TERNYATA dalam menentukan jabatan dan jenis pekerjaan yang akan dilakoni di sebuah perusahaan, dilihat pada pelaku dan nonpelaku. Artinya, bicara mengenai level staf ke bawah maka akan membahas tentang level pelaku yang menerima intruksi. Jadi hanya kemampuan motorik saja yang diandalkan oleh mereka.

Berbeda dengan level atas seperti staf karyawan hingga CEO (Chief Executive Officer), mereka menggunakan thinking dalam menjalankan job decriptionnya.

Di negara berkembang seperti Indonesia, struktur jabatan banyak mengadopsi negara maju Amerika dan Eropa. Di mana dalam penentuan jabatan dilihat dari level jabatan mulai dari tingkat terendah yaitu office boy hingga pemikir (thinker) dan pelaksana (pelaku)-nya.

“Dalam menentukan struktur jabatan di sebuah perusahaan, maka tingkat pendidikan sangat berpengaruh kuat. Karena tingkat pendidikan memengaruhi pikiran, sikap, dan perilaku seseorang,” kata psikolog Bondan Seno Prasetyadi, saat dihubungi okezone melalui telepon selulernya, Senin (25/5/2998).

Dijelaskan oleh almamater Universitas Guna Dharma ini, tingkat pendidikan yang akan memengaruhi seseorang tersebut dapat dibedakan dari cara pikir mahasiswa dan tukang parkir saat menghadapi kenaikan BBM.

“Misalnya saat seorang tukang parkir dan mahasiswa ditanyakan mengenai kenaikan BBM, maka cara pandang dan sikap yang ditunjukkan pasti akan berbeda. Hal-hal kecil seperti inilah yang membedakan seseorang ketika masuk dalam dunia kerja,” ungkap staf pengajar di Fakultas Hukum di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta itu.

Di Amerika dan Eropa, sambungnya, ada aturan baku yang menjelaskan mengenai struktur jabatan dan skala upah yang akan diterima seluruh pegawainya. Sementara di Indonesia, masih menurut Bondan, struktur jabatan dan skala upah baru dimulai sejak Kepmen Nomor 49/2004 tentang teknis penyusunan sebuah perusahaan diberlakukan.

“Dari kepmen tersebut, akhirnya booming perusahaan-perusahaan yang menyusun struktur, golongan, jabatan, dan skala upah pegawainya,” jelas konsultan untuk SDM di beberapa perusahaan itu.

Dengan adanya kepastian tersebut, lanjut Bondan, maka akan menguntungkan kedua belah pihak. Baik dari perusahaan maupun karyawan yang bersangkutan, karena akan memperjelas jenjang karier seseorang.

Dalam hal ini, pegawai terendah setingkat office boy pasti mengalami kondisi yang sulit. Sebab mereka sulit untuk mendapat posisi tinggi bila tidak didukung oleh jenjang pendidikan dan kinerja yang baik.

“Adanya peraturan yang menguatkan bahwa level bawah memang mudah untuk dicari, membuat perusahaan tak menjadikan bagian tersebut sebagai skala prioritas. Sebab job description mereka tidak strategis sehingga mudah untuk digantikan sewaktu-waktu,” tukasnya. (nsa)

Sumber : http://www.okezone.com

About these ads