Jadi pertanyaan yang sering ditanyakan, berapa besar ukuran sampel yang sebaiknya harus diambil, agar sampel tersebut dapat mempresentasikan populasinya atau bisa diyakini benar.alasannya karena tidak semua anggot populasi diteliti, diyakini benar itu artinya seberapa tinggi hasil penelitian dari sampel itu taraf ”kebisa dipercayaannya” akan mencerminkan seluruh populasi. Walau bagaimanapun hasil penelitian itu tidak bisa diharapkan betu-betul benar, karena berbagai faktor, karena hasil penelitian itu dapat mengandung kesalahan (error, galat).seberapa besar taraf toleransi akan terjadinya kesalahan karena faktor kebetulan benar. Para ahli ilmu eksakta bersepakat sebesar 0.01 artinya hanya ada 0.01 atau 1% saja kesalahan karena kebetuluan itu terjadi. Dan diyakini sebesar 99% hasil penelitian itu benar. Sedangkan ilmu sosial disepakati yang terbaik itu sebesar 0.05, jadi hanya ada 0.05 atau 5% saja kesalahan karena kebetulan itu terjadi dan diyakini 95% hasil penelitian itu benar

Ada dua pendekatan, yaitu : a). Pendekatan statistika dan b). Pernekatan non-statistika. Pendekatan non-statistika lebih subjektif karena berdasarkan keinginan si peneliti, sehingga penggunaan penedkean sttaistik ada lkecendrungan lebih tinggi. Masalah lain masih banyak yang belum memahami statistika dengan baik dengan begutu banyaknya rumus yang digunakan. Sehingga ada kesan statistik itu rumit, sehingga membutuhkan pengobanan ektra sehingga dengan jalan pintas menngunakan statistik praktis dan sederhana yang terkadang penerapannya salah kaprah.

Berlandaskan tulisan karya Krejcie dan Morgan (1970), Sudjana (1989), Gaspersz (1991) dan Barlett, et.al (2001), ketika seorang peneliti dalam memutuskan untuk menggunakan pendekatan statistika dalam menentukan ukuran sampel, paling tidak harus sangat memperhatikan empat aspek mendasar yaitu :

  1. Apa tujuan penelitian yang akan dilaksanakan, apakah untuk menduga nilai rata-rata, total atau proporsi populasi dan bagaimana analisis data akan dilakukan, cukup deskript atau inferensi.
  2. Berapa besar tingkat keandalan pendugaan yang diinginkan yaitu dengan menetapkan nilai Z yang diambil dari tabel distribusi t atau X2 yang diambil dari tabel chi kuadrat berdasarkan pada nilai a tertentu.
  3. Berapa besar galat pendugaan yang akan ditolelir. Jika yang dikukur proporsi atau presentase, maka galat pendugaan dinyatakan dalam satuan persen sedangkan pengukuran lain disesuaikan dengan satuan yang dipakai.
  4. Bagaimanakah kondisi keragaman populasi yang akan diteliti.

Sehingga kita kenal rumus yang dikembangkan oleh Slovin[1], rumus lain kita temui berdasarkan indek tabel yang dikembangkan oleh Krejcie-Morgan[2] dimana peneliti bisa mengetahui langsung ukuran sampel (n) dengan mengetahui ukuran populasinya (N) dan ketika ingin menggunakan rumus tersebut agar tidak salah dalam menggunakannya maka peneliti harus mampu menjawab empat pertanyaan dasar sebagai berikut :

  1. Apakah rumus dan tabel tersebut diergunakan untuk penelitian yang ditunjukan mengukur rata-rata, total, proporsi populasi atau yang lainnya.
  2. Berapa nilai α yang digunakan dalam rumus dan tabel tersebut untuk menggambarkan tingkat kendalanya.
  3. Berap nilai galat pendugaan (d) yang dimasukan dalam perhitungan untuk memberi gambaran akbat dari kesalahan sampling.
  4. Berapa besar keragaman populasi yang dipakai dalam perhitungan dan bagaimana bentuknya, apakah varians atau proporsi P(1-P).

Rumus Slovin

Rumus Slovin[3] yang bisa dirumuskan :

n=N/(1 + N.e2 )

Keterangan :


[1] Hussein Umar, Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, raja grafindo persada, Jakarta, 2004.

[2]Sugiono, Statistic Non-prametrik untuk Penelitian, alfabeta, bandung, 2009.

[3][3] Steph Ellen, eHow Blog, 2010 dari (rujukan principles and method of research, ariola, et.al, 2006)

[4] Toleransi terjadinya galat; taraf signifikansi, dengan ketentuan untuk social dan pendidikan lajimnya 0.05 atau 5% tingkat kesalahan.

About these ads