Apakah Anda sudah membaca buku “Crowd”, yang ditulis oleh Yuswohady? Sebagai pemasar Indonesia mungkin banyak dari Anda yang sudah membacanya. Buku ini berdasarkan klaim penulisnya langsung ludes saat pertama kali diluncurkan saat Marplus Conference 2008 di Ritz Carlton Pacific Place. Buku ini layak untuk dicermati dan dibaca, sebagai pengantar bagi Anda yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai konsep New Wave Marketing yang didengungkan oleh Hermawan Kertajaya. Intinya adalah saat ini pemasaran itu harus bersifat horisontal. Pemasar harus lebih banyak berdialog dan berinteraksi dengan konsumennya. Konsumen tidak bisa lagi disegmentasi dan dipaksa mengikuti segmentasi itu. Tapi justru pemasar yang harus bisa menciptakan produk sesuai dengan kebutuhan konsumen, yang terbentuk dalam komunitas-komunitas tertentu. Pemasar harus lebih pintar memanfaatkan komunitas sebagai mesin word of mouth yang menjadi pendorong meningkatkan penjualan. Banyak kasus-kasus menarik yang diangkat dalam buku ini, misalnya KFC, Polygon, kemudian Yaris dll. Lalu yang dari luar negeri misalnya bagaimana Strabucks dan juga Mountain Dew melibatkan konsumennya untuk memilih dan memberikan ide apa tha sebenarnya yang inginkan dari sebuah produk. Kata Yuswohady, konsumen sekarang sudah benar-benar emosional. Sebuah produk bukan hanya harus menawarkan kualitas terbaik, tetapi juga harus menyentuh sisi emosional mereka. Ini sangat masuk akal, ketika pilihan semakin banyak, akses informasi begitu berlimpah. Maka hanya produk-produk yang menawarkan sebuah pengalaman yang mengesankan bagi konsumen yang akan menarik minat, kalo istilah ABG sekarang, pokoknya yang “gue banget” deh…. Satu lagi catatan menarik dari buku ini. Buku ini bukan hanya menandai revolusi dalam dunia pemasaran, dengan new wave marketing yang lebih banyak menggunakan aktivitas di dunia online. Pengaruh gaya menulis di dunia online pun, telah mewabah dalam penulisan buku ini. Coba Anda rasakan sendiri, bagaimana gaya menulisnya menjadi lebih gaul dan centil. Sesuatu yang tidak mengherankan, karena sekarang orang terbiasa dengan membaca tulisan di blog, yang lebih kasual, dan menggunakan bahasa percakapan sehari-hari. Kalau Anda membaca buku Beyond Buzz, maka Anda akan mengerti mengapa Yiuswohady pun tampak harus belajar menjadi lebih genit dalam menulis.

Sumber : http://www.marketing.co.id/

About these ads