Archive for April 9th, 2013

BERPIKIR SISTEM: SUATU PENDEKATAN HOLISTIK PENELITIAN


GambarPenelitian  adalah “suatu kegiatan yang menghasilkan pengetahuan. Berpikir Kesisteman merupakan pendekatan holistik untuk penyelidikan. Hal ini dapat dipahami sebagai filsafat kontemporer. Kadang-kadang para pendukungnya merujuk kepada sistem berpikir sebagai “paradigma baru pemikiran kontemporer. Dalam menerangkan Struktur revolusi pengetahuan, Kunn mendefinisikan paradigma sebagai apa yang anggota komunitas ilmiah terdiri dari orang-orang yang berbagi paradigma 3) jika sistem pemikiran filosofis milik masyarakat, wajar pertanyaan harus ditujukan pada masalah: Apakah filsafat berpikir sistem?

Domain Filsafat dalam Berpikir Sistem

Berpikir  sistem menurut DC Philiphs adalah Pemikiran sistem dilabeli sebagai “filsafat mendiskreditkan” 4) Di sisi lain, Fenwick Inggris menyatakan berpikir  kesisteman akan jatuh ke dalam filsafat yang dikenal sebagai realisme ilmiah. Yang tidak diragukan lagi bahwa berpikir sistem menggunakan metode ilmiah sebagai inquiry, tapi ini tidak berarti bahwa berpikir sistem ini identik dengan metode ilmiah dalam hal ini adalah kira-kira analog dengan kasus pragmatisme dan ilmiah. Sebagai soal fakta, pemikiran sistem adalah “sebuah counter untuk saintisme, 7) di mana saintisme dalam perwujudan konkrit dari filsafat realisme ilmiah. 8) Dua ciri khas dari berpikir kesisteman  sungguh bertentangan  dengan label realisme ilmiah, yaitu pendekatan holistik dan pandangan  metafisika. Holisme seperti kita akan dijelaskan lebih lanjut, tidak hanya ontologis, tetapi epistemologis dan aksiologis juga. Pandangan holistik ini menyediakan dasar metafisik berpikir sistem. Metafisik ini sistem domain yang ciri berpikir sebagai “meta-ilmu” perceraian dari realisme ilmiah, serta holistik dari ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Realisme ilmiah metafisika membenci dan menolak gagasan holisme sebagai sesuatu yang unik dan asli yang tidak setuju konvensional analisis ilmiah. Di sisi lain, pendukung berpikir sistem berbicara blak-blakan sebagai “antitesis generik ke Realisme ilmiah memiliki banyak nama lain, antara lain  adalah positivisme logis, Konsep berpikir sistem  itu sendiri masih dalam proses pendewasaan dan perkembangan. Pada saat ini, yang terbaik yang bisa diusahakan adalah memberi label Thinking System sebagai”seorang maverick (orang/ organisasi yang tidak profesional) dari pandangan filosofis dalam upaya ilmiah

Sifat-sifat Berpikir Sistem

Setiap aliran pemikiran tertuju pada  tiga pertanyaan dasar filosofis dan dibangun dengan jawaban filsafat. Setiap filosofis utama dapat dibedakan dengan menelusuri tiga kali lipat pembukaan filosofis, Pertanyaan pertama adalah: apa dan berapa banyak yang ingin kita ketahui? Jawaban atas pertanyaan ini tergantung pada ontologi, yaitu, dengan teori yang ada. Kedua, metode apa yang lakukan untuk  kita memperoleh pengetahuan? Jawaban atas pertanyaan ini tergantung pada epistemologi, atau teori pengetahuan. Akhirnya, apa gunanya  pengetahuan bagi manusia? Pertanyaan ini dijawab oleh aksiologi.

Inti utama dari pemikiran sistem, consepts Teori Sistem Umum, atau salah satu anggota yang berbeda dari serangkaian konsep-konsep yang terkandung dalam Teori Sistem Umum, adalah teori sistem terbuka. Konsep sistem terbuka telah banyak digunakan dan diterapkan pada berbagai bidang dan subject matter. Sepanjang penelitian kami, pandangan dasar penyelidikan ini, kita berurusan dengan sistem terbuka. Atau diungkapkan secara berbeda, kita melihat masalah dari sudut pandang berpikir sistem.

Aspek Ontologis dalam Berpikir Sistem

Masalah ontologis dapat dimasukkan ke dalam tiga kata: “ What is there?”(Apa yang ada?). Para ahli teori sistem menjawab: system adalah setiap eksistensi tidak dapat berdiri sendiri tetapi berkaitan dengan dengan eksistensi lain secara tertib dan teratur. Para ahli teori sistem mempunyai nilai pengandaian tertentu, yaitu keteraturan, dan non-keacakan .Oleh karena itu, tujuan dari penyelidikan untuk membawa ke permukaan menjadi pola ini. Pertanyaan tentang ” Apa dan berapa banyak yang kita ingin tahu?.  Berapa banyak yang kita ingin tahu? Kita ingin tahu tentang sifat-sifat yang berada di bawah penyelidikan, tidak hanya properti milik sendiri, tetapi lingkungan hidup serta dampak lingkungan pada manusia.

Berpikir  Sistem  

menyelidiki kesamaan bentuk dari konsep-konsep, hukum-hukum, dan model-model dalam berbagai bidang, dan membantu dalam pengalihan dari satu bidang ke lainnya;

(1)   mendorong pengembangan model-model teori yang memadai dalam bidang-bidang yang tidak memilikinya;

(2)   memperkecil penggandaan upaya-upaya teori dalam bidang-bidang berbeda;

(3)   menggalakan kesatuan sains melalui peningkatan komunikasi di antara spesialis.

Sebagaimana kita melihatnya, Riset Sistem Umum adalah kegiatan menyempurnakan Teori Sistem Umum pada dasarnya adalah logika sistem-sistem, yang memberikan suatu kerangka a priori untuk diterapkan pada beragam disiplin dan riset ilmiah. Arah kedua dari gerakan sistem-sistem adalah menyangkut aplikasi logika sistem-sistem. Ada dua cara logika sistem-sistem diterapkan: Pertama, diterapkan langsung pada suatu disiplin atau riset ilmiah tertentu, misalnya ancangan sistem-sistem terhadap teori pemasaran. Dalam penerapan ini, teori pemasaran menerapkan konsep holisme untuk menjelaskan kesalingterkaitan di antara komponen-komponennya. Tidak ada hal baru apa pun dalam arti teori, kecuali penjelasan teorinya menjadi lebih tertib ketika ia disajikan dalam kerangka sistem-sistem. Hampir semua ilmu perilaku dan sosial bisa memanfaatkan penerapan logika sistem-sistem dalam menjelaskan dan menampilkan teori-teori mereka secara lebih tertib. Penerapan macam ini akan disebut ancangan atau pendekatan sistem. Ancangan sistem bisa diartikan sebagai penerapan logika sistem-sistem pada bidang-bidang atau riset ilmiah khusus dengan maksud menjelaskan atau menampilkan kesalingterkaitan di antara komponen-komponen dari teori disiplin itu, atau komponen-komponen dari masalah risetnya.

Penerapan lain dari logika sistem berhubungan dengan metode-metode penelitian tertentu, atau dalam perkataan “strategi riset.” Contoh-contoh dari penerapan macam ini adalah analisis sistem dan riset operasi. Analisis sistem pada dasarnya adalah suatu metode penyelidikan atau strategi riset dalam menghadapi masalah-masalah pilihan di dalam ketidakpastian. Lebih spesifiknya, analisis sistem adalah suatu analisis ekonomi yang berkaitan dengan pemilihan alternatif dalam mencapai sasaran tertentu. Jelas, pendekatan sistem dan analisis sistem sangat berbeda dalam proses-proses dan sasaran-sasaran mereka. Hasil dari penerapan ancangan system terhadap masalah adalah penjelasan dan penampilan yang tertib dari kesalingterkaitan antara komponen-komponen masalah itu. Ancangan system tidak menghasilkan solusi apa pun dalam memecahkan masalah itu. Di sisi lain, analisis sistem memang menyelesaikan masalah itu, yaitu dengan memilih jalur tindakan yang terbaik. Dalam hal ini, sebagaimana kita akan jabarkan lebih lanjut, analisis sistem memiliki suatu nilai prediktif.

D.C Phillips secara sengit menyerang buku karya Philip H. Coombs berjudul The World Educational Crisis: A Systems Analysis sebagai suatu prototipe penerapan analisis sistem yang tidak menghasilkan solusi sama sekali. Sebenarnya, Coombs menerapkan ancangan sistem terhadap analisisnya, di mana dia menggunakan logika sistem dalam menggambarkan dan menampilkan kesalingterkaitan antara komponen-komponen dari permasalahan pendidikan. Dipandang dari segi ini, The World Educational Crisis adalah sebuah buku yang tanpa tandingan tentang sifat permasalahan pendidikan. Namun, penyalahgunaan istilah analisis sistem bukannya pendekatan sistem, telah membawa buku ini ke fokus kontroversi.

Analisis sistem dan riset operasi bisa dikategorikan sebagai metode-metode penyelidikan. Metode, meminjam batasan dari Paul Tillich, adalah cara sistematis melakukan sesuatu, khususnya dalam memperoleh pengetahuan. Metode terkait dengan teknik-teknik, di mana kita bisa membayangkan metode sebagai strategi penyelidikan, dan juga teknik-teknik adalah taktik-taktiknya. Teknik-teknik, mengikuti Abraham Kaplan, adalah prosedur-prosedur khusus yang digunakan dalam suatu ilmu tertentu, khususnya tautan-tautan penyelidikan dalam ilmu itu.

Analisis sistem dan riset operasi sebagai metode-metode penyelidikan terkait dengan beberapa teknik. Analisis system menggunakan teknik-teknik analisis manfaat-biaya dan keefektifan-biaya. Riset operasi berkaitan dengan teknik-teknik teori permainan, pemrograman linier, teori mengantri, dan simulasi Monte Carlo. Teknik-teknik ini sama sekali tidak baru. Teknik analisis manfaat-biaya yang dipuji sebagai “salah satu tulisan terobosan paling orisinal dalam seluruh sejarah ilmu ekonomi” diperkenalkan oleh Dupuit seawall 1844. Teori mengantri dikembangkan oleh Johannsen pada 1907. Teknik-teknik ini diletakkan di bawah payung pemikiran sistem tidak berdasarkan pada asal mereka tetapi pada kaitan mereka dengan metode-metode khusus yang dikembangkan di bawah pengaruh konsep sistem. Tentu, ada juga teknik-teknik baru yang diluncurkan oleh berpikir seperti PERT dan CPM. Bahkan, disiplin-disiplin ilmiah baru muncul di bawah bendera holism. Cybernetics diciptakan oleh Norbert Wiener pada 1948. Dalam tahun yang sama Claude Shannon menerbitkan sebuah artikel berjudul “A Mathematical Theory of Communication” yang menandai permulaan teori informasi.

PPBS adalah penerapan para analis system terhadap manajemen modern. Pokok bahasan PPBS adalah bidang manajemen, khususnya mengenai fungsi-fungsi perencanaan, pemrograman, dan penganggaran. Metode penyelidikan dalam hal ini adalah analisis system, dan di bawah payung pemikiran system, PPBS juga menerapkan ancangan system. Fungsi perencanaan, pemrograman, dan penganggaran, dipandang di bawah wawasan system ini, sehingga menjadi saling terkait sehingga membentuk suatu system terpadu.

Tipologi pemikiran system yang sedang dikemukakan tidaklah lengkap. Ia tidak dimaksudkan sebagai suatu daftar, melainkan memberikan kerangka, anggota-anggota mana dari himpunan kategori tertentu dari nomenklatur system kita bisa dilekatkan. Paling tidak, ia bermaksud untuk memperjelas perbedaan antara pendekatan system, analisis system, analisis keefektivan-biaya, analisis manfaat-biaya, PPBS dan sebagainya

fungsi dari teori dari sistem yang terbuka sebagai sebuah penelitian logis. Dalam pengerjaannya banyak perdebatan dialamatkan pada Sistem Teori Umum dapat menjadi jelas. Sebuah teori dalam bidang ilmu pengetahuan dapat didefinisikan sebagai “sekumpulan gagasan (konsep) yang saling berhubungan, definisi-devinisi, dan dalil-dalil yang memberikan sebuah gambaran fenomena yang sistematis dengan ketentuan yang berhubungan antar variabel, dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi/meramalkan fenomena, jika Sistem Teori Umum itu adalah sebuah teori ilmu pengetahuan kemudian Sistem Teori Umum ini seharusnya memiliki sebuah kemampuan untuk memprediksi. Sistem Teori Umum adalah ilmu pengetahuan faktanya bahwa penelitian dalam membangun konsep dari Sistem Teori Umum diperlakukan dalam gaya ilmu pengetahuan. Dalil diperoleh dari Sistem Teori Umum, sebagai contoh milik sistem terbuka, menyajikan sebuah penelitian logis dan bukan sebuah dasar pengambilan kesimpulan, sebagai latihan secara umum dalam penelitian ilmiah. Jadi, percobaan Philips untuk mencemarkan Sistem Teori Umum sebagai sebuah filsafat yang tidak dipercaya karena caranya tidak terprediksi dari sistem teori dirinya sendiri bertentangan. Tentu, seseorang mungkin berargumen, bagaimana bisa kita membuat prediksi dari sebuah penelitian yang logis, penelitian yang logis itu sendiri, adalah sebuah alat dari penelitian yang tidak memiliki subjek masalah dari dirinya sendiri. Itu adalah hal yang sama dengan pendekatan sistem, yang menunjukkan cara melihat kedalam penyelidikan, yang mendasari sebuah sudut pandang logika. Pendekatan sistem adalah pokok yang membingungkan dengan sistem analisis, yang dalam pertentangan memiliki kemampuan untuk memprediksi, meskipun memiliki pengertian yang terbatas.

Sejarah Kejadian Penting dalam berpikir sistem

   Berfikir sistem mempunyai sebuah sejarah panjang, hal itu telah di dikelompokkan dari Ibn Khaldun kepada Kepala putih. Bagaimanapun, kita akan membatasi diri kita hanya pada sudut pandang sejarah dari sistem pemikiran modern, perpindahan yang dianut pada Sistem Teori Umum dan Sistem Penelitian Umum.

            Sejarah berawal pada seminar filsafat Charles Morris di Universitas Chicago tahun 1937, dimana Ludwig von Bertalanffy mengenalkan untuk pertama kalinya konsep Sistem Teori Umum. Konsep tersebut telah di publikasikan sebagai Sistem Teori Umum: Pondasi, Pembangunan, Penerapan  dan menjadi Alkitab dari pergerakan berpikir sistem  modern. Untuk sambutan pertama kali tidak ada keberanian, sebagai penampakan Bertalanffy, dan semenjak dia takut pada apa yang Gauss sebut dengan “Teriakan Boetician” konsep tersebut kemudian diletakkan dalam lukisannya. Pecahnya perang dunia ke II mendorong berkembangnya berpikir sistem.

Pada tahun 1939, pada pecahnya perang Eropa, dimana awal dari sebuah organisasi penelitian operasional Inggris Menghadapi pecahnya perang, menejemen Militer Inggris menyebut atas ilmuwan mereka untuk menerapkan ilmu pengetahuan ilmiah dalam alokasi penelitian yang langka untuk operasi militer yang berbeda. Tim ilmuwan ini adalah tim penelitian operasional itu terdiri dari sejumlah pengacara, ahli sosial,  ahli matematika, ahli astronomi, dan juga pertahanan. Meskipun perbedaan latar belakang mereka mucul sebuah pola yang umum: adalah ketaatan terhadap konsep sistem dan penelitian ilmiah, yang memperagakan bahwa mesin dan manusia menerima untuk anilisis yang rasional Operasi penelitian telah dipuji untuk menjadi pemenang perang di negeri Inggris, dan pada akhirnya setelah Amerika serikat mengikuti pinangannya, kampanye pulau di Pasific. Peperangan di utara Atlantik dan yang lain Menurut dugaan orang operasi penelitian menyebrangi Atlantik mengikuti James Bryant Connant, kemudian juru bicara dari Komite Pertahanan Nasional, yang menjadi sadar dengan operasi penelitian selama dia mengunjungi Inggris  pada musim gugur tahun 1940

            Pendekatan khusus sebagai Masyarakat Penelitian Operasional dari Negeri Inggris meletakkan definisi operasi penelitian untuk membangun sebuah model ilmiah dari sistem, faktor undang-undang tidak berbadan hukum seperti kesempatan dan resiko, dengan yang untuk memprediksikan dan membandingkan hasil dari pilihan keputusan, strategi dan kontrol, Beberapa orang Saudara kandung kemudian tangkai dari pendekatan yang asli, telah diterapkan pada bidang yang berbeda, dan dikoinkan dengan nama baru. PPBS telah diinisialkan oleh Papan Produksi Perang di akhir 1942, tentu tanpa tehnik orang yang berpengalaman  Analisis sistem, yang menyediakan dasar analitik dari PPBS, yang akhirnya sempurna oleh ilmuwan RAND, sekitar 1950 Jaringan dunia maya telah diperkenalkan oleh Norbert Wiener pada tahun 1948

Tipologi berpikir sistem

            Pergerakan sistem dapat dikenali dengan dua bagian: (1) Penelitian lebih lanjut dalam sistem alam dalam berkaitan dengan kesempurnaan Sistem Teori Umum yang paling mewah menghasilkan sistem yang logis, dan (2) Penerapan dari Sistem logis untuk disiplin ilmiah yang berbeda dan  penelitian. Sistem logika diterapkan pada bidang ekonomi, pemasaran, sosiologi, psikologi, pendidikan, sampai pada topik kontroversial seperti “ Bagaimana Analisis sistem diterapkan untuk memilih seorang suami?” dalam David Reuben Buku penjualan terbaik “ Setiap Wanita Bisa Disiplin ilmiah baru seperti Cybernetik dan Teori Informasi telah dikembangkan dalam sistem kerangka kerja. Strategi penelitian baru, sebagai contoh sistem analisis dan operasi penelitian  sebagus beberapa tehnik seperti PERT   dibangkitkan dalam payung kerangka berpikir. Secara pemahaman, itu sering terjadi pada sekolah yang baru muncul dari pemikiran, banyak kekacauan yang telah muncul pada alam kesatuan ilmiah. Efektivitas harga terkadang dikacaukan dengan sistem analisis. Pendekatan sistem dikacaukan dengan sistem analisis. Lebih samarnya adalah hubungan diantara pendekatan sistem, sistem analisis, dan PPBS. Apa perbedaan antara operasi penelitian dan sistem analisis?

            Untuk menyelesaikan masalah, kita telah mencoba untuk mengembangkan sebuah tipologi dari berpikir sistem; sebuah permintaan dari sistem konsep dan penerapannya. Sebagai sentuhan lebih cepat, pergerakan sistem dapat dikategorikan kedalam dua arah. Pertama adalah penelitian lebih lanjut dalam sistem alam, simpelnya disebut Sistem Penelitian Umum. Masyarkat untuk Sistem Penelitian Umum telah dilembagakan pada tahun 1954  Objektifitas terbesar dari masyarakat ini adalah pada:

Logika Metafisika Berpikir Sistem

Ciri dasar yang membedakan pemikiran sistem dari pemikiran sejaman lainnya adalah logika metafisikanya. Holism, yang memberikan dasar ontologi dan epistemologinya, menghasilkan logika sistem sebagai landasan metafisikanya. Sangat menarik menyejajarkan logika metafisika. Hegel dan logika pemikiran sistem, sebenarnya tidak hanya berasal dari konsep holism yang sama, tetapi juga sangat analog dalam sifat dengan logika dialektik Hegel. Dari sudut pandang ini, pemikiran sistem bisa dipandang sebagai suatu meta-sains, suatu titik tolak yang sama dimiliki oleh para pembela pemikiran sistem.

Sebelum berlanjut menjabarkan sifat dari logika sistem, perlu untuk menjelaskan kedudukan metafisika dalam ranah ilmiah. Metafisika ilmiah adalah suatu masalah abadi terhadap filsafat ilmu. Awal abad ke-19, misalnya dalam karya Auguste Comte, sampai para pemikir modern seperti Karl Popper, Arthur Eddington, dan James Jean, gagasan metafisika menyiratkan mengejar suatu tempat yang diakui dalam penyelidikan ilmiah. Bertrand Russell mengatakannya : ada suatu paradoks yang solusi intelektualnya mungkin ditemukan kelak, atau sama mungkinnya, tiada solusi mungkin ada. Faktanya adalah bahwa sains memainkan dua peran sangat berbeda: di satu sisi sebagai metafisika, di sisi lain sebagai akal sehat terdidik.”

Pertanyaan dasarnya: Apakah suatu metafisika ilmiah? Pearson berdalil bahwa ini tidak hanya mungkin tapi juga sah. Dia menerangkan bahwa: Tidak boleh disangka bahwa sains untuk sejenak menyangkal keberadaan sejumlah masalah yang hingga kini telah digolongkan sebagai filsafat atau metafisik. Sebaliknya, ia mengakui bahwa beragam fenomena fisika dan biologi mengarah langsung pada permasalahan ini. Tetapi ia menegaskan bahwa metode-metode yang hingga kini diterapkan pada masalah-masalah ini telah sia-sia, karena mereka tidak ilmiah.

Mengingat pernyataan ini, akar masalahnya terletak pada sifat dari bagaimana penyelidikan metafisika itu dilakukan. Jika masalah metafisika itu dipecahkan secara ilmiah, yakni, jika metode-metode ilmiah secara ketat diterapkan dalam penyelidikan itu, maka hasil-hasil temuan itu secara ilmiah terabsahkan. Dan inilah dalil dasar dari para teoriwan sistem. Bahkan, kata mereka, holism sesuai dengan penyelidikan ilmiah. Teori Sistem Umum, tegas Bertalanffy, adalah penjelajahan ilmiah atas keseluruhan-keseluruhan dan kesatuan yang, belum begitu lama silam, dianggap pemikiran-pemikiran metafisik yang melampaui batas-batas sains.

Sebagaimana disinggung sebelumnya, dasar metafisik dari pemikiran sistem adalah logika sistem. Boulding telah mendaftar sembilan tingkat sistem mulai yang paling sederhana sampai pada fenomena sistem paling kompleks. Jenjang sistem menurut Boulding adalah sbb.:

  1. Struktur statis—penataan planet-planet dalam tatasurya
  2. Sistem dinamis sederhana—kebanyakan mesin dan kebanyakan fisika Newton
  3. Sistem cybernetic—mekanisme control, seperti thermostat
  4. Sistem terbuka—struktur yang berlangsung-sendiri, seperti sebuah sel
  5. Sistem sosial genetic—pembagian kerja, termasuk subsistem, seperti sebuah tumbuhan
  6. Sistem hewan—mencakup kesadaran-diri dan mobilitas, juga subsistem-subsistem terkhusus untuk menerima dan mengolah informasi dari dunia luar
  7. Sistem manusia—mencakup kapasitas bagi kesadaran-diri, dan penggunaan simbolisme untuk menyampaikan ide-ide
  8. Organisasi-organisasi social—manusia sebagai subsistem di dalam organisasi yang lebih besar, atau sistem
  9. Sistem-sistem transendental—alternatif dan hal yang tak bisa diketahui yang masih perluk ditemukan.

Ciri-ciri sistem memberikan dasar logis dari sistem itu. Para teoriwan sistem percaya bahwa logika sistem bisa digunakan sebagai suatu logika penyelidikan. Ada pola-pola serupa di antara makhluk-makhluk hidup yang hidup, tumbuh, matang, dan akhirnya mati. Para teoriwan sistem, menurut Boulding, bersukacita mengetahui, misalnya, bahwa dalam semua pola pertumbuhan ada unsur-unsur sama yang penting, seperti nukleasi (pembentukan inti), penyesuaian struktur dalam bagian-bagian sistemnya, hasil yang berkurang terhadap skala, dan kurva-kurva ogive. Sebaliknya, para pemikir nonsistem, mengesampingkan fakta-fakta ini. Namun, dari kesembilan tingkat sistem itu hanya beberapa telah sesuai dengan penyelidikan ilmiah. Salah satu arah dari gerakan pemikiran sistem adalah berurusan dengan kajian-kajian sistem-sistem ini. Boulding menyatakan bahwa pengetahuan kita saat ini umumnya tidak memadai untuk membangun model-model ilmiah melebihi tingkat sistem dinamis (tingkat 2). Usaha-usaha baru difokuskan kepada kajian tingkat 3 dan 4, dan melebihi tingkat keempat bahkan benih-benih dari model-model teoritis belum ditemukan. Salah satu ciri penting dari teori sistem umum adalah logika sistem terbuka.

 Logika sistem terbuka sangat banyak gunanya dan terbukti berguna dalam penerapannya pada berbagai organisme hidup. Bahkan, logika sistem terbuka berguna sebagai suatu dasar penyelidikan kita dalam kajian ini. Sudut-sudut pandang kita atas teori-teori organisasi modern, metode-metode Pengembangan Organisasi, dan PPBS, pada dasarnya gagasan sistem terbuka. Berbeda dari suatu sistem tertutup, sebuah sistem terbuka berinteraksi dengan lingkungannya. Kita akan lebih dulu menilik sifat-sifat sistem terbuka dan melangkah lebih jauh pada penjabaran logika sistem terbuka sebagai suatu logika penyelidikan.

Ciri-Ciri Sistem Terbuka

Sistem terbuka bisa ditandai oleh sifat-sifat berikut ini:

(1)   masukan: sistem terbuka memasukkan energi dari lingkungan luar;

(2)   ubahan (through-put): proses mengubah energi yang tersedia bagi sistem itu;

(3)   keluaran: energi yang dikeluarkan ke lingkungan setelah masukan diolah menjadi keluaran;

(4)   siklus peristiwa-peristiwa: kegiatan-kegiatan bertukar energy mempunyai pola siklus. Dalam mengubah masukan menjadi keluaran proses itu sendiri mengalami beberapa tahap siklus keluaran seketika sebelum mencapai bentuk akhir keluaran. Misalnya, dalam sistem pendidikan di sekolah dasar, siswa barunya diubah ke kelas dua dalam tahun pertama, yang kemudian diubah ke kelas tiga dalam tahun berikutnya, dan seterusnya. Di sisi lain, siswa baru itu memasuki sistem pendidikan itu setiap tahun ajaran yang memungkinkan kelangsungan proses perubahan di dalam sistem itu.

(5)   entropi negatif: proses menetralkan proses entropi untuk bertahan hidup. Proses entropi adalah hukum universal yang berlaku pada semua makhluk hidup yang bergerak ke arah kekacauan atau kematian. Sistem terbuka menyimpan energi dengan mengimpor energi lebih daripada yang perlu untuk dikeluarkan, dan memakai energi ini dalam masa krisis

(6)   cybernetic dan teleologis (kajian maksud): ciri-ciri perilaku bermakna dari sistemnya dan mekanisme umpan-balik data untuk mengontrol perilaku ini dari sistemnya selama waktu krisis. Suatu keadaan tetap bukanlah suatu kesetimbangan sejati, suatu pertukaran energi terus-menerus berjalan dalam suatu macam kesetimbangan dinamis yang berbeda;

(7)   diferensiasi: adalah ciri yang, selama proses pertumbuhan, bergerak ke arah diferensiasi dan pengembangan; dan

(8)   equifinality (ekuifinalitas): adalah kemampuan sistem itu untuk mencapai keadaan akhir dari kondisi-kondisi awal berbeda dan dengan beragam jalan.

Tak diragukan, hubungan masukan-keluaran telah terbukti sangat berguna sebagai suatu alat untuk memandang dan menganalisis fenomena kompleks. Logika sistem terbukalah, harus saya katakan, yang membawa perhatian pada kegunaan pemikiran sistem di dalam ranah ilmiah masa ini.

Sistem Analisis dan Metode Ilmiah

Banyak kontroversi telah muncul apakah analisis sistem tidak ilmiah. untuk memenuhi predikat ilmiah, suatu kegiatan di quiry harus menerapkan metode ilmiah dan kemampuan untuk memprediksi. Analisis sistem, sangat erat terkait dengan ilmu-ilmu sosial. Ini membawa kita ke kontroversi lain yang menyangkut metode ilmu-ilmu sosial. Atau lebih tepatnya metode ilmu-ilmu sosial: pengakuan dan domain pluralitas.

Analisis sistem pengetahuan ilmiah yang berlaku dalam proses dalam menghasilkan alternatif, menentukan hubungan sebab dan akibat, dan mendefinisikan kriteria untuk memilih tindakan. Penelitian ilmiah diterapkan  menghasilkan dua alternatif mengenai rasio murid guru, daripada untuk tujuan membandingkan efektivitas kedua alternatif harus mengukur kinerja murid, dan percobaan yang berkaitan dengan hasil pengukuran. Ilmiah diterapkan pada analisis langkah-langkah lain juga. Dalam menentukan kriteria efektivitas menggunakan matriks multi dimensi misalnya politik, ekonomi, sosiologis, pendidikan, setiap dampak harus didasarkan pada bukti ilmiah. Dalam analisis sistem umum dapat digambarkan sebagai penyelidikan ilmiah dalam terang kepatuhan terhadap pengetahuan ilmiah dan penelitian ilmiah.

Namun kepatuhan terhadap metode ilmiah adalah prototipe ideal analisis sistem. Praktis, banyak penyimpangan terjadi, hasil yang tidak terlalu luarbiasa dalam berurusan dengan fenomena sosial, seperti yang berhubungan dengan masalah measurment, menunjukkan bahwa proposisi yang berkaitan dengan efek menyebabkan fenomena sosial negara “berorientasi pernyataan”. Misalnya teori marqian menegaskan bahwa organisasi dari alat-alat produksi menentukan fitur masyarakat. Tapi tekad macam apa? Macam apa yang tepat hubungan sebab dan akibat tidak ada? Tak perlu dikatakan, hubungan ini tidak dapat dinyatakan dalam linear, persamaan kuadrat atau eksponensial kebajikan yang beruntung prosessed oleh ilmu alam.

Selain itu kepatuhan terhadap metode ilmiah, apakah analisis sistem membuat prediksi? Seperti sebelumnya, analisis sistem adalah strategi penelitian atau metode penyelidikan. Ini masalah alokasi sumber daya. Hasil dari proses analisis sistem adalah solusi untuk masalah masing-masing. Fungsi prediksi teori ilmiah pada dasarnya adalah hal yang sama, Pertanyaan yang ditujukan oleh analisis sistem sebagai berikut: bagaimana kita dapat mengembangkan tindakan saja untuk mencapai tujuan tertentu yang paling ekonomis? Jelas bahwa dari analisis sistem mengharapkan jawaban yang pasti, dalam pengertian ini, analisis sistem tidak menghasilkan prediksi.

Analisis sistem berbeda dari pendekatan sistem dalam hal ini: kasus pendekatan sistem, proses berkaitan dengan penerapan sistem logika dalam menggambarkan fenomena. Harus ada pendekatan sistem bukan merupakan ramalan tetapi deskripsi materi subjek yang diteliti. Ini adalah cara sistematis fokus pada keterkaitan antara bagian-bagian itu yang merupakan keseluruhan yang utuh.

Metode ilmiah adalah proses verifikasi. Sebuah proposisi demikian diterima sebagai secara ilmiah benar hanya setelah telah diverifikasi. Atau dengan kata lain, kebenaran ilmiah diverifikasi sinonim dengan kebenaran. Pertanyaannya adalah: Apakah perlu bahwa sistem prediksi analisis ilmiah dapat diverifikasi sebagai sah? Jawaban alasan berikut. Pertama-tama kita bisa kembali ke historial perdebatan tentang filsafat matematika antara pandangan Kant dan pandangan positivis logis. Kant menyatakan bahwa matematika adalah “pengetahuan sintetik apriori, yang menyiratkan bahwa matematika tergantung pada fenomena, dan dengan demikian, proposisi 2 + 2 = 4 jika itu benar, harus didasarkan pada verifikasi. Di sisi lain, positivis logis berpendapat bahwa matematika adalah analitis. Wittgenstein menegaskan bahwa logika proposisi kebenaran atau kepalsuan dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia luar.

Setuju dengan sudut pandang positivis logis yang berkaitan dengan analisis sistem. Prediksi yang diberikan oleh sistem proses analisis. Kebajikan dari derivasi logis dan karena itu tidak perlu verifikasi. Berbicara secara numerik, misalnya kita tidak perlu membuktikan dengan temuan empiris untuk membuktikan bahwa 1 / 3 kurang dari 1 / 2. Oleh karena itu, jika menurut definisi tentang efektivitas dinyatakan bahwa alternatif yang memiliki paling tidak rasio effectivenes biaya yang paling efektif, maka alternatif dengan ratio 1 / 3 lebih efektif daripada alternatif lain dengan rasio 1 / 2. Tak perlu dikatakan, para tautologi berlaku secara sah kriteria kualitatif juga, seperti kasus pengukuran multidimensi program-program sosial. Matematika oleh itu sangat alam, hanyalah sebuah bentuk sifat lebih logika.

Kritik Berpikir Sistem

Abraham Kaplan, yang conceives ilmiah empirism sebagai bracing, antiseptik udara, dan dari diharapkan kelonggaran, berpikir sistem untuk melakukan dosa reifikasi. yang paling serius datang dari sudut pandang methological, PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU

  •  Perencanaan PSB
  •  Pelaksanaan PSB
  •  Pengelompokan dan

   penempatan peserta

   didik di kelas  

. Ernest-Nagel panji menuduh berpikir sistem, “keseluruhan lebih daripada jumlah bagian-bagian itu”, menjadi ambigu, metaforis, dan samar-samar. Richard Von Mises menganggapnya sebagai pseudo kalimat yang akan berarti dan sepele. Baik Nagel dan Von Mises berpendapat bahwa meskipun ada alasan-alasan praktis atau psikologis untuk penggunaan holisme di berbagai bidang pengetahuan, tetapi “perluasan cakupan masalah tidak mengarah di luar sains positif”. Rollo Handy serangan pemikiran sistem di dalamnya adalah metode analogi.

Penemuan suatu analogi antara perilaku manusia dan perilaku beberapa sistem lainnya (baik komputer, sistem tata surya, sistem meteorologi, dll). Membuat beberapa inquirers cukup yakin bahwa langkah maju yang revolusioner baik telah diambil atau kira-kira yang akan diambil. Namun, seperti yang sering terjadi, enthousiasm awal saya diikuti oleh kekecewaan.

Ida. R. hoos mempertimbangkan tidak hanya isomorphisms daripada lelah aksioma tentang penerapan universal matematika; sehingga 2 + 2 = 4 berlaku apakah anak ayam, keju soat atau tata surya ar dalam pertimbangan. Camouflages analogi dangkal ini perbedaan-perbedaan penting yang dapat mengakibatkan kesimpulan yang salah. Selain itu, kepatuhan terhadap gagasan analitik irreducibility dapat menghambat kemajuan.

DC Phillips sistem Biaya memikirkan kekurangan historycism, tuduhan yang sama disuarakan oleh Frederick C. Mosher pada perkembangan PPBS. Phillips menunjukkan lebih lanjut kekurangan sistem pemikiran dalam kegagalan untuk mendefinisikan dengan tepat apa yang dimaksud dengan sistem, dalam ketidakjelasan atas apa yang akan dimasukkan dalam teori sistem, dan dalam kegagalan Teori Sistem Umum sebagai teori ilmiah karena ini tidak memiliki kemampuan prediktif.

C. gerejawan Barat – salah satu pendukung sistem dibedakan menambahkan beberapa titik lain diartikulasikan oleh pemikiran sistem debat. Pertama-tama, mereka mengklaim bahwa pendekatan sistem untuk pemecahan masalah tidak efisien, pendekatan terbaik adalah untuk mengidentifikasi masalah secara langsung titik-titik. Kedua, keberatan lain yang diajukan oleh para humanis yang mengklaim bahwa sistem yang adalah orang-orang dan dengan demikian pendekatan mendasar pada sistem terdiri dari pertama melihat nilai-nilai kemanusiaan, seperti kebebasan, martabat, privasi. Ketiga, anti-perencana menantang aksiologis sudut pandang sistem pemikiran untuk perencanaan sistem masa depan. Anti-perencana percaya bahwa setiap upaya untuk menghasilkan perencanaan rasional masa depan entah bodoh atau berbahaya atau benar-benar jahat. Pendekatan yang benar pada sistem adalah hidup dalam sistem, untuk mengalami dan tidak pernah mengubahnya dengan beberapa megah skema atau model matematika.

KESIMPULAN:

Tidak bisa didebat bahwa berpikir sistem telah sangat populer dan diterima secara luas. Bagaimanapun penggunaanya masih membingungkan, jika kita menerima ajaran ini tanpa mengetahui dasarnya, dan yang penting jika kita menerapkan konsep tanpa menyadari kebaikannya dan kekurangannya. kemudian setelah melakukan survei perspektif tentang berpikir kesisteman kita dihadapkan pada pertanyaan mendasar dimana sudut pandang kita?.

Mengarah pada masalah ini kita akan membatasi diri  pada isu filosofi berpikir sistem,alasan-alasan teknis berpikir kesisteman dan asal usulnya seperti analisis sistem dan PBBS telah dieksplorasi dimana-mana. Dengan penuh harapan setelah beberapa isu filosofi diklarifikasi kita akan megapresiasi lebih baik tentang berpikir kesisteman dan aplikasinya.

Pertama, Berpikir sistem adalah sitem ligika, meskipun logika ini menyerap metafisika sejauh ini ditujukan untuk penelitian yang cermat dari ilmu pengetahuan untuk tidak ada alasan menolak keberadaannya dalam ranah ilmiah, logika dari sistem sebagai suatu metateori atau logika apriori harus divalidasi secara empiris sebelum diterima secara ilmu pengetahuan ilmiah yang benar. Selanjutnya verifikasi harus dilakukan dalam penerapan konsep umum sampai aplikasi secara khusus. Bukan hal  mendasar sebagai jaminan seluruh sistem terbuka mempunyai karakteristik yang sama berpengaruh nyata. Katz dan Khan menyatakan fakta bahwa diskusi tentang karakteristik umum dari sistem terbuka tidak membutakan pada perbedaan antara sistem biologi dan sosial.

Kedua, aplikasi dari konsep sistem akan dibuktikan berguna jika dikombinasi dengan usaha-usaha menganalisa melalui investigasi. Sistem Logika memberikan kerangka yang berguna sebagai usaha-usaha analisis dilakukan pada basis parsial  yang dianggap perlu. Pendekatan otomistik tidak bisa diacuhkan, tetapi hasil analis sebagai kerangka dalam konteks sistemik akan memberikan gambaran seluruh masalah.

Ketiga, Philips dan Mosher bahwa berpikir sistem kekurangan dilihat dari sejarah. Usaha yang serius pada prosedur dan pengembangan konseptualnya dalam perspektif sebagai kondisi untuk berpikir sistem ilmiah, yang lebih penting berpikir sistem sebagai sudut pandang  harus didefinisikan dengan jelas untuk mengklarifikasi persamaan persamaan dan perbedaan perbedaan pola berpikir yang memilki proses fitur yang sama, sebagai contoh strukturalisme. Selanjutnya ketidakjelasan dalam berpikir sistem,

Keempat, Berpikir sistem gagal sebagai teori ilmiah karena gagal menetapkan secara tepat apa yang dimaksud dengan sistem.sekali lagi harus ditekankan bahwa berpikir sistemtidak mempunyai masalah pokok pada dirinya sendiri, teori sistem general bukan teori ilmiah pada hal biasa  berarti menyimpulkan hipotesis yang digunakan dan memvalidasi prediksi termasuk sistem logika. Pendekatan sistem dari aplikasi logika suatu sistem menjadi masalah pokok yang spesifik dibawah investigasi. Sistem dapat didefinisikan tujuan dari investigasi. Sistem dapat didefinisikan secara khusus, misalnya sistem pendidikan dilihat dari managerial, pembelajaran, dalam beberapa pandangan sistem dapat dipakai sebagai dasar kebutuhan untuk menganalisa, membangun model, memecahkan masalah dan sebagainya. Secara  sederhana definisi sistem  dari Webter’s Dictionary” Sistem is an agregation assemblage of object united by some form or regular interaction or interdependence.(Sistem adalah kumpulan dari kesatuan objek yang membentuk interaksi regular atau saling ketergantungan)

 

 

Kelima, pendekatan sistem tidak efesien karena berkenaan dengan masalah untuk mengidentifikasi secara lansung pokok masalah. Jawaban dari tuduhan ini tergantung pada masalah-masalah yang alami, jika masalah ini adalah ruang dan kita ingin memecahkannya pada masalah basis tambahan mungkin pendekatan kesisteman yang tidak dipertimbangkan bisa digunakan.Tetapi jika masalahnya mendasar dan saling berhubungan, cara yang sepakat dengan masalah tidak hanya menghasilkan pengukuran remedial untuk menyembuhkan gejala sehingga pendekatan kesisteman mungkin bermanfaat.

Keenam, model kesisteman humanis bisa diakomodasi sebagai kerangka berpikir kesisteman. Teori modern  organisasi misal sistesa manajemen ilmiah dan teori hubungan manusia, keduanya dibawah payung berpikir kesisteman, bisa dilakukan dengan menghargai nilai-nilai kemanusiaan dalam membangun kesisteman. Variabel kemanusiaan seperti: kebebasan, kemuliaan, privasi, bisa didasarkan sebagai input kesisteman atau lingkungan kesisteman. Dan variabel non kemanusiaan.

Ketujuh, masalah determinis dan non determinis sama tuanya dengan kewarganagaraan manusia, dan tidak ada jawaban tunggal dari suatu pertanyaan, adalah teka-teki kehidupan alam, bagaimanapun usaha-usaha merencanakan kesisteman ke depan dikendalikan secara ilmiah. Tidak ada alasan mengabaikan masalah manusia, misalnya masalah yang ditimbulkan oleh pengutuban teknologi dan humanis. Segalanya harus untuk keselamatan manusia dari pembusukan, tetapi usaha determinis yang ekstrim.

Akhirnya, menurut James Schelesinger menandai analisis sistem, dalam memorandom untuk subcommitee on National Security and internatioanl Operation, april 1968, dia menyatakan satu dari dua setengahnya adalah (sorak sorai) analisis sitem.

Dia mengenali dan menekankan keterbatasan analisis sistem ini, dengan mengatakan sikapnya tentang analisis sistem, dengan penuh harapan, perubahan sistem akan memberikan proses menuju sikap ilmiah sehingga pada saatnya untuk merevisi  the cheer upward sementara mengakui adanya lingkaran kebenaran, tuduhan Rollo Handy tentang berpikir sistem yang mempunyai tendensi imperialistik meliputi bidang-bidang yang sangat besar.

Sikap yang ditunjukkan Earnest Nagel-dibedakan antara positivist logis yang menantang legalitas dari berpikir kesisteman: sikap menyeluruh sebagai dasar berpikir kesisteman dalam komunitas ilmiah mungkin terjamin. Berpikir kesisteman saat ini masih sudut pandang dari satu doktrin meskipun di masa depan mungkin berkembang menjadi sebuah doktrin. Kenyataannya konsep kesisteman masih tahapan embrio menjadi batasan ilmu pengetahuan, ungkapan berbahaya oleh Von Mises: Bahwa meskipun tidak ada kekurangan dari motif psikologi dan alasan yang bijaksana untuk penggunaan konsep secara keseluruhan dari berbagai ilmu pengetahuan tapi dilihat sebagai sebuah model misalnya dalil metafisika. Konsep tambahan yaitu berguna dalam berbagai tempat, sebagai ide valid yang absolut sebagai sumber yang mendasari ilmu pengetahuan. Dengan penuh harapan, doktrin berpikir kesisteman akan menjadi dasar dari latar belakang ilmu pengetahuan  dari metafisika. Asas ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam berpikir kesisteman akan bertahan dalam komunitas ilmu pengetahuan.

 

 

TEORI SISTEM TERBUKA DAN TERTUTUP DALAM ORGANISASI


GambarPendahuluan

Berbagai permasalahan besar dan kompleks yang dihadapi pemerintah atau masyarakat baik yang menyangkut masalah Agama, Politik, Ekonomi, Social, Budaya, Pertahanan, Keamanan, dan sebagainya, bila diperhatikan secara seksama masalahnya memang selalu saling terkait satu sama lain atau tidak ada yang berdiri sendiri. Demikian pula berbagai masalah yang terjadi di luar negeri, ternyata langsung ataupun tidak langsung juga mempunyai pengaruh dengan masalah dalam negeri, apalagi dalam era globalisasi ini. Contoh-contoh yang menunjukkan bahwa berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan itu saling terkait atau berhubungan satu sama lain, memang banyak sekali. Salah satu contoh misalnya dalam masalah bidang pendidikan, ternyata sangat terkait dengan masalah kesejahteraan, lapangan kerja, kependudukan, industry, ekonomi, Teknologi, transfortasi dan lain-lain.

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Dalam menghadapi lingkungan yang semakin komplek terutama pada era globalisasi yang berdampak terhadap meningkatnya tuntutan kemampuan bersaing bagi setiap bangsa atau Negara agar dapat tetap bertahan atau lebih maju, maka kemampuan pendidkan dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah serta kemampuan manajerial yang efektif bagi setiap pimpinan atau manajer dari suatu organisasi yang besar, menjadi suatu tuntutan yang harus dikuasai dengan baik.

Dengan menyadari bahwa setiap masalah itu tidak berdiri sendiri dan selalu terkait dengan atau berhubungan dengan masalah lain, maka berarti jika kita memecahkan masalah yang satu pasti akan berdampak terhadap masalah yang lain. Sebagai contoh misalnya kita lihat bahwa upaya untuk menekan harga kendaraan agar agar dapat terjangkau oleh banyak orang, pada gilirannya akan meningkatkan jumlah kendaraan di jalan raya dan jika hal ini tidak diikuti dengan penambahan ruas jalan maka kemacetan lalu lintas akan semakin parah.

Mengingat hampir tidak ada suatu masalah yang berdiri sendiri, maka semua pimpinan atau manajer yang bertanggung jawab dalam suatu organisasi diharapkan perlu menggunakan pendekatan yang menyeluruh dalam proses pengambilan keputusan terutama dalam menentukan tujuan, mengalokasikan sumber daya, dan membuat perencanaan. Proses pengambilan keputusan yang dilakukan harus memperhatikan semua faktor yang terkait dan keputusan yang diambil harus ditekankan kepada upaya untuk mencapai kinerja dari keseluruhan (sistem) organisasi bukan hanya kinerja dari salah satu bagiannya. Peter Senge (1990) berkaitan dengan masalah ini pernah mengingatkan bahwa kita harus melihat hutannya jangan hanya pohon ke pohon. Artinya dalam menghadapi suatu persoalan kita jangan hanya memperhatikan detailnya tetapi juga kedudukan persoalannya dalam persepektif yang lebih luas. Dalam hal ini pendekatan sistem merupakan suatu metodologi yang akan dapat menjawab kebutuhan tersebut.

Pada perkembangannya Maning perdana menteri Kanada menulis tentang ‘’Pendekatan Sistem’’ dan dalam platform politiknya menyatakan : Sebuah hubungan timbal balik ada di antara semua elemen dan para pemilih dari masyarakat. Faktor-faktor yang utama dalam masalah-masalah umum, kebijakan-kebijakan, keputusan-keputusan, dan program-program haruslah selalu dipertimbangkan dan dievaluasi sebagai ketergantungan antar komponen dari seluruh sistem.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, pada makalah ini kami hanya akan membahas masalah perkembangan filosofi, dan teori sistem dalam perspektif keilmuan.

Sejarah Perkembangan Teori Sistem

Kata Sistem dalam maknanya di sini, memiliki sejarah panjang yang dapat ditelusuri kembali ke Plato (Philebus), Aristoteles (Politik) dan Euclid (Unsur). Sistem pada saat itu berarti “total”, “orang banyak” atau “serikat” pada zaman kuno, karena berasal dari kata kerja sunìstemi, menyatukan, menempatkan bersama-sama. “Sistem” berarti “sesuatu untuk melihat”. Dalam filsafat, sebelum Descartes, tidak ada kata “sistem”. Plato tidak memiliki “sistem”. Aristoteles tidak memiliki “sistem”.[1]  Pada abad ke-19 yang pertama kali mengembangkan konsep “sistem” dalam ilmu alam adalah fisikawan Perancis Nicolas Leonard Sadi Carnot yang belajar termodinamika. Pada tahun 1824 ia mempelajari sistem yang ia sebut substansi kerja, yaitu struktur uap air, di mesin uap, dalam hal kemampuan sistem untuk melakukan pekerjaan ketika panas diterapkan untuk itu. Substansi kerja dapat dimasukkan ke dalam kontak dengan baik boiler, reservoir dingin (aliran air dingin), atau piston (yang diterima oleh tubuh pekerja dapat melakukan pekerjaan dengan mendorong di atasnya). Pada tahun 1850, fisikawan Jerman Rudolf Clausius umum gambar ini untuk memasukkan konsep lingkungan dan mulai menggunakan “Struktur yang bekerja” istilah tersebut mengacu ke sistem.

Salah satu pelopor dari teori sistem umum adalah ahli biologi Ludwig von Bertalanffy. Pada 1945 ia memperkenalkan model, prinsip, dan hukum yang berlaku bagi sistem umum atau subclass mereka, terlepas dari jenis khusus mereka, sifat dari unsur-unsur komponen mereka, dan hubungan atau ‘kekuatan’ di antara mereka. Perkembangan yang signifikan dengan konsep sistem dilakukan oleh Norbert Wiener dan Ross Ashby yang memelopori penggunaan matematika untuk mempelajari sistem. Pada 1980-an sistem adaptif kompleks jangka diciptakan di Santa Fe Institute interdisipliner oleh John H. Holland, Murray Gell-Mann dan lainnya.[2]

Teori Sistem  umum hadir pertama kali di dahului dengan adanya teori cibernatika, sistem keteknikan dan bidang pengetahuan yang saling berhubungan. Pengertian sistem mempunyai sejarah panjang, walaupun kondisi sistem tidak mengutamakan sejarah dari pengertian yang meliputi banyak nama dan ilustrasi. Nicolas dari cusa’s Deludo globy, Bertalanffy dan Hermann Hasse’s Glasperlenspiel yang mengamati bahwa pengerjaan dunia di refleksikan dalam sebuah desain yang cakap dan permainan yang abstrak. Menurut Kohler sebuah  teori sistem dimaksudkan untuk lebih mengerjakan sifat yang paling umum seperti properti organik daripada sistem organik untuk satu derajat, permintaan ini dipenuhi dengan teori sistem terbuka.

Kemampuan mengerjakan disebabkan oleh berbagai perkembangan teoritis baru, epistemologis, matematis dan lain–lain. Dalam hubungannya dengan pekerjaan eksperimen pada metabolisme dan pertumbuhan pada satu sisi dan sebuah usaha untuk mengkongkretkan sebuah program organismik pada sisi yang lain, teori sistem terbuka adalah sebuah lanjutan berdasar pada fakta yang biasa bahwa organisme adalah suatu sistem terbuka. Seiring dengan perkembangan waktu keberadaan teori sistem  mulai di perhitungkan, kemudian ada usaha untuk menginterpretasikan ilmu pengetahuan dan teori yang sebelumnya belum pernah dilakukan, dan generalisasi yang lebih tinggi daripada yang terdapat pada ilmu pengetahuan khusus. Teori Sistem  umum ditanggapi sebagai sebuah trend rahasia dalam berbagai disiplin. Teori sistem sering diidentikkan dengan teori cybernatika dan control, hal ini tentu saja tidak benar. Sebab Cybernatika adalah berpikir kesisteman yang beranggapan bahwa manusia dan masyarakat  dapat dipahami melalui kajian terhadap pesan fasilitas komunikasinya. Pemahaman akan peran umpan balik dan dampaknya merupakan titik sentral dari pembahasan teori sistem, Konsep kotak hitam (black box) dan negative fedd back yang  dapat digunakan untuk memahami dan memperbaiki suatu sistem yang kompleks seperti organisasi, banyak dibahas dalam ilmu ini. Cybernatika merupakan sebuah bagian dari sebuah teori  sistem  umum dan sistem merupakan kasus spesial yang penting dari teori sistim.

Tinjauan Umum Teori Sistem
Upaya mendeskripsikan, menjelaskan dan memprediksi perilaku organisasi umumnya berasal dari teori sistem. Seorang biolog Ludwig von Bertalanffy menyatakan bahwa teori sistem dapat dianalogikan dengan sistem yang ada pada organisme. Organisme sel itu terdiri atas sel-sel, dan sel-sel membentuk suatu molekul. Tiap bagian yang ada membentuk sistem yang terintegrasi dan terdiri dari struktur yang saling bergantungan dan bekerja secara harmonis. Tiap molekul tahu tugas masing-masing dan harus dapat bekerjasama serta memenuhi aturan yang ada. Hukum keteraturan merupakan konsep yang bersifat menyeluruh. Ide tentang keteraturan merupakan ide dasar dalam memahami dan menganalisis situasi yang kompleks.

Teori sistem memiliki dua konsep dasar yaitu pertama, konsep subsistem yang melihat hubungan antar bagian sebagai hubungan sebab akibat. Konsep kedua memandang sebab jamak (multiple causation) sebagai hubungan yang saling berkaitan yakni tiap bagian merupakan kompleks (kumpulan) yang tiap faktornya saling berkaitan.[3]

Teori Sistem Sosial; Teori Peran, Konsep Peranan dan hubungannya dengan Teori Sistem Sosial. Ada dua pola sistem yakni open system (sistem terbuka) dan closed system (sistem tertutup) dalam konteks hubungan organisasi dengan lingkungan eksternal. Suatu sistem adalah “terbuka”, jika mempunyai transaksi dengan lingkungan mana ia berada. Transaksi antara suatu organisasi dengan lingkungannya mencakup “input” dan “output”. Input biasanya dalam bentuk informasi, energi, uang, pegawai, material dan perlengkapan yang diterima organisasi dari lingkungannya. Output organisasi pada lingkungannya dapat berbentuk macam-macam tergantung pada sifat organisasi[4] Hubungan pada tiap aspek input dan output yang ada di sekolah dengan lingkungan yang lebih luas merupakan suatu interaksi yang membentuk siklus yang tiada akhir.

Konsep input-output sering disebut sebagai model linear, yaitu teori yang menjelaskan bagaimana sistem dapat dijelaskan dalam konteks dunia nyata. Suatu teori yang beranjak dari konsep umum ke khusus yang tampak logis, rasional dan teratur berupaya untuk mencari jawaban terhadap upaya menghubungkan nilai input dan nilai output sehingga menghasilkan efisiensi biaya. Dalam konteks sekolah, siswa dan guru berupaya mencapai tujuan formal sekolah dengan keyakinan, tujuan dan harapan. Mereka akan mematuhi hukum, aturan dan disiplin agar dapat mempertahankan diri daripada memikirkan komitmen yang tidak jelas. Pendekatan lain dalam memahami organisasi sekolah dan perilaku anggotanya adalah dengan berfokus pada apa yang sebenarnya terjadi. Hal ini berpusat pada proses yang terjadi di dalam yaitu sistem organisasi yang dipandang sebagai sistem total dari konteks yang menggambarkan seluruh pola yang ada.  Organisasi sebagai sistem yang menciptakan dan menjaga lingkungan didalamnya memuat interaksi manusia yang kompleks (baik antar individu maupun dalam kelompok). Organisasi sekolah, misalnya, harus dipandang sebagai hubungan antara perilaku manusia dan konteksnya. Dengan demikian, perilaku organisasi difokuskan pada sekolah sebagai suatu sistem.

Andrew Halpin dan Don Croft meneliti tentang iklim sekolah yang berfokus pada karakteristik internal organisasi sekolah yang seakan terpisah dari pengaruh lingkungan. Hal ini akan memudahkan peneliti karena memisahkan unsur lingkungan sekolah dengan konteks yang lebih luas.

Organisasi dengan sistem terbuka dapat digambarkan seperti fenomena nyala api lilin, sinar yang dipancarkannya akan memengaruhi kondisi lingkungan di sekelilingnya. Daniel Griffiths mengatakan bahwa organisasi (sistem) berada dalam lingkungan (suprasistem) yang didalamnya memuat pula sub sistem (perangkat administrasi dalam organisasi). Batasan antar sub sistem dibuat dengan garis putus-putus yang berarti antar bagian dapat saling menembus (permeable). Antara subsistem yang terlibat dapat saling mempengaruhi lewat hubungan yang interaktif dan adaptif antar komponen. Masalah yang terjadi pada satu bagian dapat menjadi ancaman terhadap fungsi keseluruhan. Adapun karakteristik dari sistem tertutup adalah adanya kecenderungan yang kuat untuk bergerak mencapai suatu keseimbangan dan entropi yang statis. Sifat ini menunjukkan adanya kebekuan atau tepatnya keseimbangan yang beku. Istilah entropi aslinya dipergunakan dalam ilmu-ilmu fisika. Ia mempunyai pengertian dipergunakan pada setiap sistem yang tertutup dengan tidak adanya potensi berikutnya untuk membangkitkan daya kerja atau usaha transformasi[5]

Teori Peran
Erving Goffman menganalogikan situasi kehidupan sehari-hari dengan peran di panggung ketika menganalisis perilaku interpersonal manusia dalam organisasi. Tiap organisasi harus mengartikan peran individu yang terlibat yang dipengaruhi oleh interaksi dinamis dengan orang lain. Seperti aktor dan penonton, peran yang dijalani oleh pimpinan, misalnya dibentuk oleh harapan atasannya dan juga oleh kehadiran orang lain. Kehadiran orang lain (direktur dan orang lain) bertujuan untuk mengontrol situasi dan organisasi agar orang-orang yang terlibat berperilaku seragam (conform).
Adapun beberapa istilah mengenai peran ini sebagai berikut;

  1. Peran adalah konsep psikologis tentang perilaku yang timbul dalam interaksi dengan manusia lain. Tiap posisi membawa harapan tertentu bagi pelaku dan organisasi lain.
  2. Deskripsi peran, yaitu perilaku aktual yang ditunjukkan. Lebih tepat lagi berkaitan dengan lagi persepsi seseorang tentang perilaku yang harus dijalankan.
  3. Peran preskriptif merupakan ide abstrak tentang norma umum yang terdapat dalam budaya tentang peran yang diharapkan.
  4. Harapan peran, yaitu harapan orang lain terhadap peran yang harus dijalankan orang lain, misalnya guru terhadap kepala sekolah, kepala sekolah terhadap guru. Jika mereka berinteraksi artinya mereka memiliki harapan peran yang saling melengkapi (bersifat komplementer).
  5. Persepsi peran, merupakan persepsi yang dimiliki seseorang terhadap peran yang seharusnya dilakukan orang lain.
  6. Peran manifes (nyata) dan peran laten, hal ini berasal dari kenyataan bahwa seseorang mempunyai lebih dari satu peran. Peran manifes merupakan peran yang ditunjukkan, lainnya akan menjadi peran laten.
  7. Konflik peran. Hal ini dapat terjadi dan merupakan sumber dari kinerja yang tidak baik. Contoh nyata dari konflik peran yaitu dua orang tidak mampu untuk membangun hubungan yang memuaskan secara timbal balik. Hal ini bisa berasal dari banyak sebab, yang menimbulkan kebingungan antara harapan peran dan persepsi peran. Konflik peran juga dapat terjadi pada individu yang sama: harapan peran berkonflik dengan kebutuhan pribadi misalnya konflik peran pada kepala sekolah .
  8. Ambiguitas peran. Hal ini dapat terjadi ketika preskripsi peran mengandung elemen yang kontradiktif atau kabur.

Sebagai contoh hal ini dapat dilihat pada perbedaan kerja antara bidang administrasi dan supervisi. Supervisor sering merasa memiliki otoritas hirarki di atas guru. Mereka terkadang harus melawan perannya saat harus melatih dan menghilangkan otoritasnya terhadap guru. Konflik peran dapat menimbulkan tekanan dan ketidakpastian, yaitu suatu ketidakkonsistenan dalam perilaku. Hal ini berdampak pada perilaku yang tidak bisa diprediksi dan tidak bisa diantisipasi terutama bila terjadi tekanan atau konflik interpersonal. Orang yang berada pada situasi ini akan menjadi tidak mampu menghadapi situasi tersebut. Menghadapi situasi yang demikian kadang dilakukan dengan penghindaran, misalnya menghindari diskusi dengan obrolan-obrolan biasa yang tidak penting.

Trend dalam Teori Sistem

            Ketika hal baru di serukan sebagai sesuatu yang revolusioner banyak orang memakai istilah ini untuk menandai perkembangan ilmu pengetahuan.Revolusi adalah proses menjebol tatanan lama sampai ke akar-akarnya, kemudian menggantinya dengan tatanan yang baru. Begitu juga yang di maksud dengan revolusi ilmu pengetahuan  atau revolusi sains muncul jika paradigma yang lama mengalami krisis dan akhirnya orang mencampakkannya serta mencita-gunakan paradigma yang baru yang sekiranya lebih rasional dan logis.

Menurut pendapat Kuhn revolusi ilmu pengetahuan ditentukan  oleh adanya paradigma yang mengakibatkan perubahan konsep, sehingga ilmu pun terus berubah. Peran paradigma dalam perkembangan ilmu penetahuan sangat  penting, karena paradigma itulah yang menjiwai sebuah konsep. Dalam hal ini masalah sistem merupakan hal yang penting dalam pembatasan masalah pada prosedur analisis ilmu pengetahuan. Aplikasi prosedur analisis tergantung pada dua kondisi yang pertama interaksi antara bagian yang tidak ada atau cukup lemah untuk dibiarkan dalam tujuan penelitian tertentu. Yang kedua dalam hubungannya dengan menerangkan perilaku bagian haruslah linier.

 Teori Sistem  Klasik

Teori Sistem Klasik menambahkan  matematika klasik seperti kalkulus dengan tujuan untuk menyatakan prinsip yang digunakan pada sistem umum atau sub kelas yang ditentukan  (misalnya, sistem tertutup dan sistem terbuka), untuk menyediakan teknik dalam penelitian dan deskripsi, serta untuk menerapkan kasus-kasus konkret Karena sifat umum dari deskripsi tersebut. sehingga dapat dinyatakan bahwa sifat formal tertentu akan berlaku untuk setiap entitas sistem   ( sistem terbuka, atau sistem hirarkis, dll). Berbagai teori pendukungpun bermunculan untuk melengkapi pengaplikasian teori sistem umum antara lain : Teori Bagian, Teori Set, Teori Grafik, Teori Jaringan, Cibernetika, Teori Informasi, Teori Automata, Teori Permainan, Teori Keputusan, dan Teori Pengantrian.

Arti Teori Sistem Umum

Ilmu modern dikarakterkan oleh spesialisasinya yang pernah meningkat, diharuskan dengan banyaknya jumlah data, kompleksitas tehnik dan struktur teoritis di semua bidang. Pada acara ini, kita merumuskan disiplin ilmu baru yang disebut “Teori Sistem Umum”. Pemikiran teori ini mengenai pembangunan model teoritis model kesisteman yang dasarnya terletak  diantara teori umum matematika murni dan teori disiplin ilmu tertentu. Pada teori sistem umum, subjek masalahnya adalah pada perumusan dan derivasi prinsip-prinsip yang valid untuk “sistem” secara umum. Arti disiplin ini dapat dikondisikan sebagai berikut : Fisika dihubungkan dengan sistem level-level generalitas yang berbeda. Ini diperluas dari sistem yang agak khusus, seperti yang diaplikasikan oleh insinyur pada konstruksi jembatan atau mesin, pada hukum khusus disiplin ilmu fisika seperti mekanik atau optik; pada hukum generalitas besar seperti prinsip termodinamika yang diaplikasikan pada sistem yang berbeda sifatnya secara intrisik, mekanik, kalorik, kimia atau yang lain. Dengan mendefinisikan konsep sistem, kita akan tahu bahwa model, prinsip dan hukum yang ada itu diaplikasikan pada sistem yang digeneralkan yang mengabaikan jenis, elemen dan “kekuatan” khusus yang terlibat.

Tujuan Teori Sistem Umum

Teori sistem umum merupakan keseluruhan yang sampai sekarang masih dianggap sebagai konsep yang semimetafisik dan tidak jelas. Dalam bentuk yang berelaborasi ini akan menjadi disiplin logis matematika secara formal tetapi dapat di aplikasikan pada berbagai ilmu empiris karena berhubungan dengan ‘’keseluruhan yang teroganisir’’ ini akan menjadi signifikasi yang hampir sama dengan yang dimiliki teori probabilitas untuk ilmu yang berhubungan dengan ‘’peristiwa kesempatan’’ yang berikutnya juga adalah disiplin matematika formal yang dapat diaplikasikan pada bidang yang paling berbeda, seperti termodinamika, percobaan biologi dan medis, genetik, statistik asuransi hidup dan sebagainya. Indikasi tujuan teori sistem umum, adalah sebagai berikut :

1. Ada tendensi umum melalui integrasi dalam berbagai ilmu alam dan sosial.

2. Beberapa integrasi nampaknya menjadi pusat dalam teori sistem umum.

3. Menjadi sarana penting untuk membidik pada teori yang tepat dalam bidang  ilmu pengetahuan nonfisik

4. Mengembangkan prinsip kesatuan yang dijalankan secara vertikal melalui universalnya ilmu individu, teori ini membawa kita lebih dekat pada tujuan kesatuan ilmu.

5. Lebih mengarah pada dibutuhkannya integrasi dalam pendidikan ilmiah.

 Sistem Terbuka dan Sistem Tertutup

Fisika konvensional hanya berkenaan  dengan sistem tertutup,  yang terisolasi terhadap lingkungan. Dalam teori kimia fisis dijelaskan reaksi-reaksi, rata-rata dan kesetimbangan kimia yang ditetapkan dalam bejana tertutup dimana sejumlah reaktan dijadikan satu. Hukum termodinamika menyatakan bahwa hukum tersebut hanya diterapkan pada sistem tertutup saja. Sedangkan setiap organisme yang hidup pada dasarnya merupakan sistem yang terbuka. Mereka mempertahankan diri dalam sebuah pemasukan dan pengeluaran yang berkesinambungan, pembangunan dan kerusakan komponen-komponen, tidak pernah selama hidupnya berada dalam kesetimbangan kimiawi dan termodinamis, tapi tetap berada dalam sebuah keadaan tetap yang berbeda jauh dengan keadaan sebelumnya. Perumusan fisika yang terjadi tidak dapat dipakai oleh organisme hidup dengan sistem terbuka dan keadaan tetap, dan kita juga bisa menduga bahwa karakteristik sistem kehidupan yang beraneka ragam berlawanan asas dalam pandangan hukum-hukum fisika yang merupakan sebuah konsekuensi dari fakta ini.

Hubungan Sebab Akibat dan Teleologi

Tujuan ilmu pengetahuan sepertinya menjadi analitis yaitu pemecahan realitas menjadi unit-unit yang lebih kecil dan isolasi deretan hubungan sebab akibat yang inidvidualis. Karakteristik ilmu pengetahuan modern yang dipolakan menjadi unit-unit yang dapat dijauhkan dari hubungan sebab akibat telah terbukti tidak mencukupi, oleh sebab itu realitas dalam semua bidang ilmu pengetahuan, gagasan seperti keseluruhan, holistik, organisme, gestalt dan sebagainya, semuanya menandakan bahwa kita harus berfikir dalam terminologi sistem-sistem elemen dalam interaksi satu sama lain.

Sama halnya, gagasan teologi , terlihat seperti di luar jangkauan ilmu pengetahuan dan menjadi tempat bermain bagi hal-hal yang misterius, supranatural, asing bagi pengalihan ilmu pengetahuan , pemusatan pikiran bagi para peneliti yang percuma pada alam yang diatur oleh hukum-hukum yang tidak jelas tujuannya

Teleologi merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan. Dalam arti umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah. Dalam bidang lain, teleologi merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi tujuan dan “kebijaksanaan” objektif di luar manusia.

 Beberapa Konsep Sistem.

Konsep sistem menyatakan bahwa sebuah sistem dapat ditetapkan sebagai sekumpulan elemen atau unsur yang berdiri di dalam interrelasi. Sistem dapat ditetapkan secara matematis dengan berbagai cara. Sebagai ilustrasi, dapat dipilih sistem dari persamaan-persamaan diferensial simultan. Tak ada pembicaraan masalah finalitas yang mendetail, tetapi dapat disampaikan tipe finalitas, antara lain :

1. Teleologi statis, berarti bahwa persesuaian berguna bagi tujuan tertentu.

2. Teleologi dinamis, berarti kelangsungan proses-proses.

Ada tiga prasyarat untuk keberadaan isomorfik dalam bidang dan ilmu pengetahuan yang berbeda, yaitu adanya analogis-analogis, homologis, dan penjelasan. Analogis secara ilmiah mungkin kurang bermanfaat, namun homologis sebaliknya seringkali menghadirkan model-model bernilai, sehingga secara luas dapat diterapkan dalam fisika. Sementara secara filsafat, bentuk teori sistem umum dalam  perkembangannya akan menggantikan apa yang dikenal dengan teori kategori.

 Kesatuan dalam Ilmu Pengetahuan

Selanjutnya seluruh hasil utama penyajian sebagai Kesatuan Ilmu Pengetahuan dapat kita rangkum sebagai berikut :

1. Analisis prinsip sistem umum memperlihatkan banyak konsep yang merupakan hasil     dari definisi sistem atau hasil kondisi sistem tertentu.

2. Investigasi ini merupakan prasyarat bermanfaat yang berkaitan dengan masalah nyata     dalam ilmu pengetahuan.

3. Investigasi sama pentingnya dengan filsafat ilmu pengetahuan.

4. Fakta bahwa prinsip-prinsip diterapkan dalam sistem secara umum.

Dari sudut pandang kita, Kesatuan dalam Ilmu Pengetahuan memang terbukti nyata pada saat yang sama juga merupakan aspek yang lebih kentara. Realita dalam gagasan modern merupakan suatu urutan hirarkhis yang besar dari entitas terorganisir, mencakup seluruh tingkat dari sistem fisika, kimia hingga biologi. Penjelasan teori sistem umum pada masa yang akan datang, akan menjadi langkah utama terhadap penyatuan ilmu pengetahuan, dan akan memainkan peranan sama dengan logika Aristoteles dalam ilmu pengetahuan antiquiti. Dalam ilmu pengetahuan modern, interaksi dinamis menjadi suatu masalah besar dalam seluruh bidang realita dan prinsip-prinsip umumnya harus ditetapkan dengan teori sistem.

Metode-metode dalam Penelitian Sistem Umum

Metode-metode Penelitian Sistem Umum, sebagaimana digarisbawahi oleh Ashby (1958) terdapat dua metode dalam studi sistem :

1. Metode pertama bersifat empiriko-intuitif, metode ini dikembangkan oleh Von Bartalanffy dan rekan-rekannya, dengan obyek amatannya yaitu zoologi dan psikologi. Metode ini dengan mengamati berbagai sistim yang terjadi dalam dunia yang diamati kemudian membuat pernyataan mengenai keteraturan yang telah diamati. Metode ini memiliki keunggulan yaitu mendekati dengan realita dan dapat dengan mudah diilustrasikan atau dijelaskan dengan contoh-contoh yang diambil dari bidang ilmu pengetahuan individual.

2. Metode kedua mempelajari serangkaian dengan metode deduktif, metode ini mempelajari serangkaian sistim yang dapat mungkin dan kemudian mengurangi rangkaian tersebut menjadi ukuran yang dikehendaki. Metode ini diikuti oleh Ashby (1958). yang meneliti tentang konsep fundamental mesin dan menjawab pertanyaan dengan menyatakan kondisi internal dan kondisi lingkungannya akan menentukan kondisi selanjutnya yang akan ada. Jika variabel bersifat berkelanjutan, definisi ini berkoresponden dengan deskripsi suatu system dinamis oleh serangkaian persamaan diferensial dengan waktu sebagai veriabel bebas.

Teori Sistem Terbuka

Teori sistem terbuka merupakan generalisasi yang penting dari teori fisik kinetik dan thermodinamik. Teori ini telah menghasilkan suatu prinsip dan wawasan baru seperti misalnya prinsip equifinalitas, generalisasi prinsip thermodinamik kedua, peningkatan keteraturan yang mungkin dalam sistem terbuka terjadinya fenomena periodis, overshoot dan kesalahan permulaan dan lain-lain. Konsep sistem terbuka menemukan aplikasinya dalam ilmu pengetahuan tentang bumi, geomorphologi dan meteorologi dengan memberikan suatu perbandingan terperinci dari suatu konsep meteorologis dan konsep organismik Bertalanffy dalam bidang biologi.

Organisme yang dianggap sebagai Sitem Fisik

Organisme sebagai sistem terbuka. Dengan memperhatikan organisme sebagai keseluruhan, ia menampakkan ciri-ciri sama dengan ciri sistem pada keseimbangan menurut Zwaardemaker. Menururt pendapat Hopkins , “Hidup adalah satu keseimbangan dinamis di dalam sistem polyfasik”. Oleh karena itu dibutuhkan definisi dari apa yang disebut keseimbangan tidak berubah. Jelas, prinsip-prinsip umum seperti yang sedang dikembangkan tak dapat memberikan penjelasan rinci tentang permasalahan tersebut, namun dapat menunjukkan dasar-dasar fisik umum dari ciri kehidupan yang hakiki, termasuk pengaturan diri metabolisme dan penetapan dalam perubahan komponen-komponen. Ciri-ciri umum sistem-sistem kimia terbuka, menunjukkan bahwa, ekuilibria nyata pada sistem tertutup dan ekuilibria tidak bergerak pada sistem-sistem terbuka memperlihatkan kesamaan tertentu. Sistem tertutup harus mempertahankan keadaan seimbang bebas waktu yang ditetapkan oleh maksimum entropy dan minimum bebas energi, dimana rasio antara dua fase tetap konstan.

Model Sistem Terbuka.

Ada suatu perbedaan yang fundamental antara organisme yang hidup dan organisme yang mati. Biasanya kita tidak memiliki kesulitan dalam membedakan antara organisme hidup dan obyek yang mati. Dalam makluk hidup, proses kimia dan fisik yang tidak terbatas jumlahnya sangat “teratur/terarah”, sehingga memungkinkan suatu sistem yang hidup untuk bertahan, tumbuh, berkembang, dan bereproduksi.

Pada bagian ini akan kita bahas mengenai mesin hidup dan keterbatasannya. Pada abad tujuh belas, ketika Descartes mengenalkan konsep hewan sebagai mesin, diperkenalkan pula mesin uap dan thermodinamik yang menghasilkan adanya pandangan bahwa organisme dianggap sebagai mesin pemanas, sehingga menghasilkan gagasan perhitungan kalori dan hal-hal lainnya. Namun demikian organisme bukanlah suatu mesin pemanas yang mengubah energi bahan bakar menjadi panas dan kemudian menjadi energi mekanik. Organisme adalah suatu mesin chemodinamik yang secara langsung mengubah energi bahan bakar menjadi kerja yang efektif, yang merupakan suatu fakta bahwa teori tindakan otot ini didasarkan. Selanjutnya, mesin yang dapat mengatur sendiri kemudian dikenalkan, seperti thermostat. Sehingga organisme menjadi suatu mesin cibernetik, yang merupakan penjelasan dari homeostatis dan fenomena yang berkaitan.

Terlepas dari keberhasilannya model mesin organisme memiliki kesulitan dan keterbatasan sebagai berikut :

1. Ada keraguan mengenai asal mula mesin khususnya dalam pemikiran fisik. Descartes lama tidak masalah karena mesin hewannya merupakan ciptaan Tuhan, namun bagaimanakah mesin-mesin tersebut terjadi dialam semesta yang merupakan kejadian psiko-kimia yang tidak langsung?

2. Ada suatu masalah mengenai keteraturan setelah terjadi gangguan arbitrer. Masalah akan timbul mengenai pengaturan dan perbaikan setelah terjadi gangguan arbiter, mesin yang memperbaiki sendiri mungkin dapat dibenarkan dari sudut teori automata modern tapi dapatkah suatu mesin hidup, katakan suatu embrio atau otak dapat diprogram untuk melakukan perbaikan sendiri setelah mengalami ganguan?

3. Struktur organisme organisme hidup melakukan pertukaran komponen secara terus menerus melalui metabolisme, hal ini tidak bisa dilakukan oleh mesin dengan bahan bakarnya.

Beberapa Aspek Teori Sistem dalam Biologi.

Menurut pendapat umum, terdapat perbedaan mendasar antara “fakta-fakta yang diamati” di satu pihak yang merupakan landasan kuat ilmu pengetahuan yang tak dapat dipertanyakan yang dikumpulkan dalam sejumlah jurnal ilmiah yang tercetak dan “hanya teori” di pihak lain yang merupakan produk spekulasi. Ada empat model yang mendasari di bidang metabolisme kuantitatif yakni model-model organisme sebagai sistem terbuka, keadaan tetap homeostatis, alometri, dan yang disebut sebagai model pertumbuhan Bertalanffy. Model-model tersebut digunakan agak lebih luas dan dapat menggambarkan kerangka konseptual dan juga kerangka yang lain. Adapun aspek-aspek teori sistem dalam biologi meliputi :

1. Teori-teori tentang sistem-sistem terbuka, feedback, allometry dan pertumbuhan      dikupas dalam hubungannya dengan aplikasi-aplikasi eksperimentalnya.

2. Sistem terbuka dan feedback berlaku luas untuk fenomena di dalam fisiologi dan      memberikan perluasan-perluasan hakiki teori fisika.

3. Persamaan allometriks memberikan hubungan memungkinkan paling sederhana antara     ukuran tubuh dengan proses-proses metabolik.

4. Hubungan antara ukuran tubuh dengan tingkat metabolis mungkin terjadi : a. pada     jaringan atau species yang berbeda, b. pada perubahan kondisi fisiologis, c. pada     desain eksperimental yang berbeda.

5. Dependensi ukuran total metabolisme pada mamalia berada di bawah kondisi-kondisi     basal berbeda.

6. Dengan mempergunakan model Bertalanffy persamaan pertumbuhan menjadi sangat     sederhana.

7. Variasi-variasi musiman tingkat-tingkat metabolis dan tingkat-tingkat pertumbuhan      nampaknya menunjukkan saling kecocokan.

Konsep Sistem pada Ilmu Pengetahuan Manusia

Adanya pandangan dasar dunia sebagai organisasi dengan ditandai timbulnya paket disiplin ilmu baru seperti ciberkinetik, teori informasi, teori sistem general, teori permainan, keputusan, antrian, pada penerapan praktek, sistem analisis, sistem keteknikan, operasi penelitian dan lain-lain. Oleh karena itu munculnya sejumlah trend konsepsi baru mendatang perlu dipertimbangkan dan didorong oleh pandangan bahwa model robot adalah pandangan kenyataan empiris yang berbahaya terhadap ‘’keteknikan tingkah laku’’. Dalam penerapannya konsep robot sering di aplikasikan secara tertutup dan terbuka dan untuk lebih memahami tentang konsep robot ada beberapa prinsip tentang konsep yang dapat disampaikan sebagai berikut :

1. Satu tuntunan konsep yaitu skema respon-stimulus / rangsangan (skema S-R) perilaku     hewan dan manusia, dianggap sebagai respon terhadap rangsangan yang datang dari     luar.

2. Environmentalism menyatakan (menurut skema S-R) perilaku dan kepribadian     dibentuk oleh pengaruh dari luar.

3. Prinsip keseimbangan menurut formula Freud merupakan ‘’prinsip stabilitas‘’ tentang     pemeliharaan keseimbangan homeostatis.

4.Prinsip ekonomi, menurut faedahnya dan harus dilalui secara ekonomis yaitu    pengeluaran minimum energi mental atau vita.

Konsep dan teori ditunjukkan oleh pendekatan sistem modern terus dikenalkan di sosiologi, seperti konsep sistem umum, umpan balik, informasi, komunikasi, dan lain-lain. Ahli teori fungsional telah menemukan bermacam-macam ekspresi seperti yang dipresentasikan oleh Parsons, Merton, dan teorisi lainnya. Sementara para sejarawan berkeyakinan bahwa ilmu adalah sebuah nomothetik penting yang mengagumkan.

Teori Sistem Umum dalam Psikologi dan Psikiatri

Beberapa tahun terakhir ini, konsep “sistem” telah mencapai peningkatan pengaruh dalam psikologi dan psikiatri. G.W. Allport mengakhiri re-edisi klasiknya dengan “kepribadian sebagai sistem”, Karl Menninger mendasarkan sistem psikiatrinya pada teori sistem umum dan biologi organismik, bahkan Rapaport mengatakan ”popularitas itu seperti epidemik dalam psikologi sistem terbuka”.

Konsep “molar” pada orgnisme psikofisika sebagai sistem yang kontras dengan konsepsinya yang hanya sebagai unit “molekular”, seperti refleks, sensasi, pusat otak, dorongan, respon penguat, ancaman, faktor, dan lain-lain. Psikopatologi jelas menunjukkan bahwa disfungsi mental lebih merupakan gangguan sistem daripada sebagai hilangnya fungsi tunggal. Tanpa stimuli eksternal, organisme bukanlah sistem yang pasif tetapi merupakan sistem aktif secara intrinsik. Sementara pada evolusi dan perkembangan, mekanisme reaktif nampak menjadi sangat mengganggu aktivitas ritmitik lokomotor yang primitif. Teori sistem dalam psikologi dan psikiatri bukanlah penemuan baru, dan jika memiliki perasaan de javu seharusnya tidak mengkontradiksikannya dan bermaksud hanya menunjukkan bahwa konsep sistem dalam bidang ini bukan spekulasi. Pandangan dunia ilmiah hanya dapat disinggung pada uraian sebagai brikut :

1.  Konsep sistem menyediakan kerangka teoritis yang netral secara psikofisik. Istilah fisik dan psikofisik, seperti potensi, transmisi kimia pada sinapsis, jaringan neural, dan sebagainya tidak dapat diaplikasikan pada fenomena mental, dan nosi psikologis juga kurang diaplikasikan pada fenomena fisik.

2. Dualisme Cartesian antara masalah dan pikiran tidak benar di antara cahaya       pengalaman fenomenologis langsung dan riset modern di berbagai bidang.

3. Masalah keinginan bebas atau penentuan juga menerima arti baru dan pasti. Ini      merupakan masalah pseudo yang dihasilkan dari kebingungan level pengalaman yang      berbeda pada epistemologi dan metafisika.

4. Tanggung jawab selalu dinilai dalam kerangka nilai simbolik seperti yang diterima      dalam masyarakat di bawah kondisi yang diberikan.

 Relativitas Katagori.

Hipotesis yang ditawarkan oleh Whofr tentang proses kognitif seluruh manusia memiliki struktur logika biasa yang bekerja sebelumnya dan struktur komunikasi secara bebas melalui bahasa adalah merupakan sebuah kesalahan. Sementara menurut tesis aliran Kant, ada bentuk intuisi, ruang dan waktu, dan katagori intelek, seperti substansi, kauslitas dan lainya yang melibatkan universal untuk menjadi bersifat rasional. Karena itu sains, yang berdasarkan katagori-katagori ini sama universal.Menurut Von Uexkull, setiap makhluk hidup memisahkan diri dari keanekaragaman obyek-obyek di sekelilingnya, sejumlah kecil karakteristik yang menyebabkan reaksi dan ansembelnya membentuk ”sekeliling”-nya (umwelt).

Ada alasan yang sangat mendasar mengapa representasi mental alam selalu mencerminkan aspek-aspek atau perspektif realitas. Pemikiran Bertalanffy, paling tidak dalam oksidental dalam bahasa manusia, pada prinsipnya merupakan makna lawan. Seperti yang dimiliki Heraclidtus, Bertalanffy sedang berfikir panas dan dingin, hitam dan putih, siang dan malam, hidup dan mati, dijadikan dan menjadikan. Jadi kategori pengalaman dan pemikiran Bertalanffy nampak ditentukan oleh pertama faktor biologi dan kultural, kedua ikatan manusia yang diikuti oleh proses antropomopisasi gambaran dunia, ketiga walaupun deantropomopis pengetahuan hanya mencerminkan aspek-aspek tertentu atau masalah realitas, keempat setiap aspek itu relatif kebenarannya, hal ini menunjukkan batasan dan kemuliaan pengetahuan manusia.

Berdasarkan uraian di atas Teori Sistem Umum sebagai sebuah trend rahasia dalam berbagai disiplin ilmu tidak muncul begitu saja tetapi melalui perjalanan yang panjang dengan bantahan-bantahan yang muncul dan bersifat menentang karena pada waktu itu ilmu fisika dan kimia dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan ilmu sosial. Masalah sistem itu penting dalam pembatasan masalah pada prosedur analisis ilmu pengetahuan. Hal ini seharusnya diungkapkan pertama kali berawal dari ilmu-ilmu metafisik dan pertama kali diperkenalkan oleh Von Bertalanffy melalui bukunya General System Theory pada tahun 1928 dan merupakan awal konsep untuk memandang dan memecahkan masalah secara integral dan holistik. Memecahkan masalah hanya dengan satu ilmu pada waktu itu sudah tidak memadai, sehingga General System Theory sangat populer dan diakui oleh dunia Teori sistem umum juga sering diidentifikasi dengan teori cibernetika, sebagai sebuah teori pengendalian mekanis dalam tehnologi dan alam, didirikan pada pengertian informasi dan feedback. Isomorfisme dalam Ilmu Pengetahuan, bermaksud menunjukkan tujuan umum dan beberapa konsep umum dari teori sistem umum. Pada kasus yang sederhana, tujuan isomorfisme telah dapat dilihat seperti pada hukum eksponensial maupun hukum logistik. Ada tiga prasyarat untuk keberadaan isomorfik dalam bidang dan ilmu pengetahuan yang berbeda, yaitu adanya analogis-analogis, homologis, dan penjelasan. Sementara model organisme sebagai sistem terbuka telah terbukti bermanfaat dalam penjelmaan dan perumusan matematika berbagai fenomena hidup. Model ini juga menghasilkan masalah-masalah alam yang fundamental. Di sisi lain, teori sistem dalam psikologi dan psikiatri bukanlah penemuan baru yang harus dikontradiksikan. Konsep sistem adalah pembalikan teori robotik secara radikal. Dalam kondisi tertentu sistem terbuka mendekati suatu kondisi yang bebas waktu yang disebut sebagai kondisi tetap/mantap.

  • Perspektif Klasik[6]

Teori-teori organisasi klasik adalah teori yang berkembang di khir abad ke- 18, yang pada peroide yang sering disebut Revolusi Industri. Berdasarkan pengamaan yang ada, perkembangan teori organisasi tidak lepas dari faktor lingkungan., yang meliputi aspek teknologi, sistem politik, sistem sosial, sistem budaya,dn demografi (persebaran penduduk). Terutama yang paling mendasar di sini adalah teknologi. Ini dapat dibuktikan dari proses lahirnya perspektif klasik. Perspektif ini berkembang pada periode perubahan teknologi di masa Revolusi Industri, yaitu di mulai di Inggris pada abad ke- 18.pda masa ini lah apa yang disebut ”organisasi” dalam pengertian modern muali berkembang. Revolusi Industri sendiri dapat diartikan sebagai titik pertama dalam sejarah dimana manusia mulai mengenal mesin, dlam pengertian mesin produksi yang melakukan yang mampu melakukan pekerjaan repetitif secara otomtis.

Menurut Hatch, pada periode klasik terdapat dua kelompok besar ahli pemikir organisai. Pertama, pemikir-pemikir aliran sosiologis yang mencoba mndeskripsikan dan menganalisis struktur organisasi dan peran-peran didalamnya. Dan yang kedua, pemikir-pemikir aliran administrasi dan manajemen yang lebih menitikberatkan pada masalah-masalah praktis yang dihadapidalam mengelola organisasi.

Berikut ini adalah kontribusi dari masing-masing tokoh tersebut.

Max Weber, Ahli Sosiologi, Jerman, untuk pertama klainya ia mengkaji organisai pemerintahan secara mendalam. Weber mendasarkan pemikiran birokrasinya pada konspe otoritas formal yang impersonal, objektif, dan rasional. Birokrasi semacam ini dijalankan dengan aturan-aturan dan prosedur bki, melalui bentuk-bentuk kontrol legalistik. Pengaruhnya terhadap teori terutama adalah pada aspek organisai publik, yang oleh tokoh-tokoh sebelumnya tidak dikemas dalam pemikiran tersendiri.

Frederick W. Taylor, Ahli Mnajemen, AS, gagasan terpenting dari taylor adalah penerapan prinsip-prinsip ”ilmiah” dlam melakukan pekerjaan dan mengontrol pekerja. Taylor menggunakan metode induktif, yaitu menciptakan suatu prinsip umum dari pengamatan terhadap kasus-kasus khusus. Pemikiran ini terutama dituangkannya dalam principe of scientific management.

  • Perspektif Modern

Perspektif Klasik, sebagaimana  dpat kita cermati dari tokoh-tokohnya, terbagi menjadi dua pemikiran besar, yaitu pemikiran yang menekankan pencapaian efisiensi dan efektivitas organisasi dan liran yang menekankan kebutuhan sosial dan psikologis manusia. Teori organisasi disini berhadapan dengan suatu masalaha klasik, bahwa organisasi modern dapat menolong manusia utnuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan secar efisien dan efektif, tetapi pada suatu ketika dapat ”memperbudak” manusia yang menciptakannya.

Melalu pesrpektif modern, fokus perdebatan berpindah dari aspek internal (efisiensi versus humanisme) pada aspek eksternal (hubungan organisasi dan lingkungan). Organisasi tidak lagi dilihat sebagai unti yang berdiri sendiri, melainkan terkait dengan apa yang disebut lngkungan. Jadi, di satu sisi, teori-teori organisasi perspektif modern adalah kelanjutan dari pemikiran-pemikiran era klasik. Namun dilihat dari sisi yang lain, mereka berbeda. Inspirasi utama mereka adalah keteraturan dan cara kerja alam (nature), khususnya aspek biologis. Sementara itu, pemikir-pemikir klasik umum terinspirasi oleh aspek fisika.

Dari sisi ilmu fisika, pemikiran Newton melihat bahwa alam semesta dapat diasumsikan sebuah mesin, seperti jam raksasa, yang bekerja melalui prinsip-prinsip keteraturan tertentu sehingga tidak terjadi kekacauan atau tabrakan satu sama lain. Gagasan keteraturan ini dikembangkan oleh pemikir-pemikir klsik dengan metafora organisasi sebagai ”mesin” yang harus bekerja secara efektif dan efisien.

Sebaliknya, para pemikir di era modern mengamati keteraturan lain yang dianggap lebih dinamis, yaitu keteraturan makhluk hidup atau dunia hayati. Mereka menamakannya teori keteraturan organik. Ludwig von Bertalanffy, seorang ahli biofisologi Jerman, mengambil konsep ”organisme” yang dikembangkan ahli-ahli biologi untuk diterapkan pada semua jenis ”sistem” secara umum. Inilah petak dasar dari pemikirn perspektif modern.

Di sisi lain, hingg pasa taraf tertentu, basis pemikiran modernis ternyata cenderung menghasilkan pa yang disebut ”rekayasa sosial” (social engineering). Terutama di negara-negara berkembang, dimana para ahli atau negarawan acap kali merombak ”sistem” yang sudah ada, dengan asumsi unsur-unsur pembentuknya tidak terkait dalam suatu interrelasi yang ideal, dan menciptakan ”sistem” baru yang lebih unggul.

  • Perspektif Post-Modern

Kecenderungan pemikir-pemikir post-modern adalah membalikkan asumsi-asumsi dasar dari pemikir-pemikir sebelumnya. Hal yang paling mendasar dalah ”keteraturan”. Baik pendekatan klasik maupun modern mendasarkan gagasan-gagasannya pada konsep keteraturan. Bedanya pemikir klasik mengambl gagasan keteraturan dari mekanisme alam semesta (fisika), sementara pemikir modern dari keteraturan organik makhluk hidup (biologi). Namun, inilah yng berbeda, perspektif post-modern mereka sengaja mengabaikn konsep keteraturan itu, termasuk dalam teori organisasi. Tujuannya adalah memperlihatkan realitas yang lebih kompleks, dimana kebenaran yang satu bersanding dengan kebenran yang lain meskipun keduanya tidak sama.

Pokok-pokok pemikiran dibawah ini adalah ”asumsi-asumi” yang mendasari pemikiran para ahli organisasi dan administrasi sejak jaman klasik sampai modern. Asumsi-asumsi inilah yang akan dibongkar oeh pemikir dri post-modern.

  1. Kemajuan atau pertumbuhan adalah sesuatu yang tanpa batas. Baik pendekatan klasik      maupun modern pada dasarnya tidak mengasumsikan adanya batas-batas tertentu bagi    perkembangan organisasi.
  2. Kebenaran adalah universal, sehingga rancangan yang berlaku pada satu kasus dapat     diterapkan pada kasus lain.
  3. Kebutuhan dan hasrat manusia pada dasarnya sama dan dapat di objektivitasi.
  4. Hierarki dan ketidakseimbangan kekuasaan dalam organisasi adalah alamiah.                  Dalam banyak hal apalagi bagi kita yang negara berkembang belum bisa diduga seperti apa kondisi dan penyesuaian-penyesuaian yng dilakukan organisasi terhadap kondisi pasca industri tersebut. Hanya saja beberapa ciri yang dapat diidentifikasi muli sekarang adalah:
  1. Penciptaan pengetahuan dan pengguna informasi maki penting. Pekerja sektor               manufaktur berkurang, sementara sektor jasa meningkat.
  2. Batas-batas organisasi dan lingkungan cenderung makin susah untuk dipertahankan.
  3. Batas-batas antara unit-unit atau departemen dalam suatu organisasi juga cenderung       makin kabur.
  4. Kehidupan organsisasi ditandai oleh ketidakpastian yang makin besar.

Jika dibatasi pada organisasi bisnis, perubhan yang terjadi dalam masyarakat pasca industri ada alam tiga hal penting berikut.

  1. Sistem produksi, harus menyesuaikan dengan perubahan-perubahan selera pasar yang   berlangsung cepat.
  2. Pasar domestik tidak memadai, harus ada internsionalisasi memasuki pasar-pasar              baru diluar negeri.
  3. Inovasi menjadi sagat penting, dimana riset dan pengembangan tidak jarang akan              sangat menentukan kelangsungan dan perkembangan perusahaan.

Dengan latar belakang perubahan-perubahan pasca-industri tersebut, dapat dipahami bahwa proyek pemikiran post-moernisme itu sendiri merupakan antisipasi terhadap pola pikir masyarakat yang secara radikaltelah berubah. Empat asumsi yang dikemukakan tersebutmenjelaskan beberapa haldari sustu pandang post modernis.

Kesimpulan

Sistem Teori merupakan suatu konsep dasar yang menjelaskan hubungan sistematis suatu fenomena dengan cara merinci suatu hubungan sebab – akibat yang terjadi. Di kehidupan sehari-hari istilah sistem teori sering dihubungkan dengan praktik, sistem teori kadang-kadang tidak mudah dipahami karena sifatnya cenderung abstrak. Memahami pemikiran secara abstrak barangkali bukan tugas yang mudah. Namun, sesuatu yang sulit bukan berarti tidak berguna. Seorang ahli mengatakan, tidak ada yang lebih praktis daripada teori yang bermanfaat, artinya, dengan menguasai suatu teori secara baik seseorang akan lebih mudah menangani hal-hal praktis yang berkaitan dengan ilmu dilapangan. Dibelakang setiap sistem teori terdapat asumsi-asumsi yang membentuk sudut pandang suatu teori biasanya asumsi tersebut berpola objektif dan subjektif. Maksudnya, realita secara objektif dapat diukur, dinilai, dan diperbandingkan, dengan satu sama lain. Sedangkan pola subjektif mengasumsikan lebih kepada perorangan yang dapat berfikir berbeda-beda pada suatu objek yang sama.

Dari pemikiran Bertalanffy tentang hal tersebut di atas jelas Bertalanffy mengemukakan pemikirannya tentang General System Theory yang telah berjasa dalam menghilangkan jurang pemisah antara ilmu-ilmu eksak dengan ilmu sosial. Masyarakat dunia semakin sadar bahwa dibutuhkan kesatuan dalam ilmu pengetahuan untuk mengatasi permasalahan yang muncul di belahan dunia manapun.

Refrensi

http://id.shvoong.com/humanities/history/2288480-sejarah-penemuan sistem/#ixzz2NIvbCY5B

http://www.bsu.edu/classes/flint/systems.html

Ludwig Von Bertalanffy (1968) “General System theory : Foundations, Development, Applications”, Resvised Edition, Goerge Braziller New York

Marshall McLuhan dalam: McLuhan:…. Ed Hot & Cool oleh Gerald Emanuel Stearn Sebuah   Buku meterai diterbitkan oleh The New American Library, New York, 1967

Owens, Robert G., Organizational Behavior in Education, Third Edition (New Jersey: Prentice-Hall Inc, 1987)

Thoha, Miftah, Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008).

Wexley, Kenneth N., dan Yukl Gary A, Perilaku Organisasi dan Psikologi Personalia, Cet. II, Penerj. Muh. Shobaruddin, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003)


[1] Marshall McLuhan dalam: McLuhan:…. Ed Hot & Cool oleh Gerald Emanuel Stearn Sebuah   Buku meterai diterbitkan oleh The New American Library, New York, 1967, hal 288.

[2] http://id.shvoong.com/humanities/history/2288480-sejarah-penemuan sistem/#ixzz2NIvbCY5B

[3] Owens, Robert G., Organizational Behavior in Education, Third Edition (New Jersey: Prentice-Hall Inc, 1987), h. 76

[4] Wexley, Kenneth N., dan Yukl Gary A, Perilaku Organisasi dan Psikologi Personalia, Cet. II, Penerj. Muh. Shobaruddin, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003),h. 54

[5] Thoha, Miftah, Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008). h. 34

 

PEMBIAYAAN PENDIDIKAN EKONOMI, PENDIDIKAN DAN EKONOMI PENDIDIKAN


Definisi Ekonomi Pendidikan

Ekonomi didefinisikan oleh P. Samuelson (1961) sebagai suatu kegiatan tentang bagaimana manusia dan masyarakat memilih, dengan atau tanpa menggunakan uang, untuk memanfaatkan sumber daya produksi yang langka untuk menghasilkan barang dan mendistribusikannya untuk kebutuhan konsumsi, sekarang dan masa yang akan datang, oleh sekelompok orang atau masyarakat”. Intinya : ekonomi adalah kegiatan mengenai produksi dan distribusi segala sumber daya yang langka baik barang maupun jasa yang dibutuhkan oleh manusia.

Dengan dua kata kunci yaitu (1) Kelangkaan (scarcity) dan (2) Kebutuhan (needs). Pendidikan, menurut Webster’s New World dictionary (1962), adalah “Suatu proses pelatihan dan pengembangan pengetahuan, keterampilan, pikiran, watak dan lain-lain, khususnya melalui sekolah formal. Kegiatan pendidikan menyangkut produksi dan distribusi pengetahuan baik di lembaga reguler maupun non reguler”. Karena mayoritas kegiatan tersebut berlangsung di lembaga pengajaran seperti sekolah swasta dan negeri.

Berdasarkan definisi ekonomi dan pendidikan, maka ekonomi pendidikan adalah “Suatu kegiatan mengenai bagiamana manusia dan masyarakat memilih, dengan atau tanpa uang, untuk memanfaatkan sumber daya produktif yang langka untuk menciptakan berbagai jenis pelatihan, pengembangan pengetahuan, keterampilan, pikiran, watak, dan lain-lain, terutama melalui sekolah formal dalam suatu jangka waktu dan mendistribusikannya, sekarang dan kelak, di kalangan masyarakat”. Intinya, ekonomi pendidikan berkaitan dengan :

  1. Proses pelaksanaan pendidikan
  2. Distribusi pendidikan di kalangan individudan kelompok yang memerlukan
  3. Biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat atau individu untuk kegiatan pendidikan, dan jenis kegiatan apa yang dibutuhkan.

 Masalah-Masalah Pokok Ekonomi Pendidikan

Karena proses pendidikan melibatkan penggunaan sejumlah sumber daya yang langka, timbulah sejumlah permasalahan yang jawabannya harus dipandang dari sudut analisa ekonom. Untuk dapat menemukan solusi yang memadai, diperlukan Pemikiran-pemikiran Ekonom dan kerja sama dari para ahli pendidikan, sosiologi, psikologi dan sebagainya. Terdapat lima pokok permasalahan yang berkaitan dengan persoalan ini, yaitu :

  1. Identifikasi dan pengukuran nilai-nilai ekonomi pendidikan. Dalam hal ini, meliputi bagaimana perhitungan atau estimasi dari biaya pendidikan yang dikeluarkan dan keuntungan pendidikan yang diperoleh.
  2. Alokasi sumber daya dalam pendidikan, Proses pendidikan meliputi hasil keluaran proses pendidikan dari penetapan sejumlah input dalam pendidikan.
  3. Gaji guru, Disesuaikan dengan tingkat dan faktor penentu kemampuan yang dimilikinya.
  4. Anggaran/Keuangan pendidikan, Siapakah yang harus membayar pendidikan ? Apakah pemerintah harus menduk ung pendidikan di sektor pemerintah adan swasta ? Jika ya, Pada level yang yang mana pemerintah harus mengambil bagiannya ? Jika ada subsidi, apakah harus diberikan pada lembaga pendidikannya atau pada peserta didiknya ?
  5. Perencanaan pendidikan, Meliputi pembahasan perencanaan pelaksanaan pendidikan yang masuk akal, berbagai macam pendekatan terhadap perencanaan, dan beberapa makro dan mikro dari model perencanaan yang tersedia/disediakan.

Thomas H. jones (1985:3), mengatakan bahwa “The economics of education deals with relationship between educational spending and the well-being of society as a whole or certainly social group”. Ada hal yang perlu diperhatikan, yaitu pada tatanan filosofis bahwa pendidikan itu merupakan lembaga non profit, oleh karena itu kegiatan ekonomi yang bersifat ekploitatif dengan menempatkan kegiatan pendidikan sebagi lahan yang menghasilkan nilai dengan uang adalah salah (Elchanan Cohn,1979).

Pendidikan, Human Investment dan Modal Manusia.

Pendidikan mempunyai peranan penting dalam peningkatan sumber daya manusia. Pendidikan mempengaruhi secara penuh pertumbuhan ekonomi bangsa. Hal ini bukan saja karena pendidikan akan berpengaruh terhdap produktivitas, tetapi juga berpengaruh terhadap fertilitas(angka kelahiran) masyarakat. Dengan pendidikan menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam meghadapi perubahan-perubahan dalam kehidupan. Jadi, pada umumnya pendidikan diakuai sebagai investasi sumber daya manusia. Pendidikan memberikan sumbangan yang besar terhadap perkembangan kehidupan sosial ekonomi melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, kecakapan, sikap serta produktivitas.

Dalam hubungannya dengan biaya dan manfaat, pendidikan dapat dipandang sebagai salah satu investasi (human investment) dalam hal ini, proses pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan merupakan suatu bentuk konsumsi semata, akan tetapi merupakan suatu investasi. Hal yang sama diungkapakan pula oleh Mark Blaug (1976:19) yang menyatakan bahwa :

“…. A good case can now be made for the view that educational expenditure does partake to a surprising degree of the nature of investment in enhanced future output. To that extent, the consquences of education in the sense of skills embodied in people may be viewed as human capital, which is not to say that people themselves are being treated capital. In other word, the maintenance and improvement of skills may be seen as investment in human beings, but the resources devoted to maintaining and increasing the stock of human beings remain consumption by virtue of the abolition of slavery”.

Oleh karena itu, pendidikan merupakan suatu investasi yang berguna bukan saja untuk perorangan atau individu saja, tetapi juga merupakan investasi untuk masyarakat yang mana dengan pendidikan sesungguhnya dapat memberikan suatu kontribusi yang substansial untuk hidup yang lebih baik di masa yang akan datang. Hal ini, secara langsung dapat disimpulkan bahwa proses pendidikan sangat erat kaitannya dengan suatu konsep yang disebut dengan human capital. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Jones (1985:4) yang menyatakan bahwa “The people have certain skills, habit, and knowledge, which they sell to employers in the form of their wage salaried labor, and which can be expected to provide them a flow of income over their lifetimes. Furthermore, human capital can be analogized in some respects to physical capital because both are used together to produce a stream of income over some period of years”.

Bank Dunia dengan program internasionalnya telah menetapkan kepercayaan terhadap peranan investasi sumber daya manusia bagi pertumbuhan ekonomi (World Development Report, 1980) kepercayaan ini didasarkan atas studi yang dilakukan pada akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an. Sumbangan pendidikan untuk menunjang pertumbuhan ini semakin kuat setelah memperhitungkan efek pendidikan dan bentuk investasi fisik lainnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari segi teori ekonomi pendidikan, khususnya pendekatan human capital, aspek pembiayaan dipandang sebagai bagian dari investasi pendidikan yang menentukan taraf produktivitas individu maupun kelompok. Pada gilirannya taraf produktivitas ini mempengaruhi taraf perolehan (earning) seseorang atau kelompok yang pada akhirnya berkontribusi terhadap kecepatan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan.

Jika dicermati, bahwa pendidikan berfungsi untuk memberikan kemampuan pada seseorang agar mampu berperan dalam kehidupannya kelak, sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfat bagi hidupnya. Bila berbicara mengenai investasi manusia, jelas tidak boleh lepas dari fungsi pendidikan.Adam Smith dan Alfred Marshall (dalam Knezvich, 1975:539) mengemukakan keyakinannya bahwa  “the most valuable of all capital is that invested in human beings”.

SDM (Human Capital) : Kompetensi : – personal

                                      o Skill

                                          o Social (kerjasama)

 

 

 

Jadi : biaya akan bermakna apabila tercipta kualitas (mutu) pendidikan berharga dilihat dari sudut pandang ekonomi : bahwa semakin tinggi ilmu semakin tinggi pendapatan. (sedangkan barang makin lama makin berkurang nilainya (depresiasi) keuntungan dari pendidikan dapat digolongkan menjadi 2, yaitu  :

-       Functional benefit : keuntungan yang dapat menghasilkan

-       Emotional benefit : hanya untuk kepuasan, dalam kaitannya dengan SDM, pendidikan tidak hanya untuk mendaptakan ijazah dan gelar, tetapi adanya perubahan tingkah laku yang mempunyai Nilai Ekonomis dalam kehidupannya.

 

D. Biaya Pendidikan

Biaya dalam pendidikan meliputi biaya langsung dan biaya tidak langsung. Hal tersebut sesuai dengan pendapat R. Johns, Edgar L. Morphet dan Kern Alexander (1983:45) yang menyatakan bahwa “Education has both private and sicoal cost, which may be both direct and indirect, direct cost are incurred for tuition, fees, books, room andboard. In a public school, the majority of these costs are subsuned by the public treasury and thus become social costs. Indirect costs of education are embodied in the earnings which are forgone bay all persons of working age, but forgeno earnings are also a cost to societ, a reduction in the total productivity of the nation”.

Biaya langsung terdiri dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan pengajaran dan kegiatan belajar siswa. Kebanyakan biaya langsung berasal dari sistem persekolahan sendiri seperti SPP, dan Sumbangan Orang Tua murid untuk pendidikan atau yang dikeluarkan sendiri oleh siswa untuk membeli perlengkapan dalam melaksanakan proses pendidikannya, seperti biaya buku, peralatan dan uang saku. Sedangkan biaya tidak langsung berupa keuntungan yang hilang dalam bentuk kesempatan yang hilang dan dikorbankan oleh siswa selama belajar (Cohn,1979; Thomas Jone,1985; Alan Thomas, 1976. dalam Nanang Fattah 2000,23). Menurut Cohn (1979:62), biaya pendidikan dapat dikategorikan sebagai berikut :

a)    Biaya langsung, yaitu biaya yang dikeluarkan secara langsung untuk membiyai penyelenggaraaan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, seperti gaji guru, pegawai non edukatif, buku-buku pelajaran dana bahan perlengkapan lainnya. Hal ini berpengaruh pada hasil pendidikan berupa nilai pengorbanan untuk penyelenggaraan kegiatan-kegiatan tersebut.

b)    Biaya tak langsung (Indirect cost), yaitu meliputi hilangnya pendapatan peserta didik karena sedang mengikuti pendidikan. Bisa juga berupa keuntungan yang hilang (earning forgone) dalam bentuk biaya kesempatan yang hilang (opportunity cost) yang dikorbankan oleh siswa selama belajar. Bentuk-bentuk dan beberapa kategori dari biaya pendidikan masyarakat dan swasta menurut R. Johns, Edgar L. Morphet dan Kern Alexander (1983:45),yaitu :

Direct Cost

Indirect cost

  1. 1.     Social

-     Salaries of teacher, administrators and nonprofesional personnel

-     Books, supplies and equipment

-     Transportation

-     Room anf board

-     Scholarship and other subsidies to students

-     Capital expenditure

 

  1. 2.     Private

-     Tuition and fees

-     Books, suplies and equipment

-     Extra travel

-     Room and board

 

1. Social

- Earning forgone

 

2.Private

- Earning forgone

 

 

Sedangkan menurut Elchanan C (1979:62), menyebutkan bahwa : “Direct cost have received by far the bulk of attention, perhaps because the consequences of such costs are directly and strongly felt by the tax payer and, of course, because statistics on direct school outlays are readily available (or estimable), where as indirect cost must be imputed. The majority of direct cost are incured by the school systems themselves”.

c) Private Costs dan Social Costs

Private cost adalah biaya yang dikeluarkan keluarga untuk membiayai sekolah anaknya dan termasuk didalamnya opportunity cost.

Social cost sebagai biaya publik, yaitu sejumlah biaya yang dibayar masyarakat untuk pembiayaan sekolah.

d) Monetary dan Non Monetary cost

Monetary cost dapat berupa biaya langsung atau biaya tidak langsung, yang mungkin dibayar masyarakat ataupun oleh perorangan. Dengan kata lain Monetary cost adalah nilai pengorbanan yang terwujud dalam pengeluaran uang.

Non Monetary cost adalah nilai pengorbanan yang tidak diwujudkan dengan pengeluaran uang sepeti biaya yang diperhitungkan dimana seorang siswa tidak mengambil kesempatan waktu senggangnya untuk bersenang-senang tetapi digunakan untuk membaca buku.

Perhitungan biaya dalam pendidikan akan ditentukan oleh unsur-unsur tersebut yang didasarkan pula pada perhitungan biaya yang nyata sesuai dengan kegiatan menurut jenis dan volumenya. Dalam konsep pembiayaan pendidikan ada dua hal penting yang perlu dikaji dan dianalisis yaitu biaya pendidikan secara keseluruhan dan biaya satuan per siswa. Biaya satuan ditingkat sekolah merupakan biaya pendidikan tingkat sekolah, baik yang bersumber dari pemerintah, orang tua dan masyarakat yang dikeluarkan untuk penyelenggraan pendidikan dalam satu tahun pelajaran. Hal tersebut, dipertegas pula oleh Howard R. bowen (1981:1) yang menyebutkan “Cost usually appear in the form of expenditures of money. Similarly, costs of colleges and universities are usuallymoney payments to acquire the resources needed to operate the institutions”.

Biaya satuan per murid merupakan ukuran yang menggambarkan seberapa besar uang yang dialokasikan ke sekolah-sekolah secara efektif untuk kepentingan murid dalam menempuh pendidikan. Hal ini ditekankan pula oleh Howard R. bowen (1981:4) yang menyebutkan bahwa “What passed as cost per unit was computed simply by adding up total institutional expenditures for all purposes and dividing by the number of students”. Dengan menganalisis biaya satuan, memungkinkan untuk mengetahui efesiensi dalam penggunaan sumber-sumber di sekolah, keuntungan dari investasi pendidikan, dan pemerataan pengeluaran masyarakat. Dalam hal biaya nyata dalam suatu pendidikan, Howard R. bowen (1981:2), berpendapat bahwa “The real cost, however, lie beneath the money payments. The products of outcomes of higher education are obtained through the use of scarce resources. The real cost of higher education, then, consists of benefits that might have been realized from these resources, but were sacrified, because these resources were committed to higher education”.

Disamping biaya yang nyata, Howard R. Bowen (1981:3), juga menjelaskan biaya keseluruhan (unit cost) yang menyatakan bahwa :“All that needed is to add up all expenditures-making sure to include only the costs that are properly allocated to the year inquestion. But, even when adjusted for changes in the value of the dollar, this total is not meaningful for comparisons over time or among institutions unless it is related to the number of units service rendered”.

Oleh karena itu, perencanan program biaya sekolah harus komprehensif dan melibatkan pembuat keputusan yang kritis menyangkut bidang pokok:

  1. Program pendidikan yang didanai.
  2. Sistem pajak yang digunakan untuk membiayai program tersebut.
  3. Sistem alokasi dana negara untuk wilayah atau daerah persekolahan.

Dalam menetapkan biaya pendidikan yang diperlukan, harus disusun perencanaan pembiayaan pendidikan. Maka, suatu proyeksi biaya pendidikan yang didasarkan atas kebutuhan dalam kaitannya dengan pembiayaan pendidikan di tingkat negara, yaitu dengan membuat alternatif proyeksi pendidikan sekurang-kurangnya 5-6 tahun mendatang Alternatif proyeksi biaya pendidikan harus bedasarkan pada asumsi-asumsi:

  1. Kecepatan rasio pertumbuhan.
  2. Jumlah imigrasi ke negara.
  3. Tipe program pendidikan untuk target populasi dengan perbedaan kebutuhan.
  4. Perbedaan biaya untuk tipe yang berbeda program pendidikan.
  5. Jumlah siswa yang mungkin akan pindah dari sekolah
  6. Perbedaan biaya yang dibutuhkan berdasarkan pada jarang atau padatnya penduduk.
  7. Tingkat kualitas pendidikan.
  8. Kekuatan memperoleh uang.

Seperti yang telah dikemukakan diatas, bahwa pembiayaan pada suatu persekolahan terpusat pada penyaluran keuangan dan sumber-sumber pendapatan lainnya untuk pendidikan. Dimana, distribusi atau penyaluran tersebut mencakup dua kategori yaitu bagaimana uang itu diperoleh dan bagaimana dibelanjakan agar proses pendidikan dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.Aspek penting lain yang perlu dikaji adalah peraturan perundang-undangan pendidikan, perkembangan historis pemerintah pusat, kecenderungan termasuk masa yang akan datang.

Oleh karena itu, dalam menetapkan biaya pendidikan perlu di dukung dengan data dan informasi mengenai siapa yang harus dididik, berapa jumlah yang harus dididik, tujuan dan sasaran apa yang ingin dicapai, program pendidikan apa yang akan dilakukan sebagai suatu usaha dalam mencapai tujuan dan sasaran tersebut.

Bank Dunia (1998) dalam buku Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah, menyarankan bahwa dalam jangka pendek, pembiayaan pendidikan seyogyanya diarahkan untuk melanjutkan investasi yang telah dilaksanakan di masa lalu, dan juga untuk melindungi kelompok masyarakat miskin dari dampak krisis. Dalam jangka menengah dan jangka panjang, perhatian seyogyanya diarahkan kepada pencapian pendidikan dasar yang menyeluruh dan persiapan untuk desentralisasi.

Menurut Thomas H. Jones dalam bukunya “Introduction to School Finance; Technique and Social Policy”(1985:250), mengungkapkan tentang prinsip-prinsip atau model pembiayaan pendidikan yang diberlakukan oleh pemerintah, yaitu :

  1. Flat Grant, model ini mendistribusikan dana-dana negara bagian tanpa mempertimbangkan jumlah uang yang berhasil dikumpulkan oleh pajak lokal atau pembagian sama rata.
  2. Full State Funding, model ini pembiayaan ditanggung sepenuhnya oleh negara yaitu menghapus semua perbedaan lokal, baik dalam pembelanjaan maupun dalam perolehan pajak.
  3. The Foundation Plan, model inio ditekankan pada patokan tarif pajak property minimum dan tingkat pembelanjaan minimum untuk setiap distrik sekolah lokal di negara bagian.
  4. Guaranteed Tax Base, model ini merupakan matching plan, dimana negara membayar presentase tertentu dari total biaya pendidikan yang diinginkan oleh setiap distrik sekolah.
  5. Percentage Equalizing, model ini merupakan bentuk dari Guaranteed Tax Base, dimana negara menjamin untuk memadukan tingkat-tingkat pembelanjaan tahun pertama di distrik lokal dengan penerimaan dari suymber-sumber negara dan match berada pada suatu rasio variabel.
  6. Power Equalizing, model ini memerintahkan distrik-distrik yang sangat kaya untuk membayarkan sebagian pajak sekolah yang mereka pungut ke kantong pemerintah negara bagian.

 

Mengukur Manfaat Biaya Pendidikan (Cost Benefit Analysis)

Manfaat biaya pendidikan oleh para ahli pendidikan sering disebut dengan Cost Benefit Analysis, yaitu rasio antara keuntungan financial sebagai hasil pendidikan (biasanya diukur dengan penghasilan) dengan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan. (Nanang F., 2000:38). Sedangkan Mark Blaug dalam Economics of education (1976:121) mengatakan bahwa : Cost benefit analysis as a technique for evaluating public investment projects that compete actually or potentially with similar projects in the private sector: that is, the market mechandism generates prices for the activity in question which can be used to translate the benefits of the public project into term directly comparable to its costs”.

Coombs dan Hallak (1972:255) dalam bukunya yang berjudul Managing Educational Cost, menyebutkan bahwa :“Cost benefit as the relationship between the inputs and resulting benefit that accrue thereafter. It use to measure of external productivity”.

Psacharopoulos, (1987:397), dalam bukunya Economics of Education, menyebutkan hal senada dengan Mark Blaug, yaitu :“Cost benefit analysisis to compare the opportunity cost of a project with the expected benefit, measured in the terms of the additions to income that will accrue in the future as a result of the investment”.

Dalam mengukur manfaat biaya pendidikan berdasar kepada konsep biaya pendidikan sifatnya lebih kompleks dari keuntungan, karena komponen-komponen biaya terdiri dari lembaga jenis dan sifatnya. Biaya pendidikan bukan hanya berbentuk uang atau rupiah, tetapi juga dalam bentuk biaya kesempatan. Biaya kesempatan (income forgone) yaitu potensi pendapatan bagi seorang siswa selama ia mengikuti pelajaran atau menyelesaikan studi. Dengan demikian, biaya keseluruhan (C) selama di tingkat persekolahan terdiri dari biaya langsung (L) dan biaya tidak langsung (K). Dalam rumusannya digambarkan sebagai berikut :

C = L + K

Biaya pendidikan merupakan dasar empiris untuk memberikan gambaran karakteristik keuangan sekolah (Nanang Fattah,2000:25). Analisis efisiensi keuangan sekolah dalam pemanfaatansumber-sumber keuangan sekolah dan hasil sekolah dapat dilakukan dengan cara menganalisis biaya satuan per siswa. Biaya satuan per siswa adalah biaya rata-rata per siswa yang dihitung dari total pengeluaran sekolah dibagi seluruh siswa yang ada di sekolah dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan untuk menghitung biaya per siswa, menurut Howard R. bowen (1981:12), menyatakan bahwa “The cost per student unit results from three societal decisions that reflect the combined influence of the many persons and public authorities who control the flow of funds to higher education. These theree decisionspertain to : the total amount to be spent on higher education, the number of units of service to be provided, and the level of quality”.

Dalam menentukan biaya satuan, menurut Nanang Fattah (2000:26) terdapat dua pendekatan, yaitu pendekatan makro dan pendekatan mikro. Pendekatan makro mendasarkan perhitungan pada keseluruhan jumlah pengeluaran pendidikan yang diterima dari berbagai sumber dana kemudian dibagi jumlah murid. Pendekatan mikro mendasarkan perhitungan biaya berdasarkan alokasi pengeluaran per komponen pendidikan yang digunakan oleh murid atau menganalisis biaya pendidikan berdasarkan pengeluaran total (total cost) dan jumlah biaya satuan (unit cost) menurut jenis dan tingkat pendidikannya. Dalam pendekatan makro, terdapat karakteristik pendidikan yang mempengaruhi biaya, yaitu :

  1. Skala gaji guru dan jam terbang mengajar
  2. Penataran dan latihan pra jabatan
  3. Pengelompokan siswa di sekolah dan di dalam kelas
  4. Sistem evaluasi
  5. Supervisi pendidikan

Dalam pendekatan mikro, perhitungan satuan biaya pendidikan dapat menggunakan formula sebagai berikut :

 

 

Dengan mengetahui besarnya biaya satuan per siswa menurut jenjang dan jenis pendidikan berguna untuk menilai berbagai alternatif kebijakan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.Dalam mengukur manfaat pendidikan, Nanang Fattah (2000 :28), mengemukakan bahwa keuntungan pendidikan tidak selalu dapat diukur dengan standar nilai ekonomi dan uang. Hal ini disebabkan manfaat pendidikan, di samping memiliki nilai ekonomi, juga memiliki nilai sosial.

Dalam pengukuran dampak pendidikan terhadap keuntungan ekonomi atau pendapatan seseorang dari produktivitas yang dimilikinya, memerlukan asumsi-asumsi. Asumsi bahwa produktivitas seseorang dianggap merupakan fungsi dari keahlian dan keterampilan yang diperoleh dari pendidikan.Sedangkan Elchanan C (1979:30), menjelaskan bahwa : “According to the dualist (or segmentists), the connection between education and income, is not related to worker productivity per se, but rahter to some key characteristics that distinguish workers who are admitted to the primary labor market from those who are not so fortunate. In the screening hypothesis, education and income are related, albeit not because of changes in productivity but rahter due to the use by employers of educational credentials as a selection device”.

Ukuran hasil pendidikan kita gabungkan dengan data biaya pendidikan dapat menjadi ukuran efisiensi eksternal. Ada empat kategori yang dapat dijadikan indikator dalam menentukan tingkat keberhasilan pendidikan yaitu :

  1. Dapat tidaknya seorang lulusan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.
  2. Dapat tidaknya seseorang memperoleh pekerjaan
  3. Besarnya penghasilan/gaji yang diterima
  4. Sikap perilaku dalam konteks sosial, budaya dan politik.

Menurut Elchanan C (1979:37), dalam mengukur manfaat dari pendidikan terdiri dari 3 (tiga) pendekatan, yaitu : 1) The simple corelation aproach, 2) The residual approach, and 3). The returns to education approach.

 

F. Efisiensi Pendidikan (Cost Effectiveness Analysis)

Istilah efisiensi pendidikan menggambarkan hubungan antara input (masukan) dan output (keluaran) dari suatu pelaksanaan proses pendidikan.

Coombs dan Hallak (1972:255), berpendapat bahwa “cost effectivenessas the relationship between the inputs and corresponding immediate educational outputs of any educational process. It is to measure of internal efisiensi”. Sedangkan Mark Blaug, (1976:121) berpendapat bahwa cost effectivenessis the appropriate evaluation technique in such all cases”.

Efisiensi pendidikan menurut Nanang Fattah (2000 :35) artinya memiliki kaitan antara pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang terbatas sehingga mencapai optimalisasi yang tinggi. Dalam biaya pendidikan, efesiensi hanya akan ditentukan oleh ketepatan di dalam mendayagunakan anggaran pendidikan dengan memberikan prioritas pada faktor-faktor input pendidikan yang dapat memacu pencapaian prestasi belajar siswa. Untuk mengetahui efesiensi biaya pendidikan biasanya digunakan metode analisis keefektifan biaya (cost effectiveness Analysis) yang memperhitungkan besarnya kontribusi setiap masukan pendidikan terhadap efektivitas pencapaian tujuan pendidikan atau prestasi belajar.Upaya efisiensi dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Kedua konsep tersebut satu sama lain erat kaitannya.

Efisiensi internal dapat dinilai melalui suatu sistem pendidikan yang menghasilkan output yang diharapkan dengan biaya minimum. Dapat pula dinyatakan bahwa dengan input yang tertentu dapat memaksimalkan output yang diharapkan. Output acapkali diukur dengan indikator-indikator seperti angka kohort, yaitu proporsi siswa yang dapat bertahan sampai akhir putaran pendidikan, pengetahuan keilmuan, keterampilan, ketaatan kepada norma-norma perilaku social. Karena dengan alasan inilah persoalan-persoalan mutu pendidikan biasanya dibahas dengan memperhatikan efisiensi internal dari system pendidikan.Untuk menilai efisiensi internal dapat dilakukan dengan cara membandingkan antara seleksi di dalam putaran-putaran pendidikan dan seleksi diantara putaran pendidikan. Tingginya angka retensi di dalam putaran-putaran pendidikan merupakan indikator yang diperlukan untuk mengetahui efisiensi internal.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengukur efisiensi internal adalah sebagai berikut :

1. Rata-rata lama belajar (Average study time)

Metode ini digunakan untuk mengetahui berapa lama seorang lulusan menggunakan waktu belajarnya dengan cara menggunakan statistik kohort (kelompok belajar). Cara penghitungannya adalah jumlah waktu yang dihabiskan lulusan dalam suatu kohort dibagi dengan jumlah lulusan dalam kohort tersebut.

Contoh : Jika di suatu SLTP hanya terdapat tiga orang lulusan masing-masing menghabiskan waktu 3, 4 dan 5 tahun, maka lama belajar rata-rata adalah : 4

Artinya : rata-rata waktu belajar seorang lulusan ialah 4 tahun, setahun lebih lama dari waktu ideal belajar untuk tingkat SLTP, maka semakin besar rata-rata waktu belajar, waktu semakin tidak efisien.

2. Rasio Input – Output (Input-Output Ratio (IOR) merupakan perbandingan antara jumlah murid yang lulus dengan murid yang masuk awal dengan memperhatikan waktu yang seharusnya ditentukan untuk lulus. Artinya, membandingkan antara tingkat masukan dengan tingkat keluaran.Sedangkan Efesiensi eksternal, sering dihubungkan dengan metode cost benefit analysis. Efisiensi eksternal dihubungkan dengan situasi makro yairtu pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan social sebagai dampak dari hasil pendidikan.Pada tingkat makro bahwa individu yang berpendidikan cenderung lebih baik memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dan kesehatan yang baik.Analisis efisiensi eksternal berguna untuk menentukan kebijakan dalam pengalokasian biaya atau distribusi anggaran kepada seluruh sub-sub sektor pendidikan. Efisiensi eksternal juga merupakan pengakuan sosial terhadap lulusan atau hasil pendidikan.

Dalam menganalisis efisiensi eksternal, dalam bidang pendidikan dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu :

  1. Keuntungan perorangan (private rate of return), yaitu perbandingan keuntungan pendidikan kepada individu dengan biaya pendidikan dari individu yang bersangkutan.
  2. Keuntungan masyarakat (social rate of return), yaitu perbandingan keuntungan pendidikan kepada masyarakat dengan biaya pendidikan masyarakat Jadi, efisiensi eksternal pendidikan meliputi tingkat balik ekonomi dan investasi pendidikan pada umumnya, alokasi pembiayaan bagi jenis dan jenjang pendidikan.

Untuk menentukan keputusan apakah suatu program pendidikan yang telah dibiayai itu memberikan tingkat balik dapat dihitung dengan menggunakan formulasi berikut :

 

Net profit merupakan keuntungan bersih dari suatu kegiatan usaha yang diproleh dari pendapatan kotor setelah dikurangi pajak dan biaya-biaya operasional. Sedangkan total asset merupakan biaya investasi keseluruhan yang dikorbankan untuk membiayai suatu kegiatan. Apabila ROI rata-rata sepanjang masa kegiatan atau proyek diperoleh lebih rendah dari tingkat balik yang dibutuhkan berarti investasi tersebut tidak layak;Sebaliknya jika rata-rata nilai proyek lebih tinggi dari tingkat balik yang dibutuhkan berarti investasi tersebut layak. Sedangkan Internal Rate of Return (IRR) dapat dihitung dengan :

 

IRR = NetProfit + Depresiasi

 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa efisiensi internal dan efisiensi eksternal mempunyai kaitan yang sangat erat. Kedua aspek tersebut saling melengkapi satu sama lain dalam menentukan efisiensi system pendidikan secara keseluruhan (Cohn, 1979; Mingat Tan, 1988, dalam Nanang Fattah, 2000:40).Secara konseptual efisiensi pendidikan meliputi cost-efectiveness dan cost benefit. Cost effectiveness dikaitkan dengan perbandingan biaya input pendidikan dan efektivitasnya dalam mendukung hasil- hasil belajar.

Efisiensi internal atau cost effectiveness sangat bergantung pada dua faktor utama yaitu :

1. Faktor institusional

2. Faktor manajerial

Dalam analisanya dapat juga digunakan metode RoR (Rate of Return) atau tingkat kembali, dimana membandingkan keuntungan moneter dengan biaya pelaksanaan program, yang mencakup perhitungan perkiraan biaya-biaya.

Rumusannya adalah :

 

 

Pedoman yang perlu diperhatikan setelahmelakukan perhitungan tersebut adalah :

  1. Jika RoR-nya lebih besar dari investasi, maka proyek tersebut layak dilaksanakan.
  2. Jika RoR-nya lebih kecil dari investasi, maka sebaiknya proyek tersebut jangan dilaksanakan
  3. Jika RoR-nya = 0, maka proyek tersebut tidak untung dan tidak rugi (Break Event Point).

Sedangkan cost benefit dikaitkan dengan analisis keuntungan atas investasi pendidikan dari pembentukan kemampuan, sikap, keterampilan. Terdapat dua hal penting dalam hal investasi tersebut, yaitu :

  1. Investasi hendaknya menghasilkan kemampuan yang memiliki nilai ekonomi di luar intrinsiknya.
  2. Nilai guna dari kemampuan Karena keuntungan tersebut bukan dalam bentuk uang, maka diperlukan penyesuaian cara-cara dalam memperhitungkannya, yaitu dengan cara menentukan nilainya berdasarkan atas biaya perbandingan pengeluaran untuk barang-barang yang tidak dapat dipasarkan.

Hal ini dapat dinyatakan secara simbolis, sebagaimana formula Zymelman (1975) sebagai berikut :

 

 
 

Bt = Bp + BnP

 

Bt : jumlah keuntungan

BnP : Ct –Bp

Bp : Keuntungan bukan moneter

Ct : Jumlah biaya

 

 

 

 

 

 

 

Atau dapat dihitung dengan NPV (Net Present Value), yaitu rasio nilai yang akan datang/sekarang terhadap tingkat keuntungan. Persamaan yang dipakai adalah sebagai berikut :

 

 Keterangan :

TR : Total Revenue

TC : Total Cost

FV : Future Value (rasio nilai yang akan datang)

R   : Tingkat Keuntungan

T   : Waktu (tahun) dalam periode tertentu Kriteria-Kriteria aturan keputusan untuk investasi.

Upaya-upaya dalam meningkatkan efisiensi pembiayaan pendidikan perlu diarahkan pada hal-hal pokok berikut ini :

  1. Pemerataan kesempatan memasuki sekolah (equality of access).
  2. Pemerataan untuk bertahan di sekolah (equality of survival)
  3. Pemerataan kesempatan untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar (equality of output)
  4. Pemerataan kesempatan menikmati manfaat pendidikan dalam kehidupan masyarakat (equality of outcome)

Konsep peningkatan efisiensi pembiayaan pendidikan akan mempunyai makna jika dihubungkan dengan konsep efisiensi, baik secara internal maupun secara eksternal.

 Bentuk Biaya Pendidikan Lainnya

Dengan mengkuantitaskan produksi pendidikan, jumlah hasil ujian dapat dihitung dengan menghitung secara sederhana jumlah anak didik yang mencapai suatu standar pendidikan dan juga dapat mempertimbangkan kapasitas produksi dalam pengertian jumlah guru, jumlah kelas, jumlah kehadiran, dan jumlah peserta didik. Dengan demikian dapat dihitung biaya per lulusan, biaya menurut tingkatan pendidikan yang dicapai, biaya unit per anak didik, biaya rata-rata kehadiran sehari-hari, biaya modal per kelas, dan biaya rata-rata per kelas.

  1. Biaya per Lulusan, yaitu, perbandingan antara keseluruhan biaya untuk sekelompok peserta didik dengan jumlah yang lulus.Pekerjaan ini tidak mudah, karenanya orang lebih menyederhanakan dengan memperkirakan jumlah rata-rata mereka yang lulus selama jangka waktu tertentu dengan membandingkan jumlah biaya pendidikan yang dihitung dari biaya rata-rata peserta didik.
  2. Rata-rata biaya kehadiran sehari-hari yaitu dihitung dengan Recurrent Cost (biaya berulang) dibagi dengan jumlah peserta didik yang hadir setiap hari (yaitu rata-rata setiap hari).
  3. Biaya Modal per Tempat Untuk keperluan proyeksi dalam menganggarkan biaya modal maka perlu dihitung biaya modal per tempat, yaitu dengan menghitung jumlah biaya pendirian dan perlengkapan permulaan dibagi dengan jumlah tempat yang tersedia.
  4. Biaya Rata-rata per Kelas Yaitu dengan menghitung rasio antara biaya keseluruhan dengan jumlah kelas yang ada.
  5. Recurrent Cost per rata-rata pendidik Pengajar memiliki kedudukan yang penting dalam proses belajar mengajar. Hampir 65% atau 70% dari recurrent cost digunakan untuk gaji guru. Karena itu, dengan menghitung biaya berulang per rata-rata pendidik, dapat dikaitkan dengan tingkat pelayanan.

Kesimpulan

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa  pendidikan merupakan investasi pada sumber daya manusia. Ekonomi pendidikan merupakan suatu kegiatan mengenai bagiamana manusia dan masyarakat memilih, dengan atau tanpa uang, untuk memanfaatkan sumber daya produktif yang langka untuk menciptakan berbagai jenis pelatihan, pengembangan pengetahuan, keterampilan, pikiran, watak, dan lain-lain, terutama melalui sekolah formal dalam suatu jangka waktu dan mendistribusikannya, sekarang dan kelak, di kalangan masyarakat. Intinya, ekonomi pendidikan berkaitan dengan Proses pelaksanaan pendidikan, distribusi pendidikan di kalangan individu dan kelompok yang memerlukan serta biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat atau individu untuk kegiatan pendidikan, dan jenis kegiatan apa yang dibutuhkan.

Ekonomi pendidikan diperlukan karena proses pendidikan melibatkan penggunaan sejumlah sumber daya yang langka dan jawabannya harus dipandang dari sudut analisa ekonomi meskipun secara ekonomi pendidikan merupakan lembaga non profit.

Biaya pendidikan dikategorikan sebagai biaya langsung dan biaya tidak langsung. Sedangkan manfaat biaya pendidikan diukur dengan cost benefit analysis. Sedangkan efisiensi biaya pendidikan diukur dengan ROI, IRR, ROR, dan NPV.

 

 

Samuelso, Paul A., Economics, 11th Edition, McGraw-Hill Book Co., New York,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 502 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: