfaat dari riset dalam public relations tidak hanya untuk mendukung perencanaan dari program public relations juga untuk perencanaan dari strategis bisnis secara keseluruhah. Melalui riset dapat diredefisinikan arah strategis dari perencanaan bisnis.

Untuk mendukung ini maka para praktisi public relations harus sanggup menilai kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman atau (SWOT)

Setelah analisa SWOT lengkap maka langkah berikutnya adalah dengan mengindentifikasikan stakeholdes yang penting serta menentukan urutannya. Bahkan akan sangat baik jika para stakeholders tersebut disegmentasikan berdasarkan perilakunya. Data semacam ini bisa dijadikan suatu basis data (business database).

Jenis riset yang terutama adalah riset kualitatif dan riset kuantitatif. Beberapa  jenis riset kualtitatif yang kerap dipakai dalam public relations adalah focus group discussion (FGD), wawancara mendalam, dan observasi etnografi.

Sementara riset kuantitatif akan mencakup survei telepon, survei melalui surat, survei e-mail, dan studi omnibus. Tiap riset ini memiliki kekuatan dan kelemahan sendiri dan manfaatnya juga khusus.

Dalam praktek-praktek public relation di negara-negara maju, opini public bahkan dapat “ diciptakan’ atau ‘dipengaruhi’. Kegiatan semacam ini kemudian diukur hasilnya melalui polling pendapat. Walaupun aktifitas ini pada awalnya dilakukan dalam bidang politik. Belakang dimanfaatkan  oleh dunia bisnis.

Untuk membentuk opini publik di perlukan suatu strategis yang tepat. Tiap kasus akan memerlukan strategi tersendiri untuk membentuk opini publik. Sementara, reaksi yang timbul harus selalu diobservasi, karena bagaimanapun keadaan lapangan bisa menyebabkan perubahan taktik yang sudah disiapkan.

Tugas untuk menerjemahkan konsep dasar serta arah suatu perusahaan sistem nilai, misi, visi dan  strategi ke dalam sasaran jangka panjang yang spesifikasi sering kali merupakan tantangan yang menarik namun sulit. Strategis bisnis, merupakan kerangka dasar bagi suatu perusahaan untuk mencapai sasaran yang dikehendaki, termasuk di dalamnya strategi public relations.

Pada intinya, manfaat dari suatu strategi bisnis adalah untuk :

  1. Agar tetap fokus pada masa depan sebagaimana halnya pada masa sekarang.
  2. Memperkuat prinsip-prinsip yang terdapat dalam misi dan visi perusahaan.
  3. Mendorong terjadinya lintas fungsi perencanaan dan komunikasi.
  4. Memprioritaskan dalam pemakaian sumber daya perusahaan
  5. Menjadi jembatan untuk proses perencanaan taktis jangka pendek.
  6. Merangsang manajemen perusahaan untuk melihat perencanaan dari aspek makro, akan, selalu mengingatkan kepada inti sasaran, sehingga dapat merupakan sumbangan dalam pencapaian tujuan.

Komponen dari strategi bisnis mencakup :

  1. Kunci ruang lingkup strategis; akan membantu untuk menentukan posisi yang dikehendaki perusahaan. Misalnya fokus dalam finansial, bisa berarti pertumbuhan dalam penjualan.
  2. Analisis isu kristis; akan merupakan penggambaran peluang & ancaman eksternal serta kekuatan & keterbatasan internal, yang mempunyai dampak besar dalam mengimplementasikan strategi.
  3. Sasaran jangka panjang; merupakan posisi yang dikehendaki pada waktu tertentu di masa mendatang.
  4. Perencanan kegiatan strategis; akan mengidentifikasi langkah-langkah utama yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran jangka panjang.

Sejauh ini publisitas disebut sebagai puncak gunung es dari kegiatan public relations. Hubungan dengan media akan menghasilkan publisitas. Sebagai konsekuensinya, hubungan dengan media (media relations) merupakan salah satu fase terpenting dari proses public relations. Hal ini disebabkan karena media merupakan hasil yang paling  nyata dari program public relations.

Tindakan pertama dalam mengembangkan hubungan dengan media secara efektif adalah mengidentifikasikan media yang menjadi sarana. Tahapan berikutnya, adalah menentukan pesan yang akan disampaikan melalui media yang telah dipilih. Informasi yang harus disampaikan kepada media cetak, bisa berupa data perusahaan seperti susunan pengurus, sejarah perusahaan, laporan keuangan atau proyek baru. Foto akan merupakan sumber informasi penting bagi media apabila jika memiliki narasi sehingga bisa menjadi foto berita.

Membina hubungan pribadi terkadang di perlukan asal berjalan terus secara wajar. Walaupun terjadi fluktuasi dalam intensitas pertemuan, jangan sekali-kali memutuskan hubungan. Perusahaan dengan media saling memerlukan – hubungannya “simbiose mutualistis”. Press release tetap harus eksis bahkan dirasakan makin populer. Salah satu penyebabnya adalah di temukannya manfaat baru dari press release. Bagi praktisi public relations, aturannya sama dengan mengidentifikasi khalayak sasarannya.

Apakah anda sudah memikirkan strategi untuk mengkonsumsikan berita buruk yang menimpa perusahaan anda ?

Tangga informasi :

  • Saya mengambil tindakan karena keyakinan saya.
  • Saya mengadopsi keyakinan tentang dunia.
  • Saya membuat kesimpulan.
  • Saya memakai asumsi berdasarkan arti yang saya tambahkan.
  • Saya menambahkan arti, cultural dan pribadi.
  • Saya memilih data dari apa yang saya obsevasi.
  • Data yang bisa diobservasi (sebagaimana direkam oleh video)

Dalam public relations sebaiknya dicegah pernyataan `no comment`. Karena dengan `no comment` berarti memutus komunikasi. Transparansi menjadi hilang. Melakukan ralat tidak dilarang. Ada syaratnya,  yaitu sejauh mana kredibilitas yang meralat informasi. Ketimbang meralat informasi padahal opini sudah berbentuk, akan lebih baik mengikuti prinsip ` pikir itu pelita hati`.

Strategi meningkatkan citra

  1. Komunikasi transparan dengan karyawan sehingga mereka mengerti dan mendukung perusahaan.
  2. Bekerja sama dengan pihak lain dalam industri sejenis untuk memperbaiki stabilitas di dalam pasar.
  3. Solusi terbaik untuk kepentingan konsumen dalam jangka panjang.

Tips untuk menangkis rumor :

  • Beraksi secepat mungkin dan mengaktifkan  rencana manajemen krisis yang dimiliki perusahaan.
  • Usahakan pemunculan CEO atau Chairman perusahaan untuk muncul dalam waktu singkat.
  • Beritahukanlah kepada media massa sebanyak mungkin, tetapi hanya berupa fakta yang diketahui.
  • Menyiapkan latar belakang informasi bagi media massa.
    1. Berikan solusi dan simpati kepada masyarakat yang menjadi korban
    2. Mengadakan konferensi pers dalam waktu singkat agar rumor tidak berkembang lebih lanjut.
    3. CEO atau Chairman harus muncul pada konferensi pers. Hindari terlalu banyak informasi yang teknis, namun transparansi tetap harus dijaga.

Budaya perusahaan seringkali didefinisikan sebagai sistem umum dari peraturan-peraturan yang memberikan arti dalam perusahaan. Sementara identitas perusahaan diartikan sebagai konsensus tentang ` siapa kita sebagai suatu organisasi’.

Diagnosa tentang identitas perusahaan mencakup analisis bagian yang nyata (produk simbolis) dan bagian  tersembunyi (imaginaire) dari suatu perusahaan. Oleh karena produk simbolis bisa diobservasi, pendekatannya bisa secara etnografis. Namun, pendekatan ini memerlukan kesabaran, kemampuan yang mantap untuk melakukan obsevasi, dan waktu yang lama.

Pengelolaan budaya dalam perusahaan (cultural governance) tidak bisa diserahkan kepada departemen sumber daya manusia. Tanggung jawab dari pengelolaan budaya yang ada pada pimpinan puncak perusahaan (CEO), manajemen, senior, dan direksi. Implementasi dari pengelolaan budaya harus dilaksanakan bersama dengan departemen sumber daya manusia, legal, dan  komunikasi perusahaan.

Untuk itu, sebagai langkah pertama adalah melakukan audit cultural governance, sejauh mana budaya perusahaan diartikulasikan dan dipahami, dan kaitanya dengan kepatuhan terhadap peraturan dan undang-undanga yang berlaku. Tahap berikutnya adalah membuat cultural governancemen sebagai prioritas.

Cara lain adalah dengan menciptakan dan mengimplementasikan pelatihan etika. Juga harus dibuat kredo perusahaan yang dipahami oleh semua karyawan. Setelah tahapan ini, maka langkah berikutnya dengan secara rutin mengadakan diskusi tentang budaya perusahaan langkah ini harus dilengkapi dengan tahap terakhir yaitu melakukan komunikasi intensif dengan statkeholders agar mereka tahu apa dan mengapa dari semua kebijakan dan program perusahaan.

Reputasi perusahaan adalah aset yang tidak nyata (intangible asset). Akan tetapi pada dasarnya bagian terpenting dari reputasi perusahaan adalah kepribadian (keadaan sebenarnya dari perusahaan), identitas (apa yang disampaikan oleh perusahaan), dan citra (bagaimana masyarakat melihatnya). Eksistensi dari kesenjangan diantara ketiga fase ini akan menciptakan masalah. Oleh karena itu debat tentang faktor apa yang paling berpengaruh dalam bentuk reputasi sangat penting.

Dalam mengelola reputasi, faktor yang harus diperhatikan antara lain adalah perubahnya situasi dan kondisi lingkungan.

Hal lain yang juga penting adalah sejauh mana ke cenderungan perusahaan untuk mengikuti strategi yang menjembatani. Dalam hal ini arah perusahaan akan ke strategi menjembatani jika perkembangan lingkungan bisnis dianggap merupakan ancaman terhadap perusahaan. Apalagi jika budaya perusahaan didominisasi oleh pengambilan keputusan secara partisipatif.

Apa yang mempengaruhi Reputasi ?

Ada dua faktor yang mempengaruhi kemampuan perusahaan  untuk mencapai nilai dari reputasi. Di satu sisi, stategi perusahaan yang mencakup diferensiasi dan diversifikasi. Sedangkan disisi lain, praktek-praktek korporasi dalam membentuk identitas dan pembuatan citra juga.

Pembentukan Identitas Korporasi

Identitas korporasi merupakan sesuatu yang sangat penting bagi perusahaan karena menggambarkan konsep dari kontituen internal perusahaan yang antara lain mencakup manajer dan karyawan.

Reputasi korporasi adalah persepsi yang ada pada mereka di luar perusahaan dan di dalam perusahaan. Untuk memperoleh reputasi yang positif dan kuat menyaratkan pada manajer untuk melakukan investasi dalam membangun dan mempertahankan hubungan baik dengan para kontituen perusahaan.

Dalam hal ini harus diukur dan dipantau apa yang dilakukan perusahaan dengan empat konstituen utama : karyawan, investor, konsumen dan masyarakat. Takaran untuk kegiatan ini adalah dalam jangka panjang, karena reputasi yang lebih baik  akan menghasilkan manfaat nyata seperti harga premium untuk produk, biaya rendah untuk modal  dan tenaga kerja, perbaikan loyalitas karyawan. Ruang gerak yang lebih luas dalam pengambilan keputusan, dan terpelihara itikad baik pada saat krisis.

Dari sisi konsumen, yang dikehendaki oleh para perusahaan adalah konsisten, artinya, apa yang diinformasikan oleh perusahaan harus benar, konsumen mengaharapkan agar kualitas produk bagus dan konsisten dibandingkan dengan produk pesaing. Dampak reputasi terhadap konsumen paling kuat dirasakan pada sektor jasa, dengan sulitnya memberikan penilaian dalam kualitas.

Identitas Koporasi

Nama penting karena mempunyai nilai psikologis. Bagi perusahaan, identitas korporasi menguraikan kumpulan nilai, prinsip-prinsip karyawan dan manajer yang terkait. Idealnya, para karyawan suatu perusahaan harus merasa memiliki nilai-nilai yang terkandung dalam suatu identitas korporasi. Kalau belum, maka dengan program terencana, nilai-nilai dan identitas korporasi harus dimasyarakatkan. Dengan cara ini, perusahaan akan kuat karena secara internal di dukung kuat.

Dari sudut public relations, opini publik yang tidak baik terhadap suatu perusahaan akan berakibat buruk bagi perusahaan tersebut. Reputasi perusahaan dengan sendirinya akan mengalami degradasi. Oleh karena itu harus diadakan perubahan agar reputasinya membaik dengan opini yang positif.

Ada empat metode perubahan yang bisa dipakai oleh perusahaan. Pertama adalah metode teknologi yang berhubungan dengan proses produksi atau bahan baku. Kedua. Adalah metode struktural yang mencakup kekuasaan, fungsi, atau hubungan kerja. Ketiga sistem evaluasi dan penghargaan, serta sistem pengontrol dan informasi adalah contoh-contoh dari metode manajerial. Sementara dalam metode yang keempat, sumber daya manusia bisa diseleksi, dilatih kembali, dipindahkan diganti, atau bahkan diberhentikan.

Membangun Merk Korporasi

Beberapa alasan yang mendorong pentingnya merek korporasi antara lain adalah makin mengglobalkanya komunikasi bisnis, makin meluasnya pemakaian merek dagang, merek, dan logo, serta konsumen global yang mobilitasnya tinggi. Selain itu, faktor pendorong lainnya adalah komunikasi yang main membaik, seperti televisi, internet, dan telepon.

Pada hakekatnya PR dan Public Affairs adalah kegiatan mengantisipasi, berusaha melihat kejadian apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Juga untuk melihat kecenderungan dan isu yang bisa berkembang sehingga merusak hubungan yang penting.

Di sini dibutuhkan suatu perencanaan yang matang dengan dasar informasi yang akurat. Sejauh mana kerusakan yang ditimbulkan oleh krisis tersebut. Diperlukan pula perencanaan jangka panjang dan kemampuan mengukur kemajuan yang di peroleh dalam merestorasikan perusahaan.

Pada hakekatnya perencanaan terhadapa krisis tidak terlalu sulit jika sudah ada keputusan untuk menyiapkan diri. Tahapan-tahapan dari persiapan antara lain mencakup :

  1. analisis kemungkinan terjadinya masalah.
  2. menyiapkan perencanaan
  3. menyeleksi staf
  4. menyiapkan fasilitas komunikasi.
  5. pelatihan staf
  6. simulasi

Untuk mengubah krisis menjadi peluang di perlukan persiapan yang sangat matang, termasuk peningkatan kemampuan staf. Sementara itu, implementasi dari rencana yang seharus di desain dengan baik. Faktor lain yang tidak boleh di lupakan adalah strategi untuk menangani media massa dengan baik.  Bagaimanapun, setiap perencanaan krisis harus terus menerus di reevaluasi dan dikaji sehingga perusahaan selalu siap menghadapi krisis yang muncul tidak terduga.

Jika semua pendekatan gagal, tidak jarang para pengusaha dan birokrat kemudian menjaga jarak dan menyalahkan pihak lain, terutama masyarakat yang masih marah. Cara ini disebut “the block and-blame”, agak kasar, dan cenderung cuci tangan. Pokoknya diri sendiri benar, yang lain salah. “The slash and burn”, cara yang emosional, karena hendak memakai semua “senjata” yang dimiliki, padahal ada cara lain yang lebih efisien.

Pendekatan yang cocok, “the mutual gains appoach”, untuk kepentingan kedua belah pihak, berusaha berinteraksi dengan masyarakat sebagai suatu yang beranekaragam, negoisasinya mengandung isu yang beranekaragam pula.

Manajemen Krisis :

Suatu Krisis didefinisikan oleh berbagai aspek dari suatu situasi, ia mencakup :

  1. Suatu ancaman
  2. Tekanan waktu, yang berarti para pengambil keputusan harus bekerja dengan cepat untuk mengulangi situasi.

Bagi para Paraktisi Public relations, strategi terhadap berbagai respon terhadap isu Ajinomoto beberapa waktu yang lalu adalah negoisasi (masyarakat yang aktif), intervensi (masyarakat yang terlibat), pendidikan (masyarakat yang sadar dan tahu), dan pencegahan (masyarakat yang tidak aktif).  Bahkan bisa saja dipakai berbagai strategi untuk sesuatu isu jika ternyata ada beberapa respon dari masyarakat.

Isu memiliki daur hidup melalui beberapa tahapan. Tahap pertama bisa dilihat adanya isu potensial. Isu tentang keamanan suatu obat cocok dalam tahap ini, namun demikian, terkadang isu tersebut kurang subtansinya untuk menilai intervensi eksternal.

Pada tahap kedua akan muncul isu yang memaksa perusahaan untuk menerimanya, pada tahap ini masih mudah untuk diintervensi dan memainkan peran proaktif dalam menjaga atau mengeksploitasi isu.

Pada tahap ketiga isunya sudah matang dan menjadi sangat potensial .Saat ini sulit untuk dipengaruhi sebab menjadi sangat nyata. Baru pada tahap kelima muncul saat krisis ketika isunya menjadi subjek penilaian peraturan formal. Sedangkan pada tahap kelima dilakukan mencari solusinya. Mengingat pentingnya permasalahan ini maka para eksekutif harus memahami daur hidup isu, sehingga bisa bertindak dengan cepat dan tepat.

Fungsi utama dari investor relations antara lain adalah :

  1. Mempromosikan reputasi dan kredibilitas perusahaan.
  2. Membuat hubungan komunikasi yang mantap dengan media bisnis dan finansial.
  3. Mengidentifikasi dan memperluas basis pemegang saham perusahaan.
  4. Memperbaiki komunikasi internal perusahaan

Suatu perusahaan publik harus menentukan kunci dari pesan yang akan disampaikan para investor. Pesan ini bisa disampaikan dalam bentuk newsletter yang terbit triwulan, laporan tengah tahun, laporan tahunan, pertemuan-pertemuan rutin berupa” breakfast meeting” “ Lunch meeting” atau “dinner meeting”.

Komunikasi lintas budaya harus mencakup :

  • Memahami harapan  dari masyarakat.
  • Memilih saluran komunikasi yang tepat.
  • Mengidentifikasi gaya yang tepat.
  • Mengartikulasi pesan secara sensitif
  • Mengenal nilai-nilai lokal tempat anda bekerja.

Chek List komunikasi lintas budaya :

  1. Apakah yang menjadi dimensi budaya dari masyarakat ?
  2. Bagaimana ini direfleksikan pada perilaku masyakat, gaya dan nilai organisasi ?
  3. Apa dampak  yang saya inginkan ?
  4. Budaya apa yang cocok untuk saya bekerja ?
  5. Apakah objyektif sasaran komunikasi saya relevan realistis dan tepat secara budaya ?
  6. Apakah pesan-pesan yang akan saya inginkan dapat di terjemahkan secara budaya?
  7. Apakah saluran komunikasi yang tepat untuk budaya dimana saya bekerja ?
  8. Bagaimana saya mengukur sukses ?

Survei telah mengidentifikasikan walaupun ada optimisme, komunikasi masih jauh dari ideal sebelum manajer senior memberikannya dan para praktisi memperoleh  apa yang mereka inginkan, dan diantara pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain :

  1. Apa yang merupakan komitmen manajemen senior terhadap komunikasi internal ?
  2. Apakah manfaat secara strategis, dan bagaimana caranya di ekspresikan ?
  3. Apa yang diharapkan dapat diberikan oleh komunikasi internal, dan bagaimana ia akan membentuk sesuatu yang baru dalam perusahaan ?
  4. Apakah komunikasi internal terkait dengan perencanaan bisnis ?
  5. Seberapa besar efektivitas para profesional dalam komunikasi internal ?
  6. Langkah-langkah apa yang harus dilakukan agar tujuan dan potensi dari komunikasi internal dimengerti oleh seluruh jajaran di pers?
  7. Apakah yang harus ada dalam komunikasi internal ?
  8. Apa yang merupakan media yang paling komunikatif ?

Melihat kepada pertanyaan – pertanyaan tersebut diatas bagaimana komunikasi internal di perusahaan anda ? Termasuk media komunikasi internalnya ?

Dua Tips untuk survei :

  1. Jika anda melaksanakan survei tertulis batasi jumlah pertanyaan yang harus diisi oleh para perserta, dengan cara ini anda akan meningkatkan respon. Suatu penelitian akan meningkatkan 2 kali lebih besar jumlah respondennya jika hanya memiliki 2 pertanyaan yang harus dimiliki dari 30 pertanyaan.
  2. Ketika anda melakukan survei tentang produk / jasa, tanyakanlah kepada responden apa yang mereka senangi dari produk/jasa itu. Dengan cara ini anda akan menggaris bawahi apa yang disenangi masyarakat juga membantu para manajer perusahaan dalam tugasnya.

“Benchmarking” bisa bersifat kuantitatif atau kualitatif. Dalam kaitan ini secara kuantitatif yang seringkali disebut  cara metrik akan mengindikasikan bagaimana proses komunikasi internal dalam suatu periode dibandingkan dengan  periode sebelumnya.

Obyektif dari “benchmarking” adalah untuk mendorong munculnya pandangan yang obyektif  tentang proses, sistem dan praktek suatu komunikasi internal. Selain itu dapat memberikan data obyektif untuk memperbaiki metode operasional. Bahkan bisa juga untuk menghilangkan halangan terhadap perubahan.

Untuk mengajak karyawan berpartisipasi aktif ada beberapa tahapan yang merupakan persyaratan. Pertama adalah bahwa komunikasi merupakan bagian dari proses manajemen. Artinya, dalam tahap perencanaan komunikasi untuk mengelola perubahan, manajemen perusahaan harus memikirkan adanya hambatan dalam mencapai apa yang mereka  inginkan. Agar proses komunikasinya lancar ada yang bertanggung jawab dalam fungsi ini.

Faktor  yang lain adalah keharusan bagi manajemen perusahaan untuk membentuk komite pengarah implementasi fungsi komite ini adalah menghasilkan stategi dan bukan sekadar teknik-teknik komunikasi. Untuk  itu, para anggota komite ini harus yang sudah mempunyai jam terbang yang panjang agar dapat mendesain strategi komunikasi untuk mengelola perubahan.

Pendekatan terbaru dalam perencanaan komunikasi dikenal sebagai 5 R. dalam hal ini, 5 R (responsiveness, relevance, receptivity, recognition, dan relationships) memang harus menjadi pertimbangan utama, sebagai contoh adalah kemampuan memberikan respon (responsiveness). Artinya, seberapa jauh dan efektivitas suatu organisasi bisa merespon keinginan dan harapan dari konsumen. Pada umumnya, organisasi atau perusahaan tidak siap untuk  merespon yang cepat. Bahkan mereka terorganisasikan untuk berbicara, bukan untuk mendengarkan, padahal dalam pasar yang interaktif kemampuan merespon sangat penting.

Faktor lain adalah relevansi (relevance) yang berurusan dengan sejauh mana relevansi suatu program komunikasi, ini menjadi isu utama ketika konsumen diharapkan atau  di dorong untuk mengakses komunikasi. Komunikasi akan  makin relevan bagi khalayak yang menjadi sasaran, sehingga  mereka cenderung untuk mengaksesnya.

Tantangan bagi para komunikator saat ini adalah ketersediaan atau kemudian diakses ketika konsumen ingin  menerima informasi, tidak sekedar ketika seorang komunikator ingin berkomunikasi. Oleh karena itu tantangan saat ini dalam berkomunikasi adalah pada saat konseumen ingin membeli, bukan saat penjual ingin menjual. Faktor ini dikenal sebagai penerimaan (receptivity).

Faktor lain adalah pengenalan (recognition). Bukan  hanya merek, tetapi juga perusahaan menjadi sangat penting dalam interaksi di pasar. Sebagaimana halnya merek, maka  perusahaan bisa memberikan kepercayaan dan pengetahuan. mengenali masalah ini disyaratkan bagi setiap komunikator. Sementara itu membina hubungan di pasar dasarnya adalah hubungan baik (relationships) untuk berbagai bila antara penjual dan pembeli.

Setiap manajemen proyek selalu jelas dalam mendefinisikan obyektifnya. Ini telah diakronimkan  menjasi ’SMART’, yang berarti spesifik (Specific), bisa dikukur (Measurable), disetujui (Agreed), realitis (Realistic), dan  ketepatan waktu (Timed)

Bagaimana menangani konflik. Untuk mengatasi konflik diantara anggota tim anda :

  • Tanyakan kepada mereka yang tidak setuju untuk mengarisbawahi komentar orang lain. Ini bisa menolong mereka belajar jika mereka ingin memahami orang lain.
  • Laksanakanlah suatu kompromi menyetujui sumber konflik, kemudian terlibat dalam “ give-and-take”, serta akhirnya setuju kepada suatu solusi.
  • Mintalah tiap anggota untuk menyerahkan daftar apa yang harus di kerjakan orang lain. Pertukaran daftar tadi, tempuhlah kompromi yang bisa disetujui oleh setiap orang.  Serta ujilah untuk melihat apakah cocok dengan sasaran tim.
  • Intruksikanlah tiap kelompok untuk menulis 10 pertanyaan untuk kelompok lawan mereka. Ini akan menyebabkan mereka mampu memberikan sinyal-sinyal kepada lawan mereka tentang apa yang mereka pikirkan. Jawabannya bisa mengarah kepada kompromi.
  • Yakinlah para anggota tim  bahwa kadang-kadang mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka berbuat salah.
  • Tolonglah mereka agar jangan hilang muka, dengan menyakinkan mereka bahwa mengubah posisi bisa mengambarkan kekuatan.
  • Hargailah para pakar dalam tim. Berikanlah opini mereka dengan nilai lebih, ketika konflik mengikut sertakan pengalaman mereka, tetapi jangan “mentorpedo” opini-opini yang berlawanan.

Media komunikasi internal dapat berfungsi sebagai perekat antara manajemen perusahaan dengan  karyawan pada suatu perusahaan. Begitu dahsyatnya dampak media komunikasi internal, dapat dipakai untuk membangun budaya perusahaan tersebut.

Pemakaian identitas korporasi akan menyangkut biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, aplikasinya harus terarah dan efisien. Biasanya identitasnya korporasi dipakai pada : 1).  Kartu nama 2). Amplop dan kertas surat 3). Iklan 4). Kendaraan pengangkut perusahaan 5) media komunikasi 6). Kalender dan agenda 7). Brosur & laporan keuangan 8). Asesori.

Pendekatan yang tepat adalah dengan melakukan riset seperti ‘ Focus Group  Discussion’ (FGD) yang  dikombinasikan dengan berbagai metode riset lainnya seperti survei kuesioner melalui surat, survei telepon, dan jajak pendapat langsung.

Dari hasil pemetaan ini akan diketahui kebutuhan dan keinginan konstituen terhadap perusahaan. Dengan mengimplementasikan berbagai macam komunikasi ke berbagai konstituen, maka hasilnya akan sangat positif bagi perusahaan terutama dengan umpan balik dari konstituen

Ada enam elemen yang memainkan peranan penting dalam aktivitas kreativitas, yang merupakan kunci untuk memperkaya dan mempromosikan kreativitas perusahaan. Walaupun tidak mungkin untuk memperkirakan perbaikan spesifikasi dan inovasi yang akan mengikutinya  mereka akan mungkin muncul ketika perusahaan mempromosikan dan mendorong enam hal : menyejajarkan, kegiatan yang diawali sendiri, kegiatan tidak resmi, kesanggupan mencari sesuatu tanpa sengaja, stimulasi yang beragam, dan koumunikasi dalam perusahaan.

Masalah kreativitas teramat penting dalam public relations. Dalam konteks ini diperlukan orang-orang yang kreatif dalam melaksanakan kegiatan public relations. Bagaimanapun, public relations adalah ilmu sosial yang banyak  dipengaruhi oleh seni, ketimbang metode.

Selain itu di perlukan sensitifitas yang tinggi untuk memahami keinginan keinginan stakeholders dari perusahaan. Namun demikian, harus selalu dicatat bahwa dalam perusahaan  boleh jadi akan muncul sesuatu yang tidak diharapkan, tetapi dengan kreativitas tinggi, solusinya akan ditemukan.

Tiap perusahaan produksi akan menjadi perusahaan terkait harus mulai dengan menekankan permintaan konsumen terlebih dahulu. Kalau sudah tidak dilakukan, maka perubahan harus memahami preferensi konsumen. Kebutuhan laten konsumen, dan kebutuhan yang tidak diekspresikan. Sebagai respons awal terhadap tiga permintaan tersebut, maka perubahan harus mengolah dan mengkonfigurasikan dalam cara-cara baru.

Memahami saya, lima faktor yang harus dikuasai adalah pengetahuan pengetahuan tentang konsumen, strategi, saluran distribusi, hingga hubungan dan kompensasi. Sedangkan dalam hal kemudahan bagi konsumen perusahaan memerlukan organisasi, operasional dan dukungan saluran distribusi. Dalam hal ini lebih dari sekadar produk yang dibeli, maka aspek-aspeknya akan mencakup interaksi, desain, merek dagang, dan ukuran.

Pendekatan proses manajemen akan mengikutisertakan semua kegiatan yang tidak mumpunyai pengaruh langsung kepada persepsi terhadap perusahaan atau produk-produknya. Semua titik temu dengan konsumen konsumen harus dikelola sesuai dengan konsep.

Beberapa contoh antara lain kemasan, seragam karyawan dan armada truk pengangkut. Sebagai konsekuesi logis, pendekatan ini tidak meletakkan fungsi komunikasi khusus pada pusat perhatian. Komunikasi pemaran terintegrasi semacam ini dilihat sebagai orkesta yang terdiri dari banyak instrumen berbeda, namun dimainkan secara bersama.

Struktur organisasi adalah hambatan utama untuk  mengimplementasikan komunikasi pemasaran terintergrasi. Repotnya lagi hambatan ini sulit untuk disingkirkan bagitu saja, sebagai contoh, dengan adanya pemisahan personil yang bertanggungjawab untuk periklanan, public relations atau pensponsor, integrasi makin sulit.

Elemen dasar dari starategi komunikasi pemasaran terintegrasi adalah posisi yang strategis, kejelasan sasaran dan  tersedianya instrumen untuk komunikasi, selain itu, di perlukan petunjuk tertulis untuk komunikasi seperti platform komunikasi, peraturan untuk komunikasi dan sasaran yang jelas untuk tiap kegiatan komunikasi.

Intisiatif pendelegasian wewenang seringkali gagal sebab tidak ada saluran komunikasi dua arah yang efektif antara konsumen dan kolegan. Selain itu tidak ada fokus yang jelas dalamupaya memperkuat kinerja secara terus menerus.

Jalan keluar untuk ini adalah perlunya suatu perbaikan secara terus menerus. Dalam kaitan ini, audit kinerja merupakan titik awal untuk program komunikasi internal dan eksternal secara dua arah.

Tujuannya mendukung upaya memperkuat kinerja secara terus menerus. Suatu komunikasi umpan balik memberikan masukan kepada program untuk menyelesaikan kinerja komunikasi dengan kebutuhan konsumen.

Penelitian Brown dan Dacin (salah satu perusahaan yang dikenal konsumen sebagai asosiasi korporasi) menyimpulkan bahwa :

  1. Apa yang konsumen ketahui tentang perusahaan  dapat mempengaruhi keyakinan dan sikap mereka terhadap produk baru yang dihasilkan perusahaan.
  2. Kemampuan perusahaan dan tanggung jawab sosial perusahaan boleh jadi milik dampak berbeda terhadap respon konsumen terhadap suatu produk.
  3. Produk suatu perusahaan dengan asosiasi negatif tidak selalu menghasilkan respon negatif.

Sistem menajemen hubungan dengan konsumen (customer relation-ship manajemen), bukan sekadar pemasaran dan inisiatif pelayanana konsumen. Keberhasilannya  tergantung kepada perpanjangan upaya jauh kedalam  organisasi itu sendiri.

Secara struktur harus diusahakan jangan sampai memunculkan masalah. Oleh karena biasanya departemen teknologi informasi dan pemasaran tidak sama dalam budaya kerja dan orientasinya, harus diupayakan agar gelombang kerjasama.

Dari sisi lain, konsep pendekatkan hubungan dengan konsumen adalah untuk konsumen senang. Dalam hal ini yang diharapkan konsumen adalah tukaran konsistensi (mengeliminasi yang jelek) dengan pemenuhan  kebutuhan dengan sempurna. Ini adalah tantangan bagi para pemasar.

Pendapatan perusahaan akan bertambah tidak dengan menjual lebih banyak produk, tetapi dengan memperbesar jumlah pengeluaran konsumen. Kesuksesan perusahaan adalah dengan memaksimalkan pengeluaran  konsumen pada biaya yang serendah mungkin dengan menitikberatkan pada :

  1. Pertambahan waktu belanja, bahkan kalau mungkin menjadi konsumen seumur hidup.
  2. Jumlah yang dibelanjakan.
  3. Ruang lingkup belanja, misalnya dengan menambah pendapatan dari sumber nilai baru.
  4. Keanekaragaman belanja, misalnya perusahaan yang melayani pasien ginjal juga menjual penyakit terkait.

Saat ini, semua yang tradisional sudah hilang. Setiap orang dan siapa saja dapat membuka bisnis internet. Dalam pasar yang tidak memiliki hambatan dan tidak ada nilai, merek menjadi satu-satunya kegiatan untuk memperkuat reputasi yang dapat dilakukan oleh penjual dan dipercaya paembeli.

Jadi, dari sudut pandang ini, mereka penting kedua belah pihak. Untuk penjual. Ia merupakan satu-satunya faktor perbedaan. Bagi pembeli, merek bisa menjadi satu-satunya cara untuk memilh satu nilai dari berbagai alternatif.

Ia akan menjadi model bisnis yang tidak mempunyai bisnis manufaktur atau atau finansial atau fasilitas distribusi, tetapi tergantung kepada informasi, pengetahuan dan komunikasi.

Secara sederhana, melalui mereka maka suatu produk atau jasa akan dikenal. Bahkan ada merek yang lebih terkenal dari perusahaannya. Barangkali swatch termasuk kelompok ini karena nama perusahaannya tidak dikenal.

Mengenalkan nama perusahaan sebagai strategi membina citra, bahkan dianggap sebagai merek, kelihatannya merupakan strategi.

Yang menjadi sasaran adalan membuat dan mengikatkan loyalitas para konsumen. Dalam soal merek, terkandung pula soal reputasi atau kredibilitas perusahaan. Tengok saja perusahaan kelas dunia seperti Mercedes-Benz, P&G, J&J, Toyota, Acer dan LG.

Merek memang memegang peran penting dalam menciptakan keunggulan bersaing suatu produk atau jasa. Begitu dahsyatnya suatu merek dapat dilihat dari perusahaan seperti Nike berkomunikasi dengan khalayaknya yang sangat beraneka ragam dengan berbagai pesan-pesan, toh Nike masih mampu mempertahankan hubungannga dalam waktu lama. Jika pesan-pesan tersebut tidak identik satu sama lainnya.

Kunci dari pada yang dilakukan oleh Nike adalah kepribadian merek (brand personality). Para pakar komunikasi terintegrasi sepakat bahwa kepribadian merek didefinisikan terintegrasi sepakat bahwa kepribadian mereka didefisikan sebagai kumpulan unik dari karakteristik manusia dan kualitas manusia yang terkait kepada suatu merk sehingga Nike sendiri memiliki empat nilai yang harus dimiliki dan dilaksanakan oleh para karyawannya. Keempat nilai tersebut adalah : otentik, komitmen, inovasi dan kerja sama. Justru semangat para karyawanlah yang telah mampu mengangkat Nike.

Suatu produk adalah kumpulan dari karakteristika fisik dan psikologis. Disain dan bentuk dari suatu produk adalah proposisi akan menunjukan yang sebenarnya bisa diberikan dari suatu produk.

Dari sisi lain, kemasan memegang peranan penting karena merupakan alat yang dipakai untuk mempresentasikan produk itu sendiri. Inipun masih didukung oleh pelayanan purna jual, yang memang sangat diperlukan oleh konsumen. Proposisi psikologi mewakili identitas dan prestise. Akhirnya, proposisi simbolis berkaitan dengan perusahaannya. Inilah yang disebut nilai suatu produk. Oleh karena itu sebagai solusinya harus dibangun merek yang kuat, yang mampu mengkomunikasikan segala sesuatu dengan basis identitas merek. Dengan cara ini merek suatu produk atau jasa akan dihargai oleh konsumen karena berhasil. Mengkomunikasikan merek perlu perilaku sosial perusahaannya. Tantangannya kemudian adalah sejauh mana perusahaan tersebut bisa menjadikan mereknya menjadi ‘super brand’.

Merek boleh disebut sebagai jiwa suatu produk. Artinya  merek akan merefleksikan nilai yang ada pada suatu produk.

Persaingan Bisnis Televisi

Diawali dengan diizinkannya televisi swasta RCTI, dunia pertelevisian mulai bersaing hingga saat ini untuk merebut pangsa pasar. Ada yang bergerak khusus dengan memberikan pelayanan khusus hingga penayangan siaran televisi asing yang jaman dulu harus menggunakan parabola. Dengan berbagai pendekatan terutama agar lebih dekat dengan pemirsanya seperti dengan cara menyuguhkan acara yang memikat diiringi dengan munculnya banyak iklan.

Strategi yang harus dipertimbangkan dalam memenangkan persaingan adalah menentukan posisi dan tempat yang tepat bagi teve swasta itu sendiri yang erat kaitannya dengan segmentasi dari masing-masing teve. Fokus pada fakta serta memperbanyak alternatif untuk mencapai teve yang lebih dekat dengan pemirsa, jangan reaktif terhadap preferensi pemirsanya salah satunya dengan cara mengelola ritme yang memanfaatkan momentum.

Sumber :

Ima Hardiman, Karier Public Relations, Penerbit Gagas Ulung, Jakarta, 2007.

Frida Kusumastuti,  Dasar-dasar Humas, Ghalia-UMM, Bogor, 2004

Strategi Public Relations


Definisi

Arti dari Public relations adalah menambah nilai untuk pasar dan kebijakan publik sebab dialog terbuka memberikan masyarakat peluang untuk berpartisipasi dan juga saksi dalam diskusi.

Esensi dari Public relations adalah menambah nilai kepada masyarakat ketika menolong masyarakat untuk mempelajari dan mengevaluasi produk-produk yang memenuhi kebutuhan dan keinginan sebagai konsumen.

Misi dari jauh, adalah memanggungkan gagasan besar. Lebih jauh, adalah untuk mencari cara baru untuk mempresentasikan suatu gagasan sehingga bisa mengkomunikasikan pesan yang persuasif. Untuk memperoleh konsep kreatif yang brilian akan mecakup proses yang disebut langkah kreatif. Sementara itu, agar muncul dengan gagasan besar, maka para komunikator harus bergerak di luar keamanan dari pernyataan yang strategis.

Landasan dari setiap kegiatan public relations adalah  kreatifitas. Faktor ini sering dilupakan oleh banyak  praktisi public relations. Tanpa kreatifitas, maka sulit untuk perusahaan –perusahaan akan mampu berkomunikasi dengan stakeholders. Dalam hal ini, kita bisa melihat bagaimana perusahaan-perusahaan global melakukan berbagai aktifitas public relations yang semuanya merupakan  kegiatan yang baru, inovatif, menarik, dan segar. Ini pula yang menjadi alasan mengapa mereka setiap mendapat tempat dihati stakehholders.

Beberapa sasaran etika dalam public relations antara lain adalah menjamin bahwa tiap organisasi berkomunikasi secara jujur agar memiliki kredibilitas, selain itu, organisasi harus terbuka dan konsisten dalam semua tindakannya agar mempunyai kepercayaan masyarakat.

Kekuatan dari etika terdapat lima prinsip (yang disebut` 5P). Kelima prinsip tersebut adalah tujuan (purpose), kebanggaan (pride), Kesabaran (Patience), terus menerus (Persistence)  dan perspektif (Prespective).

Dalam  hal ini, tujuan adalah misi perusahaan yang harus dikomunikasikan dari manajemen puncak. Sedangkan kebanggaan, artinya tiap individu yang ada dalam suatu perusahaan harus bangga terhadap tempatnya bekerja sehingga selalu menjaga etika dalam bekerja. Sementara itu, dengan sabar menjaga nilai-nilai etika maka dalam jangka panjang akan membawa keberhasilan. Tentu saja diperlakukan komitmen terus menerus dari setiap individu dalam menjalankan prinsip-prinsip etika.

Akan halnya public relations berkualitas, tiga organisasi public relations seperti IPRA (Internasional Public Relations Association), CERP (Confederation Europeenne des Relations Publiques), dan ICO (international Committee of Public Relations Consultancies Associations) telah menandatangani `the Helsinki Charter ` pada 18 Juni 1997.

Dalam kesepakatan tersebut disebutkan bahwa kualitas dalam public relations adalah totalitas dan karakteristika serta ciri pelayanan public relations yang terletak pada kemampuan untuk memuaskan kebutuhan baik dinyatakan atau implikasinya sesuai dengan standar profesional.

Dalam ruang lingkup proses ada enam hal yang harus ada dalam pelayanan public relations berkualitas. Sementara kualitas dalam proses public relations adalah soal pengelolaan produksi suatu jasa. Diantara enam hal tersebut mencakup pengarahan, proposal, penelitian dan perencanaan, dokumentasi, dan evaluasi. Dimulai dari pengarahan dari suatu pihak ke pihak lain, seperti dari klien ke konsultan, sampai pelaksanaan, dan akhirnya evaluasi, merupakan suatu rangkaian yang tidak boleh dilewati. Evaluasi harus dilaksanakan secara indenpenden oleh kedua belah pihak. Dengan evaluasi diharapkan pelaksanaan kegiatan berikutnya akan lebih baik.

Untuk mendemonstrasikan akuntabilitas dari profesi public relations maka jalurnya adalah memalui riset. Riset dalam public relation sangat signifikan terutama dalam membuat peta dan posisi perusahaan dibandingkan dengan pesaing selain itu, efisiensi dan efektivitas bisa dijaga melalui riset.

Bahkan riset dalam publik relations sebetulnya merupakan radar bagi perusahaan sehingga ada sistem peringatan dini terutama jika ada persoalan serius terhadap reputasi perusahaan

Manfaat dari riset dalam public relations tidak hanya untuk mendukung perencanaan dari program public relations juga untuk perencanaan dari strategis bisnis secara keseluruhah. Melalui riset dapat diredefisinikan arah strategis dari perencanaan bisnis.

Untuk mendukung ini maka para praktisi public relations harus sanggup menilai kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman atau (SWOT)

Setelah analisa SWOT lengkap maka langkah berikutnya adalah dengan mengindentifikasikan stakeholdes yang penting serta menentukan urutannya. Bahkan akan sangat baik jika para stakeholders tersebut disegmentasikan berdasarkan perilakunya. Data semacam ini bisa dijadikan suatu basis data (business database).

Jenis riset yang terutama adalah riset kualitatif dan riset kuantitatif. Beberapa  jenis riset kualtitatif yang kerap dipakai dalam public relations adalah focus group discussion (FGD), wawancara mendalam, dan observasi etnografi.

Sementara riset kuantitatif akan mencakup survei telepon, survei melalui surat, survei e-mail, dan studi omnibus. Tiap riset ini memiliki kekuatan dan kelemahan sendiri dan manfaatnya juga khusus.

Dalam praktek-praktek public relation di negara-negara maju, opini public bahkan dapat “ diciptakan’ atau ‘dipengaruhi’. Kegiatan semacam ini kemudian diukur hasilnya melalui polling pendapat. Walaupun aktifitas ini pada awalnya dilakukan dalam bidang politik. Belakang dimanfaatkan  oleh dunia bisnis.

Untuk membentuk opini publik di perlukan suatu strategis yang tepat. Tiap kasus akan memerlukan strategi tersendiri untuk membentuk opini publik. Sementara, reaksi yang timbul harus selalu diobservasi, karena bagaimanapun keadaan lapangan bisa menyebabkan perubahan taktik yang sudah disiapkan.

Tugas untuk menerjemahkan konsep dasar serta arah suatu perusahaan sistem nilai, misi, visi dan  strategi ke dalam sasaran jangka panjang yang spesifikasi sering kali merupakan tantangan yang menarik namun sulit. Strategis bisnis, merupakan kerangka dasar bagi suatu perusahaan untuk mencapai sasaran yang dikehendaki, termasuk di dalamnya strategi public relations.

Pada intinya, manfaat dari suatu strategi bisnis adalah untuk :

  1. Agar tetap fokus pada masa depan sebagaimana halnya pada masa sekarang.
  2. Memperkuat prinsip-prinsip yang terdapat dalam misi dan visi perusahaan.
  3. Mendorong terjadinya lintas fungsi perencanaan dan komunikasi.
  4. Memprioritaskan dalam pemakaian sumber daya perusahaan
  5. Menjadi jembatan untuk proses perencanaan taktis jangka pendek.
  6. Merangsang manajemen perusahaan untuk melihat perencanaan dari aspek makro, akan, selalu mengingatkan kepada inti sasaran, sehingga dapat merupakan sumbangan dalam pencapaian tujuan.

Komponen dari strategi bisnis mencakup :

  1. Kunci ruang lingkup strategis; akan membantu untuk menentukan posisi yang dikehendaki perusahaan. Misalnya fokus dalam finansial, bisa berarti pertumbuhan dalam penjualan.
  2. Analisis isu kristis; akan merupakan penggambaran peluang & ancaman eksternal serta kekuatan & keterbatasan internal, yang mempunyai dampak besar dalam mengimplementasikan strategi.
  3. Sasaran jangka panjang; merupakan posisi yang dikehendaki pada waktu tertentu di masa mendatang.
  4. Perencanan kegiatan strategis; akan mengidentifikasi langkah-langkah utama yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran jangka panjang.

Sejauh ini publisitas disebut sebagai puncak gunung es dari kegiatan public relations. Hubungan dengan media akan menghasilkan publisitas. Sebagai konsekuensinya, hubungan dengan media (media relations) merupakan salah satu fase terpenting dari proses public relations. Hal ini disebabkan karena media merupakan hasil yang paling  nyata dari program public relations.

Tindakan pertama dalam mengembangkan hubungan dengan media secara efektif adalah mengidentifikasikan media yang menjadi sarana. Tahapan berikutnya, adalah menentukan pesan yang akan disampaikan melalui media yang telah dipilih. Informasi yang harus disampaikan kepada media cetak, bisa berupa data perusahaan seperti susunan pengurus, sejarah perusahaan, laporan keuangan atau proyek baru. Foto akan merupakan sumber informasi penting bagi media apabila jika memiliki narasi sehingga bisa menjadi foto berita.

Membina hubungan pribadi terkadang di perlukan asal berjalan terus secara wajar. Walaupun terjadi fluktuasi dalam intensitas pertemuan, jangan sekali-kali memutuskan hubungan. Perusahaan dengan media saling memerlukan – hubungannya “simbiose mutualistis”. Press release tetap harus eksis bahkan dirasakan makin populer. Salah satu penyebabnya adalah di temukannya manfaat baru dari press release. Bagi praktisi public relations, aturannya sama dengan mengidentifikasi khalayak sasarannya.

Apakah anda sudah memikirkan strategi untuk mengkonsumsikan berita buruk yang menimpa perusahaan anda ?

Tangga informasi :

  • Saya mengambil tindakan karena keyakinan saya.
  • Saya mengadopsi keyakinan tentang dunia.
  • Saya membuat kesimpulan.
  • Saya memakai asumsi berdasarkan arti yang saya tambahkan.
  • Saya menambahkan arti, cultural dan pribadi.
  • Saya memilih data dari apa yang saya obsevasi.
  • Data yang bisa diobservasi (sebagaimana direkam oleh video)

Dalam public relations sebaiknya dicegah pernyataan `no comment`. Karena dengan `no comment` berarti memutus komunikasi. Transparansi menjadi hilang. Melakukan ralat tidak dilarang. Ada syaratnya,  yaitu sejauh mana kredibilitas yang meralat informasi. Ketimbang meralat informasi padahal opini sudah berbentuk, akan lebih baik mengikuti prinsip ` pikir itu pelita hati`.

Strategi meningkatkan citra

1.  Komunikasi transparan dengan karyawan sehingga mereka mengerti dan

mendukung perusahaan.

2.  Bekerja sama dengan pihak lain dalam industri sejenis untuk memperbaiki stabilitas

di dalam pasar.

3. Solusi terbaik untuk kepentingan konsumen dalam jangka panjang.

Tips untuk menangkis rumor :

  1. Beraksi secepat mungkin dan mengaktifkan  rencana manajemen krisis yang

dimiliki perusahaan.

  1. Usahakan pemunculan CEO atau Chairman perusahaan untuk muncul dalam waktu singkat.
  2. Beritahukanlah kepada media massa sebanyak mungkin, tetapi hanya berupa fakta yang diketahui.
    1. Menyiapkan latar belakang informasi bagi media massa.
    2. Berikan solusi dan simpati kepada masyarakat yang menjadi korban
  3. Mengadakan konferensi pers dalam waktu singkat agar rumor tidak berkembang lebih lanjut.
  4. CEO atau Chairman harus muncul pada konferensi pers. Hindari terlalu banyak informasi yang teknis, namun transparansi tetap harus dijaga.

Budaya perusahaan seringkali didefinisikan sebagai sistem umum dari peraturan-peraturan yang memberikan arti dalam perusahaan. Sementara identitas perusahaan diartikan sebagai konsensus tentang ` siapa kita sebagai suatu organisasi’.

Diagnosa tentang identitas perusahaan mencakup analisis bagian yang nyata (produk simbolis) dan bagian  tersembunyi (imaginaire) dari suatu perusahaan. Oleh karena produk simbolis bisa diobservasi, pendekatannya bisa secara etnografis. Namun, pendekatan ini memerlukan kesabaran, kemampuan yang mantap untuk melakukan obsevasi, dan waktu yang lama.

Pengelolaan budaya dalam perusahaan (cultural governance) tidak bisa diserahkan kepada departemen sumber daya manusia. Tanggung jawab dari pengelolaan budaya yang ada pada pimpinan puncak perusahaan (CEO), manajemen, senior, dan direksi. Implementasi dari pengelolaan budaya harus dilaksanakan bersama dengan departemen sumber daya manusia, legal, dan  komunikasi perusahaan.

Untuk itu, sebagai langkah pertama adalah melakukan audit cultural governance, sejauh mana budaya perusahaan diartikulasikan dan dipahami, dan kaitanya dengan kepatuhan terhadap peraturan dan undang-undanga yang berlaku. Tahap berikutnya adalah membuat cultural governancemen sebagai prioritas.

Cara lain adalah dengan menciptakan dan mengimplementasikan pelatihan etika. Juga harus dibuat kredo perusahaan yang dipahami oleh semua karyawan. Setelah tahapan ini, maka langkah berikutnya dengan secara rutin mengadakan diskusi tentang budaya perusahaan langkah ini harus dilengkapi dengan tahap terakhir yaitu melakukan komunikasi intensif dengan statkeholders agar mereka tahu apa dan mengapa dari semua kebijakan dan program perusahaan.

Reputasi perusahaan adalah aset yang tidak nyata (intangible asset). Akan tetapi pada dasarnya bagian terpenting dari reputasi perusahaan adalah kepribadian (keadaan sebenarnya dari perusahaan), identitas (apa yang disampaikan oleh perusahaan), dan citra (bagaimana masyarakat melihatnya). Eksistensi dari kesenjangan diantara ketiga fase ini akan menciptakan masalah. Oleh karena itu debat tentang faktor apa yang paling berpengaruh dalam bentuk reputasi sangat penting.

Dalam mengelola reputasi, faktor yang harus diperhatikan antara lain adalah perubahnya situasi dan kondisi lingkungan.

Hal lain yang juga penting adalah sejauh mana ke cenderungan perusahaan untuk mengikuti strategi yang menjembatani. Dalam hal ini arah perusahaan akan ke strategi menjembatani jika perkembangan lingkungan bisnis dianggap merupakan ancaman terhadap perusahaan. Apalagi jika budaya perusahaan didominisasi oleh pengambilan keputusan secara partisipatif.

Apa yang mempengaruhi Reputasi ?

Ada dua faktor yang mempengaruhi kemampuan perusahaan  untuk mencapai nilai dari reputasi. Di satu sisi, stategi perusahaan yang mencakup diferensiasi dan diversifikasi. Sedangkan disisi lain, praktek-praktek korporasi dalam membentuk identitas dan pembuatan citra juga.

Pembentukan Identitas Korporasi

Identitas korporasi merupakan sesuatu yang sangat penting bagi perusahaan karena menggambarkan konsep dari kontituen internal perusahaan yang antara lain mencakup manajer dan karyawan.

Reputasi korporasi adalah persepsi yang ada pada mereka di luar perusahaan dan di dalam perusahaan. Untuk memperoleh reputasi yang positif dan kuat menyaratkan pada manajer untuk melakukan investasi dalam membangun dan mempertahankan hubungan baik dengan para kontituen perusahaan. Dalam hal ini harus diukur dan dipantau apa yang dilakukan perusahaan dengan empat konstituen utama : karyawan, investor, konsumen dan masyarakat. Takaran untuk kegiatan ini adalah dalam jangka panjang, karena reputasi yang lebih baik  akan menghasilkan manfaat nyata seperti harga premium untuk produk, biaya rendah untuk modal  dan tenaga kerja, perbaikan loyalitas karyawan. Ruang gerak yang lebih luas dalam pengambilan keputusan, dan terpelihara itikad baik pada saat krisis.

Dari sisi konsumen, yang dikehendaki oleh para perusahaan adalah konsisten, artinya, apa yang diinformasikan oleh perusahaan harus benar, konsumen mengaharapkan agar kualitas produk bagus dan konsisten dibandingkan dengan produk pesaing. Dampak reputasi terhadap konsumen paling kuat dirasakan pada sektor jasa, dengan sulitnya memberikan penilaian dalam kualitas.

Identitas Koporasi

Nama penting karena mempunyai nilai psikologis. Bagi perusahaan, identitas korporasi menguraikan kumpulan nilai, prinsip-prinsip karyawan dan manajer yang terkait. Idealnya, para karyawan suatu perusahaan harus merasa memiliki nilai-nilai yang terkandung dalam suatu identitas korporasi. Kalau belum, maka dengan program terencana, nilai-nilai dan identitas korporasi harus dimasyarakatkan. Dengan cara ini, perusahaan akan kuat karena secara internal di dukung kuat.

Dari sudut public relations, opini publik yang tidak baik terhadap suatu perusahaan akan berakibat buruk bagi perusahaan tersebut. Reputasi perusahaan dengan sendirinya akan mengalami degradasi. Oleh karena itu harus diadakan perubahan agar reputasinya membaik dengan opini yang positif.

Ada empat metode perubahan yang bisa dipakai oleh perusahaan. Pertama adalah metode teknologi yang berhubungan dengan proses produksi atau bahan baku. Kedua. Adalah metode struktural yang mencakup kekuasaan, fungsi, atau hubungan kerja. Ketiga sistem evaluasi dan penghargaan, serta sistem pengontrol dan informasi adalah contoh-contoh dari metode manajerial. Sementara dalam metode yang keempat, sumber daya manusia bisa diseleksi, dilatih kembali, dipindahkan diganti, atau bahkan diberhentikan.

Membangun Merk Korporasi

Beberapa alasan yang mendorong pentingnya merek korporasi antara lain adalah makin mengglobalkanya komunikasi bisnis, makin meluasnya pemakaian merek dagang, merek, dan logo, serta konsumen global yang mobilitasnya tinggi. Selain itu, faktor pendorong lainnya adalah komunikasi yang main membaik, seperti televisi, internet, dan telepon.

Pada hakekatnya PR dan Public Affairs adalah kegiatan mengantisipasi, berusaha melihat kejadian apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Juga untuk melihat kecenderungan dan isu yang bisa berkembang sehingga merusak hubungan yang penting.

Di sini dibutuhkan suatu perencanaan yang matang dengan dasar informasi yang akurat. Sejauh mana kerusakan yang ditimbulkan oleh krisis tersebut. Diperlukan pula perencanaan jangka panjang dan kemampuan mengukur kemajuan yang di peroleh dalam merestorasikan perusahaan.

Pada hakekatnya perencanaan terhadapa krisis tidak terlalu sulit jika sudah ada keputusan untuk menyiapkan diri. Tahapan-tahapan dari persiapan antara lain mencakup :

  1. analisis kemungkinan terjadinya masalah.
  2. menyiapkan perencanaan
  3. menyeleksi staf
  4. menyiapkan fasilitas komunikasi.
  5. pelatihan staf
  6. simulasi

Untuk mengubah krisis menjadi peluang di perlukan persiapan yang sangat matang, termasuk peningkatan kemampuan staf. Sementara itu, implementasi dari rencana yang seharus di desain dengan baik. Faktor lain yang tidak boleh di lupakan adalah strategi untuk menangani media massa dengan baik.  Bagaimanapun, setiap perencanaan krisis harus terus menerus di reevaluasi dan dikaji sehingga perusahaan selalu siap menghadapi krisis yang muncul tidak terduga.

Jika semua pendekatan gagal, tidak jarang para pengusaha dan birokrat kemudian menjaga jarak dan menyalahkan pihak lain, terutama masyarakat yang masih marah. Cara ini disebut “the block and-blame”, agak kasar, dan cenderung cuci tangan. Pokoknya diri sendiri benar, yang lain salah. “The slash and burn”, cara yang emosional, karena hendak memakai semua “senjata” yang dimiliki, padahal ada cara lain yang lebih efisien.

Pendekatan yang cocok, “the mutual gains appoach”, untuk kepentingan kedua belah pihak, berusaha berinteraksi dengan masyarakat sebagai suatu yang beranekaragam, negoisasinya mengandung isu yang beranekaragam pula.

Manajemen Krisis :

Suatu Krisis didefinisikan oleh berbagai aspek dari suatu situasi, ia mencakup :

  1. Suatu ancaman
  2. Tekanan waktu, yang berarti para pengambil keputusan harus bekerja dengan cepat untuk mengulangi situasi.

Bagi para Paraktisi Public relations, strategi terhadap berbagai respon terhadap isu Ajinomoto beberapa waktu yang lalu adalah negoisasi (masyarakat yang aktif), intervensi (masyarakat yang terlibat), pendidikan (masyarakat yang sadar dan tahu), dan pencegahan (masyarakat yang tidak aktif).  Bahkan bisa saja dipakai berbagai strategi untuk sesuatu isu jika ternyata ada beberapa respon dari masyarakat.

Isu memiliki daur hidup melalui beberapa tahapan. Tahap pertama bisa dilihat adanya isu potensial. Isu tentang keamanan suatu obat cocok dalam tahap ini, namun demikian, terkadang isu tersebut kurang subtansinya untuk menilai intervensi eksternal.

Pada tahap kedua akan muncul isu yang memaksa perusahaan untuk menerimanya, pada tahap ini masih mudah untuk diintervensi dan memainkan peran proaktif dalam menjaga atau mengeksploitasi isu.

Pada tahap ketiga isunya sudah matang dan menjadi sangat potensial .Saat ini sulit untuk dipengaruhi sebab menjadi sangat nyata. Baru pada tahap kelima muncul saat krisis ketika isunya menjadi subjek penilaian peraturan formal. Sedangkan pada tahap kelima dilakukan mencari solusinya. Mengingat pentingnya permasalahan ini maka para eksekutif harus memahami daur hidup isu, sehingga bisa bertindak dengan cepat dan tepat.

Fungsi utama dari investor relations antara lain adalah :

  1. Mempromosikan reputasi dan kredibilitas perusahaan.
  2. Membuat hubungan komunikasi yang mantap dengan media bisnis dan finansial.
  3. Mengidentifikasi dan memperluas basis pemegang saham perusahaan.
  4. Memperbaiki komunikasi internal perusahaan

Suatu perusahaan publik harus menentukan kunci dari pesan yang akan disampaikan para investor. Pesan ini bisa disampaikan dalam bentuk newsletter yang terbit triwulan, laporan tengah tahun, laporan tahunan, pertemuan-pertemuan rutin berupa” breakfast meeting” “ Lunch meeting” atau “dinner meeting”.

Komunikasi lintas budaya harus mencakup :

  • Memahami harapan  dari masyarakat.
  • Memilih saluran komunikasi yang tepat.
  • Mengidentifikasi gaya yang tepat.
  • Mengartikulasi pesan secara sensitif
  • Mengenal nilai-nilai lokal tempat anda bekerja.

Chek List komunikasi lintas budaya :

  1. Apakah yang menjadi dimensi budaya dari masyarakat ?
  2. Bagaimana ini direfleksikan pada perilaku masyakat, gaya dan nilai organisasi ?
  3. Apa dampak  yang saya inginkan ?
  4. Budaya apa yang cocok untuk saya bekerja ?
  5. Apakah objyektif sasaran komunikasi saya relevan realistis dan tepat secara budaya ?
  6. Apakah pesan-pesan yang akan saya inginkan dapat di terjemahkan secara budaya?
  7. Apakah saluran komunikasi yang tepat untuk budaya dimana saya bekerja ?
  8. Bagaimana saya mengukur sukses ?

Survei telah mengidentifikasikan walaupun ada optimisme, komunikasi masih jauh dari ideal sebelum manajer senior memberikannya dan para praktisi memperoleh  apa yang mereka inginkan, dan diantara pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain :

  1. Apa yang merupakan komitmen manajemen senior terhadap komunikasi internal ?
  2. Apakah manfaat secara strategis, dan bagaimana caranya di ekspresikan ?
  3. Apa yang diharapkan dapat diberikan oleh komunikasi internal, dan bagaimana ia akan membentuk sesuatu yang baru dalam perusahaan ?
  4. Apakah komunikasi internal terkait dengan perencanaan bisnis ?
  5. Seberapa besar efektivitas para profesional dalam komunikasi internal ?
  6. Langkah-langkah apa yang harus dilakukan agar tujuan dan potensi dari komunikasi internal dimengerti oleh seluruh jajaran di pers?
  7. Apakah yang harus ada dalam komunikasi internal ?
  8. Apa yang merupakan media yang paling komunikatif ?

Melihat kepada pertanyaan – pertanyaan tersebut diatas bagaimana komunikasi internal di perusahaan anda ? Termasuk media komunikasi internalnya ?

Dua Tips untuk survei :

  1. Jika anda melaksanakan survei tertulis batasi jumlah pertanyaan yang harus diisi oleh para perserta, dengan cara ini anda akan meningkatkan respon. Suatu penelitian akan meningkatkan 2 kali lebih besar jumlah respondennya jika hanya memiliki 2 pertanyaan yang harus dimiliki dari 30 pertanyaan.
  2. Ketika anda melakukan survei tentang produk / jasa, tanyakanlah kepada responden apa yang mereka senangi dari produk/jasa itu. Dengan cara ini anda akan menggaris bawahi apa yang disenangi masyarakat juga membantu para manajer perusahaan dalam tugasnya.

“Benchmarking” bisa bersifat kuantitatif atau kualitatif. Dalam kaitan ini secara kuantitatif yang seringkali disebut  cara metrik akan mengindikasikan bagaimana proses komunikasi internal dalam suatu periode dibandingkan dengan  periode sebelumnya.

Obyektif dari “benchmarking” adalah untuk mendorong munculnya pandangan yang obyektif  tentang proses, sistem dan praktek suatu komunikasi internal. Selain itu dapat memberikan data obyektif untuk memperbaiki metode operasional. Bahkan bisa juga untuk menghilangkan halangan terhadap perubahan.

Untuk mengajak karyawan berpartisipasi aktif ada beberapa tahapan yang merupakan persyaratan. Pertama adalah bahwa komunikasi merupakan bagian dari proses manajemen. Artinya, dalam tahap perencanaan komunikasi untuk mengelola perubahan, manajemen perusahaan harus memikirkan adanya hambatan dalam mencapai apa yang mereka  inginkan. Agar proses komunikasinya lancar ada yang bertanggung jawab dalam fungsi ini.

Faktor  yang lain adalah keharusan bagi manajemen perusahaan untuk membentuk komite pengarah implementasi fungsi komite ini adalah menghasilkan stategi dan bukan sekadar teknik-teknik komunikasi. Untuk  itu, para anggota komite ini harus yang sudah mempunyai jam terbang yang panjang agar dapat mendesain strategi komunikasi untuk mengelola perubahan.

Pendekatan terbaru dalam perencanaan komunikasi dikenal sebagai 5 R. dalam hal ini, 5 R (responsiveness, relevance, receptivity, recognition, dan relationships) memang harus menjadi pertimbangan utama, sebagai contoh adalah kemampuan memberikan respon (responsiveness). Artinya, seberapa jauh dan efektivitas suatu organisasi bisa merespon keinginan dan harapan dari konsumen. Pada umumnya, organisasi atau perusahaan tidak siap untuk  merespon yang cepat. Bahkan mereka terorganisasikan untuk berbicara, bukan untuk mendengarkan, padahal dalam pasar yang interaktif kemampuan merespon sangat penting.

Faktor lain adalah relevansi (relevance) yang berurusan dengan sejauh mana relevansi suatu program komunikasi, ini menjadi isu utama ketika konsumen diharapkan atau  di dorong untuk mengakses komunikasi. Komunikasi akan  makin relevan bagi khalayak yang menjadi sasaran, sehingga  mereka cenderung untuk mengaksesnya.

Tantangan bagi para komunikator saat ini adalah ketersediaan atau kemudian diakses ketika konsumen ingin  menerima informasi, tidak sekedar ketika seorang komunikator ingin berkomunikasi. Oleh karena itu tantangan saat ini dalam berkomunikasi adalah pada saat konseumen ingin membeli, bukan saat penjual ingin menjual. Faktor ini dikenal sebagai penerimaan (receptivity).

Faktor lain adalah pengenalan (recognition). Bukan  hanya merek, tetapi juga perusahaan menjadi sangat penting dalam interaksi di pasar. Sebagaimana halnya merek, maka  perusahaan bisa memberikan kepercayaan dan pengetahuan. mengenali masalah ini disyaratkan bagi setiap komunikator. Sementara itu membina hubungan di pasar dasarnya adalah hubungan baik (relationships) untuk berbagai bila antara penjual dan pembeli.

Setiap manajemen proyek selalu jelas dalam mendefinisikan obyektifnya. Ini telah diakronimkan  menjasi ’SMART’, yang berarti spesifik (Specific), bisa dikukur (Measurable), disetujui (Agreed), realitis (Realistic), dan  ketepatan waktu (Timed)

Bagaimana menangani konflik. Untuk mengatasi konflik diantara anggota tim anda :

  • Tanyakan kepada mereka yang tidak setuju untuk mengarisbawahi komentar orang lain. Ini bisa menolong mereka belajar jika mereka ingin memahami orang lain.
  • Laksanakanlah suatu kompromi menyetujui sumber konflik, kemudian terlibat dalam “ give-and-take”, serta akhirnya setuju kepada suatu solusi.
  • Mintalah tiap anggota untuk menyerahkan daftar apa yang harus di kerjakan orang lain. Pertukaran daftar tadi, tempuhlah kompromi yang bisa disetujui oleh setiap orang.  Serta ujilah untuk melihat apakah cocok dengan sasaran tim.
  • Intruksikanlah tiap kelompok untuk menulis 10 pertanyaan untuk kelompok lawan mereka. Ini akan menyebabkan mereka mampu memberikan sinyal-sinyal kepada lawan mereka tentang apa yang mereka pikirkan. Jawabannya bisa mengarah kepada kompromi.
  • Yakinlah para anggota tim  bahwa kadang-kadang mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka berbuat salah.
  • Tolonglah mereka agar jangan hilang muka, dengan menyakinkan mereka bahwa mengubah posisi bisa mengambarkan kekuatan.
  • Hargailah para pakar dalam tim. Berikanlah opini mereka dengan nilai lebih, ketika konflik mengikut sertakan pengalaman mereka, tetapi jangan “mentorpedo” opini-opini yang berlawanan.

Media komunikasi internal dapat berfungsi sebagai perekat antara manajemen perusahaan dengan  karyawan pada suatu perusahaan. Begitu dahsyatnya dampak media komunikasi internal, dapat dipakai untuk membangun budaya perusahaan tersebut.

Pemakaian identitas korporasi akan menyangkut biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, aplikasinya harus terarah dan efisien. Biasanya identitasnya korporasi dipakai pada : 1).  Kartu nama 2). Amplop dan kertas surat 3). Iklan 4). Kendaraan pengangkut perusahaan 5) media komunikasi 6). Kalender dan agenda 7). Brosur & laporan keuangan 8). Asesori.

Pendekatan yang tepat adalah dengan melakukan riset seperti ‘ Focus Group  Discussion’ (FGD) yang  dikombinasikan dengan berbagai metode riset lainnya seperti survei kuesioner melalui surat, survei telepon, dan jajak pendapat langsung.

Dari hasil pemetaan ini akan diketahui kebutuhan dan keinginan konstituen terhadap perusahaan. Dengan mengimplementasikan berbagai macam komunikasi ke berbagai konstituen, maka hasilnya akan sangat positif bagi perusahaan terutama dengan umpan balik dari konstituen

Ada enam elemen yang memainkan peranan penting dalam aktivitas kreativitas, yang merupakan kunci untuk memperkaya dan mempromosikan kreativitas perusahaan. Walaupun tidak mungkin untuk memperkirakan perbaikan spesifikasi dan inovasi yang akan mengikutinya  mereka akan mungkin muncul ketika perusahaan mempromosikan dan mendorong enam hal : menyejajarkan, kegiatan yang diawali sendiri, kegiatan tidak resmi, kesanggupan mencari sesuatu tanpa sengaja, stimulasi yang beragam, dan koumunikasi dalam perusahaan.

Masalah kreativitas teramat penting dalam public relations. Dalam konteks ini diperlukan orang-orang yang kreatif dalam melaksanakan kegiatan public relations. Bagaimanapun, public relations adalah ilmu sosial yang banyak  dipengaruhi oleh seni, ketimbang metode.

Selain itu di perlukan sensitifitas yang tinggi untuk memahami keinginan keinginan stakeholders dari perusahaan. Namun demikian, harus selalu dicatat bahwa dalam perusahaan  boleh jadi akan muncul sesuatu yang tidak diharapkan, tetapi dengan kreativitas tinggi, solusinya akan ditemukan.

Tiap perusahaan produksi akan menjadi perusahaan terkait harus mulai dengan menekankan permintaan konsumen terlebih dahulu. Kalau sudah tidak dilakukan, maka perubahan harus memahami preferensi konsumen. Kebutuhan laten konsumen, dan kebutuhan yang tidak diekspresikan. Sebagai respons awal terhadap tiga permintaan tersebut, maka perubahan harus mengolah dan mengkonfigurasikan dalam cara-cara baru.

Memahami saya, lima faktor yang harus dikuasai adalah pengetahuan pengetahuan tentang konsumen, strategi, saluran distribusi, hingga hubungan dan kompensasi. Sedangkan dalam hal kemudahan bagi konsumen perusahaan memerlukan organisasi, operasional dan dukungan saluran distribusi. Dalam hal ini lebih dari sekadar produk yang dibeli, maka aspek-aspeknya akan mencakup interaksi, desain, merek dagang, dan ukuran.

Pendekatan proses manajemen akan mengikutisertakan semua kegiatan yang tidak mumpunyai pengaruh langsung kepada persepsi terhadap perusahaan atau produk-produknya. Semua titik temu dengan konsumen konsumen harus dikelola sesuai dengan konsep.

Beberapa contoh antara lain kemasan, seragam karyawan dan armada truk pengangkut. Sebagai konsekuesi logis, pendekatan ini tidak meletakkan fungsi komunikasi khusus pada pusat perhatian. Komunikasi pemaran terintegrasi semacam ini dilihat sebagai orkesta yang terdiri dari banyak instrumen berbeda, namun dimainkan secara bersama.

Struktur organisasi adalah hambatan utama untuk  mengimplementasikan komunikasi pemasaran terintergrasi. Repotnya lagi hambatan ini sulit untuk disingkirkan bagitu saja, sebagai contoh, dengan adanya pemisahan personil yang bertanggungjawab untuk periklanan, public relations atau pensponsor, integrasi makin sulit.

Elemen dasar dari starategi komunikasi pemasaran terintegrasi adalah posisi yang strategis, kejelasan sasaran dan  tersedianya instrumen untuk komunikasi, selain itu, di perlukan petunjuk tertulis untuk komunikasi seperti platform komunikasi, peraturan untuk komunikasi dan sasaran yang jelas untuk tiap kegiatan komunikasi.

Intisiatif pendelegasian wewenang seringkali gagal sebab tidak ada saluran komunikasi dua arah yang efektif antara konsumen dan kolegan. Selain itu tidak ada fokus yang jelas dalamupaya memperkuat kinerja secara terus menerus.

Jalan keluar untuk ini adalah perlunya suatu perbaikan secara terus menerus. Dalam kaitan ini, audit kinerja merupakan titik awal untuk program komunikasi internal dan eksternal secara dua arah.

Tujuannya mendukung upaya memperkuat kinerja secara terus menerus. Suatu komunikasi umpan balik memberikan masukan kepada program untuk menyelesaikan kinerja komunikasi dengan kebutuhan konsumen.

Penelitian Brown dan Dacin (salah satu perusahaan yang dikenal konsumen sebagai asosiasi korporasi) menyimpulkan bahwa :

  1. Apa yang konsumen ketahui tentang perusahaan  dapat mempengaruhi keyakinan dan sikap mereka terhadap produk baru yang dihasilkan perusahaan.
  2. Kemampuan perusahaan dan tanggung jawab sosial perusahaan boleh jadi milik dampak berbeda terhadap respon konsumen terhadap suatu produk.
  3. Produk suatu perusahaan dengan asosiasi negatif tidak selalu menghasilkan respon negatif.

Sistem menajemen hubungan dengan konsumen (customer relation-ship manajemen), bukan sekadar pemasaran dan inisiatif pelayanana konsumen. Keberhasilannya  tergantung kepada perpanjangan upaya jauh kedalam  organisasi itu sendiri.

Secara struktur harus diusahakan jangan sampai memunculkan masalah. Oleh karena biasanya departemen teknologi informasi dan pemasaran tidak sama dalam budaya kerja dan orientasinya, harus diupayakan agar gelombang kerjasama.

Dari sisi lain, konsep pendekatkan hubungan dengan konsumen adalah untuk konsumen senang. Dalam hal ini yang diharapkan konsumen adalah tukaran konsistensi (mengeliminasi yang jelek) dengan pemenuhan  kebutuhan dengan sempurna. Ini adalah tantangan bagi para pemasar.

Pendapatan perusahaan akan bertambah tidak dengan menjual lebih banyak produk, tetapi dengan memperbesar jumlah pengeluaran konsumen. Kesuksesan perusahaan adalah dengan memaksimalkan pengeluaran  konsumen pada biaya yang serendah mungkin dengan menitikberatkan pada :

  1. Pertambahan waktu belanja, bahkan kalau mungkin menjadi konsumen seumur hidup.
  2. Jumlah yang dibelanjakan.
  3. Ruang lingkup belanja, misalnya dengan menambah pendapatan dari sumber nilai baru.
  4. Keanekaragaman belanja, misalnya perusahaan yang melayani pasien ginjal juga menjual penyakit terkait.

Saat ini, semua yang tradisional sudah hilang. Setiap orang dan siapa saja dapat membuka bisnis internet. Dalam pasar yang tidak memiliki hambatan dan tidak ada nilai, merek menjadi satu-satunya kegiatan untuk memperkuat reputasi yang dapat dilakukan oleh penjual dan dipercaya paembeli.

Jadi, dari sudut pandang ini, mereka penting kedua belah pihak. Untuk penjual. Ia merupakan satu-satunya faktor perbedaan. Bagi pembeli, merek bisa menjadi satu-satunya cara untuk memilh satu nilai dari berbagai alternatif.

Ia akan menjadi model bisnis yang tidak mempunyai bisnis manufaktur atau atau finansial atau fasilitas distribusi, tetapi tergantung kepada informasi, pengetahuan dan komunikasi.

Secara sederhana, melalui mereka maka suatu produk atau jasa akan dikenal. Bahkan ada merek yang lebih terkenal dari perusahaannya. Barangkali swatch termasuk kelompok ini karena nama perusahaannya tidak dikenal.

Mengenalkan nama perusahaan sebagai strategi membina citra, bahkan dianggap sebagai merek, kelihatannya merupakan strategi.

Yang menjadi sasaran adalan membuat dan mengikatkan loyalitas para konsumen. Dalam soal merek, terkandung pula soal reputasi atau kredibilitas perusahaan. Tengok saja perusahaan kelas dunia seperti Mercedes-Benz, P&G, J&J, Toyota, Acer dan LG.

Merek memang memegang peran penting dalam menciptakan keunggulan bersaing suatu produk atau jasa. Begitu dahsyatnya suatu merek dapat dilihat dari perusahaan seperti Nike berkomunikasi dengan khalayaknya yang sangat beraneka ragam dengan berbagai pesan-pesan, toh Nike masih mampu mempertahankan hubungannga dalam waktu lama. Jika pesan-pesan tersebut tidak identik satu sama lainnya.

Kunci dari pada yang dilakukan oleh Nike adalah kepribadian merek (brand personality). Para pakar komunikasi terintegrasi sepakat bahwa kepribadian merek didefinisikan terintegrasi sepakat bahwa kepribadian mereka didefisikan sebagai kumpulan unik dari karakteristik manusia dan kualitas manusia yang terkait kepada suatu merk sehingga Nike sendiri memiliki empat nilai yang harus dimiliki dan dilaksanakan oleh para karyawannya. Keempat nilai tersebut adalah : otentik, komitmen, inovasi dan kerja sama. Justru semangat para karyawanlah yang telah mampu mengangkat Nike.

Suatu produk adalah kumpulan dari karakteristika fisik dan psikologis. Disain dan bentuk dari suatu produk adalah proposisi akan menunjukan yang sebenarnya bisa diberikan dari suatu produk.

Dari sisi lain, kemasan memegang peranan penting karena merupakan alat yang dipakai untuk mempresentasikan produk itu sendiri. Inipun masih didukung oleh pelayanan purna jual, yang memang sangat diperlukan oleh konsumen. Proposisi psikologi mewakili identitas dan prestise. Akhirnya, proposisi simbolis berkaitan dengan perusahaannya. Inilah yang disebut nilai suatu produk. Oleh karena itu sebagai solusinya harus dibangun merek yang kuat, yang mampu mengkomunikasikan segala sesuatu dengan basis identitas merek. Dengan cara ini merek suatu produk atau jasa akan dihargai oleh konsumen karena berhasil. Mengkomunikasikan merek perlu perilaku sosial perusahaannya. Tantangannya kemudian adalah sejauh mana perusahaan tersebut bisa menjadikan mereknya menjadi ‘super brand’.

Merek boleh disebut sebagai jiwa suatu produk. Artinya  merek akan merefleksikan nilai yang ada pada suatu produk.

Persaingan Bisnis Televisi

Diawali dengan diizinkannya televisi swasta RCTI, dunia pertelevisian mulai bersaing hingga saat ini untuk merebut pangsa pasar. Ada yang bergerak khusus dengan memberikan pelayanan khusus hingga penayangan siaran televisi asing yang jaman dulu harus menggunakan parabola. Dengan berbagai pendekatan terutama agar lebih dekat dengan pemirsanya seperti dengan cara menyuguhkan acara yang memikat diiringi dengan munculnya banyak iklan.

Strategi yang harus dipertimbangkan dalam memenangkan persaingan adalah menentukan posisi dan tempat yang tepat bagi teve swasta itu sendiri yang erat kaitannya dengan segmentasi dari masing-masing teve. Fokus pada fakta serta memperbanyak alternatif untuk mencapai teve yang lebih dekat dengan pemirsa, jangan reaktif terhadap preferensi pemirsanya salah satunya dengan cara mengelola ritme yang memanfaatkan momentum.

Eksistensi Public Relations

Public Relations di Mullenium III

Millenium III dan teknologi sangat berpengaruh terhadap public relations. Profesional PR dapat menjadi ahli di bidang teknologi komunikasi baru dan memimpin pemikiran tersebut. Atau sebaliknya, kehilangan peluang ini dan diambil oleh yang lainnya.

Makin mengglobalkan suatu merk dagang  akan membuat merk dagang tersebut dalam posisi terancam. Ini akan disebabkan oleh gerakan konsumen yang akan memanfatakan teknologi internet mengubah peranan media tradisional.

Transformasi Media

Ditandai dengan pemanfaatan internet Home Page, pencetakan interaktif dan komunikasi tanpa label berupa pemanfaatan teknologi digital merupakan keharusan untuk diikuti.

Sebagai suatu profesi, public relations sifatnya akuisitif  yang berusaha memperoleh sesuatu, oleh karena public relations dapat diaplikasikan untuk berbagai macam organisasi, maka para praktisi public relations harus belajar dari semua pihak.

Perubahan Peran Public Relations

Untuk mengebangkan public relations sangat bergantung kepada para profesionalnya sendiri. Dengan tumbuhnya ekonomi global, terbentang suatu hamparan luas untuk memajukan profesi public relations. Jika tidak sanggup memanfaatkannya maka akan dimbil alih oleh profesional lainnya.

Salah satu cara untuk mengambil peluang ini adalah dengan cara meningkatkan keterampilan masing-masing. Teknik-teknik baru dalam public realations harus mampu dipelajari dan coba dipraktekan dengan beberapa adaptasi.

Pendidikan Public Relations

Pelaksanaan strategi komunikasi, memerlukan dukungan dari departemen public relations suatu perusahaan, yaitu sumber manusianya harus disiapkan. Untuk itu program pendidikan merupakan syarat mutlak sebelum program komunikasi lainnya.

Obyektif dari pendidikan public relations adalah:

  • Pemahaman prinsip-prinsip PR
  • Peningkatan keterampilan dalam penanganan aktfitas PR
  • Pengembangan dalam manajemen PR

Suatu evaluasi kegiatan akan lebih mantap jika dilakukan melalui penelitian, baik melalui diskusi group fokus maupun penelitian lapangan.

Diskusi group fokus dipimpin oleh seorang moderator membahas citra perusahaan seperti dilihat oleh konsumen, kelompok atau masyarakat.

Sementara penelitian di lapangan dapat melalui wawancara langsung atau dengan kuesioner.

Hasil riset akan berguna untuk rancangan tahun mendatang, bahkan akan membuktikan sejauh mana perubahan persepsi masyarakat terhadap perusahaan.

PR Partai Politik dan Pemilu

Secara sepintas semua partai melakukan kegiatan promosi partainya masing-masing, namun tidak semua melakukan apa yang disebut pendekatan public relation. Bahkan yang menggunakan kegiatan public relations pun, terlihat adanya perbedaan yang cukup bervariasi dalam kualitasnya.

Suatu hal yang bisa dipastikan adalah tidak mudah untuk menentukan stakeholders suatu partai. Masalah ini bertambah repot dengan adanya masa yang mengambang dan kelompok remaja yang baru saja memilih.

Masalah lain yang harus dijaga dari segi public relations adalah keharusan untuk menjaga kode etik. Jangan lupa bahwa berkampanye pada dasarnya adalah berkomunikasi. Sedangkan komunikasi itu sendiri merupakan prinsip dasar dari public relations mengenal kode etik.

Dalam kaitan ini, kejujuran, tranparansi dan mengemukakan apa adanya harus dijadikan basis dalam kampanye pemilu. Sayangnya dalam berpolitik selalu menghalalkan berbagai cara. Hal ini merupakan suatau tantangan para praktisi public relations untuk memperjuangkan agar etika selalu dijaga dan dihormati.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 502 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: