Urusan pengelolaan SDM dalam organisasi sejatinya tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab manajer SDM. Para manajer lini non-SDM pun memiliki tanggung jawab dalam menjalankan fungsi SDM di departemennya masing-masing.

HAL INI  sangat penting karena beberapa alasan, seperti yang diisyaratkan oleh Larsen. Pertama, perlunya meningkatkan efektivitas interaksi antarkaryawan sehingga memudahkan pemantauan kinerja. Kedua, mempermudah para manajer lini dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan SDM dalam departemen yang mereka pimpin tanpa harus terlalu bergantung pada departemen SDM. Ketiga, semakin eratnya hubungan timbal balik antara pekerjaan dan pembelajaran. Artinya pembelajaran sering kali harus dilakukan sambil bekerja, demikian pula sebaliknya.

Namun sayangnya, hal ini sering kali kurang mendapat perhatian. Banyak manajer lini yang masih enggan untuk secara lebih optimal menjalankan fungsi-fungsi SDM bagi departemennya, seperti dalam perencanaan SDM, rekrutmen dan seleksi, integrasi, serta pengembangan SDM.

Mereka menganggap bahwa urusan SDM sepenuhnya harus diserahkan kepada departemen SDM. Padahal, setiap departemen memiliki karakteristik tersendiri, yang untuk mengelolanya mensyaratkan kompetensi yang tidak selalu dimiliki oleh orang-orang yang duduk dalam departemen SDM. Hal ini tentu saja menambah beban dan inefisiensi, bukan saja bagi departemen SDM itu sendiri melainkan juga bagi organisasi secara keseluruhan.

Para manajer lini dalam sebuah organisasi harus menyadari perilaku yang harus mereka tunjukkan demi tercapainya tujuan pengelolaan SDM setiap departemennya. Hal ini mencakup pemahaman menyangkut tugas-tugas SDM yang harus dilakukan, tingkat kepentingan relatifnya, serta perilaku yang diharapkan demi terselesaikannya tugas-tugas tersebut.

Kemudian, mereka harus mampu menjalin kerja sama dengan departemen SDM dalam merencanakan dan menyusun program, serta dalam rangka mendapatkan opini dari mereka yang kompeten dalam bidangnya (expert opinion).

Sedikitnya ada tiga peran penting yang harus dijalankan para manajer lini terkait dengan masalah SDM ini, yaitu sebagai pelaksana keseharian fungsi SDM, sebagai pelaksana program, dan juga sebagai penyedia feedback.

Para manajer lini ini sudah harus mulai menjalankan perannya pada saat perencanaan SDM dilakukan, di mana identifikasi dan analisis terhadap kebutuhan dan ketersediaan SDM dilakukan dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi. Khusus bagi para manajer lini, mereka harus melakukan hal ini pada departemen masing-masing.

Selain itu, mereka harus melakukan kaji ulang dan turut serta dalam diskusi seputar informasi perencanaan SDM dengan para spesialis SDM., mengintegrasikan rencana SDM dengan rencana departemen, memantau perencanaan SDM guna mengidentifikasi perubahan yang diperlukan, serta melakukan review terhadap rencana suksesi karyawan dikaitkan dengan rencana SDM yang telah disusun.

Kesemuanya ini akan mendukung peran yang dijalankan oleh manajer SDM, yakni melibatkan diri dalam proses perencanaan strategis bagi organisasi secara keseluruhan, mengidentifikasi strategi SDM, merancang sistem data perencanaan SDM, mengumpulkan dan menganalisis data yang diperoleh dari para manajer lain seputar kebutuhan karyawan, serta mengimplementasikan perencanaan SDM yang telah disetujui oleh manajemen puncak.

Dalam proses integrasi, di mana seseorang harus mempelajari nilai-nilai, perilaku yang diharapkan, serta pengetahuan sosial yang diperlukan guna menjalankan peran yang ditugaskan, manajer lini memiliki tanggung jawab untuk bertindak sebagai wakil dari perusahaan untuk mengubah ‘outsider’ menjadi ‘insider’, memberi masukan penyusunan program orientasi, terlibat dalam pelaksanaan program orientasi (sebagai coach, mentor, trainer), melakukan penilaian kinerja masa percobaan, serta ikut mengambil keputusan kelulusan kandidat.

Para manajer lini dalam sebuah organisasi juga harus turut serta dalam proses pengembangan SDM dalam organisasi, yang berdasarkan beberapa hasil penelitian terbukti membawa serangkaian manfaat. Diantaranya adalah mendorong terciptanya lingkungan kerja yang kondusif bagi pembelajaran, yang mensyaratkan hadirnya perilaku positif. Seorang manajer lini diharapkan dapat mendorong karyawannya untuk bertanggungjawab terhadap bagaimana mereka mengelola proses pembelajaran mereka sendiri.

Manfaat lainnya berkaitan dengan masalah pengetahuan dan kompetensi seputar manajemen SDM, dua hal yang biasanya memang kurang dimiliki oleh para manajer lini. Keterlibatan manajer lini yang lebih besar dalam pengembangan SDM memungkinkan terwujudnya pengembangan dan transformasi bagi para manajer lini itu sendiri sehingga mereka akan lebih berkompeten dalam memanajemeni orang lain.

Keterlibatan para manajer lini dalam proses pengembangan SDM dalam departemen yang dipimpinnya, menurut Gibb dan MacNeil, juga diharapkan dapat mempersempit kesenjangan antara kinerja individual dan organisasi. Daripada para staf SDM, para manajer lini dalam sebuah organisasi biasanya lebih memahami konteks bisnis dan kebutuhan pembelajaran baik bagi individu maupun departemen yang dipimpinnya.

Adapun peran yang dapat dimainkan oleh para manajer lini terhadap pengembangan SDM, menurut analisis beberapa orang pakar adalah melakukan diskusi secara berkala menyangkut kinerja serta kebutuhan pengembangan dan pembelajaran bagi para bawahan, menjalin kemitraan dengan spesialis SDM seputar isu strategis SDM, menunjukkan ketertarikan dan dukungan bagi pembelajaran bagi orang-orang yang dipimpinnya, memberikan pelatihan terhadap para bawahannya, serta secara aktif berpartisipasi dalam proses pengembangan strategi SDM.

Kerja sama yang harmonis antara manajer SDM dan manajer lini dalam sebuah organisasi menjadi kunci bagi tercapainya tujuan strategi SDM yang telah ditetapkan, yang merupakan salah satu faktor penentu bagi kesuksesan sebuah organisasi.

About these ads