Di dalam berbagai literatur terdapat bermacam-macam pengertian pendapatan. Pertama, menurut A. Abdurachman, pendapatan atau penghasilan atau income adalah uang, barang-barang materi, atau jasa yang diterima atau bertambah besar selama suatu jangka waktu tertentu, biasanya sebagai hasil dari pemakaian kapital, pemberian jasa-jasa perseorangan, atau kedua-duanya, termasuk dalam income itu ialah upah, gaji, sewa tanah, deviden, uang jasa, pembayaran bunga, keuntungan, pensiun, dan gaji tahunan, terkecualikan penerimaan-penerimaan (lain daripada keuntungan) sebagai hasil dari penjualan atau penukaran harta benda.”

Selanjutnya ia mengatakan bahwa, distribusi dari barang-barang income itu pada berbagai faktor yang menghasilkan income itu, telah menjadi dan masih merupakan suatu pusat perhatian para ekonom. Pada tingkat ekstrim yang satu, terdapat pandangan ekonomi laisez faire yang menyatakan bahwa setiap orang berkecenderungan akan menerima dalam jangka panjang suatu penghasilan yang sama besarnya apa yang ia telah hasilkan, asalkan tidak terjadi campur tangan dari persaingan bebas, pada tingkat ekstrim yang lain terdapat cita-cita ekonomi dari orang-orang komunis yang menegaskan bahwa negara harus memaksakan dan menjamin pekerjaan dan hadiah atau ganjaran dari suatu menurut kesanggupannya ke suatu menurut kebutuhannya.”

Kedua, Suherman Rosyidi berbicara mengenai pendapatan, bahwa arus pendapatan (upah, bunga, sewa, dan laba) muncul sebagai akibat adanya jasa-jasa produktif (productive service) yang mengalir ke arah berlawanan dengan arah aliran pendapatan, yakni jasa-jasa produktif mengalir dari pihak masyarakat ke pihak business, sedangkan pendapatan mengalir dari pihak business ke masyarakat (apabila di antara masyarakat itu terdapat pegawai negeri, maka pihak business-nya adalah pemerintah. Semua itu memberi arti bahwa pendapatan harus didapatkan dari aktifitas produktif.
Ketiga, pendapatan adalah arus masuk sumber daya ke dalam suatu perusahaan dalam suatu periode dari penjualan barang atau jasa, dimana sumber daya pada umumnya dalam bentuk kas, wesel tagih, atau piutang pendapatan yang tidak mencakup sumber daya yang diterima dari sumber-sumber selain dari operasi, seperti penjualan aktifa tetap, penerbitan saham atau peminjaman.

Maka, berdasarkan pendapat-pendapat di atas tentang pengertian pendapatan dapat disimpulkan bahwa pendapatan adalah segala sesuatu yang diperoleh individu ataupun lembaga, baik itu dalam bentuk fisik seperti uang atau barang maupun non fisik seperti dalam bentuk pemberian jasa yang timbul dari usaha yang telah dilakukan.

Non Halal

Kata non secara bahasa berarti tidak atau bukan, sedangkan kata halal artinya tidak dilarang dan diizinkan melakukan atau memanfaatkannya. Halal itu dapat diketahui adakalanya dengan ada suatu dalil yang menghalalkannya secara tegas dalam Al Quran atau As Sunnah, dan adakalanya dengan mengetahui bahwa tidak ada suatu dalilpun yang mengharamkannya atau melarangnya, artinya segala sesuatu yang dijadikan Allah selama tidak ada larangan dariNya adalah halal atau boleh dimanfaatkan, walaupun tidak ditegaskan halalnya dalam Al Quran dan As Sunnah.

Hadits mengenai permasalahan tersebut adalah :
Apa saja yang Allah halalkan dalam kitabNya, maka dia adalah halal, dan apa saja yang ia haramkan, maka dia itu adalah haram, sedangkan apa yang Ia diamkan, maka dia itu dibolehkan (ma’fu). Oleh karena itu terimalah dari Allah kemaafannya itu, sebab sesungguhnya Allah tidak bakal lupa sedikitpun.” Kemudian Rasulullah membaca ayat: dan Tuhanmu tidak lupa. (HR. Hakim dan Bazzar)

Pada hadits yang lain dijelaskan bahwa:

Rasulullah saw pernah ditanya tentang hukumnya samin, keju, dan keledai hutan, maka jawab beliau: apa yang disebut halal adalah sesuatu yang Allah halalkan dalam kitabNya dan yang disebut haram adalah sesuatu yang Allah haramkan dalam kitabnya, sedang apa yang ia diamkan, maka dia itu salah satu yang Allah maafkan buat kamu.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Madjah)

Mengenai hadits tersebut di atas Yusuf Qardhawi menjelaskan bahwa, Rasulullah tidak ingin memberikan jawaban kepada si penanya dengan menerangkan satu persatunya, tetapi beliau mengembalikan pada suatu kaidah yang kiranya dengan kaidah itu mereka dapat diharamkan Allah, sedang lainnya halal dan baik.

Oleh karena itu, baik yang ditegaskan halalnya atau tidak ditegaskan tetapi tidak ada larangan, semuanya termasuk ke dalam istilah halal atau mubah, hal ini berlaku untuk benda, manfaat dan urusan keduniaan, sedangkan mengenai cara, bentuk, dan upacara ibadah tidak boleh dilakukan kecuali sesuatu yang telah digariskan oleh Allah dan RasulNya.

Mengenai pengecualian dalam hal ibadah didasarkan pada hadits nabi berikut ini:
“Barang siapa membuat cara baru dalam urusan kami, dengan sesuatu yang tidak ada contohnya, maka dia itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim) Berdasarkan pemaparan di atas maka, kata non halal dapat diartikan sebagai tidak diizinkan atau dilarang memanfaatkannya atau haram.

Definisi haram secara istilah adalah, firman Allah yang menuntut ditinggalkannya pekerjaan dengan tuntutan yang jelas dan pasti, sama saja, baik yang mewajibkan kepastian tadi qath’iy ataupun dhanniy atau pekerjaan yang diancam hukuman.

Menurut jumhur ulama dalil dhanniy bisa menentukan wajib, misalnya seperti hadits ahad, karena hadits ahad bisa dijadikan hujjah untuk perbuatan atau amal namun tidak bisa dijadikan hujjah di dalam i’tikad.
Menurut Imam Abu Hanifah apabila larangan itu ditetapkan dengan dalil yang qath’iy disebut haram sedangkan dengan dalil dhanniy disebut karahah al tahrim.

b. Klasifikasi non halal

Pembagian haram dapat dibedakan menjadi dua yaitu haram lidzatihi (karena dzatnya) dan haram lighairihi (karena yang lainnya).

1) Haram lidzatihi (karena dzatnya)
Haram karena dzatnya adalah sesuatu yang diharamkan karena adanya madharat pada dzatnya, seperti makan bangkai, minum khamr, zina, pencurian, dan sebagainya yang menyangkut kepada maqashid al-syariah, yaitu: memelihara agama, memelihara diri, memelihara akal, memelihara keturunan, dan memelihara harta.

2) Haram lighairihi (karena yang lainnya)
Haram lighairihi adalah sesuatu yang dilarang bukan karena dzatnya akan tetapi bisa mengakibatkan jatuh kepada haram lidzatihi seperti haramnya melihat aurat wanita atau memadu wanita dengan bibinya.

c. Prinsip-prinsip dalam halal dan haram
Dalam pembahasan halal dan haram terdapat prinsip-prinsip yang perlu diketahui, antara lain:

Pertama, sesuai kaidah fiqhiyah asal sesuatu (benda) adalah mubah, kaidahnya adalah sebagai berikut:
Hukum asal sesuatu benda adalah mubah selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.”

Dengan dalil surat Al Baqarah ayat 29.
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala sesuatu yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Kedua, penentu halal haram semata-mata hak Allah SWT.

Ketiga, mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram sama dengan syirik dan akan berakibat timbulnya kejahatan serta bahaya.
Keempat, kaidah fiqhiyah yang menjelaskan :
Segala sarana atau perantara pada yang haram hukumnya haram.”

Kelima, Islam melarang semua siasat untuk berbuat haram dengan cara yang tidak jelas dan siasat syaitan, sebagaimana sabda Rasulullah:
“Jangan kamu berbuat seperti perbuatan yahudi, dan jangan kamu menganggap halal terhadap larangan-larangan Allah walaupun dengan siasat yang paling kecil.” (HR. Abu Abdillah dan Tirmidzi)

Keenam, niat baik tidak dapat melepaskan yang haram, maka setiap tujuan baik harus dicapai dengan cara yang baik pula, sebagaimana firman Allah SWT pada surat Al Baqarah ayat 172:
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepadanya kamu menyembah.”
Sedangkan dalam hadits, rasul bersabda :
Barang siapa mengumpulkan uang dari jalan yang haram kemudian ia sedekahkan harta itu, sama sekali ia tidak memperoleh pahala, bahkan dosanya akan menimpa dia.” (HR. Ibnu Khuzamah, Ibnu Hibban, dan Hakim)

Ketujuh, hendaknya manusia mendahulukan sikap menjauhkan diri dari syubhat karena takut terlibat dalam hal haram, sabda Rasulullah SAW:
Yang halal sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas, di antara keduanya itu ada perkara yang belum jelas (syubhat), banyak orang yang tidak tahu: apakah dia itu termasuk bagian yang halal ataukah yang haram? Maka barang siapa yang menjauhinya karena hendak membersihkan agama dan kehormatannya, maka dia akan selamat, dan barang siapa mengerjakan sedikitpun daripadanya hampir-hampir ia akan jatuh ke dalam haram, sebagaimana orang yang menggembala kambing di sekitar daerah larangan, dia hampir-hampir akan jatuh kepadanya. Ingatlah! Bahwa tiap-tiap raja mempunyai daerah larangan. Ingat pula bahwa daerah larangan Allah itu semua yang diharamkan.” (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)
Kedelapan, sesuatu yang haram berlaku untuk semua orang.
Kesembilan, keadaan terpaksa membolehkan yang terlarang, sebagaimana firman Allah SWT:
1) Surat al Baqarah ayat 173
Barang siapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang.”
2) Surat Al Baqarah ayat 185
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”
Surat Al Maidah ayat 6
“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Ia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

3) Surat An Nisa ayat 28
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.”

About these ads