Apakah kecerdasan finansial lebih menyerupai bakat atau pembawaan sejak lahir ?

Kecerdasan finansial bukanlah bakat. kecerdasan finansial bisa dipelajari, bisa diasah, disempurnakan, dipertajam terus-menerus. Jika tidak diasah terus, ia akan cepat usang.

Apakah kecerdasan finansial semata-mata hanya berfokus pada uang ? Tidak. Kecerdasan finansial sesungguhnya berfokus pada manusia. It’s not about money, it’s about people.

Fokus pada Tujuan yang Jelas

Sebelum menempa diri menjadi cerdas secara finansial, Anda harus memiliki tujuan yang jelas. Berikut ini daftar tujuan wajar yang bisa Anda gunakan :

% Ingin menikmati masa tua yang mudah, dan tidak membebani anak-cucu. (Cita-cita yang sangat wajar dan manusiawi).

% Ingin bebas secara finansial. (Dalam arti : bisa memenuhi kebutuhan hidup normal tanpa harus bekerja secara fisik).

% Menjadi kaya. (Memiliki banyak aset yang produktif).

% Bisa menolong orang lain. (Percuma menjadi kaya tetapi tidak bermanfaat bagi orang lain).

% Ingin membahagiakan keluarga. (Tujuan yang mulia dan sangat wajar).

Semua itu adalah contoh tujuan-tujuan yang jelas dan cukup spesifik. Yang perlu dicatat, kecerdasan finansial adalah senjata yang akan merusak jika berada di tangan orang yang salah. Jadi Anda tidak boleh memiliki tujuan yang buruk. Tema finansial bukan semata-mata dunia rasional, melainkan normatif. Kekayaan yang akan menjadi mulia kalau ditujukan untuk sesuatu yang positif bagi umat manusia.

Persepsi Mengenai Uang

Perbaharuilah persepsi mengenai uang. Uang bukan segalanya. Kita bekerja bukan semata-mata demi mendapatkan uang. Kita bekerja untuk melayani sesama. Kita bekerja, berpikir, bertindak, untuk kebaikan bersama. Uang adalah konsekuensi. Kalau kita bekerja dengan baik, berdasarkan tujuan yang baik, maka hasilnya akan baik pula.

Uang bukan tujuan. Uang adalah sarana mencapai tujuan. Yang terpenting adalah apakah Anda memiliki Rp 1 miliar saat ini, melainkan apa yang Anda akan lakukan dengan uang Rp 1 miliar (kalau uang itu sudah benar-benar di tangan Anda).

90% orang merencanakan hal-hal konsumtif begitu mendapatkan Rp 1 miliar tunai. Mereka berpikir tentang liburan mewah di eropa, naik kapal pesiar, mobil mewah, busana rancangan desainer, pesta, dll. Jaranag yang punya rencana untuk membagi dua uang tersebut: separuh untuk beramal, dan sisanya sebagai modal kerja.

Persepsi Mengenai Bekerja

Anda juga harus mengubah persepsi mengenai bekerja. Sekali lagi, bekerja jangan untuk cari uang. Uang adalah konsekuensi. Bekerja adalah menciptakan nilai tambah yang bermanfaat bagi semua pihak. Bagi diri Anda sendiri, bekerja adalah belajar. Di mana pun Anda bekerja, pasti<!–[if !mso]> <! st1:*{behavior:url(#ieooui) } –> ada sistem di mana uang diciptakan. Nah, pelajarilah sistem itu. Jadi, kelak Anda bekerja tidak untuk mencari uang, tetapi menciptakan uang.

Antusiasme

Menjadi kaya dan bebas secara finansial merupakan perjalanan panjang tak kenal henti. Ibarat seorang pelari marathon, Anda memerlukan langkah-langkah konsisten dalam jangka panjang. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi kaya.

Di sinilah antusiasme berperan penting. Anda harus memelihara antusiasme tersebut dalam jangka panjang. Jangan pernah kehilangan gairah. Hanya dengan rasa ketertarikan yang tinggi, rasa ingin tahu yang begitu besar, Anda bisa menemukan suatu cara mengakumulasikan aset yang efektif.

Kesenangan Belajar

Mengasah kecerdasan finansial membutuhkan kesenangan belajar terus-menerus. Jagalah agar kesenangan itu tidak menguap. Selalu menggali hal-hal baru, cara baru, mencari tahu tentang fenomena baru, adalah hal-hal yang bisa mengasah terus kecerdasan Anda.

Teruslah berpikir mengenai cara Anda berpikir.

Dunia berubah, perilaku manusia juga terus berubah. Kalau kita percaya bahwa kecerdasan finansial adalah sesuatu yang menyangkut perilaku manusia, maka tidak ada ruang sedikit pun untuk mengistirahatkan otak.

Kecerdasan finansial bukanlah berapa aset yang telah Anda akumulasi. melainkan seberapa canggih cara yang Anda temukan, sistem yang Anda bangun, dan pola berpikir yang Anda terapkan.

Di Mana Mengasah Kecerdasan Finansial ?

Pendidikan skolastik dan profesional tidak mengajarkan kitab cerdas secara finansial. Kita belajar akunting di sana. Namun kita disiapkan untuk jadi ­book-keeper bagi aset-aset orang lain. Kita tidak belajar untuk mengembangbiakkan aset sendiri. Para guru dan dosen mengajari kita bekerja untuk mencari uang, bukan menciptakan uang.

Di sekolah, kita belajar menjadi pegawai yang baik, taat, loyal, dan produktif. Di kampus, kita dipersiapkan menjadi sekrup-sekrup dari mesin uapm milik orang lain.

Di berbagai kursus, terang-terangan kita dialtih bekerja untuk orang lain. Tak satu pun yang mengajari kita bebas secara finansial. Itulah kelemahan sistem pendidikan kita sekarang.

Tapi, hanya karena sekolah tidak menyediakan tempat bagi kecerdasan finansial di dalam kurikulum, apakah kita lantas tidak mengajarinya ?

Kita harus tetap mempelajarinya. Mungkin secara langsung di dunia nyata. Mungkin juga kita mempelajarinya secara empirik, dengan pengalaman konkret. Atau, mungkin kita bisa memetik pelajaran dari pengalaman orang lain, entah pengalaman gagal atau sukses.

<!–[if !mso]> <! st1:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Belajar dari Dunia Nyata

Banyak orang cerdas secara finansial setelah bertahun-tahun berkecimpung di alam nyata. Mereka tahu nikmatnya passive income, lantas terus mencoba meningkatkan aset produktif untuk memperbesar pipa saluran kekayaan. Mungkin awalnya tidak sengaja, tetapi setelah berhasil menemukan polanya, mereka menjadi ketagihan.

Memang, tidak semua pengalaman itu manis. Ada pula yang harus lebih dulu jatuh bangun dan babak belur, sebelum akhirnya bisa membalikkan kegagalan menjadi kesuksesan. Walaupun harus jatuh bangun terlebih dahulu, mereka masih lebih mendingan dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya.

Para pemilik bisnis (business owner) dari berbagai perusahaan yang arus kasnya positif, pemilik property yang disewakan, pemilik mobil atau barang-barang lain yang disewakan; mungkin saja merupakan orang-orang yang mempelajari kecerdasan finansial dari tindakan nyata mereka sehari-hari. Mereka bertransaksi, menjual, membeli, dan melakukan dealing setiap saat. Kadang-kadang rugi. Itu biasa. Asalkan saja secara keseluruhan, arus kasnya masih positif. Mereka pun akhirnya mampu mengompensasi kerugian di satu transaksi dengan keuntungan pada transaksi lain.

Mereka menggunakan pola trial and error, atau learning by doing untuk membangun kecerdasan finansial mereka. Nilai plusnya, mereka benar-benar bisa merasakan dan menghayati proses yang sedang dilakukan. Negatifnya, tentu saja, harus menanggung learning cost yanag tidak kecil.

Belajar dari Menthor

Lebih cerdas dari kelompok pertama yang menggunakan pola trial and error. Kelompok yang kedua ini secara konseptual sudah memahami prinsip-prinsip kecerdasan finansial. Mereka hanya membutuhkan contoh nyata, yaitu seseorang yang mereka kenal, yang bisa berinterkasi langsung. Sangat mungkin, seseorang itu adalah teman dekatnya, saudaranya, orang tuanya, atau orang-orang dalam inner cycle-nya.

Belajar dari menthor, memang bisa mengeliminasi kemungkinan gagal. Setidaknya, ada yang bisa diajak ngomong kalau mau bermanuver membeli atau menjual aset. Ada yang memberi petunjuk-petunjuk berdasarkan pengalaman nyata.

Namun di sisi lain, belajar langsung dari menthor juga ada ruginya. Yang paling riskan adalah besar kemungkinan murid yang meng-copy sang guru. Entah strateginya, way of life, maupun nilai-nilai dalam berbisnis. Tidak menjadi soal kalau yang ditiru merupakan sosok yang sempurna luar dalam (cerdas sekaligus etis). Tapi bagaimana kalau sang guru ternyata suka berperilaku tidak etis dalam berbisnis, walaupun memang dia cerdas luar biasa ?

Hal lain yang harus diperhitungkan adalah besarnya kemungkinan untuk menjadi follower seumur hidup. Sehingga tidak berani untuk menerapkan ide-ide orisinal sendiri, atau kurang percaya diri untuk bersikap kreatif. Padahal, perubahan yang kian cepat menuntut kita untuk selalu kreatif dan lebih kreatif lagi.

Belajar dari Ahlinya

Anda bisa belajar dari kursus-kursus singkat menganai kecerdasan finansial. Anda bisa mengikuti short course, training atau seminar mengenai bagaimana meraih kebebasan finansial dalam waktu singkat. Anda bisa berinteraksi langsung dengan sang pembicara, yang mungkin saja merupakan pemotivasi terkenal, atau pakar di bidang ilmu menjadi kaya.

Keuntungannya, Anda bisa berdialog langsung dengan mereka. Anda bisa menyerap ilmunya. Anda bisa tertular motivasinya yang meledak-ledak. Anda akan tergerak untuk melakukan hal yang sama persis seperti yang disarankan oleh sang pembicara. Bukanlah semangat adalah satu jenis ”virus” yang menular ?

Ruginya, sang pembicara tidak terfokus pada diri Anda. Ada ratusan peserta seminar lain. Sang ahli hanya mencoba merumuskan resep yang bersifat generik. Padahal, penerapan berbagai strategi finansial harus mempertimbangkan karakter khusus masing-masing orang. Jadi belum tentu <!–[if !mso]> <! st1:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Belajar dari Buku

Anda bisa juga belajar dari buku. Belakangan ini banyak buku beredar mengenai kecerdasan finansial. Para penulis menyajikan berbagai resep, rumus, dan kiat praktis. Baik dengan gaya bahasa simpel parktis dan mudah dicerna, sampai kalimat-kalimat akademis yang sulit dimengerti. Dari uraian dengan kosa kata sehari-hari yang gampang dikunyah, sampai rumus-rumus dan angka yang rumit seperti rumus bikin bom nuklir.

Seperti halnya ikut seminar atau training tentang pengelolaan kekayaan pribadi, belaajr dari buku juga banyak kelemahannya. Teori dan trik yang ada di buku, kadang-kadang tidak realistis. Apalagi jika ditulis oleh penulis asing, yang memiliki pengalaman nyata di luar negeri. Sebab, dunia bisnis dan perekonomian di Indonesia memiliki corak yang berbeda dengan (katakanlah) Amerika Serikat. Policy ekonominya beda, inflasi dan suku bunganya beda, dan perilaku masyarakatnya (sebagai subyek bisnis dan ekonomi) jelas sangat beda.

Lakukan Sekarang !

Cermati bagaimana uang diciptakan. Amati bagaimana aset berpindah tangan. Seraplah ilmu mengenai kecerdasan finansial. Entah melalui pengalaman nyata, pola menthoring, menyerap ilmu sang guru, atau membaca buku; yang jelas, ada banyak cara untuk mengasah kecerdasan finansial Anda.

Yang lebih penting adalah : LAKUKAN SEKARANG ! Tapi, bagaimana caranya ?

8 FORMULA

KECERDASAN FINANSIAL

Stop, tunggu dulu sebentar. Jangan terlalu buru-buru.

Sebelum Anda melangkah, lebih baik memantapkan lagi pemahaman tentang kecerdasan finansial. Kita akan membahas intisari kecerdasan finansial. Buku-buku tentang kecerdasan finansial selalu mengungkapkan hal yang kurang lebih sama, bahwa kecerdasan finansial adalah kemampuan untuk mengenali, menciptakan dan mempraktikkan sistem atau cara untuk mengakumulasi aset. Berikut ini 8 intisari kecerdasan finansial :

# 1

MEMILAH TUJUAN PRODUKTIF DAN KONSUMTIF

Ilmu ekonomi mempelajari perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pad ahakikatnya, ilmu ekonomi mempelajari tiga hal, yaitu : produksi, konsumsi, dan distribusi. Dalam perekonomian modern dewasa ini. aktivitas distribusi dapat dikategorikan sebagai aktivitas produktif, karena distribusi menciptakan nilai tambah (value added). Ini berarti, pelaku distribusi adalah aktor-aktor bisnis yang menciptakan uang dengan cara creating value.

Konsumsi adalah tindakan menghabiskan nilai guna suatu barang. Konsumsi berarti mengorbankan sejumlah uang yang tidak akan pernah kembali. Lantas apa yang kita peroleh ? Kepuasan, nilai guna atau utilitas. Kalau kita membeli baju, kita mengorbankan sejumlah uang (katakanlah Rp 100 ribu). Namun kita memperoleh manfaat dari baju tersebut, yaitu badan terlindungi.

Sedangkana produksi adalah menciptakan sesuatu (barang dan jasa) yang memiliki nilai guna bagi masyarakat. Dalam berproduksi, kita mengeluarkan sejumlah uang sebagai modal, namun kelak akan kembali dengan nilai yang diharapkan lebih besar. Selisihnya adalah laba, yang dalam bahasa ekonomi adalah nilai tambah (value added).

INTI KECERDASAN FINANSIAL

Tindakan kita sehari-hari, yang bersifat mengeluarkan uang, dapat dikategorikan ke dalam dua jenis; produktif atau konsumtif. Cobalah membuat daftar 50 hal yang biasa Anda lakukan setiap hari. Pilah kegiatan-kegiatan tersebut menjadi aktivitas produksi atau konsumsi. Yang termasuk kegiatan konsumsi a.l. memakai mobil ke mal, makan, beli cemilan, membeli pulsa, bayar service kendaraan, membayar rekening listrik, beli baju, membayar angsuran rumah yang ditempati keluarga, dan lain-lain. Biaya anak sekolah juga termasuk aktivitas konsumtif (dari sudut pandang orangtua), karena tingkat kembaliannya (rate of return) sukar dihitung. Walau begitu, dari sudut pandang anak, biaya pendidikan tetap harus dianggap sebagai investasi jangka panjang.

Sementara itu yang termasuk kegiatan produktif a.l. bekerja di kantor, menjadi perantara jual-beli mobil bekas, mengerjakan script-writing/tulisan/desain grafis yang dipesan klien, membeli mobil (untuk disewakan), dll.

Jangan kaget, 90% item kegiatan kita sehari-hari adalah aktifitas konsumtif. Tetapi tidak mengapa, bukan itu poinnya. Yang penting bagi Anda adalah mempertimbangkan kembali setiap item kegiatan konsumtif. Benarkah uang layak dikeluarkan ? Mengapa harus ikut fitness yang tarifnya Rp 2 juta sebulan, kalau ada alternatif lain yang hanya Rp 25 ribu sekali datang ? Mengapa harus membeli baju seharga Rp 500 ribu kalau ada pilihan lain dengan harga seperlimanya ?

# 2

MEMBEDAKAN ASET DAN LIABILITAS

Pelajaran terpenting dari pakar kecerdasan finansial seperti Kiyosaki adalah teorinya untuk memisahkan dengan tegas antara aset dan liabilitas. Banyak liabilitas yang tampak seolah-olah sebagai aset, sehingga kita merasa kaya (tetapi sebenarnya miskin).

Misalnya saja, mobil pribadi dan rumah pribadi. Secara akunting, kedua jenis harta itu akan dicatat di kolom aset. Namin bagi Kiyosaki tidak demikian. Rumah pribadi dan mobil pribadi adalah liabilitas. Mengapa ? Sebab angsuran atas dua jenis harta itu bisa menguras 40% dari pendapatan bulanan Anda.

Apa yang membedakan aset dan liabilitas ?Cash flow. Sekali lagi, aliran uang kas.

Aset adalah harta yang memberikan aliran kas bagi pundi-pundi Anda secara rutin. Ibaratnya, aset adalah pacar yang produktif, yang setiap waktu membantu Anda meraih kesuksesan secara finansial. Yang termasuk aset adalah :

  • Kamar-kamar di rumah Anda yang disewakan untuk anak-anak kost
  • Rumah yang dikontrakkan
  • Mobil yang disewakan
  • Tanah yang dibudidayakan secara produktif atau disewakan
  • Uang yang ditanamkan dalam berbagai bentuk investasi
  • Kekayaan intelektual yang memberi royalti
  • Karya cipta/ karya seni yang memberi royalti

Sedangkan liabilitas adalah harta yang menguras isi kocek Anda secara rutin. Liabilitas ibarat ’cewek matre’ yang bisa membuat Anda pilit. Sebagian besar daftar konsumsi Anda pada prinsipnya bissa dikategorikan sebagai liabilitas, misalnya :

  • Handphone, televisi, kulkas, dan barang-barang elektronik lainnya
  • Kendaraan pribadi
  • Rumah pribadi

<!–[if !mso]> <! st1:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Pangkaslah liabilitas Anda, dan milikilah sebanyak mungkin aset yang bisa memberikan cash inflow (pendapatan tunai) bagi Anda. Dengan cara itu, Anda akan memperbaiki kondisi keuangan Anda. Pengeluaran yang dihemat itu bisa dialokasikan sebagai inventasi, untuk menambah sisi pendapatan tunai Anda.

Kalau memang liabilitas tidak mungkin dihindari, gunakan cara pembayaran tunai agar Anda tidak dikenai bunga untuk sesuatu yang bersifat konsumtif. Kalau Anda harus membayar bunga, usahakan semaksimal mungkin agar benda yang dibeli memiliki nilai produktif, sehingga benda tersebut bisa membayar sendiri cicilannya.

# 3

MEMAHAMI ALIRAN UANG

Lihatlah sekeliling, dan perhatikanlah bagaimana roda bisnis berputar. Cermati transaksi yang terjadi setiap waktu; orang membeli pulsa, antrean di restoran terlaris, termasuk juga transaksi yang terjadi di pasar-pasar tradisional. Pahamilah mengapa orang rela mengorbankan sejumlah uang tertentu untuk mendapatkan barang atau jasa tertentu.

Selama 15 menit, cobalah perhatikan kasir di suatu swalayan. Perkirakan berapa rupiah transaksi yang dia lakukan. Selama 30 menit, ketika sedang makan siang, cobalah menghitung berapa konsumen yang datang ke restoran tempat Anda makan. Taksirlah berapa pengeluaran per orang, dan cobalah menebak berapa omzet restoran tersebut setiap harinya. Pahami juga cara pengelolaannya, bagaimana mereka mendapatkan bahan baku, dan bagaimana mereka memperlakukan stok yang tak laku dijual.

Cobalah mengamati perilaku orang-orang ketika berbelanja. Selidiki latar belakang mereka. Lihatlah preferensi barang yang mereka beli. Ketika sedang ngobrol dengan teman-teman, cobalah bertanya tentang barang atau jasa apa yang sangat ingin mereka dapatkan kalau mereka punya banyak uang.

Berikut ini hal-hal yang mungkin Anda temukan :

  • Kaum berpenghasilan tetap (karyawan swasta. pegawai negeri) memiliki pola belanja yang hampir sama. baik sklus waktu maupun barang yang ingin mereka beli.
  • Terjadi pola aliran uang, pada awal bulan uang mengucur dari employer ke employee. Tetapi itu hanya terjadi dalam beberapa hari. Selebihnya, aliran uang berbalik kembali ke kalangan employer, yaitu mereka yang memiliki dan mengelola bisnis. Kalaupun gaji sudah habis, kaum employee itu tidak berhenti berbelanja. Kan ada kartu kredit ?
  • Dibandingkan kaum employer, justru employee yang berpendapatan tetap, yang paling berani berutang. Sebagian besar utang mereka adalah utang konsumtif (yaitu cicilan rumah, angsuran kendaraan, dan kartu kredit), Jumlah nominalnya mungkin tidak seberapa. Tapi jumlah nominal kan relatif ? Kita harus membandingkannya dengan pendapatan. Banyak di antara mereka menggadaikan pendapatan di masa depan untuk kenikmatan/utilityas yang dinikmati saat ini. Celakanya, 90% ditujukan untuk tujuan konsumsi ! Bukan untuk memperbaiki arus kas, semakin lama mereka terjerat utang konsumtif, semakin kecil peluangnya untuk bebas secara finansial.
  • Kebanyakan orang memiliki obsesi-obsesi yang bersifat konsumtif (misalnya liburan ke Bali, membeli mobil mewah, merenovasi rumah, dll). Hanya sedikit yang terobsesi untuk melakukan restrukturisasi aset dan membudidayakan uang agar bisa mendapatkan passive income.
  • <!–[if !mso]> <! st1:*{behavior:url(#ieooui) } –>

# 4

CARILAH EMAS YANG TERSEMBUNYI

Orang yang cerdas secara finansial, mampu melihat apa yang tidak mampu dilihat orang awam. Di mata awam, seekor ayam betina adalah binatang berkaki dua yang kalau dipanggang akan menjadi makanan lezat. Namun bagi seorang yang cerdas secara finansial, seekor ayam betina itu tiga tahun ke depan akan menjadi ratusan ekor ayam.

Lihatlah ke sekeliling. Cobalah memainkan imajinasi Anda. Bayangkan jika lahan rawa-rawa itu disulap jadi pemukiman real estat, pusat perbelanjaan atau apartemen mewah. tentu harga tanahnya akan berlipat ganda luar biasa.

Banyak pemain bisnis sektor propersi yang mencari emas tersembunyi. Mereka mencari lahan yang tidak ada nilainya bagi orang lain, kemudian disulap menjadi emas. Mereka menciptakan lingkungan dan menjualnya dengan mudah. Yang mereka jual sebetulnya adalah gagasan, bukan rumah atau taman.

Keuntungannya jelas luar biasa. Namun, mereka sangat sadar bahwa keuntungan diperoleh pada saat membeli, bukan pada saat menjual. Ini berarti, mereka tahu persis apa yang harus mereka lakukan pada saat melakukan dealing pembelian awal.

Segala yang berharga letaknya tersembunyi. Kita harus menggali gunung untuk mendapatkan sebungkah emas. Kita harus menyelam ke dasar laut untuk mendapatkan mutiara. Emas tidak tampak di atas permukaan tanah, begitu pula mutiara tidak kelihatan di atas permukaan laut.

Emas yang tersembunyi adalah kiasan dari peluang-peluang bisnis yang bisa Anda garap. Mungkin itu tidak berharga bagi orang kebanyakan, namun jika Anda menyentuhnya, ia bisa menjadi mesin uang. Kebanyakan orang tidak menyadarinya, jadi peluang Anda semakin terbuka lebar.

Bisnis barang rongsokan dan kertas bekas miaslnya, adalah jenis bisnis yang tidak menarik bagi kebanyakan orang. Sebab citranya buruk, kotor, ribet, dan mirip sampah. Lingkungan kerjanya juga tidak sehat.

Namun, gambaran itu menipu. Persis kesan yang muncul ketika kita melihat padang pasir gersang yang terhampar luas. Padahal, dibalik guurn yang menyilaukan kata itu terdapat sumber minyak miliaran barel.

Jadi jangan tertipu penampilan atau gambaran permukaan. Mungkin kita tidak menyangka kalau seorang penjual pisang goreng bisa mencapai omzet penjualan Rp 5 juta per hari. Seorang penjual siomay mampu meraup pendapatan bersih yang jauh lebih besar daripada gaji seorang manajer yang berpenampilan rapi dan kemana-mana naik mobil mewah.

# 5

MILIKI DAYA UNGKIT

Kalau sudah menemukan gunung yang akan digali dan dicari bungkahan-bungkahan emasnya, kini waktunya untuk merancang alat pengungkit. Yang membedakan orang kaya dan kelas menengah serta orang miskin adalah kepemilikan atas daya ungkit.

Daya ungkit adalah sesuatu yang membuat aset Anda akan tumbuh berlipat ganda mengikuti deret waktu. Daya ungkit muncul dari sistem yang diciptakan sedemikian rupa, sehingga tidak lagi bergantung pada orang tertentu. Dengan daya ungkit, kita bisa memindahkan sebongkah batu besar yang tidak mungkin mampu kita angkat.

Seorang penjual bakso maksimal mencapai omzet Rp 1 juta sehari. Ia ingin melipatgandakan penjualannya menjadi Rp 20 juta. Bagaimana caranya ? Ya, membuka cabang. Dengan 20 cabang, ia mencapai omzet yang ditargetkan. Tentu saja, untuk membuka cabang ia harus melatih karyawan dan stafnya, menstandarisasi resep, dan membuat tampilan outlet dengan ciri khas tertentu. Tak kalah penting, ia harus memilih lokasi-lokasi yang tepat agar target penjualan tercapai.

Namun ternyata, si penjual bakso tidak puas dengan omzet Rp 20 juta sehari. Ia ingin Rp 100 juta. Bagaimana caranya ? Setelah berkonsultasi kiri kanan, ia pun membuat sistem waralaba untuk produknya. Ia merancang strategi promosi untuk menaikkan brand produknya, juga agar para investor tertarik membeli

# 6

BIARKAN UANG YANG BEKERJA

Kalau sistem sudah bekerja dengan baik, kini tiba waktunya untuk beternak uang. Yang berkerja kini bukan orangnya, tetapi uangnya. Orangnya boleh beristirahat, mengerjakan apa pun yang menjadi hobinya, atau mencari ide-ide baru untuk merambah bidang bisnis yang lain guna memperkuat jaringan usahanya. Tapi prinsipnya, uang hasil jerih lelah selama ini, sudah waktunya untuk menjadi aset utama yang memberikan uang tunai secara rutin.

Caranya ? Sebarkan uang tersebut ke berbagai instrumen investasi. Sebarkan menurut skala risiko yang diinginkan, guna menghindari total loss. Kalau uangnya cukup banyak, pilihan yang tersedia semakin beragam.

Lembaga yang paling konservatif pun, seperti bank, jelas akan tergiur. Mereka akan menawarkan suku bunga khusus seandainya pemilik uang mau menempatkan dananya di bank tersebut.

Deposito dan obligasi pemerintah adalah alternatif investasi yang diyaakini berisiko minimal. Kemudian ada obligasi swasta dan saham, yang resikonya lebih tinggi. Tapi tentu saja, kalau resikonya tinggi, peluang profitnya juga mesti tinggi. Penempatan uang tunai di bank perkreditan lembaga keuangan non bank, mungkin mau memberi bunga lebih tinggi dibandingkan bank umum.

Tapi resikonya juga lebih tinggi. Bermain valuta asing juga beresiko lebih tinggi, walaupun Anda berpeluang mendapatkan keuntungan besar dan cepat. Jadi antara risiko dan tingkat keuntungan selalu berbanding lurus. Di sini yang berperan adalah kalkulasi Anda, dan juga nyali.

Bidang properti adalah alternatif investasi yang selama ini menjadi primadona. Membeli apartemen, rumah real estat, atau tanah kosong di lokasi strategis, biasanya akan memberi keuntungan lumayan. Namun lokasinya harus strategis. Jauh lebih mudah menjual aset mahal di lokasi strategis daripada aset murah di lokasi yang kurang berkembang.

Dibandingkan deposito, saham dan valas, properti lebih lambat diuangkan. Jadi bersifat lebih tidak likuid. Namun, ada keuntungan ganda yang bisa Anda peroleh. Yang pertama adalah pendapatan sewa properti, yang kedua adalah equity yang pasti Anda dapatkan seiring kenaikan harga properti. Properti adalah satu-satunya aset/aktiva yang nilainya tidak pernah turun.

Namun, sektor properti juga memiliki siklus pasang surut tersendiri. Dalam 3–5 tahun sekali, biasanya terjadi stagnasi pasar. Kondisi seperti ini terjadi pada saat pertumbuhan ekonomi melambat, suku bunga merangkak naik, dan inflasi meningkat. Saat ini, perusahaan-perusahaan properti sulit menjual produknya. Sebaliknya, pasar sekunder sangat ramai. Banyak orang menjual rumahnya, mungkin karena butuh uang tunai.

Pasang mata dan telinga, hingga Anda tahu persis kapan saat-saat seperti itu terjadi. Itulah waktu yang tepat untuk membeli karena harga yang biasanya dipatok di bawah standar rata-rata. Kita memperoleh keuntungan pada saat membeli, bukan pada saat kita menjual.

# 7

CIPTAKAN ASET YANG TIDAK BISA HILANG ATAU DIRAMPOK ORANG

Kunci menuju kebebasan finansial adalah bagaimana menciptakan aset yang bisa memberikan arus kas positif. Namun, aset dalam pengertian fisik bisa saja setiap saat hilang. Entah dicuri orang, dirampok, atau nilang nilainya karena sudah tidak lagi produktif.

Karena itu, perlu bagi kita untuk menciptakan aset yang tidak bisa dicuri, hilang, atau dirampok. Yaitu cara berpikir dan cara bertindak. Boleh saja Anda bangkrut total, terkena musibah hingga seluruh milik Anda rata dengan tanah. Namun jika Anda masih mempertahankan cara berpikir dan cara bertindak cerdas secara finansial, maka semua yang hilang itu bisa kembali.

Cara berpikir adalah yang terpenting. Sebab cara berpikir mempeengaruhi cara bertindak. Cara berpikir mempengaruho sikap yang harus Anda ambil mengenai persoalan apa pun. Cara berpikir akan menyelamatkan Anda dalam perubahan yang cepat dewasa ini.

#8

PAHAMI TANDA-TANDA MAKRO PEREKONOMIAN

Dunia bisnis adalah bagian tak terpisahkan dari sistem perekonomian secara umum. Jadi, sangat penting untuk memahami tanda-tanda makro perekonomian.

Sebab dari sasna, akan muncul berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan, serta potensi-potensi hambatan yang perlu diantisipasi sejak dini.

Mulailah mengamati apa yang terjadi dengan perekonomian makro kita. Indikator-indikator yang harus diamati setiap saat adalah : tingkat pertumbuhan ekonomi, kurs rupian terhadap mata uang asing, laju inflasi, suku bunga perbankan, indeks saham, dan tingkat pengangguran.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi membuka peluang bagi banyak bidang. Apalagi bila suku bunga cukup rendah, sehingga uang tunai mengalir ke seluruh bidang bisnis. Masyarakat relatif lebih gampang mengeluarkan uangnya. Indeks saham akan meningkat, yang menandai dunia bisnis memasuki masa booming. Inilah saatnya berinvestasi pada saham atau bisnis sektor riil secara umum.

Namun jika itu diiringi oleh laju inflasi yang relatif tinggi (melampaui prediksi pemerintah), maka bersiap-siaplah memasuki periode suram. Inflasi tinggi akan diikuti oleh kenaikan suku bunga dan melemahnya nilai rupiah. Uang akan tersedot dari peredaran (uang ketat), sehingga jualan apa pu menjadi lebih sulit. Inilah saatnya menempatkan uang tunai dalam bentuk deposito atau valuta asing. Atau, waktunya membeli properti yang nilainya telah mengalami koreksi.

Pada prinsipnya, perkonomian ibarat ayunan pendulum antara pertumbuhan dan stagflasi, antara inflasi dan suku bunga, dan antara sektor riil dan moneter.

Jika Anda mampu menemukan pola ayunan pendulum tersebut, maka sangat mudah bagi Anda untuk menempatkan aset pada bidang-bidang yang keuntungannya maksimal.

Semua kebijakan pemerintah, dari kenaikan gaji pegawai hingga naiknya harga BBM akan menimbulkan dampak bagi bisnis. cermatilah bagaimana pemerintah merumuskan kebijakan-kebijakannya, serta kebijakan apa yang mungkin akan diambil dalam masa yang akan datang. Dengan mencermati tren kebijakan pemerintah, berarti Anda akan lebih siap mengantisipasi peristiwa apa pun yang akan terjadi dengan perekonomian dan bisnis di masa depan.

<!–[if !mso]> <! st1:*{behavior:url(#ieooui) } –>

First Thing Frist : Posisikan Diri dalam Cashflow Quadrant

First thing first untuk menyerap intisari kecerdasan finansial adalah memposisikan diri Anda dalam cashflow quadrant ala Kiyosaki. berarti Anda harus memilih peran sebagai karyawan atau employee (kuadran E), profesional atau self-employed (kuadran S), business owner (kuadran B), atau investor (kuadran I).

Ingat, Anda tidak harus memilih saslah satu kuadran. Anda bisa memilih lebih dari satu peran dalam lebih dari satu kuadran. tergantung pada potensi yang Anda miliki dan ”nyali” untuk melakukannya.

E

B

S

I

Sumber : Kiyosaki (Cashflow Quadrant, 2003)

Kalau enggan meninggalkan pekerjaan Anda, berarti Anda tidak ingin pergi dari kuadran E. Apakah ini buruk ? Tidak juga. Anda bisas tetap berperan sebagai employee sambil memainkan uang Anda (berperan sebagai investor di kuadran I) atau membuka bisnis sendiri (berperan di kuadran B). Apakah bisa berhasil ? Tergantung pada bagaimana Anda mengalokasikan waktu, sumberdaya, dan perhatian atau konsentrasi.

Mungkin saat ini Anda belum berniat untuk berpindah kuadran, atau melakukan ekspansi ke kuadran lain. Belum ada modal adalah alasan yang paling klasik. Namun itu bukan berarti Anda tidak akan melakukannya. Rencanakan dengan pasti, kapan Anda akan berpindah kuadran atau merambah ke kuadran lain. Tanpa perencanaan yang pasti, niat hanya tinggal sekedar niat yang tidak pernah direalisasikan. Jadi harus punya target, pada tahun berapa Anda memiliki bisnis sendiri, di bidang apa, dan bagaimana cara mengatur waktu antara tetap bekerja sambil mengelola bisnis sendiri.

Setelah itu, tentukan cara yang paling realistis untuk mencapai target itu. Jika modal adalah hambatan utama, maka mulailah menyisihkan pendapatan sedikit demi sedikit. Jika skill dan pengetahuan masih menjadi kendala, maka berusahalah dengan keras untuk memahami bidang bisnis yang akan Anda terjuni. Jika kurang cukup pe-de untuk tampil sebagai single fighter, maka mulailah pasang mata dan telinga untuk mendapatkan partner yang cocok.

Intinya, Anda harus memahami posisi diri Anda sekarang dalam cashflow quadrant Kiyosaki. Kemudian, tentukan bagaimana posisi Anda di masa depan dalam kuadran yang sama.

Setelah itu, baru pikirkan strategi maupun langkah-langkah yang realistis, berdasarkan delapan poin intisari kecerdasan finansial seperti diuraikan pada bagian sebelumnya.

Banyak orang menganggap, sukses dalam hidup tergantung pada kerja keras, nasib baik, keberuntungan, keadaan, kekayaan yang tidak mereka miliki, bantuan dari luar, koneksi atau pengorbanan-pengorbanan besar yang tak tertanggungkan. Mereka tidak tahu bahwa sukses tidak tergantung pada kondisi atai keadaan apapun.

Untuk meraih sukses, kita harus mempersiapkan diri untuk sukses. Pertama, harus ada kemauan untuk sukses. Lalu kita harus melakukan hal-hal yang diperlukan untuk membantu kita mencapainya.

Sukses tidak akan datang dari menghabiskan semua penghasilan untuk makan dan minum, atau berpesta sampai larut malam. Sukses lahir dari usaha untuk membantu diri sendiri mengembangkan mental, pikiran, jiwa dan raga. Jika kita ingin sukses, kita harus mempersiapkan diri untuk menerimanya. Persiapan ini secara logis terdiri dari memperbaiki diri lewat pengetahuan selp help yang harus kita dapatkan sendiri, untuk kemudian diterapkan dalam langkah-langkah nyata.

Kita tidak membuang waktu dan uang kita, tetapi kita belajar membuatnya bermanfaat bagi kita. Waktu untuk bersenang-senang digunakan untuk menguasai pengetahuan-pengetahuan praktis yang jika diterapkan dengan tepat, akan mendatangkan kekuatan. Sisihkan sebagian dari penghasilan Anda. Semakin banyak yang Anda tabung, Anda semakin dekat menjadi orang kaya.

Tidak ada kehidupan yang tak bisa diperkaya lewat menolong diri sendiri – selp help. Tak ada kehidupan yang tak produktif, lewat menolong diri sendiri.

Tak ada hidu[ yang tak meraih sukses lewat menolong diri sendiri. Hidup Anda akan diperkaya sampai tak terhitung harganya, lewat usaha yang rajin dan terus menerus untuk meninggikan nilai-nilai Anda.

Yang Harus kita ingat bahwa bagaimanapun kita bekerja keras tetap yang memnentukan berhasil atau tidaknya adalah Dia Yang Maha Kuasa Allah S.W.T. Rajinlan beribadah dan berdoa. Karena melalui doa kita akan diberikan kekuatan hati untuk menjalani hidup ini.

Dan yang terakhir adalah kunci dari segala perbuatan kita. Jadi dari mulai niat sampai evaluasi harus dilandasi oleh hati yang ikhlas . Dengan demikian jika kita mendapatkan tantangan maka akan bisa kita jalani dengan tenang dan sabar, dengan terus berupaya untuk mencari jalan keluarnya.

Demikialah yang dapat saya sampaikan semoga bermanfaat bagi kita semua ! Aamiin.

About these ads